KA’BAH ADALAH QIBLAT UMAT ISLAM !!!

cinta kajian sunnah

cinta kajian sunnah

HUKUM MENGHADAP QIBLAT DALAM SHOLAT

بسم الله الرحمن الرحيم

Menghadap qiblat dalam sholat adalah merupakan salah satu dari syarat sahnya sholat. Para ulama telah berijmak akan kewajiban menghadap qiblat dalam pelaksanaan sholat. Kewajiban menghadap qiblat ini berdasarkan Alqur’an, Sunnah dan ijmak para ulama.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa tidak ada perselisihan pendapat dalam kewajiban menghadap qiblat. [1]

Berkata asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu asy-Syaikh hafizhohullah, “Syarat-syarat sholat itu ada sembilan; 1). Islam, 2). Berakal, 3). Baligh, 4). Bersih dari dua hadats yang kecil dan yang besar, 5). Telah masuk waktu sholat yang ditentukan, 6). Menutup aurat dengan sesuatu yang tidak menampakkan kulit, 7). Menjauhi najis pada badan, pakaian dan tempat, 8). Menghadap qiblat dan 9). Niat (untuk mengerjakan sholat)”.[2]

Adapun DR Abdul Azhim bin Badawiy hafizhohullah berkata, “Disyaratkan sahnya sholat sebagai berikut; 1). Mengetahui masuknya waktu, 2). Bersih dari dua hadats, 3). Bersihnya pakaian, badan dan tempat sholat (dari najis), 4). Menutup aurat, 5). Menghadap qiblat dan 6). Niat (untuk mengerjakan sholat)”. [3]

Allah ta’ala telah berfirman dalam Alqur’an,

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya”. [QS al-Baqarah/ 2: 144].

Sebelum ayat ini turun, Ummat Islam pada saat itu menghadap Bait al-Maqdis dalam sholatnya. Kemudian ayat ini turun  menasakh (menghapus) hukum tersebut dan memerintahkan untuk menghadap qiblat. Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, “Yang pertama kali dinasakh dalam Alqur’an adalah perkara qiblat”.

Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menggunakan kata perintah (فَوَلِّ) yang menunjukkan perintah untuk menghadapkan wajah ke arab qiblat. Dan arah kiblat ditunjukan dalam kalimat (شَطْرَ) yang bermakna arah. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ta’ala memerintahkan untuk menghadap qiblat dari semua arah muka bumi, baik timur, barat, utara dan selatan”. [4]

Berkata asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Alu Bassam, “Qiblat waktu pertama kali hijrah adalah ke arah Baitul Maqdis (Syam) kemudian dipindah ke arah Ka’bah. Sesungguhnya qiblat kaum muslimin telah tetap ke arah Ka’bah yang mulia. Maka wajib menghadap ke arah bangunan ka’bah ketika secara langsung melihat (menyaksikan)nya dan menghadap ke arahnya ketika jauh darinya”. [5]

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Dan firman-Nya ((Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya)), Allah ta’ala telah memerintahkan agar menghadap qiblat dari segala arah di bumi, apakah dari timur, barat, utara dan selatan. Dan tidak ada pengecualian dari hal ini sedikitpun kecuali sholat nafilah (sunnah), karena seseorang boleh mengerjakan sholat ke arah mana saja sedangkan hatinya tetap menghadap qiblat. Demikian juga dalam keadaan berperang, seseorang sholat dalam segala keadaan. Begitupun ketika seseorang dalam keadaan jahil (tidak tahu) akan arah qiblat maka ia boleh sholat sesuai dengan ijtihadnya, meskipun ia keliru di dalam hal tersebut. Karena Allah ta’ala tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. [6]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat kewajiban menghadap qiblat di dalam sholat dan ditempat manapun seseorang menunaikan sholat maka ia mesti menghadap ke arah Mekkah”. [7]

Al-Imam al-Qurthubiy rahimahullah berkata, “Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa ka’bah adalah qiblat dari semua penjuru. Dan merekapun berijmak bahwasanya barangsiapa yang menyaksikannya secara langsung dengan mata kepala maka diwajibkan atasnya untuk menghadapnya. Dan bahwasannya barangsiapa tidak menghadapnya sedang dia melihat langsung (ka’bah) dan mengetahui arahnya maka tidak ada sholat baginya dan dia harus mengulang sholatnya”. [8]

