HADITS-HADITS TENTANG ILMU YANG TIDAK BOLEH DIJADIKAN HUJJAH (1)..

HIMPUNAN HADITS LEMAH DAN PALSU TENTANG ILMU (1)

 بسم الله الرحمن الرحيم

            hadits palsu6Jika kita berbicara tentang ilmu dan keutamaanya maka akan kita jumpai banyak dalil dari Alqur’an al-Karim, hadits-hadits shahih dan perkataan para Shahabat yang membahas tentangnya.

            Namun sangat disayangkan, di masa sekarang ini masih banyak kaum muslimin bahkan para da’i dan ustadznya yang membawakan hadits-hadits lemah dan palsu tentang hal tersebut. Padahal jika kita membaca dan menelaah lembaran-lembaran hadits shahih, akan kita jumpai banyak dalil yang berisi larangan dan ancaman bagi orang yang gemar berdusta atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dan ancamannyapun tidak tanggung-tanggung yaitu diancam dengan api neraka. Al-Iyadzu billah. [1]

            Apa yang dilarang oleh dalil dari berdusta atas nama Beliau itu adalah menyampaikan dan mengamalkan hadits-hadits yang tidak tsabit dari Beliau, yakni berupa hadits lemah (dla’if) dan palsu (maudlu’).

Berikut ini ada beberapa hadits lemah dan palsu yang menceritakan akan keutamaan ilmu, di antaranya;

1). Hadits pertama.

النَّاسُ كُلُّهُمْ مَوْتَى إِلَّا اْلعَالِمُوْنَ وَ اْلعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا اْلعَامِلُوْنَ وَ اْلعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ غَرْقَى إِلَّا اْلمـُخْلِصُوْنَ وَ اْلمـُخْلِصُوْنَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ

“Manusia semuanya mati kecuali orang-orang yang berilmu, orang-orang yang berilmu semuanya binasa kecuali orang-orang yang beramal. Orang-orang yang beramal semuanya tenggelam kecuali orang-orang yang ikhlas dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar”.

Telah dibawakan oleh ash-Shan’aniy, ia berkata, “Hadits ini dibuat-buat lagi tercela”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Perkataan ini serupa dengan perkataan kaum shufi”. Misalnya perkataan Sahl bin Abdullah at-Tusturiy, “Manusia itu semuanya mabuk kecuali ulama (orang-orang yang berilmu). Para ulama, semuanya bingung (merasa heran) kecuali orang yang beramal dengan ilmunya”. [Diriwayatkan oleh al-Khathib di dalam kitab Iqtidlo al-Ilmi wa al-Amal].

Dari jalan lain, Sahl berkata, “Dunia adalah kematian dan kejahilan kecuali ilmu. Ilmu semuanya adalah hujjah kecuali beramal dengannya. Amal semuanya adalah debu kecuali ikhlas dan ikhlas berada di dalam bahaya yang besar sehingga ia diakhiri dengannya”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 76 (I/ 174)].

2). Hadits kedua.

اْلِعلْمُ خَزَائِنُ وَ مَفَاتِحُهَا السُّؤَالُ فَاسْأَلُوْا يَرْحَمُكُمُ اللهُ فَإِنَّهُ يُؤْجَرُ فِيْهِ أَرْبَعَةٌ السَّائِلُ وَ اْلمـُعَلِّمُ وَ اْلمـُسْتَمِعُ وَ اْلمـُجِيْبُ لَهُ

“Ilmu itu adalah lemari dan kunci-kuncinya adalah bertanya, maka hendaklah kalian bertanya, semoga Allah merahmati kalian. Sesungguhnya ada empat golongan orang yang akan diberi ganjaran, yaitu: orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang menyimak (mendengar) dan orang yang menjawab (pertanyaan)”.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari jalan Ali bin Musa ar-Ridlo, telah menceritakan kepada kami Ja’far dari ayahnya, yaitu Muhammad bin Ali dari ayahnya, yaitu Ali bin al-Husain bin Ali dari ayahnya, yaitu Ali bin Abu Thalib secara marfu’.

