ADA APA DENGAN SYA’BAN (2) ???

HADITS-HADITS LEMAH SEPUTAR SYA’BAN

بسم الله الرحمن الرحيم

            Sya'ban4Berikut ini akan disampaikan beberapa hadits lemah dan palsu seputar Sya’ban yang banyak tersebar di kalangan kaum muslimin. Dengan ringannya mereka menyatakan ketika berargumen akan amal yang mereka kerjakan, ‘Ini diperintahkan atau dicontohkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan ini haditsnya’, lalu mereka membawakan salah satu dari hadits lemah/ palsu tersebut. Hal ini dikarenakan kebodohan dan keawaman mereka akan pengetahuan yang membahas tentang kaidah ilmu hadits. Sehingga banyak diantara mereka yang menganggap setiap ucapan dalam bahasa Arab adalah sebuah hadits. Padahal untuk menentukan sebuah kata atau kalimat itu adalah hadits dan diakui keshahihahnnya, maka hal itu membutuhkan ilmu dan perangkat hadits yang tidak mudah.

            Di dalam tulisan ini akan dibawakan beberapa hadits, di antaranya;

Hadits Pertama

إِنَّمَا سُمِّيَ شَعْبَانُ لِأَنَّهُ يَتَشَعَّبُ فِيْهِ خَيْرٌ كَثِيْرٌ لِلصَّائِمِ فِيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ اْلجَنَّةَ

          “Hanyalah dinamakan Sya’ban itu karena pada bulan itu bercabang-cabang banyak kebaikan bagi orang yang berpuasa padanya sehingga ia masuk ke dalam surga”.

            Hadits di atas dikeluarkan oleh ar-Rafi’iy di dalam ‘Tarikh Qazwin’ dan Abu asy-Syaikh dari Anas bin Malik. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah wa al-Maudlu’ah: 3223 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 2061].

Hadits Kedua

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Adalah Nabi shallallahu alaihi wa ala alaihi wa sallam bila beliau telah memasuki bulan Rajab beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah untuk kami bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadlan”.

Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad: I/ 259, ath-Thabrany dalam al-Ausath 4/no. 3939 dan dalam ad-Du’a’ no. 911, al-Baihaqiy dalam Syu’ab al-Iman 3/375 dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 6/269 dari jalan Za’idah bin Abi Ar-Raqqad dari Ziyad An-Numairy dari Anas bin Malik radliyallahu anhu. Za’idah bin Abi Ar-Raqqad menurut Imam al-Bukhoriy munkar al-Hadits, dan Ziyad an-Numairy juga lemah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam adz-Dzahabiy dalam Mizan al-I’tidal. Dan hadits di atas dilemahkan pula oleh asy-Syaikh al-Albaniy dalam Dlaif alJami’ ash-Shaghir.

Nash hadits tersebut, telah disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad (I/259) sebagai berikut,

Menceritakan kepada kami Abdullah, Ubaidullah bin Umar, dari Za’idah bin Abi ar-Raqqad, dari Ziyad an-Numairiy, dari Anas bin Malik berkata ia, adalah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a,

اَللَّهُمَّ  بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ

“Ya Allah berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan berkahilah kami pada Bulan Ramadlan”. Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan dan siangnya ada keagungan”.

Di dalam riwayat al-Baihaqiy,

Dari Anas bin Malik berkata ia, adalah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a,

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami hingga bulan Ramadlan”. Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan dan siangnya ada keagungan”.

Takhrij hadits,

Diriwayatkan oleh Ibn Sunny dalam “Amal al-Yaumi wa al-Lailah” (659) dari jalur Ibnu Mani’ dikabarkan oleh Ubaidullah bin Umar al-Qawaririy.

Dan al-Baihaqiy dalam Syu’ab al-Iman (III/375) dari jalur Abi Abdullah al-Hafizh, dikabarkan dari Abu Bakr Muhammad bin Ma’mal, dari Al-Fadlil bin Muhammad Asy-Sya’raniy, dari al-Qawaririy.

Dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (VI/269) dari jalur Habib bin Al-Hasan, dan Ali bin Harun ia berkata, menceritakan kepada kami Yusuf al-Qadli, dari Muhammad bin Abi Bakr, dari Za’idah bin Abi ar-Raqqad.

Dan al-Bazzar dalam Musnadnya (Mukhtasar Zawa’id al-Bazzar li al-Hafidz: I/285) dari jalur Ahmad bin Malik al-Qusyairiy dari Za’idah.

