AKHI, REDUPKAN AMARAHMU !!!!…

LARANGAN MElUAPKAN AMARAH

بسم الله الرحمن الرحيم

marah4Marah ialah bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang dikhawatirkan terjadi atau karena ingin balas dendam kepada orang yang menimpakan gangguan yang terjadi padanya.

Marah adalah salah satu sikap atau bahkan sifat dari manusia karena merasakan, melihat atau mendengar sesuatu yang tidak disukai, tidak sesuai dengan yang diinginkan atau yang bertentangan dengan kehendak seseorang.

Biasanya marah ditandai dengan mata melotot dan memerah, otot leher mengejang dan bersuara keras terkadang dengan bentakan, makian dan hardikan. Namun terkadang marah juga diluapkan dengan bersikap diam, bertingkah masa bodoh kepada orang yang dimarahi, berpaling wajah darinya dan sebagainya. Terkadang pula, ada yang bersikap tenang dan menegur dengan tegas orang yang dimarahinya dengan kata-kata lugas dan jelas.

Marah banyak sekali menimbulkan perbuatan yang dilarang seperti memukul, menampar, menendang, menyiksa, menyakiti orang, melempar barang pecah belah dan mengeluarkan perkataan-perkataan yang diharamkan seperti menuduh, mencaci maki, berburuk sangka, berkata kotor dan berbagai bentuk kezhaliman dan permusuhan. Bahkan sampai membunuh, serta bisa jadi naik kepada tingkat kekufuran sebagaimana yang terjadi pada Jabalah bin Aiham, [1] dan seperti sumpah-sumpah yang tidak boleh dipertahankan menurut syar’iy, atau menceraikan istri yang disusul dengan penyesalan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah berkata, “Adapun hakikat marah tidaklah dilarang karena merupakan perkara tabi’at yang tidak bisa hilang dari perilaku kebiasaan manusia”.  [2]

Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa iapun dapat marah sebagaimana manusia lainnya marah, karena beliau juga adalah seorang manusia biasa. Namun yang membedakan beliau dengan manusia lainnya bahwa beliau mendapatkan wahyu dari Allah Azza wa Jalla dan ma’shum. Yakni jika beliau melakukan suatu kesalahan maka Allah ta’ala segera menegur dan mengingatkannya akan kesalahan dan kekeliruannya dengan menurunkan ayat alqur’an. Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah marah melainkan jika kehormatan Allah ta’ala dilanggar.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

اَللَّهُمَّ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنَ اْلمـُسْلِمِيْنَ سَبَبْتَهُ أَوْ لَعَنْتَهُ َأَوْ جَلَدْتَهُ فَاجْعَلْهَا لَهُ زَكَاةً وَ رَحْمَةً

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia (aku bisa ridlo seperti ridlonya manusia dan aku dapat marah seperti marahnya manusia). Orang Muslim mana saja yang pernah aku caci, laknat dan cambuk, maka aku menjadikannya sebagai pembersih (dosa) dan rahmat baginya”. [HR Muslim: 2601, al-Bukhoriy: 6361, dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu pernah mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari ahli kitab. Lalu ia membacakannya kepada Nabi Shallallahu alihi wa sallam maka marahlah beliau. Lalu beliau bersabda,

أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ اْلخَطَّابِ وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى صلى الله عليه و سلم كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِى

“Wahai putra al-Khaththab apakah kamu merasa kagum  kepadanya, demi Dzat Yang jiwaku ada di dalam genggaman tangan-Nya, sungguh-sungguh aku telah datangkan kepada kalian yang putih jernih. Janganlah kalian bertanya kepada mereka tentang sesuatu lalu mereka mengkhabarkan kebenaran kepada kalian lalu kalian mendustakannya. Atau mereka mengkhabarkan kebatilan kepada kalian lalu kalian membenarkannya. Demi Dzat Yang jiwaku ada pada genggaman tangan-Nya seandainya Musa Shallallahu alaihi wa sallam masih hidup maka tidak ada yang mencegahnya melainkan ia akan mengikutiku”. [HR Ahmad: III/ 387, ad-Darimiy: I/ 116-117, Ibnu Abi Ashim di dalam as-Sunnah, Ibnu Abdilbarr, al-Harawiy dan adl-Dliya’ al-Muqoddasiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [4]

Di dalam riwayat ad-Darimiy, dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu bahwasanya Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu pernah mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam seraya membawa lembaran dari Taurat. Ia berkata, “Wahai Rosulullah, ini sebuah lembaran dari Taurat”. Nabi diam dan Umar tetap membacakan (lembaran tersebut), maka berubahlah wajah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Abu Bakar berkata, “(Wahai Umar!) engkau telah kehilangan, tidakkah engkau lihat wajah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?”. Lalu Umar melihat wajah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan dari kemurkaan rosul-Nya. Aku ridlo Allah sebagai rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ بَدَا لَكُمْ مُوْسَى فَاتَّبَعْتُمُوْهُ وَ تَرَكْتُمُوْنِى لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَبِيْلِ وَ لَوْ كَانَ حَيًّا وَ أَدْرَكَ نُبُوَّتِى لَاتَّبَعَنِى

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman tangan-Nya, seandainya Musa muncul  di hadapan kalian lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku niscaya kalian pasti sesat dari jalan yang lurus. Seandainya ia masih hidup dan menjumpai kenabianku niscaya ia akan mengikutiku”.

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkhabarkan bahwasanya ia pernah membeli sebuah bantal yang bergambar. Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihatnya, ia berdiri di depan pinta tidak masuk. Aku tahu ada rasa tidak senang pada wajahnya. Aku berkata, “Wahai Rosulullah aku bertaubat kepada Allah dan Rosul-Nya, apakah salahku?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Untuk apakah bantal bergambar ini?”. Aku berkata, “Aku membelinya untukmu agar engkau dapat duduk di atasnya dan bersandar padanya. Lalu Rosulullah Shalllahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ يُقَالُ لَهُمْ: أَحْيُوْا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya pemilik gambar-gambar ini akan diadzab pada hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang engkau ciptakan!”. Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh Malaikat (rahmat)”. [HR al-Bukhoriy: 5181, Muslim: 2107 (96) dan Ahmad: VI/ 246. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Dari Aisyah radliyallahu anha, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah datang dari suatu perjalanan sedangkan aku telah menutup ventilasi (lubang angin rumahku) dengan kain tipis yang terdapat gambar-gambar. Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihatnya iapun mengoyaknya (Dalam suatu riwayat, berubahlah warna wajahnya) dan bersabda,

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الَّذِيْنَ يُضَاهُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ قَالَتْ: فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

“Orang yang paling keras mendapatkan siksaan pada hari kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan Allah”. Lalu kami menjadikannya menjadi satu atau dua bantal. [HR al-Bukhoriy: 5954, Muslim: 2107 (92) dan Ahmad: VI/ 36, 85, 86, 199. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Demikian beberapa dalil yang menjelaskan marahnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Namun harus dipahami, bahwa marahnya beliau itu adalah kebenaran yang tidak akan beliau lakukan jika tidak dibimbing wahyu dari Allah wa ta’ala. Karena beliau tidaklah berkata melainkan kebenaran atau semata-mata dari hawa nafsunya.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu ‘anhuma berkata, “Aku senantiasa mencatat (menulis) segala sesuatu yang aku dengar dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bertujuan untuk menghafalnya. Lalu orang-orang Quraisy melarangku dan berkata, “Apakah engkau selalu mencatat semua yang engkau dengar (darinya) sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang manusia yang berbicara dengan rasa marah dan senang”. Lalu akupun menghentikan dari mencatatnya. Maka aku ceritakan hal tersebut kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Beliau berisyarat dengan jarinya ke mulutnya seraya bersabda,

اكْتُبْ فَوَ الَّذِي نَفْسِى بِيَدِهِ مَا َيخْرُجُ مِنْهُ وَ فى رواية: مَا خَرَجَ مِنْهُ و فى رواية: مَا خَرَجَ مِنىِّ إِلاَّ حَقٌّ

“Catatlah, demi Dzat Yang jiwaku berada di dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (di dalam satu riwayat, tidaklah keluar dariku) kecuali kebenaran”. [HR Abu Dawud: 3646, Ahmad: II/ 162, 192, ad-Darimiy: I/ 125 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [7]

Namun selain Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam karena tidak ada jaminan sedikitpun bahwa ia berkata, berbuat dan bersikap yang benar, maka sebaiknya ia menghindar dan menjauhkan diri dari sikap marah dan memiliki sifat tersebut kecuali untuk membela kebenaran dan menentang kebatilan. Karena di dalam mengendalikan amarah itu terdapat banyak keutamaan dan kebaikan di dunia dan akhirat. Sebagimana telah dijelaskan di dalam beberapa dalil hadits berikut ini,

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas dari Ayahnya bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظُمَ غَيْظًا وَ هُوَ قَادِرٌ عَلىَ أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَلىَ رُؤُوْسِ اْلخَلاَئِقِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ حَتىَّ يُخَيِّرَهُ فىِ أَيِّ اْلحُوْرِ شَاءَ

“Barangsiapa yang mampu mengendalikan amarahnya padahal ia mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya atas pemimpin makhluk pada hari kiamat sehingga ia memilih bidadari mana yang ia kehendaki”. [HR Ibnu Majah: 4186, Abu Dawud: 4777 dan at-Turmudziy: 2021, 2493. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [8]

Dari Ibnu Umar berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَا مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ

“Tidak ada pertahanan yang lebih besar pahalanya daripada menahan amarah yang dikendalikan oleh seorang hamba dalam rangka mencari wajah Allah”. [HR Ibnu Majah: 4189. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Jadi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang mampu menahan amarahnya kelak akan mendapatkan pahala yang paling besar dibandingkan dari bentuk pertahanan manapun yang ada. Tetapi menahan amarahnya tersebut dilakukan hanyalah semata-mata mencari ridlo Allah Azza wa Jalla, bukan lantaran takut terhadap orang lain, menjaga kewibawaan, khawatir menjadi bahan omongan, dan sebagainya.

