KERANCUAN PEMAHAMAN SESAT LDII ATAU ISLAM JAMAAH…

KESESATAN LDII/ LEMKARI/ ISLAM JAMA’AH: APA ITU MANQUL? (1)

Antara Alquran, al-Hadits dan ‘Manqul’

Oleh: Qomar ZA

بسم الله الرحمن الرحيم

LDII1Jangan khawatir…

Jangan takut…

Baca dulu…

Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk.

Pengertian Manqul dalam Ajaran LDII

Manqul H Nur Hasan Ubaidah adalah proses pemindahan ilmu dari guru ke murid. Ilmu itu harus musnad (mempunyai sandaran) yang disebut sanad, dan sanad itu harus mutashil (bersambung) sampai ke Rosulullah sehingga manqul musnad muttashil (disingkat M.M.M.) diartikan belajar atau mengaji Alquran dan hadits dari Guru dan gurunya bersambung terus sampai ke Rosulullah.

Atau mempunyai urutan guru yang sambung bersambung dari awal hingga akhir (demikian menurut kyai haji Kastaman, kiyai LDII dinukil dari bahaya LDII hal. 253)
Yakni: Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru, telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat, terhalang dinding [Menurut mereka, berkaitan dengan terhalang dinding sekarang sudah terhapus. Demikian dikabarkan kepada kami melalui jalan yang kami percaya. Tapi sungguh aneh, aqidah yang sangat inti bahkan menjadi ciri khas kelompok ini bisa berubah-rubah. Demikiankah aqidah?! – pen] atau lewat buku tidak sah sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapatkan ijazah (ijin untuk mengajarkan-red) [Ijazah artinya pemberian ijin untuk meriwayatkan hadits misalnya saya katakan, ‘Saya perbolehkan kamu untuk meriwayatkan hadits-hadits yang telah saya riwayatkan dari guru saya’- pen] dari guru, maka ia boleh mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu” [Drs Imron AM, selintas mengenai Islam Jama’ah dan ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993 hal. 24 dinukil dari Bahaya LDII hal. 258- pen].

Keyakinan LDII tentang Manqul

1). Mereka meyakini dalam mempelajari ajaran agama harus manqul musnad dan muttashil, bila tidak maka tidak sah ilmunya, ibadahnya ditolak dan masuk neraka.

2). Nur Hasan mengaku bahwa dirinyalah satu-satunya jalur untuk menimba ilmu secara musnad muttashil di Indonesia bahkan di dunia., atas dasar itu ia mengharamkan untuk menimba ilmu dari jalur lain.

3). Ia mendasari keyakinannnya itu dengan dalil-dalil, -yang sesungguhnya tidak tepat sebagai dalil-.

Kajian atas Keyakinan dan Dalil-Dalil mereka

Kajian atas point pertama:

a)). Keyakinannya bahwa ilmu tidak sah kecuali bila diperoleh dengan musnad mutashil dan manqul, adalah keyakinan yang tidak berdasarkan dalil, adapun dalil-dalil yang dia pakai berkisar antara lemah dan tidak tepat sebagai dalil. Seperti yang akan anda lihat nanti Insya Allah.

b)). Bahwa ini bertentangan dengan dalil-dalil syar’iy yang menunjukan bahwa sampainya ilmu tidak mesti dengan manqul, bahkan kapan ilmu itu sampai kepadanya dan ilmu itu benar, maka ilmu itu adalah sah dan harus ia amalkan seperti firman Allah,   …وأوحي إلي هذاالقرآن لأنذركم به و من بلغ “Dan diwahyukan kepadaku Alquran ini untuk aku peringatkan kalian dengannya dan siapa saja yang Alquran sampai padanya”. [QS Al-An’am/ 6: 19].

Mujahid mengatakan, “Dimanapun Alquran datang maka ia sebagai penyeru dan pemberi peringatan. Kata (ومن بلغ) Ibnu Abbas menafsirkannya, “Dan siapa saja yang Alquran sampai kepadanya, maka Alquran sebagai pemberi peringatan baginya”.