Hadits tersebut memiliki 2 cacat,

1. Ziyad bin Abdullah an-Numairy.

Berkata Yahya bin Ma’in, “Haditsnya Dla’if”.Berkata Abu Hatim, “Haditsnya ditulis, tapi tidak (bisa) dijadikan Hujjah”.

Berkata Abu ubaid al-Ajry, “Aku bertanya kepada Abu Dawud tentangnya, maka ia mendla’ifkannya”. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ia Dla’if”.

2. Za’idah bin Abi Ar-Raqqad.

Berkata al-Imam al-Bukhoriy, “Haditsnya Munkar”.Abu Dawud berkata, “Aku tidak mengenalnya”.An-Nasa’iy berkata, “Aku tidak tahu siapa dia”. Adz-Dzahabiy berkata, “Tidak bisa dijadikan hujjah”.

Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy berkata, “Matruk (ditinggalkan), dan syaikhnya adalah Ziyad an-Numairiy adalah dla’if (lemah)”.

Derajat hadits,

Al-Baihaqiy dalam Syu’ab al-Iman (III/375) berkata, telah menyendiri Ziyad An-Numairiy dari jalur Za’idah bin Abi ar-Raqqad, al-Bukhoriy berkata, “hadits dari keduanya adalah munkar”.

Al-Imam an-Nawawiy dalam al-Adzkar (274) berkata, kami telah meriwayatkannya dan terdapat kedla’ifan dalam sanadnya.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: “Dla’if (lemah)”, sebagaimana di dalam dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 4395 dan Misykah al-Mashobih: 1369.

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy, “Dla’if  jiddan (lemah sekali)”, sebagaimana di dalam Nail al-awthar bi Takhrij Ahadits kitab al-Adzkar: I/ 435 hadits nomor: 547.   

Hadits Ketiga

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَرُبَّمَا أَخَرَ ذَلِكَ حَتَّى يَجْتَمِعَ عَلَيْهَ صَوْمُ السَّنَةِ وَرُبَّمَا أَخَّرَهُ حَتَّى يَصُوْمُ شَعْبَانُ

“Adalah Rosulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam biasa berpuasa tiga hari dalam sebulan. Dan kadang beliau mengakhirkan hal tersebut hingga terkumpul puasa setahun, dan kadang beliau akhirkan hingga beliau berpuasa Sya’ban”.

Hadits di atas dikeluarkan oleh ath-Thabraniy dalam al-Awsath: 2098 dari jalan (Abdurrahman) bin Abu Laila dari saudaranya yaitu Isa dari ayahnya dari Aisyah radliyallahu anha. Dan dalam sanadnya ada Abdurrahman Ibnu Abi Laila dan ia itu dlaif al-Hadits (lemah haditsnya). Demikian keterangan al-Haitsamy dalam Majma’ az-Zawa’id:III/441 dan Ibnu Hajar dalam Fat-h al-Bary:IV/214.

Hadits Keempat

رَجَبُ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِي وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِىْ

“Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadlan adalah bulannya umatku”.

Derajat Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh al-Baihaqy dalam Syu’ab al-Iman: III/374 dari jalan Nuh bin Abi Maryam dari Zaid al-‘Ammy dari Yazid Ar-Raqasyi dari Anas bin Malik radliyallahu anhu. Berkata al-Baihaqiy setelah meriwayatkannya, “Sanad ini sangatlah mungkar”. Dan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Tabyin al-Ujab telah menegaskan bahwa hadits ini adalah hadits palsu dari kedustaan Nuh bin Abi Maryam.

Dari jalan, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqiy bin Ahmad, telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin al-Hasan bin Khairun, telah mengkhabarkan kepada kami Abul Qosim Abdurrahman bin Abid al-Harfiy, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Hasan an-Naqqasiy, telah menceritakan kepada kami Abu Umar Ahmad bin al-Abbas ath-Thobariy, telah menceritakan kepada kami al-Kisa’iy, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami al-A’masy dari Ibrahim dari Alqomah dari Abu Sa’id al-khudriy berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “…lalu beliau menyebutkannya…”.

Berkata Asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini dla’if”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 3094dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 4400. Beliau menyebutkan bahwa Al-Ashbahany dalam At-Targhib membawakan riwayat lain dengan sanad yang mursal dari al-Hasan al-Bashriy. Dan demikian pula disebutkan oleh asy-Syaukany dalam Nail al-Awthar:IV/331, 621 dikeluarkan oleh Abul Fat-h Ibnu Abil Fawaris].

