WAHAI SAUDARAKU, LEPASKAN CINCIN AKIKMU..!!!

BATU AKIK 2BEBERAPA HADITS PALSU SEPUTAR BATU AKIK

بسم الله الرحمن الرحيم

Di masa sekarang ini, bermunculan suatu fenomena yang memprihatinkan di masyarakat khususnya kaum muslimin. Di mana banyak di antara mereka yang menggandrungi batu-batu aneh semisal akik, kecubung dan sejenisnya. Mereka pun berlomba-lomba mendapatkan batu akik secantik mungkin untuk kemudian dikenakan. Kebiasaan ini pun dimanfaatkan oleh sebahagian orang untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Memang pada asalnya jual beli batu akik adalah mubah, dan memang di balik batu akik ini ada rupiah yang menanti. Melalui banyaknya pedagang batu akik inilah masyarakat mulai tertarik mengoleksinya. Mula-mula hanya sekedar iseng, namun lambat laun termasuk penggandrungnya.

Banyak perburuan batu akik sehingga mengundang heboh banyak orang, dari menemukan batu akik yang super besar, batu yang mengandung fosil tumbuh-tumbuhan atau hewan, batu yang memancarkan sinar indah dan sejenisnya. Didapati pula beberapa pasar atau lapak yang menyediakan tempat untuk jual beli batu-batu tersebut. Dan tak jarang pula sekarang ini banyak orang dan bahkan umat Islam yang memakai batu-batu akik tersebut diruas-ruas jari mereka, tidak satu tapi berderet disetiap jemari mereka.

Ada yang sekedar ikut trend, tertarik dengan keindahan batunya bahkan ada yang memiliki dasar memakainya dari hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Benarkah??

Sedangkan riwayat-riwayat yang membicarakan tentang keutamaan batu akik adalah banyak jumlahnya namun  sama sekali tidak ada yang valid, di antaranya beberapa riwayat berikut,

Hadits 1

تَخَتَّمُوْا بِاْلعَقِيْقِ فَإِنَّهُ مُبَارَكٌ

“Pakailah akik karena ia membawa berkah”.

Diriwayatkan oleh al-Muhamiliy dalam al-Amaliy (II/41), al-Khathib dalam Tarikh-nya (II/251), serta al-‘Uqailiy dalam adl-Dlu’afa’: 466 dari jalan Ya’qub bin al-Walid al-Madaniy.

Juga diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dari jalan Ya’qub bin Ibrahim Az-Zuhri. Keduanya dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah secara marfu’.

Di dalam al-Mudlu’at (I/423) dari jalan al-Uqailiy, Ibnu al-Jauzi mengatakan, “Ya’qub suka berdusta lagi memalsukan hadits”.

Berkata al-Uqailiy, “Tidak tsabit sedikitpun di dalam (hadits) ini dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”.

Aku berkata, Berkata al-Imam adz-Dzahabiy di dalam terjemah Ya’qub, “Berkata al-Imam Ahmad, “Ia (yaitu Ya’qub) adalah salah seorang pendusta kibar (yang besar) lagi suka memalsu hadits”.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 226, Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 2410 dan Irwa’ al-Ghalil: 826].

Hadits 2

تَخَتَّمُوْا بِاْلعَقِيْقِ فَإِنَّهُ يَنْفِي اْلفَقْرَ

“Pakailah cincin, sebab ia dapat menghilangkan kefakiran”.

Disebutkan oleh Ibnu al-Jauziy di dalam al-Maudlu’at (III/ 58) melalui riwayat Ibnu Adiy dan ad-Dailamiy dari al-Husain bin Ibrahim al-Babiy, telah menceritakan kepada kami Humaid ath-Thawil dari Anas secara marfu’.

Berkata abni al-Jauziy, Ibnu ‘Adi mengatakan, “Bahwa hadits tersebut batil. Di dalam perawinya terdapat Al-Husain bin Ibrahim yang tidak diketahui identitasnya”.