Di samping itu pula beliau Shallallahu alaihi wa sallam menerangkan bahwa menahan nafsu amarah itu adalah kekuatan yang hakiki, bukan seperti anggapan sebahagian orang bahwa kekuatan itu diukur dengan kekuatan fisik dan ilmu bela diri berupa gulat, silat, karate, taekwodo, wushu dan sebagainya. Sebab jika seorang muslim itu hanya mengandalkan kekuatan fisik tanpa dapat mengendalikan amarah maka kekuatan itu hanya akan menimbulkan mafsadat (kerusakan) dan mudlarat (bahaya). Berapa banyak terjadi perselisihan, pertengkaran yang kemudian berlanjut dengan perkelahian dan tawuran antar kelompok yang hanya disebabkan oleh masalah sepele tetapi dapat mengundang amarah sekelompok orang yang gemar menyelesaikan masalah hanya dengan adu pisik sehingga menimbulkan pertumpahan darah, perusakan wilayah, penghancuran rumah lalu pada akhirnya menimbulkan kegelisahan, ketidak-amanan dan ketidak-nyamanan sebahagian warga karena daerahnya terusik, jalan dan tanamannya rusak atau sebahagian rumah dan kendaraannya ringsek.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصَّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي َيمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ اْلغَضَبِ

“Yang kuat itu bukanlah dengan gulat, yang kuat itu hanyalah yang mampu menahan hawa nafsunya ketika marah”. [HR al-Bukhoriy: 6114, Muslim: 2609, Abu Dawud: 4779 dan Ahmad: II/ 236, 268, 507. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Berkata Ibnu Baththol, “Di dalam hadits ini [11] (terdapat penjelasan) bahwa memerangi hawa nafsu itu lebih berat dari pada memerangi musuh. Sebab Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjadikan orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah sebagai orang yang paling kuat”. [12]

Sepatutnya setiap muslim dapat mengendalikan amarahnya dengan baik, sehingga jikapun ia marah maka marahnyapun lantaran membela agamanya yang diganggu oleh orang jahil. Dari itulah, tatkala ada seseorang meminta nashihat kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau menashihatinya agar tidak marah, bahkan beliau mengatakannya berulang-ulang, sebagaimana hadits berikut ini,

Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada salah seorang shahabatnya,

            لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga”. [HR ath-Thabraniy dalam al-Mu’jam al-Awsath dan Ibnu Abi ad-Dunya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya ada seorang pria berkata kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Wasiatkan aku!”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَغْضَبْ

“Janganlah engkau marah!”. Orang itu mengulangi (perkataannya) berkali-kali. Beliau (tetap) bersabda, “Janganlah engkau marah!”. [HR al-Bukhoriy: 6116 dan at-Turmudziy: 2020. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, [15]

Besarnya kerusakan marah dan apa-apa yang ditimbulkan olehnya, Bahwasanya tidaklah marah itu datang dengan membawa kebaikan kecuali jika karena Allah.

Tercelanya marah dan jauh dari sebab-sebabnya karena menjaga diri darinya adalah merupakan himpunan kebaikan.

Marah yang tercela adalah marah dalam perkara-perkara dunia, sedangkan marah yang terpuji adalah selama karena Allah dan dalam rangka menolong agamanya. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah marah melainkan apabila kehormatan Allah dilanggar.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh dari sebab rasa marah itu untuk mengambil penyebab yang dapat menolak timbulnya rasa marah dan menenangkannya. Di antaranya adalah,

1)). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk meminta perlindungan dari setan yang terkutuk.

Dari Sulaiman bin Shurad radliyallahu anu berkata, ‘Ada dua orang saling mencela disisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan kami sedang duduk-duduk di sisinya. Salah satunya mencela kawannya dalam keadaaan marah dan telah memerah wajahnya’. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنىِّ لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

”Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suatu kalimat yang jika ia ucapkan akan hilanglah darinya rasa marahnya. Seandainya ia mengucapkan A’uudzu billaah minasy syaithoonir rojiim (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk)”. Lalu mereka berkata kepada orang itu, “Tidakkah engkau mendengar sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam?”. Ia berkata, “Aku bukanlah orang gila”. [HR al-Bukhoriy: 6115, Muslim: 2610, Abu Dawud: 3781, at-Turmudziy: 3452 dan Ahmad: VI/ 394. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih ]. [16]

2)). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk diam.

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ (مرتين)

“Apabila seseorang di antara kalian sedang marah maka hendaklah ia diam. (Beliau mengucapkannya: dua kali)”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 245, Ahmad: I/ 239, 283, 365, Ibnu Adiy dan al-Qudlo’iy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [17]

3)). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk duduk atau berbaring.

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَ هُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ اْلغَضَبُ وَ إِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila seseorang di antara kalian sedang marah sedangkan ia dalam keadaan berdiri maka duduklah. Maka akan hilanglah rasa marah itu, tetapi jika tidak maka berbaringlah”. [HR Abu Dawud: 4782, Ahmad: V/ 152 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Demikian penjelasan singkat dari asy-Syaikh Salim bin Ied hafizhohullah tentang menyikapi timbulnya rasa amarah jika menyerang seorang muslim agar rasa marah itu hilang. Yakni dengan ta’awwudz (berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala), diam dan duduk atau berbaring.

4)). Berdoa dihindarkan dari marah.

Diantara do’a yang beliau Shallallahu alaihi wa sallam baca adalah,

أَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَى

                “Aku memohon kepada-Mu perkataan yang benar pada saat marah dan ridlo”. [HR Ahmad: IV/264, an-Nasa`iy: III/ 54-55, Ibnu Hibban, al-Hakim, Ibnu Abi Syaibah dan Abu Ya’la dari Ammar bin Yasir radliyallahu anhuma]. [19]

Memaafkan kesalahan dan menghilangkan dendam kepadanya

Terkadang banyak dijumpai di kalangan manusia bahkan kaum muslimin, jika marah kepada seseorang karena sesuatu namun ia tidak dapat melampiaskannya kepada orang yang ia murkai maka terbetiklah perasaan dendam kepadanya. Ia menunggu saat-saat yang tepat untuk menumpahkan amarah yang tertunda itu dalam bentuk dendam kesumat, ketika ada peluang maka iapun melampiaskannya dengan penuh nafsu, padahal dendam itu telah dilarang.

Sebagaimana telah diketahui bahwa perilaku dendam itu amat dilarang oleh agama dan tidak disukai oleh setiap manusia. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa ta’ala telah menerangkan tentang sifat kaum mukminin di antaranya adalah suka memaafkan kesalahan orang yang meminta maaf kepadanya. Sebab jika ia memiliki dendam kesumat ia tidak akan mau memaafkan kesalahan saudaranya, kalaupun memaafkan tentulah dengan hati yang terpaksa tiada kerelaan. Jadi syarat masuk surga adalah keimanan, syarat menjadi mukmin di antaranya adalah menjadi pemaaf sedangkan dendam menjadi penghalang pemberian maaf. Maka hati yang sepi dari amarah, sunyi dari dendam, bersih dari hasrat mengancam dan kosong dari kedengkian yang kelam adalah salah satu dari sifat kaum mukminin.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ اْلكَاظِمِينَ اْلغَيْظَ وَ اْلعَافِيىْنَ عَنِ النَّاسِ وَ اللهُ يُحِبُّ اْلـمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [ QS. Alu Imran/ 3: 134 ].

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Yakni disamping menahan keburukan, mereka memaafkan orang yang menzholimi mereka di dalam hati mereka. Tidak dijumpai rasa dendam di dalam hati mereka terhadap seseorangpun. Ini adalah keadaan yang paling sempurna”. [20]

خُذِ اْلعَفْوَ وَ أْمُرْ بِاْلعُرْفِ وَ أَعْرِضْ عَنِ اْلجَاهِلَينَ

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [ QS. Al-A’raf/ 7: 199].

