ADA APA DENGAN SYA’BAN (3) ???

BID’AH-BID’AH SEPUTAR SYA’BAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Sya'ban3Sebagaimana telah diketahui, bahwa di dalam agama ini terdapat perintah dan larangan. Jika Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam perintahkan sesuatu maka keduanyapun melarang sesuatu lainnya yang bertentangan dengannya. Ketika keduanya memerintahkan umat manusia untuk beriman maka keduanya juga melarang kekufurun, dikala menyuruh mereka bertauhid maka terdapat juga larangan dari berbuat syirik dan begitupun tatkala menyuruh untuk menegakkan dan menghidupkan sunnah maka terdapat juga larangan dari mengerjakan perbuatan bid’ah dan seterusnya.

Jadi bid’ah itu adalah salah satu dari sekian banyak larangan dalam agama yang telah dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam Alqur’an dan hadits-hadits shahih. Dan bid’ah adalah suatu perkara yang telah dilarang dan dicegah oleh syariat sebagaimana sunnah telah diperintahkan dan disyariatkan untuk diamalkan.

Adapun definisi bid’ah, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam asy-Syathibiy rahimahullah, “Bid’ahberasal dari kata ikhtira’ yaitu yang baru diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya”. [1]

Secara syar’iy, bid’ah bermakna cara baru dalam agama yang dibuat menyerupai syariat, bertujuan dengan berjalan di atasnya untuk berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. [2]

“Cara baru dalam agama itu” maksudnya adalah bahwa cara yang dibuat itu disandarkan oleh pembuatnya kepada agama, meskipun tidak akan dijumpai dasar dan dalilnya sedikitpun di dalam syariat. Maka bid’ah itu adalah sesuatu perkara agama yang tidak ada dan keluar dari apa yang telah ditetapkan oleh syariat.

Dan makna “yang dibuat menyerupai syariat” [3] maksudnya bahwa (sesuatu perkara agama yang dibuat itu) menyerupai cara syar’iy yang pada hakikatnya tidak ada dalam syariat, bahkan mungkin bertentangan dengan syariat dari beberapa segi, misalnya:

1). membuat-buat hukum sendiri, seperti: shaum untuk berdiri tidak mau duduk, berjemur di panas terik matahari tidak berteduh, dan lain sebagainya.

2). Atau menentukan cara dan bentuk tertentu di dalam ibadah yang tidak akan ditemui di dalam syariat, seperti: dzikir berjamaah dengan satu suara di tempat tertentu, menjadikan maulid Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan isra’ dan mi’rajnya sebagai hari raya dengan melakukan kegiatan tertentu semisal membaca kitab barzanziy, membaca sholawat-sholawat bid’ah dan lain sebagainya.

3). Atau menentukan ibadah-ibadah tertentu pada waktu-waktu tertentu yang tidak dijumpai di dalam syariat. Seperti: Shaum nisfu sya’aban dan menghidupkan malamnya, menghidupkan malam nuzul Alqur’an, merayakan dan meramaikan tahun baru Islam 1 muharram (tahun baru Hijriyah) dengan berbagai kegiatan yang meniru kaum jahiliyah dan lain sebagainya.

Adapun pembagian bid’ah, al-Imam asy-Syathibiy rahimahullah telah membagi menjadi dua macam yaitu, [4]

1). Bid’ah haqiqiyyah yakni yang tidak ada dasarnya sama sekali dari dalil syar’iy, baik dari Alqur’an, sunnah, ijmak dan juga dari istidlal yang mu’tabar menurut ahli ilmu, tidak secara global dan tidak pula secara rinci.

Misalnya: (1). Mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara melakukan rahbaniyah (kerahiban) yakni tidak ingin menikah sebagaimana dilakukan oleh para rahib dari kaum nashrani. (2). Menyerupakan riba dengan jual beli sebagaimana dilakukan oleh golongan yahudi. (3). Menyiksa diri dengan memukul-mukulkan punggung dengan cambuk atau menguruskan keringkan badan atau semisalnya sebagaimana yang dilakukan orang-orang syi’ah rafidlah atau Hindu dengan tujuan meningkatkan derajat. (4). Mengukuhkan akal dan menolak nash-nash di dalam agama Allah sebagaimana dilakukan oleh para ahli filsafat, dan lain sebagainya.

