SAUDARAKU, PUASA ITU HUKUMNYA WAJIB…

HUKUM PUASA RAMADLAN

بسم الله الرحمن الرحيم

PUASA6Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan “shaum”. Shaum secara bahasa bermakna imsak (menahan diri) dari makan, minum, berbicara, nikah dan berjalan. Sedangkan secara istilah shaum bermakna menahan diri dari segala pembatal dengan tata cara yang khusus. [1]

Berkata al-Imam an-Nawawiy rahimahullah, “Shaum secara bahasa bermakna menahan diri (imsak). Sedangkan secara syar’iy (istilah) adalah menahan sesuatu yang dikhususkan pada masa yang dikhususkan dengan syarat yang khusus. Diwajibkannya puasa bulan Ramadlan itu pada tahun kedua hijriyah”. [2]

Berkata asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Alu asy-Syaikh hafizhahullah, “Shaum menurut bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Sedangkan menurut syar’iy adalah menahan diri dari makan, minum dan semua perkara yang membatalkan (puasa) yang disertai dengan niat dari sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari”. [3]

Puasa Ramadlan itu wajib bagi setiap muslim yang baligh (dewasa) [4], berakal [5], dalam keadaan sehat, dan dalam keadaan mukim (tidak bersafar) [6] serta tidak dalam keadaan haidl dan nifas bagi wanita. [7]

Yang menunjukkan bahwa puasa Ramadlan itu wajib adalah dalil Aqur’an, Sunnah bahkan kesepakatan para ulama (ijmak ulama) [8].

Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan puasa pada bulan Ramadlan dan telah menjadikannya sebagai salah satu dari 5 rukun Islam. Di antara dalil dari Alqur’an adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. [QS. Al Baqarah : 183].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhahullah, “ Diwajibkannya puasa pada bulan Ramadlan. Puasa itu akan mendidik mukmin untuk menguasai ketakwaan. Puasa itu dapat menghapus dosa-dosa sebagaimana di dalam hadits, ‘Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan dengan penuh keimanan dan semata-mata mencari pahala maka akan diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu’”. [9]

Dalil dari As Sunnah, dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله وَ إِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صَوْمِ رَمَضَانَ وَ حَجِّ الْبَيْتِ

“Islam dibangun di atas lima (rukun); Syahadat Laa Ilaaha Illallahu Muhammadur-Rosulullah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, shaum Ramadlan dan berhaji ke Baitullah (Makkah)”. [HR al-Bukhoriy: 8, 4515, Muslim: 16, an-Nasa’iy: II/ 268, at-Turmudziy: 2609, Ahmad: II/ 143 dan Ibnu Khuzaimah: 1880. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Berkata asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “Perkara yang paling penting sesudah sholat dan zakat adalah berpuasa Ramadlan. Dia adalah salah satu dari rukun Islam yang lima yang telah disebutkan di dalam sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ‘Islam dibangun di atas lima (rukun); Syahadat Laa Ilaaha Illallahu Muhammadur-Rosulullah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, shaum Ramadlan dan berhaji ke Baitullah (Makkah)’. Maka wajib bagi seorang muslim untuk menjaga puasa dan qiyamnya dari apa yang telah diharamkan Allah atasnya dari bentuk perkataan ataupun perbuatan. Sebab maksud tujuan dari berpuasa itu adalah mentaati Allah Subhanahu, mengagungkan kehormatan-Nya, memperjuangkan jiwanya untuk menyelisihi hawa nafsunya di dalam mentaati maulanya (Allah), membiasakannya untuk bersabar dari apa yang diharamkan Allah. Maka maksud tujuan puasa itu tidak hanya semata-mata meninggalkan makan, minum dan semua pembatal-pembatalnya”. [11]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ اْلمـُحَرَّمِ وَ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ اْلفَرِيْضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadlan adalah puasa di bulan Allah yaitu Muharram. Seutama-utama sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam”. [HR. Muslim: 1163, Abu Dawud: 2429, at-Turmudziy: 438, 740, Ibnu Majah: 1742, ad-Darimiy: II/ 21, Ahmad: II/ 303, 309, 342, 344, 535, Ibnu Khuzaimah: 2076 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Maka puasa yang paling utama dan paling penting adalah puasa Ramadlan lalu setelah itu puasa Muharram sebagaimana sholat wajib adalah yang paling utama dan paling penting lalu setelah itu sholat malam.

Hal ini juga dapat dilihat pula pada pertanyaan seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Orang Badui ini datang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan berambut kusut, kemudian dia berkata kepada beliau shallallahu alaihi wa sallam, “Beritahukan aku mengenai puasa yang Allah wajibkan padaku”. Kemudian Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَهْرَ رَمَضَانَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا

“(Puasa yang wajib bagimu adalah) puasa pada bulan Ramadlan, Kecuali jika engkau menghendaki untuk melakukan puasa sunnah”. [HR al-Bukhoriy: 46 dan Muslim: 11 dari Thalhal bin Ubaidullah radliyallahu anhu].

