AYUK SEMBUHKAN PENYAKITMU DENGAN RUQYAH SYAR’IYYAH..!!

CINTA KAJIAN SUNNAH

CINTA KAJIAN SUNNAH

PENGOBATAN DENGAN RUQYAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Sekarang ini, banyak kita jumpai pengobatan dengan metode ruqyah menjadi semakin marak, bahkan di sejumlah kota telah muncul “klinik ruqyah”, “bengkel ruqyah”, “bengkel rohani” dan sejenisnya. Akan tetapi, maraknya praktik ruqyah tersebut menuntut kaum muslimin untuk lebih bersikap berhati-hati, jeli dan teliti karena ternyata tidak semua praktik ruqyah yang dilakukan oleh para peruqyah itu sesuai dengan tuntunan Alqur’an dan Sunnah, meskipun yang melakukan ruqyah tersebut bergelar ustadz, kyai, habib, ajengan atau yang lainnya. Bagaimana mungkin kita mengharapkan kesembuhan dari Allah ta’ala, namun di sisi lain kita justru melanggar syariat dan ketentuan Allah ta’ala?. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini kita akan mengulas sedikit tentang metode pengobatan ruqyah ditinjau dari pandangan Alqur’an dan Sunnah.

PENGERTIAN RUQYAH

Ruqyah adalah bacaan-bacaan untuk pengobatan yang syar’iy (berdasarkan nash-nash yang pasti dan shahih yang terdapat dalam Alqur’an dan Sunnah) sesuai dengan ketentuan-ketentuan serta tata cara yang telah disepakati oleh para ulama. Hakikat dari ruqyah adalah seseorang berdoa kepada Allah ta’ala untuk meminta kesembuhan.

Ruqyah adalah membacakan sesuatu kalimat tertentu pada orang yang sakit, bisa jadi karena terkena ain (mata hasad), sengatan kalajengking, gigitan semut, sihir, racun, rasa sakit, sedih, gila, kerasukan, dan lainnya. Kalimat tersebut jelas maknanya tanpa ada unsur kemusyrikan ataupun kebatilan di dalamnya, diambil dari ayat-ayat Alqur’an atau doa-doa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits shahih dan semisalnya. Ruqyah atau doa itu dipanjatkan kepada Allah ta’ala dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariat agar diberi kesembuhan dari penyakit atau minimal meringankannya.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Ruqyah merupakan salah satu bentuk doa”.

Ruqyah di kalangan para dukun atau paranormal dikenal dengan istilah jampi-jampi atau mantera-mantera. Selain jimat, biasanya mantera atau jampi itu menjadi dagangan utama para dukun, tukang ramal atau orang pintar. Mereka melafazhkan berbagai kata dan kalimat yang tidak jelas maknanya lantaran seperti orang bergumam dan berdesis, sambil menaburkan bubuk kemenyan dengan tangan yang digemetarkan ke atas tungku bara api yang dinyalakan, menyemburkan air putih bahkan air liurnya kepada para pasien, sambil meraba beberapa anggota tubuh mereka yang sedang dalam pengobatan dan sebagainya. Bahkan mayoritas para dukun dan sejenisnya itu menggumamkan kalimat meminta perlindungan kepada selain Allah ta’ala yang dicampur baurkan dengan lafazh-lafazh berbahasa arab, bahasa daerah atau kalimat-kalimat tertentu tanpa makna.

Sedangkan ruqyah yang syar’iy ada ketentuannya sebagaimana akan dijelaskan di dalam pembahasan berikut ini. Jika tidak memenuhi kriteria yang ada maka ruqyah tersebut tidak jauh dari jampi-jampi yang dilakukan oleh para dukun.

Al-Imam as-Suyuthiy rahimahullah berkata, “Ruqyah itu dibolehkan jika memenuhi tiga syarat:

  1. Bacaan ruqyah dengan menggunakan ayat Alqur’an atau nama dan sifat Allah.
  2. Menggunakan bahasa Arab atau kalimat yang mempunyai makna.
  3. Harus yakin bahwa ruqyah dapat berpengaruh dengan idzin Allah, bukan dari dzat ruqyah itu sendiri”. [1]

Kriteria ruqyah yang syar’iy secara lebih rinci dapat dijelaskan berikut ini:

  1. Bacaan ruqyah dengan menggunakan ayat Alqur’an, do’a yang syar’iy atau yang tidak bertentangan dengan do’a yang dituntunkan.
  2. Menggunakan bahasa Arab kecuali jika tidak mampu menggunakannya.
  3. Tidak bergantung pada ruqyah karena ruqyah hanyalah sebab yang dapat berpengaruh atau tidak.
  4. Isi ruqyah jelas maknanya.
  5. Tidak mengandung do’a atau permintaan kepada selain Allah (semisal kepada jin, setan atau para wali yang telah meninggal dunia).
  6. Tidak mengandung ungkapan yang diharamkan seperti celaan.
  7. Tidak menyaratkan orang yang diruqyah mesti dalam kondisi yang aneh seperti harus dalam keadaan junub, harus berada di kuburan, atau mesti dalam keadaan bernajis. [2]

Kriteria-kriteria di atas menunjukkan bagaimana kita dapat menilai praktek ruqyah dibenarkan ataukah tidak. Jika si dukun menggunakan mantera-mantera yang tidak jelas maknanya, menggunakan do’a yang tidak dipahami, apalagi berlindung kepada selain Allah ta’ala dari para Nabi, para wali dan selainnya. Atau menyembuhkan dengan jalan memindahkan penyakit yang diderita ke seekor binatang, berendam di telaga pada malam-malam yang ditentukan, memandikan dengan kembang tujuh rupa dan air tujuh sumur maka jelas kita katakan praktek dukun tersebut bermasalah dan menyimpang.

Mempraktekkan ruqyah itu mesti menteladani Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan tidak melakukan perkara bid’ah atau memperluas tata cara ruqyah yang tidak syar’iy. Cukuplah mengambil ruqyah dan doa yang dipastikan dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Karena di dalamnya telah terdapat banyak kebaikan dan berkah. Kita tidak butuh kepada tambahan dalam ruqyah atau sejumlah amalan tertentu dan ta’awwudz yang menyerupai amalan ahli sihir, tukang santet dan para dukun.

Ruqyah merupakan sebaik-baik hadiah yang dapat kita berikan kepada diri kita sendiri, istri, anak-anak kita serta orang-orang yang kita inginkan kebaikan untu mereka. Awalnya adalah untuk perlindungan dan penjagaan diri. Adapun selanjutnya untuk pengobatan dan proses penyembuhannya. Khususnya jika kita melihat adanya perubahan mendadak pada salah satu dari mereka, baik dari segi kelakuan, kesehatan ataupun kepribadian.

Demi upaya menyempurnakan faidah ruqyah yang dilakukan, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain, maka hendaknya setiap kita untuk membaca surat al-Baqarah, ayat Kursiy (al-Baqarah/ 2: 255) setiap pagi dan sore, melantunkan dzikir pagi dan sore setiap hari sebagaimana telah dicontohkan dan diajarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan selainnya.

Hendaknya kita menyandarkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, menyerahkan semua urusan kepada-Nya, memperbanyak doa dan memelas diri pada saat meminta kesembuhan kepada-Nya. Ruqyah tidak lain hanyalah salah satu sebab yang dibuat oelh Allah ta’ala agar jelas bagi para hamba-Nya bahwa Dia adalah Yang Maha Mengatur, Maha Menyembuhkan dan Maha Menetapkan Segala sesuatu.

Hendaknya kita membaca ruqyah dengan penuh kekhusyu’an, penghayatan dan perenungan. Disunnahkan untuk membaca ruqyah saat dalam keadaan berwudlu serta dilakukan dengan adab-adab berdoa.

Jika kita hendak meruqyah seseorang hendaknya kita memperhatikan masalah mahram yang tidak boleh kita sentuh dan pegang. Jika yang meruqyah seorang pria maka ia tidak boleh menyentuh dan memegang tubuh atau sebagian tubuh wanita yang tidak halal baginya yang hendak diruqyah. Begitupun sebaliknya. [3]

DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN BOLEHNYA PENGOBATAN DENGAN RUQYAH

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa ruqyah merupakan di antara sebab kesembuhan seseorang dari penyakit yang diderita. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya),

وَ نُنَزِّلُ مِنَ اْلقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَ رَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَ لَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan kami turunkan dari Alqur’an suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Alqur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian”. [QS. Al-Isra’/ 17: 82] [4]

Ketika menjelaskan ayat ini, seorang ulama ahli tafsir, asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithiy rahimahullah mengatakan, Firman Allah dalam ayat ini (yaitu), ’suatu yang menjadi obat’ mencakup obat bagi penyakit hati, seperti keragu-raguan, nifaq, dan lain sebagainya. Dan juga obat bagi penyakit badan (penyakit jasmani) dengan dibacakan ruqyah kepada penyakit tersebut. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh kisah diruqyahnya orang yang disengat kalajengking dengan surat al-Fatihah. Kisah ini merupakan kisah yang shahih dan terkenal”. [5]

