SAUDARAKU MANA TANGANMU??..

Jabat tangan 3SUNNAH BERJABAT TANGAN DAN KEUTAMAANNYA

بسم الله الرحمن الرحيم

Telah diketahui bahwasanya tidak ada satupun manusia yang luput dari dosa dan kesalahan. Oleh sebab itu sebagai muslim, kita selalu berusaha untuk meminimalkan perbuatan dosa tersebut dengan cara menghindarkan dan menjauhkan diri darinya. Dan hal itupun dapat terwujud jika kita sudah mengetahui berbagai jenis dosa sebagaimana telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka dengan hal ini hendaknya kita menetapkan diri untuk mempelajari ilmu syar’iy yang berdasarkan Alqur’an dan hadits-hadits shahih yang membahas masalah akidah, ibadah, akhlak, perintah-perintah, larangan-larangan dan sebagainya.

Disamping itu hendaknya kita mengerjakan berbagai amal yang disyariatkan yang dapat menghapuskan dan menggugurkan dosa-dosa kita.

Ada sunnah mulia yang dapat menggugurkan dosa-dosa antara dua orang, yaitu sunnah berjabat tangan. Berjabat tangan itu adalah kebiasaan baik dari penduduk Yaman yang dijadikan oleh Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam menjadi sunnah yang dianjurkan bagi umatnya.

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, ketika penduduk Yaman datang, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ جَاءَكُمْ أَهْلُ اْليَمَنِ وَ هُمْ أَوَّلُ مَنْ جَاءَ بِاْلمـُصَافَحَةِ

“Sungguh-sungguh penduduk Yaman telah datang dan mereka adalah orang yang pertama kali datang dengan membawa (sunnah) berjabat tangan”. [HR Abu Dawud: 5213, Ahmad: III/ 212 dan al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 967. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Dari Qatadah berkata pada Anas bin Malik,

أَكَانَتِ الْمُصَافَحَةُ فِى أَصْحَابِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ نَعَمْ

“Apakah berjabat tangan dilakukan di tengah-tengah shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam?” Anas menjawab, “Iya”. [HR. al-Bukhoriy: 6263 dan at-Turmudziy: 2730. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berjabat tangan yang dimaksud di sini adalah bagian dalam tangan seseorang diletakkan pada bagian dalam telapak tangan yang lainnya. Jabat tangan adalah sunnah yang dianjurkan dan ini merupakan adat kebiasaan yang disyariatkan, tidak ada mudlarat padanya dan tidak pula penyelisihan (syariat). Bahkan jabat tangan ini adalah sunnah yang disepakati ketika saling berjumpa (sesama muslim)”. [3]

Berjabat tangan ketika saling bertemu itu dilakukan setelah seseorang di antara mereka mengucapkan salam.

Berkata al-Barra bin Azib radliyallahu anhu,

مِنْ تَمَامِ التَّحِيَّةِ أَنْ تُصَافِحَ أَخَاكَ

“Termasuk dari kesempurnaan penghormatan adalah engkau menjabat tangan saudaramu”. [Atsar riwayat al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 968. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih sanadnya secara mauquf]. [4]

Dari Salamah bin Wardan berkata, “Aku pernah melihat Anas bin Malik berjabat tangan dengan orang-orang. Lalu ia bertanya kepadaku, “Siapakah kamu?”. Aku menjawab, “(Aku adalah) maula/ bekas budaknya Bani Laits”. Lalu beliau mengusap kepalaku tiga kali dan berkata,

بَارَكَ اللهُ فِيْكَ

“Semoga Allah memberkahimu”. [Atsar riwayat al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 966. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan sanadnya]. [5]

Apakah disunnahkan bagi laki-laki apabila bertemu dengan saudaranya untuk berjabat tangan?. Jawabannya adalah, “Ya, disunnahkan baginya untuk melakukan hal itu. Karena hal tersebut merupakan adab para shahabat radliyallahu anhum sebagaimana yang ditanyakan oleh Qotadah kepada Anas bin Malik radliyallahu anhu, ‘Apakah berjabat tangan itu dilakukah ditengah-tengah para shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam?”. Ia menjawab, “Ya”. [6]

Dari al-Bara’ bin ‘Azib berkata, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

“Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah”. [HR. Abu Dawud: 5212, Ibnu Majah: 3703, at-Turmudziy: 2727 dan Ahmad: IV/ 289, 293, 303. Al-Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun asy-Syaikh al-Albaniy menyatakan bahwa hadits ini shahih].[7]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Di dalam hadits ini terdapat pengutamaan Allah kepada umat ini atas selainnya. Hal itu adalah dengan menjadikan jabat tangan itu sebagai kiffarat/ penghapus dosa-dosa”. [8]

Dari Malik dari Abu Dawud berkata, Aku pernah bertemu dengan al-Barro bin azib lalu ia mengucapkan salam kepadaku, menjabat tanganku dan tertawa di hadapan wajahku dan bertanya, “Apakah engkau tahu mengapa aku lakukan ini kepadamu?”. Aku berkata, “Aku tidak tahu, tapi tidaklah aku mengetahui dirimu melakukannya melainkan karena kebaikan”. Ia berkata, “Sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menemuiku lalu melakukan seperti yang aku lakukan kepadamu”. Lalu beliau bertanya kepadaku dan aku menjawab seperti yang engkau ucapkan kepadaku. Kemudian Beliau bersabda,

