SAUDARAKU, MULIAKANLAH RAMBUTMU…

HUKUM SEPUTAR RAMBUT (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

sisir 2Sebagaimana telah beredar suatu istilah di masyrakat, “rambutmu adalah mahkotamu”. Maka Islam telah menyebutkan di banyak dalil hadits shahih tentang masalah rambut, dari memelihara atau mencukurnya, menyisirnya, meminyakinya dan sebagainya.

Oleh sebab itu, sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang baik dan taat hendaknya kita memperhatikan hal tersebut dengan seksama dengan cara membaca dan mempelajari dalil-dalil tersebut dengan panduan Alqur’an dan hadits-hadits yang shahih, mengamalkannya, istikomah di dalamnya dan menyampaikan apa yang telah kita ketahui dan amalkan kepada kaum muslimin yang lainnya.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ شَعَرٌ فَلْيُكْرِمْهُ

“Siapa yang mempunyai rambut, hendaknya memuliakannya”. [HR Abu Dawud: 4163, ath-Thahawiy di dalam al-Musykil, al-Baihaqiy di dalam Syu’ab al-Iman dan Abu Muhammad al-Adl. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [1]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat dalil akan disukainya memuliakan rambut dengan menggunakan minyak (rambut), menyisir dan membiarkannya tanpa mencukurnya karena menyelisihi perilaku memuliakan (rambut) kecuali jika sudah panjang”. [2]

Memuliakan rambut adalah dengan memanjangkannya sebatas sebahu sebagaimana diperbuat oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam atau juga boleh mencukurnya sebagaimana yang Beliau lakukan pada waktu haji wada’ dan yang Beliau perintahkan kepada para shahabat untuk mencukurnya.

Namun Beliau melarang qoza’ yaitu mencukur sebahagian rambut di kepala dan membiarkan sebahagian lainnya. Yakni jika seseorang ingin mencukur rambutnya hendaknya ia mencukur seluruhnya dan jika tidak, hendaknya ia membiarkan pula seluruhnya.

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, bahwasanya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam melihat seorang anak yang dipotong sebagian rambut dan dibiarkan sebagian lainnya. Maka beliau melarangnya akan hal itu dan bersabda,

احْلِقُوهُ كُلَّهُ أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّه

“Cukur semua rambutnya atau biarkan semuanya”. [HR Abu Dawud: 4195, an-Nasa’iy: VIII/ 130 dan Ahmad: II/ 88, 106. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Hadits tersebut terdapat dalil akan larangan dari mencukur sebahagian (rambut) kepala dan meninggalkan sebahagian yang lainnya (qoza’)”. [4]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنِ اْلقَزَعِ وَ اْلقَزَعُ أَنْ يَحْلِقَ رَأْسَ الصَّبِيِّ فَيَتْرُكُ بَعْضَ شَعَرِهِ

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang dari qoza’ (yaitu memotong rambut kepala anak kecil dan meninggalkan sebahagian rambutnya yang lain)”. [HR Abu Dawud: 4193, 4194, Muslim: 2120 dan an-Nasa’iy: VIII/ 130, 182. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat larangan dari mencukur sebahagian dari (rambut) kepala dan meninggalkan sebahagian lainnya”. [6]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Hadits ini menunjukkan akan larangan dari qoza”. Berkata al-Imam an-Nawawiy, “Para Ulama berijmak akan larangan qoza’ ini dengan larangan tanzih”. [7]

Batas rambut

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah membatasi rambut kaum pria jika ingin dipanjangkan adalah sebatas bahunya tidak boleh melebihinya, sebagaimana yang Beliau lakukan terhadap rambutnya. Jika rambutnya melebihi bahu maka perbuatan tersebut termasuk menyerupai kaum wanita, dan Allah ta’ala telah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita.

