PENTING DIKETAHUI BAGI YANG HENDAK BERQURBAN !!!…

cinta kajian sunnah

cinta kajian sunnah

LARANGAN MEMOTONG RAMBUT DAN KUKU BAGI YANG HENDAK BERQURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Berqurban adalah suatu amalan yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya dan mendapatkan balasan kebaikan dari-Nya dengan surga, ampunan dan keridloan-Nya.

Hal ini dapat terwujud jika seseorang yang berqurban itu ikhlas dalam melakukannya dan mengikuti cara dan aturan yang telah dicontohkan dan diperintahkan oleh Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

            Salah satu aturan dalam Islam adalah dilarangnya bagi yang berniat untuk berqurban waktu itu untuk memotong kuku, mengupas kulit luarnya dan memangkas rambutnya sejak masuknya awal bulan Dzulhijjah yang ditandai dengan nampaknya hilal tanggal satu sampai dengan disembelihnya hewan qurbannya.

Untuk hal itu sudah ada beberapa dalil hadits shahih tentangnya, di antaranya;

Hadits dari Ummu Salamah istri radliyallahu anha dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

”Barangsiapa yang memiliki hewan qurban yang akan ia sembelih, lalu jika ia telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) maka janganlah ia menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya sampai ia menyembelih (hewan qurbannya)”. [HR Muslim: 1977 (42), at-Turmudziy: 1523, Ibnu Majah: 3150, Ahmad: VI/ 301, 311, al-Hakim dan ath-Thahawiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Dari Ummu Salamah radliyallahu anha bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika kalian melihat hilal (bulan sabit) bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia menahan dirinya (untuk tidak memotong) sedikitpun dari rambut dan kukunya”. [HR. Muslim: 1977 (41), an-Nasa’iy: II/ 202, Abu Dawud: 2791 dan Ibnu Majah: 3150. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Berkata DR Abdul Azhim bin Badawiy hafizhohullah, “Barangsiapa ingin berqurban maka diharamkan baginya untuk mengambil (memotong) sedikitpun dari rambut dan kukunya dari sejak masuknya bulan Dzulhijjah sampai disembelihnya (hewan qurbannya)”. [3]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Berdalil dengan hadits di atas, disyariatkannya meninggalkan memotong rambut dan kuku sejak masuknya 10 hari dari bulan Dzulhijjah bagi orang yang ingin berqurban”. [4] Yang berpemahaman seperti ini adalah Sa’id bin al-Musayyab, Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud, sebahagian pengikut madzhab Syafi’iy.

Dari Ummu Salamah radliyallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَ أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika telah masuk sepuluh (Dzulhijjah) dan salah seorang dari kalian ingin berqurban, maka janganlah menyentuh (memotong) rambut atau mengupas kulit (luar)nya sedikitpun”. [HR Muslim: 1977 (39), an-Nasa’iy: II/ 202, Ibnu Majah: 3149, Ahmad: VI/ 289 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Berkata asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu asy-Syaikh hafizhohullah, “Apabila telah masuk sepuluh (hari) bulan Dzulhijjah maka diharamkan bagi orang yang ingin berqurban untuk mengambil (memotong) sedikitpun dari rambut atau kukunya sampai ia menyembelih (hewan qurbannya)”. [6]

KESIMPULAN

1). Jika telah masuk malam 1 dzulhijjah (yaitu dengan nampaknya hilal) maka sejak malam tersebut (semenjak terbenamnya matahari) tidak boleh bagi seseorang yang hendak berqurban untuk memotong kukunya, mengupas kulitnya atau memangkas rambutnya, demikian juga rambut-rambut yang lain atau bulu-bulu yang lain.

2). Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian kuku dan rambut manapun. Artinya mencakup larangan mencukur gundul atau sebagian saja, atau sekedar mencabutinya atau membakarnya. Baik rambut atau bulu itu tumbuh di kepala, kumis, jenggot atau sekitar kemaluan maupun di ketiak. Dan diharamkan pula memotong kuku, mematahkannya atau dengan cara lainnya. Begitu juga diharamkan mengupas kulit luarnya dengan merobek kulit luarnya yang sudah putih terkelupas dan selainnya. [7]

3). Tidak mengapa bagi seorang yang hendak berqurban untuk mencuci rambutnya dengan shampo atau menyemirnya, meskipun ketika itu ada rambut atau bulunya yang rontok atau tercabut. Yang dilarang adalah mencukur rambut atau bulu-bulunya. Begitu pula bagi wanita yang sedang haidl atau nifas boleh baginya mengecat kukunya, karena yang dilarang adalah memotong dan mematahkannya.

4). Maka hadits di atas menunjukkan terlarangnya memotong rambut, mengelupas kulit dan kuku bagi orang yang ingin berqurban setelah memasuki 10 hari pertama awal bulan Dzulhijah (yaitu mulai dari tanggal 1 Dzulhijah) sampai disembelihnya hewan qurbannya.

5). Larangan ini berlaku hingga ia menyembelih hewan qurbannya. Jika ternyata ia hendak menyembelih lebih dari 1 hewan qurban, maka ia boleh memotong rambut dan kukunya setelah ia memotong hewan yang pertama, meskipun masih ada sembelihan yang lain yang belum ia potong.