Berkata al-Imam adz-Dzhahabiy di dalam al-Mizan, “Ini hadits maudlu’ (palsu)”, dan al-Hafizh juga mengakuinya di dalam al-Lisan. Ibnu al-Jauziy juga menghukuminya sebagai hadits palsu dan disepakati oleh as-Suyuthiy di dalam al-La’aliy”.

Aku berkata, berkata (al-Imam adz-Dzahabiy) di dalam al-Mizan, “al-Husain ini tidak dikenal siapakah dia. Boleh jadi ia adalah orang yang memalsukannya”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 398].

Asy-Syaikh al-Albaniy berkata, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits ad-Dla’ifah wa al-Maudu’ah: 227 dan Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 2411].

Hadits 3

تَخَتَّمُوْا بِاْلعَقِيْقِ فَإِنَّهُ أَنْجَحُ لِلْأُمُوْرِ وَ اْليُمْنَى أَحَقُّ بِالزِّيْنَةِ

“Pakailah cincin karena ia dapat membantu menyukseskan urusan. Sedangkan tangan yang kanan itu lebih pantas untuk dihiasi (dengannya)”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir (IV/291/1-2) di dalam terjemah al-Hasan bin Muhammad bin Ahmad bin Hisyam as-Sulamiy melalui sanadnya pada Ja’far Muhammad bin Abdullah al-Baghdadiy, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Humaid ath-Thawil, dari Anas secara marfu’.

Al-Hafihz Ibnu Hajar dalam al-Lisan (II/269) berkomentar, “Hadits ini maudlu’ (paslu), tidak ada keraguan padanya. Tapi aku tak mengetahui siapa yang memalsukannya”. Pernyataannya ini juga disepakati oleh al-Imam as-Suyuthi dalam al-La’aliy al-Mashnu’ah (II/273)”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 398-399].

Asy-Syaikh al-Albaniy berkata, “Maudlu’ (palsu)”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 228].

Hadits 4

تَخَتَّمُوْا بِاْلخَوَاتِيْمِ اْلعَقِيْقِ فَإِنَّهُ لَا يُصِيْبُ أَحَدُكُمْ غَمٌّ مَا دَامَ عَلَيْهِ

“Hendaklah kamu memakai cincin yang bermata akik karena selama seseorang di antara kamu mengenakannya niscaya ia tidak akan tertimpa kesedihan”.

Diriwayatkan oleh ad-Dailamiy dalam Musnad-nya (II/32) dari jalan Ali bin Mahraweih al-Qazwainiy.

Di dalam sanadnya terdapat Dawud bin Sulaiman al-Ghaziy al-Jurjani. Ibnu Ma’in menilainya pendusta.

Al-Imam adz-Dzahabiy mengatakan, “Orang tua pendusta. Ia memiliki naskah palsu dari Ali bin Musa ar-Ridla.

Aku berkata, “Hadits ini terdapat dalam naskah tersebut. Orang yang melihat al-Maqashid al-Hasanah dan Kasyf al-Khafa’ akan merasa jelas”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 399].

Asy-Syaikh al-Albaniy berkata, “Maudlu’ (palsu)”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 229].

Hadits ke 5

      مَنْ تَخَتَّمَ بِاْلعَقِيْقِ لَمْ يَزْلْ يَرَى خَيْرًا

            “Barangsiapa yang memakai cincin akik maka ia senantiasa akan melihat kebaikan”.

            Diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauziy di dalam “al-Maudlu’at (I/ 153). Dari jalan Zuhair bin Ibad, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Syuaib dari Malik dari az-Zuhriy dari Amr bin asy-Syarid dari Fathimah binti Nabi Shallallahu alaihi wa sallam secara marfu’.

            Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 230].

            Beliau juga berkata, “Kesimpulannya, semua hadits tentang memakai batu akik adalah batil, sebagaimana telah berlalu (penjelasannya) dari al-Hafizh as-Sakhawaiy”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 400].

Hadits 6

لَوِ اعْتَقَدَ أَحَدُكُمْ بِحَجَرٍ لَنَفَعَهُ

“Kalaulah seorang di antara kalian ada yang meyakini terhadap suatu batu, niscaya akan memberinya manfaat”. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan selainnya.