Demikian pula ditafsirkan oleh Muhammad bin Ka’b, as-Suddy [Tafsir ath-Thabariy: 5/162-163], Muqatil [Tafsir al-Qurthubiy: 6/399], juga kata Ibnu Katsir [2/130]. Sebagian mengatakan, “Berarti bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebagai pemberi peringatan bagi orang yang sampai kepadanya Alquran”. Asy-Syinqithiy mengatakan, “Ayat mulia ini menegaskan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pemberi peringatan bagi setiap orang yang Alquran sampai kepadanya, siapapun dia. Dan dipahami dari ayat ini bahwa peringatan ini bersifat umum bagi semua yang sampai kepadanya Alquran, juga bahwa setiap yang sampai padanya Alquran dan tidak beriman dengannya maka ia di Neraka”. [Tafsir Adlwa’ al-Bayan: 2/188 lihat pula tafsir-tafsir di atas-pen]. Maka dari tafsir-tafsir para ulama di atas, jelas bahwa tidak seorangpun dari mereka mengatakan bahwa sampainya ilmu harus dengan musnad muttashil atau bahkan manqul ala LDII.

Bahkan siapa saja yang sampai padanya Alquran dengan riwayat atau tidak, selama itu memang ayat Alquran, maka ia harus beriman dengannya apabila tidak maka nerakalah tempatnya. Nabi Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda,((بلغوا عني ولو آية)) ”Sampaikan dariku walaupun satu kalimat”. [Shahih, HR Ahmad al-Bukhoriy dan at-Turmudziy]. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak mengharuskan cara manqul ala LDII dalam penyampaian ajarannya.

c)). Keyakinan mereka bertentangan dengan perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dimana beliau menyampaikan ilmu dengan surat kepada para raja. Seperti yang dikisahkan shahabat Anas bin Malik,

           عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلَى النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَلَيْسَ بِالنَّجَاشِيِّ الَّذِي صَلَّى عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam menulis surat kepada Kisra, Qaishar, Najasyi dan kepada selurus penguasa, mengajak mereka kepada Allah. bukan an-Najasyi yang Nabi mensholatinya”. [Shahih, HR Muslim, Kitab al-Jihad….no:4585 cet Darul Ma’rifah] (Surat Nabi kepada Heraqlius) [Shahih, HR al-Bukhoriy: 7 dan Muslim: 4583]. Al-Imam an-Nawawiy mengatakan ketika mensyarah hadits ini, “Hadits ini (menunjukkan) bolehnya beramal dengan (isi) surat”. [Syar-h Muslim:12/330] Surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada raja Bahrain, lalu kepada Kisra [Shahih, HR al-Bukhoriy, Fat-h al-Bariy: 1/154] dan banyak lagi surat beliau kepada raja atau tokoh-tokoh masyarakat, bisa anda lihat perinciannya dalam kitab Zad al-Ma’ad: 1/116120 karya Ibnul al-Qoyyim [Cet Ar Risalah ke 30 Thn. 1417/1997]

Surat-menyurat Nabi ini tentu tidak sah menurut kaidah manqulnya Nur Hasan Ubaidah. Adapun Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menganggap itu sah, sehingga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menerima Islam – mereka yang masuk Islam – karena surat itu tidak menganggap mereka kafir karena tidak manqul. Dan Nabi menganggap surat itu sebagai hujjah atas mereka yang tidak masuk Islam setelah datangnya surat itu, sehingga tiada alasan lagi jika tetap kafir, seandainya sistem surat-menyurat itu tidak sah, mengapa Nabi menganggapnya sebagai hujjah atas mereka??.