Berkata DR Abdul Azhim bin Badawiy hafizhahullah, “Ummat ini telah bersepakat akan wajibnya berpuasa Ramadlan. Bahwa puasa ini merupakan salah satu dari rukun Islam yang telah diketahui urgensinya di dalam agama. Maka orang yang mengingkari kewajibannya itu hukumnya adalah kafir murtad dari agama Islam. Maka telah tsabit/ tetap dengan hal tersebut akan kewajiban puasa dengan dasar Alqur’an, sunnah dan ijmak. Kaum muslimin telah berijmak/ bersepakat atas kufurnya orang yang mengingkari puasa”. [13]

Wajibnya puasa ini juga sudah ma’lum minad dini bi dloruroh yaitu secara pasti sudah diketahui wajibnya karena puasa adalah bagian dari rukun Islam. [14] Sehingga seseorang bisa jadi kafir jika mengingkari wajibnya hal ini. [15]

Peringatan bagi Orang yang Sengaja Membatalkan Puasa

Abu Umamah menuturkan bahwa beliau mendengar Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata, ”Naiklah”. Lalu kukatakan, ”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata, ”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab, ”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.”

Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya, ”Siapakah mereka itu?” Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab,

هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya”. [HR an-Nasa’iy di dalam as-Sunan al-Kubra: 3286, Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya: 1986, al-Hakim: I/ 430, II/ 209 dalam mustadroknya, Ibnu Hibban, al-Baihaqiy dan ath-Thabraniy. Al-Imam al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Muslim namun tidak dikeluarkan olehnya, dan ini disepakati oleh al-Imam adz-Dzahabiy]. [16]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Aku berkata, ini adalah hukuman/ siksaan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja sebelum tiba waktunya dalam hadits ini, maka bagaimana lagi dengan orang yang tidak berpuasa sejak awal Ramadlan dan tidak pernah berpuasa sama sekali. Kita memohon keselamatan dan afiat di dunia dan akhirat kepada Allah ta’ala”.

Al-Imam adz-Dzahabiy rahimahullah sampai-sampai mengatakan, “Siapa saja yang sengaja tidak berpuasa Ramadlan, bukan karena sakit atau udzur lainnya, maka dosa yang dilakukan lebih jelek dari dosa berzina, penarik upeti (dengan paksa), pecandu miras (minuman keras), bahkan orang seperti ini diragukan keislamannya dan disangka sebagai orang yang terjangkiti penyakit zindiq (kemunafikan) dan penyimpangan”. [17]

Demikian penjelasan akan kewajiban berpuasa Ramadlan sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam kitab-Nya dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam sunnahnya. Begitupun para ulama sunnah dan kaum muslimin telah berijmak/ bersepakat akan wajibnya puasa Ramadlan.

Maka siapapun diantara kaum muslimin ada yang meninggalkan puasa Ramadlan dengan sengaja sedangkan ia telah mengetahui kewajibannya maka ia telah kufur dan murtad dari agama. Orang tersebut berhak mendapatkan adzab Allah kelak di hari kiamat dengan cara digantung pada urat tumit mereka dan mulut mereka akan dirobek sehingga mengucurkan darah. Al-Iyaadzu billah.

Oleh sebab itu, sebagai muslim kita wajib menjaga kewajiban berpuasa dengan sebaik-baiknya dan melatih anak-anak kita sejak usia dini untuk membiasakannya agar mereka menjadi terbiasa dalam mengerjakannya ketika mereka telah mencapai usia baligh.

Mudah-mudahan pembahasan singkat ini memberi faidah untukku, keluarga, kerabat dan shahabatku serta kaum muslimin seluruhnya.

Wallahu a’lam bish showab.

 [1] Al-Mawsu’ah al-Fiqhiyah: XXVIII/ 7.

[2] Nail al-Awthar: IV/ 221

[3] Kitab al-Fiqh al-Muyassar fi dlow’i al-Kitab waas-Sunnah taqdim Ma’aliy asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu asy-Syaikh halaman 151, cetakan Dar A’lam as-Sunnah, Cetakan Pertama, tahun 2009M/ 1430H.

[4] Tanda baligh adalah: (1) Ihtilam, yaitu keluarnya mani dalam keadaan sadar atau saat mimpi; (2) Tumbuhnya bulu kemaluan; atau (3) Dua tanda yang khusus pada wanita adalah haidh dan hamil. (Lihat Al Mawsua’ah Al Fiqhiyah, 8: 188-190).

