ADAKAH FAIDAH HADITS DLA’IF DAN MAUDLU’ (1)..??

BOLEHKAH HADITS DLA’IF DIAMALKAN DAN DIPAKAI UNTUK FADLA’IL AL-A’MAL (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

hadits palsu4Oleh; Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Bagian Pertama dari Tiga Tulisan (1/3)

Para ulama Ahli Hadits berusaha mengumpulkan dan membukukan hadits-hadits lemah dan palsu dengan tujuan agar kaum Muslimin berhati-hati dalam membawakan hadits yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan agar tidak menyebarluaskan hadits-hadits itu hingga orang menyangkanya sebagai sesuatu yang shahih padahal tidak, bahkan ada maudlu’ (palsu). Kendatipun sudah sering dimuat dan dijelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadits-hadits itu, akan tetapi masih saja kita lihat dan kita dengar para da’i, muballigh, ustadz, ulama, kyai membawakan dan menyampaikan hadits-hadits tersebut, bahkan banyak pula yang ditulis dalam kitab atau majalah, hingga kebanyakan kaum Muslimin menyangkanya sebagai sabda-sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang benar dan shahih.

Oleh karena itu, saya awali tulisan ini dengan ancaman Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang berdusta atas nama beliau Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian diikuti dengan pendapat-pendapat para ulama tentang penggunaan hadits-hadits dla’if.

ANCAMAN BERDUSTA ATAS NAMA ROSULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

            مَنْ كَذِبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

[1]. “Artinya, “Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka”.

Hadits ini berderajat MUTAWATIR, karena menurut penyelidikan hadits ini diriwayatkan lebih dari 60 (enam puluh) orang Shahabat ridlwanullahi alaihim jami’an, di antaranya adalah,

1. Abu Hurairah radliyallahu anhu.

2. Anas radliyallahu anhu.

3. Zubair radliyallahu anhu.

4. Ali radliyallahu anhu.

5. Jabir radliyallahu anhuma.

6. Salman al-Farisiy radliyallahu anhu.

7. Abu Dzarr radliyallahu anhu dan lainnya.

Dan hadits di atas pun telah dicatat oleh lebih dari 20 (dua puluh) Ahli Hadits, di antaranya: al-Imam Ahmad, al-Bukhoriy, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudziy, Ibnu Majah, ad-Darimiy, dan lainnya.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah,

[2]. Dari Ali, ia berkata, ‘Telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لاَ تَكْذِبُوْا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذِبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

“Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku, karena sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka pasti ia masuk Neraka”. [HSR. Ahmad (I/83), al-Bukhoriy (no. 106), Muslim (I/9) dan at-Turmudziy (no. 2660)]

[3]. Dari Mughirah radliyallahu anhu, ia berkata, ‘Telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلىَ أَحَدٍ فَمَنْ كَذِبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas (nama)ku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari neraka”. [ HSR. Al-Bukhoriy (no. 1291) dan Muslim (I/10), diriwayatkan pula semakna dengan hadits ini oleh Abu Ya’la (I/414 no. 962), cet. Darul Kutub al-Ilmiyyah dari Sa’id bin Zaid.)]

Maksud berdusta atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu ialah, “Membuat-buat omongan atau cerita dengan sengaja yang disandarkan atas Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, lalu ia mengatakan, ‘Bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda atau mengerjakan begini dan tidak mengerjakan hal yang demikian”.

Orang yang berdusta dengan sengaja atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam akan masuk api Neraka.

Oleh karena itu, wajib atas kaum Muslimin untuk berhati-hati jangan sampai terjatuh dalam dusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Para ulama telah sepakat tentang haramnya membawakan hadits-hadits maudlu’ (palsu), yakni hadits yang dibuat orang atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dengan sengaja maupun tidak sengaja. Bolehnya membawakan hadits maudlu’ itu hanya ketika menerangkan kepalsuannya kepada ummat, agar ummat selamat dari berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

HADITS DLA’IF (LEMAH)

Hadits dla’if itu ada dua macam;

1. Hadits yang sangat dla’if.

2. Hadits yang tidak terlalu dla’if.

Tidak ada perselisihan di antara para ulama dalam menolak hadits yang terlalu dla’if. Hanya ada perselisihan di antara ulama tentang membawakan/memakai hadits yang tidak terlalu dla’if untuk;

  1. Fadla’il al-A’mal (keutamaan amal), maksudnya hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan-keutamaan amal.
  2. At-Targhib (memotivasi), yakni hadits-hadits yang berisi pemberian semangat untuk mengerjakan suatu amal dengan janji pahala dan Surga.
  3. At-Tarhib (menakuti), yakni hadits-hadits yang berisi ancaman neraka dan hal-hal yang mengerikan bagi orang yang mengerjakan suatu perbuatan.
  4. Kisah-kisah tentang para Nabi alaihim ash-Sholatu wa as-Salam dan orang-orang shalih.
  5. Do’a dan dzikir, yaitu hadits-hadits yang berisi lafazh-lafazh do’a dan dzikir.