Kemudian setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, cara inipun dipakai oleh para shahabatnya seperti surat Umar kepada Abu Musa al-‘Asy ‘ariy yang terdapat didalamnya hukum-hukum yang berkaitan dengan Qadla’ [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, ad-Daruqhutniy, al-Baihaqiy dan lain-lain dishahihkan oleh al-Albaniy dalam Irwa’ al-Ghalil: 8/ 241, Ahmad Syakir dan lain-lain -pen], lihat perinciannya dalam buku khusus membahas masalah ini berjudul رسالة عمر ابن الخطاب إلى أبي موسى الأشعري في القضاء و آدابه رواية و دراية karya Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul]. Aisyah menulis surat kepada Hisyam bin Urwah berisi tentang sholat [al-Kifayah fi ‘Ilmi ar-Riwayah:343], Mu’awiyahpun menulis kepada al-Mughirah bin Syu’bah tentang dzikir setelah sholat [Shahih, HR al-Bukhoriy dan Muslim], Utsman bin Affan mengirim mush-haf ke pelosok-pelosok [Riwayat al-Bukhoriy secara Mu’allaq: 1/153 dan secara Musnad: 9/11], belum lagi para ulama setelah mereka. Namun semuanya ini dalam konsep manqulnya Nur Hasan Ubaidah tidak sah, berarti teori ‘manqul anda’ justru tidak manqul dari mereka, sebab ternyata menurut mereka semua sah. Dan pembaca akan lihat nanti – In syaa Allah – komentar para ulama tentang ini.

Surat-menyurat ini lalu diistilahkan dengan mukatabah, dan para ulama ahlul hadits menjadikannya sebagai salah satu tata cara tahammul wa al-ada’ (mengambil dan menyampaikan hadits), bahkan mereka menganggap ini adalah cara yang musnad dan muttashil, walaupun tidak diiringi dengan ijazah. Ibnu ash-Sholah mengatakan, “Itulah pendapat yang benar dan masyhur diatara ahlul hadits…dan itu diamalkan oleh mereka serta dianggap sebagai musnad dan maushul (bersambung) [Ulum al-Hadits: 84] . As-Sakhowiy juga mengatakan, “Cara itu benar menurut pendapat yang shahih dan masyhur menurut ahlul hadits …. dan mereka berijma’ (sepakat) untuk mengamalkan kandungan haditsnya serta mereka menganggapnya musnad tanpa ada khilaf (perselisihan) yang diketahui”. [Fat-h al-Mughits: 3/5]

Al-Khatib al-Baghdadiy menyebutkan, “Dan sungguh surat-surat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjadi agama yang harus dianut dan mengamalkan isinya wajib bagi umat manusia ini, demikian pula surat-surat Abu Bakar, Umar dan selain keduanya dari para Khulafar ar-Rasyidin maka itu harus diamalkan isinya. Juga surat seorang hakim kepada hakim yang lainnya dijadikan sebagai dasar hukum dan diamalkan”. [al-Kifayah: 345] . Jadi, ini adalah cara yang benar dan harus diamalkan, selama kita tahu kebenaran tulisan tersebut maka sudah cukup. [lihat, al-Baits al-Hatsits: 123 dan Fat-h al-Mughits: 3/11]

Al-Imam al-Bukhoriy pun mensahkan cara ini, dimana beliau membuat sebuah bab dalam kitab Shahihnya berjudul, “Bab (riwayat-riwayat) yang tersebut dalam hal munawalah dan surat/tulisan ulama yang berisi ilmu ke berbagai negeri”. [Fat-h al-Bariy: 1/153]

Kalaulah ‘manqul kalian’ dimanqul dari para ulama penulis Kutub as-Sittah, mengapa al-Imam al-Bukhoriy menyelisihi kalian??. Apa kalian cukupkan dengan kitab-kitab ‘himpunan’, sehingga tidak membaca Shahih al-Bukhoriy walaupun ada di bab-bab awal, sehingga hal ini terlewatkan oleh kalian?? Demikian pula al-Imam an-Nasa’iy menyelisihi kalian, karena beliau ketika meriwayatkan dari gurunya yang bernama al-Harits Ibnu Miskin beliau hanya duduk di balik pintu, karena tidak boleh mengikuti kajian haditsnya. Sebabnya, karena waktu itu al-Imam an-Nasa’iy memakai pakaian yang membuat curiga al-Harits Ibnu Miskin dan ketika itu al-Harits takut pada urusan-urusan yang berkaitan dengan penguasa sehingga beliau khawatir al-Imam an-Nasa’iy sebagai mata-mata maka beliau melarangnya [Siyar A’lam an-Nubala: 14/130], sehingga hanya mendengar di luar majlis. Oleh karenanya ketika beliau meriwayatkan dari guru tersebut beliau katakan, حدثنا الحارث بن مسكين قراءة عليه و أنا أسمع” Al-Harits Ibnu Miskin memberitakan kepada kami, dengan cara dibacakan kepada beliau dan saya mendengarnya” dan anehnya riwayat semacam ini ada pada kitab himpunan kalian Kitab ash-Sholah hal. 4, “Apa kalian tidak menyadari apa maksudnya??”.