Al-Imam al-Qurthubiy rahimahullah juga mengatakan, “Dan mereka (para ulama) telah berijmak bahwa barangsiapa ghaib (yaitu tidak melihat ka’bah secara langsung) maka hendaknya dia menghadap arah ka’bah tersebut. Jika tidak nampak, maka baginya menggunakan petunjuk yang memungkinkan dari bintang, angin, gunung dan selainnya yang memungkinkan bisa dijadikan petunjuk untuk menunjukan arah qiblat”. [9]

Adapun landasan dalil dari Sunnah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhoriy dan Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwa Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ

“Jika engkau hendak mendirikan sholat maka sempurnakanlah wudlumu, kemudian menghadaplah ke qiblat lalu bertakbirlah”.  [HR. al-Bukhoriy: 6251, Muslim: 397 (46), Ibnu Majah: 1060 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Hadits ini menunjukkan akan wajibnya menghadap qiblat dan ini juga sesuai ijmak (kesepakatan) kaum muslimin kecuali dalam keadaan lemah atau merasa takut lantaran berkecamuknya peperangan atau ketika sholat tathowwu’ (sunnah) sebagaimana akan datang penjelasannya. Dan sungguh-sungguh Alqur’an dan sunnah yang mutawatir telah menunjukkan hal tersebut”. [11]

Berkata al-Imam ash-Shan’aniy rahimahullah, “Hadits ini menunjukkan kewajiban menghadap qiblat sebelum takbiratul ihram. Sungguh telah berlalu kewajibannya dan penjelasan akan dimaafkan menghadap (kepada selain qiblat) bagi yang sholat sunnah dalam keadaan berkendaraan”. [12]

Dua dalil dan penjelasannya di atas, menerangkan akan kewajiban menghadap qiblat dalam sholat dan bahwa perkara ini termasuk perkara yang sudah diijmakkan oleh para ulama dan ummat Islam. Kemudian, pengamalan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabatnya memperkuat dalil masalah ini, berikut beberapa riwayat yang menjelaskan perihal menghadap qiblat.

Dari al-Barra’ bahwa Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pertama kali datang ke Madinah tinggal di rumah kakek atau paman-paman beliau dari kalangan Anshar. Ketika itu Rosulullah sholat menghadap Baitul Maqdis (Al-Quds atau Yerusalem) antara 16 atau 17 bulan lamanya. [13] Sesungguhnya Rosulullah lebih suka Baitullah (Ka’bah) sebagai qiblatnya. Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pertama kali melaksanakan sholat dengan menghadap Ka’bah adalah sholat Ashar yang dilaksanakannya secara berjamaah. Kemudian salah seorang yang selesai bermakmum kepada Nabi keluar dan pergi melewati sebuah masjid pada saat jamaahnya sedang ruku’ menghadap Baitul Maqdis. Lantas orang itu berkata, “Demi Allah, baru saja saya sholat bersama Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam menghadap ke Baitullah di Mekkah”. Maka dengan segera mereka mengubah qiblat menghadap ke Baitullah. Orang Yahudi dan ahli kitab mulanya sangat bangga ketika Nabi dan para pengikutnya sholat menghadap Baitul Maqdis. Tetapi setelah umat Islam beralih ke Baitullah mereka mencela perubahan itu. Zuhair berkata, “Abu Ishaq mengatakan dari al-Barra’ dalam hadits ini, bahwa banyak orang yang telah meninggal di masa qiblat masih ke Baitul Maqdis dan banyak juga yang terbunuh setelah qiblat menghadap ke Baitullah. Kami tidak mengerti bagaimana hukumnya sholat itu”. Lalu turunlah ayat, “Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu”. [QS al-Baqarah/2 : 143].

Dan dari Ibnu Umar radliyallahu anhu berkata, ketika orang-orang berada di Quba’ (waktu sholat shubuh) tiba-tiba ada seseorang datang kepada mereka, lalu ia berkata,

إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ وَ قَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةَ فَاسْتَقْبِلُوْهَا وَ كَانَتْ وُجُوْهُهُمْ إِلَى الشَّامِ فَاسْتَدَارُوْا إِلَى اْلكَعْبَةِ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, pada malam ini telah diturunkan kapadanya ayat Alquran, dan sesungguhnya ia diperintahkan untuk menghadap qiblat, oleh karena itu menghadaplah ke qiblat, sedang muka-muka mereka waktu itu menghadap ke Syam, kemudian mereka berputar ke jurusan Ka’bah”. [HR al-Bukhoriy: 403, Muslim: 526 (13) dan Ahmad: II/ 113].

Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik radliyallahu anhu,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ يُصَلِّى نَحْوَ بَيْتِ اْلـمَقْدِسِ فَنَزَلَتْ ((قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاءِ فَلَنُوَلَّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهُ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ)) فَمَرَّ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلَمَةَ وَ هُمْ رُكُوْعٌ فِى صَلَاةِ اْلفَجْرِ وَ قَدْ صَلُّوْا رَكْعَةً فَنَادَى أَلَا إِنَّ اْلقِبْلَةَ قَدْ حُوِّلَتْ فَمَالُوْا كَمَا هُمْ نَحْوَ اْلقِبْلَةِ

“Sesungguhnya Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam, pernah sholat menghadap kearah baitul maqdis, lalu turunlah ayat, ((Sesungguhnya kami mengetahui berbolak-baliknya mukamu ke langit, oleh karena itu (sekarang) Kami memalingkan kamu ke satu kiblat yang pasti kamu ridloi, maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram)). Kemudian seorang laki-laki dari Bani Salamah berjalan (sedang mereka semua sedang ruku’ dalam sholat subuh) dan mereka sudah sholat satu raka’at. Lalu ia menyeru, “Ketahuilah! sesunguhnya qiblat telah dipindahkan. Lalu mereka berpaling sebagaimana keadaan mereka ke arah qiblat”. [HR Muslim: 527 (15), Ahmad: III/ 284 dan Abu Dawud: 1045. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Berikut penjelasan ulama dari empat madzhab yang menjelaskan tentang menghadap qiblat dalam sholat,

Al-Kasaniy rahimahullah menjelaskan bahwa menghadap qiblat sudah diijmakkan oleh ummat ini, kemudian beliau berkata, “Hukum asalnya, sesungguhnya menghadap qiblat dalam sholat merupakan syarat tambahan yang tidak dipahami maknanya”. [15]

Ibnu Rusyd rahimahullah berkata, “Ummat Islam telah sepakat bahwa menghadap ke arah al-Bait (Ka’bah) termasuk syarat dari syarat-syarat (sahnya) sholat”. [16]

Al-Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata, “Bab Ketiga Mengenai Menghadap qiblat.  Menghadap qiblat adalah syarat sah sholat fardlu kecuali dalam keadaan ketakutan yang teramat sangat dalam peperangan yang dibolehkan, dan semua hal yang menyebabkan ketakutan.  Menghadap qiblat juga menjadi syarat sah untuk sholat sunnah kecuali dalam keadaan ketakutan yang teramat sangat, perjalanan yang mubah, dan tidak mampu, seperti orang yang sakit dan tidak ada yang menghadapkannya”. [17]

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Telah kami sebutkan bahwasanya menghadap qiblat adalah syarat sahnya sholat. Tidak ada perbedaan antara sholat fardlu dengan sholat sunnah  karena menghadap qiblat itu adalah syarat sholat, dan dalam masalah ini sama antara fardlu dan sunnah; seperti halnya bersuci dan menutup aurat.  Dikarenanya firman Allah Ta’ala, “Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya, berlaku umum baik untuk sholat fardlu maupun nafilah”. [18]

Demikianlah penjelasan beberapa ulama dari empat madzhab tentang menghadap qiblat. Pandangan ulama empat madzhab ini, dijelaskan pula oleh al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah tatkala menjelaskan salah satu hadits tentang menghadap qiblat, beliau berkata, “Sesungguhnya yang diwajibkan bagi orang yang jauh dari Ka’bah adalah menghadap ke arah bukan pada bangunan Ka’bah (al-Ain).  Ini adalah pendapat yang dianut oleh (al-Imam) Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad serta pendapat ini adalah pendapat yang nampak dari al-Syafi’iy sebagaimana dinukil oleh al-Muzanniy”. [19]