Berkata Ibnu al-Jauziy, “Hadits ini maudlu’ (palsu) atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Al-Kisa’iy itu tidak dikenal sedangkan an-Naqqasiy itu sebagai orang yang tertuduh (berdusta). [Kitab al-Maudlu’at: II/ 206].

Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abu Bakr an-Naqqasiy. Tentang rawi yang satu ini, para ulama telah menjelaskan keadaannya, di antaranya;

Thal-hah bin Muhammad asy-Syahid mengatakan bahwa Abu Bakar an-Naqqasiy suka memalsukan hadits, dan kebanyakannya tentang kisah-kisah.

Abul Qasim al-Lalika’iy mengatakan bahwa tafsir dari Abu Bakar an-Naqqasiy justru akan mencelakakan hati, tidak menjadi obat bagi hati-hati ini.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abul Fat-h bin al-Fawaris di dalam al-Amali dari al-Hasan al-Bashriy secara mursal.

al-Hafizh al-’Iraqi mengatakan dalam Syar-h at-Turmudziy, “Ini adalah hadits dla’if jiddan (sangat lemah), dan dia termasuk hadits-hadits mursal yang diriwayatkan dari al-Hasan (al-Bashriy), kami meriwayatkannya dari Kitab at-Targhib wa at-Tarhib karya al-Ashfahani, hadits-hadits mursal yang diriwayatkan dari al-Hasan (al-Bashri) tidak bernilai (shahih) menurut Ahlul Hadits, dan tidak ada satu hadits pun yang menyebutkan tentang keutamaan bulan Rajab”.

Ibnu al-Jauziy dalam kitabnya al-Maudlu’at [II/205-206], adz-Dzahabiy dalam Tarikh al-Islam [I/290], dan asy-Syaukaniy dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah [halaman 95] menghukumi bahwa hadits ini adalah hadits palsu, didustakan atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Lihat Lisanul Mizan [VI/202] karya al-Hafizh Ibnu Hajar.

Hadits Kelima

فَضْلُ رَجَبَ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الأَذْكَارِ وَفَضْلُ شَعْبَانَ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ مُحَمَّدٍ عَلَى سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ وَفَضْلُ رَمَضَانَ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ

“Keutamaan Rajab terhadap bulan-bulan yang lain adalah seperti keutamaan Alqur’an terhadap dzikir-dzikir selainnya, dan keutamaan Sya’ban terhadap bulan-bulan selainnya adalah seperti keutamaan Muhammad terhadap nabi-nabi selainnya, dan keutamaan Ramadlan terhadap bulan-bulan selainnya adalah seperti keutamaan Allah terhadap segenap hamba-Nya”.

Derajat Hadits

Hadits di atas adalah hadits palsu. Demikian keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Tabyin al-Ujab sebagaimana dalam Kasyful Khafa’ karya al-Ajluny:II/85 dan al-Mashnu’ fi Ma’rifah al-Hadits al-Maudlu’ karya Ali Qari’ halaman 128. Baca juga di http://www.saaid.net/mktarat/12/8-8.htm.

Hadits Keenam

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ؟ فَقَالَ شَعْبَانُ لِتَعْظِيْمِ رَمَضَانَ قِيْلَ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ صَدَقَةٌ فِيْ رَمَضَانَ

Nabi Shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam ditanya, “Puasa apakah yang lebih utama (afdlal) setelah Ramadlan?”. Beliau menjawab, “Sya’ban, untuk mengagungkan Ramadlan”. Kemudian ditanyakan lagi, “Sedekah apakah yang yang paling utama (afdlal)?”. Beliau menjawab, “Sedekah pada bulan Ramadlan”.

Derajat Hadits

Dikeluarkan oleh at-Turmudziy: 663, al-Baihaqy dalam Syu’ab al-Iman, Abu Hamid al-Hadlramiy dan adl-Dliya’ al-Muqaddisiy di dalam al-Muntaqa’ dari jalan Musa bi shodaqoh bin Musa dari Tsabit dari Anas bin Malik radliyallahu anhu. Dan dalam sanadnya ada Shodaqah bin Musa dan beliau dlaif al-Hadits. Hadits ini dilemahkan oleh at-Turmudziy danas-Suyuthy.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if”. [Dla’if Sunan at-Turmudziy: 104, Irwa’ al-Ghalil:889 (III/397) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 1023].

