SAUDARAKU, MARILAH BEROBAT YANG SYAR’IY !!!…

CINTA KAJIAN SUNNAHHAL-HAL YANG YANG DIHARAMKAN DI DALAM PENGOBATAN SUATU PENYAKIT

بسم الله الرحمن الرحيم

            Sebagaimana telah diketahui, bahwa setiap manusia itu selalu diuji oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan berbagai keburukan dan kebaikan. Sebagaimana telah termaktub di dalam dalil-dalil berikut ini,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ اْلمـَوْتِ وَ نَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَ اْلخَيْرِ فِتْنَةً وَ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai suatu cobaan. Dan kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan. [QS al-Anbiya’/ 21: 35. Lihat juga QS al-A’raf/ 7: 168].

Berkata Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan, kesenangan, kesehatan, penyakit, kekayaan, kefakiran, yang halal, yang haram, ketaatan, maksiat, petunjuk dan kesesatan”. [1]

            Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      إِنَّ عِظَمَ اْلجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ اْلبَلَاءِ وَ إِنَّ اللهَ تعالى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

            “Sesungguhnya besarnya pahala itu adalah sebanding dengan besarnya cobaan/ ujian. Dan sesungguhnya Alla ta’ala apabila menyukai suatu kaummaka Ia akan memberi ujian kepada mereka. Barangsiapa yang ridlo/ senang (dengan ujian tersebut) maka ia akan mendapatkan keridloan-Nya. Namun barangsiapa yang tidak menykainya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya”. [HR at-Turmudziy: 2396 dan Ibnu Majah: 4031. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Wajib bagi mukmin itu untuk ridlo dengan ujian yang diberikan padanya lagi tidak berputus asa dan kesal karenanya. Di antara tanda-tanda dihapuskannya dosa-dosa itu adalah sabar ketika mendapatkan ujian”. [3]

            Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Hadits ini menunjukkan bahwa cobaan itu hanyalah merupakan kebaikan. Bahwa orang yang diuji itu dicintai disisi Allah ta’ala apabila ia bersabar atas cobaan Allah ta’ala tersebut dan ridlo dengan ketetapan Allah Azza wa Jalla”. [4]

Dari Shuhaib bin Sinan radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            عَجَبًا لِأَمْرِ اْلمـُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَ لَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَ إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

            “Mengagumkan(ku) akan urusan orang mukmin itu. Sesungguhnya semua urusannya adalah kebaikan baginya. Dan tidak ada yang demikian itu (terjadi) kepada seseorang kecuali kepada seorang mukmin. Apabila ia ditimpa kesenangan ia bersyukur, maka haltersebut adalah suatu kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka hal itupun baginya adalah suatu kebaikan”. [HR Muslim: 2999 (64), Ahmad: VI/ 16 dan ad-Darimiy: II/ 318. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Kehidupan orang mukmin itu semuanya baik dan diberi pahala di sisi Allah ta’ala. Sama saja apakah yang nampak baginya itu, keburukan ataukah kebaikan”. [6]

            Banyak ujian yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada para hamba-Nya. Harta yang melimpah, anak cantik lagi cerdas, rumah yang indah, kebun yang luas, kedudukan yang tinggi, kendaraan mewah dan lain sebagainya. Semuanya itu merupakan bentuk ujian dari Allah ta’ala dalam bentuk kebaikan dan kenikmatan.

            Kematian orang yang disayangi, kelaparan, ketakutan, kesusahan, terkena satu penyakit dari beberapa jenis penyakit dan sebagainya adalah merupakan ujian di dalam bentuk keburukan.

            Maka [enyakit adalah salah satu cara pengujian yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya, sebagaimana telah dijelaskan dalam dalil berikut,

            Dari Jubair bin Muth’im dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      إِنَّ اللهَ تعالى يَبْتَلِى عَبْدَهُ اْلمـُؤْمِنَ بِالسَّقَمِ حَتَّى يُكَفِّرَ عَنْهُ كُلَّ ذَنْبٍ

            “Sesungguhnya Allah ta’ala menguji hamba-Nya yang mukmin dengan penyakit sehingga Ia akan hapuskan segenap dosa darinya”. [HR ath-Thabraniy dan al-Hakim: 1326, dari Abu Hurairah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

            Dari Abu Umamah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      إِنَّ اْلعَبْدَ إِذَا مَرِضَ أَوْحَى اللهُ إِلَى مَلَائِكَتِهِ يَا مَلَائِكَتِى أَنَا قَيَّدْتُ عَبْدِى بِقَيْدٍ مِنْ قُيُوْدِى فَإِنْ أَقْبِضْهُ أَغْفِرْ لَهُ وَ إِنْ أُعَافِهِ فَحِيْنَئِذٍ يَقْعُدُ وَ لَا ذَنْبَ لَهُ

      “Sesungguhnya hamba itu jika sakit maka Allah ta’ala berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Wahai para malaikuat-Ku, sesungguhnya Aku telah meletihkan hamba-Ku dengan satu ikat (penyakit) di antara beberapa ikatan-Ku. Jika Aku mewafatkannya maka Aku mengampuni (dosa-dosa)nya. Dan jika Aku menyembuhkannya maka ketika itu ia duduk dalam keadaan tanpa dosa baginya”. [HR al-Hakim: 7941 dan ath-Thabraniy di dalam al-Mu’jam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [8]

            Dengan ujian penyakit tersebut Allah Subhanahu wa ta’ala bermaksud hendak menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya, jika ia dapat melampaui ujian tersebut tanpa berkeluh kesah, menyesal maupun rasa jengkel yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap ujian tersebut.

            Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskannya di dalam beberapa hadits berikut ini,

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radliyallahu anhuma bahwasanya keduanya mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيْبُ اْلمـُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَ لَا وَصَبٍ وَ لَا هَمٍّ وَ لاَ حَزَنٍ و لَا أَذًى وَ لَا غَمٍّ حَتَّى اْلشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كُفِّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim berupa keletihan, rasa sakit (yang terus menerus), kedukaan, kesedihan, sesuatu yang menyakitkan, kepedihan bahkan hungga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan sebahagian dosa-dosanya dengannya”. [HR Muslim: 2573, al-Bukhoriy: 5641, 5642 dan at-Turmudziy: 966. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Hal-hal menyakitkan yang menimpa orang mukmin itu dapat membersihkannya dari dosa-dosa”. [10]

            Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, ‘Aku pernah masuk (ke rumah) Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sedangkan Beliau sedang dalam keadaan tertimpa demam. Lalu aku berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya engkau ditimpa demam yang sangat berat. Beliau menjawab, “Ya benar, sesungguhnya aku ditimpa demam sebagaimana ditimpanya demam dua orang diantara kalian”. Aku berkata, “Yang demikian itukah yang menyebabkan engkau mendapatkan dua kali lipat pahala?”. Beliau menjawab,

      أَجَلْ ذَلِكَ كَذَلِكَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ وَ حُطَّتْ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

      “Ya seperti itulah. Demikianlah, tidaklah seorang muslim itu ditimpa sesuatu yang menyakitkan, duri dan yang lebih dari itu melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Dan digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon yang gugur dedaunannya”. [HR al-Bukhoriy: 5647, 5648, 5660, 5661, 5667 dan Muslim: 2571. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Setiap kali penyakit dan rasa sakit itu menimpa hamba yang beriman niscaya Allah ta’ala akan melipat gandakan pahala untuknya dan menghapuskan dosa-dosanya sehingga akan dihapuskan kesalahan-kesalahan darinya semuanya”. [12]

            Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada suatu malam pernah terkena sakit yang menjadikannya mengaduh dan membolak-balikkan dirinya di atas tempat tidur. Aisyah berkata berkata, “Jika hal itu dikerjakan oleh sebahagian dari kami, tentulah aku akan marah kepadanya”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      إِنَّ الصَّالِحَيْنَ يُشَدَّدُ عَلَيْهِمْ وَ إِنَّهُ لَا يُصِيْبُ مُؤْمِنًا نَكْبَةٌ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَ ذَلِكَ إِلَّا حُطَّتْ بِهَا عَنْهُ خَطِيْئَةٌ وَ رُفِعَ بِهَا دَرَجَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang shalih itu akan disusahkan oleh penyakit. Sesungguhnya tidaklah seorang mukmin itu ditimpa mushibah dari duri dan yang lebih dari itu melainkan akan digugurkan dengannya satu kesalahan darinya dan akan diangkat dengannya satu derajat”. [HR Ahmad: VI/ 160, 215, Ibnu Hibban dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Di samping itu pula, seorang mukmin tidak perlu khawatir bahwa Allah Azza wa Jalla tidak akan menurunkan penawarnya (obatnya). Karena Alla ta’ala tidaklah menurunkan penyakit jika tidak bersama obatnya. Dan iapun harus yakin bahwa Allah ta’ala-lah yang telah menyembuhkan bukan dokter atau obatnya. Dokter dan obat hanyalah sebagai perantara saja untuk kesembuhannya.

Hal tersebut berdasarkan beberapa keterangan dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam beberapa hadits berikut ini,

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, dari nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ أَوْ خَلَقَ لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَ جَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ إِلَّا السَّامُ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ مَا السَّامُ؟ قَالَ اْلمـَوْتُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan penyakit atau Dia tidak akan menciptakan penyakit kecuali Ia telah turunkan atau Ia telah ciptakan pula obatnya. Maka mengetahuinya-lah orang yang mengetahuinya dan tidak mengetahuinya orang yang tidak mengetahui kecuali as-Sam”. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah, apakah as-Sam itu?”. Beliau menjawab, “Kematian”. [HR al-Hakim: 8270 dan Ibnu Majah: 3439 dari Abu Hurairah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عز و جل لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً إِلَّا اْلهَرَمُ فَعَلَيْكُمْ بِأَلْبَانِ اْلبَقَرِ فَإِنَّهَا تَرُمُّ مِنْ كُلِّ الشَّجَرِ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidaklah menurunkan suatu penyakit melainkan Ia juga telah menurunkan obatnya, kecuali penyakit tua. Maka hendaklah kalian (berobat) dengan susu sapi, karena sesungguhnya ia makan dari berbagai (jenis) pepohonan. [HR an-Nasa’iy, al-Hakim: 8274, ath-Thabraniy, al-Baihaqiy, Ibnu Hibban, ath-Thoyalisiy dan Ahmad: IV/ 315 dari Thariq bin Syihab. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Dalil-dalil di atas dengan jelas menerangkan akan perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk berobat ketika merasakan sakit. Apalagi Allah Azza wa Jalla ketika menurunkan atau menciptakan suatu penyakit melainkan Dia juga akan menurunkan obat penawarnya. Maka akan mengetahui penyakit dan obatnya tersebut orang yang memang diberi karunia untuk mengetahuinya. Hal ini biasanya dikarenakan ia mempelajarinya, semisal thabib, dokter, ahli herbal dan selainnya. Begitu pula tidak akan mengetahuinya orang yang memang tidak dianugrahkan untuk mengetahuinya.