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apakah hukumnya apabila sholat telah ditunaikan dan jelas tidak menghadap ke arah qiblat setelah berijtihad (mencari arah qiblat)?. Apakah ada perbedaan sholat di negeri umat muslim atau negeri kaum kafir atau di padang sahara?”. Lalu beliau menjawab, “Jika seorang muslim dalam suatu perjalanan (safar) atau berada di suatu negara yang tidak mudah baginya mencari arah qiblat maka sholatnya sah, apabila ia telah berijtihad di dalam menentukan arah kemudian (ternyata) ia sholat ke arah selainnya. Adapun jika ia berada di negara kaum muslimin, maka sholatnya tidak sah sebab masih memungkinkan baginya untuk bertanya kepada orang akan arah qiblat sebagaimana masih memungkinkan baginya untuk mengetahui arah qiblat melalui bentuk masjid”. [20]

Hampir seperti ini pula yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya mengenai sekelompok orang yang sholat menghadap ke arah selain qiblat. [21]

Yang dikecualikan dalam masalah menghadap qiblat yaitu sholat sunnah dalam perjalanan, dalam kondisi ini maka mengikuti kemana arah kendaraan, kemudian dalam kondisi perang dan seseorang yang tidak mengetahui arah qiblat setelah dia berusaha berijtihad mencari arah qiblat yang benar. [22]

Dari Jabir radliyallahu anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

“Adalah Rosulullah shallallahu alahi wa sallam sholat di atas kendaraannya dengan menghadap arah yang dituju kendaraan. Dan jika beliau hendak sholat fardlu maka beliau turun dan menghadap qiblat”. [HR al-Bukhoriy: 400, 1094, 1099, 4140].

Ibn Hajar al-Asqalaniy rahimahullah menjelaskan faidah hukum dari hadits tersebut dengan mengatakan, “Hadits ini menunjukan untuk tidak meninggalkan menghadap qiblat dalam sholat fardlu, dan perkara ini sudah ijmak. Akan tetapi tatkala dalam kondisi takut yang sangat maka itu mendapatkan rukhsah”. [23]

Dari Ibn Umar radliyallahu anhuma bahwa beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءً صَلاَةَ اللَّيْلِ إِلاَّ الْفَرَائِضَ وَ يُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ

“Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan sholat sunnah di atas kendaraan dengan menghadap arah yang dituju kendaraan dan juga beliau melaksanakan witir di atasnya. Dan beliau tidak pernah mengerjakan sholat wajib di atas kendaraannya”. [HR al-Bukhoriy: 1000].

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُسَبِّحُ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ حَيْثُ كَانَ وَجْهُهُ يُومِئُ بِرَأْسِهِ وَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ

“Bahwa Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan sholat sunnah di atas punggung unta kemanapun arah menghadap. Beliau memberikan isyarat dengan kepalanya. Ibnu Umarpun melakukan hal serupa”. [HR. al-Bukhoriy: 1105].

Dalil-dalil diatas menunjukkan bahwa seorang muslim dibolehkan untuk mengerjakan sholat nafilah (sunnah) di atas kendaraan, semisal kuda, unta, kendaraan bermotor dan semisalnya jika memungkinkan. Ia menghadapkan kendaraan tersebut ke arah qiblat atau tidak menghadapkannya dan kemudian mengikuti arah kendaraan itu berjalan. Lalu ia sholat dengan memberikan isyarat dengan kepalanya, ia menundukkan kepalanya waktu sujud lebih rendah daripada waktu ruku.

Adapun sholat fardlu, maka sebaiknya ia turun dari kendaraan tersebut dan sholat dengan menghadap qiblat kecuali kendaraan yang tidak mungkin berhenti di sembarang tempat semisal, pesawat terbang, kapal laut, kereta api ataupun kendaraan umum.

Semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bish showab.

[1] Majmu’ah al-Fatawa: XI/ 483 susunan Ahmad bin Abd al-Halim Ibnu Taimiyyah Takhrij Amir al-Jazar dan Anwar al-Baz, Maktabah al-Ubaikan Riyadl, Cetakan Pertama, tahun 1998.

[2] Kitab al-Fiqh al-Muyassar halaman 66-67 susunan asy-Syaikh Shalih bin Abdulaziz bin Muhammad Alu asy-Syaikh cetakan pertama tahun 1430H/ 2009M, Dar A’lam as-Sunnah.

