WAHAI SAUDARAKU, JANGANLAH ANDA TINGGALKAN SHOLAT…!!!

HUKUM MENINGGALKAN SHOLAT WAJIB LIMA WAKTU

بسم الله الرحمن الرحيم

Sholat5Telah kita ketahui berdasarkan dalil-dalil Alqur’an dan hadits shahih serta kesepakatan para ulama tentang wajibnya mengerjakan sholat lima waktu dan kafirnya orang yang menentang kewajiban tersebut. [1] Namun, bagi yang meninggalkannya karena malas, terlebih lagi ia masih mengimani bahwa sholat itu amalan yang disyariatkan, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, antara yang mengkafirkan dengan yang tidak mengkafirkan dan apakah ia dibunuh atau tidak. [2]

Masalah hukum orang yang meninggalkan sholat ini memang merupakan masalah khilafiyyah sejak zaman dahulu di kalangan salaful ummah, dan perselisihannya sudah teranggap (mu’tabar). Oleh karena itu, janganlah kita gegabah menuduh orang yang menyelisihi pendapat kita dalam hal ini, semisal kita mengatakannya Murji`iy (pengikut pemahaman Murji`ah, karena tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat) atau menvonisnya dengan Khorijiy (pengikut pemahaman Khowarij, karena mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat). Hukum asal dalam hal khilaf yang mu’tabar adalah seseorang tidak boleh mengingkari pendapat orang lain dan mencelanya.

Mencela seseorang karena mengikuti pendapat ulama dari kalangan salaf (para imam yang dikenal) sama dengan mencela ulama salaf tersebut. Karena itu sekali lagi kita tegaskan, janganlah kita mentahdzir (memboikot), merendahkan dan mencela saudara kita dalam permasalahan-permasalahan yang kita dapati para ulama kita juga berbeda pendapat di dalamnya. Memang masalah fiqih yang seperti ini, kita dapati para ulama sering berbeda pendapat, dan mereka pun melapangkan bagi saudaranya selama permasalahan itu memang dibolehkan/ dilapangkan untuk berijtihad.

Orang yang meninggalkan sholat fardlu dengan sengaja berarti ia telah melakukan dosa yang sangat besar. Dosanya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala lebih besar daripada dosa membunuh jiwa yang tidak halal untuk dibunuh, atau dosa mengambil harta orang lain secara batil, atau dosa zina, mencuri dan minum khamer. Meninggalkan sholat berarti menghadapkan diri kepada hukuman Allah Azza wa Jalla dan kemurkaan-Nya. Ia akan dihinakan oleh Allah ta’ala baik di dunia maupun di akhiratnya kelak. [3]

Tentang hukuman di akhirat bagi orang yang menyia-nyiakan sholat dinyatakan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ اْلمـُصَلِّينَ

“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?”. Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat”. [QS al-Muddatstsir/ 74: 42-43].

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang sholat, yaitu mereka yang lalai dari sholatnya”. [QS al-Ma’un/ 107: 4-5].

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Dan Allah tidak mengatakan ‘mereka lalai di dalam sholatnya’. Adakalanya dari awal waktunya, lalu ia selalu melambatkannya atau kebanyakan di akhir waktu. Adakalanya dari pelaksanaannya dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya atas arah yang diperintahkan. Dan adakalanya dari kekhusyu’an di dalam mengerjakannya dan mentadabburi (memahami) makna-maknanya, maka lafazh tersebut meliputi semuanya itu”. [4]

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَ اتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan”. [QS Maryam/ 19: 59].

Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama

1)). Abdullah bin Mubarak, Ahmad, Ishaq, dan Ibnu Hubaib dari kalangan Malikiyyah berpendapat kafir [5] orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja walaupun ia tidak menentang kewajiban sholat. Pendapat ini dihikayatkan pula dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan al-Hakam bin Uyainah radliyallahu anhum. Sebagian pengikut al-Imam asy-Syafi’iy rahimahullah juga berpendapat demikian. [6]

Mereka berargumen dengan firman Allah ta’ala,

      فَإِذَا انسَلَخَ اْلأَشْهُرُ اْلحُرُمُ فَاقْتُلُوا اْلمـُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَ خُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِن تَابُوْا وَ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَ ءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Apabila telah habis bulan-bulan haram, bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kalian jumpai mereka dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Apabila mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [QS at-Taubah/ 9: 5].

Dalam ayat di atas Allah Jalla wa Ala menetapkan harus terpenuhinya tiga syarat barulah seorang yang tadinya musyrik dibebaskan dari hukuman bunuh sebagai orang kafir yaitu bertaubat, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Bila tiga syarat ini terpenuhi berarti ia telah menjadi seorang muslim yang terpelihara darahnya. Namun bila tidak, ia bukanlah seorang muslim. Dengan demikian, barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja, tidak mau menunaikannya, berarti tidak memenuhi syarat untuk dibiarkan berjalan, yang berarti ia boleh dibunuh. [7]

Argumen mereka dari hadits adalah hadits Jabir bin Abdillah radliyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَ بَيْنَ الشِّرْكِ وَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. [HR Muslim: 82, Abu Dawud: 4678, at-Turmudziy: 2619, Ibnu Majah: 1078, Ahmad: III/ 370, ad-Daruquthniy: 1735 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Demikian pula hadits Buraidah bin Hushaib radliyallahu anhu, ia berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

العَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kita dan mereka adalah sholat, maka barangsiapa yang meninggalkan sholat berarti ia kafir”. [HR at-Turmudziy: 2621, Ibnu Majah: 1079, an-Nasa’iy: I/ 231-232, Ahmad: V/346, 355, ad-Daruquthniy: 1733, al-Hakim dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Dalam dua hadits di atas dinyatakan secara umum “meninggalkan sholat” tanpa ada penyebutan “meninggalkan karena menentang kewajibannya”. Berarti ancaman dalam hadits diberlakukan secara umum, baik bagi orang yang meninggalkan sholat karena menentang kewajibannya atau pun tidak.

Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu, Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا وَ إِنْ قُطِّعْتَ وَ إِنْ حُرِّقْتَ وَ لاَ تَتْرُكْ صَلاَةً مَكْتُوْبَةً مُتَعَمِّدًا فَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمَّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ وَ لاَتَشْرِبِ الْخَمْرَ فَإِنَّهُ مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ

“Janganlah kamu berbuat syirik sedikit pun walaupun kamu dipenggal atau pun dibakar. Jangan pula meninggalkan sholat wajib dengan sengaja, maka barangsiapa yang meninggalkan sholat dengan sengaja sungguh lepas jaminan darinya. Janganlah pula minum khamer karena sesungguhnya khamer itu pintu setiap kejelekan”. [HR Ibnu Majah: 4034. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu, “Sungguh telah lepas jaminan dari Allah”. Sedangkan dalam riwayat Ummu Aiman dan Umayyah, “Sungguh telah lepas jaminan dari Allah dan Rosul-Nya”. [11]

Demikian pula pernyataan para shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, diantaranya,

Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu berkata,

لاَ حَظَّ فِي الإِسْلامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidak ada bagian (sedikit pun) dalam Islam bagi seseorang yang meninggalkan sholat”. [12]

Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu berkata,

مَنْ لَمْ يُصَلِّ فَهُوَ كَافِرٌ

“Barangsiapa yang tidak sholat maka dia kafir”. [13]

Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata,

مَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ فَلاَ دِيْنَ لَهُ

“Barangsiapa yang meninggalkan sholat, maka tidak ada agama baginya”. [Atsar riwayat Ahmad bin Nash-r secara mauquf. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [14]

Abu ad-Darda’ radliyalallahu anhu berkata,

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَلاَةَ لَهُ وَ لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ

“Tidak ada keimanan bagi yang tidak sholat, dan tidak ada (sah) sholat bagi yang tidak berwudlu”. [Atsar riwayat Ibnu Abdul Barr dan selainnya secara mauquf. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Berkata al-Hakam bin Utaibah radliyallahu anhu, “Barangsiapa yang meninggalkan sholat dengan sengaja maka sungguh-sungguh ia telah kafir. Barangsiapa yang meninggalkan zakat dengan sengaja maka sungguh-sungguh ia telah kafir. Barangsiapa yang meninggalkan haji dengan sengaja maka sungguh-sungguh ia telah kafir. Barangsiapa yang meninggalkan shaum/ puasa dengan sengaja maka sungguh-sungguh ia telah kafir”.

            Berkata Sa’id bin Jubair radliyallahu anhu, “Barangsiapa yang meninggalkan sholat dengan sengaja maka sungguh-sungguh ia telah kafir kepada Allah. Barangsiapa yang meninggalkan zakat dengan sengaja maka sungguh-sungguh ia telah kafir kepada Allah. Barangsiapa yang meninggalkan shaum/ puasa dengan sengaja maka sungguh-sungguh ia telah kafir kepada Allah”. [16]

            Dalil-dalil hadits dan atsar diatas menggambarkan tentang berlakunya ketetapan bagi orang yang meninggalkan sholat sebagai orang yang kafir, musyrik, lepasnya jaminan terhadapnya, tidak memiliki agama, tidak memiliki keimanan dan selainnya.

            Seorang tabi’in bernama Abdullah bin Syaqiq rahimahullah berkata,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ

            “Adalah para shahabat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak memandang adanya sesuatu dari amalan-amalan yang bila ditinggalkan dapat mengkafirkan pelakunya kecuali amalan sholat”. [HR. at-Turmudziy: 2622. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

            Abdullah bin Syaqiq menyebutkan bahwa para shahabat sepakat ‘orang yang meninggalkan sholat itu kafir’ dan mereka tidak mensyaratkan ‘harus disertai dengan pengingkaran akan kewajibannya’ atau ‘menentang kewajiban sholat’. Karena yang mengatakan sholat itu tidak wajib, jelas sekali kekafirannya bagi semua orang. [18]

2)). Sementara itu, dinukilkan pula pendapat mayoritas ulama yang memandang tidak atau belum kafirnya orang yang meninggalkan sholat secara sengaja. Al-Imam Abdul Haq al-Isybiliy rahimahullah dalam kitabnya[19] menyatakan, “Seluruh kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah, baik ahli haditsnya maupun selain mereka, berpendapat bahwa orang yang meninggalkan sholat secara sengaja dalam keadaan ia mengimani kewajiban sholat dan mengakui/menetapkannya, tidaklah dikafirkan. Namun dia telah melakukan suatu perbuatan dosa yang sangat besar. Adapun hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang secara zhahir menyebutkan kafirnya orang yang meninggalkan sholat, demikian pula ucapan Umar radliyallahu anhu dan selainnya, mereka takwil sebagaimana mereka mentakwil sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

لَا يَزْنِى الزَّانِى حِيْنَ يَزْنِى وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan ia beriman saat melakukan perbuatan zina tersebut”. [20] [HR Muslim: 57, al-Bukhoriy: 2475, 5588, 6772, 6782, 6809, 6810, an-Nasa’iy: VII/ 64, 65, 313, at-Turmudziy: 2625, Abu Dawud: 4689, Ibnu Majah: 3936 dan Ahmad: II/ 317, 376, 386, , 479, III/ 346, VI/ 139. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[21]

Demikian pula hadits-hadits lain yang senada dengan ini. Adapun ahlul ilmi yang berpendapat dibunuhnya orang yang meninggalkan sholat, hanyalah memaksudkan ia dibunuh sebagai hukum had, bukan karena ia kafir. Demikian pendapat ini dipegangi oleh al-Imam Malik, asy-Syafi’iy, dan selain keduanya”.

