SAUDARAKU MARILAH KITA SIMAK KHUTHBAH INI (2)!!!

MENGGAPAI KERIDLOAN ALLAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Khutbah Jumat Mesjid Nabawi 1/5/1436 H – 20/2/2015

Oleh : Asy-Syaikh Abdul Bari Ats-Tsubaity hafizohullah

 Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurahkan kepada Rosulullah, amma ba’du,

Meraih keridloan Allah ta’ala adalah tujuan tertinggi dan teragung, bahkan ia merupakan tujuan para penghuni surga. Allah berfirman,

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Dan keridloan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS At-Taubah : 72)

Maka tidak ada yang lebih dicintai dan lebih mulia serta lebih besar dari keridloan Allah. Bahkan meraih keridloan Allah adalah impian yang mulia, yang karenanya mata orang-orang yang khosyah menangis, hati-hati kaum sholihin bersiap-siap untuk meraihnya, serta kaki-kaki bengkak dan pecah karena sholat di kegelapan malam.

Keridloan ini dijadikan oleh Allah lebih dari surga, sebagai tambahan atas karunia surga. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الله – عز وجل – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ ، فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟ فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ ، فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُونَ : وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُ : أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً

“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berkata kepada penghuni surga, “Wahai penghuni surga..”, mereka berkata, “Kami memenuhi panggilanMu, kami menta’atiMu”. Allah berkata, “Apakah kalian ridho (puas)?”, maka mereka berkata, “Kenapa kami tidak ridho (puas) sementara Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun dari ciptaanMu”. Maka Allah berkata, “Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari ini?”. Mereka berkata, “Apakah yang lebih baik dari ini?”. Allah berkata, “Aku telah menurunkan kepada kalian keridhoanKu, maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Mencari keridloan Allah adalah poros kehidupan para Nabi dan kaum sholihin. Musa ‘alaihis salam bersegera menuju keridloan Allah, beliau berkata,

 وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى

“Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridlo (kepadaku)”. (QS Thoha : 84)

Nabi Sulaiman bersyukur kepada Robnya dengan beramal dalam mengharapkan keridhoanNya. Ia berkata,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridloi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS An-Naml : 19)

Dan kita melihat adab yang tinggi ini dari pemilik adab yang agung yaitu Rosul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau beradab –dalam berucap- kepada Rabbnya tatkala bersedih karena mengharap keridloanNya tatkala Ibrahim putra beliau wafat. Beliau berkata,

تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُوْلُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا وإِنَّا بِكَ يَا إِبْرَاهِيْمُ لَمَحْزُوْنُوْنَ

“Mata menangis, hati bersedih, dan kami tidaklah mengucapkan kecuali yang mendatangkan keridhoan Rabb kami, dan sungguh kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim” (HR Muslim)

Tujuan yang tertinggi di sisi Rosul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meraih keridloan Allah, dan kehidupan beliau berporos kepada mencari keridloan Allah. Beliau memohon kepada Allah agar Allah memberi petunjuk kepadanya untuk melakukan amalan yang mendatangkan keridhoan Allah subhanahu, beliau berkata,

أَسْأَلُكَ مِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى

“Aku memohon kepada Mu dari amalan yang Engkau ridloi”

Beliau juga berkata,

وَأَرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا

“Jadikanlah kami ridlo (menerima) dan ridloilah kami”

Beliau juga berkata,

الْحَمْدُ لَكَ حَتَّى تَرْضَى

“Segala puji bagiMu hingga Engkau ridlo”.

Maka kehidupan dibawah naungan tujuan ini, dan mendidik jiwa di atas tujuan ini, akan mengumpulkan kebaikan agama dan dunia, mengasas pertumbuhan yang terarah maju, keberhasilan yang berkesinambungan dalam seluruh perencanaan dan kegiatan kita, yaitu tatkala kita menjadikan misi kita yang tertinggi adalah meraih keridhoan Allah.

Tentu tidak sama antara orang yang mencari keridloan Allah dengan orang yang kembali membawa kemurkaan Allah dalam menyelusuri jalan kehidupan dan perkembangannya, dalam harta, dan dalam kesudahan. Barangsiapa yang mencari keridloan Allah maka ia akan mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya, menempuh jalan orang-orang yang sholeh, serta beramal dengan amalan orang yang selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Rabbnya. Maka ia akan semangat menuju ketaatan Allah, dan ia akan mengarahkan dunianya kepada jalan Allah, dan ia akan memakmurkan bumi dengan kebaikan dan keterampilan.