Asy-Syaikh Ali al-Qariy mengatakan dalam al-Maudlu’at halaman 66 menghukumi hadits ini palsu. Sementara itu Ibnul Qayyim menyatakan bahwa riwayat tersebut bukan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, akan tetapi ucapan para penyembah berhala yang percaya pada kekuatan batu-batu. Sedangkan Ibnu Hajar al-Asqolaniy mengungkapkan, bahwa hadits tersebut tidak ada asal-usulnya. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 647].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 450].

Hadits 7

مَنْ بَلَغَهُ عَنِ اللهِ شَيْءٌ فِيْهِ فَضِيْلَةٌ فَأَخَذَ بِهِ أِيْمَانًا بِهِ وَ رَجَاءَ ثَوَابِهِ أَعْطَاهُ اللهُ ذَلِكَ وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ

“Barangsiapa yang sampai kepadanya sesuatu dari Allah yang memiliki fadlilah (keutamaan) lalu ia mengambilnya dengan penuh keimanan kepada-Nya dan mengharapkan pahala-Nya maka Allah akan memberinya hal tersebut meskipun ia tidak seperti itu”.

Diriwayatkan oleh al-Hasan bin Arafah di dalam kitab Juznya, Ibnu al-Abar di dalam Mu’jamnya, Abu Muhammad al-Kholal di dalam Fadl-l Rajab, al-Khathib dan Muhammad bin Thulun di dalam al-Arba’in dari Furat bin Salman dan Isa bin Katsir. Keduanya dari Abu Roja’ dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Jabir bin Abdullah al-Anshoriy secara marfu’.

Ibnu al-Jauziy menyebutnya di dalam al-Maudlu’at (I/ 258), “Hadits ini tidak shahih. Abu Roja adalah seorang pendusta”. Hal ini disepakati oleh al-Imam as-Suyuthiy di dalam al-La’aliy, “Aku tidak mengenal Abu Roja’, siapakah dia”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 647-648].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Maudlu’ (palsu)”. [Lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 451].

Demikianlah beberapa riwayat hadits palsu yang berkaitan dengan batu cincin dan akik yang banyak dipakai oleh manusia dan khususnya kaum muslimin yang awam akan agamanya. Jelaslah bahwa hadits-hadits tersebut tidak ada yang shahih sama sekali. Jadi menurut kaidah yang dibuat para ulama, bahwa seluruh hadits yang berkaitan dengan batu, dapat langsung kita hukumi sebagai hadits palsu.

Tentu saja riwayat-riwayat ini jika diyakini shahih seperti anggapan mereka maka keyakinan ini hanya akan merusak akidah seseorang. Sebab banyak di antara mereka yang meyakini bahwa batu-batu tersebut mempunyai faidah, keutamaan, kelebihan, kesaktian dan sejenisnya. Semisal dapat mendatangkan keuntungan, disukai oleh lawan jenis, menghilangkan kefakiran dan kesedihan, menolak bala dan penyakit, menghasilkan aura positif dan selainnya.

Sebab semua hadits palsu itu bertolak belakang dengan hadits-hadits shahih lainnya, seperti hadits dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اْلرُّقَى وَ التَّمَائِمَ وَ التِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesunggunya jampi-jampi, jimat-jimat dan guna-guna adalah kemusyrikan”. [HR Ahmad: I/ 381, Abu Dawud: 3883, Ibnu Majah: 3530, Ibnu Hibban dan al-Hakim: 8339, 7580. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه و سلم نَهَى عَنِ الرُّقَى وَ التَّمَائِمِ وَ التِّوَلَةِ

“Bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang dari jampi-jampi, jimat-jimat dan ilmu pengasihan (guna-guna)”. [HR al-Hakim: 7579. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Yakni batu-batu akik dan semisalnya itu dianggap oleh pencari dan pemakainya sebagai jimat dengan berbagai tujuan yang bertentangan dengan akidah Islam.