Dari al-Barra’ bin Azib radliyallahu anhu berkata,

مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِيْ لِمَّةٍ أَحْسَنَ مِنْ حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم شَعَرُهُ يَضْرِبُ مَنْكِبَيْهِ بَعِيْدَ مَا بَيْنَ اْلمـَنْكِبَيْنِ لَيْسَ بِالطَّوِيْلِ وَ لَا بِاْلقَصِيْرِ

“Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rosulullah. Rambut Rosulullah sampai mengenai kedua bahunya, tidak panjang namun juga tidak pendek”. [HR Muslim: 2337 (92), Abu Dawud: 4183 dan an-Nasa’iy: VIII/ 133. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu (berkata),

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضْرِبُ شَعَرُهُ مَنْكِبَيْهِ

 “Bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, rambutnya itu menyentuh kedua pundaknya”. [HR al-Bukhoriy: 5904, Muslim: 2338 (95) dan an-Nasa’iy: VIII/ 183. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Hadits ini menunjukkan disukainya meninggalkan (membiarkan) rambut dan mengurainya di antara dua bahu atau antara dua telinga dan pundak”. [10]

Dari al-Barra’ bin Azib radliyallahu anhu berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم لَهُ شَعَرٌ يَبْلُغُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki rambut yang mencapai cuping kedua telinganya”. [HR Abu Dawud: 4184. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [11]

Dari Anas radliyallahu anhu berkata,

كَانَ شَعَرُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ

“Rambutnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah mencapai cuping kedua telinganya”. [HR Abu Dawud: 4185. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [12]

Dari Anas radliyallahu anhu berkata,

كَانَ شَعَرُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ

“Rambutnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah mencapai pertengahan kedua telinganya”. [HR Abu Dawud: 4186, Muslim: 2338 (96) dan an-Nasa’iy: VIII/ 183. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [13]

Dari al-Barra’ bin Azib radliyallahu anhu berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلًا مَرْبُوْعًا بَعِيْدَ مَا بَيْنَ اْلمـَنْكِبَيْنِ عَظِيْمَ اْلجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ

 “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu adalah seseorang yang memiliki tinggi badan sedang, pundaknya lebar, rambutnya lebat panjang sampai ke kedua cuping telinganya.” [HR Muslim: 2337 (91)]. [14]

BATAS RAMBUT WANITA

Rambut wanita melambangkan kecantikan dan keelokan dirinya. Sehingga ia senantiasa perlu merawat rambut tersebut selama tidak boros dan membuang-buang waktu. Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Seorang pria itu semakin tampan dengan jenggotnya dan seorang wanita semakin anggun dengan jalinan rambutnya. [15]

Lalu bagaimana keadaan rambut tersebut, apakah boleh dipendekkan?

Para ulama berselisih pendapat mengenai memendekkan rambut bagi wanita. Ulama Syafi’iyah berpendapat bolehnya wanita memendekkan rambut kepala sebagaimana disebutkan dalam Raudloh ath-Thalibin I/ 382. Mereka berdalil dengan riwayat dari Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, “Aku pernah menemui Aisyah bersama saudara sepersusuannya. Dia bertanya pada Aisyah mengenai mandi janabat yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam”. (Lalu) saudaranya tadi berkata,

وَكَانَ أَزْوَاجُ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم يَأْخُذْنَ مِنْ رُءُوسِهِنَّ حَتَّى تَكُونَ كَالْوَفْرَةِ

“Istri-istri Nabi shallallahu alaihiwa sallam mengambil rambut kepalanya (maksudnya: memendekkannya) sampai ada yang tidak melebihi ujung telinga”. [HR Muslim: 320].

Al-Imam an-Nawawiy berkata, “Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya memendekkan rambut bagi wanita. Wallahu a’lam”. [16]

Sedangkan ulama lainnya dari Hambali berpendapat makruhnya wanita memendekkan rambut jika tidak ada udzur. Ulama Hambali yang lain menganggapnya haram.

Dari perselisihan pendapat tersebut, yang rajih (terkuat) adalah pendapat yang dikemukakan pertama, yaitu bolehnya memendekkan rambut bagi wanita dengan syarat selama tidak tasyabbuh (meniru-niru) gaya orang kafir dan model rambut laki-laki. Namun yang lebih baik adalah membiarkan rambut tersebut tetap terurai panjang karena rambut wanita adalah bagian dari kecantikan dan keelokan dirinya.