Berkata Hammad bin Yazid, Mak-hul, al-Imam Malik dan al-Imam asy-Syafi’iy rahimahumullah, “Orang yang meninggalkan sholat itu seperti orang yang murtad namun ia tidak keluar dari agama”. [22]

Berkata DR Abdul Azhim bin Badawiy hafizhohullah, “Namun yang rajih (pendapat yang kuat) dari pendapat para ulama, bahwa yang dimaksud dengan kufur disini adalah kufur ashghar (kecil) yang tidak mengeluarkan (pelakunya) dari agama”. [23]

Al-Hafizh al-‘Iraqiy rahimahullah berkata, “Jumhur ahlul ilmi berpendapat tidak kafirnya orang yang meninggalkan sholat bila memang ia tidak menentang kewajibannya. Ini merupakan pendapat para imam; Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’iy, dan juga satu riwayat dari al-Imam Ahmad bin Hambal. Terhadap hadits-hadits yang shahih dalam masalah hukum meninggalkan sholat ini, mereka menjawab dengan beberapa jawaban, di antaranya:

Pertama: Makna dari hadits-hadits tersebut adalah orang yang meninggalkan sholat pantas mendapatkan hukuman yang diberikan kepada orang kafir yaitu dibunuh.

Kedua: Vonis kafir yang ada dalam hadits-hadits tersebut diberlakukan kepada orang yang menganggap halal meninggalkan sholat tanpa udzur.

Ketiga: Meninggalkan sholat terkadang dapat mengantarkan pelakunya kepada kekafiran, sebagaimana dinyatakan bahwa ‘perbuatan maksiat adalah pos kekafiran’.

Keempat: Perbuatan meninggalkan sholat adalah perbuatan orang-orang kafir. [24]

Dalil yang dipakai oleh jumhur ulama adalah firman Allah Azza wa Jalla,

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَ يَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَن يَّشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan-Nya dengan sesuatu (syirik) dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. [QS an-Nisa’/ 4: 48, 116].

Sementara tidak mengerjakan sholat bukan perbuatan syirik, namun salah satu perbuatan dosa besar yang Allah Azza wa Jalla janjikan untuk diberikan pengampunan bagi siapa yang Allah ta’ala kehendaki.

Juga hadits-hadits yang banyak, di antaranya hadits Ubadah bin ash-Shamit radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى اْلعِبَادِ فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَ إِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ اْلجَنَّةَ

“Sholat lima waktu Allah wajibkan atas hamba-hamba-Nya. Siapa yang mengerjakannya tanpa menyia-nyiakan di antara kelima sholat tersebut karena meremehkan keberadaannya maka ia mendapatkan janji dari sisi Allah untuk Allah masukkan ke surga. Namun siapa yang tidak mengerjakannya maka tidak ada baginya janji dari sisi Allah, jika Allah menghendaki Allah akan mengadzabnya, dan jika Allah menghendaki maka Allah akan mengampuninya”. [HR. Abu Dawud: 1420, 425, an-Nasa’iy: I/ 230, Ibnu Majah: 1401 dan Ahmad: V/ 315, 319. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

Hadits Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ اْلعَبْدُ اْلمـُسْلِمُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الصَّلَاةُ اْلمـَكْتُوْبَةُ فَإِنْ أَتَمَّهَا وَ إِلَّا قِيْلَ انْظُرُوْا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ اْلفَرِيْضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ اْلأَعْمَالِ اْلمـَفْرُوْضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ

“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba nanti pada hari kiamat adalah sholat wajib. Jika ia sempurnakan sholat yang wajib tersebut maka sempurna amalannya, namun jika tidak dikatakanlah, ‘Lihatlah, apakah orang ini memiliki amalan tathawwu’ (sholat sunnah)?’ Bila ia memiliki amalan tathawwu’, disempurnakanlah sholat wajib yang dikerjakannya dengan sholat sunnahnya. Kemudian seluruh amalan yang difardlukan juga diperbuat semisal itu”. [HR Ibnu Majah: 1425, Abu Dawud: 864, an-Nasa’iy: I/ 232 dan at-Turmudziy: 413. Berkata Asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