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’diy rahimahullah mengatakan, ”Obat yang terkandung dalam Alqur’an bersifat umum, yaitu mencakup obat bagi penyakit hati dari syubhat, kebodohan, pemikiran yang rusak, penyimpangan, dan maksud-maksud yang jelek. Alqur’an mengandung ilmu yang dapat menghilangkan setiap syubhat dan kebodohan, mengandung nasihat dan peringatan yang dapat menghilangkan hawa nafsu yang menyelisihi perintah Allah. Alqur’an juga mengandung obat bagi badan dari penyakit yang menimpanya”. [6]

Ayat dan penjelasannya di atas menunjukkan akan bolehnya melakukan ruqyah dengan ayat-ayat Alqur’an dan doa-doa ruqyah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk diri sendiri atau meruqyah orang lain. Karena diantara faidah Alqur’an adalah sebagai obat penyembuh sakit bagi orang yang membacanya.

Kenyataan dalam kehidupan kaum muslimin amat berbeda, kebanyakan mereka lebih terbiasa mendatangi para dukun, peramal, paranormal dan sejenisnya. Para dukun itu lalu mengobral jimat dan jampi-jampi kepada para pasien yang mendatangi mereka. Kemudian mereka dengan sigapnya merapal jampi-jampi andalan mereka yang tidak jelas kalimatnya dan mengandung kebatilan serta kemusyrikan. Bahkan kebanyakan mereka berusaha menipu para pasiennya dengan trik-trik tersembunyi untuk memperdaya mereka, dan alhamdulillah banyak sudah yang terbongkar kedok penipuan tersebut dengan kehendak Allah ta’ala.

Namun jika jampi-jampi/ ruqyah itu tidak mengandung kemusyrikan dan tidak ada sesuatu padanya maka hal tersebut tidak terlarang. Karena pada mulanya jampi-jampi itu dilarang kemudian Beliau Shallallahu alaihi wa sallam memberi keringanan pada apa-apa yang jelas bahwa jampi-jampi itu tidak ada sesuatu padanya. Dan apa-apa yang tidak masuk akal maknanya maka tidak ada jalan lagi untuk berhukum kepadanya dan dia berada pada umumnya larangan. Demikian penjelasan asy-Syaikh Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah. [7]

Adapun istirqo’ yaitu meminta ruqyah dari selainnya meskipun diperbolehkan maka hal tersebut hukumnya makruh sebagaimana ditunjukkan oleh hadits, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta dibacakan jampi-jampi atau ruqyah…”. [8]

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah berkata, “Dan di dalam hadits tersebut, diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menjampi/ meruqyah/ mendoakan saudaranya yang muslim dengan sesuatu yang tidak ada apa-apanya dari jampi-jampi. Dan yang demikian itu selama maknanya dapat dipahami dan disyariatkan. Sedangkan jampi-jampi yang maknanya tidak masuk akal dari lafazh-lafazhnya maka yang demikian itu tidak boleh”. [9]

Di antara dalil-dalil hadits yang membolehkan pengobatan penyakit dengan menggunakan ruqyah syar’iyah di antaranya adalah,

DALIL PERTAMA

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya ia berkata,

 كان إِذَا اشْتَكَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم رَقَاهُ جِبْرِيْلُ قَالَ: بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَ مِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ وَ مِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَ شَرِّ كُلِّ ذِىْ عَيْنٍ

 Apabila Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengalami sakit, maka jibril datang meruqyahnya. Jibril alaihi as-Salam berkata, “Bismillahi yubriika, wa min kulli daa-in yasyfiika, wa min syarri haasidin idzaa hasada, wa syarri kulli dzii ’ainin. (Dengan menyebut nama Allah, mudah-mudahan Ia membebaskan dirimu (dari segala penyakit), semoga Ia akan menyembuhkanmu dari semua penyakit. Melindungimu dari kejahatan orang yang dengki jika ia mendengki dan dari kejahatan setiap orang yang memilki mata jahat)”. [HR Muslim: 2185 (39). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[10]

DALIL KEDUA

Dari Abi Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, bahwasanya Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata,

 يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ؟ فَقَالَ نَعَمْ قَالَ بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يَؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ

“Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu bertanya, ”Ya Muhammad! apakah engkau merasa sakit?”. Jawab beliau, ”Ya!”. Lalu Jibril membaca membaca ruqyah, “Bismillahi arqiika min kulli syay-in yu’dziika, min syarri kulli nafsin aw ‘aini haasidin, Allahu yasyfiika, bismillahi arqiika. (Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari kejahatan setiap jiwa atau mata orang yang dengki. Mudah-mudahan Allah menyembuhkanmu. Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu)“. [HR Muslim: 2186 (40)].