Beberapa sisi pentarjihan (penguatan) pendapat boleh di atas,

1- Tidak ada dalil yang melarang wanita memendekkan rambut.

2- Dalam haji atau umrah di antara bagian manasik adalah wajib mengambil sebagian rambut bagi wanita. Dan ini syarat untuk tahallul.

3- Ada dalil yang mendukung dari perbuatan istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya memendekkan rambut bagi wanita.

Intinya, rambut pendek tidaklah masalah, namun yang terbaik adalah berambut panjang karena itulah keelokan diri wanita. Yang jadi masalah besar adalah jika wanita tidak berjilbab. Ini tentu dosa besar. Sebab sebagaimana telah diketahui akan wajibnya para wanita untuk mengenakan jilbab untuk menutupi rambut dan kepala mereka.

Fatwa Tentang Rambut; Rambut Gondrong Bagi Pria dan Rambut Pendek Bagi Wanita

Fatwa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah.

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai para laki-laki yang memanjangkan rambut mereka (maksudnya gondrong).

Jawaban beliau, “Meniru berbagai kebiasaan yang bermanfaat dan tidak dilarang oleh syariat adalah suatu hal yang boleh-boleh saja. Sedangkan meniru kebiasan-kebiasaan yang membahayakan atau dilarang oleh syariat adalah suatu hal yang tidak diperbolehkan.

Tentang para laki-laki yang berambut gondrong kami berkomentar bahwa ini adalah perbuatan yang menyelisihi kebiasaan yang berlaku di zaman kita saat ini.

Memelihara rambut kepala adalah perkara yang diperselisihkan oleh para ulama apakah termasuk sunnah yang diperintahkan untuk dikerjakan ataukah bagian dari perkara adat kebiasaan masyarakat sehingga sepatutnya seorang muslim mengikuti kebiasaan masyarakat di zamannya.

Pendapat yang paling kuat menurutku, hal ini adalah bagian dari adat kebiasaan yang seyogyanya seorang muslim itu mengikuti kebiasaan umumnya orang di zamannya.

Jika kebiasaan masyarakat di suatu masa adalah memelihara dan memanjangkan rambut maka seorang muslim hendaknya melakukan hal tersebut. Sebaliknya jika kebiasaan masyarakat adalah menggundul rambut kepala atau cukur pendek maka hendaknya seorang muslim menyesuaikan diri.

Namun permasalahan yang paling mendasar adalah pada umumnya orang-orang yang berambut gondrong itu tidak memelihara jenggot mereka. Anehnya setelah itu mereka beranggapan bahwa mereka itu meneladani Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. Klaim meneladani Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam yang mereka katakan adalah suatu hal yang tidak benar.

Yang benar mereka itu mengikuti hawa nafsu mereka. Bukti bahwa pengakuan mereka mengikuti Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah suatu hal yang tidak benar adalah kita jumpai mereka menelantarkan salah satu kewajiban agama mereka semisal memelihara jenggot. Banyak dari mereka itu tidak memelihara jenggot padahal mereka diperintahkan untuk memelihara jenggot.

Contoh yang lain adalah mereka menyepelekan sholat dan kewajiban-kewajiban agama yang lain. Ini semua adalah bukti bahwa tindakan mereka berambut gondrong tidaklah dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. Yang benar, rambut gondrong yang mereka miliki adalah suatu kebiasaan yang mereka anggap baik lalu mereka kerjakan”.

[Majmu Fatawa wa Rosa’il asy-Syaikh Ibnu Utsaimin jilid XI halaman 119, fatwa nomor 41 dalam kitab ath-Thaharah, Terbitan Dar ats-Tsuraya Cetakan kedua tahun 1426 H].

