AL-FARUQ, TOKOH MULIA YANG DIHUJAT SEKTE SESAT SYI’AH..

UMAR BIN AL-KHATHTHAB radliyallahu anhu (wafat 23 H)

بسم الله الرحمن الرحيم

umar5Nama lengkapnya adalah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Izzy bin Rabah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luay al-Quraisy al-Adawy. Terkadang dipanggil dengan Abu Hafsh dan digelari dengan al-Faruq. Ibunya bernama Hantimah binti Hasyim bin al-Muqhirah al-Makhzumiyah.

1. Awal Keislamannya

Umar masuk Islam ketika para penganut Islam kurang lebih sekitar 40 (empat puluh) orang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Al-Imam at-Turmudziy, al-Imam ath-Thabraniy dan al-Hakim telah meriwayatkan dengan riwayat yang sama bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah berdoa, ”Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal Amr bin Hisyam”.

Berkenaan dengan masuknya Umar bin al-Khaththab ke dalam Islam yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad yang diungkap oleh Imam Suyuti dalam kitab “Tarikh al-Khulafa’ ar-Rasyidin” sebagai berikut,

Anas bin Malik berkata, ”Pada suatu hari Umar keluar sambil menyandang pedangnya, lalu Bani Zahrah bertanya” Wahai Umar, hendak kemana engkau?”. Maka Umar menjawab, “Aku hendak membunuh Muhammad”. Selanjutnya orang tadi bertanya, ”Bagaimana dengan perdamaian yang telah dibuat antara Bani Hasyim dengan Bani Zuhrah, sementara engkau hendak membunuh Muhammad”.

Lalu orang tadi berkata, ”Tidak kau tahu bahwa adikmu dan saudara iparmu telah meninggalkan agamamu”. Kemudian Umar pergi menuju rumah adiknya dilihatnya adik dan iparnya sedang membaca lembaran Alquran, lalu Umar berkata, “Barangkali keduanya benar telah berpindah agama”. Maka Umar melompat dan menginjaknya dengan keras, lalu adiknya (Fathimah binti al-Khaththab) datang mendorong Umar, tetapi Umar menamparnya dengan keras sehingga muka adiknya mengeluarkan darah.

Kemudian Umar berkata, “Berikan lembaran (Alquran) itu kepadaku, aku ingin membacanya”. Maka adiknya berkata, ”Kamu itu dalam keadaan najis tidak boleh menyentuhnya kecuali kamu dalam keadaan suci, kalau engkau ingin tahu maka mandilah (berwudlulah/bersuci)”. Lalu Umar berdiri dan mandi (bersuci) kemudian membaca lembaran (alquran) tersebut yaitu surat Thaha sampai ayat, ”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dirikanlah Sholat untuk mengingatku.” (QS Thaha/ 20: 14). Setelah itu Umar berkata, ”Bawalah aku menemui Muhammad”.

Mendengar perkataan Umar tersebut langsung Khabbab keluar dari sembunyiannya seraya berkata, ”Wahai Umar, aku merasa bahagia, aku harap do’a yang dipanjatkan Nabi pada malam kamis menjadi kenyataan. Ia (Nabi) berdo’a, “Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal Amr bin Hisyam”.

Lalu Umar berangkat menuju tempat nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, di depan pintu berdiri Hamzah, Thalhah dan shahabat lainnya. Lalu Hamzah seraya berkata, ”Jika Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya dia akan masuk Islam, tetapi jika ada tujuan lain kita akan membunuhnya”. Lalu kemudian Umar menyatakan masuk Islam dihadapan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Lalu bertambahlah kejayaan Islam dan Kaum Muslimin dengan masuknya Umar bin al-Khaththab, sebagaimana ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhoriy dari Ibnu Mas’ud, seraya berkata, ”Kejayaan kami bertambah sejak masuknya Umar”.

Umar turut serta dalam peperangan yang dilakukan bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan tetap bertahan dalam perang Uhud bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam as-Suyuthiy dalam “Tarikh al-Khulafa’ ar-Rasyidin”.

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan gelar al-Faruq kepadanya, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Dzakwan, seraya dia berkata, ”Aku telah bertanya kepada Aisyah, “Siapakah yang memanggil Umar dengan nama al-Faruq?”. Maka Aisyah menjawab, “Rosulullah”.

Hadist al-Imam al-Bukhoriy dari Abu Hurairah, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Sungguh telah ada dari umat-umat sebelum kamu para pembaharu, dan jika ada pembaharu dari umatku niscaya Umarlah orangnya”. Hadist ini dishahihkan oleh al-Imam al-Hakim. Demikian juga al-Imam at-Turmudziy telah meriwayatkan dari Uqbah bin Amir bahwa Nabi bersabda, ”Seandainya ada seorang Nabi setelahku, tentulah Umar bin al-Khaththab orangnya”.