DALIL KETIGA

Dari ‘Aisyah radliyallahu anha berkata, ”Rosulullah Shallallahu alaihi wa salam, apabila salah seorang diantara kami sakit, maka Beliau memegangnya dengan tangan kanannya, lalu mengucapkan,

أَذْهِبِ اْلبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ وَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

Adzhibil ba’sa rabban naasi, wasyfi, antasy syaafii, laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa’an laa yughaadiru saqoman. (Hilangkanlah penyakit ini, wahai Rabbnya manusia dan sembuhkanlah karena Engkau-lah Yang Maha Menyembuhkan. Tiada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-Mu, suatu kesembuhan yang tiada meninggalkan sedikitpun penyakit)”. [HR Riwayat Muslim: 2191 (46), al-Bukhoriy: 5743, Ibnu Majah: 3520 dan Abu Dawud: 3883. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[11]

DALIL KEEMPAT

            Dari Utsman bin Abi al-Ash ats-Tsaqofiy radliyallahu anhu, bahwasanya ia pernah mengadukan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam rasa sakitnya yang ia dapatkan pada tubuhnya sejak ia masuk Islam. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Letakkanlah tangan (kanan)mu pada tempat yang engkau rasakan sakit dari tubuhmu dan ucapkanlah,

            بِسْمِ اللهِ (ثلاثا) (و قل سبع مرات) أَعُوْذَ بِاللهِ وَ قَدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَ أُحَاذِرُ

            Bismillah (3 kali), A’uudzu billah wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (7 kali). (Dengan menyebut nama Allah (tiga kali), aku berlindung kepada Allah dan kepada kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang aku dapatkan dan yang aku khawatirkan)”. [HR Muslim: 2202 (67), Ibnu Majah: 3522 dan Abu Dawud: 3891. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

DALIL KELIMA

 Dari ‘Aisyah radliyallahu anha berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, apabila seseorang mengadukan sesuatu (penyakit yang dideritanya), terkena bisul atau luka. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berucap sambil menggerakkan anak jarinya seperti ini – Sufyan meletakkan telunjuknya ke tanah kemudian mengangkatnya–,

بِسْمِ اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيْمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا

Bismillahi turbatu ardlina biriiqati ba’dlinaa li yusyfaa bihi saqiimuna bi idzni rabbinaa”. [HR Muslim: 2194 (54), al-Bukhoriy: 5745, 5746, Ibnu Majah: 3521 dan Abu Dawud: 3895. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

DALIL KEENAM

            Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melindungi al-Hasan dan al-Husain dan bersabda, “Sesungguhnya moyang kalian berdua melindungi Ismail dan Yakub dengannya, yaitu,

      أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَ هَامَّةٍ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

            “A’uudzu bi kalimaatillahit taammati min kulli syaithaanin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammah. (Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa dan dari setiap mata yang jahat)”. [HR al-Bukhoriy: 3371].

DALIL KETUJUH

            Dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Aku pernah mendengar seorang lelaki dari suku Aslam bercerita, ‘Aku pernah duduk di dekat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari shahabatnya lalu berkata, “Wahai Rosulullah, semalam aku telah disengat sehingga aku tidak bisa tidur sampai menjelang subuh”. Beliau bertanya, “(Disengat )apa?”. Ia menjawab, “(Disengat) kalajengking”. Maka beliau bersabda, “Seandainya pada waktu sore engkau mengucapkan,

      أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

            A’uudzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq. (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya), niscaya tidak akan membahayakanmu, in syaa Allah”. [HR Muslim: 2708 (54), Abu Dawud: 3898, Ibnu Majah: 3518 dan Ahmad: III/ 419. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

DALIL KEDELAPAN

            Dari Abdurrahman bin Khanbasy radliyallahu anhu, ‘Maka berkata Malaikat Jibril alaihi as-Salam, “Wahai Muhammad, ucapkanlah!”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sllam berkata, “Apa yang harus aku katakan?”. Ia (yaitu Malaikat Jibril berkata, “Ucapkanlah

      أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ الَّتِى لَا تُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَ لَا فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَ ذَرَأَ وَ بَرَأَ وَ مِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَ مِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَ مِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِى اْلأَرْضِ وَ مِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَ مِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ وَ مِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ

             A’uudzu bi kalimaatillahit taammaatillatii laa tujaawizuhunna barrun wa laa faajirun min syarri maa kholaqo wa dzara’a wa bara’a wa min syarri ma yanzilu minas samaa’i wa min syarri maa ya’ruju fiihaa wa min syarri maa dzara’a fil ardli wa min syarri maa yakhruju minhaa wa min syarri fitanil laili wan nahaari wa minsyarri kulli thaariqi illaa thaariqan yathruqu bi khairinn ya rahmaan. (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tidak dapat ditembus oleh orang baik maupun orang jahat, dari kejahatan apa yang telah Dia jadikandan yang Dia ciptakan. Serta dari kejahatan yang turun dari langit, dari kejahatan yang naik ke langit, dari kejahatan yang tenggelam ke bumi, dari kejahatan yang keluar dari bumi, dari kejahatan fitnah malam dan siang, dan dari kejahatn setiap yang datang (di waktu malam), kecuali yang datang dengan tujuan baik, wahai Rabb Yang Mahapemurah”. [HR Ahmad: III/ 419 dan Ibnu as-Suniy di dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [15]

DALIL KESEMBILAN

Dari ‘Aisyah radliyallahu anha berkata,

أن النبى صلى الله عليه و سلم كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِاْلمـُعَوِّذَاتِ وَ يَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجْعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَ مَسَحَ عَنْهُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

”Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila merasakan sakit, maka beliau membaca untuk dirinya sendiri surat-surat mu’awwidzat, kemudian beliau tiupkan. Tatkala sakit beliau bertambah keras, kubacakan surat-surat itu diatasnya, kemudian kusapukan dengan tangannya sambil mengharapkan berkahnya”. [HR Muslim: 2192 (51). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

DALIL KESEPULUH

Dari ‘Aisyah radliyallahu anha berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إِذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ نَفَثَ عَلَيْهِ بِاْلمـُعَوِّذَاتِ فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِى مَاتَ فِيْهِ جَعَلْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ وَ أَمْسَحُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِأَنَّهَا كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْ يَدِى

”Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila salah seorang dari keluarganya mengalami sakit, beliau tiupkan kepadanya surat-surat al-mu’awwidzat. Maka tatkala beliau sakit dengan sakit yang beliau meninggal padanya, kutiupkan pula kepadanya dan kusapukan tangannya ketubuhnya, karena tangan beliau labih besar berkahnya daripada tanganku”. [HR Muslim: 2192 (50). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Dalil-dalil hadits diatas dan selainnya menjelaskan kepada kita bahwa ruqyah itu disyariatkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Karena telah dilakukan oleh Malaikat Jibril alaihi as-Salam ketika meruqyah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang sedang sakit atau terkena sihir. Atau juga pernah dilakukan oleh Beliau ketika ada di antara keluarganya atau para shahabat yang sedang sakit dan dibesuk oleh Beliau. Dan juga karena yang beliau ajarkan umatnya untuk mengamalkan ruqyah pada waktu yang telah ditentukan, dan sebagainya.

Begitu pula dengan hadits berikut ini menjelaskan rukhshoh atau keringanan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya untuk meruqyah dirinya sendiri atau selainnya dari berbagai penyakit, semisal demam, pandangan mata jahat, gigitan semut, sengatan kalajengking dan selainnya.

DALIL KESEBELAS

Dari Abdurrahman al-Aswad, dari bapaknya radliyallahu anhu berkata, ”Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang ruqyah. Lalu ia menjawab,

رَخَّصَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم لِأَهْلِ بَيْتٍ مِنَ اْلأَنْصَارِ فِى الرُّقْيَةِ مِنْ كُلِّ ذِى حُمَةٍ

“Rosulullah Shallallahu alihi wa sallam merukhshoh (memberi keringanan) kepada suatu keluarga dari golongan Anshar di dalam meruqyah untuk setiap penyakit demam”. [HR Muslim: 2193].

DALIL KEDUA BELAS

Dari ‘Aisyah radliyallah anha berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يَأْمُرُنِى أَنْ أَسْتَرْقِيَ مِنَ اْلعَيْنِ

”Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menyuruhku supaya minta diruqyah penyakit dari sebab pengaruh pandangan mata”. [HR Muslim: 2195 (56). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

DALIL KETIGA BELAS

Dari Anas radliyallahu anhu berkata,

رَخَّصَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فِى الرُّقْيَةِ مِنَ اْلعَيْنِ وَ اْلحُمَةِ وَ النَّمْلَةِ

”Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah merukhshoh (memberi keringanan) untuk meruqyah penyakit karena pengaruh pandangan mata, penyakit demam, dan karena gigitan serangga”. [HR Muslim: 2196 (57), Ibnu Majah: 3516. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

DALIL KEEMPAT BELAS

Dari Buraidah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ

“Tidak ada ruqyah kecuali dari sebab penyakit pandangan mata jahat atau demam”. [HR Ibnu Majah: 3513 dan Abu Dawud: 3884. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]

