SAUDARAKU, MARILAH KITA SIMAK KHUTHBAH INI (14)!!!

 ATH-THIYAROH (MENGKAIT-KAITKAN NASIB SIAL)

بسم الله الرحمن الرحيم

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 6-2-1436 H – 28-11-2014 M
Oleh : Asy-Syaikh Husain Alu Asy-Syaikh hafizhahullah

Khutbah Pertama:

Diantara pokok perkara tauhid adalah waspada terhadap segala bentuk khurofat dan segala bentuk kesesatan. Ketahuilah bahwasanya diantara bentuk khurofat yang diyakini oleh sebagian orang sejak dulu hingga sekarang, adalah mengkaitkan nasib sial (at-tathoyyur) dengan perkara-perkara yang mereka tidak sukai secara tabi’atnya, atau sekedar warisan tradisi tentang apa yang dilihat atau didengar, seperti mengkaitkan nasib sial dengan bulan Shofar dengan burung tertentu atau dengan mendengar perkataan tertentu atau dengan apa yang mereka lihat. Maka engkau dapati seorang dari mereka tidak jadi melanjutkan keperluannya padahal ia telah bertekad untuk melakukannya atau tidak jadi mengerjakan pekerjaan yang ingin ia lakukan karena menganggap sial bulan shafar.

Al-Imam Ahmad mengeluarkan sebuah hadits dengan sanad yang ada syawahidnya secara marfu’,

الطِّيَرَةُ مَا أَمْضَاكَ أَوْ رَدَّكَ

“At-Thiyaroh (menganggap nasib sial) adalah perkara yang menyebabkan engkau melanjutkan (kegiatanmu) atau membatalkanmu”

Al-‘Izz bin Abdis Salam berkata, “التَّطَيُّر At-Tathoyyur adalah persangkaan buruk yang ada di hati, adapaun الطِّيَرَةُ Ath-Thiyaroh adalah perbuatan yang timbul akibat persangkaan buruk tersebut”

Sesungguhnya keyakinan-keyakinan seperti ini yaitu mengkait-kaitkan nasib sial dengan apa yang dilihat atau didengar yang merupakan kebatilan dan persangkaan-persangkaan, dalam pandangan Islam merupakan kebodohan dan ketololan yang menafikan akidah tawakkal kepada Pencipta Yang Maha Kuasa Yang Maha Pengatur Yang menguasai kemudhorotan dan kemaslahatan, dan tidak akan terjadi sesuatupun kecuali dengan kehendakNya dan kekuasaanNya.

Karenanya, dalil-dalil telah memperingatkan akan keyakinan-keyakinan yang keliru tersebut, dengan mencabut dari akar-akarnya, dan mencongkelnya dari pangkalnya. Dan Al-Qur’an Al-Karim –sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim- tidaklah menceritakan tentang perbuatan tathoyuur kecuali dilakukan oleh musuh-musuh para Rasul yang menyelisihi kemurnian tauhid dan kemurnian akidah.

Rosul kita shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada tiyaroh (mengkaitkan nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar), tidak ada burung yang menunjukkan akan ada anggota keluarga yang mati, dan tidak ada kesialan di bulan shofar”. (HR Al-Bukhoriy dan Muslim).

Maknanya yaitu bahwasanya perkara-perkara ini tidak bisa berpengaruh dengan sendirinya sama sekali, maka tidak boleh seorang muslim meyakini hal-hal tersebut, dan hendaknya tidak memperdulikannya. Yang wajib bagi seorang muslim untuk tidak percaya kepada khurofat-khurofat tersebut, dan jangan sampai perkara-perkara tersebut membatalkan langkahnya, menghentikan dari tekadnya, serta menghalanginya dari keperluannya dan kemaslahatan-kemaslahatannya.

At-Tiyaroh (mengkaitkan nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar atau dengan tempat dan waktu) adalah termasuk kesyirikan yang menafikan kesempurnaan tauhid yang wajib.

Dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridloinya- secara marfu’ (dari Nabi),

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

“Ath-Thiyaroh syirik, Ath-Thiyaroh syirik”. (Dishahihkan oleh sekelompok ahli hadits)

Kaum Muslimin sekalian, jika seorang yang bertathoyyur meyakini bahwa perkara-perkara yang ia yakini tersebut bisa memberikan pengaruh dengan sendirinya dalam mendatangkan manfaat atau menghilangkan kemudhorotan, maka ini merupakan syirik akbar, karena ini merupakan bentuk menyekutukan Allah dalam penciptaan..

Saudara-saudaraku sesama muslim…

Termasuk kondisi tatoyyur adalah seseorang melanjutkan kegiatannya akan tetapi hatinya dalam keadaan gelisah, sedih, dan takut jangan sampai perkara yang diyakini tersebut merupakan sebab timbulnya gangguan. Ini merupakan perkara yang haram dan menunjukkan kekurangan dalam tauhid dan dalam bersandar kepada Allah.

