JIKA ARAH QIBLAT LUPUT BAGIMU ??..

cinta kajian sunnah

cinta kajian sunnah

KAPAN GUGUR KEWAJIBAN MENGHADAP QIBLAT??

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagaimana telah diketahui akan kewajiban menghadap qiblat dalam menunaikan sholat sebab hal tersebut merupakan syarat sahnya sholat.

Namun kewajiban tersebut dapat dirukhshoh (mendapat keringanan) di dalam beberapa sebab keadaaan. Di antaranya ketika seseorang hendak melakukan sholat sunnah di atas kendaraan, dalam keadaan takut atau peperangan atau ketika tertimpa sakit yang ia hanya dapat berbaring dan dihadapkan ke arah selain qiblat atau ketika arah qiblat menjadi tersamar karena cuaca mendung atau keadaan gelap gulita.

Berkata DR Abdul Azhim bin Badawiy, “Dibolehkan meninggalkan menghadap qiblat dari sebab sangat takut dan pada waktu mengerjakan sholat nafilah (sunnah) dalam safar di atas kendaraan”. [1]

Menghadap qiblat sebagai salah satu syarat sholat yang harus dipenuhi dapat gugur kewajibannya dalam keadaan-keadaan berikut ini:

  1. Sholat tathawwu’/ nafilah (sholat sunnah).

Sholat sunnah bagi orang yang berkendaraan, baik kendaraannya berupa hewan tunggangan, seperti kuda, unta, himar (keledai), gajah dan sejenisnya. Ataupun berupa alat transportasi modern yang memungkinkan untuk sholat sunnah. Seperti mobil, kereta api, pesawat terbang, kapal laut dan selainnya.

Seseorang sholat sunnah di atas kendaraannya berisyarat dengan ruku’ dan sujud. Keadaan sujudnya lebih rendah dari ruku’nya, arah qiblatnya mengikuti arah kemanapun kendaraannya mengarah.

Dari Jabir bin Abdillah al-Anshariy radliyallahu anhu berkata,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ أَنْمَارٍ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ مُتَوَجِّهًا قِبَلَ الْمَشْرِقِ مُتَطَوِّعًا

“Aku melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam perang Anmar mengerjakan sholat sunnah di atas kendaraannya sementara kendaraan tersebut menghadap ke arah timur”. [HR al-Bukhoriy: 4140].

Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu juga mengabarkan,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيْضَةِ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

“Adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan sholat sunnah di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraan itu menghadap. Namun bila beliau hendak mengerjakan sholat fardlu, beliau turun dari tunggangannya lalu menghadap qiblat”. [HR al-Bukhoriy: 400, 1094, 1099, 4140].

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy rahimahullah menjelaskan faidah hukum dari hadits tersebut dengan mengatakan, “Hadits ini menunjukan untuk tidak meninggalkan menghadap qiblat dalam sholat fardlu, dan perkara ini sudah ijmak. Akan tetapi tatkala dalam kondisi takut yang sangat maka itu mendapatkan rukhsah”. [2]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata,

وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَ يُوْتِرُ عَلَيْهَا غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُصَلِّى عَلَيْهَا اْلمـَكْتُوْبَةَ

“Rosulullah Shalallahu alaihi wa sallam pernah mengerjakan sholat sunnah di atas kendaraannya ke arah manapun ia menghadap. Dan juga mengerjakan sholat witir di atasnya, hanya saja Beliau tidak mengerjakan sholat wajib di atasnya”. [HR Muslim: 700 (39) dan al-Bukhoriy: 1098].

            Dari Amir bin Rabi’ah radliyallahu anhu berkata,

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ يُوْمِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَلَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ

“Aku melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sholatsunnah di atas kendaraannya, beliau memberi isyarat dengan kepalanya (ketika melakukan ruku’ dan sujud) menghadap ke arah mana saja kendaraan itu menghadap. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah melakukan hal itu dalam sholat wajib”. [HR al-Bukhoriy: 1097].