Diriwayatkan oleh at-Turmudziy dari Ibnu Umar dia berkata, ”Nabi telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah telah mengalirkan kebenaran melalui lidah dan hati Umar”. Anaknya Umar (Abdullah) berkata, ”Apa yang pernah dikatakan oleh ayahku (Umar) tentang sesuatu maka kejadiannya seperti apa yang diperkirakan oleh ayahku”.

2. Nasabnya

Beliau adalah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ai, Abu Hafs al-’Adawi. Julukan beliau adalah al-Faruq. Ada yang menyebutkan bahwa gelar itu berasal dari Ahli Kitab. Adapun ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah, kakak dari Abu Jahal bin Hisyam.

3. Ciri-ciri dan sifatnya

Beliau adalah seorang lelaki yang tinggi, kepala bagian depannya botak, selalu bekerja dengan dua tangannya, kedua matanya hitam, berkulit kuning, ada yang mengatakan berkulit putih hingga menjadi kemerah-merahan. Giginya putih bersih mengkilat, selalu mewarnai janggutnya dan merapikan rambutnya dengan menggunakan inai (daun pacar).

Beliau adalah orang yang sangat tawadlu kepada Allah. Kehidupan dan makanannya sangat sederhana. Beliau terkenal sangat tegas dalam urusan agama Allah, selalu menambal bajunya dengan kulit, membawa ember di atas kedua pundaknya, dengan wibawanya yang sangat besar, selalu mengendarai keledai tanpa pelana, jarang tertawa dan tidak pernah bergurau dengan siapapun. Cincinnya bertuliskan sebuah kata-kata “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu hai Umar”.

4. Istri dan anak-anaknya

Al-Waqidiy, al-Kalbiy dan lainnya pernah berkata, “Pada masa jahiliyyah Umar radliyallahu anhu pernah menikahi Zainab binti Mazh’un saudara wanita dari Utsman bin Mazh’un, dari perkawinan tersebut lahirlah Abdullah, Abdurrahman yang sulung, serta Hafshah. Beliau juga pernah menikahi Mulaikah binti Jarwal, dari hasil perkawinan tersebut lahirlah Ubaidullah. Setelah itu beliau menceraikannya ketika terjadi hudnah (perdamaian). Setelah dicerai wanita tersebut dinikahi oleh Abu Jahm bin Hudzaifah, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Madaini. Al-Waqidi berkata, “Wanita ini bernama Ummu Kaltsum binti Jarwal, dari hasil pernikahan ini lahirlah Ubaidullah dan Zaid yang bungsu”. al-Madaini berkata, “Umar radliyallahu anhu pernah menikahi Quraibah binti Abi Umayyah al-Makhzumiy, sewaktu terjadi hudnah (perdamaian) Umar radliyallahu anhu. menceraikannya, setelah itu wanita ini dinikahi oleh Abdurrahman bin Abu Bakar radliyallahu anhu”.

Mereka berkata, “Umar radliyallahuanhu juga menikahi Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam setelah suaminya yakni Ikrimah bin Abu Jahal- terbunuh dalam peperangan di negeri Syam. Dari hasil pernikahan ini lahirlah Fathimah. Kemudian Umar radliyallahu anhu menceraikannya”. al-Madaini berkata, “Umar radliyallahu anhu tidak menceraikannya”.

Mereka berkata, “Umar radliyallahu anhu pernah pula menikahi Jamilah binti Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah dari suku Aus”.Umar radliyallahu anhu juga menikahi Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail, yangsebelumnya adalah istri Abdullah bin Abu Bakar radliyallahu anhu Setelah Umar radliyallahu anhuterbunuh, wanita ini dinikahi oleh az-Zubair bin al-Awwam Disebutkan bahwawanita ini adalah ibu dari anaknya yang bernama Iyadl, wallahu a‘lam.Al-Madainiy berkata, “Umar radliyallahu anhu pernah meminang Ummu Kaltsum, puteri AbuBakar as-Shiddiq radliyallahu anhu -ketika itu masih gadis kecil- dalam hal ini Umar radliyallahu anhumengirim surat kepada Aisyah, namun Ummu Kaltsum berkata, ”Aku tidak maumenikah dengannya!”. Aisyah radliyallahu anha berkata padanya, “Apakah engkau menolakAmirul Mukminin?”. Ummu Kaltsum menjawab, “Ya, sebab hidupnya miskin”.Akhirnya Aisyah radliyallahu anha mengirim surat kepada Amru bin al-Ash, dan Amruberusaha memalingkan keinginan Umar radliyallahu anhu untuk menikahi puteri Abu Bakar radliyallahu anhudan menyarankan kepadanya agar menikahi Ummu Kaltsum puteri Ali bin Abi Thalib dari hasil pernikahannya dengan Fathimah. Amru berkata padanya,“Nikahilah puteri Ali dan hubungkan kekerabatanmu dengan kerabat RasulullahShallallahu alaihi wa sallam”. Akhirnya Umar radliyallahu anhu meminang Ummu Kaltsum kepada Ali danmemberikannya mahar sebanyak empat puluh ribu. Dan dari hasil pernikahan inilahirlah Zaid dan Ruqayyah.