Sebagian fuqoha menyatakan bahwa diperintahkan bagi anak yang sudah menginjak usia tujuh tahun untuk berpuasa jika ia mampu sebagaimana mereka diperintahkan untuk shalat. Jika ia sudah berusia 10 tahun dan meninggalkannya –padahal mampu-, maka hendaklah ia dipukul. (Lihat al-Mawsu’ah al-Fiqhiyah: XXVIII/ 20)

Al-Imam al-Bukhoriy membawakan pula dalam kitab Shahihnya Bab “Puasanya anak kecil“. Lantas beliau membawakan hadits dari ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz. Ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengutus seseorang pada pagi hari di hari Asyura (10 Muharram) ke salah satu perkampungan Anshor, lantas beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak berpuasa di pagi hari, maka hendaklah ia menyempurnakan sisa hari ini dengan berpuasa. Barangsiapa yang berpuasa di pagi harinya, hendaklah ia tetap berpuasa”. Ar-Rubayyi’ berkata, “Kami berpuasa setelah itu. Dan kami mengajak anak-anak kami untuk berpuasa. Kami membuatkan pada mereka mainan dari bulu. Jika saat puasa mereka ingin makan, maka kami berikan pada mereka mainan tersebut. Akhirnya mereka terus terhibur sehingga mereka menjalankan puasa hingga waktu berbuka”. [HR al-Bukhoriy: 1960 dan Muslim: 1136. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 615]. Hadits ini menunjukkan bahwa hendaklah anak-anak dididik puasa sejak mereka kuat. Jika mereka ‘merengek’ ingin berbuka padahal belum waktunya, maka hiburlah mereka dengan mainan sehingga mereka terbuai. Akhirnya mereka nantinya bisa menjalankan puasa hingga waktu Maghrib.

[5] Bagaimana dengan orang yang pingsan?

Dijelaskan oleh Muhammad al-Hishni bahwa jika hilang kesadaran dalam keseluruhan hari (dari terbit fajar Shubuh hingga tenggelam matahari, -pen), maka tidak sah puasanya. Jika tidak, yaitu masih sadar di sebagian waktu siang, puasanya sah. Demikian menurut pendapat terkuat dari perselisihan kuat yang terdapat pada perkataan Imam Syafi’i. Lihat pembahasannya di Kifayah al-Akhyar, halaman 251 dan Hasyiyah al-Baijuriy: I/ 561.

Bagaimana dengan orang yang tidur seharian, apakah puasanya sah?

Ada ulama yang mengatakan tidak sah sebagaimana perihal pingsan di atas. Namun yang shahih dari pendapat madzhab Syafi’iy, tidur seharian tersebut tidak merusak puasa karena orang yang tidur masih termasuk ahliyatul ‘ibadah yaitu orang yang dikenai kewajiban ibadah. Lihat pembahasan Kifayah al-Akhyar, halaman 251.

[6] Lihat al-Mawsu’ah al-Fiqhiyah: XXVIII/ 20 dan Shahih Fiqh Sunnah: II/ 88. Ada ulama menambahkan syarat wujub shoum (syarat wajib puasa) yaitu mengetahui akan wajibnya puasa.

[7] al-Fiqh al-Muyassar fi dlow’i al-Kitab wa as-Sunnah taqdim Ma’aliy asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu asy-Syaikh halaman 153.

 [8] Al-Mawsu’ah al-Fiqhiyah: XXVIII/ 7.

[9] Aysar at-Tafasir: I/ 161 susunan asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy, Maktabah al-Ulum wa al-Hikam cetakan pertama tahun 1994M/ 1415H.

[10] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 5, Mukhtashor Shahih Muslim: 62, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4628, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2104, Irwa’ al-Ghalil: 781, Shahih at-Targhib waat-Tarhib: 347 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2840.

[11] Arkan al-Islam halaman 237-238 oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Dar ad-Da’iy, Cetakan Pertama tahun 1420H.

[12] Shahih Sunan at-Turmudziy: 360, 591, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1416, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1121, Irwa’ al-Ghalil: 951 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 611, 1005, 1006.

[13] Al-Wajiz fi fiqh as-Sunnah wa al-Kitab al-Aziz halaman 231, susunan DR Abdul Azhim bin Badawiy, Penerbit Dar Ibnu Rajab tahun 2009M/ 1430H dan juga kitab al-Fiqh al-Muyassar fi dlow’i al-Kitab waas-Sunnah taqdim Ma’aliy asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu asy-Syaikh halaman 152.

[14] Ad-Dlaror al-Mudliyyah, halaman 263.

[15] Shahih Fiqh Sunnah: II/  89, 118-127.

[16] Penulis kitab Shifat Shaum Nabi (halaman 25) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat juga Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 3951 (VIII/III/1669) dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 2393.

[17] Kitab al-Kaba’ir,di dalam dosa besar kesepuluh halaman 53, susunan al-Imam adz-Dzahabiy, cetakan Dar al-Hadits Cetakan pertama tahun1992M/ 1414H.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s