SUDAHKAH ANDA BERQURBAN ???

HUKUM BERQURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Qurban 1Menyembelih hewan qurban (udl-hiyah) adalah sesuatu yang disyari’atkan oleh ajaran Islam berdasarkan Alqur’an, Sunnah dan Ijma’ (konsensus kaum muslimin). [1]

Namun apakah menyembelih qurban tersebut hukumnya wajib ataukah sunnah?. Disini para ulama memiliki perbedaan pandangan dan pendapat.

Pendapat pertama: Diwajibkan bagi orang yang mampu

Yang berpendapat seperti ini adalah Abu Yusuf dalam salah satu pendapatnya, Rabi’ah, al-Awza’iy, Abu Hanifah, al-Laits bin Sa’ad, dan sebagian ulama Malikiy dalam salah satu pendapatnya. [2]

Berkata DR Abdul Azhim bin Badawiy, “(Hukumnya berqurban) adalah wajib bagi yang memiliki kemampuan atasnya”. [3]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…”. [4]

Di antara dalil mereka adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah sholat dan berkurbanlah (nahr)”. [QS. al-Kautsar/ 108: 2].

Ayat ini menggunakan kata kerja perintah dan asal perintah adalah wajib. Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam diwajibkan hal ini, maka begitu pula dengan umatnya. [5]

Yang menunjukkan wajibnya pula adalah hadits Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata bahwasanya Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rizki) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat sholat kami”. [HR. Ibnu Majah: 3123 dan Ahmad: II/ 321. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [6]

Dari Mikhnaf bin Sulaim ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam saat beliau melakukan wukuf di Arafah. Kemudian beliau bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً وَ عَتِيرَةً

“Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya bagi  setiap rumah/ keluarga harus memberikan udl-hiyah (memotong kurban) dan Atirah setiap tahunnya”. Tahukah kalian apa itu Atirah?. (Atirah) adalah yang dinamakan oleh orang-orang dengan hewan yang disembelih pada bulan Rajab”. [HR Abu Dawud: 2788, Ahmad: IV/ 215, at-Turmudziy: 1518 dan Ibnu Majah: 3125. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [7] Lalu Atirah telah dinasakh (dihapus). [8]

            Jundub bin Sufyan al-Bajaliy berkata, aku ikut menyaksikan Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada hari raya nahar (qurban). Beliau bersabda,

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ

“Barangsiapa menyembelih binatang qurban sebelum sholat (iedul adl-ha), hendaknya ia mengulangi qurbannya, dan barangsiapa belum menyembelih maka hendaknya ia menyembelih (hewan qurbannya)”. [HR al-Bukhoriy: 5562].

Jundub bin Sufyan dia berkata, “Saya pernah ikut hadir sholat Idul Adl-ha bersama Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam, tidak lama setelah selesai sholat, beliau melihat daging qurban yang telah disembelih, maka beliau bersabda,

مَنْ كَانَ ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ أَوْ نُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى وَمَنْ كَانَ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

“Siapa yang menyembelih hewan qurbannya sebelum sholat, hendaknya ia mengulanginya sebagai gantinya. Dan siapa yang belum menyembelih hendaknya menyembelih dengan menyebut nama Allah”. [HR Muslim: 1960 (1), an-Nasa’iy: II/ 203, Ibnu Majah: 3152 Ahmad: IV/ 312, al-Baihaqiy, ath-Thayalisiy dan Abu Ya’la. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Dari hadits ini difahami, bahwa ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan mengulang berqurban berarti berkurban hukumnya wajib, sebagaimana shahabat yang disuruh mengulang sholat ketika meninggalkan rukun sholat.

Pendapat kedua: Sunnah dan Tidak Wajib

Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyembelih qurban adalah sunnah mu’akkadah. Pendapat ini dianut oleh ulama Syafi’iyyah, ulama Hambaliy, pendapat yang paling kuat dari al-Imam Malik, dan salah satu pendapat dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah).