Mereka berkata, “Umar radliyallahu anhu juga menikahi Luhyah seorang wanita Yamandari hasil pernikahan itu lahirlah Abdurrahman yang bungsu, ada yang menyebutkan Abdurrahman yang tengah. Al-Waqidiy berkata, “Wanita ini adalah Ummu al-Walad (budak wanita) dan bukan sebagai istri. Ada yang menyebutkan bahwa Umar radliyallahu anhu juga memiliki Fukaihah sebagai Ummu Walad yang melahirkan anaknya bernama Zainab. Al-Waqidiy berkata, “Zainab adalah anak Umar radliyallahu anhu yang paling kecil”.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Jumlah seluruh anak Umar radliyallahu anhu adalah tiga belas orang, yaitu, 1). Zaid yang sulung, 2). Zaid yang bungsu, 3). Ashim, 4). Abdullah, 5). Abdurrahman yang sulung, 6). Abdurrahman yang pertegahan, az-Zubair bin Bakkar -yaitu Abu Syahmah, 7). Abdurraman yang bungsu, 8). Ubaidullah, 9). Iyadl, 10). Hafshah, 11). Ruqayyah, 12). Zainab,13). Fathimah.

Jumlah seluruh istri Umar radliyallahu anhu yang pernah dinikahi pada masa jahiliyyah dan Islam baik yang diceraikan ataupun yang ditinggal wafat sebanyak tujuh orang.Yaitu,

1). Zainab binti Mazh’un, 2). Mulaikah (Ummu Kaltsum) binti Jarwal, 3). Quraibah binti Abi Umayyah al-Makhzumi, 4). Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam, 5). Jamilah binti Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah, 6). Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail, 7). Ummu Kaltsum puteri Ali bin Abi Thalib

Dua orang Ummul Walad, 1) Luhyah seorang wanita Yaman, 2) Fukaihah.

5. Keislamannya

Umar radliyallahu anhu masuk Islam ketika berusia dua puluh tujuh tahun, beliau mengikuti perang Badar dan seluruh peperangan yang terjadi setelahnya bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau juga pernah diutus untuk berangkat bersama sebahagian tentara untuk memata-matai dan mencari informasi tentang musuh, terkadang menjadi pemimpin dalam tugas ini. Beliaulah yang pertama kali digelari Amirul Mukminim. Beliaulah yang pertama kali membuat penanggalan hijriyah, mengumpulkan manusia untuk Sholat Tarawih berjama’ah, orang yang pertama kali berkeliling di malam hari mengontrol rakyatnya di Madinah, yang pertama kali membawa tongkat pemukul untuk memberi pelajaran dan menghukum yang salah, yang pertama kali mendera peminum khamr 80 kali cambukan, khalifah yang melakukan banyak penaklukan, yang pertama kali membuat kota-kota, membentuk tentara resmi, membuat undang-undang perpajakan, membuat sekretariat, menentukan gaji tetap, menempatkan para qadli, membagi-bagi wilayah yang ditaklukkan seperti as-Sawad, Ahwaz, wilayah pegunungan, wilayah Persia dan lain sebagainya.

Beliau berhasil menaklukan banyak wilayah di negeri Syam, di antaranya, Damaskus, Yordania, Baisan, Thabariyah, al-Jabiyah, Ramalah, Asqalan, Gazza, daerah sawahil (pesisir), al-Quds, Ba’labak, Horns, Qinsir, Halab, dan Anthakiyah. Dia juga menaklukkan Mesir, Iskandariyah (Alexandria), Tripoli Barat, dan Burqah. Adapun daerah Jazirah Eufrat yang ditaklukkannya adalah, Harran, ar-Raha dan ar-Raqqah, Nasibain, Ra’sul Ain, Syimsyath, Ain Wardah, Perkampungan Bakr, Rabi’ah, negeri Mosul dan wilayah-wilayah sekitarnya. Wilayah Irak dan wilayah timur yang ditaklukkannya, Qadisiyyah, Sungai Sair, Sabath, Madain, Nahawand, Hamazan, ar-Rai, Qumis, Khurasan, Istakhar, Ashbahan, as-Sus, Marwa, Naisaburi, Jurjaan, Adzarbaijan dan Iain-lain. Para tentaranya telah pula menyeberangi sungai Jaihun berulang kali.

6. Fadlilah dan keutamaanya

Imam al-Bukhoriy berkata, bab Manaqib Umar bin al-Khaththab Abu Hafsh al-Qurasy, ad-Adawiy,

1) Umar radliyallahu anhu Adalah Penduduk Surga.