 وَ جَزَآءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَ أَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. [QS. Asy-Syura/42: 40].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat keutamaan memberi maaf kepada saudara-saudara sesama muslim dan mengadakan perdamaian di antara mereka”. [21]

Dari Abu Jariy Jabir bin Sulaim radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَ إِنِ امْرَؤٌ شَتَمَكَ وَ عَيَّرَكَ  بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيْهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ  عَلَيْهِ

 

“Dan jika seseorang mencaci dan menjelek-jelekkanmu dengan apa yang ia ketahui tentangmu, maka janganlah engkau menjelek-jelekkannya dengan apa yang engkau ketahui tentangnya. Maka akibat bencana itu akan menimpanya”. [HR Abu Dawud: 4084 dan Ahmad: IV/ 65, V/ 63, 64, 378. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Allah Azza wa Jalla telah menyuruh setiap muslim untuk selalu membuka pintu hati di dalam memaafkan kesalahan saudaranya. Dan tidak membalas perbuatan buruknya dengan keburukan lagi namun balaslah dengan perbuatan baik. Sebab sebagaimana telah diketahui bahwa tidak ada seorangpun manusia yang luput dari kesalahan. Maka ketika ada kesalahan saudaranya yang ditimpakan kepadanya lalu saudaranya itu memita maaf kepadanya, maka hendaklah ia membuka simpul hatinya yang telah terkekang amarah untuk segera memaafkan kesalahannya. Apalagi sikap mudah dan cepat memaafkan kesalahan orang lain itu adalah salah satu dari beberapa sifat mulia dari golongan orang-orang bertakwa yang telah dijanjikan ampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan surga yang luasnya adalah seluas langit dan bumi.

Keutamaan lain dari sifat pemaaf adalah Allah ta’ala akan menempatkan pelakunya sebagai orang yang paling mulia di sisi-Nya. Namun sikap mudah memaafkan itu hanya dapat dimotivasi oleh hilangnya dendam dan dengki dari hatinya. Mustahil dan sulit bagi seorang muslim untuk memberi maaf terhadap kesalahan orang yang menzholiminya jika hatinya masih diliputi oleh perasaan dendam dan jiwanya dikuasai oleh kedengkian.

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhuma berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam Siapakah orang yang paling utama?. Beliau menjawab, “Setiap makhmum al-qolbi (yang bersih hatinya) lagi pula jujur ucapannya”. Mereka bertanya, “Kami telah mengerti tentang jujur ucapannya maka apakah makhmum al-qolbi itu?”. Beliau menjawab,

هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لاَ إِثْمَ فِيْهِ وَلاَ بَغْيَ وَ لاَغِلَّ وَ لاَ حَسَدَ

“Ia adalah orang yang bertakwa lagi bersih, tiada dosa, perbuatan aniaya, dendam dan tidak pula dengki”. [HR Ibnu Majah: 4216 dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [23]

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwasanya seutama-utama manusia adalah yang jujur dalam berkata lagi bersih hatinya. Lalu beliau menegaskan bahwa orang yang bersih hatinya adalah orang bertakwa lagi bersih tiada dosa, perbuatan zhalim, dendam dan dengki. Maka setiap muslim hendaklah menimbang dengan penjelasan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di atas, apakah ia telah menjadi orang yang paling utama di sisi Allah Azza wa Jalla?. Jika ada di antara mereka yang telah merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling utama lantaran telah meraih kedudukan mulia di sisi manusia sebagai seorang ustadz kondang, kyai langitan, habib mahbub, syaikh mulia dan sebagainya. Tetapi pada kenyataannya ia adalah orang yang menyeru manusia kepada kebatilan dan kesesatan. Sebab ia hanya mengajak umat kepada berbagai perkara syirik dan bid’ah yakni meninggalkan tauhid dan sunnah dengan dasar taklid tiada hujjah. Bahkan ia telah mengotori hatinya dengan berbagai kemaksiatan semisal sifat ujub, sombong, riya dan lainnya, gemar berbuat aniaya dengan menyebarkan kedustaan (fitnah) tentang saingannya tanpa dalil dan fakta, nafsunya telah dibelit dendam membara kepada orang yang menyalahi dan menasihatinya terhadap kekeliruan dalam dakwahnya serta arah dakwahnyapun telah dipasung oleh kedengkian terhadap orang lain yang lebih berhasil diterima oleh kaum muslimin dalam dakwah sebab berdasarkan kepada alqur’an dan sunnah.

Jika demikian, maka pengakuannya sebagai orang yang mulia atau bahkan paling mulia itu adalah dusta lagi palsu, sebab pengakuan itu hanya muncul dari dirinya atau dari para pengikutnya bukan berdasarkan dalil.

Wahai saudara-saudaraku yangs seiman dan searah tujuan, hindarkan diri kalian dari sifat amarah dan dendam karena kedua sifat itu adalah sifat yang tercela yang akan menghilangkan keimanan dari hati kalian, menyengsarakan hidup kalian di dunia dan akhirat. Ma’adzallah.

Semoga bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin khususnya untukku sekeluarga. Wallahu a’lam bish showab.


[2] Fat-h al-Bariy: X/520.

[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2343.

[4] Irwa’ al-Ghalil: 1589 dan Misykah al-Mashobih: 177.

[5] Mukhtashor Shahih Muslim 1368 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1565.

[6] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 997 dan Ghoyah al-Maram: 119.

[7] Shahih Sunan Abi Dawud: 3099, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1196 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1532

[8] Shahih Sunan Ibni Majah: 3375, Shahih Sunan Abi Dawud: 3997, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1645, 2026, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6518, 6522 dan Misykah al-Mashobih: 5088.

[9] Shahih Sunan Ibni Majah: 3377 dan al-Adab: 178.

[10] Shahih Sunan Abi Dawud: 3997, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5375, Misykah al-Mashobih: 5105.

[11] Ada perubahanan, asalnya; di dalam hadits pertama ini.

[12] Fat-h al-Bariy: X/ 520.

[13] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7374 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 2749.

[14] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1644, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7373 dan Misykah al-Mashobihh: 5104

[15] Bahjah an-Nazhirin: I/ 112.

[16] Mukhtashor Shahih Muslim: 1792, Shahih Sunan Abi Dawud: 3999, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2746 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2491

[17] Shahih al-Adab al-Mufrad: 184, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 693 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1375.

[18] Shahih Sunan Abi Dawud: 4000, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 694 dan Misykah al-Mashobih: 5114.

[19] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1237, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1301 dan Shifah Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 184-185 oleh asy-Syaikh al-Albaniy cetakan kedua tahun 1417H/ 1991M cetakan Maktabah al-Ma’arif .

[20] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: I/ 499.

[21] Aysar at-Tafasir: IV/ 618.

[22] Shahih Sunan Abi Dawud: 3442, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 98 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 770.

[23] Shahih Sunan Ibni Majah: 3397 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 948.

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

AKHI, KENAPA ENGKAU BIARKAN SAUDARAMU DALAM KESULITAN ??

JIKA INGIN DITOLONG ALLAH TA’ALA MAKA TOLONGLAH SAUDARAMU.

يسم الله الرحمن الرحيم

tolong2Sudah menjadi harapan dan keinginan setiap manusia, khususnya muslim untuk selalu mendapat pertolongan dan bantuan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Bantuan mendapatkan kesembuhan dan kesehatan dikala seseorang sedang sakit. Bantuan mendapatkan rizki cukup diwaktu ia ditimpa kefakiran dan kemiskinan. Bantuan mendapatkan ilmu dan pengetahuan dikala ia tidak tahu dan dalam kebodohan. Bantuan mendapatkan keamanan dan kenyamanan disaat ia dihinggapi rasa takut dan kekhawatiran, dan lain sebagainya.

Namun mendapat pertolongan dan bantuan dari Allah ta’ala itu tidak sesuai dengan kehendak manusia. Sebab Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menetapkan terwujudnya pertolongan-Nya itu dengan suatu syarat yakni orang tersebut juga selalu bersedia menolong saudaranya. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam dalil hadits berikut,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

 “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. [HR Muslim: 2699, at-Turmudziy: 1930, 1425, 2945, Abu Dawud: 4946, Ibnu Majah: 225 dan Ahmad: II/ 252, 296, 500, 514. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [1]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Pemberian pertolongan seorang hamba terhadap saudaranya itu dapat menyebabkan pertolongan Allah kepada hamba tersebut”. [2]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bi Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Bahwa Allah ta’ala menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Di dalam hadits ini terdapat motivasi untuk menolong saudaranya dari kaum muslimin di dalam segala yang perkara yang mereka butuh pertolongan. Sehingga dalam perkara mendahulukan kedua sandal bagi saudaranya tersebut, mempersilahkannya untuk naik kendaraan dan mendekatkan permadaninya untuknya dan selainnya. Namun motivasi menolong saudaramu yang muslim itu terikat dengan perbuatan baik dan ketakwaaan. Hal ini karena firman Allah ta’ala ((Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. QS al-Maidah/ 5: 2)). [3]

Jadi pertolongan itu Allah ta’ala itu akan diberikan kepada setiap hamba yang ringan tangan mengulurkan bantuan kepada saudaranya yang muslim dalam perkara-perkara yang mengandung kebaikan dan ketakwaan.

