SUDAH BENARKAH NIAT SHOLAT ANDA ???

cinta kajian sunnah

cinta kajian sunnah

PEMBAHASAN SEPUTAR NIAT DALAM SHOLAT

بسم الله الرحمن الرحيم

 Oleh; Asy-Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhohullah

        Mengeraskan bacaan niat tidaklah wajib dan tidak pula sunnah dengan ijmak (kesepakatan) seluruh ulama. Bahkan hal tersebut adalah bid’ah yang bertentangan dengan syari’at. Jika seseorang berkeyakinan bahwa perbuatan ini adalah bagian dari ajaran syariat, maka ia orang yang jahil, menyimpang, dan berhak mendapatkan hukuman ta’zir jika ia tetap bersikeras dengan keyakinannya, dan tentu saja setelah diberikan pengertian dan penjelasan. Lebih parah lagi jika perbuatannya itu mengganggu orang yang ada di sebelahnya, atau ia mengulang-ulang bacaan niatnya.

Hal ini difatwakan oleh lebih dari seorang ulama. Di antaranya adalah al-Qodli Abu ar-Rabi’ Sulaiman bin Umar asy-Syafi’iy berkata,

الجهر بالنّية وبالقراءة خلف الإمام ليس من السنّة بل مكروه فإن حصل به تشويش على المصلّين فحرام ومن قال بإن الجهر بلفظ النيّة من السنّة فهو مخطئ ولا يحلّ له ولا لغيره أن يقول في دين الله تعالى بغير علم

“Mengeraskan bacaan niat atau mengeraskan bacaan Alqur’an di belakang imam, bukan termasuk sunnah, bahkan makruh hukumnya. Jika membuat berisik jama’ah yang lain, maka hukumnya adalah haram. Yang berpendapat bahwa mengeraskan niat itu hukumnya sunnah, itu salah. Tidak halal baginya atau bagi yang lain berbicara tentang agama Allah Ta’ala tanpa ilmu (dalil)”.

Di antaranya juga, Abu Abdillah Muhammad bin al-Qasim at-Tunisi al-Malikiy berkata,

النيّة من أعمال القلوب فالجهر بها بدعة مع ما في ذلك من التشويش على الناس

“Niat itu termasuk amalan hati., mengeraskannya adalah bid’ah. Terlebih lagi jika perbuatan itu membuat berisik orang lain”.

Di antaranya juga, asy-Syaikh ‘Alauddin bin al-Aththar berkata,

ورفع الصّوت بالنيّة مع التشويش على المصلّين حرام إجماعاً ومع عدمه بدعة قبيحة، فإن قصد به الرّياء كان حراماً من وجهين كبيرة من الكبائر والمنْكِرُ على مَنْ قال بأن ذلك من السنّة مصيب ومصوّبة مخطئ ونسبته إلي دين الله اعتقاداً كفر وغير اعتقاد معصية

ويجب على كل مؤمن تمكَّن مِن زجره، ومنعه وردعه ولم ينقل هذا النقل عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولاعن أحدٍ من أصحابه ولا عن أحد ممن يقتدى به من علماء الإسلام

“Meninggikan (mengeraskan) suara untuk membaca niat sehingga membuat berisik di antara jama’ah hukumnya haram secara ijmak (konsensus para ulama). Jika tidak membuat berisik, ia adalah perbuatan bid’ah yang jelek. Jika ia melakukan hal tersebut dalam rangka riya, maka haramnya berlipat ganda. Ia juga merupakan dosa besar. Yang mengingkari bahwa perbuatan ini adalah sunnah, ia berbuat benar. Yang membenarkan bahwa perbuatan ini adalah sunnah, ia salah (keliru). Menisbatkan perbuatan ini pada agama Allah adalah keyakinan yang kufur. Jika tidak sampai meyakini hal tersebut, maka termasuk perbuatan maksiat. Setiap muslim wajib dengan serius mewaspadai perbuatan ini, melarangnya dan membantahnya. Tidak ada satupun riwayat dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang hal ini, tidak pula dari satupun shahabatnya, tidak pula dari para ulama Islam yang meneladani mereka”. [1]

Demikian juga, melafalkan niat secara sirr (samar) tidak wajib menurut para imam madzhab yang empat juga para imam yang lain. Tidak ada seorang pun yang berpendapat hal itu wajib. Baik dalam sholat, thaharah ataupun puasa.