Namun yang harus diingat bahwa ketika seorang muslim sakit, lalu ia berobat kepada seorang thabib atau dokter lalu ia minum atau makan obat yang diberikan thabib tersebut lalu ia sembuh atau berkurang rasa sakitnya. Maka yang menyembuhkan atau yang mengurangi rasa sakitnya itu adalah Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan obat atau thabibnya.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

وَ إِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Dan apabila aku sakit, maka Dia-lah yang menyembuhkanku. [QS asy-Syu’ara/ 26: 80].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Yaitu jika tubuhku merasa sakit maka Dia-lah yang menyembuhkanku bukan yang lain-Nya”. [16]

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِنْ أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ تعالى

“Tiap-tiap penyakit itu ada obatnya. Maka jika obat dai penyakit itu benar/ sesuai maka ia akan sembuh dengan idzin Allah ta’ala”. [HR Muslim: 2204, al-Hakim: 7511, 8269, Ahmad: III/ 335, Ibnu Hibban dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Oleh sebab itulah, setiap muslim ketika Allah Subhanahu wa ta’ala berikan suatu ujian kepadanya berupa penyakit, maka hendaknya ia berusaha untuk mencari obat penawarnya. Ia tidak boleh berdiam diri menzholimi dirinya sendiri dengan tidak melakukan suatu usaha apapun. Ia harus yakin bahwa penyakit yang dideritanya itu ada obatnya, sebab ketika Allah ta’ala menciptakan penyakit yang dideritanya maka niscaya Ia juga menciptakan obat penawarnya.

Hendaklah ia juga memohon kepada Allah Jalla Dzikruhu agar dirinya diberikan kesabaran dan kesembuhan yang mengandung keridloan-Nya. Dan janganlah ia mencari kemurkaan Allah Azza wa Jalla karena ketidak sukaannya atas ujian yang telah diberikan kepadanya. Ataupun karena ia berobat dengan obat atau tempat-tempat yang telah Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam haramkan baginya.

Hal tersebut, sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam beberapa hadits yang telah tsabit dari Beliau, diantaranya:

Dari Usamah bin Syarik dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تعالى لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ اْلهَرَمِ

“Berobatlah kalian wahai hamba-hamba Allah. Karena sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan mengadakan suatu penyakit melainkan Ia mengadakan pula obatnya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit tua”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 291, at-Turmudziy, an-Nasa’iy, Abu Dawud: 3855, Ibnu Majah: 3436, Ahmad: IV/ 278, Ibnu Hibban dan al-Hakim: 424. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَ الدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَ لَا تَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah telah menciptakan penyakit dan juga obatnya. Maka berobatlah kalian, namun janganlah kalian berobat dengan yang haram!”. [HR ad-Dulabiy dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

Dari Ummu Slamah radliyallahu anha bahwasanya ia pernah membuat arak. Lalu datanglah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedangkan araknya sedang mendidih. Beliau bertanya, “Apakah ini?”. Aku menjawab, “Si fulanah sedang sakit lalu akan dijelaskan kepadanya akan ukuran arak ini”. Ummu Salamah berkata, “Kemudian beliau mendorongnya dengan kakinya dan memecahkannya, dan bersabda,

إنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ فِى حَرَامٍ شِفَاءً

“Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan obat dri seuatu yang haram”. [HR Ahmad di dalam al-Asyribah, Ibnu Abu ad-Dunya, Abu Ya’la dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata,

إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِيْمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan obat kalian dari apa-apa yang telah diharamkan kepada kalian”. [Atsar Riwayat al-Bukhoriy: X/ 65 (Fat-h al-Bariy) dengan shighot jazm. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Dari Abu al-Ahwash, bahwasanya ada seseorang datang menemui Abdullah (bin Mas’ud) radliyallahu anhu lalu bertanya, “Sesungguhnya saudaraku sedang sakit dan mengeluhkan perutnya. Dan ia pernah dijelaskan akan khomer. Bolehkah aku meminumkannya?”. Abdullah (bin Mas’ud) berkata, “Subhanallah, Allah tidak pernah menjadikan obat dari yang kotor. Obat itu hanya ada pada dua hal, yaitu madu, obat untuk manusia dan Alqur’an, obat untuk apa yang ada di dalam dada”. [Atsar Riwayat ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Sanadnya shahih juga]. [22]

