SAUDARAKU, MARILAH KITA BERPUASA 3 HARI SETIAP BULAN…

PUASA TIGA HARI SETIAP BULAN DAN PUASA AYYAMUL BIDL

بسم الله الرحمن الرحيم

AYYAMUL BIDL3

Sebagai umat Islam, kita disunnahkan untuk berpuasa dalam sebulan minimal tiga kali. Dan yang lebih utama adalah melakukan puasa pada Ayyamul Bidl, yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan-bulan Qomariyah (Hijriyah).

Puasa tersebut disebut ayyamul bidl (hari putih) karena pada malam-malam tersebut bersinar bulan purnama dengan sinar rembulannya yang putih. Maka dia putih bersinar di siang hari dengan cahaya mentari dan di malam hari dengan sinar rembulan. Yakni tanggal 13, 14 dan 15 (di bulan-bulan qomariyah/ hijriyah) menurut para pentahqiq. [1]

Dalil-dalil haditsnya

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلاَةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (yaitu Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasihat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati, 1). Berpuasa tiga hari setiap bulannya, 2). Mengerjakan sholat Dluha dan 3). Tidur setelah sholat witir”. [HR al-Bukhoriy: 1178, Muslim: 721, Abu Dawud: 1432, at-Turmudziy: 760, an-Nasa’iy: III/ 229, IV/ 218, Ahmad: II/ 459 dan ad-Darimiy: II/ 19. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu berkata,

أَوْصَانِى حَبِيْبِى بِثَلاَثٍ لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَ صَلَاةِ الضُّحَى وَ بِأَنْ لَا أَنَامَ حَتَّى أُوْتِرَ

“Kekasihku mewasiatkan tiga hal kepadaku yang aku tidak akan meninggalkannya selama aku masih hidup, 1). Berpuasa selama tiga hari setiap bulannya, 2). Mengerjakan sholat Dluha dan 3). Aku tidak akan tidur sehingga aku melakukan sholat witir”. [HR Muslim: 722 dan Abu Dawud: 1433. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun”. [HR al-Bukhoriy: 1979 dan Muslim: 1159].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhahullah, “Berpuasa sepanjang masa itu hukumnya haram. Disukai untuk berpuasa selama tiga hari setiap bulan. Berpuasa tiga hari setiap bulan itu seperti berpuasa sepanjang masa, hal tersebut karena adanya pelipat gandaan. Sebab satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali sebagaimana telah berlalu (penjelasannya)”. [4]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “(Nabi shallallahu alaihi wa sallam) mewasiatkan mereka dengan puasa selama tiga hari setiap bulan. Beliau bersabda kepada Abdullah bin Amr bin al-Ash, ‘Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun’. Yaitu tiga hari dan satu kebaikan dibalas dengan sepuluh yang semisalnya, yang menjadi 30 hari maka hal itu menjadi berpuasa sepanjang masa”. [5]

Dari Abu Qotadah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

ثَلاَثٌ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَ رَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ فَهَذَا صِيَامُ الدَّهْرِ كُلُّهُ

“Puasa tiga hari setiap bulan dan berpuasa Ramadlan sampai Ramadlan berikutnya itu sama seperti berpuasa sepanjang masa”. [HR Muslim: 1162, Abu Dawud: 2425 dan an-Nasa’iy: IV/ 208-209. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Dari Qurrah bin Iyas radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلُّهُ وَ إِفْطَارُهُ

“Puasa selama tiga hari di setiap bulan sama seperti berpuasa sepanjang masa dan berbukanya”. [HR Ahmad: III/ 435, 436, V/ 34, al-Bazzar dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبَنَّ وَحَرَ الصُّدُوْرِ

“Puasa pada bulan kesabaran (yaitu Ramadlan) dan puasa selama tiga hari setiap bulan itu dapat menghilangkan kotoran (kedengkian atau waswasnya) hati”. [HR al-Bazzar dan Ahmad: V/ 78. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Abu Dzarr radliyallah anhu berkata, telah bersabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ صَامَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ فَأَنْزَلَ اللهُ تَصْدِيْقَ ذَلِكَ فِى كِتَابِهِ ((مَنْ جَاءَ بِاْلحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa yang berpuasa selama tiga hari maka berarti telah berpuasa sepanjang masa. Lalu Allah ta’ala menurunkan (ayat) untuk membenarkan hal tersebut di dalam kitab-Nya ((Barangsiapa yang datang membawa satu kebaikan maka ia akan mendapat sepuluh kali lipat. QS al-An’am/ 6: 160))”. [HR Ahmad: V/ 145, an-Nasa’iy: IV/ 219, at-Turmudziy: 762 dan Ibnu Majah: 1708. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Dari Abu Dzarr, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda padanya,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah)”. [HR at-Turmudziy: 761, an-Nasa’iy: IV/ 222-223, Ahmad: V/ 162, 177, Ibnu Hibban, al-Baihaqiy dan ath-Thayalisiy. Abu Isa at-Turmudziy mengatakan bahwa haditsnya hasan. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Dari Qotadah bin Milhan al-Qo’isiy radliyallahu anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنَا بِصِيَامِ أَيَّامِ اْلبِيْضِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ

“Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidl yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah)”. Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidl itu seperti puasa setahun”. [HR Abu Dawud: 2449 dan an-Nasa’iy: IV/ 224-225. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [11]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhahullah,

“Telah berlalu penjelasan tentang bolehnya berpuasa tiga hari setiap bulan tanpa pengkhususan. Dan hadits-hadits ini menjelaskan bahwa puasa (ayyamul) bidl sebaik-baik hari dalam bulan dan disunnahkan untuk berpuasa padanya.