Mencukur rambut

            Di antara memuliakan rambut adalah mencukurnya. Sebagaimana yang Beliau perintahkan kepada para shahabat untuk memanggil tukang cukur, lalu Beliau memerintahkan tukang cukur tersebut untuk mencukur rambut di kepala para putranya Ja’far pada hari terbunuhnya ia dalam peperangan sebagai seorang syahid.

            Dari Abdullah bin Ja’far bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersikap halus kepada keluarga Ja’far selama tiga kali mendatangi mereka. Lalu Beliau bersabda,

            لَا تَبْكُوْا عَلَى أَخِى بَعْدَ اْليَوْمِ ادْعُوا لِى بَنِى أَخِى

            “Janganlah kalian menangisi saudaraku setelah hari ini. Panggilkan anak-anak saudaraku!”. Lalu kamipun datang, seolah-olah kami adalah anak-anak burung. Beliau berkata, “Panggilkan tukang cukur untukku!”. Lalu datanglah tukang cukur tersebut dan mencukur (rambut-rambut) kepala kami”. [HR Abu Dawud: 4192, an-Nasa’iy: VIII/ 182 dan Ahmad: I/ 204. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

            Begitupun Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mencukur rambutnya pada waktu menunaikan ibadah haji dan memerintahkan para shahabat radliyallahu anhum untuk melakukan sebagaimana yang beliau lakukan.

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم حَلَقَ رَأْسَهُ فِى حَجَّةِ اْلوَدَاعِ

“Bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mencukur (rambut) kepalanya pada waktu haji wada”. [HR Abu Dawud: 1980. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berdoa,

اَللَّهُمَّ ارْحَمِ اْلمـُحَلِّقِيْنَ

“Ya Allah, rahmatillah orang-orang yang mencukur”. Mereka berkata, “Wahai Rosulullah, bagaimana dengan orang-orang yang memotong (rambutnya)?”. Beliau berdoa, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur”. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah, bagaimana dengan orang-orang yang memotong?”. Beliau menjawab, “Dan juga orang-orang yang memotong”. [HR Abu Dawud: 1979, at-Turmudziy: 912 dan Ibnu Majah: 3043, 3044. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

            Demikian perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk para pria dengan mencukur rambut kepala mereka agar botak setelah menunaikan ibadah haji sebagai bentuk tahallul. Namun bagi kaum wanita hal itu tidak berlaku, sebab mereka hanya diperintahkan memotong sebahagian rambut mereka saja.

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            لَيْسَ عَلَى النِّسَاءِ اْلحَلَقُ إِنَّمَا عَلَى النِّسَاءِ التَّقْصِيْرُ

            “Tidak ada bagi wanita mencukur tetapi bagi wanita adalah memotong”. [HR Abu Dawud: 1984, 1985. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]

Dari Aisyah radliyalahu anha,

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم نَهَى أَنْ تَحْلِقَ المـَرْأَةُ رَأسَهَا

“Bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang wanita untuk mencukur rambut (kepala)nya”. [HR at-Turmudziy: 914. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

            Dan ketika mencukur rambut, disunnahkan untuk mencukur bagian kanan terlebih dahulu lalu kemudian sebelah kirinya.

            Dari Hisyam bin Hasan –dengan isnadnya ini-, Ia berkata di dalamnya, ‘Belia bersabda kepada tukang cukur, “Mulailah dengan sisi yang sebelah kanan maka cukurlah!”. [HR Abu Dawud: 1942. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Larangan bersisir setiap hari

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang umatnya untuk berlebih-lebihan dalam menyisir, yakni menyisir rambutnya setiap hari. Namun hendaknya mereka menyisir rambutnya kadang-kadang saja.