Sebab banyak di antara manusia yang memburunya dengan mencari bebatuan tersebut, mengolah dan membentuknya menjadi cincin akik atau membeli langsung kepada penjualnya itu dengan berbagai tujuan, di antaranya untuk sebagai jimat pemikat atau jimat penolak bala. Tak jarang sekarang kita dapati banyak kaum muslimin yang sibuk mengasah batu akik di tempat-tempat mangkal mereka daripada mendatang masjid untuk sholat berjamaah atau menghadiri kajian-kajian Islam. Subhaanallah…

Oleh sebab itu berhati-hatilah memakai cincin akik, bisa jadi kita akan terjatuh ke dalam salah satu lubang yang membinasakan ini,

1). Jika tujuan anda meniru Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa Beliau memakainya karena tuntutan keadaan. Kalau saja bukan karena tuntutan tentu Beliau tak akan mengenakannya?

Simaklah dalil hadits berikut ini, dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam membuat cincin dari perak dan beliau memakainya di (jari) tangannya. Kemudian cincin itu berada di (jari) tangan Abu Bakar, lalu (jari) tangan Utsman sehingga cincin itu terjatuh ke dalam sumur Aris.[3] Ukirannya adalah kalimat “Muhammad Rosulullah”. [HR Muslim 2091 (54)].

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, “(Saat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ingin menulis surat kepada Kisra (Raja Persia), Qaishar (Raja Romawi) dan Raja Najasyi. Beliau diberitahu bahwa mereka tidak menerima surat kecuali dengan stempel). Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallampun membuat cincin yang lingkarannya terbuat dari perak dan diukirlah padanya tulisan ‘Muhammad Rosulullah”. [HR Muslim: 2092].

2). Jika tujuan anda hanya senang memakai cincin, maka jangan mendakwakan bahwa itu “Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”, karena Beliau memakainya bukan karena kesenangan, tapi karena tuntutan dan kebutuhan. Apalagi tidak ada dalil yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang menganjurkan memakai cincin batu akik dan semisalnya.

Pegang teguhlah perkataan al-Imam asy-Syafi’iy rahimahullah, “Aku beriman kepada Rosulullah dan apapun yang datang dari Rosulullah, sesuai yang diinginkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. [Lum’ah al-I’tiqad halaman 7].

3). Jika tujuan anda ingin menggunakannya untuk keberuntungan, pesugihan, penolak bala, menarik lawan jenis atau pelet, maka ini bukan Sunnah Nabi, tapi sudah masuk dalam ranah kemusyrikan, sebab sama dengan menggunakan jimat!

Dari Uqbah bin Amir al-Juhniy bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barang siapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik”. [HR. Ahmad: IV/ 156, al-Hakim, al-Mundziriy dan al-Haitsamiy. Berkata asy-Syaikg al-Albaniy: Shahih]. [4]

4). Jika anda menggunakannya karena ikut-ikut trend, maka ini tak sepantasnya dilakukan, karena perilaku ikut-ikutan itu menunjukkan tiadanya prinsip/pegangan hidup.

Abdullah ibn Mas’ud radliyallahu anhu pernah mengatakan, “Janganlah kalian sekali-kali menjadi orang yang ikut-ikutan, yaitu orang yg mengatakan, ‘aku (akan) bersama manusia, jika mereka mendapatkan petunjuk, aku pun mendapatkan petunjuk. Dan jika mereka tersesat, maka aku pun akan tersesat”. [Hilyah al-Aulia: I/136].

5). Jika anda menggunakannya, tanpa alasan apapun, maka hati-hatilahlah, mungkin saja anda sedang tak sadar atau lagi terkena guna-guna penjual akik?

Banyak diantara pemakainya yang berdalih memakainya hanya untuk ikut trend masa kini. Namun ternyata kenyataannya di lapangan, di balik batu akik ada banyak mudlarat dan fitnah (keburukan) yang dijumpai. Diantaranya keyakinan para penjual dan pemakai akik bahwa benda tersebut dapat memperlaris dagangan, memikat lawan jenis, menolak bala dan penyakit dan selainnya.