مَا مِنْ مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيُسَلِّمُ أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ وَ يَأْخُذُ بِيَدِهِ إِلَّا لِلَّهِ فَلَا يَفْتَرِقَانِ حَتَّى يُغْفَرَ لَهُمَا

“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu salah seorang dari keduanya mengucapkan salam kepada shahabatnya dan mengambil tangannya (jabat tangan) yang tidaklah ia menjabat tangannya melainkan karena Allah maka keduanya tidak berpisah sehingga keduanya diampuni (dari dosa-dosanya)”. [HR Ahmad: III/ 289. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [9]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata,

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِى لَهُ قَالَ لاَ قَالَ أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ قَالَ لاَ قَالَ أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ قَالَ نَعَمْ

“Ada seseorang bertanya pada Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Bagaimana jika ada seseorang di antara kami bertemu dengan saudara atau temannya, lalu ia membungkukkan badannya?”. Beliau menjawab, “Tidak boleh”. Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana jika memeluk lalu menciumnya?”. Beliau menjawab lagi, “Tidak boleh”. Orang itu pun bertanya kembali, “Bagaimana jika ia mengambil tangan saudaranya itu lalu ia menjabat tangannya?”. Beliau menjawab, “Ya boleh”. [HR. at-Turmudziy: 2728 dan Ibnu Majah: 3702. Al-Imam at-Turmudziy mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini dla’if. Sedangkan asy-Syaikh al-Albaniy menghasankan hadits ini]. [10]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Disyariatkannya berjabat tangan. Bahwa berjabat itu adanya pada tangan”. [11]

Beberapa dalil hadits di atas menjelaskan bahwa di antara faidah dan keutamaan berjabat tangan antara dua orang muslim adalah gugurnya dosa-dosa dari mereka selama kedua tangan mereka belum terlepas. Namun dosa yang gugur dari keduanya adalah dosa-dosa kecil bukan dosa-dosa besar.

Pensyariatan berjabat tangan itu mesti pada tempatnya yaitu sesama kaum lelaki atau sesama kaum wanita. Dibolehkan lelaki berjabat tangan dengan wanita atau kebalikannya selama diperbolehkan syariat semisal kepada sesama mahram, saudara susuan dan selainnya. Adapaun kepada selain itu diharamkan, karena Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh dan berjabat tangan dengan perempuan yang bukan mahram. Di antaranya adalah sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لَأَنْ يُطْعَنَ فىِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

“Benar-benar ditikamkan ke kepala salah seorang dari kalian dengan jarum besar dari besi itu adalah lebih baik baginya daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya)). [HR ath-Thabraniy dari Ma’ql bin Yasar. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [12]

Atau sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

إِنىِّ لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan kaum perempuan. [HR an-Nasa’iy: VII/ 149, at-Turmudziy: 1597, Ibnu Majah: 2874, Ahmad: VI/ 357, Ibnu Hibban dan Abdurrazzak dari Umaimah binti Ruqaiqah radliyallahu anha. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Begitu pula tidak disyariatkan saling berjabatan tangan ketika selesai dari menunaikan ibadah sholat karena ketiadaan dalil shahih tentang hal tersebut.

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Kemudian sepatutnya kita mengetahui bahwa sebahagian manusia apabila telah mengucapkan salam dari sholat fardlu, ia menjabat tangan saudaranya dan terkadang ia juga mengucapkan ‘Taqobbalallah’ atau ‘qobul… qobul…’. Maka hal ini adalah termasuk perkara bid’ah. Tidak ada para shahabat (radliyallahu anhum) melakukan perbuatan ini. Cukuplah bagi orang yang sholat itu untuk mengucapkan salam ke arah kanan dan kiri (yaitu ucapan Assalamualaikum wa rohmatullah wa barokatuh)”. [14]

Mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat. Wallahu ta’ala a’lam bish showab.

[1] Shahih Sunan Abu Dawud: 4344, Shahih al-Adab al-Mufrad: 744 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 527. Dan ucapan, “dan mereka adalah orang yang pertama kali datang dengan membawa (sunnah) berjabat tangan”, adalah mudraj yaitu ucapan dari Anas bin Malik radliyallahu anhu.

[2] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2196.

[3] Bahjah an-Nazhirin: II/ 151.

[4] Shahih al-Adab al-Mufrad: 745.

[5] Shahih al-Adab al-Mufrad: 743.

[6] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 188 oleh asy-Syaikh al-Utsaimin, cetakan Dar al-Aqidah.

[7] Shahih Sunan Abu Dawud: 4343, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2988, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2197, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 525 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5777.

[8] Bahjah an-Nazhirin: II/ 152.

[9] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 525 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5778.

[10] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2195, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2987 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 160.

[11] Bahjah an-Nazhirin: II/ 153.

[12] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5045 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 226.

[13] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3897, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1300, Shahih Sunan Ibni Majah: 2323 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 529.

[14] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 189.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s