Dari Abdullah bin Mughoffal radliyallahu anhu berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنِ التَّرَجُّلِ إِلَّا غِبًّا

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang bersisir kecuali kadang-kadang (sehari bersisir dan sehari tidak)”. [HR Abu Dawud: 4159, at-Turmudziy: 1756, an-Nasa’iy: VIII/ 132, Ahmad: IV/ 86, al-Baghowiy dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [23]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Hadits ini menunjukkan akan dibencinya menyibukkan diri dengan bersisir setiap hari, karena hal tersebut termasuk dari hidup bermewah-mewahan”. [24]

Dari Hamid bin Abdurrahman berkata, ‘Aku pernah bertemu dengan seseorang yang menemani Nabi Shallallahu alaihi wa sallam –sebagaimana Abu Hurairah radliyallahu anhu menemani Beliau- selama empat tahun. Abu Hurairah berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنْ يَمْتَشِطَ أَحَدُنَا كُلَّ يَوْمٍ أَوْ يَبُوْلَ فِى مُغْتَسَلِهِ أَوْ يَغْتَسِلَ الرَّجُلُ بِفَضْلِ اْلمـَرْأَةِ وَ اْلمـَرْأَةُ بَفَضْلِ الرَّجُلِ وَ لِيَغْتَرِفَ جَمِيْعًا

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang seseorang di antara kamu untuk bersisir setiap hari, buang air kecil di tempat mandi (penampungan air), mandinya seorang pria dari air bekas istrinya dan seorang wanita mandi dari air bekas suaminya dan hendaklah mereka menciduknya bersama-sama”. [HR an-Nasa’iy: I/ 130 dan Abu Dauwd: 28. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

Dari Abdullah bin Syaqiq berkata, “Seorang shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang menjabat sebagai gubernur di Mesir didatangi oleh salah seorang dari shahabatnya. Namun sang Shahabat tersebut terlihat rambutnya kusut acak-acakan. Ia bertanya, “Aku melihat rambutmu acak-acakkan padahal engkau adalah seorang gubernur?”. Ia menjawab,

كَانَ نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَنْهَانَا عَنِ اْلإِرْفَاهِ قُلْنَا: وَ مَا اْلإِرْفَاهُ؟ قَالَ: التَّرَجُّلُ كُلَّ يَوْمٍ

“Dahulu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang kami dari irfah”. Kami bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan irfah itu?”. Ia menjawab, “Yakni bersisir setiap hari”. [HR an-Nasa’iy: VIII/ 132. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

Ada juga dari jalur lain dari Abdullah bin Buraidah radliyallahu anhu, diriwayatkan oleh Abu Dawud 4160, an-Nasa’iy: VIII/ 185 dan Ahmad: VI/ 22. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. [27]

Bersisir dari sebelah kanan

عن عائشة قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ  صلى الله عليه و سلم يُحِبُّ التَّيَمُّنَ مَا اسْتَطَاعَ فىِ شَأْنِهِ كُلِّهِ فىِ طَهُوْرِهِ وَ تَرَجُّلِهِ وَ تَنَعُّلِهِ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyukai mendahulukan kanan apa yang Beliau sanggupi di dalam keadaan seluruhnya, di dalam bersuci, bersisir dan menggunakan sandal”. [HR al-Bukhoriy: 168, 426, 5380, 5854, 5926, Muslim: 268, an-Nasa’iy: VIII/ 185 dan Ibnu Khuzaimah: 179. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [28]

عن عائشة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فىِ الطَّهُوْرِ إِذَا تَطَهَّرَ وَ فىِ تَرَجُّلِهِ إِذَا تَرَجَّلَ وَ فىِ انْتِعَالِهِ إِذَا انْتَعَلَ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyukai mendahulukan kanan di dalam bersuci apabila Beliau bersuci, bersisir apabila Beliau bersisir dan bersandal apabila Beliau menggunakan sandal. [HR Ibnu Majah: 401, Muslim: 268, Abu Dawud: 4140 dan an-Nasa’iy: I/ 78. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[29]