DALIL KELIMA BELAS

عن جابر بن عبدالله يقول رَخَّصَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم لِأَلِ حَزْمٍ فِى رُقْيَةِ اْلحَيّةِ وَ قَالَ لِأَسْمَاءِ بِنْتِ عُمَيْسٍ مَالِى أَرَى أَجْسَامَ بَنِى أَخِى ضَارِعَةً تُصِيْبُهُمُ اْلحَاجَةُ قَالَتْ لَا وَلَكِنِ اْلعَيْنُ تُسْرِعُ إِلَيْهِمْ قَالَ ارْقِيْهِمْ قَالَتْ فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ : ارْقِيْهِمْ

 Dari Jabir bin ‘Abdullah radliyallahu anhu berkata, ”Rosulullah merukhshah bagi keluarga Hazm untuk meruqyah bekas gigitan ular”. Dan beliau bertanya kepada Asma’ binti ‘Umais, “Kelihatannya tubuh anak-anak saudaraku ini kurus kering. Apakah mereka kurang makan?”. Jawab Asma’, “Tidak!, mereka terkena penyakit pengaruh pandangan mata”. Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ”Ruqyahlah mereka!”. Lalu kuminta agar beliau sudi meruqyah mereka. Tetapi beliau mengatakan, “Ruqyahlah mereka”. [HR Muslim: 2198 (60)].

Bahkan jika ada seorang muslim memiliki kesanggupan memberi manfaat kepada saudaranya dalam meruqyah penyakit dan sejenisnya, maka hendaklah ia melakukannya. Lalu jika ternyata ia mampu untuk mengajarkan ruqyah itu kepada temannya yang belum mampu, maka hendaklah ia mengajarkannya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut ini,

DALIL KEENAM BELAS

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, ”Seorang laki-laki dari keluarga kami digigit kalajengking ketika kami sedang duduk bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu berkata seorang laki-laki, “Wahai Rosulullah!, bolehkah aku meruqyahnya?”. Jawab beliau,

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

“Barangsiapa yang sanggup diantara kalian memberi manfaat (menolong) saudaranya, hendaklah ia melakukannya”. [HR Muslim: 2199 (61). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

DALIL KETUJUH BELAS

Dari Jabir radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang melakukan ruqyah (mantera/ jampi-jampi). Lalu datang keluarga Amru bin Hazm kepada beliau lalu berkata, ”Wahai Rosulullah!, Kami mempunyai ruqyah yang kami biasa meruqyah untuk gigitan kalajengking, tetapi engkau telah melarang ruqyah?”. Berkata Jabir, “Lalu mereka memperagakan ruqyah tersebut kepada beliau”. Maka beliau bersabda,

مَا أَرَى بَأْسًا مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ

“Aku tidak melihat sesuatu yang jelek padanya, maka barangsiapa yang sanggup diantara kalian memberikan manfaat bagi saudaranya, maka hendaklah ia memanfaatkannya”. [HR Muslim: 2199 (63)]. [21]

DALIL KEDELAPAN BELAS

Dari asy-Syifa bintu Abdullah berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam masuk menemuiku sedangkan aku sedang bersama Hafshah. Lalu berliau bersabda kepadaku,

أَلَا تُعَلِّمِيْنَ هَذِهِ رُقْيَةَ النَّمْلَةِ كَمَا عَلَّمْتِهَا اْلكِتَابَةَ

“Tidakkah engkau mengajarkan dia ini (yaitu hafshah) ruqyah (akibat digigit) semut sebagaimana engkau telah mengajarkannya menulis”. [HR Abu Dawud: 3887. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

DALIL KESEMBILAN BELAS

Dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’iy radliyallahu anhu berkata, ”Kami biasa membaca jampi/ mantera pada masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya, “Wahai Rosulullah!, bagaimana pendapat anda tentang manteraini ?”. Beliau menjawab,

اعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

 ”Tunjukkanlah mantera/ ruqyahmu itu kepadaku. Tidak mengapa dengan ruqyah, selama tidak mengandung perbuatan syirik padanya”. [HR Muslim: 2200 (64) dan Abu Dawud: 3886. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [23]

 Demikian beberapa hadits yang telah dikemukakan diatas, jelas sudah bahwa ruqyah itu pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam sunnahnya dan Nabi juga memperbolehkannya untuk umatnya sebagaimana tertera pada hadits-hadits yang telah lalu.

Namun hendaknya diperhatikan bahwa ruqyah yang dibolehkan dan diberi keringanan untuk diamalkan itu tidak terkandung di dalamnya kemungkaran dan kebatilan, atau dalam kalimatnya terdapat kalimat-kalimat yang tidak jelas dan tidak bermakna. Jika ruqyahnya itu dilarang dan tidak boleh diamalkan.