Demikian pula hadits dalam ash-Shahihain yang dibawakan oleh Ubadah bin ash- Shamit radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ أَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ وَ كَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَ رُوْحٌ مِنْهُ وَ اْلجَنَّةُ حَقٌّ وَ النَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ اْلجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ اْلعَمَلِ (فى رواية مسلم: مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ اْلجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ)

“Siapa yang mengucapkan, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya, Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, kalimat-Nya yang Dia sampaikan melalui Maryam dan ruh ciptaan-Nya, surga itu benar adanya dan neraka pun adanya’, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga selama ia mengamalkannya. (Dalam riwayat Muslim ada tambahan, ‘dari 8 pintu surga manapun yang ia kehendaki’)”. [HR al-Bukhoriy: 3435, Muslim: 28, Ahmad: V/ 313-314 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [27]

Dalam riwayat yang lain dari al-Imam Muslim, dari Ubadah bin ash-Shamit juga bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ النَّارَ

“Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah saja dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosulullah, maka Allah haramkan neraka baginya”. [HR Muslim: 29, dan at-Turmudziy: 2638. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [28]

Selain itu, banyak didapatkan dalil yang menunjukkan tidak kekalnya seorang muslim yang masih memiliki iman walau sedikit di dalam neraka, bila ia telah mengucapkan kalimat syahadatain lalu kalimat tersebut terpelihara dan tidak gugur. Seperti hadits Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ فِى قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيْرَةٍ مِنْ خَيْرٍ وَ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ فِى قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ وَ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ فِى قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ

“Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan di hatinya ada kebaikan (iman) seberat sya’ir (satu jenis gandum). Kemudian akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan di hatinya ada kebaikan seberat burrah (satu jenis gandum juga). Kemudian akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan di hatinya ada kebaikan seberat dzarrah (biji sawi)”. [HR. al-Bukhoriy: 44, at-Turmudziy: 2593 dan Ahmad: III/ 116. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [29]

Ulama yang berpandangan tidak kafirnya orang yang meninggalkan sholat tidaklah kemudian membebaskan pelakunya dari hukuman atau meringan-ringankan hukumannya. Bahkan sebaliknya, hukuman berat dijatuhkan sebagaimana yang akan kita baca dalam keterangan berikut ini.

Ibnu Syihab az-Zuhriy, Sa’id ibnu al-Musayyab, ‘Umar bin Abdil ‘Aziz, Abu Hanifah, Dawud bin ‘Ali dan al-Muzaniy berpendapat, orang yang meninggalkan sholat karena malas, tidaklah divonis kafir, namun fasik. Ia harus ditahan atau dipenjara oleh pemerintah muslimin [30] dan dipukul dengan pukulan yang keras sampai darahnya bercucuran. Hukuman ini terus ditimpakan padanya sampai ia mau bertaubat dan mengerjakan sholat atau sampai mati dalam penjara. [31] Hukuman bunuh tidak sampai dijatuhkan padanya kecuali bila ia menentang kewajiban sholat, karena ada hadits Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berikut ini,

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنِّى رَسُوْلُ اللهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَ الثَّيِّبُ الزَّانِى وَ اْلمـُفَارِقُ لِدِيْنِهِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal ditumpahkan darah seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah saja dan ia bersaksi bahwa aku adalah Rosulullah, kecuali salah satu dari tiga golongan, yaitu seseorang yang sudah/pernah menikah melakukan perbuatan zina, karena jiwa dibalas jiwa (seseorang membunuh orang lain maka balasannya ia diqishash/dibunuh juga), dan orang yang meninggalkan agamanya, berpisah dengan jamaahnya kaum muslimin”. [HR Al-Bukhoriy: 6878 dan Muslim: 1676, at-Turmudziy: 1402, an-Nasa’iy: VII/ 90, Ibnu Majah: 2534. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [32]