d)). Istilah ‘manqul’ sebagai salah satu bidang ilmu ini adalah istilah yang benar-benar baru dan adanya di Indonesia pada Jama’ah LDII saja. Ini menunjukan bahwa ini bukan berasal dari para ulama. Adapun manqul sendiri adalah bahasa Arab yang berarti dinukil atau dipindah, dan ini sebagaimana bahasa Arab yang lain dipakai dalam pembicaraan. Namun hal itu hanya sebatas pada ungkapan bahasa -bukan sebagai istilah atau ilmu tersendiri yang memiliki pengertian khusus – apalagi konsekwensi khusus dan amat berbahaya.

e)). Adapun musnad dan mutashil, memang ada dalam ilmu Musthalah dan masing masing punya definisi tersendiri. Musnad salah satu artinya dalam ilmu mushtolah al-hadits adalah ‘Setiap hadits yang sampai kepada Nabi dan sanadnya bersambung/mutashil’ [Min atyab al-manhi fi ‘ilmi al-Musthalah: 8]. Akan tetapi perlu diketahui bahwa persyaratan musnad ini adalah persyaratan dalam periwayatan hadits dari Nabi, bukan persyaratan mengamalkan ilmu. Harus dibedakan antara keduanya, tidak bisa disamakan antara riwayat dan pengamalan.

Sebagaimana akan anda lihat nanti – In syaa Allah – dalam pembahasan al-wijadah, bahwa al-wijadah itu secara riwayat terputus, namun secara amalan harus diamalkan. Orang yang tidak membedakan antara keduanya dan mewajibkan musnad muttashil dalam mengamalkan ilmu maka telah menyelisihi ulama ahlul hadits.

f)). Musnad muttashilpun bukan satu-satunya syarat dalam riwayat hadits. Karena hadits yang shahih itu harus terpenuhi padanya 5 syarat yakni pertama, diriwayatkan oleh seorang yang adil [adil dalam pengertian ilmu mushtalah adalah seorang muslim, baligh, berakal selamat dari kefasikan dan hal-hal yang mencacat kehormatannya (muru’ah) [Min Atyab al-Manhi fi Ilmi al-Musthalah: 13]-pen, kedua yakni yang sempurna hafalannya atau penjagaannya terhadap haditsnya, ketiga, sanadnya bersambung, keempat, tidak syadz [Syadz artinya, seorang rawi yang bisa diterima menyelisi yang lebih utama dari dirinya [nuzhat an-Nazhor] yakni dalam meriwayatkan hadits bertentangan dengan rawi yang lebih kuat darinya atau lebih banyak jumlahnya. Sedang mu’allal artinya memiliki cacat atau penyakit yang tersembunyi sehingga tampaknya tidak berpenyakit padahal penyakitnya itu membuat hadits itu lemah. -pen] dan kelima tidak mu’allal.

Kalaupun benar –padahal salah- apa yang dikatakan oleh Nurhasan bahwa ilmu harus musnad muttashil, mana syarat-syarat yang lain?. Kenapa hanya satu yang diambil?. Jangan-jangan dia sengaja disembunyikan karena memang tidak terpenuhi padanya !.

Atau kalau kita berhusnu zhonn, ya mungkin tidak tahu syarat-syarat itu, atau lupa, apa ada kemungkinan lainnya lagi?? Dan semua kemungkinan itu pahit. Jadi tidak cukup sekedar musnad muttashil bahkan semua syaratnya harus terpenuhi dan tampaknya keempat syarat yang lain memang tidak terpenuhi sama sekali. Hal itu bisa dibuktikan apabila kita melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada pada ajaran LDII, misalnya dalam hal imamah, bai’at, makmum sholat, zakat, dan lain-lain. Ini kalau kita anggap syarat Musnad Muttashil terpenuhi pada mereka, sebenarnya itu juga perlu dikaji.

g)). Amal LDII dengan prinsip ini menyelisihi amal muslimin sejak Zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sampai saat ini.