Al-Imam Abu Dawud pernah bertanya kepada al-Imam Ahmad,

بقول المصلّي قبل التكبير شيئاً؟ قال: لا

“Apakah orang yang sholat mengucapkan sesuatu sebelum takbir?. Al-Imam Ahmad menjawab, “Tidak ada”. [2]

Al-Imam as-Suyuthiy rahimahullah berkata,

ومن البدع أيضاً: الوسوسة في نيّة الصّلاة ولم يكن ذلك من فعل النبي صلى الله عليه وسلم ولا أصحابة كانوا لا ينطقون بشيء من نية الصلاة بسوى التكبير وقد قال تعالى: لقد كان لكم في رسول الله أُسوة حسنة

“Termasuk bid’ah, was-was dalam niat sholat. Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dan para shahabat beliau tidak pernah begitu. Mereka tidak pernah sedikitpun mengucapkan lafal niat sholat selain takbir. Dan Allah telah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Telah ada pada diri Rosulullah teladan yang baik”. [QS al-Ahzab/ 34: 21].

Al-Imam asy-Syafi’iy rahimahullah berkata,

الوسوسة في النية الصلاة و الطهارة من جهل بالشرع أو خبل بالعقل

“Was-was dalam niat sholat dan thaharah itu adalah kebodohan terhadap syariat atau kekurang-warasan dalam akal”. [3]

Melafalkan niat itu menimbulkan banyak efek negatif. Anda lihat sendiri orang yang melafalkan niat dengan jelas dan rinci, lalu baru mencoba bertakbir. Ia menyangka pelafalan niatnya itu adalah usaha untuk menghadirkan niat.

Al-Imam Ibnu al-Jauziy berkata,

ومن ذلك تلبيسه عليهم فِي نية الصلاة فمنهم من يَقُول : أصلى صلاة كذا ثم يعيد هَذَا ظنا مِنْهُ أنه قد نقض النية والنية لا تنقض وأن لم يرض اللفظ ومنهم من يكبر ثم ينقض ثم يكبر ثم ينقض فَإِذَا ركع الإمام كبر الموسوس وركع معه فليت شعري مَا الذي أحضر النية حينئذ وما ذاك إلا لأن إبليس أراد أن يفوته الفضيلة وفي الموسوسين من يحلف بالله لا كبرت غير هذه المرة وفيهم من يحلف بالله بالخروج من ماله أَوْ بالطلاق وهذه كلها تلبيسات إبليس والشريعة سمحة سهلة سليمة من هذه الآفات وما جرى لرسول اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ولا لأصحابة شيء من هَذَا

“Di antara bisikan Iblis yaitu dalam niat sholat. Di antara mereka ada yang berkata ushalli sholata kadza (saya berniat sholat ini dan itu), lalu ia mengulang-ulangi lagi karena ia menyangka niatnya batal. Padahal niat itu tidak batal walaupun tidak diucapkan. Ada juga yang bertakbir, lalu tidak jadi, lalu takbir lagi, lalu tidak jadi lagi. Tapi ketika imam keburu ruku’, ia serta-merta bertakbir walaupun agak was-was demi mendapatkan ruku bersama imam. Mengapa begini?? Lalu niat apa yang ia hadirkan ketika itu?? Tidaklah ini terjadi kecuali karena iblis ingin membuat dia melewatkan berbagai keutamaan. Diantara mereka juga ada yang besumpah atas nama Allah untuk bertakbir lebih dari sekali. Ada juga yang bersumpah dengan nama Allah untuk mengeluarkan harta mereka atau dengan talak. Semua ini adalah bisikan iblis. Syariat Islam yang mudah dan lapang ini selamat dari semua penyakit ini. Tidak pernah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak juga para shahabatnya melakukan hal demikian”. [4]

KENAPA MASIH ADA YANG MELAFALKAN NIAT ??

Penyebab timbulnya was-was adalah karena niat terkadang hadir di hati si orang ini dengan keyakinan bahwa niat itu tidak ada di hatinya. Maka ia pun berusaha menghadirkannya dengan lisannya. Sehingga terjadi apa yang terjadi.