Di dalam hadits di atas tidak disebutkan hukum bunuh bagi orang yang meninggalkan sholat. [33]

Madzhab Malikiyyah dan Syafi’iyyah berpendapat bahwa orang yang meninggalkan sholat tanpa ada udzur, ia diminta bertaubat dari perbuatannya. Bila tidak mau bertaubat maka dibunuh dengan cara dipenggal dengan pedang menurut pendapat jumhur.

Namun hukuman bunuh ini dijatuhkan sebagai hukum had baginya bukan dibunuh karena kafir lantaran murtad. Setelah meninggal, ia dikafani, disholati, dan dikuburkan di pemakaman muslimin. [34]

Terdapat keterangan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah [35] sehubungan dengan perkara sholat ini, tampak bahwa beliau membagi manusia menjadi empat macam,

1). Orang yang menolak untuk mengerjakan sholat sampai ia dibunuh, sementara di hatinya sama sekali tidak ada pengakuan akan kewajiban sholat dan tidak ada keinginan untuk mengerjakannya. Orang ini kafir menurut kesepakatan kaum muslimin.

2). Orang yang terus-menerus meninggalkan sholat sampai meninggalnya, sama sekali ia tidak pernah sujud kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Ia pun tidak mengakui kewajibannya maka orang ini pun kafir.

3). Orang yang tidak menjaga sholat lima waktu, ini adalah keadaan kebanyakan manusia. Sekali waktu ia mengerjakan sholat, pada kali lain ia meninggalkannya. Orang yang keadaannya seperti ini berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika Allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki akan diadzab, kalau tidak maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya. Dalilnya adalah hadits Ubadah bin ash-Shamit radliyallahu anhu yang telah disebutkan di atas.

4). Kaum mukminin yang menjaga sholat mereka. Inilah yang mendapat janji untuk masuk surga Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dari perbedaan pendapat yang ada dan telah disebutkan di atas maka penulis sendiri lebih condong pada pendapat yang menyatakan tidak kafir, karena perbuatan tersebut termasuk kufrun duna kufrin yakni kekufuran yang tidak menyebabkannya jatuh ke dalam kekufuran (murtadd atau keluar dari Islam). Dan inilah pendapat yang menenangkan hati kami. Wallahu ta’ala a’lam bi ash-Showab.

Al-Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata ketika menguatkan pendapat ini, “Terus-menerus kaum muslimin saling mewarisi dengan orang yang meninggalkan sholat (dari kalangan kerabat mereka). Seandainya orang yang meninggalkan sholat itu kafir dan tidak akan diampuni dosanya, tentu tidak boleh mewarisi dan tidak mewariskan harta kepada kerabatnya. Adapun jawaban argumen yang dibawakan oleh yang berpendapat kafirnya orang yang meninggalkan sholat dengan hadits Jabir, hadits Buraidah dan riwayat Abdullah bin Syaqiq, adalah bahwa hadits-hadits tersebut dibawa maknanya kepada orang yang meninggalkan sholat akan menjadi serikat bagi orang kafir dalam sebagian hukum yang diberlakukan kepadanya, yaitu ia harus dibunuh. Dengan takwil ini terkumpullah nash-nash syariat dan kaidah-kaidah yang telah disebutkan”. [36]

Demikian penjelasan singkat tentang hukumnya seorang muslim yang meninggalkan sholat. Jika ia meninggalkan sholat, baik karena sengaja, rasa malas, enggan, terlupa dan selainnya namun ia masih meyakini kewajiban sholat dan tidak menentang apalagi membenci kewajiban tersebut maka ia jatuh ke dalam kufur kecil tetapi tidak mengeluarkannya dari agama atau ia masih tetap seorang muslim. Disamping itu pula, ia telah melakukan dosa besar yang ia akan diancam ke dalam neraka dan tidak akan kekal di dalamnya.

