SAUDARAKU, BENARKAH SURAT AL-WAQI’AH ITU DAPAT MELANCARKAN RIZKI??

BEBERAPA HADITS LEMAH DARI SURAT AL-WAQI’AH

بسم الله الرحمن الرحيم

surat al-Waqi'ahDi dalam pandangan awam kaum muslimin yang kurang paham tentang hadits, surat al-Waqi’ah adalah salah satu surat Alquran yang dikenal sebagai surat penuh berkah dan memiliki banyak khasiat dan keutamaan yang besar. Oleh karenanya, sebagian kaum muslimin bersemangat menjadikan surat al-Waqi’ah sebagai surat unggulan, primadona dan favorit yang dibaca secara rutin pada setiap hari dan malam dalam rangka mendapatkan kecukupan dan kelebihan harta dari Allah ta’ala. Apalagi bagi sebagian orang yang hati dan pikirannya telah condong dan dikuasai oleh nafsu dunia, atau menjadi hamba dunia.

Diantara keutamaan dan khasiat membaca surat al-Waqi’ah yang telah beredar di tengah kaum muslimin melalui media cetak maupun elektronik dan diyakini oleh mereka akan kebenaran dan kedahsyatannya ialah sebagi berikut;

1. Barangsiapa yang membaca surat al-Waqi’ah, ia akan dicatat tidak tergolong dalam barisan orang-orang yang lalai.

2. Barangsiapa yang membaca surat al-Waqi’ah, ia tidak akan tertimpa kefakiran atau kemiskinan selama- lamanya.

3. Barangsiapa yang membaca surat al-Waqi’ah pada malam Jum’at, ia akan dicintai oleh Allah, dicintai oleh manusia, tidak melihat kesengsaraan, kefakiran, dan penyakit dunia.

4. Surat al-Waqi’ah adalah surat kekayaan.

5. Dan keutamaan-keutamaan lainnya.

Namun sangat disayangkan, keutamaan-keutamaan dan khasiat membaca surat al-Waqi’ah tersebut dijelaskan di dalam hadits-hadits yang derajatnya tidak shahih dan tidak tsabit dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sebagian hadits-hadits tersebut derajatnya dla’if (lemah) dan sebagian lainnya palsu.

Berikut ini kami akan sebutkan beberapa contoh hadits yang menjelaskan tentang keutamaan dan khasiat membaca surat al-Waqi’ah beserta penjelasan para ulama hadits tentang sisi cacatnya,

(1) HADITS PERTAMA

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ اْلوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا وَ مَنْ قَرَأَ كُلَّ لَيْلَةٍ ((لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ اْلقِيَامَةِ)) لَقِيَ اللهَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ وَجْهُهُ فِي صُوْرَةِ اْلقَمَرِ لَيْلَةَ اْلبَدْرِ

“Barangsiapa yang membaca surat al-Waqi’ah setiap malam maka dia tidak akan ditimpa kemiskinan selamanya. Dan barangsiapa setiap malam membaca surat al-Qiyamah, maka dia akan berjumpa dengan Allah pada hari Kiamat sedangkan wajahnya bersinar layaknya rembulan di malam purnama”.

(Dikeluarkan oleh ad-Dailamiy dari jalan Ahmad bin Umar al-Yamamiy dengan sanadnya sampai Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Iraqi di dalam kitab Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah an al-Akhbar asy-Syani’ah al-Maudlu’ah: I/301, dan disebutkan oleh al-Imam as-Suyuthiy dalam Dzail al-Ahadits al-Maudlu’ah nomor 177).

Al-Imam as-Suyuthiy rahimahullah berkata, “Ahmad bin Umar al-Yamamiy adalah seorang perawi hadits yang pendusta”.

Derajat hadits.

asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah berkata, “Maudlu’ (PALSU)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 290].

(2) HADITS KEDUA

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ اْلوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ

“Barangsiapa membaca surat al-Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kemiskinan”.

Hadits ini dikeluarkan oleh al-Harits bin Abu Usamah di dalam musnadnya (178 dari zawaidnya), Ibnu as-Sunniy di dalam al-Amal wa al-Lailah: 674, Ibnu Lal di dalam haditsnya (I/ 116), Ibnu Basyran di dalam al-Amaliy, al-Baihaqiy di dalam Syu’ab al-Iman dan selain mereka dari jalan Abu Syuja’ dari Abu Thibah dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu secara marfu’.

Berkata adz-Dzahabiy, “Abu Syuja’ itu tidak dikenal (tidak dikenal jati dirinya dan tidak diketahui kredibilitasnya) dari Abu Thibah, dan siapakah Abu Thibah itu??, dari Ibnu Mas’ud dengan hadits ini secara marfu’.

Dengan perkataan ini juga diisyaratkan bahwa Abu Thibah juga tidak dikenal. Di dalam penjelasan tersebut bahwa dia juga majhul (tidak dikenal jati dirinya).

Kemudian di dalam sanad hadits tersebut terdapat idlthirab (kekacauan/ keguncangan dalam menyebutkan nama rawi) dari 3 segi. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah telah menjelaskan hal in di dalam kitabnya ‘al-Lisan’ tentang penjelasan Abu Syuja’ ini, silahkan bagi yangmenginginkannya untuk merujuk kepada kitab tersebut.