Ayyamul bidl adalah hari-hari pada malam yang terang putih bersinar karena keberadaannya rembulan sepanjang malam.

Ayyamul bidl itu adalah tanggal 13, 14 dan 15 (setiap bulan qomariyah/ hijriyah).

Terdapat penjelasan akan kelemah lembutan Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya, rasa kasih sayangnya kepada mereka, membimbing mereka kepada sesuatu yang membawa kepada kemashlahatan dan memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu yang mereka sanggupi secara kontinyu”. [12]

Demikian beberapa dalil hadits yang menganjurkan umat Islam untuk berpuasa tiga hari setiap bula-bulan hijriyah, dan khususnya pada ayyamul bidl yaitu pertengahan bulan ketika rembulan bersinar putih cemerlang karena malam purnama, yaitu tanggal 13, 14 dan 15.

Namun puasa ayyamul bidl itu dikecualikan untuk dikerjakan pada tanggal 13 Dzul hijjah sebab tanggal tersebut merupakan bagian dari hari tasyriq. Berpuasa pada hari tersebut diharamkan.

Sebagaimana telah diketahui bahwa di antara hari yang terlarang untuk puasa adalah hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah).

Dalam hadits disebutkan, dari Nubaisyah al-Hudzaliy berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum”. [HR. Muslim: 1141 dan Ahmad: V/ 75].

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَ شُرْبٍ

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan dan minum”. [HR Ibnu Majah: 1719. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [13]

Dari Bisyr bin Syuhaim, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkhuthbah pada hari-hari tasyriq lalu bersabda,

لَا يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَ إِنَّ هَذِهِ اْلأَيَّامُ أَيَّامُ أَكْلٍ وَ شُرْبٍ

“Bahwasanya tidak ada yang masuk ke dalam surga kecuali jiwa yang muslimah dan sesungguhnya hari-hari ini adalah hari makan dan minum”. [HR Ibnu Majah: 1720. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Dari Ka’b bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya ia menceritakan bahwa Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengutusnya dan juga Aus bin al-Hadatsan pada hari-hari tasyriq. Lalu beliau menyeru,

أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَ أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَ شُرْبٍ

“Bahwasanya tidak ada yang masuk ke dalam surga kecuali orang mukmin dan hari-hari Mina itu adalah hari-hari makan dan minum”. [HR Muslim: 1142, Ahmad: III/ 460 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Al-Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata, “Ini adalah dalil tidak boleh sama sekali berpuasa pada hari tasyriq”. [16]

Beliau juga menjelaskan, “Hari-hari tasyriq adalah tiga hari setelah Iedul Adl-ha. Hari tasyriq disebut demikian karena pada hari itu kaum muslimin menyajikan kurbannya dan ada yang menjemurnya di terik matahari. Dalam hadits disebutkan dianjurkannya memperbanyak dzikir di antaranya takbir pada hari-hari tasyriq”. [17]

Iedul adl-ha adalah tanggal 10 Dzul hijjah jadi 3 hari tasyriqnya adalah tanggal 11, 12 dan 13 Dzul hijjah. Maka tanggal 13 Dzul hijjah meskipun termasuk ayyamul bidl maka diharamkan berpuasa padanya karena termasuk hari tasyriq.

            Wallahu a’lam bish showab. Semoga bermanfaat untukku, keluarga dan kerabatku serta shahabatku dan semua kaum muslimin.

[1] Bahjah an-Nazhirin: II/ 389.

[2] Shahih Sunan Abu Dawud: 1269, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2267, Shahih Sunan at-Turmudziy: 607, Irwa’ al-Ghalil: 946 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1017.

[3] Shahih Sunan Abu Dawud: 1270 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1018.

[4] Bahjah an-Nazhirin: II/ 390.

[5] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 510.

[6] Mukhtashor Shahih Muslim: 620, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2250, Shahih Sunan Abu Dawud: 2119, Irwa’ al-Ghalil: 946, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3042 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1020.

[7] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3848 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1021.

[8] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6324, Irwa’ al-Ghalil: 947 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1022.

[9] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2267, Shahih Sunan at-Turmudziy: 608, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1386 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1025.

[10] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2279, Shahih Sunan at-Turmudziy: 609, Irwa’ al-Ghalil: 947, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7817, Misykah al-Mashabih: 2057 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1028.

[11] Shahih Sunan Abu Dawud: 2139 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1029.

[12] Bahjah an-Nazhirin: II/ 391.

[13] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1396, Irwa al-Ghalil: IV/ 129 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1282.

[14] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1397 dan Irwa’ al-Ghalil: IV/ 128-129.

[15] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2424 dan Irwa’ al-Ghalil: 963.

[16] Syar-h Shahih Muslim: VIII/ 18.

[17] Syar-h Shahih Muslim:VIII/ 18.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s