Berkata Abu Nu’aim, “Ini adalah hadits gharib, kami tidak pernah mencatatnya kecuali dengan isnad ini”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Sanad hadits ini adalah maudlu’ (palsu) dari sebab Dawud bin Sulaiman al-Jarjaniy al-Ghaziy”. Berkata al-Imam adz-Dzahabiy, “ Dawud ini telah dinyatakan pendusta oleh Yahya bin Mu’in. Abu Hatimpun tidak mengenalnya”. Maka dengan berbagai keadaan maka syaikh ini (yaitu Dawud) adalah seorang pendusta yang mempunyai teks palsu dari Ali bin Musa ar-Ridlo”.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh asy-Syirowiy di dalam al-Awaliy dan al-Khathib di dalam al-Faqih wa al-Mutafaqqih dari jalan Abdullah bin Ahmad bin Amir ath-Tha’iy, menceritakan kepadaku ayahku, menceritakan kepadaku Ali bin Musa ar-Ridlo.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 278 (I/ 447) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 3873].

3). Hadits ketiga.

مَنْ غَدَا فِي طَلَبِ اْلعِلْمِ صَلَّتْ عَلَيْهِ اْلمـَلَائِكَةُ وَ بُوْرِكَ لَهُ فِي مَعَاشِهِ وَلَمْ يُنْتَقَصْ مِنْ رِزْقِهِ وَ كَانَ عَلَيْهِ مُبَارَكًا

“Barangsiapa yang berangkat di pagi hari dalam rangka menuntut ilmu maka para Malaikat akan mendoakan (kebaikan) baginya, diberkahi ma’isyahnya, tidak dikurangi rizkinya dan ia akan diberkahi”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Baysran dan Ibnu Abdulbarr, dari jalan Abu Zakaria Yahya bin Hasyim, telah menceritakan kepada kami Mis’ar bin Kadam dari Athiyah dari Abu Sa’id al-khudriy secara marfu’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini sanadnya palsu. Yahya bin Hasiym telah dinyatakan sebagai pendusta oleh Ibnu Mu’in dan selainnya”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 328 (I/ 498)].

4). Hadits keempat.

قَلِيْلُ اْلعَمَلِ يَنْفَعُ مَعَ اْلعِلْمِ وَ كَثِيْرُ اْلعَمَلِ لَا يَنْفَعُ مَعَ اْلجَهْلِ

“Sedikit amal yang disertai ilmu itu akan bermanfaat tetapi banyaknya amal yang disertai kejahilan (kebodohan) itu tidak akan bermanfaat”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdilbarr di dalam Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadl-lihi, dari jalan Muhammad bin Ruh bin Imran al-Qutairiy dari Mu’ammal bin Abdurrahman ats-Tsaqafiy dari Ibad bin Abdushshomad dari Anas bin Malik berkata, “Pernah datang seorang lelaki kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu ia bertanya, “Wahai Rosulullah, amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Berilmu tentang Allah Azza wa Jalla”. Ia bertanya lagi, “Wahai Rosulullah, amal apakah yang paling utama?”. Beliau tetap menjawab, “Berilmu tentang Allah”. Ia berkata, “Wahai Rosulullah, aku bertanya kepadamu tentang amal sedangkan engkau memilihkan untukku akan ilmu”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “al-Hadits”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Sanad hadits ini palsu karena Muhammad bin Ruh al-Qutairiy adalah dla’if (lemah).

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits asl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 369 (I/ 545) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 4110].

5). Hadits kelima.

لَيْسَ مِنْ أَخْلَاقِ اْلمـُؤْمِنِ اْلمـَلَقُ إِلَّا فِي طَلَبِ اْلعِلْمِ

“Mencari muka itu bukan akhlak orang mukmin kecuali di dalam menuntut ilmu”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dan as-Salafiy di dalam al-Muntakhob min Ushul as-Siraj al-Lughowiy dari al-Hasan bin Washil dari al-Khashib bin Jahdar dari an-Nu’man bin Na’im dari Mu’adz bin Jabal.