Dari penjelasan dalil di atas dapat dipahami bahwa arak atau khomer atau yang semakna dengannya itu telah diharamkan untuk dijadikan obat, yang banyaknya atau sedikitnya. Hal ini telah diperkuat pula oleh dalil berikut ini,

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ

“Apa-apa yang banyaknya memabukkan maka sedikitnyapun haram”. [HR Ahmad: III/ 343, Abu Dawud: 3681, Ibnu Majah: 3392, 3393, 3394, at-Turmudziy: 1865 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [23]

Disamping itu pula, segala sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam maka sesuatu itupun menjadi haram untuk dijadikan obat. Oleh karena itu berobat ke dukun, orang pintar dan yang sejenis dengan itu diharamkan pula. Sebab Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengharamkan umat Islam untuk mendatanginya. Dengan mantera-mantera atau jampi-jampi yang tidak dipahami maknanya bahkan juga mengandung kalimat-kalimat kemusyrikan para dukun itu mengobati sesuatu penyakit. Lalu agar dapat mengelabui dan memperdaya umat Islam, para dukun itu memasukkan lafazh-lafazh berbahasa Arab, bahkan juga mengambil sebahagian ayat-ayat suci Alqur’an, al-Asma’ al-Husna dan dzikir-dzikir Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk menjadi bagian dari jampi-jampi mereka, Dan untuk memantapkan tipu daya mereka, maka para dukun itu memerintahkan orang-orang yang mendatangi mereka agar melakukan puasa ini dan itu, sembahyang ini dan itu, membaca dzikir ini dan itu, memberikan sedekah ke tempat-tempat tertentu dan lain sebagainya.

Orang-orang yang tidak memahamai ayat-ayat Alqur’an, hadits-hadits Nabi dan ilmu tauhid niscaya akan mudah terpedaya oleh seruan para dukun tersebut. Sehingga mereka menganggap perbuatan mereka tersebut tidak salah, sesuai dengan ajaran Islam, tidak menyimpang dan mereka akan membela serta mempertahankan perbuatan mereka tersebut dengan sungguh-sungguh karena mereka menganggap bahwa perbuatan mereka itu benar bahkan mereka merasa paling mendapat hidayah daripada selain mereka.

Berikut ini adalah beberapa dalil shahih tentang diharamkannya umat Islam untuk mendatangi para dukun, orang pintar dan tukang ramal dalam rangka memenuhi keperluannya.

Dari Mu’awiyah bin al-Hakam radliyallahu anhu, berkata, ‘Aku bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku baru saja meninggalkan masa-masa jahiliyah dan Allah telah mendatangkan Islam kepada kami. Namun di antara kami masih ada beberapa orang yang mendatangi dukun-dukun”. Lalu Beliau bersabda,

فَلَا تَـأْتِهِمْ

“Janganlah kalian mendatangi mereka!”. [HR ath-Thabraniy dan Muslim: 537. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [24]

Dari Imran bin Hushain radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّر وَ لَا مَنْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ تَسَحَّرَ أَوْ تُسُحِّرَ لَهُ

“Bukan termasuk golongan kami, orang yang meramal nasib dengan sesuatu atau orang yang mengikuti perkataan si peramal, atau orang yang melakukan praktek perdukunan atau orang yang datang kepada dukun, atau orang yang melakukan perbuatan sihir atau yang datang kepada penyihir”. [HR ath-Thabraniy dan al-Bazzar. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم

“Barangsiapa yang mendatangi ‘orang pintar’ atau dukun lalu membenarkan apa-apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah mengkafiri apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam”. [HR Ahmad: II/ 429, IV/ 68 an al-Hakim: 15. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ أَوْ اَتَى امْرَأَةً حَائِضًا أَوْ أَتَى امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم

“Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu membenarkan apa-apa yang dikatakannya, atau mendatangi/ menggauli istrinya yang sedang haidl, atau menggauli istrinya melalui duburnya maka sungguh ia telah berlepas diri dari apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam”. [HR Ahmad: II/ 408, 476, at-Turmudziy: 135, an-Nasa’iy: an-Nasa’iy: I/ 78, Abu Dawud: 3904, Ibnu Majah: 639, ad-Darimiy: I/ 259, ath-Thahawiy, al-Baihaqiy dan Ibnu al-Jarud. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [27]

Dari sebahagian istri-istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi ‘orang pintar’ lalu ia bertanya sesuatu kepadanya maka tidak akan diterima sholatnya selama 40 malam”. [HR Muslim: 2230 dan Ahmad: IV/ 68. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [28]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,

1). “Diharamkannya mendatangi para dukun dan orang-orang pintar.

2). Mendatangi orang pintar atau dukun dan masuk menemui mereka itu membinasakan meskipun tidak membenarkan mereka. Hal ini telah ditunjukkan oleh beberapa hal,

a)). Membenarkan mereka itu adalah kufur sebagaimana telah shahih kabar atau hadits dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentangnya.

b)). Mendatangi mereka itu menghapuskan amal shalih dan menggugurkan pahalanya.