(1). Diriwayatkan dari Said Ibnu al-Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata, “Ketika kami berada di sisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tiba-tiba beliau berkata, “Sewaktu tidur aku bermimipi seolah-olah aku berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita berwudlu di samping sebuah istana, maka aku bertanya, “Milik siapa istana ini?”. Mereka menjawab, “Milik Umar”. Maka aku teringat akan kecemburuan Umar, segera aku menjauhi istana itu.” Umar radliyallahu anhu menangis dan berkata, “Demi Allah, mana mungkin aku akan cemburu padamu wahai Rosulullah.?”

(2). Diriwayatkan Anas bin Malik ia berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam Menaiki gunung Uhud beserta Abu Bakar radliyallahu anhu, Umar radliyallahu anhu dan Utsman radliyallahu anhu. Maka tiba-tiba gunung itu bergoncang, segera Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memukulkan kakinya dan berkata, “Diamlah wahai Uhud sesungguhnya di atasmu hanyalah seorang Nabi, shiddiq dan dua orang syahid“.

(3). Diriwayatkan dari Anas bahwa seorang lelaki pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Ia bertanya, “Kapan datangnya hari Kiamat?” Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kembali bertanya padanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?”. Ia menjawab, “Aku tidak memiliki persiapan apapun, hanya saja aku mencintai Allah dan Rosul-Nya”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Engkau kelak akan dibangkitkan beserta orang-orang yang kau cintai”. Anas berkata, “Tidaklah kami merasa senang kecuali setelah mendengar sabda Nabi, “Engkau kelak akan dibangkitkan beserta orang-orang yang engkau cintai”. Anas berkata, “Aku mencintai Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar radliyallahu anhu serta Umar radliyallahu anhu. Aku berharap agar dapat dikumpulkan beserta mereka, walaupun aku tidak mampu beramal seperti mereka”.

(4). Diriwayatkan Abu Musa ia berkata, “Aku bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, di salah satu kebun di kota Madinah. Tiba-tiba datang seorang lelaki minta dibukakan pintu, maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Bukakan pintu untuk orang itu dan beritakan baginya kabar gembira berupa surga. Maka aku buka pintu dan ternyata orang itu adalah Abu Bakar. Segera aku beritahukan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuknya. Abu Bakar mengucapkan pujian kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Tak lama setelah itu datang seseorang minta diberi idzin masuk, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Bukalah pintu dan beritakan baginya berita gembira berupa surga”. Aku segera membuka pintu dan ternyata orang itu adalah Umar radliyallahu anhu, maka aku beritahukan kepadanya apa yang dikatakan Nabi untuknya. la juga mengucapkan pujian kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kemudian datang lagi seseorang ingin masuk, maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata padaku, “Bukakan pintu untuknya dan beritakan kabar gembira kepadanya berupa surga dan berita musibah yang kelak akan menimpanya”. Ketika aku membuka pintu ternyata orang tersebut adalah Utsman, maka aku segera memberitakan kabar gembira untuknya dan berita musibah yang kelak akan menimpanya, maka dia memuji Allah Subahanahu wa ta’ala dan berkata, “Allah al-Musta ‘aan (hanya kepada Allah ta’ala aku memohon pertolongan)“.

2) Keutamaan Ilmu Umar radliyallahu anhu

Diriwayatkan dari az-Zuhriy dia berkata, Aku diberitahukan oleh Hamzah dari bapaknya bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku tidur maka aku bermimpi meminum yaitu susu hingga aku melihat bekas-bekas susu tersebut melekat pada kuku-kukuku kemudian aku berikan kepada Umar”. Mereka bertanya, “Apa takwilnya wahai Rasulullah?”. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ilmu”.

3) Luasnya Penyebaran Islam Pada Masa Umar radliyallahu anhu

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek, maka datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan terlihat dia begitu lemah menarik timba tersebut -semoga Allah ta’ala mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu mengambil air sebanyak-banyaknya, aku tidak pernah melihat seseorang pemimpin abqari yang begitu gesit hingga seluruh manusia dapat minum sepuasnya dan memberikan minum unta-unta mereka”.

4) Kemuliaan dan Kekuatan Kaum Muslimin dengan Keislaman Umar radliyallahu anhu

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kami menjadi kuat sejak Umar radliyallahu anhu masuk Islam“.

5) Kedekatan Umar radliyallahu anhu dengan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam Sehingga la Selalu Mengiringi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam

(1)Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, “Umar radliyallahu anhu ditidurkan di atas kasurnya, sementara manusia berada di sekelilingnya mendoakan dirinya sebelum diangkat -ketika itu aku hadir di antara mereka- aku terkejut ketika seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Ali mengucapkan doa untuk Umar radliyallahu anhu semoga dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala, kemudian Ali berkata, “Engkau tidak pernah meninggalkan seorang yang dapat menyamai dirimu dan karya yang engkau hasilkan. Aku berharap dapat menjadi seperti dirimu ketika akan menghadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Demi Allah aku merasa yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu dengan kedua shahabatmu (Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar radliyallahu anhu, pent.).