Abu Abdillah az-Zubairiy, seorang ulama Syafi’iyah, telah keliru dalam memahami perkataan al-Imam asy-Syafi’iy rahimahullahu ta’ala yaitu ketika menyimpulkan bahwa wajib melafalkan niat dalam sholat dari perkataan beliau. Ini disebabkan oleh buruknya pemahaman terhadap ungkapan al-Imam asy-Syafi’iy berikut,

إذا نوى حجّاً وعمرة أجزأ وإنْ لم يتلفّظ وليس كالصّلاة لا تصح إلا بالنّطق

“Jika seseorang berniat haji atau umrah maka itu sah walaupun tidak diucapkan. Berbeda dengan sholat, sholat tidak sah kecuali dengan pengucapan”. [5]

Al-Imam an-Nawawiy berkata,

قال أصحابنا: غلط هذا القائل وليس مراد الشافعي بالنّطق في الصّلاة هذا بل مراده التكبير

“Para ulama madzhab kami berkata, yang berkata demikian telah salah. Bukanlah maksud al-Imam asy-Syafi’iy itu melafalkan niat dalam sholat, namun maksudnya adalah takbir”. [6] (Al Majmu’, 3/243)

Al-Imam Ibnu Abu al-Izz al-Hanafiy rahimahullah berkata,

لم يقل أحد من الأئمة الأربعة لا الشّافعيّ ولا غيره باشتراط التلفّظ بالنيّة وإنما النيّة محلّها القلب باتّفاقهم إلا أن بعض المتأخرين أوجب التلفّظ بها، وخرج وجهاً في مذهب الشافعي! قال النووي رحمه الله: وهو غلط انتهى وهو مسبوق بالإجماع قبله

“Tidak ada seorang imam pun dari imam yang empat, baik itu asy-Syafi’iy atau selainnya, yang mensyaratkan pelafalan niat. Niat itu tempatnya di hati berdasarkan kesepakatan mereka (para imam). Hanya segelintir orang-orang belakangan saja yang mewajibkan pelafalan niat dan berdalih dengan salah satu pendapat dari madzhab asy-Syafi’iy. Al-Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata itu adalah sebuah kesalahan. Selesai. Selain itu, sudah ada ijmak dalam masalah ini”. [7]

Al-Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam biasanya ketika memulai sholat beliau mengucapkan الله أكبر dan tidak mengucapkan apa-apa sebelumnya. Beliau juga tidak pernah sama sekali melafalkan niat. Beliau tidak pernah mengucapkan ushallli lillah shalata kadza mustaqbilal qiblah arba’a raka’atin imaaman atau ma’muuman (saya meniatkan sholat ini untuk Allah, menghadap qiblat, empat raka’at, sebagai imam atau sebagai makmum). Beliau juga tidak pernah mengucapkan ada-an atau qadla-an juga tidak mengucapkan fardlal waqti. Ini semua adalah bid’ah. Dan sama sekali tidak ada satu pun riwayat yang memuat ucapan demikian, baik dari riwayat yang shahih, maupun yang dla’if, musnad, ataupun mursal. Juga tidak ada dari para shahabat. Juga tidak ada istihsan dari seorang tabi’in pun, atau dari ulama madzhab yang empat. Ucapan demikian hanya berasal dari orang-orang belakangan yang menyalah-gunakan perkataan al-Imam asy-Syafi’iy tentang sholat,

إنها ليست كالصّيام ولا يدخل فيها أحدُ إلا بذكر

“Sholat itu tidak seperti puasa, memulainya harus dengan dzikir”.

Mereka menyangka bahwa dzikir di sini adalah melafalkan niat. Padahal yang dimaksud oleh al-Imam asy-Syafi’iy rahimahullah adalah takbiratul ihram. Tidak mungkin tidak. Bagaimana mungkin asy-Syafi’iy menganjurkan hal yang tidak pernah sekalipun dilakukan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam sholat? Juga tidak pernah dilakukan khalifahnya juga para shahabatnya. Demikianlah petunjuk dan sirah mereka. Andai kita menemukan satu huruf saja dari mereka, maka tentu akan kita terima. Bahkan kita terima dengan lapang dada. Karena tidak ada petunjuk yang paling sempurna selain dari mereka. Dan tidak ada sunnah kecuali apa yang datang dari sang pembawa syari’at, Nabi Shalallahu alaihi wa sallam”. [8]

KHULASHOH

Ringkasnya, para ulama dari berbagai negeri dan berbagai generasi telah menyatakan bahwa melafalkan niat itu bid’ah. Pendapat yang menyatakan bahwa perbuatan tersebut disunnahkan adalah pendapat yang salah, tidak sesuai dengan pendapat al-Imam asy-Syafi’iy dan tidak sesuai dengan dalil-dalil sunnah nabawi,

Diantaranya riwayat dari Aisyah radliyallahu anha berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستفتح الصَّلاة بالتّكبير

            “Biasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memulai sholatnya dengan takbir”. [HR Muslim: 498].