عن عائشة قَالَتْ كَانَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يُحِبُّ التَّيَامُنَ يَأْخُذُ بِيَمِيْنِهِ وَ يُعْطِى بِيَمِيْنِهِ وَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِى جَمِيْعِ أُمُوْرِهِ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyukai mendahulukan kanan, mengambil dengan tangan kanan, memberi dengan tangan kanan dan menyukai dengan sebelah kanan dalam seluruh urusan-urusannya. [HR an-Nasa’iy: VIII/ 133. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [30]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ يَسْدُلُوْنَ شَعَرَهُ وَ كَانَ اْلمـُشْرِكُوْنَ يَفْرِقُوْنَ شُعُوْرَهُمْ وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ اْلكِتَابِ فِيْمَا لَمْ يُؤْمَرْ فِيْهِ بِشَيْءٍ ثُمَّ فَرَقَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم بَعْدَ ذَلِكَ

“Bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dulunya mengurai rambutnya ke belakang, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambut mereka membelah (ke kiri dan ke kanan) dan ahlul kitab menyisir rambutnya ke belakang. Selama tidak ada perintah lain, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam senang menyesuaikan diri dengan ahlul kitab. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam membelah rambutnya ke kiri dan ke kanan”. [HR an-Nasa’iy: VIII/ 184 dan Ibnu Majah: 3632. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [31]

 

[1] Shahih Sunan Abu Dawud: 3509, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 500 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6493.

[2] Nail al-Awthar: I/ 158 susunan al-Imam asy-Syaukaniy, tahqiq Ishomuddin ash-Shobabithiy cetakan Dar Zamzam Riyadl tahun 1413H/ 1993M.

[3] Shahih Sunan Abu Dawud: 3535, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4675, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1123 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 212.

[4] Nail al-Awthar: I/ 161.

[5] Mukhtashor Shahih Muslim: 1382, Shahih Sunan Abu Dawud: 3533, 3534 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4676.

[6] Bahjah an-Nazhirin: III/ 153.

[7] Nail al-Awthar: I/ 160.

[8] Shahih Sunan Abu Dawud: 3523, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4685, 4687 dan Mukhtashor asy-Syama’il al-Muhammadiyah: 3.

[9] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4831.

[10] Nail al-Awthar: I/ 157.

[11] Shahih Sunan Abu Dawud: 3524.

[12] Shahih Sunan Abu Dawud: 3525.

[13] Shahih Sunan Abu Dawud: 3526, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4830 dan Mukhtashor asy-Syama’il al-Muhammadiyah: 21.

[14] Mukhtashor Shahih Muslim: 1557.

[15] Tarikh Dimasyq, Ibnu ‘Asakir, asy-Syamilah, XXXVI/ 343.

[16] Syar-h Muslim: IV/ 5

[17] Shahih Sunan Abu Dawud: 3532 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4823.

[18] Shahih Sunan Abu Dawud: 1743.

[19] Shahih Sunan Abu Dawud: 1742, Shahih Sunan at-Turmudziy: 727, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2468, 2469 dan Irwa’ al-Ghalil: 1084.

[20] Shahih Sunan Abu Dawud: 1747, 1748, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5403 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 605.

[21] Shahih Sunan at-Turmudziy: 728.

[22] Shahih Sunan Abu Dawud: 1745.

[23] Shahih Sunan Abu Dawud: 3505, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1437, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4680, 4681, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6870 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 501.

[24] Nail al-Awthar: I/ 159.

[25] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 232, Shahih Sunan Abu Dawud: 22.

[26] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4683 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 502.

[27] Shahih Sunan Abu Dawud: 3506, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4834 dan SIlislah al-Ahadit ash-Shahihah: II/ 4.

[28]Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 110, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4835, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4918 dan Misykah al-Mashobih: 400.

[29]Shahih Sunan Ibnu Majah: 322, Mukhtashor Shahih Muslim: 124, Shahih Sunan Abi Dawud: 3487, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 109, Irwa’ al-Ghalil: 93 dan Mukhtashor asy-Syama’il al-Muhammadiyyah: 69

[30]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4684.

[31]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4833, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2927, Mukhtashor as-Syama’il al-Muhammadiyah: 24 dan Hijab al-Mar’ah al-Muslimah halaman 98.

 

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in ADAB, RAMBUT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s