ADAKAH FAIDAH HADITS DLA’IF DAN MAUDLU’ (2)..??

BOLEHKAH HADITS DLA’IF DIAMALKAN DAN DIPAKAI UNTUK FADLA’IL AL-A’MAL (2)

بسم الله الرحمن الرحيم

hadits palsu8Oleh; Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Bagian Kedua dari Tiga Tulisan 2/3

PENDAPAT BEBERAPA ULAMA TENTANG HADITS-HADITS DLA’IF UNTUK FADLA’IL AL- A’MAL.

Di kalangan ulama, ustadz dan kyai sudah tersebar bahwa hadits-hadits dla’if boleh dipakai untuk fadla’il al-A’mal. Mereka menyangka tentang bolehnya itu tidak ada khilaf di antara ulama. Mereka berpegang kepada perkataan al-Imam an-Nawawiy rahimahullah yang menyatakan bahwa bolehnya hal itu sudah disepakati oleh ahli ilmu.

Apa yang dinyatakan al-Imam an-Nawawiy rahimahullah tentang adanya kesepakatan ulama yang membolehkan memakai hadits dla’if untuk fadla’il al-A’mal ini merupakan satu kekeliruan yang nyata. Sebab, ada ulama yang tidak sepakat dan tidak setuju digunakannya hadits dla’if untuk fadla’il al-A’mal. Ada beberapa pakar hadits dan ulama-ulama ahli tahqiq yang berpendapat bahwa hadits dla’if tidak boleh dipakai secara mutlak, baik hal itu dalam masalah ahkam (hukum-hukum) maupun fadla’il.

[a]. As-Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimiy menyebutkan dalam kitabnya, Qawa’id at-Tahdits, “Hadits-hadits dla’if tidak bisa dipakai secara mutlak untuk ahkam maupun untuk fadla’il al-A’mal, hal ini disebutkan oleh Ibnu Sayyid an-Nas dalam kitabnya, ‘Uyun al-Atsar, dari Yahya bin Ma’in dan disebutkan juga di dalam kitab Fat-h al-Mughits. Ulama yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar Ibnu al-Araby, al-Imam al-Bukhoriy, al-Imam Muslim dan al-Imam Ibnu Hazm. [Qawa’id at-Tahdits min Fununi Musthalah al-Hadits, halaman 113, tahqiq: Muhammad Bahjah al-Baithar]

[b]. Menurut asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah (Ahli Hadits zaman sekarang ini), ia berpendapat, “Pendapat al-Imam al-Bukhoriy inilah yang benar dan aku tidak meragukan tentang kebenarannya”. [Tamam al-Minnah fi at-Ta’liq ala Fiq-h as-Sunnah halaman 34, cet. Dar ar-Rayah, th. 1409 H]

Menurut para ulama, hadits dha’if tidak boleh diamalkan, karena;

Hadits dla’if hanyalah mendatangkan sangkaan yang sangat lemah, orang mengamalkan sesuatu dengan prasangka, bukan sesuatu yang pasti diyakini.

Firman Allah:

            إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ اْلحَقِّ شَيْئًا

“Sesungguhnya sangka-sangka itu sedikit pun tidak bisa mengalahkan kebenaran”. [Yunus/ 10: 36]

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَ الظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

“Jauhkanlah dirimu dari sangka-sangka, karena sesungguhnya sangka-sangka itu sedusta-dusta perkataan”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 5143, 6066) dan Muslim (no. 2563) dari Abu Hurairah radliyallahu anhu]

Kata-kata fadla’il al-A’mal menunjukkan bahwa amal-amal tersebut harus sudah ada nashnya yang shahih. Adapun hadits dla’if itu sekedar penambah semangat (targhib), atau untuk mengancam (tarhib) dari amalan yang sudah diperintahkan atau dilarang dalam hadits atau riwayat yang shahih.