h)). Kenyataannya mereka hanya mementingkan MMM, tidak mementingkan keshahihan hadits, buktinya dalam buku himpunan mereka ada hadits-hadits dla’if, bahkan maudlu’ (palsu). Lantas apalah artinya MMM kalau haditsnya tidak shahih karena rawinya tidak tsiqoh misalnya? [Contoh pada pembahasan terakhir -pen]

i)). Dari siapa ‘manqul’ ini dimanqul? Kalau memang harus manqul bukankah ‘metode manqul’ itu juga harus manqul?? Karena ini justru paling inti, Nur Hasan atau para pengikutnya harus mampu membuktikan secara ilmiyah bahwa manqul ini ‘dimanqul’ dari Nabi, para shahabatnya dan para ulama ahli hadits. Kalau ia tidak bisa membuktikannya, berarti ia sendiri yang pertama kali melanggar kaidah manqulnya. Kalau ia mau buktikan, maka mustahil bisa dibuktikan, karena seperti yang kita lihat dan akan kita lihat – In syaa Allah – ternyata manqul ini menyelisihi Nabi, para shahabat, dan ulama ahlul hadits.

j)). Dalam ilmu Mushtholah al-Hadits pada bab tahammul wa al-ada’ (menerima dan menyampaikan hadits) terdapat cara periwayatan yang diistilahkan dengan al-Wijadah. Yaitu seseorang mendapatkan sebuah hadits atau kitab dengan tulisan seseorang dengan sanadnya [al-Baits al-Hatsits:125]. Dari sisi periwayatan, al wijadah termasuk munqothi’ [Munqothi: terputus sanadnya. Mursal: terputus dengan hilangnya rawi setelah tabi’in. Mu’allaq: terputus dengan hilangnya rawi dari bawah sanad – pen], mursal [Ulum al-hadits: 86, Fat-h al-Mughits: 3/22] atau mu’allaq, Ibnu ash-Sholah mengatakan, “Ini termasuk munqothi’ dan mursal…”, ar-Rasyid al-Atthor mengatakan, “Al-wijadah masuk dalam bab al-maqthu’ menurut ulama (ahli) periwayatan”.[Fat-h al-Mughits:3/22]

Bahkan Ibnu Katsir menganggap ini bukan termasuk periwayatan, katanya, “Al-Wijadah bukan termasuk bab periwayatan, itu hanyalah menceritakan apa yang ia dapatkan dalam sebuah kitab”. [al-Baits al-Hatsits: 125]

Jadi al wijadah ini kalau menurut kaidah M.M.M-nya Nur Hasan tentu tidak terpenuhi kategorinya, sehingga tentu tidak boleh bahkan haram mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan cara al wijadah. Tetapi maksud saya disini ingin menerangkan pandangan ulama tentang mengamalkan ilmu yang didapat dengan al wijadah, ternyata disana ada beberapa pendapat:

a. Sebagian orang terutama dari kalangan Malikiyah (pengikut madzhab Maliki) melarangnya.

b. Boleh mengamalkannya, ini pendapat asy-Syafi’iy dan para pemuka madzhab Syafi’iyyah.

c. Wajib mengamalkannya ketika dapat rasa percaya pada yang ia temukan. Ini pendapat yang dipastikan ahli tahqiq dari madzhab asy-Syafi’iyyah dalam Ushul Fiqh. [lihat Ulum al-Hadits karya Ibnu ash-Sholah: 87]

Ibnu ash-Sholah mengatakan tentang pendapat yang ketiga ini, “Inilah yang mesti dilakukan di masa-masa akhir ini, karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadits yang dinukil (dari Nabi) karena tidak mungkin terpenuhinya syarat periwayatan padanya”. [Ulum al-Hadits: 87] Yang beliau maksud adalah hanya al-wijadah yang ada sekarang. [al-Baits al-Hatsits: 126]
An-Nawawiy mengatakan, ‘Itulah yang benar’ [Tadrib ar-Rawi: 1/491], demikian pula as-Sakhowiy juga menguatkan pendapat yang mewajibkan. [Fat-h al-Mughits: 3/27]
Ahmad Syakir mengatakan, “yang benar wajib (mengamalkan yang shahih yang diriwayatkan dengan al-wijadah)”. [al-Baits al-Hatsits: 126]