Faidah Hadits,

1). Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki sifat menolong, [QS Ghafir/ 40: 51, Rum/ 30: 47 dan selainnya] dan Allah ta’ala adalah Sebaik-baik penolong.

            Hadits di atas menjelaskan salah satu sifat Allah ta’ala adalah Penolong, yakni menolong para hamba-Nya yang berhak dan membutuhkan pertolongannya, baik di dunia, alam barzakh ataupun kelak pada hari kiamat. Ayat-ayat alqur’an banyak memaparkan sifat Allah ta’ala yang mulia ini di dalam beberapa tempat.

      فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ مَوْلَاكُمْ نِعْمَ اْلـمَوْلَى وَ نِعْمَ النَّصِيرُ

Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah adalah Pelindungmu. Dia adalah Sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong. [QS al-Anfal/ 8: 40 dan yang semakna al-Hajj/ 22: 78].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “(Dan Sebaik-baik penolong) yaitu Penolong bagi kalian selama kalian menjadi wali-wali-Nya yang kalian hidup di atas keimanan dan ketakwaan”. [4]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَ يُثَبِّتْ أَقْدَامَكًمْ

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [QS Muhammad/ 47: 7].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah sebagai sesembahannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rosulnya, jika kalian menolong Allah dengan cara menolong agama-Nya, nabi-Nya dan para wali-Nya niscaya Allah akan menolong kalian dan menjadikan kemenangan bagi kalian dan juga akan meneguhkan langkah-langkah kalian di setiap peperangan yang kalian menjumpai kaum musyrikin dan kafirin. Ini adalah janji dari Allah ta’ala yang telah Ia sempurnakan untuk para hamba-Nya yang beriman di dalam sejarah jihad di jalan Allah”. [5]

Yakni jika kalian menolong Allah ta’ala yakni membela dan menegakkan agamanya dengan bentuk melaksanakan berbagai perintah-Nya, meninggalkan berbagai larangan-Nya dan membenarkan berbagai kabar dari-Nya maka Allah Jalla Dzikruhu akan membantu kalian dengan memberi kemenangan dan kejayaan serta akan meneguhkan langkah-langkah kalian. Melaksanakan berbagai perintah-Nya di antaranya adalah menolong saudaranya yang muslim ketika butuh bantuan darinya.

2). Yang berhak mendapatkan pertolongan Allah Jalla wa Ala adalah setiap hamba yang suka menolong saudaranya.

            Yakni siapapun hamba muslim yang memberikan bantuan dan pertolongan kepada saudaranya dalam kebaikan dan ketakwaan berupa bantuan makanan, pakaian, harta, ilmu, tenaga dan pengobatan untuknya. Atau menjaga dan membela kemuliaannya, memberi tausiyah dan semangat baginya, memberi biaya pendidikan bagi anak-anaknya, dan selainnya maka Allah Azza wa Jalla kelak akan membalas kebaikannya dengan bentuk memberi bantuan untuknya pada saat ia sangat membutuhkan bantuan dari-Nya. Atau Allah ta’ala akan membantunya kelak disaat ia butuh pertolongan dari-Nya di alam barzakh dari fitnah dan adzab kubur atau pada hari kiamat dari berbagai kesulitan dan adzab neraka.

Apalagi jika hamba muslim tersebut memiliki sifat dan kebiasaan yaitu berusaha untuk memenuhi segala hajat kebutuhan saudaranya sebaik-baiknya tanpa diminta atau diperingatkan. Maka Allah ta’ala niscaya akan memenuhi segala kebutuhannya di dunia dan kehidupan sesudahnya. Dan janji Allah Azza wa Jalla adalah benar dan pasti akan dipenuhi bagi orang yang berhak mendapatkan janji-Nya.

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      وَ مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ

             “Dan barangsiapa yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah juga akan berusaha memenuhi kebutuhannya”. [HR al-Bukhoriy: 2442, 6951, Muslim: 2580, Abu Dawud: 4893, at-Turmudziy: 1426 dan Ahmad: II/ 91. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berusaha untuk memenuhi keperluan kaum muslimin dan melonggarkan kesedihan mereka merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi penyebab di dalam terpenuhinya kebutuhan hamba tersebut, dilonggarkan kesedihan dan dilenyapkan kedukaannya”.

            Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Yakni, sesungguhnya engkau jika berusaha memenuhi kebutuhan saudaramu dan membantunya di dalam memenuhi kebutuhannya tersebut maka sesungguhnya Allah ta’ala juga akan menolong dan membantumu di dalam kebutuhanmu sebagai suatu pembalasan yang cukup bagimu”. [7]

            Begitu pula, seorang muslim wajib menolong saudaranya ketika saudaranya itu dicela, dihujat, digunjing atau difitnah habis-habisan oleh orang lain. Dengan cara menegur para pencelanya, menghentikan kegiatan buruk tersebut, meluruskan celaan atau gunjing tersebut semampunya, mengajak untuk tabayyun kepada saudaranya yang dicela atau digunjing tersebut dan selainnya. Maka dari sebab sikap baik tersebut, kelak Allah ta’ala akan membela dan menolongnya di waktu dan tempat ia membutuhkan pertolongan-Nya.

            Dari Jabir dan Abu Thalhah radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنِ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَءًا مُسْلِمًا فىِ مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ وَ يُنْتَهَكُ فِيْهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلاَّ خَذَلَهُ اللهُ تعالى فىِ مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيْهِ نُصْرَتَهُ وَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فىِ مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ وَ يُنْتَهَكُ فِيْهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلاَّ نَصَرَهُ اللهُ فىِ مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيْهِ نُصْرَتَهُ

 “Tidaklah seseorang membiarkan seorang muslim di suatu tempat yang padanya dicela kemuliaannya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah ta’ala akan membiarkannya di suatu tempat yang ia menyukai pertolongan-Nya.  Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim di suatu tempat yang padanya dicela kemuliaannya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menolongnya di suatu tempat yang ia menyukai pertolongan-Nya”. [HR Abu Dawud: 4884. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [8]

Di dalam riwayat yang lain, dari Ibnu Ummi Abdi (yaitu Ibnu Mas’ud) berkata,

      مَنِ اغْتُيِبَ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَنَصَرَهُ جَزَاهُ اللهُ بِهَا خَيْرًا فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ مَنِ اغْتُيِبَ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَلَمْ يَنْصُرْهُ جَزَاهُ اللهُ فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ شَرًّا

 “Barangsiapa yang di sisinya dighibah seorang mukmin lalu ia menolongnya maka Allah akan memberikan balasan kebaikan untuknya didunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang di sisinya dighibah seorang mukmin, lalu ia tidak menolongnya maka Allah akan memberikan balasan keburukan untuknya di dunia dan akhirat”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 734. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih isnadnya]. [9]

Dari Anasradliyalllahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,  

مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ اْلغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ

 “Barangsiapa menolong saudaranya yang sedang ghaib (tidak berada di tempat) maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat”. [HR al-Baihaqiy: 7637, ad-Dainuriy dan adl-Dliya’ al-Muqaddisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [10]

3). Anjuran untuk senantiasa memberi pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan dari kaum fakir, miskin, anak yatim dan selainnya.

            Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an dan hadits-hadits shahih telah banyak menganjurkan umat Islam untuk selalu memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Yakni kepada anak yatim, orang fakir dan miskin, para tawanan, para janda, orang-orang yang bepergian dan kehabisan bekal dan selainnya. Bahkan juga diperintahkan berbuat baik kepada binatang semisal kucing, anjing, ternak dan semua makhluk hidup yang memiliki hati.

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwasanya ada seseorang pernah mengadukan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam akan kekerasan hatinya. Maka Beliau bersabda kepadanya,

      إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِيْنَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمِ اْلمـِسْكِيْنَ وَ امْسَحْ رَأْسَ اْليَتِيْمِ

            “Jika kamu ingin melembutkan hatimu maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim”. [HR Ahmad: II/ 263, 387 dan ath-Thabraniy di dalam Mukhtashor Makarim al-Akhlaq. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [11]

            Dari Muhammad bin Wasi’ al-Azdiy bahwasanya Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu pernah menulis surat kepada Salman al-Farisiy radliyallahu anhu, “Wahai saudaraku mendekatlah kepada anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rosululluh Shallallahu bersabda ketika ada seseorang mengadu kepada Beliau akan kekerasan hatinya. Lalu beliau bersabda,

      أَدْنِ اْليَتِيْمَ وَ امْسَحْ رَأْسَهُ وَ أَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ  قَلْبُكَ وَ تُقْدَرْ عَلَى حَاجَتِكَ

            “Mendekatlah kepada anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu niscaya hatimu akan lembut dan terpenuhi segala kebutuhanmu”. [HR al-Khara’ithiy di dalam Makarim al-Akhlaq dan Ibnu Asakir di dalam Tarikh Dimasyq. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [12]

            Dalil hadits di atas menerangkan faidah bahwa memberi makan orang miskin dan memperhatikan kebutuhan anak yatim dengan mengusap kepalanya, berlemah lembut kepada mereka, mencukupi makan dan pakaiannya serta menanggung pendidikannya akan menyebabkan kelembutan hati bagi pelakunya dan dipenuhi segala kebutuhannya.