Hadits dla’if itu masih meragukan, apakah sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam atau bukan. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيْبُكَ

“Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu (menuju) kepada yang tidak meragukanmu”. [HR. Ahmad (I/200), at-Turmudziy (no. 2518) dan an-Nasa’iy (VIII/327-328), ath-Thabraniy dalam al-Mu’jam al-Kabir (no. 2708, 2711), dan at-Turmudziy berkata, “Hadits hasan shahih”]

Penjelasan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah tentang perkataan al-Imam Ahmad, “Apabila kami meriwayatkan masalah yang halal dan haram, kami sangat keras (harus hadits yang shahih), tetapi apabila kami meriwayatkan masalah fadla’il, targhib wa at-tarhib, kami tasahul (bermudah-mudah)”. Kata Syaikh al-Islam, “Maksud perkataan ini bukanlah menyunnahkan suatu amalan dengan hadits dla’if yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, karena masalah sunnah adalah masalah syar’iy, maka yang harus dipakai pun haruslah dalil syar’iy. Barangsiapa yang mengabarkan bahwa Allah cinta pada suatu amalan, tetapi dia tidak bawakan dalil syar’iy (hadits yang shahih), maka sesungguhnya dia telah mengadakan syari’at yang tidak diizinkan oleh Allah, sebagaimana dia menetapkan hukum wajib dan haram”.[ Majmu’ Fatawa, oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah (XVIII/65).]

Asy-Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menerangkan tentang maksud perkataan Imam Ahmad, Abdurahman bin Mahdi dan Abdullah Ibnul Mubarak tersebut, beliau berkata, “Bahwa yang dimaksud tasahul (bermudah-mudah) di sini ialah mereka mengambil hadits-hadits hasan yang tidak sampai ke derajat shahih untuk masalah fadla’il. Karena istilah untuk membedakan antara hadits shahih dengan hadits hasan belum terkenal pada masa itu. Bahkan kebanyakan dari ulama mutaqadimin (ulama terdahulu) hanyalah membagi derajat hadits itu kepada shahih atau dla’if saja. (Sedang yang dimaksud dla’if itu sebagiannya adalah hadits hasan yang bisa dipakai untuk fadla’il al-A’mal-pen). [Ba’its al-Hatsits Syar-h Ikhtishar Ulum al-Hadiits, oleh asy-Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (halaman 87), cet. III Maktabah Dar at-Turats, th. 1979 M/1399 H atau cet. I Dar al-‘Ashimah, ta’liq: asy-Syaikh al-Albaniy]

Sebagai tambahan dan penguat pendapat ulama yang tidak membolehkan dipakainya hadits dla’if untuk fadla’il al-A’mal. Saya bawakan pendapat Dr. Subhiy Shalih, ia berkata, “Menurut pendapat agama yang tidak diragukan lagi bahwa riwayat lemah tidak mungkin untuk dijadikan sumber dalam masalah ahkam syar’iy dan tidak juga untuk fadlilah akhlaq (targhib wa at-tarhib), karena sesungguhnya zhann atau persangkaan tidak bisa mengalahkan yang haq sedikit pun. Dalam masalah fadla’il sama seperti ahkam, ia termasuk pondasi agama yang pokok, dan tidak boleh sama sekali bangunan pondasi ini lemah yang berada di tepi jurang yang dalam. Oleh karena itu, kita tidak bisa selamat bila kita meriwayatkan hadits-hadits dla’if untuk fadla’il al-A’mal, meskipun sudah disebutkan syarat-syaratnya”. [ Lihat Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu (halaman 211), oleh Dr. Subhiy Shalih, cet. 1982 M]

SYARAT-SYARAT DITERIMANYA HADITS DLA’IF UNTUK FADLA’IL AL-A’MAL

Di atas sudah saya kemukakan bahwa pendapat yang terkuat adalah pendapat Imam al-Bukhoriy, Muslim dan Ibnu Hazm tentang tidak diterimanya hadits dla’if untuk fadla’il al-A’mal. Akan tetapi tentunya sejak dulu sampai hari ini masih saja ada ulama yang memakainya. Oleh karena itu, saya bawakan pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy tentang syarat-syarat diterimanya hadits dla’if untuk fadla’il al-A’mal, beliau berkata, “Sudah masyhur di kalangan ulama bahwa ada di antara mereka orang-orang yang tasahul (bermudah-mudah/menggampang-gampangkan) dalam membawakan hadits-hadits fadla’il kendatipun banyak di antaranya yang dla’if bahkan ada yang maudlu’ (palsu). Oleh karena itu wajiblah atas ulama untuk mengetahui syarat-syarat dibolehkannya beramal dengan hadits dla’if, yaitu ia (ulama) harus meyakini bahwa itu dla’if dan tidak boleh dimasyhurkan agar orang tidak mengamalkannya yakni tidak menjadikan hadits dla’if itu syari’at atau mungkin akan disangka oleh orang-orang jahil bahwa hadits dla’if itu mempunyai Sunnah (untuk diamalkan)”. [Tamam al-Minnah halaman 36]