Tentu setelah itu disyaratkan bahwa penulis kitab yang ditemukan (diwijadahi) adalah orang yang terpercaya dan amanah dan sanad haditsnya shahih sehingga wajib mengamalkannya. [al-Baits al-Hatsits: 127] Ali Hasan mengatakan, “Itulah yang benar dan tidak bisa terelakkan, seandainya tidak demikian maka ilmu akan terhenti dan akan kesulitan mendapatkan kitab, akan tetapi harus ada patokan-patokan ilmiyah yang detail yang diterangkan para ulama’ dalam hal itu sehingga urusan tetap teratur pada jalannya”. [Al-Baits al-Hatsits: 1/368 dengan tahqiqnya]. Dengan demikian pendapat yang pertama tidak tepat lebih-lebih di masa ini. Diantara yang mendukung kebenaran pendapat yang membolehkan atau mewajibkan adalah berikut ini Nabi bersabda,

أي الخلق أعجب إليكم إيمانا ؟قالوا : الملائكة  قال: وكيف لايؤمنون وهم عند ربهم و ذكروا الأنبياء فقال: وكيف لا يؤمنون والوحي ينزل عليهم ؟!قالوا : ونحن فقال: وكيف لاتؤمنون وأنا بين أظهركم قالوا فمن يا رسول الله؟ قال قوم يأتون من بعدكم يجدون صحفا يؤمونو بما فيها

Artinya, “Makhluk mana yang menurut kalian paling ajaib imannya?”. Mereka mengatakan, “Para malaikat”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, “Bagaimana mereka tidak beriman sedang mereka di sisi Rabb mereka?”. Merekapun (para shahabat) menyebut para Nabi. Nabi Shallallahu alaihi wa sallampun menjawab, “Bagaimana mereka tidak beriman sedang wahyu turun kepada mereka”. Mereka mengatakan, “Kalau begitu kami?”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Bagaimana kalian tidak beriman sedang aku ditengah-tengah kalian”. Mereka mengatakan, “Maka siapa Wahai Rosulullah?”. Beliau menjawab, “Orang-orang yang datang setelah kalian, mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya”. [HR Ahmad, Abu Bakar Ibnu Marduyah, ad-Darimiy, al-Hakim dan Ibu ‘Arafah, Ali Hasan mengatakan, “Cukuplah Hadits itu dalam pandangan saya sebagai Hadits Hasan lighoirihi” (bagus dengan jalan-jalan yang lain), semua jalannya lemah namun lemahnya tidak terlalu sehingga dihasankan dengan seluruh jalan-jalannya. Dan al Haitsami dalam al-Majma: 10/65 serta al-Hafidz dalam al-Fat-h:6/7 cenderung kepada hasannya hadits itu. [al-Baits al-Hatsits: 1/369 dengan tahqiqnya], maraji’: Ad-Dlo’ifah:647-649, asy-Syaikh al-Albaniy cenderung kepada lemahnya, Fat-h al-Mughits: 3/28 ta’liqnya, Al-Mustadrak: 4/181, musnad Ahmad: 4/106, Sunan ad-Darimiy: 2/108, It-haf al-Maharoh: 14/63. Tafsir Ibnu Katsir: 1/44 Al-Baqarah: 4- pen]

Amalan Ibnu Umar, dimana beliau meriwayatkan dari ayahnya dengan al-wijadah, al-Khatib al-Baghdadiy dalam bukunya [al-kifayah: 354] meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Nafi, dari Ibnu Umar,

أنه وجد في قائم سيف عمر بن الخطاب صحيفة فيها ليس فيما دون خمس من ا لابل صدقة فإذا كانت خمسا ففيها شاة

‘Bahwa beliau mendapatkan pada gagang pedang umar sebuah lembaran (tertulis) “Tidak ada zakat pada unta yang jumlahnya kurang dari lima, kalau jumlahnya 5 maka zakatnya satu kambing jantan…”.