ANCAMAN BAGI ORANG YANG MEMBAWAKAN HADITS DLA’IF

Para ulama yang masih membawakan hadits-hadits dla’if dan menyandarkannya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tergolong sebagai pendusta, kecuali apabila mereka tidak tahu.

Tentang masalah ini, asy-Syaikh Abu Syammah berkata, “Perbuatan ulama yang membawakan hadits-hadits dla’if adalah suatu kesalahan yang nyata bagi orang-orang yang mengerti hadits, ulama-ulama ushul dan pakar-pakar fiqih, bahkan wajib atas mereka untuk menerangkannya jika ia mampu. Jika ulama tidak mampu menerangkannya, maka ia termasuk orang-orang yang diancam oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan sabdanya,

[4]. Dari Samurah, ia berkata, ‘Telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ حَدَّثَ عَنىِّ بِحَدِيْثٍ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ اْلكَاذِبِيْنَ

“Barangsiapa yang menyampaikan hadits dariku, dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah seorang pendusta”. [HR. Muslim (I/9).]

Asy-Syaikh Abu Syammah berpendapat bahwa tidak boleh menyebutkan suatu hadits dla’if melainkan ia wajib menerangkan kelemahannya. [Lihat al-Baits ala Inkari Bida’ wa a- Hawadits (halaman 54) dan Tamam al-Minnah fi at-Ta’liq ala Fiq-h as-Sunnah halaman 32-33.]

Penjelasan:

Menurut hadits di atas seorang dianggap dusta apabila ia membawakan hadits-hadits yang diketahuinya dusta (tidak benar).

Ada dua golongan ulama yang terkena ancaman hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di atas, yaitu; Ulama yang tahu kedla’ifan hadits dan yang tidak tahu. Dalam masalah ini ada dua hukum;

Pertama: jika ulama, ustadz atau kyai tersebut tahu tentang lemahnya hadits-hadits yang dibawakan itu, tetapi ia tidak menerangkan kelemahannya, maka ia termasuk pendusta (curang) terhadap kaum Muslimin dan termasuk yang diancam oleh hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di atas.

Al-Imam Ibnu Hibban berkata, “Di dalam kabar ini (hadits Samurah di atas), ada dalil yang menunjukkan bahwa seseorang yang menyampaikan hadits atau meriwayatkannya yang tidak sah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yaitu menyampaikan atau meriwayatkan hadits yang lemah atau yang diada-adakan oleh manusia sedang dia tahu bahwa itu dusta, maka dia termasuk pendusta, hal ini lebih keras lagi apabila ulama (ustadz, kyai-pent) tersebut yakin bahwa itu dusta tapi masih disampaikan juga. Hadits ini juga terkena kepada orang yang masih meragukan keshahihan atau kelemahan apa-apa yang ia sampaikan atau riwayatkan”. [Lihat adl-Dlua’fa oleh Ibnu Hibban (I/7-8).]

Al-Imam Ibnu Abdil Hadi menukil perkataan Ibnu Hibban ini dalam kitab ash-Sharim al-Mankiy (halaman 165-166) dan beliau menyetujuinya.

Kedua: jika si ulama, ustadz atau kyai tidak mengetahui kelemahan hadits (riwayat), tetapi dia masih menyampaikan (meriwayatkan) juga, maka dia termasuk orang-orang yang berdosa, karena dia telah berani menisbatkan (menyandarkan) hadits atau riwayat kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tanpa ia mengetahui sumber hadits (riwayat) itu.

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

[5]. Dari Abu Hurairah, ia berkata, ‘Telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

كَفَى بِالْمَـرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seorang dikatakan berdusta apabila ia menyampaikan tiap-tiap apa yang ia dengar”. [HSR. Muslim (I/10).]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

وَ لَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَ اْلبَصَرَ وَ اْلفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا

“Artinya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-an jawabnya”. [QS Al-Isra’/ 17: 36]

Al-Imam Ibnu Hibban berkata dalam kitab adl-Dlu’afa’ (I/9), “Di dalam hadits ini (no. 5) ada ancaman bagi seseorang yang menyampaikan setiap apa yang dia dengar sehingga ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat itu shahih”. [Lihat Tamam al-Minnah fi at-Ta’liq ala Fiq-h as-Sunnah halaman 33.]

Al-Imam an-Nawawiy pernah berkata, “Bahwa tidak halal berhujjah bagi orang yang mengerti hadits hingga ia tidak tahu, dia harus bertanya kepada orang yang ahli”. [Lihat Qawaid at-Tahdits min Fununi Musthalah al-Hadits halaman 115 oleh asy-Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimiy, tahqiq dan ta’liq Muhammad Bahjah al-Baithar]

[Disalin dari kitab Ar-Rasa’il Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadlan 1425H/Oktober 2004M]

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in DAKWAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s