Jika ia tidak mengerjakan sholat dan di dalam hatinya ia tidak meyakini akan wajibnya sholat, membenci dan menentang kewajiban tersebut bahkan berusaha menghalangi orang lain dari melakukannya, maka ia jatuh ke dalam kufur besar yang mengeluarkannya dari agama dan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan kekal di dalamnya. Selama ia telah diberi penjelasan, peringatan dan nashihat tetapi ia masih tetap di dalam keyakinan tersebut.

Wallahu a’lam bi ash-Showab.

 

[1] Lihat di https://cintakajiansunnah.wordpress.com/2014/02/24/saudaraku-ketahuilah-bahwa-sholat-itu-hukumnya-fardlu-ain/

[2]Sufyan bin Sa’id ats-Tsauriy, Abu ‘Amr al-Auza’iy, Abdullah Ibnul Mubarak, Hammad bin Zaid, Waki’ ibnul Jarrah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iy, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahuywah, dan murid/ pengikut mereka berpandangan bahwa orang yang meninggalkan sholat dibunuh. Kemudian mereka berbeda pendapat, apakah dibunuh sebagai seorang muslim yang menjalani hukum had sebagaimana dibunuhnya zina muhshan (orang yang sudah/pernah menikah lalu berzina), ataukah dibunuh karena kafir sebagaimana dibunuhnya orang yang murtad dan zindiq. [Ash-Sholatu wa Hukmu Tarikiha, karya Ibnu al-Qayyim rahimahullah, halaman 6 dan 18-19].

[3]Ash-Sholatu wa Hukmu Tarikiha, halaman 6.

[4] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: IV/ 681.

[5]Bila sampai vonis kafir dijatuhkan berarti diberlakukan padanya hukum-hukum orang kafir/murtad. Seperti tidak memperoleh warisan dari kerabatnya yang meninggal atau mewariskan kepada ahli warisnya yang muslim, tidak bisa menjadi wali nikah atau diwali nikahkan, bila sudah beristri (dan istrinya seorang muslimah) maka ia harus menceraikan istrinya, bila belum maka tidak boleh dinikahkan dengan wanita muslimah. Bila ia meninggal dunia, jenazahnya tidak diurus sebagaimana kaum muslimin dan tidak boleh dimakamkan di pekuburan kaum muslimin dan seterusnya.

[6]Al-Majmu’: III/19, al-Minhaj: II/257, Nail al-Authar: II/403.

[7]Ada dua riwayat dari al-Imam Ahmad dalam masalah membunuh orang yang meninggalkan sholat ini.

Pertama: Ia dibunuh sebagaimana dibunuhnya orang yang murtad. Demikian pendapat ini dipegangi oleh Sa’id bin Jubair, Amir asy-Sya’biy, Ibrahim an-Nakha’iy, Abu ‘Amr al-Auza’iy, Ayyub as-Sikhtiyaniy, Abdullah Ibnu al-Mubarak, Ishaq bin Rahiwayh, Abdul Malik bin Hubaib dari kalangan Malikiyyah, satu sisi dalam madzhab al-Imam asy-Syafi’iy, ath-Thahawiy menghikayatkan dari al-Imam asy-Syafi’iy sendiri dan Abu Muhammad ibnu Hazm menghikayatkannya dari ‘Umar bin al-Khaththab, Mu’adz bin Jabal, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah dan selain mereka dari kalangan shahabat.

Kedua: Dibunuh sebagai hukum had, bukan karena kafir. Demikian pendapat Malik, asy-Syafi’iy, dan Abu Abdillah Ibnu Baththah memilih riwayat ini. [Ash-Sholatu wa Hukmu Tarikiha, halaman 18-19].