Di dalam kitab Faydl al-Qadir [VI/ 201] susunan al-Imam an-Manawiy, “Berkata az-Zaila’iy mengikuti kumpulan (para ulama), ‘hadits ini mempunyai ilat (cacat) dari beberapa sisi, yaitu;

Pertama, Sanadnya terputus sebagaimana yang dijelaskan al-Daruquthniy dan selainnya.

Kedua, Terjadi kemungkaran dalam matannya sebagaimana yang dijelaskan al-Imam Ahmad.

Ketiga, Para perawinya berstatus lemah sebagaimana yang dikatakan Ibnu al-Jauziy,

Keempat, Terjadi kekacauan dalam pembacaan nama perawi.

Beberapa ulama telah bersepakat dalam melemahkan hadits ini di antaranya: al-Imam Ahmad, Abu Hatim dan anaknya, al-Daruquthniy, al-Baihaqiy, dan selain mereka. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 457-458]. Ringkasnya, hadits ini memiliki cacat sehingga menjadi tidak shahih.

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if (lemah)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 289 dan Dla’if al-Jami ash-Shaghir: 5773].

(3) HADITS KETIGA

      عَلِّمُوْا نِسَاءَكُمْ سُوْرَةَاْلوَاقِعَةِ فَإِنَّهَا سُوْرَةُ اْلغَنِيِّ

            “Ajarkanlah surat al-Waqi’ah kepada wanita-wanita kalian, karena surat tersebut adalah surat orang yang kaya”.

Diriwayatkan oleh ad-Dailamiy di dalam Musnad al-Firdaus dari Anas bin Malik radliyallahu anhu.

            Derajat hadits.

            Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Dla’if (lemah)”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 3870 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 3730].

(4) HADITS KEEMPAT

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ اْلوَاقِعَةِ وَ تَعَلَّمَهَا لَمْ يُكْتَبْ مِنَ اْلغَافِلِيْنَ وَلَمْ يَفْتَقِرْ هُوَ وَ أَهْلُ بَيْتِهِ

“Barangsiapa membaca surat al-Waqi’ah dan mempelajari (tafsir)nya, maka ia tidak dicatat (oleh Allah) termasuk orang-orang yang lalai, dan ia sekeluarga tidak akan mengalami kemiskinan.”

Hadits ini disebutkan oleh al-Imam as-Suyuthiy di dalam Dzail al-Ahadits al-Maudlu’ah hadits nomor 277, riwayat Abu asy-Syaikh dengan sanadnya dari Abdul Quddus bin Habib dari al-Hasan dari Anas secara marfu’.

Berkata al-Imam as-Suyuthiy, “Abdul Quddus bin habib adalah matruk”.

Hadits ini derajatnya Maudlu’ (PALSU), karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Abdul Quddus bin Habib, ia pernah memalsukan hadits, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian ulama hadits.

Ibnu Hibban rahimahullah berkata tentangnya, “Dia pernah memalsukan hadits dengan mengatasnamakan para perawi yang tsiqoh (terpercaya). Oleh karenanya, TIDAK BOLEH mencatat dan meriwayatkan hadits darinya”. [Lihat kitab al-Majruhin II/131].

Aku (yaitu asy-Syaikh al-Albaniy) berkata, berkata Abdur-Razzaq, “Aku tidak pernah melihat (Abdullah) bin Al-Mubarak memberikan penilaian Kadzdzab (seorang pendusta) dengan jelas kecuali kepada Abdul Quddus (bin Habib)”. [Lihat Mizan al-I’tidal II/643 nomor 5156]. Ibnu Hibban telah menjelaskan bahwa dia (yaitu Abdul Quddus bin Habib) itu seorang pemalsu hadits. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 459].

Derajat hadits.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 291].

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya, “Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat al-Waqi’ah pada setiap malam, maka ia tidak akan tertimpa kemiskinan selamanya”. Apa makna kalimat al-Faqah (kemiskinan) tersebut? Apakah hadits ini shahih?”.

Beliau menjawab, “Hadits ini tidak kami ketahui memiliki jalur yang shahih, kami tidak mengetahui ia memiliki jalur yang shahih. Maka tidak boleh menyandarkan kepadanya. Tetapi hendaknya ia membaca Alqur’an untuk mendalami (ajaran) agama Islam dan memperoleh kebaikan. Karena ROsulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Alqur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat kepada para ahlinya (maksudnya, orang-orang yg rajin membaca, mempelajari, menghafal dan mengamalkan hukum-hukumnya)”. (HR. Muslim)

Dan beliau bersabda pula, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Alqur’an, maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan tersebut dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat”. Maka hendaknya seseorang (muslim/ muslimah) membaca Alqur’an (dengan niat DAn tujuan) agar memperoleh keutamaan membacanya dan mendapat kebaikan (pahala), bukan untuk mendapatkan kekayaan dunia”. Selesai. (Sumber: http://www.binbaz.org.sa)

Wallahu a’lam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s