ADAKAH FAIDAH HADITS DLA’IF DAN MAUDLU’ (3)..??

BOLEHKAH HADITS DLA’IF DIAMALKAN DAN DIPAKAI UNTUK FADLA’IL AL-A’MAL (3)

بسم الله الرحمن الرحيم

hadits palsu11Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan 3/3

TIDAK BOLEH MENGATAKAN HADITS DLA’IF DENGAN LAFAZH JAZM (LAFAZH YANG MEMASTIKAN ATAU MENETAPKAN)

[a]. Ada (lafazh yang digunakan dalam menyampaikan (meriwayatkan) hadits menurut pendapat Ibnu ash-Shalah,

“Apabila orang menyampaikan (meriwayatkan) hadits dla’if, maka tidak boleh anda berkata, “Telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”.

Atau lafazh jazm yang lain, yakni lafazh yang memastikan atau menetapkan, seperti; “Fa’ala, rawaya, qola”.

Boleh membawakan hadits dla’if itu dengan lafazh, “Telah diriwayatkan atau telah sampai kepada kami begini dan begitu”.

Demikianlah seterusnya hukum hadits-hadits yang masih diragukan tentang shahih dan dla’ifnya. Tidak boleh kita berkata atau menulis, “Telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”.

[b]. Pendapat al-Imam an-Nawawiy rahimahullah

Telah berkata para ulama ahli tahqiq dari pakar-pakar hadits, “Apabila hadits-hadits itu dla’if tidak boleh kita katakan,

“Telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”, atau

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengerjakan”, atau

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan”, atau

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang,” atau:

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menghukum”, dan lafazh-lafazh lain dari jenis lafazh jazm (pasti atau menetapkan).

Tidak boleh juga mengatakan,

“Telah meriwayatkan Abu Hurairah radliyallahu anhu”, atau

“Telah menyebutkan Abu Hurairah radliyallahu anhu”.

Dan yang seperti itu dari shighat-shighat (bentuk-bentuk) jazm. Tidak boleh juga menyebutkan riwayat yang lemah dari tabi’in dan orang-orang yang sesudahnya dengan shighat-shighat jazm.

Seharusnya kita mengatakan hadits atau riwayat lemah dan hadits atau riwayat yang tidak kita ketahui derajatnya dengan perkataan,

“Telah diriwayatkan”,

“Telah dinukil darinya”,

“Telah disebutkan”,

“Telah diceritakan”.

Dan yang seperti itu disebut shighat tamridl (bentuk lafazh yang berarti ada penyakitnya), dan tidak boleh dengan shighat jazm.

PERKATAAN PARA ULAMA AHLI HADITS

Shighat jazm seperti, “qola, rawaya” dan lainnya hanya digunakan untuk hadits-hadits shahih dan hasan saja. Sedangkan shighat-shighat tamridl, seperti, “ruwiya”, atau “dzukira” dan lainnya digunakan selain itu. Karena shighat jazm berarti menunjukkan akan sahnya suatu khabar (berita) yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sebab itu tidak boleh dimutlakkan.

Jadi, bila ada ulama yang masih menggunakan shighat (lafazh) jazm untuk berita yang belum jelas, berarti ia telah berdusta atas Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Adab meriwayatkan ini banyak dilanggar oleh para penulis kitab-kitab fiqh dan juga jumhur Fuqaha dari madzhab Syafi’iy, bahkan dilanggar pula oleh jumhur ahli ilmu, kecuali sebagian kecil dari ahli ilmu dari para Ahli Hadits yang mahir.

Perbuatan tasahul (menggampang-gampangkan) dalam masalah yang hadits merupakan perbuatan yang jelek. Kebanyakan dari mereka menyebutkan hadits shahih dengan shighat tamridl,

“Diriwayatkan darinya.”

Sedangkan dalam menyebutkan hadits dla’if, maka mereka menyebutkan dengan shighat yang jazm,

“rawaya fulanun” atau qola”.

Hal ini sebenarnya telah menyimpang dari kebenaran yang telah disepakati oleh Ahli Hadits. [Lihat al-Majmu’ Syar-h al-Muhadzdzhab, oleh al-Imam an-Nawawiy (I/63), cet. Dar al-Fikr.]

WAJIB MENJELASKAN HADITS-HADITS DLAI’F KEPADA UMAT ISLAM

[a]. Perkataan asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah,
“Ada yang perlu saya tambahkan dari perkataan al-Imam an-Nawawiy di atas tentang penggunaan lafazh tamridl, ”ruwiya, yuhka, dzukira” dan yang seperti itu untuk hadits dla’if”.

Zaman sekarang ini penggunaan lafazh-lafazh itu tidaklah mencukupi, karena ummat Islam banyak yang tidak mengetahui hadits-hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bahkan tidak faham pula kitab-kitab hadits sehubungan dengan masalah itu dan tidak mengerti pula apa maksud perkataan khatib di mimbar mengucapkan, “Diriwayatkan dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”.