Abdul Malik bin Habib atau Abu Imran al-Jauni beliau adalah seorang Tabi’in yang Tsiqoh (terpercaya) seperti kata al-Hafidz Ibnu Hajar dalam [at-Taqrib: 621], beliau mengatakan, “Kami dulu mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat padanya ilmu, maka kamipun silih berganti mendatanginya, bagaikan kami mendatangi seorang ahli fiqih. Sampai kemudian keluarga az-Zubair datang kepada kami disini dan bersama mereka orang-orang faqih”. [Al-Kifayah: 355 dan Fat-h al-Mughits: 3/27]

Bila seperti ini keadaannya maka seberapa besar faidah sebuah sanad hadits yang sampai ke para penulis Kutub as-Sittah di masa ini, toh tanpa sanad inipun kita bisa langsung mendapatkan buku mereka. Dan kita dapat mengambil langsung hadits-hadits itu darinya, walaupun tanpa melalui sanad ‘muttashil musnad manqul’ kepada mereka. Dan wajib kita mengamalkannya seperti anda lihat keterangan di atas.

Tidak seperti yang dikatakan Nur Hasan bersama LDIInya bahwa tidak boleh mengamalkanya bahkan itu haram!! Subhanallah, pembaca melihat ternyata dalil dan para ulama menyelisihi mereka, jadi dari mana ‘manqulmu’ dimanqul?? Ahmad Syakir mengatakan, “Dan kitab-kitab pokok kitab-kitab induk dalam sunnah Nabi dan selainnya, telah mutawatir periwayatannya sampai kepada para penulisnya dengan cara al-wijadah”.

Demikian pula berbagai macam buku pokok yang lama yang masih berupa manuskrip yang dapat dipercaya, tidak meragukannya kecuali orang yang lalai dari ketelitian makna pada bidang riwayat dan al wijadah atau orang yang membangkang, yang tidak puas dengan hujjah. [Al-Baits al-Hatsits: 128].

Oleh karenanya para ulama yang memiliki sanad sampai penulis Kutub as-Sittah, tidak membanggakan sanad mereka apabila amalannya tidak sesuai dengan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Bahkan mereka tidak pernah pamer, tidak pula mereka memperalatnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok, karena mereka tahu hakekat kedudukan sanad pada masa ini., berbeda dengan yang tidak tahu sehingga memamerkan, memperalat dan…dan…

k)). Juga, untuk membuktikan benar atau salahnya ajaran manqul. Kita perlu membandingkan ajaran LDII dengan ajaran Nabi dan para shahabatnya. Seandainya manqulnya benar maka tentu ajaran LDII akan sama dengan ajaran Nabi dan para shahabatnya, kalau ternyata tidak sama maka pastikan bahwa manqul dan ajaran LDII itu salah, dan ternyata itulah yang terbukti.

Berikut ini pokok-pokok ajaran LDII yang berbeda dengan ajaran Nabi dan para shahabatnya,

– Dalam hal memahami bai’at dan mengkafirkan yang tidak bai’at.

– Dalam hal mengkafirkan seorang muslim yang tidak masuk LDII.

– Dalam hal manqul itu sendiri.

– Dalam aturan infaq.

– Menganggap najis selain mereka dari muslimin.

– Menganggap tidak sah sholat dibelakang selain mereka.

– Begitu gampang memvonis seseorang di Neraka padahal dia muslim.

– Menganggap tidak sahnya penguasa muslim jika selain golongannya.

– Dan lain-lain.

[perincian masalah-masalah ini sebagiannya telah kami jelaskan dalam makalah yang lain, dan yang belum akan menyusul in syaa Allah, tunggulah saatnya!! -pen]