Berkata Ibnu Adiy, “Pokok pembicaraannya berkisar pada al-Khushaib bin Jahdar”. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “al-Imam al-Bukhoriy di dalam at-Tarikh ash-Shaghir berkata, dia seorang pendusta”. Al-Imam an-Nasa’iy berkata di dalam adl-Dlu’afa, “Ia bukan orang yang tsiqoh”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits asl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 381 (I/ 559)dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 4926].

6). Hadits keenam.

لَا حَسَدَ وَلَامَلَقَ إِلَّا فِي طَلَبِ اْلعِلْمِ

“Tidak ada hasad (dengki) dan tidak juga mencari muka kecuali di dalam menuntut ilmu”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dan al-Khathib dari jalan Amr bin al-Hushain al-Kilabiy dari Ibnu Alatsah dari al-Awza’iy dari az-Zuhriy dari Abu Salamah dari Abu Hurairah secara marfu’.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits asl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 382 (I/ 561)].

7). Hadits ketujuh.

مَنْ غَضَّ صَوْتَهُ عِنْدَ اْلعُلَمَاءِ كَانَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَعَ الَّذِيْنَ امْتَحَنَ اللهُ قُلُوْبَهُمْ لِلتَّقْوَى مِنْ أَصْحَابِي وَ لَا خَيْر َفِي التَّمَلُّقِ وَ التَّوَاضُعِ إِلَّا مَا كَانَ فِي اللهِ أَوْ فِي طَلَبِ اْلعِلْمِ

“Barangsiapa yang merendahkan suaranya di sisi para ulama maka pada hari kiamat ia akan bersama orang-orang yang diuji Allah hati mereka untuk ketakwaan di antara para shahabatku. Tidak ada kebaikan di dalam mencari muka dan bersifat tawadlu kecuali selama karena Allah dan di dalam menuntut ilmu”.

Diriwayatkan oleh ad-Dailamiy di dalam Musnad al-Firdaus dari jalan Ibnu as-Suniy, telah menceritakan kepada kami al-Husain bin Abdullah al-Qaththan dari Amir bin Sayar dari Ibnu ash-Shabah dari Abdul Aziz bin Sa’id dari ayahnya secara marfu’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini sanadnya gelap sebahagiannya di atas sebahagian yang lain, aku tidak mengenal seseorangpun darinya setelah al-Qaththan selain dari Amir bin Sayar”.

Berkata Ibnu Adiy dari ayahnya, “Majhul”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits asl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 383 (I/ 562)].

8). Hadits kedelapan.

اطْلُبُوا اْلعِلْمَ وَ لَوْ بِالصِّيْنِ

“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Adiy, Abu Nu’aim di Akhbar Ashbihan, Ibnu Aliyyuk an-Nisaburiy di dalam al-Fawa’id, Abu al-Qasim al-Qusyairiy di dalam al-Arba’in, al-Khathib di dalam at-Tarikh, al-Baihaqiy di dalam al-Madkhal, Ibnu Abdil Barr di dalam Jami’ Bayan al-Ilmi dan Dliya’ di dalam al-Muntaqa’, semuanya dari jalan al-Hasan bin Athiyah, telah menceritakan kepada kami Abu Atikah Tharif bin Sulaiman dari Anas secara marfu’.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits asl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 416 (I/ 600) dan Dla’if al-Jami ash-Shaghir: 906, 907].

9). Hadits kesembilan.

مَثَلُ الَّذِي يَتَعَلَّمُ اْلعِلْمَ فِي صِغَرِهِ كَالنَّقْشِ فِي اْلحَجَرِ وَ مَثَلُ الَّذِي يَتَعَلَّمُ اْلعِلْمَ فِي كِبَرِهِ كَالَّذِي يَكْتُبُ عَلَى اْلمـَاءِ

“Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu di masa kecilnya itu seperti mengukir di atas batu. Sedangkan perumpamaan orang yang mempelajari ilmu di masa tuanya itu seperti orang yang menulis di atas air”.

Dibawakan oleh as-Suyuthiy di dalam al-Jami’ dan ath-Thabraniy di dalam al-Kabir dari Abu ad-Darda’.

Berkata al-Imam al-Munawiy di dalam kitab Faid al-Qadir syar-h al-Jami’ ash-Shaghir, “Berkata al-Mushannif di dalam kitab ad-Durar, ‘Sanadnya dla’if’.