Pendapat ini juga adalah pendapat Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Bilal, Abu Mas’ud al-Badriy, Sa’id bin al-Musayyab, Alqomah, al-Aswad, Atho’, Malik, Ahmad, Abu Yusuf, Ishaq, Abu Tsaur, al-Muzniy, Ibnu al-Mundzir, Dawud dan selain mereka sebagaimana dikatakan oleh al-Imam an-Nawawiy rahimahullah.[10]

Berkata asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu asy-Syaikh, “Berqurban itu hukumnya adalah sunnah muakkadah”. [11]

Berkata Sayyid Sabiq, “Berqurban itu hukumnya sunnah mu’akkadah dan meninggalkannya bagi yang memiliki kemampuan adalah makruh”. [12]

Di antara dalil mayoritas ulama adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini,

Dari Ummu Salamah radliyallahu anha bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya”. [HR. Muslim: 1977 (41), an-Nasa’iy: II/ 202, Abu Dawud: 2791 dan Ibnu Majah: 3150. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Ummu Salamah radliyallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَ أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika telah masuk sepuluh (Dzulhijjah) dan salah seorang dari kalian ingin berqurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun”. [HR Muslim: 1977 (39), an-Nasa’iy: II/ 202, Ibnu Majah: 3149, Ahmad: VI/ 289 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Yang dimaksud di sini adalah dilarang memotong rambut dan kuku shahibul qurban itu sendiri yaitu dari sejak awal bulan Dzulhijjah sampai dengan disembelihnya hewan qurbannya. [15]

Berkata Sayyid Sabiq, “Maka sabda Nabi, ‘dan salah seorang dari kalian ingin berqurban’, merupakan dalil atas sunnahnya (berqurban) dan tidak wajib”. [16]

Hadits ini mengatakan, “dan salah seorang dari kalian ingin”, hal ini dikaitkan dengan kemauan. Seandainya menyembelih qurban itu wajib, maka cukuplah Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, “maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya”, tanpa disertai adanya kemauan.

Begitu pula alasan tidak wajibnya karena Abu Bakar dan Umar radliyallah anhuma tidak menyembelih selama setahun atau dua tahun karena khawatir jika dianggap wajib.

Al-Baihaqiy meriwayatkan bahwa Abubakar dan Umar radliyallahu anhuma sengaja tidak berkurban agar tidak diduga oleh orang lain bahwa berkurban itu hukumnya wajib.

Dari Abu Sarihah al-Ghifariy (yaitu Hudzaifah bin Usaid) berkata,

أن أبا بكر الصديق وعمر رضي الله عنهما كانا لا يضحيان كراهية أن يقتدى بهما فيظن من رآهما أنها واجبة

Bahwa Abu Bakar dan Umar radliyallahu anhuma tidak berqurban karena tidak suka diteladani (orang lain), lalu orang yang melihat mereka berdua menduga bahwa berqurban itu wajib”. [Atsar riwayat al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Cukup jelas dalam riwayat di atas bahwa Abubakar dan Umar radliyallahu anhuma sengaja meninggalkan berkurban karena tidak suka jadi teladan yang akan diduga orang bahwa berkurban itu hukumnya wajib.

Mereka melakukan semacam ini karena mengetahui bahwa Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri tidak mewajibkannya. Ditambah lagi tidak ada satu pun shahabat yang menyelisihi pendapat mereka. [18]

Dari Abu Mas’ud Al-Anshory beliau berkata,

إِنِّى لأَدَعُ الأَضْحَى وَإِنِّى لَمُوسِرٌ مَخَافَةَ أَنْ يَرَى جِيرَانِى أَنَّهُ حَتْمٌ عَلَىَّ

“Sesungguhnya aku meninggalkan berkurban padahal aku memiliki kemampuan, hanya karena khawatir para tetanggaku melihat bahwa hal tersebut adalah keharusan bagiku”. [Atsar riwayat al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Sanadnya Shahih juga]. [19]

Ibnu Umar berfatwa, bahwa berqurban adalah Sunnah dan Ma’ruf. Al-Imam al-Bukhoriy meriwayatkan secara Mu’allaq dengan Shighot Jazim (tegas);

بَاب سُنَّةِ الْأُضْحِيَّةِ وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ هِيَ سُنَّةٌ وَمَعْرُوفٌ

“Bab Sunnahnya berqurban. Ibnu Umar berkata, “Berqurban itu sunnah dan ma’ruf”. [Atsar riwayat al-Bukhoriy di dalam kitab al-Adlahiy]. [20]

Demikian pula Ibnu Abbas yang memerintahkan membeli daging untuk dibagi-bagikan, bukan berqurban dengan hewan secara langsung.