Demikian pula dilemahkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya, Fat-h al-Bary [IV/214] dan beliau menganggap bahwa hadits di atas menyelisihi hadits Abu Hurairah dalam riwayat Muslim: 1163 dengan lafazh,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَّلاَةُ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah bulan Allah Al-Muharram, dan sebaik-baik sholat setelah shalat wajib adalah sholat lail”.

Bulan Al-Muharram yang diinginkan dalam hadits mungkin bulan Muharram yang merupakan awal bulan dalam penanggalan Islam dan mungkin juga seluruh bulan haram dalam Islam yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Demikian keterangan Ibnu Taimiyah sebagaimana yang dinukil oleh muridnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam I’lam al-Muwaqqi’in:IV/293.

Hadits Ketujuh

إِنَّ اللهَ تبارك و تعالى يَنْـزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Sesungguhnya Allah tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia pada pertengahan (nishfu) Sya’ban lalu mengampuni (dosa-dosa) lebih banyak daripada banyaknya bulu pada kambing”.

Hadits tersebut dikeluarkan ole al-Imam at-Turmudziy: 739, Ibnu Majah: 1389 dan Ahmad: VI/ 238 dari jalan al-Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abu Katsir dari Urwah dari Aisyah radliyallahu anha.

Derajat Hadits

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if (lemah)”. [Dla’if Sunan at-Turmudziy: 119, Dla’if Sunan Ibnu Majah: 295, Dla’if al-Jami ash-Shaghir: 1761 dan Misykah al-Mashobih: 1299].

Dalam satu riwayat,

إِذَا كَانَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَغْفِرُ اللهُ مِنَ الذُّنُوْبِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

          “Apabila malam pertengahan (nishfu) Sya’ban, Allah akan mengampuni dosa-dosa sebanyak jumlah bulu pada kambing”.

            Hadits ini dikeluarkan oleh al-Baihaqiy di dalam Syu’ab al-Iman dari Aisyah radliyallahu anha.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if”. [Dla’if al-Jami ash-Shaghir: 654].

Hadits Kedelapan

إِنَّ اللهَ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَ يَرْحَمُ اْلمـُسْتَرْحِمِيْنَ وَ يُؤَخِّرُ أَهْلَ اْلحِقْدِ كَمَا هُمْ

          “Sesungguhnya Allah menengok para hamba-Nya pada malam nishfu Sya’ban lalu Ia mengampuni orang-orang yang memohon ampun (kepada-Nya), merahmati orang-orang yang meminta rahmat (kepada-Nya) dan menunda orang-orang yang dengki sebagaimana (adanya) mereka”.

Telah mengeluarkan hadits ini al-Baihaqiy di dalam Syu’ab al-Iman dari Aisyah radliyallahu anha.

Derajat Hadits

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if (lemah)”. [Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 1739].

Dalam satu riwayat,

إِذَ كَانَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ نَادَى مُنَادٍ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟ فَلَا يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أُعْطِيَ إِلَّا زَانِيَةٌ بِفَرْجِهَا أَوْ مُشْرِكٌ

“Apabila malam nishfu (pertengahan) Sya’ban, memanggillah orang yang memanggil (yakni Malaikat), ‘Apakah ada orang yang memohon ampun yang dapat Aku ampuni (dosanya) dan apakah ada orang yang meminta yang dapat Aku berikan kepadanya. Maka tidak ada seseorangpun yang meminta sesuatu (kepada-Nya) melainkan akan diberi, kecuali perempuan yang berzina dengan kemaluannya atau orang yang berbuat syirik (musyrik)”.

Telah mengeluarkan hadits ini al-Baihaqiy di dalam Syu’ab al-Iman dari Utsman bin Abi al-Ash.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if (lemah)”. [Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 653].

Hadits Kesembilan

          فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يُوْحِى اللهُ إِلَى مَلَكِ اْلمـَوْتِ بِقَبْضِ كُلِّ نَفْسٍ يُرِيْدُ قَبْضَهَا فِى تِلْكَ السَّنَةِ

          “Pada malam nishfu (pertengahan) Sya’ban, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut agar mewafatkan setiap jiwa yang menginginkan kematian pada tahun tersebut”.

            Hadits ini dikeluarkan oleh ad-Dinuriy di dalam al-Mujalasah dari Rasyid bin Sa’d secara mursal.

            Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if (lemah)”. [Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 4019].

Hadits Kesepuluh

خَمْسُ لَيَالٍ لاَ تُرَدُّ فِيْهِنَّ الدَّعْوَةُ: أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةُ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ وَلَيْلَةُ النَّحْرِ

“Ada lima malam yang tidak tertolak padanya doa: awal malam pada bulan Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam Ied al-Fithri dan malam Ied al-Adl-ha”.

Derajat Hadits

Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dan ad-Dailamy dari hadits Abu Umamah al-Bahily radliyallahu anhu. Demikian keterangan asy-Syaikh al-Albany dalam adl-Dla’ifah dan beliaumenyatakan hadits di atas sebagai hadits maudlu’ (palsu) [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 1452 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 2852].

Hadits Kesebelas

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مَسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهَ أَلاَ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Bila datang malam nishfu Sya’ban maka lakukanlah Qiyam Lail dan puasa pada siang harinya, karena ketika matahari terbenam Allah turun pada malam itu ke langit dunia dan berkata, ‘Adakah yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya, adakah yang memohon rizki, niscaya Aku akan memberikannya, adakah yang tertimpa penyakit, niscaya Aku akan menyembuhkannya, adakah…, adakah… hingga terbit fajar”.

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah: 1388, al-Baihaqiy dalam Syu’ab al-Iman: III/378 dan al-Mizzy dalam Tahdzib al-Kamal. Dari jalan Ibrahim bin Muhammad dari Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far dari ayahnya dari Ali bin Abu Thalib.

Derajat Hadits

Mayoritas ulama sepakat akan lemahnya hadits di atas.

asy-Syaikh al-Albaniy dalam adl-Dla’ifah berpendapat bahwa sanad hadits di atas adalah Maudlu’ (palsu), karena Ibnu Abi Sarbah -salah seorang perawinya- telah dicap oleh Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in sebagai pemalsu hadits. [Silsilah al-Ahadits al-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 2132, Dla’if Sunan Ibnu Majah: 294, Misykah al-Mashobih: 1308, dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 652].

Hadits Kedua belas

مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَي الْعِيْدَيْنِ وَلَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ

“Siapa yang menghidupkan malam dua Ied dan malam nishfu Sya’ban, niscaya hatinya tidak akan mati pada hari semua hati menjadi mati”.

Derajat Hadits

Hadits di atas dikeluarkan oleh Ibnul Jauzy dalam al-Ilal al-Mutanahiyah: II/562 dari shahabat Kurdus radliyallahu anhu. Demikian pula disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Ishobah:V/585 dan Ibnu Atsir dalam Usud al-Ghobah:I/931. Lihat pula di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=254972

Al-Hafizh menyatakan bahwa Marwan bin Salim -salah seorang perawinya- adalah seorang rawi yang matruk (ditinggalkan haditsnya) dan muttaham bil kadzib (dituduh berdusta). Dalam Lisan al-Mizan pada biografi Isa bin Ibrahim bin Thahman -salah seorang perawi hadits di atas- Ibnu Hajar menghukumi hadits di atas sebagai hadits yang mungkar lagi mursal.

Hadits Ketiga belas

يَا عَلِيُّ مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ مِئَةَ رَكْعَةٍ بِأَلْفِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ قَضَى اللهُ لَهُ كُلَّ حَاجَةٍ طَلَبَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ

“Wahai Ali, siapa yang sholat malam nishfu Sya’ban seratus raka’at dengan (membaca) ‘Qul Huwallahu Ahad’ seribu (kali) maka Allah akan menunaikan seluruh hajat yang dia minta pada malam itu”.

Derajat Hadits

Hadits ini disebutkan oleh Ibnu Qayyim dalam al-Manar al-Munif halaman 78 dan al-Imam asy-Syaukany dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah halaman 50-51 sebagai hadits yang maudlu’ (palsu). Dan baca pula lafazh yang mirip dengannya dalam Lisan al-Mizan karya al-Hafizh Ibnu Hajar pada biografi Muhammad bin Sa’id ath-Thabary.

Berkata asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, “Adapun (hadits-hadits) yang menjelaskan tentang sholat pada malam (nishfu Sya’ban) seluruhnya adalah maudlu’ (palsu) sebagaimana yang diingatkan oleh banyak ulama”. [Risalah yang ketiga tentang hukum merayakan nishfu Sya’ban dari buku beliau at-Tahdzir min al-Bida’, halaman 22].

Dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa orang yang melakukan sholat pada malam nishfu Sya’ban ada tiga tingkatan:

Satu: Orang yang melakukan kebiasaan sholatnya sebagaimana hari-hari lainnya, tanpa meyakini adanya keutamaan khusus bagi orang yang melakukan sholat pada malam nishfu Sya’ban. Yang seperti ini tidak mengapa, karena tidak ada padanya bentuk bid’ah dalam agama.

Dua: Ia melakukan sholat pada malam nishfu Sya’ban tidak pada selainnya. Ini adalah bid’ah dalam agama, karena Nabi Shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam dan para shahabatnya tidak pernah melakukannya dan tidak mencontohkannya.

Tiga: Ia melakukan sholat dengan jumlah raka’at tertentu pada setiap tahun. Ini lebih besar bid’ahnya dan lebih jauh dari sunnah ketimbang yang kedua. Karena hadits-hadits tentang hal tersebut semuanya maudlu’ (palsu). [Diringkas dari Fatawa beliau pada jilid 20].

Hadits Keempat Belas

مَنْ قَرَأَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ أَلْفَ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ بَعَثَ اللهُ إِلَيْهِ مِئَةَ أَلْفِ مَلَكٍ يُبَشِّرُوْنَهُ

“Siapa yang membaca pada malam nishfu Sya’ban ‘Qul Huwallahu Ahad’ seribu kali, niscaya Allah akan mengutus untuknya seratus ribu malaikat memberi kabar gembira kepadanya”.

Derajat Hadits

Hadits ini disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan pada biografi Muhammad bin Abd bin Amir as-Samaqandy sebagai salah satu bentuk/(contoh) hadits palsunya. Dan disebutkan pula oleh Ibnu Qayyim dalam al-Manar al-Munif halaman 78. Lihat pula di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=254972

Hadits Kelima Belas

مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثِنْتَيْ عَشَرَ رَكْعَةً يِقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ ثَلاَثِيْنَ مَرَّةً قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ شُفِّعَ فِيْ عَشَرَةٍ قَدِ اسْتَوْجُبُوْا النَّارَ

“Siapa yang shalat pada malam nishfu Sya’ban 12 raka’at, pada setiap raka’at ia membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ tiga puluh kali, niscaya Allah akan mengidzinkannya untuk memberi syafa’at kepada sepuluh orang yang telah wajib masuk neraka”.

Derajat Hadits

Hadits ini disebutkan oleh Abu Abdullah Muhammad al-Hambaliy dalam al-Manar al-Munif halaman 78 sebagai hadits yang maudlu’ (palsu). Lihat http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=254972

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah, “Yang mengherankan, ada sebagian orang yang telah menghirup harumnya ilmu Sunnah tertipu dengan igauan ini dan melakukan sholat itu. Padahal sholat tersebut hanya diada-adakan setelah empat ratus tahun (munculnya/lahirnya) Islam dan munculnya di Baitul Maqdis, kemudian dipalsukanlah sejumlah hadits tentangnya”.

Hadits Keenam Belas

مَنْ أَحْيَا اللَّيَالِيَ الْخَمْسَ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ: لَيْلَةُ التَّرْوِيَةِ وَلَيْلَةُ عَرَفَةَ وَلَيْلَةُ النَّحْرِ وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

“Siapa yang menghidupkan malam-malam yang lima (ini), maka wajib baginya surga; malam Tarwiyah, malam Arafah, malam Ied al-Adl-ha, malam Ied al-Fithri dan malam nishfu Sya’ban”.

Derajat Hadits

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Ashbahany dari Mu’adz bin Jabal, dan dianggap sebagai hadits palsu oleh asy-Syaikh al-Albaniy dalam Dla’if at-Targhib: 667. Lihat pula di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=254972

Demikian beberapa hadits lemah (dla’if) dan palsu (maudlu’) yang berisikan tentang keutamaan bulan Sya’ban, agar kaum muslimin khususnya para da’inya berhati-hati dalam menyampaikan dan mengamalkan hadits-hadits tersebut. Sebab sebagaimana telah diketahui bahwa hadits lemah dan palsu itu tidak dapat dijadikan hujjah dalam agama. Lalu siapapun orang yang menyampaikan hadits-hadits tersebut maka ia telah berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan ia telah diancam dengan neraka.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s