2). Bid’ah idlafiyyah yakni bid’ah yang mempunyai dua campuran, yaitu salah satunya mempunyai dalil-dalil yang terkait dan dari segi ini ia bukanlah bid’ah, dan yang lainya tidak memiliki dalil yang terkait kecuali seperti yang ada pada bid’ah haqiqiyyah. Maka tatkala ada suatu amal (ibadah) yang mempunyai dua campuran yang tidak bersih pada salah satu dari dua sudutnya, maka ia ditempatkan pada julukan ini yaitu bid’ah idlafiyyah. Maksudnya bahwa bid’ah ini berhubungan dengan salah satu dari dua sisinya adalah sunnah sebab berdasarkan kepada dalil, dan berhubungan dengan yang lainnya adalah bid’ah karena bersandarkan kepada syubhat, tidak kepada dalil atau tidak bersandar kepada sesuatu. Dan perbedaan diantara keduanya adalah dari sisi makna. Bahwa dari sisi asalnya, dalilnya tegak berdiri tetapi dari sisi cara, kondisi dan rinciannya tidak ada, padahal ia membutuhkannya, sebab lazimnya terjadi bid’ah itu di dalam peribadatan bukan di dalam masalah adat yang murni.

Misalnya: (1). mengerjakan sholat ragha’ib, yaitu sholat sunnah 12 rakaat pada malam jum’at pertama bulan Rajab dengan cara-cara tertentu. Amalan ini dinyatakan bid’ah oleh para ulama dan termasuk bid’ah idlafiyyah, sebab sholat malam itu ada syariatnya tetapi tanpa rincian pengajaran yang ditentukan pada sholat ragha’ib. Begitu pula yang terjadi pada sholat nisfu Sya’ban. (2) Adzan untuk dua sholat ied dan sholat gerhana. (3) Ucapan istighfar di penghujung sholat secara berjamah dan dengan suara keras. Dan lain sebagainya.

Maka berikut ini beberapa keterangan para ulama berkaitan dengan sejumlah bid’ah yang berkembang di tengah kaum muslimin seputar bulan Sya’ban, yang diambil dari buku Mu’jam al-Bida’ susunan Ra’id bin Shabriy bin Abu Alafah halaman 299-301, al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ashla lahu susunan Hammud bin Abdullah al-Mathar halaman 595- 604 dan al-Bida’ al-Hauliyah halaman 300-304:

1). Merayakan malam nishfu Sya’ban. [as-Sunan wa al-Mubtadi’at oleh asy-Syuqairiy halaman 17, Bida’ al-Qurra’ oleh Muhammad Musa Nashr halaman 30, al-Ba’its ala inkar al-Bida’ wa al-Hawadits oleh Abu Syamah halaman 124, al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibdtida’ oleh Ali Mahfuzh halaman 286, al-Madkhal oleh Ibnu al-Hajj halaman: IV/ 181, al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ashla lahu oleh Hammud bin Abdullah al-Mathar halaman 595-604 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 299-300].

2). Berkumpul di masjid untuk mengerjakan sholat yang ditentukan, seperti berkumpul untuk sholat seratus raka’at pada malam itu dengan membaca surah al-Ikhlash sebanyak seribu kali. [Majmu’ Fatawa oleh Syaikh al-Islam: XXIII/ 131, 132, 414 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300].

3). Sholat malam nishfu Sya’ban (sholat Alfiyah). [al-Ba’its halaman 124-137, 174, al-Manar al-Munif oleh Ibnu Qoyyim halaman 98-99, Tafsir al-Qurthubiy: XVI/ 128, at-Tankit wa al-Ifadah fi Takhrij Ahadits Khatimah Safar as-Sa’adah halaman 96, al-Asrar al-Marfu’ah halaman 396, al-Majmu’: IV/ 56, Tanzih asy-Syari’ah: II/ 92, al-La’aliy al-Mashnu’ah: II/ 57, al-Mughniy an al-Hifzhi wa al-Kitab halaman 297, al-Amr bi al-Ittiba’ wa an-Nahyu an al-Ibtida’ oleh al-Imam as-Suyuthiy halaman 176, as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 144, 179, al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 54, 58, 288, al-Madkhal halaman: IV/ 281, al-I’tisham: II/ 4, al-Hawadits wa al-Bida’ halaman 48-49 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300].

4). Mengkhususkan sholat pada malam nishfu Sya’ban dan berpuasa pada siang harinya. [al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 27, al-Bida’ wa al-Muhdatsat halaman 614 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

5). Mengkhususkan doa dan dzikir pada malam nishfu Sya’ban. [Bida’ al-Qurra’ halaman 29, al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 153, al-Bida’ wa al-Muhdatsat halaman 612 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300].

6). Sholat enam raka’at dengan maksud menolak bala, dipanjangkan umur dan hidup berkecukupan pada bulan Sya’ban.

7). Sholat al-Bara’ pada bulan Sya’ban. [as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 144 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

8). Seluruh doa yang dibaca ketika memasuki bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadlan. Karena semuanya itu dibuat-buat lagi bid’ah dan bersumber dari hadits yang lemah.[as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 143 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300].