Bahkan jika ada seorang muslim yang menanggung dan menjamin kehidupan anak yatim dari memberi makan, pakaian, pendidikan dan selainnya maka kelak ia berada di dalam surga dan tinggal berdampingan dengan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalamnya. Beliau mengangkat tangannya lalu mengangkat dan berisyarat dengan jari telunjuk dan tengahnya serta memisahkan keduanya.

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ

                “Pemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia (kedudukannya) seperti dua jari ini di surga nanti.” Dan perawi, yaitu Malik bin Anas berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya”. [HR Muslim: 2983 dan Ahmad: II/ 375. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah berkata, “Makna (لَهُأوْلِغَيْرِهِ) adalah kerabatnya ataupun ajnabi (orang lain). Sedangkan (yang termasuk) kerabat di sini, ialah ibu sang anak yatim, kakeknya, saudara laki-lakinya ataupun pihak-pihak selain mereka yang memiliki kekerabatan dengannya. Wallahu a’lam.” [14]

Dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أنا وَ كَافِلُ اليَتِيْمِ في الجَنَّةِ هكَذَا

“Aku dan pemelihara anak yatim di surga nanti, kedudukannya seperti (dua jari) ini”. Dan Beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan memisahkan keduanya”. [HR al-Bukhoriy: 5304, 6005, di dalam al-Adab al-Mufrad: 133, 135, Abu Dawud: 5150, at-Turmudziy: 1918 dan Ahmad: V/ 333. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah berkata, “Terdapat dorongan di dalam memelihara anak yatim dan menjaga harta mereka. Yang demikian itu akan menyebabkan masuk ke dalam surga dan menemani para Nabi, para siddiqin, para syuhada dan kaum shalihin. Dan mereka itu adalah sebaik-baik teman (yang menyertai)”. [16]

            Dari Hudzaifah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

        مَنْ خُتِمَ لَهُ بِإِطْعَامِ مِسْكِيْنٍ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ خُتِمَ لَهُ بِصَوْمِ يَوْمٍ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ خُتِمَ لَهُ بِقَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ

            “Barangsiapa yang diakhiri (hidupnya) dengan memberi makan kepada orang miskin dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang diakhiri (hidupnya) dengan berpuasa satu hari dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang diakhiri hidupnya dengan ucapan ‘Laa ilaaha illallah’ dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga”. [HR Abu Nu’aim dan Ahmad: V/ 391. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits iini isnadnya shahih]. [17]

            Begitu pula Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan umatnya untuk memberi makan kepada orang yang kelaparan dan setiap orang yang membutuhkan makanan. Dan Beliau menetapkan bahwa siapapun di antara umatnya ada yang bermalam dalam keadaan kenyang sedangkan ia tahu tetangganya dalam keadaan kelaparan maka ia bukanlah seorang mukmin.

            Dari Abu Musa al-Asy’ariy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            فُكُّوا اْلعَانِيَ –يعنى اْلأَسِيْرَ- وَ أَطْعِمُوا اْلجَائِعَ وَ عُودُوا اْلـمَرِيْضَ 

            “Bebaskan budak, berikan makan kepada orang yang lapar dan jenguklah orang yang sakit”. [HR al-Bukhoriy: 3046, 5373, 5649. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Dari Hani bin Yazid radliyallahu anhu, bahwasanya ketika ia menjadi utusan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia bertanya, “Wahai Rosulullah, sesuatu apakah yang dapat menetapkan ke dalam surga?”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

        عَلَيْكَ بِحُسْنِ اْلكَلَامِ وَ بَذْلِ الطَّعَامِ

            “Wajib atasmu untuk baik dalam perkataan dan mendermakan makanan”. [HR Ibnu Abi ad-Dunya, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 811 dan al-Hakim: 69. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

            Dari Shuhaib (bin Sinan) radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      خِيَارُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَ رَدَّ السَّلَامَ

            “Sebaik-baik kalian adalah yang suka memberi makan dan membalas ucapan salam”. [HR Ahmad: VI/ 16 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [20]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, ‘Saya mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ

“Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga (yang di sebelah)nya kelaparan”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 112, al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا آمَنَ بِى مَنْ بَاتَ شَبْعَانٌ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ

“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang padahal tetangganya yang di sampingnya dalam keadaan lapar sedangkan ia mengetahuinya. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Islam telah menjelaskan dengan gamblang akan kewajiban setiap umatnya. Di antaranya bahwa amal yang paling utama yang mesti dilakukan oleh setiap muslim adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati saudaranya yang mukmin. Berupa membayarkan hutangnya jika saudaranya itu tidak mampu untuk melunasinya, memberinya makanan meskipun hanya sepotong roti yang mengenyangkannya, memberikan pakaian untuk menutup auratnya dan menjaga tubuhnya dari hawa dingin, hembusan angin ataupun teriknya panas, memenuhi segala kebutuhannya dengan batas kemampuannya, mengurangi atau menghilangkan segala kesulitan yang menghimpitnya dan lain sebagainya.

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      أَفْضَلُ اْلأَعْمَالِ أَنْ تُدْخِلَ عَلَى أَخِيْكَ اْلمـُؤْمِنِ سُرُوْرًا أَوْ تَقْضِيَ عَنْهُ دَيْنًا أَوْ تُطْعِمَهُ خُبْزًا

            “Seutama-utama amal adalah engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudaramu yang mukmin, engkau membayarkan hutangnya atau engkau memberinya makan roti”. [HR Ibnu Abi ad-Dunya di dalam Qodlo’ al-Hawa’ij dan ad-Dailamiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].  [23]

            Di dalam satu riwayat dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, “Seutama-utama amal adalah engkau memasukkan kebahagiaan kepada seorang mukmin, mengenyangkan rasa laparnya, memberi pakaian untuk auratnya dan memenuhi kebutuhannya”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath]. [24]

            Dari Ibnu al-Munkadir radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      مِنْ أَفْضَلِ اْلعَمَلِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى اْلمـُؤْمِنِ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا تَقْضِي لَهُ حَاجَةً تُنَفِّسُ لَهُ كُرْبَةً

            “Sebahagian dari seutama-utama amal adalah memasukkan kebahagiaan kepada seorang mukmin, membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan melonggarkan satu kesusahan darinya”. [HR al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

            Oleh sebab itu amalan yang bersifat membantu atau menolong saudaranya yang membutuhkan pertolongan semisal para janda dan kaum miskin diserupakan dengan berjihad di jalan Allah ta’ala, orang yang qiyamul lail tanpa henti atau seperti orang yang sedang berpuasa tanpa berbuka.

            Janda tersebut apakah karena ditinggal mati oleh suaminya lantaran sakit, kecelakaan, syahid dalam peperangan dan sebagainya. Atau janda karena ditinggal suaminya tanpa sebab atau janda diceraikan suaminya tanpa alasan yang syar’iy ataupun tidak, maka ia berhak mendapatkan pertolongan seukuran dengan kebutuhannya.

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَ اْلمـِسْكِيْنِ كَالمـُجَاهِدِ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَ كَاْلقَائِمِ لَا يَفْتُرُ وَ كَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ

            “Orang yang berusaha menanggung para janda dan orang miskin itu sama seperti orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang qiyam (menegakkan sholat) malam tanpa istirahat dan seperti orang yang berpuasa tanpa berbuka”. [HR Muslim: 2982, al-Bukhoriy: 5353, 6006, 6007, di dalam al-Adab al-Mufrad: 131, at-Turmudziy: 1969, Ibnu Majah: 2140 dan Ahmad: II/ 361. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berusaha untuk menanggung para janda dan anak yatim, menafkahi mereka dan tegak di dalam membantu urusan-urusan mereka merupakan bentuk jihad di jalan Allah”. [27]

4). Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ini merupakan petunjuk bagi umatnya untuk selalu bersikap baik dan perhatian kepada saudara-saudaranya dalam berbagai hal.

            Sebab petunjuk dan bimbingan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk, membawa kepada berbagai kebaikan dan kebenaran, menghindarkan dari berbagai keburukan dan kebatilan dan menuntun kepada jalan yang lurus serta surga yang penuh dengan kenikmatan.