Berkata al-Haitsamiy, “Di dalamnya terdapat Marwan bin Salim asy-Syamiy, asy-Syaikhan (al-Bukhoriy dan Muslim) dan Abi Hatim mendla’ifkannya”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “al-Bukhoriy mendla’ifkannya jiddan. Ia berkata tentangnya, ‘Munkar al-Hadits”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits asl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 618 (II/ 85) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5237].

10). Hadits kesepuluh.

مَنْ تَعَلَّمَ اْلعِلْمَ وَ هُوَ شَابٌّ كَانَ بِمَنْزِلَةِ وَسَمٍ فِي حَجَرٍ وَ مَنْ تَعَلَّمَهُ بَعْدَ كِبَرٍ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ كِتَابٍ عَلَى ظَهْرِ اْلمـَاءِ

“Orang yang mempelajari ilmu di masa muda itu seperti kedudukan mengukir di atas batu. Sedangkan mempelajarinya di masa tua itu seperti kedudukan menulis di atas permukaan air”.

Diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauziy di dalam al-Maudlu’at: I/ 218 dari jalan Hannad bin Ibrahim an-Nasfiy dengan sanadnya dari Baqiyyah bin al-Walid dari Ma’mar dari az-Zuhriy dari Abu Hurairah.

Ia (yaitu Ibnu al-Jauziy) berkata, “Tidak shahih, Hannad bin Ibrahim dinyatakan tidak tsiqah. Baqiyyah bin al-Walid adalah seorang mudallis”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 619 (II/ 85)].

11). Hadits kesebelas.

أَيُّمَا نَاشِيءٍ نَشَأَ فِي طَلَبِ اْلعِلْمِ وَ اْلعِبَادَةِ حَتَّى يَكْبُرَ وَ هُوَ عَلَى ذَلِكَ أَعْطَاهُ اللهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ ثَوَابَ اثْنَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ صِدِّيْقًا

“Siapapun orang yang tumbuh di dalam menuntut ilmu dan beribadah sehingga masa tuanya sedangkan ia masih dalam keadaan seperti itu maka Allah akan memberikan kepadanya pahala 72 shiddiq kelak pada hari kiamat”.

            Diriwayatkan oleh Tamam dan Ibnu Abdul Barr di dalam Jami’ al-Ilmi dari jalan Yusuf bin Athiyah berkata, telah mengabarkan kepada kami Marzuq yaitu Abu Abdullah al-Himshiy dari Makhul dari Abu Umamah secara marfu’.

            Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini sanadnya dla’if jiddan (lemah sekali), dari sebab Yusuf bin Athiyah adalah seorang shafar Basrah. Al-Imam al-Bukhoriy berkata, “Dia adalah Munkar al-Hadits”. Al-Imam an-Nasa’iy dan ad-Dulabiy berkata, “Dia itu matruk (orang yang ditinggalkan haditsnya)”.

            Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if Jiddan (lemah sekali)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 700 (II/ 140) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 2252].

12). Hadits kedua belas.

تَنَاصَحُوْا فِي اْلعِلْمِ فَإِنَّ خِيَانَةَ أَحَدِكُمْ فِي عِلْمِهِ أَشَدُّ مِنْ خِيَانَتِهِ فِي مَالِهِ وَ إِنَّ اللهَ عز و جل مَسَائِلَكُمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

“Hendaknya kalian saling memberi nashihat dalam ilmu, karena sesungguhnya khianatnya seseorang di antara kalian di dalam ilmu itu lebih berat daripada khianatnya di dalam harta. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan menanyai kalian kelak pada hari kiamat”.

Diriwayatkan oleh ath-Thabraniy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah al-Hadlramiy dan Muhammad bin Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah mengabarkan kepada kami Ubaid bin Ya’isy, telah mengabarkan kepada kami Mush’ab bin Salam dari Abu Sa’d dari Ikrimah dari Ibnu Abbas secara marfu’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini sanad perawinya tsiqat kecuali Abu Sa’d ini”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 783 (II/ 199) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 2483].