l)). Sanad Nur hasan Ubaidah [Seputar sanad Nur Hasan atau Ijazah haditsnya ini banyak cerita unik di kalangan LDII, konon hadits-haditsnya hilang waktu naik becak, yang disampaikan kepada pengikutnya hanya 6.-pen], dalam kitab himpunan susunan LDII pada Kitab ash-Sholah hal. 124-125 yang sampai kepada al-Imam at-Turmudziy pada hadits Asma’ wa Shifat Allah, ternyata hadits itu adalah hadits lemah, Ibnu Hajar mengatakan, “‘Illah (cacat) hadits itu menurut dua syaikh (al-Bukhoriy dan Muslim). Bukan hanya kesendirian al-Walid ibnu Muslim (dalam meriwayatkannya), bahkan juga adanya ikhtilaf (perbedaan periwayatan para rawinya), idlthirab (kegoncangan akibat perbedaan itu), tadlis (sifat tadlis pada al-Walid ibnu Muslim yaitu mengkaburkan hadits) dan kemungkinan adanya idraj (dimasukkannya ucapan selain Nabi pada matan hadits itu [Fat-h al-Bariy, syar-h al-Bukhoriy: 11/215].). Jadi cacat/’illah/kelemahan hadits itu ada 5 sekaligus, yaitu tafarrud, ikhtilaf, idlthirab, tadlis dan idraj”. Al-Imam at-Turmudziypun merasakan kejanggalan pada hadits ini, dimana beliau setelah menyebutkan hadits ini mengatakan, ‘Gharib’ (aneh karena adanya tafarrud/kesendirian dalam riwayat) [Sunan at-Turmudziy: 5/497, no: 3507], demikian pula banyak para ulama menganggap lemah hadits ini seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, al-Bushiriy, Ibnu Hazm, al-Albaniy dan Ibnu Utsaimin. [lihat al-Qowa’id al-Mutsla: 18 dengan catatan kaki Asyraf Abdul Maqshud]. Hadits yang shahih dalam masalah ini adalah tanpa perincian penyebutan Asma’ul Husna dan itu diriwayatkan al-Bukhoriy dan Muslim.

Kajian keyakinan kedua, bahwa dialah satu-satunya jalan manqul…

Apa ini bukan kesombongan, kebodohan serta penipuan terhadap umat?!. Karena sampai saat ini sanad-sanad hadits itu masih tersebar luas di kalangan thullab al-ilmi, mereka yang belajar hadits di Jazirah Arab, Saudi Arabia dan negara-negara tetangganya, di Pakistan, India atau Afrika, baik yang belajar orang Indonesia atau selain orang Indonesia, mereka banyak mendapatkan Ijazah [Bukan ijazah tamat sekolah, tapi ini istilah khusus dalam ilmu riwayat hadits. Yaitu ijin dari asy-Syaikh untuk meriwayatkan hadits – pen] riwayat Kutub as-Sittah dan yang lain termasuk diantaranya adalah penulis makalah ini. Kalau dia konsekwen dengan ilmu manqulnya, lantas mengapa dia anggap dirinya satu-satunya jalan manqul?? Sehingga kalian – wahai pengikut LDII – mengkafirkan yang tidak menuntut ilmu dari kalian, termasuk mereka yang mengambil ilmu dari negara-negara Arab dari ulama/syaikh-syaikh yang punya sanad, padahal mereka mendapat sanad, ternyata kalian kafirkan juga?!

Asy-Syaikh al-Albaniy dan murid-muridnya di Yordania, asy-Syaikh Abdullah al-Qar’awiy dan murid-muridnya, asy-Syaikh Hammad al-Anshariy dan murid-muridnya di Saudi Arabia, asy-Syaikh Muqbil di Yaman, asy-Syaikh Muhammad Dliya’urrahman al-‘Azhamiy dari India dan murid-muridnya, dan masih banyak lagi yang lain tak bisa dihitung. Merekapun punya sanad Kutub as-Sittah dan selainnya sampai kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, tapi mereka tidak seperti kalian, wahai Nur Hasan dan pengikutnya. Mereka tahu apa arti sebuah sanad di masa ini, dan perlu diketahui bahwa semua mereka aqidahnya berbeda dengan aqidah kalian, wahai penganut LDII. Mana yang benar, wahai orang yang berakal??

(Bersambung ke Membongkar kesesatan LDII : Bantahan Manqul (2)

(Dikutip dari tulisan al-Ustadz Qomar Zainuddin, Lc, pimpinan Pondok Pesantren Darul Atsar, Kedu, Temanggung serta Pimred Majalah Asy Syariah. Judul asli Antara Alqur’an, Al-Hadits dan ‘Manqul’.)

Sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=974

http://abihumaid.wordpress.com/2008/06/10/kesesatan-ldii-lemkari-islam-jamaah-apa-itu-manqul-1/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s