Islam adalah agama yang sangat sempurna yang tidak lagi butuh kepada kesempurnaan, sebab tidak ada sesuatu yang dapat membawa dan mendekatkan pemeluknya kepada surga atau menjauhkan dan menghindarkan pemeluknya dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada mereka.

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kita (wafat), dan tiada seekor burung yang (terbang) membolak-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menyebutkannya kepada kami sebagai suatu ilmu darinya. Berkata (Abu Dzarr), Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ اْلجَنَّةِ وَ يُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

 “Tidaklah tinggal sesuatupun yang dapat mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka, melainkan sungguh-sungguh telah dijelaskan kepada kalian”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir dan Ahmad: V/ 153, 162 tanpa kalimat kedua. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini sanadnya shahih]. [28]

Dari Salman al-Farisiy radliyallahu anhu berkata, ‘Pernah ditanyakan kepadanya,

قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صلى الله عليه و سلم كُلَّ شَيْءٍ حَتىَّ اْلخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ: أَجَلْ

 “Sesungguhnya Nabi kalian Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar”. Ia berkata, maka Salman radliyallahu anhu menjawab, ”Ya, benar”. [HR Muslim: 262, at-Turmudziy: 16, Abu Dawud: 7 dan Ibnu Majah: 316. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [29]

Meskipun pertanyaan kaum musyrikin kepada Salman al-Farisiy radliyallahu anhu itu bersifat ejekan dan cemoohan, namun para shahabat, khususnya Salman membenarkannya bahwasanya Nabi mereka Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan segala sesuatu kepada mereka. Berupa akidah, ibadah, muamalah, akhlak dan lain sebagainya bahkan sampai adab buang air besar sebagai bentuk kesempurnaan, keagungan dan kemuliaan Islam yang membimbing dan menuntun para pemeluknya kepada kelayakan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat kelak. Namun anehnya, banyak di antara kaum muslimin sendiri yang tidak tahu atau mungkin pura-pura tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu bahwa Islam agama mereka itu adalah agama yang sangat lengkap dan sempurna yang paling pantas untuk dijadikan pedoman hidup di dunia dan bimbingan menuju akhirat.

Maka sudah sepantasnya kita sebagai umat Islam yaitu umatnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam untuk selalu membantu saudara-saudara kita ketika ditimpa dan diterpa berbagai kesulitan, kesengsaraan, kedukaan, cobaan dan sejenisnya yang menimpa mereka seukuran dengan kemampuan dan kesanggupan kita masing-masing.

5). Alqur’an yang mulia telah menetapkan bagi setiap muslim untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

      وَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلبِرِّ وَ التَّقْوَى

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. [QS al-Maidah/ 5: 2].

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Allah ta’ala telah memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk saling tolong menolong melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran yaitu ketakwaan. Dan juga telah melarang mereka dari bantu membantu dalam kebatilan dan saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan”. [30]

Jadi tolong menolong itu hanya dalam perbuatan baik dan ketakwaan. Perbuatan baik itu setiap amalan yang disukai dan diridloi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan diperintahkan atau dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka siapapun di antara muslim ada yang butuh bantuan, maka hendaknya saudaranya segera membantunya tanpa menundanya, menolongnya tanpa pamrih kepadanya dan membantunya tanpa perhitungan kepadanya.

6). Jika ingin selalu mendapatkan pertolongan Allah ta’ala maka biasakanlah menolong orang lain dalam kebaikan dan dengan penuh keikhlasan.

وَ يُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَّ يَتِيمًا وَّ أَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَّ لَا شُكُورًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridloan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. [QS al-Insan/ 76: 8-9].

                Mereka memberi makan kepada orang-orang yang membutuhkan dari orang miskin, anak yatim dan tawanan. Makanan tersebut adalah makanan yang masih mereka sukai bukan makanan yang sudah basi atau tidak layak untuk dimakan dan dikonsumsi. Adapun tujuan mereka adalah untuk meraih dan mendapatkan keridloan Allah ta’ala semata, bukan untuk mengharap balasan dari orang yang mereka beri makan dan bukan pula ucapan terima kasih.

 7). Allah Azza wa Jalla pasti akan menunaikan janji-Nya karena Dia tidak pernah ingkar janji. [QS Rum/ 30: 6, az-Zumar/ 39: 20 dan selainnya].

            Jika seorang hamba muslim sudah menunaikan kewajibannya dengan membantu saudaranya yang muslim dengan penuh kesungguhan dan seukuran kemampuannya maka Allah ta’ala akan memenuhi janjinya dengan bersiap-siap untuk membantu hamba-Nya tersebut dikala membutuhkan bantuan-Nya. Dan ingatlah Allah ta’ala tidak pernah ingkar janji.

Semoga bermanfaat bagiku, keluargaku, para shahabatku dan kaum muslimin seluruhnya. Wallahu a’lam bish showab.

 


[1] Mukhtashor Shahih Muslim: 1888, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1151, 1574, 2348, Shahih Sunan Abi Dawud: 4137, Shahih Sunan Ibni Majah: 184, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6577 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 67, 899.

[2] Bahjah an-Nazhirin: I/ 333.

[3] Syar-h al-Arba’in an-Nawawiyah halaman 391.

[4] Aysar at-Tafasir: III/ 502.

[5] Aysar at-Tafasir: V/ 74.

[6] Mukhtashor Shahih Muslim: 1830, Shahih Sunan Abu Dawud: 4091, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1152, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 504, Irwa’ al-Ghalil: 2450 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6707.

[7] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 99.

[8]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5690 dan Misykah al-Mashobih: 4983.

[9]Shahih al-Adab al-Mufrad: 563.

[10]Shahiih al-Jami’ ash-Shaghir: 6547 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1217.

[11] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 854 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1410.

[12] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: II/ 535 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 250.

[13] Mukhtashor Shahih Muslim: 1766, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 962 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4448.

[14]Bahjatun Nazhirin: I/ 350.

[15] Shahih al-Adab al-Mufrad: 100, 101, Shahih Sunan Abu Dawud: 4289, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1564, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 800 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1475.

[16]Bahjatun Nazhirin: I/ 350.

[17] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1645.

[18] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4229.

[19] Shahih al-Adab al-Mufrad: 623, Irwa’ al-Ghalil: 2615, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1939 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4049.

[20] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3318 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 948.

[21] Shahih al-Adab al-Mufrad: 82, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 149, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5382 dan Misykah al-Mashobih: 4991.

[22] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 230 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5505.

[23] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1096 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1494.

[24] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1096 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: III/ 482.

[25] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5897 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2291.

[26] Mukhtashor Shahih Muslim: 1767, Shahih al-Adab al-Mufrad: 98, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1604, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1740, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2881, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3680 dan Misykah al-Mashobih: 4951.

[27] Bahjah an-Nazhirin: I/ 351.

[28] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1803.

[29] Mukhtashor Shahih Muslim: 116, Shahih Sunan at-Turmudziy: 15, Shahih Sunan Abi Dawud: 5 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 255.

[30] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: II/ 10 dan Bahjah an-Nazhirin: I/ 261.

SAUDARAKU, JANGAN ENGKAU AKHIRI HIDUPMU DENGAN SIA-SIA !!!

HUKUM BUNUH DIRI

بسم الله الرحمن الرحيم

INTIHAR1Fenomena bunuh diri, belakangan ini banyak terjadi di dunia, tidak terkecuali di negeri kita. Dengan berbagai sebab dan dengan berbagai alat seseorang mengakhiri hidupnya. Bahkan dengan mengajak orang-orang lain untuk mati bersamanya. Diantara penyebabnya biasanya alasan ekonomi, asmara, terkena fitnah, takut terjadinya hari kiamat dan sebagainya. Sering kita lihat di dalam pemberitaan, seorang ibu membunuh dirinya sendiri setelah ia membunuh beberapa buah hatinya karena alasan ekonomi yang menghimpit dengan meminum racun serangga. Begitu juga dijumpai seorang pemuda atau pemudi menggantung dirinya atau menabrakkan dirinya kepada kendaraan yang sedang melaju kencang dengan dalih asmara yaitu pacarnya meninggalkan dirinya. Dijumpai juga pebisnis yang menjatuhkan dirinya dari apartemen atau menembakkan dirinya dengan senjata api, karena terlilit hutang atau karirnya sudah tamat. Atau juga dijumpai bunuh diri masal, karena takut menghadapi datangnya hari kiamat. Dan lain sebagainya.

Perbuatan bunuh diri dengan sebab apapun, dengan cara dan alat apapun itu termasuk dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka dan diharamkan baginya masuk ke dalam surga. Ia akan diadzab di dalamnya dengan sesuatu atau cara yang ia membunuh diri dengannya di dunia. Ma’adzallah.