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdissalam telah menjelaskan hal ini dan hendaklah seseorang berhati-hati terkena ancaman Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam (hadits Samurah di atas). Bila sudah ada ancaman ini bagaimana mungkin kita akan mengamalkan hadits dla’if?

Dalam hal ini (ancaman Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam) terkena bagi orang yang mengamalkan hadits dla’if dalam masalah ahkam (hukum-hukum) ataupun fadla’il al-A’mal, karena semua ini termasuk syari’at. [Tabyin al-A’jab (halaman 3-4) dinukil oleh asy-Syaikh al-Albaniy dalam Tamam al-Minnah (halaman 36)]

Al-Hafizh as-Sakhawiy, murid al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy rahimahullah, beliau berkata, “Aku sering mendengar syaikhku (Ibnu Hajar) berkata, “Syarat-syarat bolehnya beramal dengan hadits dla’if;

[1]. Hadits itu tidak sangat lemah. Maksudnya, tidak boleh ada rawi pendusta, atau dituduh berdusta atau hal-hal yang sangat berat kekeliruannya.

[2]. Tidak boleh hadits dla’if jadi pokok, tetapi dia harus berada di bawah nash yang sudah shahih.
[3]. Tidak boleh hadits itu dimasyhurkan, yang akan berakibat orang menyandarkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apa-apa yang tidak beliau Shallallahu alaihi wa sallam sabdakan”.

Al-Hafizh as-Sakhawiy berkata, “Syarat-syarat kedua dan ketiga dari Ibnu Abdissalam dan dari shahabatnya Ibnu Daqiq al-Ied”.

Al-Imam Ala’iy berkata, “Syarat pertama sudah disepakati oleh para ulama hadits”. [Lihat al-Qaulu Badi’ fi Fadl-li ash-Sholah ala al-Habib asy-Syafi’iy (halaman 255), oleh al-Hafizh as-Sakhawiy, cet. Dar al-Bayan Li at-Turats]

Bila kita perhatikan syarat pertama saja, maka kewajiban bagi ulama dan orang yang mengerti hadits, untuk menjelaskan kepada ummat Islam dua hal yang penting;

Pertama.

Mereka harus dapat membedakan hadits-hadits dla’if dan yang shahih agar orang-orang yang mengamalkannya tidak meyakini bahwa itu shahih, hingga mereka tidak terjatuh ke dalam bahaya dusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Mereka harus dapat membedakan hadits-hadits yang sangat lemah dengan hadits-hadits yang tidak sangat lemah.

Bagi para ulama, ustadz, dan kyai yang masih bersikeras bertahan untuk tetap memakai hadits-hadits dla’if untuk fadla’il al-A’mal, saya ingin ajukan pertanyaan untuk mereka, “Sanggupkah mereka memenuhi syarat pertama, kedua dan ketiga itu?”. Bila tidak, jangan mereka mengamalkannya. Kemudian apa sulitnya bagi mereka untuk mengambil dan membawakan hadits-hadits yang shahih saja yang terdapat dalam Shahih al-Bukhoriy dan Shahih Muslim dan kitab-kitab hadits lainnya. Apalagi sekarang -alhamdulillah- Allah sudah mudahkan adanya kitab-kitab hadits yang sudah dipilah-pilah antara yang shahih dan yang dla’if. Dan kita berusaha untuk memiliki kitab-kitab itu, sehingga dapat membaca, memahami, mengamalkan dan menyampaikan yang benar kepada ummat Islam.

[Disalin dari kitab Ar-Rasa’il Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadlan 1425H/Oktober 2004M]

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in DAKWAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s