Menurut Ibnu Hazm dalam al-Muhalla, tidak ada satupun riwayat shahih yang menunjukkan bahwa ada shahabat yang mewajibkan berqurban. Ibnu Hazm berkata;

لاَ يَصِحُّ عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّ الأُضْحِيَّةَ وَاجِبَةٌ

“Tidak ada riwayat shahih dari seorang shahabatpun bahwa berqurban hukumnya wajib”. [21]

Dari beberapa riwayat dan pendapat di  atas, kami lebih cenderung pada pendapat kedua (pendapat mayoritas ulama) yang menyatakan menyembelih qurban itu hukumnya adalah sunnah dan tidak wajib. Di antara alasannya adalah karena pendapat ini didukung oleh perbuatan Abu Bakar dan Umar radliyallahu anhuma yang pernah tidak berqurban. Seandainya tidak ada dalil dari hadits Nabi yang menguatkan salah satu pendapat di atas, maka cukup perbuatan mereka berdua sebagai hujjah yang kuat bahwa qurban tidaklah wajib namun sunnah (dianjurkan).

فَإِنْ يُطِيعُوا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوا

“Jika mereka mengikuti Abu Bakar dan Umar, pasti kalian akan mendapatkan petunjuk”. [HR Muslim: 681 (311) dari Abu Qotadah radliyallahu anhu].

Namun sudah sepantasnya seorang yang telah memiliki kemampuan dalam harta untuk dapat menunaikan ibadah qurban ini agar ia terbebas dari tanggung jawab dan perselisihan yang ada. Asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi mengatakan, “Janganlah meninggalkan ibadah qurban jika seseorang mampu untuk menunaikannya. Karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sendiri memerintahkan, “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu”. [22] Selayaknya bagi mereka yang mampu agar tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan. Wallahu a’lam”. [23]

Atas dasar ini, hukum berkurban adalah Sunnah Muakkadah bukan wajib. Sebab dari dalil-dalil dan penjelasan di atas, hukumnya berqurban adalah berkisar antara sunnah mu’akkadah dan wajib. Meskipun pendapat yang mewajibkan adalah pendapat yang Islami  dan Syar’iy untuk diikuti oleh kaum muslimin yang sepakat dengan cara pengambilan hukumnya.

Yakinlah…! bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang telah mereka keluarkan. Karena setiap pagi Allah Subhanahu wa ta’ala mengutus dua orang malaikat. Yang satu berdo’a, Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq”. Dan yang kedua berdo’a, “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit). [HR al-Bukhoriy: 1442 dan Muslim: 1010. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [24]

Syarat Diwajibkan atau Disunnahkannya Qurban

Jika kita memilih pendapat wajib atau sunnah, ada beberapa syarat yang bisa jadi alasan seseorang diwajibkan atau disunnahkan untuk berqurban. Berikut syarat-syarat tersebut:

  1. Muslim. Orang kafir tidak diwajibkan atau disunnahkan untuk berqurban karena qurban adalah bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). Sedangkan orang kafir bukanlah ahlul qurbah.
  2. Orang yang bermukim. Musafir tidaklah wajib untuk berqurban.  Ini bagi yang menyatakan bahwa berqurban itu wajib. Namun bagi yang tidak mengatakan wajib, maka tidak berlaku syarat ini. Karena kalau dinyatakan wajib, maka itu jadi beban. Jika dikatakan sunnah, tidaklah demikian.
  3. Kaya (berkecukupan). Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa qurban itu disunnahkan bagi yang mampu, yaitu yang memiliki harta untuk berqurban, lebih dari kebutuhannya di hari Idul Adl-ha, malamnya dan selama tiga hari tasyriq juga malam-malamnya.
  4. Telah baligh (dewasa) dan berakal. [25]

Demikian syarat diwajibkan atau disunnahkannya dalam berqurban. Jika kita memiliki kelebihan harta dan sedang mukim, hendaklah kita berqurban karena qurban adalah sebaik-baik qurbah (pendekatan diri pada Allah) dan semoga harta kita pun semakin berkah dan kita kelak akan mendapatkan banyak balasan kebaikan pada hari kiamat.

Wallahu a’lam bish showab.