Allah berfirman,

أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ

Apakah orang yang mengikuti keridloan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah. (QS Ali Imron : 162)

Ini merupakan peraturan yang mulia, tidak sama antara orang yang mengikuti keridloan Allah dengan orang yang kembali membawa kemarahan Allah. Barangsiapa yang memilih keburukan sebagai jalannya maka ia menyelisihi perintah Allah, melanggar laranganNya, bumipun tertimpa kemudorotan karena buruknya dan hukuman maksiat yang ia lakukan, dan ia kembali dengan kemurkaan Allah.

Kaum mukminin berusaha meraih keridloan Allah dengan megikhlaskan amal hanya untuk Allah, yang hal ini akan mengangkat nilai amalan, dan memperindah kesempatan produktivitas, serta memperkuat kualitas produk. Allah ta’aala berfirman,

وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (١٩)إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى (٢٠)وَلَسَوْفَ يَرْضَى

Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan. (QS Al-Lail : 19-21)

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الإِخْلاَصِ للهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ فَارَقَهَا وَاللهُ عَنْهُ رَاضٍ

“Barangsiapa yang meninggalkan dunia di atas keikhlasan hanya untuk Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia dalam kondisi Allah ridlo kepadanya” (HR Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok)

Berusaha mencari keridloan Allah merupakan indikasi As-Sidq (jujur/tulus) terhadap Allah, dan inilah yang akan bermanfaat pada hari kiamat.

قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar/tulus ketulusan mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (QS Al-Maidah : 119)

Orang-orang yang jujur/tulus meraih keistimewaan ini karena perbuatan mereka membenarkan perkataan mereka. Maka, apakah nilai sebuah kesholehan lahiriah agar dilihat oleh orang-orang sehingga memujinya, akan namun tatkala ia bersendirian maka iapun menunjukkan kepada Allah sikap penyelisihan.

Mendahulukan keridloan Allah atas selainnya merupakan keselamatan dari kemunafikan.

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ

Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridloanmu, Padahal Allah dan Rasul-Nya Itulah yang lebih patut mereka cari keridloannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin. (QS At-Taubah : 62)

Maka tidak akan diraih keridloan hanya dengan menampakkan keimanan jika tidak disertai dengan pembenaran hati.

فَإِنَّ اللَّهَ لا يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

Sesungguhnya Allah tidak ridlo kepada orang-orang yang Fasik itu. (QS At-Taubah : 96)

Barangsiapa yang mencari keridloan Allah maka hendaknya ia berlepas dari kemunafikan dan durhaka terhadap perintah Allah.

Al-Walaa (mencintai karena Allah) dan Al-Baroo’ (membenci karena Allah) merupakan landasan keridloan Allah, yaitu seorang muslim mencintai Allah dan mencintai siapa yang mencintai Allah dan mencintai agamaNya. Serta membenci siapa yang membenci Allah dan memerangi agamaNya, Ia loyal kepada kaum mukminin dan menolong mereka, tidak suka dengan kaum munafik dan membenci mereka.

Allah berfirman,

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. mereka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS Al-Mujaadalah : 22)

Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah dengan hati dan anggota tubuhnya maka ia meraih keridhoan Allah. Allah berfirman,

وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu (QS Az-Zumar : 7)

Dan Rosulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

إنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أنْ يَأكُلَ الأَكْلَةَ ، فَيَحمَدَهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ ، فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah sangat ridlo kepada seorang hamba yang memakan makanan lalu memuji Allah karena makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu memuji Allah karenanya” (HR Muslim)

Orang-orang yang selalu ruku’ dan sujud maka nampak cahaya di wajah mereka dengan air wudu, berseri dengan cahaya sholat, mereka meraih keridhoan Rabb mereka. Allah berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS Al-Fath : 29)

Barangsiapa yang meninggalkan syahwatnya karena Allah dan mengedepankan keridloan Rabbnya di atas hawa nafsunya maka ia meraih keridloan Allah, dan terwujudkan apa yang ia cita-citakan. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ رَبُّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ : عَبْدِي تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي، وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Rabb kalian azza wa jalla berkata, “Hambaku meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena mencari keridhoanKu, dan puasa adalah untukKu dan Aku yang akan memberi ganjarannya” (HR Ahmad di Musnadnya dengan sanad yang shahih)