            3). Barangsiapa yang mendatangi orang pintar maka Allah ta’ala tidak akan menerima sholatnya selama 40 hari yaitu berupa menggugurkan pahalanya dan menghapsukan berkahnya, dan seolah-olah ia tidak pernah sholat. Tetapi telah gugur kewajiban darinya, karena seorang dari dari ahli ilmu tidak pernah menetapkan untuk mengqodlonya”. [29]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لاَ يَحِلُّ ثَمَنُ اْلكَلْبِ وَ لاَ حُلْوَانُ اْلكَاهِنِ وَ لَا مَهْرُ اْلبَغْيِ

“Harga (penjualan anjing), upah (bayaran) dukun dan mahar (bayaran) pelacur itu tidak halal. [HR Abu Dawud: 3483 dan an-Nasa’iy: VII/ 190. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [30]

Dari Abu Mas’ud (Uqbah bin Amr) al-Anshoriy radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

أَنَّهُ نَهَى عَنْ ثَمَنَ اْلكَلْبِ وَ مَهْرَ اْلبَغْيِ وَ حُلْوَانِ اْلكَاهِنِ

Bahwasanya beliau telah melarang dari harga (penjualan) anjing, mahar (bayaran) pelacur dan upah (bayaran) dukun. [HR al-Bukhoriy: 2237, 2282, 5346, 5761, Muslim: 1567, Abu Dawud: 3481, at-Turmudziy: 1276, Ibnu Majah: 2159, an-Nasa’iy: VII/ 189, 309 dan Ahmad: IV/ 118-119. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [31]

Demikianlah beberapa dalil yang melarang umat Islam untuk mendatangi para dukun atau orang pintar atau yang serupa dengan itu untuk menanyakan sesuatu (misalnya penyakit, barang-barang yang hilang, nasibnya atau seseorang yang lain, dan lain sebagainya).

Di samping itu pula, umat Islam dilarang berobat dengan jampi-jampi atau mantera-mantera yang dibacakan atau diperintahkan dibaca oleh dukun atau orang pintar tersebut sebagaimana keterangan yang telah berlalu. Biasanya jampi-jampi itu dibaca dengan amalan-amalan tertentu, pada waktu-waktu tertentu, di tempat-tempat tertentu dan selainnya.

Untuk menguatkan dalil-dalil di atas, maka perhatikan lagi beberapa hadits di bawah ini,

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اْلرُّقَى وَ التَّمَائِمَ وَ التِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesunggunya jampi-jampi, jimat-jimat dan guna-guna adalah kemusyrikan”. [HR Ahmad: I/ 381, Abu Dawud: 3883, Ibnu Majah: 3530, Ibnu Hibban dan al-Hakim: 8339, 7580. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [32]

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه و سلم نَهَى عَنِ الرُّقَى وَ التَّمَائِمِ وَ التِّوَلَةِ

“Bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang dari jampi-jampi, jimat-jimat dan ilmu pengasihan (guna-guna)”. [HR al-Hakim: 7579. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [33]

Dari al-Mughirah bin Syu’bah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنِ اكْتَوَى أَوِ اسْتَرْقَى فَقَدْ بَرِئَ مِنَ التَّوَكُّلِ

“Barangsiapa yang memakai tato dan minta dijampi-jampi maka sungguh-sungguh ia telah berlepas diri dari sifat tawakkal”. [HR at-Turmudziy: 2055, Ahmad: IV/ 249, 253, Ibnu Hibban, Ibnu Majah: 3489 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [34]

Bukan hanya itu saja, bahkan Allah ta’ala akan memasukkan orang yang tidak pernah minta dijampi-jampi termasuk dari orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Selama jampi-jampinya itu tidak ada apa-apanya dan tidak mengandung kemusyrikan. Sebab jika jampi-jampinya itu mengandung kemusyrikan, maka pelakunya akan terancam kekal di dalam neraka. Jampi-jampi itu biasanya disebut dengan ruqyah yaitu doa dan dzikir yang diajarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk mencegah dan mengobati penyakit, gangguan sihir dan setan dan selainnya.

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَ مَعَهُ الرُّهَيْطُ وَ النَّبِيَّ وَ مَعَهُ الرَّجُلُ وَ الرَّجُلَانِ وَ النَّبِيَّ وَ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِى سَوَادٌ عَظِيْمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِى فَقِيْلَ لِى هَذَا مُوْسَى صلى الله عليه و سلم وَ قَوْمُهُ وَ لَكِنِ انْظُرْ إِلَى اْلأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيْمٌ فَقِيْلَ لِى انْظُرْ إِلَى اْلأُفُقِ اْلآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيْمٌ فَقِيْلَ لِى هَذِهِ أُمَّتُكَ وَ مَعَهُمْ سَبْعُوْنَ أَلْفًا يَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَ لَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِى أُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ يَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَ لَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمُ الَّذِيْنَ صَحِبُوْا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ قَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمُ الَّذِيْنَ وُلِدُوْا فِى اْلإِسْلَامِ وَ لَمْ يُشْرِكُوْا بِاللهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ مَا الَّذِيْنَ تَخُوْضُوْنَ فِيْهِ؟ فَأَخْبَرُوْهُ فَقَالَ هُمُ الَّذِيْنَ لَا يَرْقُوْنَ وَ لَا يَسْتَرْقُوْنَ وَ لَا يَتَطَيَّرُوْنَ وَ عَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِى مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِى مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ

“Pernah diperlihatkan kepadaku beberapa umat. Aku melihat ada seorang nabi bersama beberapa orang pengikutnya, seorang nabi bersama seorang dan dua orang pengikutnya. Dan juga aku juga melihat ada seorang nabi yang tidak memiliki seorangpun pengikut. Tiba-tiba dinampakkan kepadaku dari jauh sesuatu kelompok yang hitam besar (karena banyaknya). Aku menyangka bahwa mereka adalah umatku. Dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa alaihi as-Salam bersama umatnya. Tetapi lihatlah ke ufuk (kaki langit)!. Maka akupun melihat sekelompok hitam yang besar’. Dan dikatakan lagi, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain!’. Maka akupun melihat lagi sekelompok hitam yang besar’. Dikatakan kepadaku, ‘Inilah umatmu. Dan bersama mereka ada 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab’. Lalu beliau bangkit dan masuk ke rumahnya. Kemudian orang-orangpun membicarakan tentang mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab tersebut. Berkata sebahagian dari mereka, ‘Mudah-mudahan mereka itu adalah orang-orang yang mempershahabati Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam (yakni para shahabat radliyallahu anhum)’. Dan berkata sebahagian lagi dari mereka, ‘Barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam keadaan beragama Islam dan tidak pernah mempersekutukan Allah (yaitu tidak berbuat syirik). Dan mereka juga menyebutkan sesuatu yang lain. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam keluar dan bertanya, ‘Apakah yang kalian perbincangkan?’. Maka merekapun mengkhabarkan kepada Beliau (akan apa yang mereka perbincangkan). Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak berjampi-jampi, tidak meminta dibacakan jampi-jampi, tidak meramal nasib dengan sesuatu (misalnya burung) dan mereka hanya bertawakkal kepada Rabb mereka’. Tiba-tiba berdirilah Ukkasyah bin Mihshon seraya berkata, ‘(Wahai Rosulullah), berdoalah kepada Allah agar Ia menjadikan diriku termasuk dari mereka!’. Beliau bersabda, ‘Kamu termasuk dari mereka’. Lalu berdiri pula seseorang yang lain, ‘Berdoalah kepada Allah, agar Ia menjadikan diriku termasuk mereka!’. Beliau bersabda, ‘Ukkasyah telah mendahuluimu dengannya’. [HR Muslim: 220, al-Bukhoriy: 5705, 5752, 6541 dan Ahmad. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [35]

Maka hendaklah setiap mukmin berhati-hati dari menjampi-jampi dan minta dijampi-jampi dengan kata-kata yang tidak diketahui/ dipahami maknanya dan bahkan mengandung kemusyrikan.

Namun jika tidak mengandung kemusyrikan dan tidak ada sesuatu padanya maka hal tersebut tidak terlarang. Karena pada mulanya jampi-jampi itu dilarang kemudian Beliau Shallallahu alaihi wa sallam memberi keringanan pada apa-apa yang jelas bahwa jampi-jampi itu tidak ada sesuatu padanya. Dan apa-apa yang tidak masuk akal maknanya maka tidak ada jalan lagi untuk berhukum kepadanya dan dia berada pada umumnya larangan. Demikian penjelasan asy-Syaikh Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah. [36]

Adapun istirqo’ yaitu meminta ruqyah dari selainnya meskipun diperbolehkan maka hal tersebut hukumnya makruh sebagaimana ditunjukkan oleh hadits, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta dibacakan jampi-jampi atau ruqyah…”. [37]

Penjelasan tersebut berdasarkan beberapa dalil dibawah ini,

Dari Jabir radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang melakukan ruqyah (mantera/ jampi-jampi). Lalu datang keluarga Amru bin Hazm kepada beliau lalu berkata, ”Wahai Rosulullah!, Kami mempunyai ruqyah yang kami biasa meruqyah untuk gigitan kalajengking, tetapi engkau telah melarang ruqyah?”. Berkata Jabir, “Lalu mereka memperagakan ruqyah tersebut kepada beliau”. Maka beliau bersabda,

مَا أَرَى بَأْسًا مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ

“Aku tidak melihat sesuatu yang jelek padanya, maka barangsiapa yang sanggup diantara kalian memberikan manfaat bagi saudaranya, maka hendaklah ia memanfaatkannya”. [HR Muslim: 2199 (63), Ahmad: III/ 382 dan al-Khara’ithiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [38]

Dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’iy radliyallahu anhu berkata, ”Kami biasa membaca jampi/ mantera pada masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya, “Wahai Rosulullah!, bagaimana pendapat anda tentang mantera ini?”. Beliau menjawab,

اعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

 ”Tunjukkanlah mantera/ ruqyahmu itu kepadaku. Tidak mengapa dengan ruqyah, selama tidak mengandung perbuatan syirik padanya”. [HR Muslim: 2200 (64), Abu Dawud: 3886 dan Ibnu Wahb di dalam al-Jami’. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [39]

Demikianlah keterangan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melalui sabda-sabdanya kepada setiap muslim agar mereka menjadi jelas akan segala sesuatunya. Oleh karena itulah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam selalu mencontohkan segala sesuatunya kepada umat Islam. Ketika ada seorang shahabat yang sakit, maka beliau menyuruh untuk memanggilkan thabib (dokter) untuk mengobatinya. Jika ada diantara mereka ada yang ingin dijampi-jampi atau diruqyah oleh Beliau maka Beliau mengajarkan ruqyah kepadanya karena sebenarnya ruqyah yang beliau ajarkan tersebut adalah DOA, sebagaimana doa-doa lain yang beliau ajarkan.

