SAUDARAKU, MARI KITA PUASA 6 HARI DI BULAN SYAWWAL..!!!

KEUTAMAAN PUASA SUNNAH 6 HARI DI BULAN SYAWWAL

بسم الله الرحمن الرحيم

SYAWAL1Dari Abu Ayyub al-Anshariy radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadlan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh”. [HR Muslim: 1164, Abu Dawud: 2433, at-Turmudziy: 759, Ibnu Majah: 1716, Ahmad: V/ 417, 419, ath-Thayalisiy, Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Dari Tsauban maulanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ اْلفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِاْلحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa yang berpuasa 6 hari setelah iedul fithri maka sempurnalah setahun. (Barangsiapa yang datang membawa satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala 10 kalinya)”. [HR Ibnu Majah: 1715. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Dan juga an-Nasa’iy dengan lafazh,

جَعَلَ اللهُ اْلحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا فَشَهْرٌ بِعَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَ صِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ اْلفِطْرِ تَمَامُ السَّنَةِ

“Allah telah menjadikan satu kebaikan itu sepuluh kalinya. Maka sebulan itu menjadi sepuluh bulan dan puasa enam haru setelah iedul fithri itu menjadi genap setahun”. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Ibnu Khuzaimah: 2114 dengan lafazh,

صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشْرَةِ أَشْهُرٍ وَ صِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بِشَهْرَيْنِ فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ

“Puasa bulan Ramadlan itu sebanding dengan puasa 10 bulan sedangkan puasa enam hari itu sebanding dengan puasa 2 bulan. Maka itulah puasa setahun”. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Dan Ibnu Hibban dengan lafazhnya,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ فَقَدْ صَامَ السَّنَةَ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan dan 6 hari di bulan Syawwal maka sungguh-sungguh ia telah berpuasa selama setahun”.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ أَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan dan diiringi puasa 6 hari di bulan Syawwal maka seolah-olah ia berpuasa selama setahun”. [HR al-Bazzar. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Hadits-hadits yang agung ini menunjukkan akan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia agung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa adanya kesulitan yang berarti.[6]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhahullah,

Pahala perbuatan baik itu akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, karena puasa Ramadlan ditambah puasa enam hari di bulan Syawwal menjadi tiga puluh enam hari, pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali menjadi tiga ratus enam puluh hari, yaitu sama dengan satu tahun penuh (tahun Hijriyah), bagi yang melaksanakannya.

Disunnahkannya puasa Syawwal selama enam hari.

Diperbolehkan puasa pada hari-hari tersebut secara berturut-turut atau terpisah.

Sebahagian ulama salaf tidak menyukai disambungnya puasa Syawwal dengan Ramadlan agar orang-orang jahil tidak menyangka bahwa puasa Syawwal itu penyempurna puasa Ramadlan. Sungguh-sungguh telah terjadi apa yang dikhawatirkan disebagian negeri non Arab ketika mereka menunda iedul fithri sampai setelah 6 hari di bulan Syawwal. Na’udzu billah dari perilaku bid’ah tersebut. [7]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Para ulama menafsirkannya bahwa satu kebaikan itu akan dibalas 10 kalinya dan Ramadlan itu dikerjakan selama sebulan maka menjadi 10 bulan. Sedangkan Puasa Syawwal itu 6 hari menjadi 60 hari yakni 2 bulan. Berdasarkan hal ini manusia dianjurkan untuk menyempurnakan puasa Ramadlan dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal.

Namun hendaknya diketahui, bahwa tidak ada puasa (Syawwal) sebelum qodlo (membayar hutang puasa Ramadlan). Yaitu seandainya ada seseorang memiliki hutang sehari puasa Ramadlan lalu ia berpuasa 6 hari (Syawwal) maka ia tidak akan memperoleh pahala tersebut. Sebab Rosul shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadlan…”. Barangsiapa yang masih memiliki hutang sehari dari Ramadlan maka belumlah ia berpuasa padanya tapi hanya berpuasa beberapa hari saja padanya. Jika ia tidak berpuasa sehari maka ia berarti berpuasa selama 29 hari. Jika ia tidak berpuasa 2 hari maka ia hanya berpuasa 28 hari, ia tidak berpuasa selama sebulan. Rosul shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan,…”. Maka jika engkau berpuasa Ramadlan dan juga berpuasa selama 6 hari di bulan Syawwal maka seolah-olah engkau berpuasa selama setahun penuh.