Bahwa yang dimaksud khatib yaitu hadits itu dla’if, sedangkan mereka banyak yang tidak faham. Maka, wajib bagi ulama untuk menjelaskan hal yang demikian itu sebagaimana yang disebutkan oleh Atsar dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata,

حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ؟؟

“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa-apa yang mereka ketahui, apakah kamu suka mereka itu dusta atas nama Allah dan Rosul-Nya?!”. [HR. al-Bukhoriy, Fat-h al-Bariy (I/225), lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib (halaman 52), cet. Maktabah al-Ma’arif th. 1421 dan Tamam al-Minnah (halaman 39-40) oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy]

[b]. Perkataan asy-Syaikh Ahmad Muhammad Syakir

Aku berpendapat (sekarang ini) wajib menerangkan hadits-hadits yang dla’if di dalam setiap keadaan (dan setiap waktu), karena bila tidak diterangkan kepada ummat Islam tentang hadits-hadits dla’if, maka orang yang membaca kitab (atau mendengarkan) akan menyangka bahwa hadits itu shahih, lebih-lebih bila yang menukilnya atau menyampaikannya itu dari kalangan ulama Ahli Hadits. Hal tersebut karena ummat Islam yang awam menjadikan kitab dan ucapan ulama itu sebagai pegangan bagi mereka. Kita wajib menerangkan hadits-hadits dla’if dan tidak boleh mengamalkannya baik dalam ahkam maupun dalam masalah fadla’il al-A’mal dan lain-lainnya. Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah (berdalil) melainkan dengan apa-apa yang sah dari Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam dari hadits-hadits shahih atau hasan. [Lihat al-Ba’its al-Hadits Syar-h Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits oleh asy-Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (halaman 76), cet. Maktabah Dar at-Turats th. 1399 H atau I/278, ta’liq: asy-Syaikh al-Imam al-Albany cet. I Dar al-‘Ashimah th. 1415 H]

AKIBAT TASAHUL DALAM MERIWAYATKAN HADITS DLA”IF

Tasahul (bermudah-mudah)nya para ulama, ustadz, kyai, dalam menulis dan menyampaikan hadits dla’if tanpa disertai keterangan tentang kelemahannya merupakan faktor penyebab yang terkuat yang mendorong ummat Islam melakukan bid’ah-bid’ah di dalam agama dan kebanyakan dalam masalah-masalah ibadah. Umumnya ummat Islam menjadikan pokok pegangan mereka dalam masalah ibadah dari hadits-hadits lemah dan bathil bahkan maudlu’ (palsu), seperti melaksanakan sholat dan puasa Ragha’ib di awal bulan Rajab, malam pertengahan (nishfu Sya’ban), berpuasa di siang harinya, mengadakan perayaan maulud Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, diba’an, baca Barzanji, Yasinan, malam Isra’ Mi’raj dan lain-lain. Akibat tasahulnya para ulama, ustadz dan kyai, maka banyak dari ummat Islam yang masih mempertahankan bid’ah-bid’ah itu dan menghidup-hidupkannya. Berarti ada dua bahaya besar yang akan menimpa ummat Islam dengan membawakan hadits-hadits dla’if;

Terkena ancaman berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, diancam masuk Neraka.

Kedua.

Timbulnya bid’ah yang berakibat sesat dan diancam masuk Neraka, na’udzubillah min dzalik.

كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَ كُلَّ ضَلَالَةٍ فِى النَّارِ

“Tiap-tiap bid’ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan di Neraka”. [Hadits shahih riwayat an-Nasa’iy (III/189), lihat Shahih Sunan Nasa’iy (I/346 no. 1487) dan Misykah al-Mashabih (I/51)]

KHATIMAH

Mudah-mudahan kita terpelihara dari berdusta atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan dari melakukan bid’ah yang telah membuat ummat mundur, terbelakang, berpecah belah dan jauh dari petunjuk AlQur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang shahih. Keadaan seperti merupakan kendala bangkitnya ummat Islam.

Wallaahu a’laam bish Shawaab.

[Disalin dari kitab Ar-Rasa’il Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadlan 1425H/Oktober 2004M]

________
MARAAJI’
1. Shahih al-Bukhoriy.

2. Fat-h al-Bariy Syar-h Shahih al-Bukhoriy, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar as-Asqalaniy.

3. Shahih Muslim.

4. Syar-h Shahih Muslim, oleh al-Imam an-Nawawiy.

5. Sunan Abi Dawud.

6. Sunan an-Nasa’iy.

7. Sunan Ibnu Majah.

8. Jami’ at-Turmudziy.

9. Musnad al-Imam Ahmad.

10. Al-Jarh wa at-Ta’dil, oleh Ibnu Abi Hatim.

11. Majmu’ Fatawa, oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah.

12. Manar al-Munif fi ash-Shahih wa adl-Dla’if, oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

13. Al-Majmu’ Syar-h al-Muhadzdzhab, oleh al-Imam an-Nawawiy.

14. Lisan al-Mizan, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy.

15. Al-Qaul al-Badi’ fi Fadlilah ash-Sholah ala Habibi asy-Syafi’i, oleh al-Hafizh as-Sakhawiy.

16. Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah, oleh Ibnu Araq.

17. Adl-Dlu’afa Ibnu Hibban.

18. Qawa’id at-Tahdits, oleh Jamaluddin al-Qasimiy.

19. Al-Ba’its al-Hatsits fi Ikhtishari Ulum al-Hadits, oleh asy-Syaikh Ahmad Muhammad Syakir.

20. Silsilah Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah, oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albanyy.

21. Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir, oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy.

22. Shahih al-Jami’ ash-Shaghir oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy.

23. Tamam al-Minnah fi Takhriji Fiq-h as-Sunnah, oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy.

24. Shahih at-Targhib wa at-Tarhib oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy.

25. Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu oleh Dr. Subhiy Shalih.

26. Al-Adzkar, oleh al-Imam an-Nawawiy.

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in DAKWAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s