Lebih bermasalah lagi jika di dalamnya menggunakan jampi-jampi yang mengandung kemusyrikan, meminta tolong pada jin dan yang ghaib, atau meminta agar kita untuk menyembelih hewan tertentu untuk jin. Yang seperti ini jelas syirik.

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اْلرُّقَى وَ التَّمَائِمَ وَ التِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesunggunya jampi-jampi, jimat-jimat dan guna-guna adalah kemusyrikan”. [HR Ahmad: I/ 381, Abu Dawud: 3883, Ibnu Majah: 3530, Ibnu Hibban dan al-Hakim: 8339, 7580. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [24]

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه و سلم نَهَى عَنِ الرُّقَى وَ التَّمَائِمِ وَ التِّوَلَةِ

“Bahwasanya Rosulullah Shallallahu alihi wa sallam telah melarang dari jampi-jampi, jimat-jimat dan ilmu pengasihan (guna-guna)”. [HR al-Hakim: 7579. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

Hadits di atas menunjukkan bahwa ada jampi-jampi atau mantera-mantera yang mengandung kemusyrikan. Namun tidak semuanya demikian.

Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafiy rahimahullah berkata, ”Mereka (para ulama) bersepakat bahwa tidak boleh mengucapkan segala bentuk mantra-mantra, jampi-jampi, dan sumpah yang mengandung unsur kemusyrikan kepada Allah. Meskipun dengan cara itu mereka bisa menundukkan jin dan yang lainnya. Demikian pula, tidak boleh mengucapkan perkataan yang mengandung unsur kekafiran, atau ucapan yang tidak diketahui maknanya. Karena adanya kemungkinan bahwa di dalamnya terkandung unsur kemusyrikan tanpa kita ketahui”. [26]

Ringkasnya, hakikat dari ruqyah yang tidak syar’iy adalah sebagaimana yang dikatakan oleh al-Baghawi rahimahullah, ”Dan yang terlarang darinya adalah ruqyah yang terkandung kemusyrikan, atau disebutkan (nama) setan yang durhaka, atau tanpa menggunakan bahasa Arab serta tidak diketahui maknanya. Barangkali (jika tidak diketahui maknanya) ada unsur sihir atau kekufuran di dalamnya”. [27]

PRAKTEK RUQYAH YANG MENYIMPANG

Seringkali kita jumpai di majalah atau tabloid tertentu, adanya pihak-pihak yang menawarkan metode pengobatan dengan ruqyah ini. Namun, apabila kita mencermati lafadz (mantera)nya, kita tidak bisa memahami maknanya karena menggunakan bahasa-bahasa yang terasa amat asing bagi kita. Kita tidak mengerti bahasa apa yang digunakan. Bahkan terkadang kita jumpai model ruqyah yang menggunakan kumpulan huruf yang tidak bermakna atau kumpulan huruf yang terpotong-potong. Model ruqyah lainnya menggunakan lafadz-lafadz ruqyah yang mereka klaim terdapat pada sayap malaikat Jibril, atau tertulis pada pintu surga, atau kepercayaan-kepercayaan khurafat yang lainnya.

Oleh karena itu, hendaklah kaum muslimin waspada dari hal ini. Meskipun mereka menyatakan bahwa mantera-mantera yang mereka miliki sangat ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit. Apalagi di kemudian hari kita mengetahui bahwa kalimat-kalimat dalam mantra tersebut mengandung unsur permintaan tolong kepada setan, jin, atau wali, serta mengandung unsur pengagungan dan penyembahan kepada setan atau pelecehan terhadap Allah ta’ala, pelecehan terhadap Alqur’an, atau kalimat-kalimat kekafiran. Inilah model ruqyah atau mantera yang telah diperingatkan oleh para ulama rahimahumullah di atas.

Praktek ruqyah yang lainnya adalah tipu daya yang dilakukan dengan menggunakan surat atau ayat Alqur’an, akan tetapi dengan membolak-balik ayatnya. Bagian awal dijadikan akhir, yang akhir dijadikan pertengahan, yang tengah dijadikan di awal, dan seterusnya. Mereka meyakini bahwa ayat dengan dimodel seperti ini memiliki kesaktian tertentu yang dapat menyembuhkan penyakit. Orang awam yang tidak memahami hal ini, dia akan menyangka bahwa dirinya sedang diruqyah dengan bacaan Alqur’an.