Sama saja engkau berpuasanya pada hari kedua dari hari raya Iedul fithri, sebagiannya mengikuti yang lainnya. Atau engkau berpuasa sesudah dua atau tiga hari, atau engkau berpuasa secara berturut-turut atau terpisah. Perkara dalam masalah ini sangat luas. Tetapi jika engkau memudah-mudahkan sehingga keluar dari bulan Syawwal lalu engkau berpuasa maka perbuatan ini tidak akan mendapatkan ganjaran. Ya Allah, kecuali orang yang memiliki udzur seperti orang yang sedang sakit, perempuan yang nifas/ haidl atau orang yang sedang safar yang ia tidak dapat berpuasa di bulan Syawwal dan mengqodlonya di bulan Dzulqoidah, maka hal tersebut tidaklah mengapa”. [8]

Jadi keutamaan ini adalah bagi orang yang telah menyempurnakan puasa Ramadlan sebulan penuh dan telah mengqadla/membayar (utang puasa ramadlan) jika ada, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, “Barangsiapa yang (telah) berpuasa (di bulan) Ramadlan…”, maka bagi yang mempunyai utang puasa Ramadlan diharuskan menunaikan/membayar utang puasanya dulu, kemudian baru berpuasa Syawwal. [9]

Meskipun demikian, barangsiapa yang berpuasa Syawwal sebelum membayar utang puasa Ramadlan, maka puasanya sah, tinggal kewajibannya membayar utang puasa Ramadlan. [10]

Lebih utama jika puasa enam hari ini dilakukan berturut-turut, karena termasuk bersegera dalam kebaikan, meskipun dibolehkan juga tidak berturut-turut.

Lebih utama jika puasa ini dilakukan segera setelah hari raya Iedlul Fithri, karena termasuk bersegera dalam kebaikan, menunjukkan kecintaan kepada ibadah puasa serta tidak bosan mengerjakannya, dan supaya nantinya tidak timbul halangan untuk mengerjakannya jika ditunda. [11]

Melakukan puasa Syawwal menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada ibadah puasa dan bahwa ibadah ini tidak memberatkan dan membosankan, dan ini merupakan pertanda kesempurnaan imannya. [12]

Ibadah-ibadah sunnah merupakan penyempurna kekurangan ibadah-ibadah yang wajib, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih. [13]

Tanda diterimanya suatu amal ibadah oleh Allah, adalah dengan giat melakukan amal ibadah lain setelahnya. [14]

Demikian beberapa dalil hadits dan penjelasannya tentang keutamaan shaum atau puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal, yang dikerjakan setelah menunaikan puasa Ramadlan secara berturut-turut atau terpisah. Mudah-mudahan bermanfaat untukku, keluarga dan kerabatku serta kaum muslimin seluruhnya.

Wallahu a’alam bish showab.

[1] Shahih Sunan Abu Dawud: 2125, Shahih Sunan at-Turmudziy: 606, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1393, Irwa’ al-Ghalil: 950, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6327 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 996.

[2] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1392, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6328 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 997.

[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3094.

[4] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3851.

[5] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 999.

[6] Ahadits Ash-Shiyam, Ahkam wa Adab halaman 157.

[7] Bahjah an-Nazhirin: II/385 oleh asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhahullah, Dar Ibnu al-Jauziy.

[8] Syarh Riyadl ash-Shalihin: III/ 506-507 oleh asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah, Dar al-Aqiidah.

[9] Pendapat ini dikuatkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam asy-Syarhu al-Mumti’ (III/100), dan juga asy-Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili dan para ulama lainnya.

[10] Lihat keterangan asy-Syaikh Abdullah al-Fauzan dalam kitab Ahadits ash-Shiyam halaman 159.

[11] Kitab Ahadits ash-Shiyam, Ahkam wa Adab halaman 158.

[12] Kitab Ahadits ash-Shiyam, Ahkam wa Adab halaman 157.

[13] Kitab Ahadits ash-Shiyam, Ahkam wa Adab halaman 158.

[14] Kitab Ahadits ash-Shiyam, Ahkam wa Adab halaman 157.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s