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah berkata, “Dan di dalam hadits tersebut, diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menjampi/ meruqyah/ mendoakan bagi saudaranya yang muslim dengan sesuatu yang tidak ada apa-apanya dari jampi-jampi. Dan yang demikian itu selama maknanya dipahami dan disyariatkan. Sedangkan jampi-jampi yang maknanya tidak masuk akal dari lafazh-lafazhnya maka yang demikian itu tidak boleh”. [40]

Berikut ini adalah dalil-dalil tentang disyariatkannya berobat ke thabib/ dokter atau dengan doa-doa ruqyah yang disyariatkan untuk diucapkan dan diamalkan oleh seseorang muslim yang sedang sakit atau ada yang sakit.

Dari seseorang shahabat Anshor berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa salam pernah menengok seorang laki-laki yang sedang terluka. Beliau bersabda, “Panggillah thabib Bani Fulan!”. Dia (yaitu laki-laki Anshor itu berkata, “Lalu merekapun memanggilnya”. Lalu thabib itupun datang. Lalu berkata, ‘Wahai Rosulullah, apakah obatnya itu mencukupi sesuatu?”. Beliaupun bersabda,

سُبْحَانَ اللهِ وَ هَلْ أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ فِى اْلأَرْضِ إِلَّا جَعَلَ لَهُ شِفَاءً

“Subhaanallah, Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit di muka bumi ini melainkan Ia juga telah menciptakan obatnya”. [HR Ahmad: V/ 371 dan Muslim: 2207 dengan sanad yang berbeda. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits ini sanadnya shahih]. [41]

Dari ‘Aisyah radliyallahu anha berkata, ”Rosulullah Shallallahu alaihi wa salam, apabila salah seorang diantara kami sakit, maka Beliau memegangnya dengan tangan kanannya, lalu mengucapkan,

أَذْهِبِ اْلبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ وَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

Adzhibil ba’sa rabban naasi, wasyfi, antasy syaafii, laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa’an laa yughaadiru saqoman. (Hilangkanlah penyakit ini, wahai Rabbnya manusia dan sembuhkanlah karena engkau lah Yang Maha Menyembuhkan. Tiada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-Mu, suatu kesembuhan yang tiada meninggalkan sedikitpun penyakit)”. [HR Riwayat Muslim: 2191 (46), al-Bukhoriy: 5743, Ibnu Majah: 3520 dan Abu Dawud: 3883. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[42]

Dari Utsman bin Abi al-Ash ats-Tsaqofiy radliyallahu anhu, bahwasanya ia pernah mengadukan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam rasa sakitnya yang ia dapatkan pada tubuhnya sejak ia masuk Islam. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Letakkanlah tangan (kanan)mu pada tempat yang engkau rasakan sakit dari tubuhmu dan ucapkanlah,

            بِسْمِ اللهِ (ثلاثا) (و قل سبع مرات) أَعُوْذَ بِاللهِ وَ قَدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَ أُحَاذِرُ

            Bismillah (3 kali), A’uudzu billah wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (7 kali). (Dengan menyebut nama Allah (tiga kali), aku berlindung kepada Allah dan kepada kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang aku dapatkan dan yang aku khawatirkan)”. [HR Muslim: 2202 (67), Ibnu Majah: 3522 dan Abu Dawud: 3891. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [43]

Dari Abi Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, bahwasanya Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata,

 يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ؟ فَقَالَ نَعَمْ قَالَ بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يَؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

“Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu bertanya, ”Ya Muhammad! apakah engkau merasa sakit?”. Jawab beliau, ”Ya!”. Lalu Jibril membaca membaca ruqyah, “Bismillahi arqiika min kulli syay-in yu’dziika, min syarri kulli nafsin aw ‘aini haasidin, Allahu yasyfiika, bismillahi arqiika. (Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari kejahatan setiap jiwa atau mata orang yang dengki. Mudah-mudahan Allah menyembuhkanmu. Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu)“. [HR Muslim: 2186 (40)].

Demikianlah beberapa doa ruqyah yang telah diajarkankan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebaik-baik panutan dan juga oleh Malaikat Jibril alaihi as-Salam, dan masih banyak lagi doa-doa ruqyah lainnya.

Namun di samping itu, janganlah kita melupakan kebiasaan berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar dijauhkan dari berbagai keburukan penyakit, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Anas (bin Malik) radliyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah berdoa,

اَللَّهُمَّ إِنىِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلبَرَصِ وَ اْلجُنُوْنِ وَ اْلجُذَامِ وَ مِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ

“Alloohumma innii a’uudzu bika minal baroshi wal junuuni wal judzaami wa sayyi’il asqoom”. (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra dan dari keburukan berbagai macam penyakit)”. [HR Abu Dawud: 1554, an-Nasa’iy: VIII/ 270 dan Ahmad: III/ 192. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [44]

Mudah-mudahan dengan pembahasan singkat ini, kita termotivasi untuk senantiasa menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla selalu memberikan ujian dan cobaan kepada kita sebagai hamba Allah. Di antara ujian yang akan datang menghampiri kita adalah sakit yang bisa menimpa kita kapan saja.