Bahkan banyak di antara mereka yang sudah gila batu akik berwarna yang berburu batu itu ke perbagai pelosok tempat dari sungai, hutan, gunung dan terkadang kebun warga. Lalu mereka mengasahnya dengan asahan batu sambil memandanginya berkali-kali sampai batu itu sudah jadi. Dan pemakainyapun terkadang menggosok-gosokkan cincin itu ke celana atau bajunya berulang-ulang untuk mengkilatkan batunya dan memantas-mantaskan batu itu padanya.

Terkadang para pedagang atau penjual batu itu tidak segan-segan mendatangkan riwayat-riwayat hadits yang menunjukkan akan keutamaan batu akik sehingga membuat dagangannya banyak diminati pelanggan. Padahal hadits-hadits tersebut palsu adanya sebagaimana telah diungkapkan di dalam pembahasan di atas.

Oleh karena itu Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sebuah hadits dari Ismail bin Ubaid bin Rifa’ah dari ayahnya, dari kakeknya bahwa ia pernah keluar bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ke musholla (tanah lapang tempat sholat) lalu ia melihat manusia berbaiat kepada Rosulullah Shallallahua alaihi wa sallam dan bersabda, “Wahai para pedagang, penuhilah panggilan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam!”. Lalu merekapun menengadahkan leher dan pandangan mereka kepadanya. Lalu Beliau bersabda,

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَ بَرَّ وَصَدَقَ

“Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang yang fajir (suka berbuat curang) kecuali yang bertaqwa pada Allah, bersikap baik, dan jujur”. (HR at-Turmudziy: 1210, ad-Darimiy: II/ 247, Ibnu Majah; 2146, dan Ibnu Hibban. At-Turmudziy mengatakan tentang hadits tersebut, “Hasan shahih.” Sementara al-Hakim mengatakan, “Sanadnya shahih”. Dan komentar tersebut disepakati oleh adz-Dzahabiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits ini dengan syawahidnya mencapai derajat Hasan in syaa Allah]. [5]

Dalam hadits lain disebutkan, dari Abdurrahman bin Syibl radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الفُجَّارُ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ ؟ أَوَ لَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ اْلبَيْعَ؟ قَالَ بَلَى وَلِكِنَّهُمْ يُحَدِّثُوْنَ فَيَكْذِبُوْنَ وَيَحْلِفُوْنَ فَيَأْثَمُوْنَ

“Sesungguhnya para pedagang itu adalah orang-orang yang fajir (suka berbuat curang)”. Ditanyakan kepada Beliau, “Wahai Rosulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Beliau menjawab, “Benar, namun mereka berucap dusta dan bersumpah sehingga berdosa”. [HR Ahmad: III/ 428, ath-Thahawiy dan al-Hakim. Al-Hakim berkata, “Sanadnya shahih”, dan al-Imam adz Dzahabiy menyepakatinya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Jadi jelaslah bahwa para pedagang itu adalah orang-orang yang suka berbuat curang dari berdusta, menipu, mengoplos, menimbun barang, gemar bersumpah dan sebagainya. Dikecualikan para pedagang yang bertakwa kepada Allah ta’ala, berbuat baik dan jujur. Demikian pula pedagang atau penjual batu akik, niscaya mereka bukan orang yang bertakwa sebab mereka menjual barang yang bisa mengantarkan pembelinya kepada perbuatan syirik, bersikap sombong dan selainnya. Apalagi mereka membawakan beberapa hadits palsu kepada para pembelinya untuk menarik minat mereka. Maka jauhilah perbuatan mencari, mengolah, menjual dan memakai batu-batu akik yang tiada gunanya tersebut.

Wallahu a’lam.

 

[1] Shahih Sunan Abu Dawud: 3288, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2845, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 331, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1632, Ghoyah al-Maram: 299 dan Fat-h al-Majid Syar-h Kitab at-Tauhid halaman 130.

[2] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6880.

[3] Aris adalah sebuah kebun yang berada dekat masjid Quba.

[4] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 492.

[5] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 994.

[6] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1594 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 366.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s