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwa beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءً صَلاَةَ اللَّيْلِ إِلاَّ الْفَرَائِضَ وَ يُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ

“Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan sholat sunnah dalam perjalanan (safar) di atas kendaraan dengan menghadap ke arah yang dituju kendaraan tersebut yang beliau berisyarat padanya pada waktu sholat malam kecuali sholat wajib. Dan juga beliau melaksanakan witir di atasnya”. [HR al-Bukhoriy: 1000].

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُسَبِّحُ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ حَيْثُ كَانَ وَجْهُهُ يُومِئُ بِرَأْسِهِ وَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ

“Bahwa Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan sholat sunnah di atas punggung kendaraannya ke arah manapun menghadap. Beliau memberikan isyarat dengan kepalanya. Ibnu Umarpun melakukan hal serupa”. [HR. al-Bukhoriy: 1105].

  1. Sholat Khauf

Sholat orang yang dicekam rasa takut seperti dalam keadaan perang dan yang semisalnya seperti orang yang sakit, orang yang lemah, dan orang yang dipaksa (di bawah tekanan).

Orang yang tidak mampu menghadap qiblat disebabkan takut, sakit, atau dipaksa, dikejar musuh ataupun dalam situasi berkecamuk perang maka diberi udzur baginya untuk sholat dengan tidak menghadap qiblat, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاّ وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sekadar kesanggupannya”. [QS al-Baqarah/ 2: 286].

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَانًا

“Jika kalian dalam keadaan takut maka sholatlah dalam keadaan berjalan kaki atau berkendaraan”. [QS al-Baqarah/ 2: 239].

            Ibnu Umar radliyallahu anhuma setelah menjelaskan tata cara sholat khauf, pada akhirnya beliau berkata,

فَأَنْ كَانَ خَوْفَ هُوَ أَشَدُّ مِنْ ذَلِكَ صَلُّوا رِجَالاَ قِيَامًا عَلَى أَقْدَامِهِم أَوْ رُكْبَانًا مُسْتَقْبِلِي الْقِبْلَةَ أَوْ غَيْرَ مُسْتَقْبِلِيْهَا

“Bila keadaan ketakutan lebih dahsyat daripada itu, mereka sholat dengan berjalan di atas kaki-kaki mereka atau berkendaraan, dalam keadaan mereka menghadap qiblat ataupun tidak”. [HR al-Bukhoriy: 4535].

            Ibnu Umar radliyallahu anhuma juga berkata,

غَزَوْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ نَجْدٍ فَوَازَيْنَا الْعَدُوَّ فَصَافَفْنَا لَهُمْ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لَنَا

“Aku pernah berperang bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di arah Najd. Kami berhadapan dengan musuh (yaitu perang Dzatur Riqa’), lalu beliau mengatur shaff/ barisan kami untuk menghadapi musuh. Setelahnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sholat mengimami kami ….”. [HR. Al-Bukhoriy: 942, 943, 4132, 4133, 4535]

            Hadits di atas menunjukkan ketika situasi perang, mereka tidak harus menghadap qiblat sebab waktu itu sedang menghadapi musuh. Namun mereka bisa menghadap ke mana saja sesuai dengan keadaan dan posisi musuh. Sebab jika mereka membelakangi musuh atau menyamping kiri atau kanan dari posisi musuh, maka musuh akan dapat dengan mudah menyerang dan mengalahkan mereka. (Al-Umm kitab ash-Sholah, bab al-Halain al-Ladzaini Yajuzu Fihima Istiqbalu Ghair al-Qiblah, al-Haw al-Kabir 2/70, 72,73, al-Majmu’ 3/212, 213, ar-Raudl al-Murbi’ Syar-h Zad al-Mustaqni’ 1/119, al-Muhalla bi al-Atsar 2/257, adz-Dzakhirah 2/118, 122, Subul as-Salam 1/214,215, al-Mulakhkhash al-Fiqhiy, 1/97, Taudlih al-Ahkam 2/20,21).