(2) Aku banyak mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku berangkat bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar”.

(3). Diriwayatkan dari Miswar bin Makhramah dia berkata, “Ketika Umar radliyallahu anhu ditikam, ia mengerang kesakitan, maka Abdullah bin Abbas berkata sambil menghiburnya, “Wahai Amirul mukminin, bukankah engkau shahabat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang selalu mengiringinya, dan engkau telah berbuat baik dalam pershahabatan dengannya. Kemudian engkau berpisah dengannya dalam keadaan ia rela terhadapmu. Setelah itu engkau menjadi shahabat setia Abu Bakar radliyallahu anhu hingga engkau berpisah dengannya dalam keadaan ia rela terhadapmu. Kemudian engkau bergaul dengan shahabat-shahabat mereka dengan baik, maka jika engkau meninggalkan mereka, mereka akan rela terhadapmu’”

(4)Umar radliyallahu anhu berkata, ‘Adapun apa yang telah engkau sebutkan mengenai persahabatanku dengan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan ridhanya terhadap diriku, itu merupa-kan karunia Allah Subhanahu wa ta’ala terhadapku,dan apa yang telah engkau sebutkan mengenai persahabatanku dengan Abu Bakar ash-Shiddiq radliyallahu anhu. Dan keridlaannya terhadapku itupun merupakan karunia Allah ta’ala, Yang Mahamulia- terhadapku. Sementara yang engkau lihat tentang kekhawatiranku, itu seluruhnya disebabkan tanggung jawabku terhadapmu dan para shahabatmu. Demi Allah andai saja aku memiliki emas sepenuh dunia pasti akan aku tebus diriku dengannya dari adzab Allah Subhanahu wa ta’ala sebelum aku melihat adzab itu datang”.

(5). Diriwayatkan dari Abdullah bin Hisyam dia berkata, “Kami bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ketika itu ia sedang menarik tangan Umar bin al-Khaththab”.

6) Kesungguhan Umar radliyallahu anhu dan Kebaikannya dalam Masalah Harta

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun setelah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam begitu bersungguh-sungguh dan paling baik dalam menggunakan hartanya hingga wafat selain Umar bin al-Khaththab”.

7) Umar radliyallahu anhu Adalah Seorang Shahabat yang Mendapat Ilham

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bersabda, “Sesungguhya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapatkannya maka Umarlah orangnya”. Zakaria bin Abi Zaidah menambahkah dari Sa’ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, bersabda Rosululullah, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani lsrail ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan Nabi, jika salah seorang dari umatku mendapatkannya maka Umarlah orangnya”.

8) Kuatnya Agama dan Iman Umar radliyallahu anhu

(1). Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, “Rosulullullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ketika seseorang sedang mengembala kambingnya maka tiba-tiba datang serigala menerkam seekor kambingnya. Pengembala tersebut mengejarnya hingga berhasil mengambil kembali kambing tersebut darinya. Tiba-tiba serigala tersebut menoleh kepadanya dan berkata, “Siapa kelak yang dapat menjaganya ketika tidak ada penggembala selain diriku?”. Manusia berkata, “Subhanallah!”. Nabi bersabda, “Maka sesungguhnya aku beriman dengan kejadian ini, demikian pula Abu Bakar dan Umar”. Padahal ketika itu keduanya tidak berada di tempat tersebut.

(2). Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri aku mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ketika tidur aku melihat dalam mimpi seluruh manusia diperlihatkan padaku dan masing-masing mereka mengenakan baju-baju, ada yang mengenakan baju hingga ke dadanya, ada yang mengenakannya di bawah dada, maka diperlihatkan padaku Umar sementara dia mengenakan pakaian panjang yang diseret-seretnya”. Mereka bertanya, “Apa takwil mimpi itu wahai Rosulullah?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab,Agamanya” (yakni kedudukannya dalam agama, pent.).

9) Wibawa Umar radliyallahu anhu dan Setan yang Berusaha Menghindari Jalan yang Ditempuhnya

(1). Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash dari ayahnya ia berkata, “Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu memohon agar diizinkan masuk ke rumah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika itu ada beberapa orang wanita dari Quraisy sedang berbincang-bincang dengan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan mereka berbicara dengan nada suara yang keras melebihi suara Rosululullah. Ketika Umar radliyallahu anhu masuk, mereka segera berdiri dan menurunkan hijab. Setelah diberi izin, Umar Masuk ke rumah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sementara Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tertawa. Umar ra. bertanya, “Apa yang membuat anda tertawa wahai Rosulullah?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Aku heran terhadap wanita-wanita yang berada di sisiku ini, ketika mereka mendengar suaramu, segera mereka berdiri menarik hijab”. Umar radliyallahu anhu berkata, “Sebenarnya engkau yang lebih layak mereka segani, wahai Rosulullah”. Kemudian Umar radliyallahu anhu berbicara kepada mereka, “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi nafsunya sendiri, bagaimana kalian segan terhadap diriku dan tidak segan terhadap Rosulullah?”. Mereka menjawab, “Ya, sebab engkau lebih keras dan lebih kasar daripada Rosulullah “. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Ibnu al-Khaththab, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak kau lalui”.