13). Hadits ketiga belas.

أَجْوَعُ النَّاسِ طَالِبُ اْلعِلْمِ وَ أَشْبَعُهُمُ الَّذِي لَايَبْتَغِيْهِ

“Orang yang paling lapar adalah orang yang menuntut ilmu, sedangkan orang yang paling kenyang adalah orang yang tidak mencarinya”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Kitab al-Majruhin, Abu Nu’aim di dalam Akhbar Ashbihan dan ad-Dailamiy dari Muhammad bin al-Harits dari Ibnu al-Bailamaniy dari ayahnya dari Ibnu Umar.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Ibnu al-Bailamaniy telah luput, namanya adalah Muhammad bin Abdurrahman”.

Al-Imam adz-Dzahabiy berkata, “Mereka telah mendla’ifkannya (menyatakannya dla’if)”.

Berkata al-Imam an-Nasa’iy dan Abu Hatim, “Munkar al-Hadits”.

Berkata Ibnu Hibban, “Telah diceritakan dari ayahnya dengan teks yang sama dengan sekitar 200 hadits, semuanya maudlu’ (palsu)”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 820 (II/ 224) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 154].

 14). Hadits keempat belas.

احْبِسُوْا عَلَى اْلمـُؤْمِنِيْنَ ضَالَّتَهُمْ قَالُوْا وَ مَا ضَالَّةُ اْلمـُؤْمِنِ قَالَ اْلعِلْمُ

“Jagalah barang hilangnya kaum mukminin!”. Mereka bertanya, “Apakah barang hilangnya orang mukmin?”. Beliau menjawab, “Ilmu”.

Diriwayatkan oleh ad-Dailamiy di dalam Musnad al-Firdaus dan Afifuddin Abu al-Ma’aliy di dalam Fadl-l al-Ilmi dari Amr bin Hakkam dari Bakr dari Ziyad dari Abu Hassan dari Anas secara marfu’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Ini hadits maudlu’, Ziyad ini telah dikatakan oleh al-Hakim dan an-Naqqasy, ‘Ia meriwayatkan dari Anas dan selainnya beberapa hadits maudlu’.

Syu’bah sangat keras/ ketat penilaian atasnya dan ia telah mendla’ifkannya.

Berkata ad-Daruquthniy, “Matruk”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 821 (II/ 224) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 180].

 15). Hadits kelima belas.

إِنَّ مِنَ اْلعِلْمِ كَهَيْئَةِ اْلمـَكْنُوْنِ لَا يَعْرِفُهُ إِلَّا اْلعُلَمَاءُ بِاللهِ فَإِذَا نَطَقُوْا بِهِ لَمْ يُنْكِرْهُ إِلَّا أَهْلُ اْلغِرِّةِ بِاللهِ عز وجل

“Sesungguhnya sebahagian dari ilmu itu seperti keadaan benda yang ditutup. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang berilmu tentang Allah. Apabila mereka berbicara tentang-Nya tidak ada seseorangpun yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang tertipu akan Allah Azza wa Jalla”.

Diriwayatkan oleh Abu Abdurrahman as-Sulamiy di dalam al-Arba’in ash-Shufiyah dan Abu Utsman an-Nujairimiy di dalam al-Fawa’id dari Nash-r bin Muhammad bin al-Harits, telah menceritakan kepada kami Abdussalam bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Ibnu Juraij dari Atha’ dari Abu Hurairah secara marfu’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini sanadnya dla’if jiddan, karena memiliki 3 illat (cacat)”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if Jiddan (lemah sekali)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 870 (II/ 262)].

16). Hadits keenam belas.