Adapun dzikir kepada Allah maka ia adalah amalan yang paling mendatangkan keridloan Allah. Dan sesungguhnya seorang yang berdzikir ia mendapati keridloan pada dirinya, ketenangan di dadanya, dan kebahagiaan di hatinya. Renungkanlah firman Allah ta’aala tatkala Allah berbicara kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ini juga ditujukan kepada kaum mukminin,

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى

Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa ridlo/senang (QS Thoha : 130)

Perkataan yang baik memiliki kemuliaan pada kandungan maknanya, keindahan yang dirasakan oleh telinga yang mendengarnya, serta pengaruh yang mendalam di dalam jiwa. Dengan perkataan tersebut Allah akan mengangkat derajatmu tanpa kau sadari. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ الله تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجاتٍ

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu perkataan yang diridloi oleh Allah, yang tidak ia pedulikan perkataan tersebut, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan tersebut” (HR Al-Bukhari)

Apakah seorang muslim lupa jalan terdekat untuk mencari keridloan Allah?, metode terkuat dan teragung serta termulia dan terindah?, yaitu dengan meraih keridhoan kedua orang tua. Dan yang lebih mengena daripada ini, bahwasanya keridloan ibu dan ayah bergandengan dengan keridloan Rabb. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُهُ فِي سَخَطِهِمَا

“Keridloan Rabb pada keridloan kedua orang tua, dan kemarahan Rabb pada kemarahan keduanya” (HR Al-Bazzaar)

Barangsiapa yang diridloi oleh Allah maka ia akan meraih kebahagiaan dan ketentraman.

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Allah ridlo terhadap mereka dan merekapun ridlo kepadanya. (QS Al-Bayyinah : 8)

Dan sejuk pandangannya dengan keridloan Rabbnya kepadanya, maka ia tidak akan menempuh suatu jalanpun kecuali dimudahkan oleh Allah, tidaklah ia mengetuk satu pintu kebaikanpun kecuali akan dibukakan oleh Allah dan diberkahi oleh Allah.

Jika Allah telah ridlo kepada seorang hamba maka Allah menerima sedikit amalannya dan Allah akan mengembangkannya, serta Allah akan memaafkan kesalahannya yang banyak dan menghapusnya. Barangsiapa yang diridloi oleh Allah maka ia akan meraih syafaat pada hari kiamat. Allah berfirman,

يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا (١٠٨)يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا

Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.
Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridloi perkataannya. (QS Thoha : 108-109)

Orang-orang yang meraih ridlo Allah adalah orang-orang yang dimuliakan, yang bahagia di dunia, dan tenang di akhirat.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

Hai jiwa yang tenang,  Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridloi-Nya.(QS Al-Fajr : 27-28)

Mereka meraih kemuliaan kesudahan yang indah.

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, (QS Al-Fajr : 29)

Dan jika tubuh mereka telah meninggalkan dunia maka merekapun diberi kabar gembira dengan kenikmatan yang kekal abadi.

وَادْخُلِي جَنَّتِي

Masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS Al-Fajr : 30)

 Khutbah Kedua :

Telah bersalah orang yang menyangka bahwa kekayaan dan kemiskinan memiliki hubungan dengan keridloan dan kemarahan Allah, karena Allah memberikan harta kepada mukmin dan kafir. Allah berfirman,

كُلا نُمِدُّ هَؤُلاءِ وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (QS Al-Isroo’ : 20)

Sempitnya rizki bukanlah indikasi akan kemarahan Allah, dan kekayaan juga tidaklah berarti Allah ridho. Lihatlah Qorun telah diberikan harta yang banyak serta perbendaharaan akan tetapi tidak menunjukkan bahwa Allah ridlo kepadanya, karena Allah membenamkannya dan rumahnya ke dalam bumi.

فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (١٥)وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata, “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata, “Rabbku menghinakanku”

Diantara pernyakit adalah ingin tampil dengan amal sholeh dan berharap keridloan manusia. Dan yang lebih berbahaya dari ini adalah mengharapkan keridloan manusia dengan mendatangkan kemarahan Allah, dan ikut-ikutan manusia dalam kesesatan mereka dan kefasikan mereka. Bisa jadi ia melakukan perkara yang haram karena takut kepada manusia, terkadang ia tetap duduk di majelis kemungkaran agar kerabatnya atau sahabatnya tidak marah, atau ia meninggalkan suatu kewajiban karena nggak enak dengan celaan mereka.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناسَ

“Barangsiapa yang mencari keridloan manusia dengan kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan menjadikan manusia marah kepadanya”

Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s