Hal ini sebagaimana telah disebutkan akan terjadi perbuatan tersebut dan ancaman bagi para pelakunya di dalam ayat dan beberapa hadits shahih berikut ini,

وَ لاَ تَقْتُلُوْآ اَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. [QS. An-Nisa’/4: 29]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat ancaman yang keras bagi orang yang membunuh dirinya karena perbuatan melampaui batas dan aniaya dengan masuk ke dalam neraka”. [1]

Para shahabat memahami maksud dari ayat tersebut adalah bunuh diri, sebagaimana diriwayatkan dari Amr bin al-Ash radliyallahu anhu,

عن عمرو بن العاص قَالَ: احْتَلَمْتُ فىِ لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فىِ غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابىِ الصُّبْحَ فَذَكَرُوْا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا عَمْرُو صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِكَ وَ أَنْتَ جُنُبٌ؟ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنيِ مِنَ اْلاِغْتِسَالِ وَ قُلْتُ: إِنيِّ سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ: ((وَ لَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا)) فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا

Dari Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, ”Aku pernah bermimpi di suatu malam yang sangat dingin pada waktu perang Dzat as-Salasil. Aku khawatir jika aku mandi maka aku akan binasa. Lalu aku tayammum kemudian sholat shubuh bersama para shahabatku”. Lalu mereka menceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda, ”Wahai Amr, engkau sholat bersama para shahabatmu sedangkan engkau dalam keadaan junub?”. Lalu aku khabarkan kepada Beliau penyebab yang mencegahku dari mandi. Dan aku berkata, ”Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman, ((dan janganlah kalian membunuh diri kalian sesungguhnya Allah amat penyayang kepada kalian. QS. An-Nisa’/4: 29))”. Maka tertawalah Rosulullah Shallallahua alaihi wa sallam dan tidak berkata sesuatu apapun. [HR Abu Dawud: 334, Ahmad: IV/ 203-204, al-Hakim: 648 dan al-Bukhoriy secara ta’liq di dalam Fat-h al-Bariy: I/ 454. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, ”Di dalam hadits ini diperbolehkan tayammum bagi orang yang khawatir jatuh ke dalam kebinasaan dari sebab menggunakan air, sama saja karena cuaca dingin atau selainnya”. [3]

عن أبى هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيْهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا وَ مَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فىِ يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا  مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا وَ مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيْدَةٍ فَحَدِيْدَتُهُ فىِ يَدِهِ يُجَأُ بِهَا فىِ بَطْنِهِ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menjatuhkan dirinya dari sebuah bukit lalu bunuh diri maka ia akan menjatuhkan (dirinya) di dalam neraka Jahannam dalam keadaaan kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa yang menenggak racun lalu bunuh diri maka racun itu berada pada tangannya yang ia akan meneguknya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sebilah besi maka besinya itu ada di tangannya yang akan ditikamkan ke perutnya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya”. [HR al-Bukhoriy: 5778, Muslim: 109, an-Nasa’iy: IV/ 66-67, at-Turmudziy: 2043, Ibnu Majah: 3460, 2044, Abu Dawud: 3872, Ahmad: II/ 254, 478, 488-489 dan ad-Darimiy: II/ 192. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [4]

عَنْ أَبىِ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: الَّذِى يَخْنِقُ نَفْسَهُ يَخْنِقُهَا فىِ النَّارِ وَ الَّذِى يَطْعَنُهَا يَطْعَنُهَا فىِ النَّارِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mencekik dirinya maka ia akan mencekik dirinya di dalam neraka dan orang yang menikam dirinya maka ia akan menikam dirinya di dalam neraka”. [HR al-Bukhoriy: 1365. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [5]

عن ثابت بن الضحاك عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ

Dari Tsabit bin adl-Dlohak radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu maka ia akan diadzab dengannya di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhoriy: 1363, 6047, 6105, 6652, Muslim: 110, at-Turmudziy: 2636. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

عن جندب بن عبد الله قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: كَانَ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّيْنًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتىَّ مَاتَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ: بَادَرَنىِ عَبْدِى بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ اْلجَنَّةَ

Dari Jundub bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Pernah ada seseorang sebelum kalian yang terluka, lalu ia berputus asa kemudian mengambil sebilah pisau dan memotong (urat nadi) tangannya. Lalu darahnya tidak berhenti (menetes) sehingga ia mati. Lalu Allah ta’ala berfirman, “Hambaku telah mendahuluiku akan dirinya, maka Aku haramkan surga baginya”. [HR al-Bukhoriy: 1364, 3463 dan Muslim: 113. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: شَهِدْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم حُنَيْنًا فَقَالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يُدْعَى بِاْلاِسْلاَمِ هذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلَمَّا حَضَرْنَا اْلقِتَالَ قَاتَلَ الرَّجُلُ قِتَالاً شَدِيْدًا فَاَصَابَتْهُ جِرَاحَةٌ. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ الرَّجُلُ الَّذِى قُلْتَ لَهُ آنِفًا: إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَإِنَّهُ قَاتَلَ اْليَوْمَ قِتَالاً شَدِيْدًا وَ قَدْ مَاتَ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: إِلَى النَّارِ فَكَادَ بَعْضُ اْلمـُسْلِمِيْنَ أَنْ يَرْتَابَ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى ذلِكَ إِذْ قِيْلَ إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلكِنَّ بِهِ جِرَاحًا شَدِيْدًا. فَلَمَّا كَانَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى اْلجِرَاحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم بِذلِكَ، فَقَالَ: اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنّى عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ. ثُمَّ أَمَرَ بِلاَلاً فَنَادَى فِى النَّاسِ: إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَ إِنَّ اللهَ يُؤَيّدُ هذَا الدّيْنَ بِالرَّجُلِ اْلفَاجِرِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Saya pernah ikut bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam perang Hunain. Beliau bersabda terhadap seseorang yang diketahui keislamannya, “Orang ini termasuk ahli neraka”. Ketika kami telah memasuki peperangan, orang itu berperang dengan garang, lalu dia terluka. Ada yang melaporkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang yang engkau katakan sebagai ahli neraka tadi, ternyata pada hari ini berperang dengan garang dan sekarang sudah meninggal”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dia ke neraka !”. Sebagian kaum muslimin hampir-hampir merasa ragu. Pada saat demikian itu, datang seseorang melapor, “Ternyata dia belum mati, tetapi mengalami luka parah !”. Pada malam harinya, orang itu tidak sabar dengan lukanya, lalu dia bunuh diri. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam diberitahu yang demikian itu, maka beliau bersabda, “Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Kemudian beliau memerintah Bilal supaya menyeru pada orang banyak, lalu Bilal melaksanakannya, “Sesungguhnya tidak akan masuk surga, kecuali jiwa (diri) yang muslim. Dan sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan orang yang jahat”. [HR. Muslim: 111. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدِ السَّاعِدِيّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم اْلتَقَى هُوَ وَ اْلمـُشْرِكُوْنَ فَاقْتَتَلُوْا. فَلَمَّا مَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص إِلَى عَسْكَرِهِ وَ مَالَ اْلآخَرُوْنَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ وَ فِى أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ ص رَجُلٌ لاَ يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً إِلاَّ اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ فَقَالُوْا: مَا أَجْزَأَ مِنَّا اْليَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَمَا اِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلقَوْمِ: أَنَا صَاحِبُهُ أَبَدًا قَالَ فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ وَ إِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ قَالَ فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيْدًا. فَاسْتَعْجَلَ اْلمـَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِاْلأَرْضِ وَ ذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ: وَ مَا ذَاكَ؟ قَالَ: الرَّجُلُ الَّذى ذَكَرْتَ آنِفًا اَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذلِكَ فَقُلْتُ: أَنَا لَكُمْ بِهِ فَخَرَجْتُ فِى طَلَبِهِ حَتَّى جُرِحَ جُرْحًا شَدِيْدًا فَاسْتَعْجَلَ اْلمـَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِاْلأَرْضِ وَ ذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عِنْدَ ذلِكَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ اْلجَنَّةِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَ هُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَ هُوَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ

Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idiy, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertemu dengan orang-orang musyrik dan terjadilah peperangan. Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kembali kepada pasukannya dan yang lain pun kembali kepada pasukan mereka, dan diantara pengikut Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ada seorang yang tidak membiarkan musuh yang lari menyendiri tanpa mengejarnya dan memukulnya dengan pedang, orang-orang berkata, “Pada hari ini, tak seorang pun diantara kita yang bertempur sehebat si Fulan”. Mendengar hal itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ingat-ingatlah, dia termasuk ahli neraka”. Seseorang diantara kaum muslimin berkata, “Aku akan selalu menyertainya”. (Rawi berkata), “Lalu orang itupun keluar bersamanya (orang yang disabdakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai ahli neraka). Kemanapun dia pergi, orang itu selalu menyertainya, setiap kali orang itu berhenti iapun ikut berhenti. Dan setiap kali orang itu berlari diapun ikut berlari bersamanya. Lalu dia terluka parah. Kemudian dia ingin mempercepat kematian dengan meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedangnya berada diantara dua susunya, lalu dia menekankan badannya pada pedang, sehingga dia mati bunuh diri”. Orang yang selalu menyertai itu datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau memang utusan Allah”. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Ada apa ini ?”. Orang itu menjawab, “Orang yang engkau sabdakan sebagai ahli neraka tadi dimana orang-orang menganggap hal itu penting, maka aku berkata, “Aku menyediakan diri untuk menyertainya”. Lalu aku keluar mencarinya, sehingga ketika dia terluka parah, dia berusaha mempercepat kematian dengan meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedang berada diantar dua susunya, kemudian dia menekankan badannya sehingga mati bunuh diri”. Pada saat itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada orang yang orang banyak memandangnya beramal dengan amal ahli surga, padahal sebenarnya dia termasuk ahli neraka. Dan ada orang yang orang banyak memandangnya beramal dengan amal ahli neraka, padahal dia termasuk ahli surga”. [HR Muslim: 112. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو الدَّوْسِيَّ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ لَكَ فِى حِصْنٍ حَصِيْنٍ وَ مَنْعَةٍ؟ (قَالَ حِصْنٌ كَانَ لِدَوْسٍ فِى اْلجَاهِلِيَّةِ) فَأَبَى ذلِكَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم لِلَّذِى ذَخَرَ اللهُ لِـْلأَنْصَارِ فَلَمَّا هَاجَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم إِلَى اْلمـَدِيْنَةِ هَاجَرَ إِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَ هَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَاجْتَوَوُا اْلمـَدِيْنَةَ فَمَرِضَ فَجَزِعَ فَأَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ فَشَخَبَتْ يَدَاهُ حَتَّى مَاتَ فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فِى مَنَامِهِ فَرَآهُ وَ هَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ وَ رَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ فَقَالَ لَهُ: مَا صَنَعَ بِكَ رَبُّكَ؟ فَقَالَ غَفَرَلِى بِهِجْرَتِى إِلَى نَبِيّهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: مَا لِى أَرَاكَ مُغَطّيًا يَدَيْكَ؟ قَالَ قِيْلَ لِى لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم اَللّهُمَّ وَ لِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ

Dari Jabir, bahwa Ath-Thufail bin Amr Ad-Dausiy datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau mau berada dalam benteng yang kokoh dan kuat ?”. (Benteng itu milik keluarga Daus di zaman Jahiliyah). Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menolak untuk itu, karena sudah ada yang disimpankan Allah pada golongan Anshar. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, Ath-Thufail bin Amr juga hijrah ke sana disertai seseorang dari kaumnya. Ternyata mereka tidak kerasan tinggal di Madinah. Kemudian orang yang menyertai Ath-Thufail bin Amr tersebut sakit. Dia tidak sabar dengan sakitnya, maka diambilnya anak panah bermata lebar miliknya. Dengan itu dia potong ruas-ruas jarinya, sehingga kedua tangannya mengalirkan darah dengan deras, sehingga mati. Suatu hari Ath-Thufail bin Amr memimpikan orang itu. Dalam mimpinya Ath-Thufail melihat orang tersebut dalam keadaan baik, tetapi dia menutupi kedua tangannya. Lalu Ath-Thufail bertanya,“Apa tindakan Rabbmu terhadapmu?”. Orang itu menjawab, “Dia mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam”. Ath-Thufail bertanya lagi, “Kenapa aku lihat engkau menutupi kedua tanganmu?”. Orang itu menjawab, “Dikatakan kepadaku, “Kami tidak akan memperbaiki dirimu apa yang telah engkau rusak”. Kemudian Ath-Thufail menceritakan mimpinya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau berdoa, “Ya Allah, untuk kedua tangannya, maka ampunilah dia”. [HR Muslim: 116 dan Ahmad: III/ 370].

Al-Imam adz-Dzahabiy rahimahullah memasukkan perbuatan bunuh diri ini ke dalam dosa besar (kaba’ir) yang ke 29. [10]

Setiap orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, pada hari kiamat ia akan diadzab di dalam neraka Jahannam dengan siksaan yang sesuai dengan perbuatannya di dunia. Jika ia mengakhiri hidupnya dengan cara menikamkan pedang ke jantungnya, memotong urat nadinya dengan pisau tajam, menggorok lehernya dengan golok atau menembakkan senjata api ke kepalanya maka ia akan disiksa di dalam neraka Jahannam dengan senjatanya pada hari kiamat dalam keadaan kekal lagi dikekalkan. Bila ia meneguk racun serangga, menghirup asap beracun atau memakan makanan yang mengandung racun dengan tujuan bunuh diri maka pada hari kiamat ia akan diadzab dengan meneguk atau menghirupnya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan. Apabila ia menggantung diri, menabrakkan diri ke kendaraan yang melaju kencang atau menjerat lehernya dengan sesuatu maka ia akan diadzab pada hari kiamat dengan cara seperti itu pula pada hari kiamat. Dan jika ia menjatuhkan diri dari bukit, gedung tinggi semisal apartemen, mall, tower dan selainnya maka ia akan senantiasa menjatuhkan dirinya dari tempat yang tinggi pada hari kiamat di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan. Dan akhirnya ia tidak masuk surga lantaran perbuatannya tersebut. Ma’adzallah.

Orang yang merusak salah satu anggota tubuhnya untuk tujuan membunuh dirinya, maka jika kelak ia akhirnya masuk surga karena keimanan dan tauhidnya serta lantaran rahmat Allah Azza wa Jalla, maka ia akan masuk surga dalam keadaan luka tersebut masih membekas padanya dan tidak akan diperbaiki oleh Allah ta’ala.

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah ketika mengomentari hadits dari Jubair tentang kisah ath-Thufail bin Amr Ad-Dausiy, “Perkataan ((“Kami tidak akan memperbaiki dirimu apa yang telah engkau rusak”)), di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa orang yang telah merusak salah satu anggota tubuhnya dari beberapa anggota tubuhnya maka anggota tubuh (yang dirusak tersebut) tidak akan menjadi baik pada hari kiamat bahkan akan tetap di atas keadaan tersebut sebagai bentuk hukuman atasnya”. [11]

Begitupun perbuatan sebahagian orang yang karena kurang paham akan agama yang shahih sehingga mau melakukan perbuatan bunuh diri untuk menghancurkan musuh. Sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Dari sebab itu ada sebahagian orang yang melakukan perbuatan bunuh diri, yakni ada orang yang memasang bom yang diikatkan pada perut (atau tubuh)nya, lalu ia bergegas pergi ke kelompok musuh dan meledakkannya. Maka jadilah ia orang yang pertama-tama mati terbunuh. Ini adalah suatu gambaran orang yang membunuh dirinya dan ia akan diadzab dengan sesuatu yang ia membunuh dirinya kelak di dalam neraka Jahannam. Al-Iyadzu billah, dan mereka inilah yang suka menyatakan diri mereka sebagai para pejuang, namun mereka membunuh diri mereka sendiri. Maka kelak mereka akan diadzab di dalam neraka Jahannam dengan apa yang mereka telah membunuh diri mereka sendiri. Dan mereka itu bukan orang yang mati syahid karena mereka telah melakukan perbuatan yang diharamkan”. [12]

Namun yang dimaksud kekekalan di dalam hadits di atas adalah lama waktunya bukan hakikat langgengnya. Sebab jika ia orang yang bertauhid dan tidak mencampurkan tauhidnya dengan kemusyrikan atau dengan sesuatu yang membatalkan keislamannya, maka ia akan diadzab dengannya di dalam neraka Jahannam seukuran dengan dosa-dosanya, kemudian ia dikeluarkan darinya dan tidak kekal di dalamnya. [13]

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Aysar at-Tafasir: I/ 467.

[2]Shahih Sunan Abi Dawud: 323, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: I/ 99 (67), dan Irwa’ al-Ghalil: 154.

[3] Fat-h al-Bariy: I/ 454.

[4]Mukhtasor Shahih Muslim: 1026, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1856, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1664, 1665, Shahii Sunan Abi Dawud: 3280, Shahih Sunan Ibni Majah: 2786, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6459 dan Ghoyah al-Maram: 453.

[5] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5494.

[6] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2124.

[7] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1470 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2082.

[8] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2423.

[9] Mukhtashor Shahih Muslim: 1027 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1624.

[10]  Lihat kitab al-Kaba’ir susunan al-Imam adz-Dzahabiy rahimahullah dengan Syar-h asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah halaman 189, cetakan Dar al-Ghodd al-Jadid al-Manshurah.

[11] Nail al-Awthar: VII/ 62, cetakan Dar Zamzam ar-Riyadl tahun 1993.

[12]  Al-Kaba’ir halaman 189-190.

[13] Lihat penjelasan hal ini dalam kitab Fat-h al-Bariy: III/ 227-228 dan penjelasan asy-Syaikh al-Utsaimin di dalam kitab al-Kaba’ir halaman 191.