[1] Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah: V/75 dan Fiqh as-Sunnah: II/ 28 susunan Sayyid Sabiq dengan Takhrij hadits asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, Cetakan kedua tahun 1426H/ 2005M, Mu’assasah ar-Risalah.

[2] Nail al-Awthar: V/ 131 susunan al-Imam asy-Syaukaniy, Cetakan pertama, tahun 1413H/ 1993M, Dar al-Hadits.

[3] Al-Wajiz fi Fiqh as-Sunnah wa al-Kitab al-Aziz halaman 500, susunan DR Abdul Azhim bin Badawiy Cetakan keempat tahun 1430H/ 2009M, Dar al-Fawa’id dan Dar Ibnu Rajab.

[4] Syar-h al-Mumti’: III/408.

[5] Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah: V/77.

[6] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2532 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6490.

[7] Shahih Sunan Abu Dawud: 2421, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1225 dan Shahih Sunan Ibnu Majah: 2533.

[8] HR al-Bukhoriy: 5473, Muslim: 1976, Abu Dawud: 2831, at-Turmudziy: 1512, an-Nasa’iy: VII/ 167, ad-Darimiy: II/ 80, Ahmad: II/ 229, 239, 279, 490, al-Baihaqiy dan ath-Thayalisiy dari Abu Hurairah radliyallahu anhu. Hadits ini dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Mukhtashor Shahih Muslim: 1260, Shahih Sunan Abu Dawud: 2455, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3938, 3939, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1220, Irwa’ al-Ghalil: 1180 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7544.

[9] Mukhtashor Shahih Muslim: 1153, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4072, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2551, Irwa’ al-Ghalil: 1154 (IV/ 369) dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6482.

[10] Nail al-Awthar: V/ 131.

[11] Kitab al-Fiqh al-Muyassar fi Dlou’ al-Kitab wa as-Sunnah halaman 190 susunan asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu asy-Syaikh, Cetakan pertama tahun 1430H/ 2009M, Dar A’lam as-Sunnah.

[12] Fiqh as-Sunnah: II/ 28.

[13] Mukhtashor Shahih Muslim: 1251, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2549, Shahih Sunan Abu Dawud: 2422, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4067, Irwa’ al-Ghalil: 1163 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 574, 6489.

[14] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2548, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4069, Irwa’ al-Ghalil: 1163 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 520.

[15] Sebagaimana di dalam atsar, Dari al-Harits bin Abdurrahman dari Abu Salamah dari Ummu Salamah berkata, “Apabila masuk sepuluh hari bulan Dzulhijjah maka janganlah kamu memotong rambutmu dan jangan pula kukumu hingga engkau menyembelih (hewan) qurbanmu”. [Riwayat al-Hakim dan ia berkata, “Atsar ini adalah syahid yang shahih meskipun mauquf. Lihat Irwa’ al-Ghalil: IV/ 377].

[16] Fiqh as-Sunnah: II/ 28.

[17] Irwa’ al-Ghalil: 1139 (IV/ 354-355) dan Fiqh as-Sunnah: II/ 28.

[18] Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah: V/76-77.

[19] Irwa’ al-Ghalil: IV/ 355.

[20] Fat-h al-Bariy: X/ 3, Dar al-Fikr.

[21] Al-Muhalla: VII/ 358, Fiqh as-Sunnah: II/ 28 pada hasyiyah (catatan kaki)nya dan Nail al-Awthar: V/ 131.

[22] HR Ahmad: I/200, at-Turmudziy: 2518, an-Nasa’iy: VIII/327-328 dan ath-Thabraniy dalam al-Mu’jam al-Kabir dari al-Hasan bin Ali radliyallahu anhum. Dan at-Turmudziy berkata: Hadits hasan shahih dan asy-Syaikh al-Albaniy menshahihkannya di dalam Shahih Sunan at-Trumudziy: 2045, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5269, Irwa’ al-Ghalil: 2074, Ghoyah al-Maram: 179 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3378.

[23] Adlwa’ al-Bayan fi idloh al-Qur’an bi al-Qur’an: 1120, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah Beirut, cetakan kedua, tahun 2006.

[24] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1930, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5797 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 905. Untuk lebih lengkapnya, silahkan lihat di https://cintakajiansunnah.wordpress.com/2012/07/19/masih-kikirkah-anda/

[25] Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah: V/79-80 dan Kitab al-Fiqh al-Muyassar halaman 190.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s