9). Menghidupkan api dan lilin pada malam nishfu Sya’ban.[al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 273 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300].

10). Berziarah ke kuburan pada malam nishfu Sya’ban dan menghidupkan api di sekitarnya. Dan kadang para perempuan juga ikut keluar.[Talbis Iblis halaman 429, al-Madkhal: I/ 310, Ahkam al-Jana’iz oleh asy-Syaikh al-Albaniy halaman 258, al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 289, al-Amr bi al-Ittiba’ wa an-Nahyu an al-Ibtida’ halaman 177 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300-301].

11). Mengkhususkan membaca surah Yasin pada malam nishfu Sya’ban. [Bida’ al-Qurra’ halaman 29, as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 144 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

12). Mengkhususkan berziarah kubur pada bulan Rajab, Sya’ban, Ramadlan dan pada hari Ied. [Ahkam al-Jana’iz halaman 258, as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 160 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

13). Mengkhususkan bersedekah bagi ruh yang telah meninggal pada tiga bulan tersebut yaitu Rajab, Sya’ban dan Ramadlan.[Ahkam al-Jana’iz halaman 257, al-Bida’ wa al-Muhdatsat halaman 610 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

14). Meyakini bahwa malam nishfu Sya’ban adalah malam Lailatul Qadar.

15). Membuat makanan pada hari nishfu Sya’ban kemudian membagikannya kepada fakir miskin dengan anggapan makanan untuk kedua orang tua yang meninggal.

16). Para wanita fakir pergi dengan membawa anak-anak lelaki mereka di bulan Sya’ban setiap tahun untuk mengunjungi al-Imam al-Laits rahimahullah, dengan tujuan mengkhitankan anak-anak lelaki mereka dengan gratis kepada dokter. [al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 391 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

Hal-hal tersebut di atas dapat dikategorikan bid’ah karena memenuhi syarat untuk dinyatakan bid’ah. Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah di dalam kitabnya [5] berkata, “Sesungguhnya bid’ah yang dinyatakan sesat oleh pembuat syariat adalah sebagai berikut;

  1. Semua yang bertentangan dengan sunnah, baik berupa ucapan, perbuatan ataupun keyakinan, meskipun ia merupakan ijtihad.
  2. Semua perkara yang dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri (bertaqorrub) kepada Allah, sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarangnya.
  3. Semua perkara yang tidak mungkin disyariatkan, kecuali dengan nash atau tauqif, dan tidak ada nashnya, maka ia adalah bid’ah kecuali amalan yang dikerjakan oleh shahabat, dimana amalan tersebut dilakukan berulang kali dan tidak ada penentangan sama sekali.
  4. Berbagai adat istiadat orang-orang kafir yang dimasukkan ke dalam ibadah.
  5. Apa yang ditetapkan sunnah (atau anjuran) oleh beberapa ulama, apalagi ulama mutaakhirin, tetapi tidak ada dalilnya.
  6. Setiap ibadah yang tata caranya tidak dijelaskan melainkan di dalam hadits dlo’if (lemah) dan maudlu’ (palsu).
  7. Berlebih-lebihan di dalam ibadah.
  8. Setiap ibadah yang ditetapkan oleh pembuat syariat tanpa batas, tetapi kemudian dibatasi oleh manusia dengan beberapa batasan seperti: tempat, waktu, sifat atau jumlah.

Syarat-syarat sesuatu dinyatakan bid’ah dalam agama di atas, jika diterapkan dengan beberapa amalan seputar bulan Sya’ban maka amalan-amalan tersebut sudah layak dikategorikan sebagai perkara bid’ah yang telah dilarang agama untuk diamalkan dan disebarluaskan ajarannya. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjauhkan dan menghindarkan diri kita, keluarga, kerabat kita dan seluruh kaum muslimin dari perkara-perkara bid’ah. Sebab di dalamnya banyak terdapat keburukan, kerusakan dan bahaya di dalam kehidupan dunia dan akhirat kelak.

 

[1] Al-I’tisham: I/ 36 oleh al-Imam asy-Syathibiy dan Ushul fi al-Bida’ wa as-Sunan oleh Muhammad Ahmad al-Adawiy halaman 21.

[2] Al-I’tisham: I/ 37 dan Ushul fi al-Bida’ wa as-Sunan halaman 21.

[3] Ushul fi al-Bida’ wa as-Sunan halaman 22.

[4] Al-I’tisham: I/ 286 dan Ushul fi al-Bida’ wa as-Sunan halaman 25-31 dan lain-lain kitab yang berkaitan dengan pembahasan bid’ah.

[5] Ahkam al-Jana’iz wa bida’uha halaman 306.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s