سَارِعُوْا إِلَى تَعْلِيْمِ اْلعِلْمِ وَ السُّنَّةِ وَ اْلقُرْآنِ وَ اقْتَبِسُوْهُنَّ مِنْ صَادِقٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَخْرُجَ أَقْوَامٌ فِي أُمَّتِي مِنْ بَعْدِي يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى تَأْسِيْسِ اْلبِدْعَةِ وَ الضَّلَالَةِ فَوَاَّلذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَبَابٌ مِنَ اْلعِلْمِ مِنْ صَادِقٍ خَيْرٌ لَكُمْ مِنَ الذَّهَبِ وَ اْلفِضَّةِ تُنْفِقُوْنَهَا فِي سَبِيْلِ اللهِ تعالى بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللهِ مَنْ مَشَى فِي تَعْلِيْمِ اْلعِلْمِ وَ السُّنَّةِ وَ اْلقُرْآنِ فَعَمِلَ بِمَا أَمَرَ اللهُ وَ سَنَّ رَسُوْلُ اللهِ (صلى الله عليه وسلم) فَإِذَا عَمِلَ بِذَلِكَ فَلَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوْهَا حَسَنَةٌ وَ تَحُطُّ عَنْهُ سَيِّئَةٌ وَ تُرْفَعُ لَهُ دَرَجَةٌ فِي اْلجَنَّةِ

“Bersegeralah kalian di dalam mempelajari ilmu, sunnah dan Alqur’an dan carilah dari orang yang jujur sebelum keluarnya suatu kaum dari umatku sesudahku yang akan mengajak kalian kepada dasar bid’ah dan kesesatan. Demi Dzat yang jiwaku ada pada genggaman tangan-Nya, benar-benar pintu ilmu dari orang yang jujur itu lebih baik bagi kalian daripada emas dan perak yang kalian infakkan di jalan Allah ta’ala tanpa petunjuk dari Allah. Barangsiapa yang berjalan di dalam mempelajari ilmu, sunnah dan Alqur’an lalu beramal sesuai dengan perintah Allah dan sunnah Rosulullah (Shallallahu alaihi wa sallam), apabila ia beramal dengan hal tersebut maka setiap langkah yang ia langkahkan itu akan menjadi satu kebaikan, akan menggugurkan satu kesalahan darinya dan ia akan diangkat satu derajat di dalam surga”.

Diriwayatkan oleh al-Khathib di dalam Talkhish al-Mutasyabih dari Muhammad bin Ubaidah al-Marwaziy, telah menceritakan kepada kami Hassan bin Ibrahim, telah menceritkan kepada kami Sa’id bin Masruq ats-Tsauriy, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Arqam berkat, ‘Aku pernah mendengar Ali bin Abu Thalib berkata, lalu ia menceritakannya secara marfu’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Ini adalah hadits maudlu’ dan tanda-tanda kemaudlu’annya itu jelas. Penyebabnya adalah Muhammad bin Ubaidah al-Marwaziy. Al-Imam adz-Dzahabiy berkata, ‘Ia adalah orang yang munkar al-Hadits’. Ia juga telah menjelaskan sebelumnya, “Ia adalah pemalsu beberapa hadits”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 933 (II/ 337) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 3202].

17). Hadits ketujuh belas.

لَيْسَ اْلإِيْمَانُ بِالتَّمَنِّي وَ لَا بِالتَّحَلِّي وَ لَكِنْ مَا وَقَرَ فِي اْلقَلْبِ وَ صَدَّقَهُ اْلفِعْلُ اْلعِلْمُ عِلْمٌ بِاللِّسَانِ وَ عِلْمٌ بِاْلقَلْبِ فَأَمَّا عِلْمُ اْلقَلْبِ فَاْلعِلْمُ النَّافِعَ وَ عِلْمُ اللِّسَانِ حُجَّةُ اللهِ عَلَى بَنِي آدَمَ

“Iman itu bukanlah dengan berangan-angan dan mempercantik diri, tetapi (iman itu adalah) apa yang menancap di dalam hati dan dibenarkan oleh perbuatan. Ilmu itu adalah ilmu dengan lisan dan ilmu dengan hati. Adapun ilmu (di dalam) hati adalah ilmu yang bermanfaat sedangkan ilmu (di dalam lisan) adalah hujjah Allah terhadap Banu Adam (manusia)”.