(2) Diriwayatkan dari Aisyah radliyallahu anha bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar”.

(3). Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar radliyallahu anhu dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar”.

Dikeluarkan oleh At-Turmudziy dalam kitab al-Manaqib (hadits nomor 3791) dari hadits Abu Qilabah dari Anas berkata, “Hadits hasan shahih, dan dikeluarkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam Musnad: III/184, dan dishahihkan oleh as-Syaikh al-Albaniy dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 908 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1224

7. Cuplikan perkataan Umar radliyallahu anhu dan keadaan beliau

Umar radliyallahu anhu pernah berkata, “Tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum muslimin”.

Jika menugaskan para gubernurnya, Umar radliyallahu anhu akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar radliyallahu anhu mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini maka akan mendapatkan hukuman.

Jika seseorang berbicara kepadanya menyampaikan berita, dan ia berbohong dalam sepatah atau dua patah kalimat, maka Umar radliyallahu anhu akan segera menegurnya dan berkata, “Tutup mulutmu, tutup mulutmu!”. Maka lelaki yang berbicara kepadanya berkata, “Demi Allah sesungguhnya berita yang aku sampaikan kepadamu adalah benar kecuali apa yang engkau perintahkan aku untuk menutup mulut”.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata, “Adapun Abu Bakar radliyallahu anhu, ia tidak sedikitpun menginginkan dunia dan dunia juga tidak ingin datang menghampirinya. Sedangkan Umar radliyallahu anhu dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya, adapun kita bergelimang dalam kenikmatan dunia”. Pernah Umar radliyallahu anhu dicela dan dikatakan kepadanya, “Alangkah baik jika engkau memakan makanan yang bergizi tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran”. Maka Umar radliyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kedua shahabatku (yakni Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar radliyallahu anhu, pent.) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia, pent.) maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka”.

Beliau selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya sementara beliau adalah Khalifah-, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk memukul orang-orang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati biji atupun lainnya yang bermanfaat, maka beliau akan mengambilnya dan melemparkannya ke halaman rumah orang.

Anas berkata, “Antara dua bahu dari baju Umar radliyallahu anhu, terdapat empat tambalan, dan kainnya ditambal dengan kulit. Pernah beliau khutbah di atas mimbar mengenakan kain yang memiliki 12 tambalan. Ketika melaksanakan ibadah haji beliau hanya menggunakan 16 dinar, sementara beliau berkata kepada anaknya, “Kita terlalu boros dan berlebihan”.

Beliau tidak pernah bernaung di bawah sesuatu, tetapi beliau akan meletakkan kainnya di atas pohon kemudian bernaung di bawahnya. Beliau tidak memiliki kemah ataupun tenda.

Ketika memasuki negeri Syam saat penaklukan Baitul Maqdis beliau mengendarai seekor unta yang telah tua. Kepala beliau yang botak bersinar terkena matahari. Waktu itu beliau tidak mengenakan topi ataupun sorban. Kaki beliau menjulur ke bawah kendaraan tanpa pelana. Beliau membawa satu kantong yang terbuat dari kulit yang digunakan sebagai alas untuk tidur jika beliau berhenti turun.

Ketika singgah di Baitul Maqdis beliau segera memanggil pemimpin wilayah itu dan berkata, “Panggil kemari pemimpin wilayah ini.” Orang-orang segera memanggilnya, ketika hadir Umar radliyallahu anhu berkata padanya, “Tolong cucikan bajuku ini sekaligus jahitkan dan pinjami aku baju”. Maka dibawakan kepada beliau baju yang terbuat dari katun. Beliau bertanya, ‘Apa ini?”. Dikatakan kepadanya bahwa baju ini dibuat dari katun. Beliau bertanya kepada mereka, “Apa itu katun?”. Mereka memberitahukan kepadanya apa itu katun. Umar radliyallahu anhu segera melepas bajunya lalu mencuci kemudian menjahitnya. Setelah kering beliau mengenakannya kembali. Melihat hal tersebut pemimpin wilayah itu berkata padanya, “Engkau adalah penguasa Arab, di negeri ini tidak pantas seseorang mengendarai unta”. Maka segera dibawakan kepadanya kuda yang bagus. Umar radliyallahu anhu segera melepas pelana dan pedalnya lalu menaikinya. Ketika Umar radliyallahu anhu mulai mengendarainya, kuda tersebut berjalan dengan liar, beliau segera memerintahkan kepada orang yang bersamanya, “Tahan kuda ini! Aku tidak mengira jika orang-orang di sini suka mengendarai setan-setan, tolong berikan untaku kembali!”. Setelah itu beliau turun dan kembali mengendarai untanya.