            Berkata Sayyid Sabiq, “Orang yang takut, dipaksa dan orang yang sakit, boleh bagi mereka untuk melakukan sholat tidak menghadap qiblat apabila mereka merasa lemah dari menghadapnya. Sebab Rosul Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka apapun yang kuperintahkan kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian”. [HR Muslim: 1337, al-Bukhoriy: 7288, at-Turmudziy: 2679, Ibnu Majah: 2 dan Ahmad: II/ 247, 258, 313, 328, 447-448, 457, 467, 482, 495, 503, 508, 517 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[3]

Allah ta’ala juga berfirman, “Jika kalian dalam keadaan takut maka sholatlah dalam keadaan berjalan kaki atau berkendaraan”. [QS al-Baqarah/ 2: 239]. Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, “Dengan menghadap qiblat atau tidak menghadap qiblat”. [4]

Begitupun orang yang menderita sakit dan terbaring di tempat tidur dengan peralatan infus dan selainnya. Sementara itu ia diletakkan tidak menghadap ke arah qiblat dan tidak memungkinkan mengarahkannya ke arah qiblat, sedangkan kewajiban sholat sudah datang dan khawatir luput darinya, maka ia sholat dengan menghadap ke arah tempat tidur itu menghadap.

Berikut fatwa asy-Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan, “Menghadap qiblat adalah salah satu syarat sahnya sholat. Allah berfirman,

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ

Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah wajahmu ke arahnya. [QS. al-Baqarah/ 2: 144]

Maka menghadap qiblat adalah syarat sah sholat jika mampu dilakukan, baik bagi orang sakit maupun yang lainnya.

Orang sakit yang terbaring di ranjang, dia tetap wajib menghadap qiblat. Dia lakukan sendiri jika mampu atau dibantu orang lain. Jika dia tidak mampu menghadap qiblat, dan tidak ada yang bisa membantunya untuk menghadapkannya ke arah qiblat, sementara dia khawatir waktu sholat akan habis, maka dia boleh sholat sesuai keadaannya (tidak menghadap kiblat). Berdasarkan firman Allah,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

”Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian”. [at-Taghabun/ 64: 16].

Demikian pula sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ”Apabila aku perintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, laksanakanlah semampu kalian”. [HR. Muslim dalam shahihnya].

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/10406/حكم-صلاة-المريض-على-السرير

  1. Orang yang Tersamar baginya Arah Kiblat

Orang yang mendapat keringanan untuk tidak menghadap qiblat juga adalah orang yang berada di suatu tempat namun ketika datang waktu sholat, tersamarlah baginya arah qiblat lantaran keadaannya yang gelap gulita karena datangnya waktu malam, mendung yang sangat tebal, berada di kawasan hutan yang tertutup rimbunnya pepohonan, berada dalam gedung yang sulit menentukan arah dan sebagainya. Dan di tempat itu pula, tidak ada seseorangpun yang dapat ditanya akan arah qiblat atau arah mata angin. Lalu iapun mengerjakan sholat ke arah yang ia duga arah qiblat. Namun beberapa waktu kemudian nampaklah baginya bahwa arahnya tersebut adalah keliru maka sholatnya itu telah memadainya dan ia tidak perlu lagi mengulang sholatnya tersebut.

Berkata DR Abdul Azhim bin Badawiy, “Faidah. Barangsiapa yang masih mencari (karena tersamarnya) arah qiblat lalu ia sholat ke arah yang ia duga (arah qiblat) kemudian jelas baginya kekeliruan (akan arah tersebut) maka ia tidak perlu lagi mengulang (sholatnya)”. [5]

Dari Amir bin Rabi’ah radliyallahu anhu mengabarkan,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ فَلَمْ نَدْرِ أَيْنَ الْقِبْلَةُ فَصَلَّى كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا عَلَى حِيَالِهِ فَلَمَّا أَصْبَحْنَا ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَ ))فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ((

“Kami pernah bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam satu safar di malam yang gelap gulita. Ketika hendak sholat, kami tidak tahu di mana arah qiblat. Maka masing-masing orang sholat menghadap arah depannya. Di pagi harinya, kami ceritakan hal itu kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, turunlah ayat ‘Maka ke mana saja kalian menghadap, di sanalah wajah Allah (QS al-Baqarah/ 2: 115)”. [HR at-Turmudziy: 345, Ibnu Majah: 1020, ath-Thayalisiy, al-Baihaqiy, ad-Daruquthniy dan Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah. Berkata Asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [6]