Lalu kita berusaha semampu kita untuk mencari kesembuhan dengan melakukan pengobatan yang disyariatkan dengan mendatangi thabib (dokter) dan minum obat yang telah disediakan untuk kita. Namun kita harus paham bahwa bukan obat dan dokter yang menyembuhkan kita tetapi yang menyembuhkan kita hanyalah Allah Azza wa Jalla.

Disamping itu kita dilarang untuk berobat dengan sesuatu yang haram atau mendatangi tempat-tempat yang diharamkan. Di antara yang diharamkan adalah berobat dengan khomer dan tempat yang diharamkan adalah para dukun, orang pintar dan sejenisnya. Dan diharamkan pula menggunakan jimat untuk menolak bala dan mantera yang mengandung kemusyrikan atau kalimat yang tidak dipahami maksudnya. Namun diperbolehkan membaca mantera atau ruqyah yang telah diajarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana telah disebutkan di dalam banyak dalil hadits yang tsabit dan shahih.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish showab.

[1] Tafsir Ibnu Jarir ath-Thobariy: IX/ 26 cetakan I Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut dan Tafsir al-Qur’an al-Azhim Ibnu Katsir: III/ 218 cetakan Dar al-Fikr.

[2] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1954, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3256, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 146, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1706, 2110, Misykah al-Mashobih: 1566 dan Riyadl ash-Shalihin: 43.

[3] Bahjah an-Nazhirin: I/ 106.

[4] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 228.

[5] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 147, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3980, 3987 dan Riyadl ash-Shalihin: 27.

[6] Bahjah an-Nazhirin Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 82.

[7] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1870.

[8] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1673 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1611.

[9] Shahih Sunan at-Turmudziy: 772, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2503 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5818 dan Riyadl ash-Shalihin: 37.

[10] Bahjah an-Nazhirin: I/ 97.

[11] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5763 dan Riyadl ash-Shalihin: 38.

[12] Bahjah an-Nazhirin: I/ 97.

[13] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1610 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1660.

[14] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1650, 451, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2774 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1809, 5559.

[15] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 518 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1808, 1810.

[16] Aysar at-Tafasir: III/ 656.

[17] Mukhtashor Shahihh Muslim: 1467, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5164 dan Ghoyah al-Maram: 292.

[18] Shahih al-Adab al-Mufrad: 223, Shahih Sunan Abu Dawud: 3264, Shahhih Sunan Ibnu Majah: 2772, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2930 dan Ghoyah al-Maram: 292.

[19] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1633 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1762.

[20] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: IV/ 175.

[21] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: IV/ 175.

[22] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: IV/ 176.

[23] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1520, Shahiih Sunan Abu Dawud: 3128, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2736, 2737, 2738, Irwa’ al-Ghalil: 2373, 2375 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5530.

[24] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7180 dan Riyadl ash-Shalihin: 1670.

[25] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5435 dan Fath-h al-Majid Syar-h Kitab at-Tauhid halaman 302-303.

[26] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5939 dan Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 502.

[27] Shahih Sunan Abu Dawud: 3304, Shahih Sunan at-Turmudziy: 116, Shahih Sunan Ibnu Majah: 522, Irwa’ al-Ghalil: 2006, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5942, Misykah al-Mashabih: 551 dan dan Adab az-Zifaf halaman 105, 120-121.

[28] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5940, Riyadl ash-Shalihin: 1667 dan Syar-h al-Aqidah ath-Thahawiyah halaman 502.

[29] Bahjah an-Nazhirin: III/ 178.

[30] Shahih Sunan Abi Dawud: 2975, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4004, 4351 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7640.

[31] Mukhtashor Shahih Muslim: 932, Shahih Sunan Abi Dawud: 2972, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4003, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6951, Irwa’ al-Ghalil: 1291 dan Misykah al-Mashobih: 2764.

[32] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 331, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1632 dan Fat-h al-Majid Syar-h Kitab at-Tauhid halaman 130.

[33] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6880.

[34] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1677, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2811, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 244, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6081 dan Misykah al-Mashabih: 4555.

[35] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8071, Riyadl ash-Shalihin: 74 dan fat-h al-Majid Syar-h Kitab at-Tauhid halaman 70-76.

[36] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 765.

[37] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 765.

[38] Mukhtashor Shahih Muslim: 1452, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 472 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6019.

[39] Mukhtashor Shahih Muslim: 1462, Shahih Sunan Abu Dawud: 3290, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1066 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1048.

[40] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 765.

[41] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 517.

[42] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2837, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3288, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 855, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2771 dan Misykah al-Mashabih: 4552.

[43] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2839, Shahih Sunan Abu Dawud: 3293, 1303, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: III/ 404, Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 505 dan Fat-h al-Majid Syar-h Kitab at-Tauhid halaman 73.

[44] Shahih Sunan Abu Dawud: 1375, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5068, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1281, 1285, Irwa’ al-Ghalil: III/ 357 dan Misykah al-Mashobih: 2470.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s