Diriwayatkan dari Anas ia berkata, “Aku pernah bersama Umar radliyallahu anhu kemudian beliau masuk ke kebun untuk buang hajat -sementara jarak antara aku dan dirinya hanyalah pagar kebun- aku dengar ia berkata sendiri, “Hai Umar bin al-Khaththab, engkau adalah Amirul mukminim, ya… engkau adalah Amirul mukminin! Demi Allah takutlah engkau kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Hai Ibn al-Khaththab, jika tidak Allah ta’ala pasti akan mengadzabmu”.

Disebutkan bahwasanya Umar radliyallahu anhu pernah membawa tempat air di atas pundaknya. Sebagian orang mengkritiknya, namun beliau berkata, “Aku terlalu kagum terhadap diriku sendiri oleh karena itu aku ingin menghinakannya”.

Pernah beliau melaksanakan Sholat Isya’ bersama kaum muslimin, setelah itu beliau segera masuk ke rumah dan masih terus mengerjakan sholat hingga fajar tiba. Pada waktu tahun paceklik dan kelaparan beliau tidak pernah makan kecuali roti dan minyak hingga kulit beliau berubah menjadi hitam, beliau berkata, “Akulah sejelek-jelek penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan”.

Pada wajah beliau terdapat dua garis hitam disebabkan banyak menangis. Terkadang beliau mendengar ayat Allah Subhanahu wa ta’ala dan jatuh pingsan karena perasaan takut, hingga terpaksa dibopong ke rumah dalam keadaan pingsan. Kemudian kaum muslimin menjenguk beliau beberapa hari, padahal beliau tidak memiliki penyakit yang membuat beliau pingsan kecuali perasaan takutnya.

Thalhah bin Ubaidillah berkata, “Suatu ketika Umar radliyallahu anhu keluar dalam kegelapan malam dan masuk ke salah satu rumah, maka pada pagi hari aku mencari rumah tersebut dan aku datangi, ternyata dalam rumah itu terdapat seorang perempuan tua yang buta sedang duduk. Aku tanyakan kepadanya, “Mengapa lelaki ini (maksudnya, Umar radliyallahu anhu) datang ke rumahmu?”. Wanita itu menjawab, “Ia selalu mengunjungiku setiap beberapa hari sekali untuk membantuku membersihkan dan mengurus segala keperluanku”. Aku berkata kepada diriku, “Celakalah dirimu wahai Thalhah, kenapa engkau memata-matai Umar radliyallahu anhu?”.

Aslam Maula Umar berkata, “Pernah datang ke Madinah satu rombongan saudagar, mereka segera turun di musholla, maka Umar radliyallahu anhu berkata kepada Abdurrahman bin Auf, ‘Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka?.’ Abdurrahman berkata, ‘Ya, aku setuju!’. Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil sholat. Namun tiba-tiba Umar radliyallahu anhu Mendengar suara anak kecil menangis, segera beliau menuju tempat anak itu dan bertanya kepada ibunya, ‘Takutlah engkau kepada Allah ta’ala dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu’. Kemudian Umar radliyallahu anhu kembali ke tempatnya. Kemudian ia mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatangi tempat itu kembali dan bertanya kepada ibunya seperti pertanyaan beliau tadi. Setelah itu Umar radliyallahu anhu kembali ke tempatnya semula. Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar radliyallahu anhu segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya, ‘Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam?’. Wanita itu menjawab, ‘Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu’. Umar radliyallahu anhu bertanya, ‘Kenapa engkau akan menyapihnya?’. Wanita itu menjawab, ‘Karena Umar radliyallahu anhu hanya memberikan jatah makan terhadap anak-anak yang telah disapih saja’. Umar radliyallahu anhu bertanya kepadanya, ‘Berapa usia anakmu?’. Dia menjawab, ‘Baru beberapa bulan saja’. Maka Umar radliyallahu anhu berkata, ‘Celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya?’. Maka ketika sholat subuh bacaan beliau nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya.

Beliau berkata, ‘Celakalah engkau hai Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh’. Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh orang, Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam’. Umar radliyallahu anhu segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya”.