            Jabir radliyallahu anhu berkata, “Kami pernah bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam satu pasukan perang. Ketika itu, kami ditimpa mendung hingga kami bingung dan berselisih tentang arah qiblat. Pada akhirnya masing-masing dari kami sholat menurut arah yang diyakininya. Mulailah salah seorang dari kami membuat garis di hadapannya guna mengetahui posisi kami. Ketika pagi hari, kami melihat garis tersebut dan dari situ kami tahu bahwa kami sholat tidak menghadap arah qiblat. Kami ceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, namun beliau tidak menyuruh kami mengulang sholat.  Beliau bersabda, “Sholat kalian telah mencukupi”. [HR. ad-Daruquthniy, al-Hakim dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, ‘Dengan sekumpulan jalan ini, maka hadits dengan syahid ini dengan 3 jalannya dari Atha’ naik kepada derajat Hasan, in syaa Allah ta’ala’]. [7]

            Dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu anhuma berkata, “Tatkala orang-orang sedang mengerjakan sholat subuh di Quba`, tiba-tiba ada orang yang datang seraya berkata, ‘Semalam telah diturunkan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ayat Alqur’an. Beliau diperintah untuk sholat menghadap ke Ka’bah, maka hendaklah kalian menghadapnya’. Mendengar hal tersebut, orang-orang yang sedang sholat itu pun mengubah posisi menghadap ke arah Ka’bah. Tadinya wajah mereka menghadap ke arah Syam, kemudian mereka membelakanginya untuk menghadap ke arah Ka’bah”. [HR al-Bukhoriy: 403, 4491, 7251, Muslim: 1178, Abu Uwanah, Malik di dalam al-Muwaththa’, al-Baihaqiy, an-Nasa’iy: I/ 85, 122, ad-Darimiy: I/ 281, ad-Daruquthniy dan Ahmad: II/ 16, 26, 105, 113. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

            Hendaknya seseorang mencurahkan segala upayanya untuk mengetahui arah qiblatnya. Bila jelas baginya setelah selesai sholat bahwa ia menghadap selain arah qiblat, ia tidak perlu mengulang sholatnya karena sholat yang telah dikerjakannya itu telah mencukupi. [9]

            Bagi yang tidak bisa melihat Ka’bah (misalnya orang Indonesia), maka cukup menghadapkan tubuhnya ke arah Ka’bah berada yaitu ke arah barat bagi orang yang berada di timur Ka’bah. Dan tidak harus menghadap tepat persis ke Ka’bah. Oleh karena itu, tidak perlu serong beberapa derajat ke utara ketika sholat. Demikian, menurut pendapat yang paling kuat.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan para shahabat untuk sholat persis menghadap ke arah Ka’bah. Beliau bersabda, Antara timur dan barat adalah qiblat”.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

       مَا بَيْنَ اْلمـَشْرِقِ وَ اْلمـَغْرِبِ قِبْلَةٌ

            “ Apa yang ada di antara timur dan barat adalah qiblat”. [HR Ibnu Majah: 1011 dan at-Turmudziy: 342, 344. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Hadits ini beliau sampaikan ketika beliau di kota Madinah, sedangkan Mekkah berada di sebelah selatan kota Madinah. Beliau mengajarkan kepada para shahabat bahwa selama menghadap ke selatan (yaitu antara timur dan barat) maka sudah dianggap menghadap qiblat. Beliau tidak memerintahkan untuk menghadap tepat persis ke fisik bangunan Ka’bah [11] namun beliau hanya menetapkan arahnya, yaitu ke selatan.

Orang yang tidak mengetahui arah qiblat, maka wajib berusaha untuk mencari tahu arah qiblat. Hal ini bisa dilakukan dengan bebecara cara:

  1. Bertanya kepada penduduk setempat atau orang yang tahu arah qiblat.
  2. Jika tidak memungkinkan untuk bertanya maka bisa menggunakan tanda-tanda alam. Seperti arah terbit matahari dan terbenamnya, arah mata angin, dan sebagainya.