[3] Al-Wajiz fi Fiqh as-Sunna wa al-Kitab al-Aziz halaman 98-102 susunan DR Abdulazhim bin Badawiy, Cetakan keempat tahun 1430H/ 2009M, Dar IbnU Rajab.

[4] Umdah at-Tafsir an al-Hafizh Ibni katsir: I/ 195 susunan Ahmad Syakir,  Dar al-wafa Beirut, Cetakan kedua tahun 2005.

[5] Taysir al-Allam Syar-h Umdah al-Ahkam: I/ 160 susunan asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Alu Bassam, Cetakan Pertama tahun 1414H/ 1994M, Maktabah Dar al-Faiha’ dan Maktabah Dar as-Salam.

[6] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: I/ 241 sususan al-Hafizh Ibnu Katsir, Dar al-Fikr, tahun 1412H/ 1992M.

[7] Aysar at-Tafasir: I/ 129 susunan asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy, Maktabah al-Ulum wa al-Hikam, Cetakan pertama tahun 1415H/ 1994M.

[8] al-Jami Li ahkam al-Qur’an: II/ 156 susunan Muhammad bin Ahmad al-Qurthubiy, Dar al-Kitab al-Arabiy Beirut, Cetakan Keempat, tahun2001.

[9] al-Jami Li ahkam al-Qur’an: II/ 156.

[10] Mukhtashor Shahih Muslim: 261, Shahih Sunan Ibnu Majah: 869, Irwa al-Ghalil: 289, Ash-l Shifat Sholah an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam: I/ 55 dan Shifat Sholah an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam min at-Takbir ila at-Taslim ka’annaka taroha halaman 75.

[11] Nail al-Authar Syar-h Muntaqo al-Akhbar: II/ 193 susunan Muhammad bin Ali asy-Syaukaniy, Dar al-Hadits Kairo, tahun 1413H/ 1993M.

[12] Subul as-Salam Syar-h Bulugh al-Maram: I/ 463 dan juga I/ 397, susunan al-Imam al-Allamah Muhammad bin Isma’il ash-Shan’aniy (wafat tahun 1182H), Maktabah al-Ma’arif ar-Riyadl Cetakan Pertama tahun 1427H/ 2006M.

[13] HR Muslim: 525 dan Mukhtashor Shahih Muslim: 262.

[14] Shahih Sunan Abu Dawud: 923 dan Ash-l Shifah Sholah an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam: I/ 75 susunan asy-Syaikh al-Albaniy, Cetakan Pertama tahun 1427H/ 2006M, Maktabah al-Ma’arif.

[15] Bada’i ash-Shana’iy Fi Tartib al-Syara’iy: I/ 308 susunan Abu Bakr bin Mas’ud al-Kasani, Ihya al-Turats al-Arabi Beirut, Cetakan Kedelapan, tahun 1998.

[16] Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid halaman 93, susunan Muhammad bin Ahmad bin Rusyd,  Cetakan Pertama, Dar al-Kutub al-Arabiy Beirut, tahun 2009.

[17] Raudlah al-Thalibin wa Umdah al-Muftin: I/ 209, susunan Yahya bin Syaraf al-Nawawiy, al-Maktab al-Islamiy Beirut, Cetakan Ketiga, 1991.

[18] al-Mughniy: II/ 100, susunan Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah,  Dar Alam al-Kutub Riyadl, Cetakan Ketiga, 1997.

[19] Nail al-Authar Syar-h Muntaqo al-Akhbar: II/ 197.

[20] Arkan al-Islam halaman 149 susunan Muhammad Luqman as-Salafiy, Cetakan Pertama tahun 1420H, Dar ad-Da’iy.

[21] Fatawa al-Aqidah wa ma’ahu Fatawa ash-Shiyam wa al-Hajj wa az-Zakah wa ash-Sholah halaman 548-549, Dar Ibnu al-Haitsam.

[22] Untuk lebih jelas dan luasnya silahkan baca beberapa dalil dan atsar lainnya di dalam kitab Ash-l Shifah Sholah an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam: I/ 55-78.

[23] Fat-h al-Bariy Syar-h Shahih al-Bukhoriy: I/ 503 susunan al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalaniy, Dar al-Fikr.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s