Diriwayatkan oleh Ibnu an-Najjar di dalam adz-Dzail dari Abdussalam bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Athiyah, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari al-Hasan dari Anas secara marfu’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini sanadnya halik (hancur). Yusuf bin Athiyah adalah ash-Shafar al-Anshoriy. Al-Imam al-Bukhoriy berkata, ‘Dia adalah munkar al-Hadits”. Al-Imam an-Nasa’iy dan ad-Dulabiy berkata, “Matruk al-Hadits (orang yang ditinggalkan haditsnya), dan al-Imam an-Nasa’iy menambahkan, Ia bukan or ang yang tsiqah”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 1098 (III/ 217-218) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 4880].

 18). Hadits kedelapan belas.

آفَةُ اْلعِلْمِ النِّسْيَاُن وَ إِضَاعَتُهُ أَنْ تَحَدَّثَ بِهِ غَيْرُ أَهْلِهِ

“Luputnya ilmu itu adalah lupa dan menyia-nyiakannya itu adalah jika orang yang bukan ahlinya berbicara tentangnya”.

Diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Asyajj di dalam haditsnya, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari al-A’masy berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Diriwayatkan pula oleh Abu al-Husain al-Abnusiy di dalam al-Fawa’id dari Ali bin al-Husain berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud dari al-A’masy.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini mauquf adalah lebih shahih sedang jika marfu’ maka hadits ini dla’if mu’dlol”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if (lemah)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 1303 (III/ 168) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 10].

19). Hadits kesembilan belas.

إِذَا ظَهَرَتِ اْلبِدَعُ وَ لَعَنَ آخِرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ أَوَّلَهَا فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ عِلْمٌ فَلْيَنْشُرْهُ فَإِنَّ كَاتِمَ اْلعِلْمِ يَوْمَئِذٍ لَكَاتِمُ مَا أَنْزَلَ اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Apabila bid’ah telah tampak jelas dan orang yang terakhir dari umat ini mengutuk orang awalnya maka orang yang memiliki ilmu hendaknya menyebarluaskannya. Sesungguhnya orang yang menyembunyikan ilmu pada hari itu benar-benar menyembunyikan apa yang Allah turunkan kepada nabi Muhammad (Shallallahu alaihi wa sallam)”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dalam Tarikh Dimasyq dari Muhammad bin Abdurrahman bin Raml ad-Dimasyqiy, telah mengkhabarkan kepada kami al-Walid bin Muslim dari Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Ma’dan dari Mu’adz bin Jabal secara marfu’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Hadits ini sanadnya dla’if, perawinya kuat kecuali Ibnu Raml”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Munkar/ Dla’if”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 1506 (IV/ 14) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 589].

20). Hadits kedua puluh.

تَعَلَّمُوا اْلعِلْمَ وَ تَعَلَّمُوا لِلْعِلْمَ اْلوَقَارَ

“Pelajarilah ilmu dan pelajarilah kemantapan bagi ilmu”.

Diriwayatkan oleh Abu nu’aim di dalam al-Hilyah dari jalan Habusy bin Rizqillah, telah menceritakan kepada kami al-Mun’im bin Basyir dari Malik dan Abdurrahman bin Zaid, keduanya dari Zaid bin Arqam dari ayahnya dari Umar secara marfu’.

Berkata Abu Nu’aim, “Hadits ini gharb dari hadits Malik bin Zaid, kami tidak pernah mencatatnya kecuali dari hadits Habusy dari Abdul Mun’im”.

Asy-Syaikh al-Albaniy berkata, “Habusy ini aku tidak mengenalnya , sedangkan Abdul Mun’im telah di jarh (dicela) oleh Ibnu Mu’in dan tertuduh olehnya”.

Berkata Ibnu Hibban , “Ia adalah Munkarul hadits sekali, tidak boleh berhujjah dengannya”.

Berkata al-Hakim, “Ia meriwayatkan dari Malik dan Abdullah bin Umar beberapa hadits maudlu’ (palsu)”.

Berkata al-Khalil di dalam al-Irsyad, “Dia adalah pemalsu hadits menurut para imam hadits”.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if Jiddan (lemah sekali)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 1610 (IV/ 113) dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 2449].

(Bersambung, in syaa Allah)

 

[1] Untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi dan baca, https://cintakajiansunnah.wordpress.com/2012/06/05/larangan-menyampaikan-hadits-lemah-palsu/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s