 [8] Mukhtashor Shahih Muslim: 204, Shahih Sunan Abu Dawud: 3912, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2111, Shahih Sunan Ibnu Majah: 883, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2848, Misykah al-Mashabih: 569 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 563 dan juga masih banyak hadits yang semakna dengan hadits tersebut dari nomor 563-577.

[9] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2113, Shahih Sunan Ibnu Majah: 884, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 449, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4143, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 564 dan Misykah al-Mashabih: 574.

[10] Shahih Sunan Ibnu Majah: 3259, Irwa’ al-Ghalil: 2026, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7339, Misykah al-Mashabih: 580 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 566.

[11]lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 568 dan 570, 571.

[12]Al-Mughniy: III/ 355.

[13] Al-Mughniy: III/ 355.

[14]Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 573.

[15]Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 574.

[16] Al-Iman halaman 287 karya Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah.

[17] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2114 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 564.

[18]al-Majmu’: III/19, al-Minhaj: II/257, Tharh at-Tatsrib: I/323 dan Nail al-Authar: II/403.

[19]ash-Sholah wa at-Tahajjud halaman 96.

[20]Yakni si pezina tidak mungkin melakukan perbuatan zina dikala imannya sempurna. Hanyalah ia jatuh ke dalam perbuatan nista tersebut karena imannya sedang lemah. Dengan demikian hadits ini bukanlah menunjukkan bahwa pezina itu tidak punya iman dalam arti keluar dari iman dan masuk ke dalam kekafiran, namun si pezina tetap seorang muslim dengan keimanan yang sekadar mensahkan keislamannya.

 [21] Mukhtashor Shahih Muslim: 43, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4526, 4527, 5230, 5231, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2117, Shahih Sunan Abu Dawud: 3923, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3179, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 3000 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7706, 7707, 7708.

[22] Aun al-Ma’bud: XII/ 284.

[23] Al-Wajiz fi Fiq-hi as-Sunnah wa al-Kitab al-Aziz halaman 80 susunan DR Abdul Azhim bin Badawiy penerbit Dar al-Fawa’id dan Dar Ibnu Rajab cetakan keempat tahun 1430H/ 2009M.

[24]Tharhu at-Tatsrib: I/324-325.

[25] Shahih Sunan Abu Dawud: 1258, 410, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 447, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1150, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3242, 3243, Misykah al-Mashabih: 570 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 366.

[26] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1172, Shahih Sunan Abu Dawud: 770, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 452, Shahih Sunan at-Turmudziy: 337 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2020, 2571.

[27] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6320 dan Misykah al-Mashabih: 27.

[28] Mukhtashor Shahih Muslim: 11, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2126 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6319.

[29] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2091 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8061.

[30] Yang harus selalu diingat, hukum had bukanlah ditegakkan oleh orang per orang atau komunitas pengajian atau suatu perkumpulan/ organisasi perorangan, namun yang berwenang dalam penegakkannya adalah wulatul umur, yaitu pemerintah kaum muslimin.

 [31]Dan orang tersebut mati tentunya bukan sebagai orang kafir tapi sebagai orang fasik, yaitu seorang mukmin yang mengerjakan perbuatan dosa besar. Sehingga pengurusan jenazahnya tetap diselenggarakan oleh kaum muslimin sebagaimana penyelenggaraan jenazah orang Islam. Ia dimandikan, dikafani, disholati dan dikuburkan di pemakaman kaum muslimin.

[32] Mukhtashor Shahih Muslim: 1023, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1131, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3750, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2053, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7643, Irwa’ al-Ghalil: 2196, al-Majmu’: III/19 dan ash-Sholatu wa Hukmu Tarikiha, halaman 7.

[33]Al-Minhaj: II/257.

[34]Al-Majmu’: III/ 17, al-Minhaj: II/ 257, Nail al-Awthar: II/ 403.

[35]Majmu’ Fatawa: XXII/ 40-53.

[36]Al-Majmu’: III/ 19.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s