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwa Rosulullah Shallallahu alahi wa sallam bersabda kepada orang yang sholatnya jelek, ketika orang tersebut berkata, ‘Wahai Rosulullah, kalau begitu ajarkan saya sholat yang benar‘. Beliau bersabda kepadanya,

إذا قمت إلى الصّلاة فأسبغ الوضوء ثم استقبل القبلة فكبّر ثم اقرأ بما تيسر معك من القرآن

“Jika engkau berdiri untuk sholat, maka sempurnakanlah wudlu, lalu menghadap qiblat. Lalu bertakbirlah, lalu bacalah ayat Alqur’an yang mudah bagimu”.

Dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma berkata,

رأيت النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم افتتح التكبير في الصلاة فرفع يديه

“Aku melihat Nabi Shallallahu alahi wa sallam memulai sholatnya dengan takbir, lalu mengangkat kedua tangannya”. [HR al-Bukhoriy: 738].

Nash-nash ini dan juga yang lain yang begitu banyak dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menunjukan bahwa memulai sholat adalah dengan takbir dan tidak mengucapkan apapun sebelumnya. Hal itu juga dikuatkan dengan ijmak para ulama bahwa,

إذا خالف اللسان القلب فالعبرة بما في القلب

“Jika ucapan lisan berbeda dengan apa yang ada di hati, maka yang dianggap adalah apa yang ada di hati”. [9]

Jika demikian, lalu apa faidahnya mengucapkan niat? Jika telah sepakat dan diyakini secara pasti bahwa apa yang diucapkan itu tidak ada gunanya jika bertentangan dengan apa yang ada di dalam hati.

Lalu hal ini pun menunjukkan adanya kegoncangan dalam pendapat orang yang mewajibkan menggandengan niat dengan takbiratul ihram dan mewajibkan atau menganjurkan niatnya dilafalkan. Bagaimana bisa melafalkan niat ketika lisan seseorang sibuk mengucapkan takbir?

Dalam hal ini Ibnu Abi al-Izz al-Hanafiy berkata, “al-Imam asy-Syafi’iy rahimahullah mengatakan,

لايجوز ما لم يكن الذّكر اللساني مقارناً للقلبي وأكثر النّاس عاجزون عن ذلك باعترافهم والذي يدّعي المقارنة يدّعي ما يردّه صريح العقل وذلك أن اللسان ترجمان ما يحضر بالقلب والمترجم عنه سابق قطعاً على أن الحروف الملفوظ بها في النيّة منطبقة إلى آخر الزّمان وهي منقضية منصرمة لا تتصور المقارنة بين أنفسها فكيف تتصور مقارنتها لما يكون قبلها؟

“Tidak boleh melakukan perbuatan yang ucapan lisannya berbeda dengan ucapan hatinya secara bersamaan. Dan kebanyakan manusia mengakui mereka tidak bisa melakukan hal itu. Orang yang mengaku bisa melakukannya pun, ia telah mengakui hal yang ditolak oleh akal sehat. Karena lisan itu penerjemah apa yang hadir di dalam hati. Dan sesuatu yang diterjemahkan itu pasti ada lebih dahulu, karena setiap huruf yang diucapkan itu pasti dilandasi niat. Demikian seterusnya hingga selesai. Yang setelahnya adalah kelaziman dari sebelumnya. Tidak tergambar menggandengkan keduanya jika bersamaan, lalu bagaimana lagi menggabungkan sesuatu yang ada sebelumnya?”. [10]

Sumber: al-Qaul al-Mubin Fii Akhta’ al-Mushallin halaman 91-96, susunan asy-Syaikh Masyhur Hasan Salman, Cetakan kedua tahun 1413H/ 1996M, Dar Ibnu al-Qayyim.

[1] Semua nukilan di atas dapat ditemukan di Majmu’ah ar-Rosa’il al-Kubra: I/254-257.

 [2] Masa’il al-Imam Ahmad halaman 31 dan Majmu’ Fatawa: XXII/ 28.

[3] Al-Amru Bi al-Ittiba’ wan Nahyu ‘An al-Ibtida’, lauhah (lembaran) 28.

[4] Talbis Iblis halaman 138.

[5] Al-Majmu: III/ 243.

[6] Al-Majmu’: III/ 243 dan at-Ta’alim oleh asy-Syaikh Bakr Abu Zaid halaman 100.

[7] Al-Ittiba’ halaman 62.

[8] Zaad al-Ma’ad: I/201.

[9] Al-Majmu’: I/ 367.

[10] Al-Atba’ halaman 61-62.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s