Aslam berkata, “Pernah suatu malam aku keluar bersama Umar radliyallahu anhu ke luar kota Madinah. Kami melihat ada sebuah tenda dari kulit, dan segera kami datangi, ternyata di dalamnya ada seorang wanita sedang menagis. Umar radliyallahu anhu bertanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, ‘Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan) sedang tidak memiliki apapun’. Umar radliyallahu nahu-pun menangis dan segera berlari menuju rumah Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib istrinya-, dan berkata, ‘Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah ta’ala karuniakan kepadamu?’. Segera Umar radliyallahu anhu memberitakan padanya mengenai wanita yang dilihatnya tadi. Maka istrinya berkata, ‘Ya, aku akan membantunya’. Umar radliyallahu anhu segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas bahunya, sementara Ummu Kaltsum membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin, keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di sana Ummu Kaltsum segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar radliyallahu anu duduk bersama suaminya yang tidak mengenalnya sambil berbincang-bincang. Akhirnya wanita itu berhasil melahirkan seorang bayi. Ummu Kaltsum berkata kepada Umar radliyallahu anhu, ‘Wahai Amirul mukminin sampaikan berita gembira kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki. Ketika lelaki itu mendengar perkataan Amirul Mukminin ia merasa sangat kaget dan minta maaf kepada Umar radliyallahu anhu. Namun Umar radliyallahu anhu berkata kepadanya, ‘Tidak mengapa’. Setelah itu Umarpun memberikan kepada mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan lantas beliaupun pulang”.

Aslam berkata, “Suatu malam aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar radliyallahu anhu berkata, ‘Wahai Aslam di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita berangkat menuju mereka’. Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis. Umar bertanya, ‘Assalamu alaiki wahai pemilik api’. Wanita itu menjawab, ‘Wa alaika as-Salam’. Umar radliyallahu anhu berkata, ‘Kami boleh mendekat?’. Dia menjawab, ‘Silahkan!’ Umar segera mendekat dan bertanya, ‘Ada apa gerangan dengan kalian?’. Wanita itu menjawab, ‘Kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan’. Umar radliyallahu anhu kembali bertanya, ‘Kenapa anak-anak itu menangis?’. Wanita itu menjawab, ‘Karena lapar’. Umar radliyallahu anhu kembali bertanya, ‘Apa yang engkau masak di atas api itu?’. Dia menjawab, Air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tertidur. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar’. Maka Umar radliyallahu anhu menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. la segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata, ‘Wahai Aslam naikkan karung ini ke atas pundakku’.

Aslam berkata, ‘Biar aku saja yang membawanya untukmu. Umar radliyallahu anhu menjawab, ‘Apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari Kiamat?’. Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi tempat wania itu. Setelah meletakkan karung tersebut beliau segera mengeluarkan gandum dari dalamnya dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamya. Umar radliyallahu anhu berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar radliyallahu anhu menurunkan periuk dari atas api dan berkata, ‘Berikan aku piring kalian!’. Setelah piring diletakkan segera Umar radliyallahu anhu menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata, ‘Makanlah!’. Maka anak-anak itu makan hingga kenyang, wanita itu berdoa untuk Umar radliyallahu anhu agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar. Umar radliyallahu anhu masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar radliyallahu anhu memberikan kepada mereka nafkah lantas pulang. Umar radliyallahu anhu berkata kepadaku, ‘Wahai Aslam sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka begadang dan tidak dapat tidur’.

8. Keberaniannya

Diriwayatkan dari Ibnu Asakir telah meriwayatkan dari Ali, dia berkata, ”Aku tidak mengetahui seorangpun yang hijrah dengan sembunyi-sembunyi kecuali Umar bin al-Khaththab yang melakukannya dengan terang-terangan”. Dimana Umar seraya menyandang pedang dan busur anak panahnya di pundak lalu dia mendatangi Ka’bah dimana kaum Quraisy sedang berada di halamannya, lalu ia melakukan thawaf sebanyak 7 kali dan mengerjakan sholat 2 rakaat di maqam Ibrahim.

Kemudian ia mendatangi perkumpulan mereka satu persatu dan berkata, ”Barangsiapa orang yang ibunya merelakan kematiannya, anaknya menjadi yatim dan istrinya menjadi janda, maka temuilah aku di belakang lembah itu”. Kesaksian tersebut menunjukan keberanian Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu.

9. Wafatnya

Pada hari rabu bulan Dzulhijjah tahun 23 H ia wafat, ia ditikam ketika sedang melakukan Sholat Subuh beliau ditikam oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar dimakamkan di samping Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar ash-Shiddiq radliyallahu anhu, beliau wafat dalam usia 63 tahun.

Wallahu a’lam.

Disalin dari Biografi Umar Ibn al-Khaththab dalam Thabaqat Ibn Sa’ad, Tarikh al-Khulafa’ ar-Rasyidin oleh al-Imam as-Suyuthiy rahimahullah.

http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/27/%E2%80%98umar-bin-al-khaththab/

http://hbis.wordpress.com/2010/02/01/biografi-umar-bin-al-khaththab-ra/

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s