Barangsiapa yang dalam hatinya timbul sesuatu dari kondisi tathoyyur maka wajib baginya untuk waspada terhadap hal tersebut dan berpaling meninggalkan lintasan pikiran tersebut dan membuangnya dengan bertawakkal dan bersandar kepada Allah. Dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridloinya- ia berkata,

مَا مِنَّا إِلاَّ… وَلَكِنْ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Tidak seorangpun dari kita kecuali (ada perasaan tersebut) akan tetapi hendaknya ia menghilangkannya dengan bertawakkal kepada Allah”. (HR Abu Dawud dengan sanad yang shahih)

Dari ‘Urwah  bin ‘Aamir ia berkata,

ذُكرت الطِّيَرَةُ عند النبي – صلَّى الله عليه وسلم -، فقال: “أحسنها الفأل، ولا تَرُدُّ مُسْلِماً، فإذا رأى أحَدُكُم ما يَكْرَه فَلْيَقُلْ: اللهُمَّ لا يأتي بالحَسَنَات إلا أنْتَ، ولا يدَفْعَ السَّيئَاتِ إلا أنت، ولا حَوُلَ ولا قُوةَ إلا بِكَ”

“Disebutkan tentang Ath-Thiyaroh di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata, “Yang terbaik adalah al-fa’lu (yang berhusnudzon dan menganggap perkara baik), dan hendaknya at-Thiyaroh tidaklah membatalkan seorang muslim, maka jika seseorang dari kalian melihat apa yang ia benci, katakanlah, “Ya Allah tidak ada yang mendatangkan kebaikan-kebaikan kecuali Engkau, dan tidak ada yang menolak keburukan-keburukan kecuali Engkau dan tidak perubahan dan tidak ada kekuatan kecuali dengan idzinMu”.

Diantaranya juga berdoa dengan berkata,

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dariMu dan tidak ada keburukan kecuali keburukan dariMu dan tidak ada sesembahan selain Engkau”

Barangsiapa yang mengikuti syaitan dan terjerumus dalam At-Thiyaroh maka bisa jadi ia dihukum dengan tertimpa perkara yang ia benci, disebabkan ia berpaling meninggalkan tauhid yang wajib yaitu bertawakkal dan bersandar kepada Allah.

Maka bertakwalah wahai hamba-hamba Allah, wasapadalah kalian dari dugaan-dugaan yang bisa merusak kewajiban-kewajiban dan jauhilah persangkaan-persangkaan yang menyelisihi akidah tauhid yang mengesakan Penguasa langit dan bumi. Sesungguhnya seluruh perkara berada di tangan Allah, tidak ada yang bisa merubah keputusanNya dan menolak karuniaNya.

Al-Fudlail berkata,

“Kalau seandainya Allah mengetahui darimu bahwa engkau mengeluarkan seluruh makhluk dari hatimu maka Allah akan memberikan kepadamu semua yang kau inginkan”

Tawakkal adalah ilmu dan praktek, ilmu dalam hati mengenalNya dengan mengesakanNya dalam memberikan manfaat dan mudhorot. Dan praktik/amal yang disertai dengan hati yang bersandar kepada Allah dan kosong dari segala selain Allah.

Khutbah Kedua:

Sesungguhnya yang wajib atas seorang muslim untuk menggantungkan hatinya hanya kepada Allah, hendaknya ia memperbesar percayanya kepada Allah dan bersandar kepadaNya dalam memperoleh manfaat dan menolak kemudhorotan. Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa setiap waktu yang ia gunakan untuk ta’at kepada Allah maka itu adalah waktu yang berkah, dan setiap waktu yang ia gunakan untuk bermaksiat kepada Allah maka itulah waktu yang mendatangkan keburukan.

Maka sesungguhnya nasib buruk itu –sebagaimana perkataan Ibnu Rojab- adalah dalam bermaksiat kepada Allah.

Hingga beliau berkata,

وفي الجملة فلا شؤم إلا المعاصي والذنوب فإنها تسخط الله عز وجل فإذا سخط على عبده شقي العبد في الدنيا والآخرة، كما أنه إذا رضي عن العبد سعد في الدنيا والآخرة

“Kesimpulannya, tidak ada yang mendatangkan nasib buruk kecuali kemaksiatan dan dosa, karena hal itu menjadikan Allah murka, dan jika Allah telah murka kepada hambaNya maka celakalah hamba tersebut di dunia dan di akhirat, sebagaimana jika Allah ridho kepada seorang hamba maka bahagialah hamba tersebut di dunia dan di akhirat”.

Abu Hazim berkata “Seluruh perkara yang menyebabkan engkau tersibuk dari mengingat Allah baik keluarga, atau anak, atau harta maka itulah yang mendatangkan keburukan kepadamu”.

Pelaku maksiat sesungguhnya telah mendatangkan kesialan kepada dirinya sendiri, bahkan mendatangkan keburukan bagi orang lain, karena sesungguhnya dikhawatirkan turunnya adzab kepadanya dan akhirnya azab tersebut merata menimpa masyarakat, terkhususkan kepada orang-orang yang tidak mengingkari perbuatan kemaksiatannya. Demikian pula lokasi-lokasi kemaksiatan dan lokasi-lokasi diturunkannya adzab, maka wajib bagi seorang hamba untuk lari dari lokasi-lokasi tersebut sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil akan hal tersebut.

Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s