Jika dua cara di atas tidak memungkinkan maka sholat menghadap ke arah manapun berdasarkan dugaan kuat bahwasanya arah itu adalah qiblat.

Bagi orang yang tidak tahu arah qiblat dan memungkinkan baginya untuk mengetahui arah qiblat dengan bertanya kepada penduduk setempat namun dia tidak mau bertanya, sehingga sholatnya tidak menghadap ke arah qiblat maka sholatnya tidak sah dan harus diulangi.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

يحب على من نزل على شخص ضيفاً وأراد أن يتنفل أن يسأل عن القبلة فإذا أخبره اتجه إليها لأن بعض الناس تأخذه العزة بالإثم ومنعه الحياء وهو في غير محله عن السؤال عن القبلة بل أسأل عن القبلة حتى يخبرك صاحب البيت

أحياناً بعض الناس تأخذه العزة بالإثم ويتجه بناء على ظنه إلى جهة ما ويتبين أنها ليست القبلة وفي هذه الحال يجب عليه أن يعيد الصلاة لأنه استند إلى غير مستند شرعي والمستند إلى غير مستند شرعي لا تقبل عبادته لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد”. أخرجه مسلم

Wajib bagi orang yang bertamu di rumah seseorang, dan dia hendak sholat sunnah, hendaknya dia bertanya tentang arah qiblat. Jika tuan rumah memberi tahu, dia bisa sholat ke arah yang disarankan. Karena ada sebagian orang yang gengsi atau malu – dan ini malu yang tidak tepat, sehingga tidak mau bertanya tentang qiblat. Seharusnya dia bertanya arah qiblat, sehingga pemilik rumah memberi tahu.

Terkadang ada orang yang gengsi, lalu dia sholat ke arah sesuai dugaannya, kemudian dia diberi tahu bahwa itu bukan arah qiblat, dalam kondisi ini, dia wajib mengulangi sholatnya. Karena dia bersandar kepada dasar yang tidak diterima secara syariat. Dan orang yang bersandar kepada dasar yang tidak diterima secara syariat maka ibadahnya tidak diterima. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Siapa yang melakukan amalan, tidak ada dasar syariatnya dari kami, maka amal itu tertolak”. [HR al-Bukhoriy secara ta’liq,[12] Muslim: 1718 lafazh ini baginya, Ahmad: VI/ 146, 180, 256 dan ad-Daruquthniy: 4491. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Shahih].[13]

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/11334/ هل-استقبال-القبلة-من-شروط-صحة-الصلاة

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish showab.

[1] Al-Wajiz fi fiq-h as-Sunnah wa al-Kitab al-Aziz halaman 101 sususan DR Abdul Azhim Badawiy, cetakan keempat tahun 1430H/ 2009M, Dar Ibnu Rajab dan Dar al-Fawa’id.

[2] Fat-h al-Bariy Syar-h Shahih al-Bukhoriy: I/ 503 susunan al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalaniy, Dar al-Fikr.

[3] Mukhtashor Shahih Muslim: 639, Shahih Sunan Ibni Majah: 2, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 91, 3430, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 850, Irwa’ al-Ghalil: 155, 314 dan Misykah al-Mashobih: 2505.

[4] Fiq-h as-Sunnah: I/ 96 susunan Sayyid Sabiq, cetakan kedua tahun 1426H/ 2005M, Mu’assasah ar-Risalah.

[5] Al-Wajiz halaman 101.

[6] Shahih Sunan at-Turmudziy: 284, Shahih Sunan Ibnu Majah: 835 dan Irwa` al-Ghalil: 291.

[7] Irwa’ al-Ghalil: I/ 323-324.

[8] Irwa’ al-Ghalil: 290.

[9] Subul as-Salam Syar-h Bulugh al-Maram: I/ 395.

[10] Shahih Sunan Ibnu Majah: 826, Shahih Sunan at-Turmudziy: 282, 283, Irwa’ al-Ghalil: 292 dan Misykah al-Mashabih: 715.

[11] Subul as-Salam: I/ 397.

[12] Fat-h al-Bariy: XIII/ 317.

[13] Mukhtashor Shahih Muslim: 1237, Irwa’ al-Ghalil: 88, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6398 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s