Kewaspadaan ini harus semakin ditingkatkan apabila mantera-mantera tersebut harus dibaca dengan melakukan suatu ritual tertentu, misalnya harus dibaca dengan mengunyah bawang merah atau ditiupkan ke dalam air. Atau jampi dan mantra itu dibaca pada saat pelakunya mandi dengan air sumur tertentu atau menggunakan bunga-bunga tertentu. Bahkan harus dibaca dengan melakukan ritual penyembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah ta’ala, nadzar kepada selain Allah ta’ala, atau perbuatan syirik lainnya. Praktik ini seringkali dilakukan oleh tukang ruqyah yang juga seorang dukun atau paranormal yang melakukan pengkaburan kepada kaum muslimin dengan mengatasnamakan pengobatan alternatif atau yang semisalnya.

Atau banyak juga ruqyah menyimpang itu dengan metode memindahkan penyakit seseorang kepada seekor binatang, semisal kambing, ayam dan selainnya. Seseorang yang sakit wajib membeli mahar seekor kambing dengan mahar (harga) tertentu yang ditentukan oleh seorang “ustadz” lalu melakukan ritual tertentu untuk memindahkan penyakitnya kepada binatang tersebut. Kemudian binatang tersebut disembelih, lalu dibuka bagian tertentu dari tubuhnya dan nampaklah penyakit itu telah berpindah kepadanya. Jelas perbuatan ini merupakan penyimpangan dalam meruqyah dan kezhaliman pada binatang yang dijadikan medianya.

Inilah beberapa penjelasan terkait dengan ruqyah yang dapat kami sampaikan. Karena banyaknya praktek ruqyah yang menyimpang di tengah-tengah kaum muslimin, maka semoga tulisan ini bisa menjadi perhatian dan peringatan kepada kaum muslimin untuk lebih berhati-hati dari para peruqyah gadungan yang tidak sesuai dengan syariat Allah ta’ala. Kami berharap kepada Allah ta’ala semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin yang membacanya dengan harapan dapat meraih ilmu dan kebaikan dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish showab.

[1] Fat-h al-Majid Syar-h Kitab at-Tauhid halaman 151.

[2] Fatawal ‘Ulama fi ‘Ilaj as-Sihr wa al-Mass wa al-‘Ain wa al-Jann, halaman 310.

[3] Hal ini berdasarkan Sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لَأَنْ يُطْعَنَ فىِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ِبمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ َيمَسَّ امْرَأَةً لاَ َتحِلُّ لَهُ

((Benar-benar ditikamkan ke kepala salah seorang dari kalian dengan jarum besar dari besi itu adalah lebih baik baginya daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya)). [HR ath-Thabraniy dari Ma’ql bin Yasar radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5045 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 226].

 Atau sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

إِنىِّ لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan kaum perempuan. [HR an-Nasa’iy: VII/ 149, at-Turmudziy: 1597, Ibnu Majah: 2874, Ahmad: VI: 357, Ibnu Hibban dan Abdurrazzak dari Umaimah binti Ruqaiqah radliyallahu anha. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3897, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1300, Shahih Sunan Ibni Majah: 2323 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 529].

 

[4] Lihat juga QS Fushshilat/ 41: 44 dan QS Yunus/ 10: 57.

[5] Tafsir Adlwa’ al-Bayan halaman 598.

[6] Tafsir Taisir Karim ar-Rahman halaman 465.

[7] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 765.

[8] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 765.

[9] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 765.

[10] Mukhtashor Shahih Muslim: 1443, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2060 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4672.

[11] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2837, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3288, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 855, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2771 dan Misykah al-Mashabih: 4552.

[12] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2839, Shahih Sunan Abu Dawud: 3293 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: III/ 404.

[13] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2838 dan Shahih Sunan Abu Dawud: 3296.

[14] Shahih Sunan Abu Dawud: 3299 dan Shahih Sunan Ibnu Majah: 2836.

[15] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2995.

[16] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4673.

[17] Mukhtashor Shahih Muslim: 1446 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4783.

[18] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4884.

[19] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2834.

[20] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2832, Shahih Sunan Abu Dawud: 3289, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7496 dan Misykah al-Mashabih: 4557-4559.

[21] Mukhtashor Shahih Muslim: 1452, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 253 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6019.

[22] Shahih Sunan Abu Dawud: 3291, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 178 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2650.

[23] Mukhtashor Shahih Muslim: 1462, Shahih Sunan Abu Dawud: 3290, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1066 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1048.

[24] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 331, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1632 dan Fat-h al-Majid Syar-h Kitab at-Tauhid halaman 130.

[25] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6880.

[26] Syar-h al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah: II/769.

[27] Syar-h as-Sunnah: XII/159.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s