6). Zhahir dari hadits di atas bahwasanya larangan memotong dan mencukur tersebut hukumnya adalah haram dan bukan makruh, meskipun ada perselisihan para ulama dalam hal ini. Dan yang lebih kuat adalah hukumnya haram, karena asal dalam larangan adalah haram hingga datang dalil yang memalingkannya menjadi makruh. Maka barangsiapa yang dengan sengaja memotong kukunya, mengupas kulitnya atau mencukur rambutnya, maka hendaknya ia beristighfar, merasa menyesal atas perbuatannya dan tidak perlu membayar fidyah, dan tidak mempengaruhi tentang keutamaan hewan sembelihan qurbannya.

7). Barang siapa yang di awal Dzulhijjah tidak berniat ingin menyembelih hewan qurban karena suatu sebab lalu beberapa hari berikutnya iapun berniat maka ia dilarang untuk memotong kuku, mengupas kulit dan mencukur rambut semenjak ia memasang niatnya tersebut.

8). Yang dimaksud di sini adalah dilarang memotong rambut dan kuku adalah rambut dan kuku orang yang hendak berqurban itu sendiri yaitu dari sejak awal bulan Dzulhijjah sampai dengan disembelihnya hewan qurbannya. Bukan rambut atau kuku hewan yang hendak dijadikan hewan qurbannya. [8]

9). Larangan memotong dan mencukur ini hanya berlaku bagi orang yang hendak menyembelih hewan qurban, tidak berlaku bagi orang lain yang ia wakilkan untuk membelikan atau untuk menyembelih hewan qurbannya, semisal para panitianya. Demikian pula tidak berlaku bagi orang-orang yang ingin ia ikut sertakan mendapatkan pahala sembelihan qurbannya. Misalnya seorang lelaki yang ingin berqurban dan menyertakan keluarganya dalam penyembelihan maka hanya si lelaki itu yang terkena larangan tersebut.

10). Barang siapa yang butuh untuk memotong kukunya (misalnya karena kukunya pecah, sehingga ia terganggu atau tersakiti), atau butuh untuk mencukur rambutnya (misalnya karena ingin berobat dengan berbekam di kepalanya) maka tidak mengapa untuk melakukannya. Karena kondisi orang yang hendak berkorban tidaklah lebih agung dan lebih mulia dari pada kondisi seseorang yang sedang melakukan ihram (muhrim). Jika seorang muhrim boleh mencukur rambutnya jika ia memerlukannya maka demikian pula boleh bagi seseorang yang ingin berkorban. Hanya saja seorang yang muhrim jika mencukur rambutnya maka wajib baginya untuk membayar fidyah, adapun bagi orang yang ingin berkorban maka tidak perlu membayar fidyah.

11). Adapun hikmahnya, menurut ulama Syafi’iyah, hikmah larangan di sini adalah agar rambut dan kuku tadi tetap ada hingga qurban disembelih, supaya makin banyak dari anggota tubuh ini terbebas dari api neraka.

Ada pula ulama yang mengatakan bahwa hikmah dari larangan ini adalah agar tasyabbuh (menyerupai) orang yang muhrim (berihram). Namun hikmah yang satu ini dianggap kurang tepat menurut ulama Syafi’iyah karena orang yang berqurban beda dengan yang muhrim. Orang berqurban masih boleh mendekati istrinya dan masih diperbolehkan menggunakan harum-haruman, pakaian berjahit dan selain itu, berbeda halnya orang yang muhrim. [9]

12). Sunnah ini sudah sepantasnya untuk dilaksanakan dan dihidupkan kembali. Sebab sunnah ini adalah salah satu sunnah yang sudah banyak ditinggalkan oleh mayoritas umat Islam. Hal ini dikarenakan kejahilan mereka dan keengganan mereka untuk menuntut ilmu.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish showab.

[1] Mukhtashor Shahih Muslim: 1251, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1230, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2549, Irwa’ al-Ghalil: IV/ 376 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6489, 6251.

[2] Mukhtashor Shahih Muslim: 1251, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2549, Shahih Sunan Abu Dawud: 2422, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4067, Irwa’ al-Ghalil: 1163 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 574, 6489.

[3] Al-Wajiz halaman 503.

[4] Nail al-Awthar: V/ 133.

[5] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2548, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4069, Irwa’ al-Ghalil: 1163 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 520. Lihat penjelasan perbedaan antara sya’ar dan basyr dalam Aun al-Ma’bud: VII/349.

[6] Kitab al-Fiqh al-Muyassar fi Dlou’i al-Kitab wa as-Sunnah halaman 193.

[7] Lihatpenjelasannya di dalam Nail al-Awthar: V/ 133.

[8] Sebagaimana di dalam atsar, Dari al-Harits bin Abdurrahman dari Abu Salamah dari Ummu Salamah berkata, “Apabila masuk sepuluh hari bulan Dzulhijjah maka janganlah kamu memotong rambutmu dan jangan pula kukumu hingga engkau menyembelih (hewan) qurbanmu”. [Riwayat al-Hakim dan ia berkata, “Atsar ini adalah syahid yang shahih meskipun mauquf. Lihat Irwa’ al-Ghalil: IV/ 377.

[9] Nail al-Awthar: V/ 133.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s