SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (9)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [9-Tamat]

Januari 5, 2011

القاعدة الرابعة

أن مشركي زماننا أغلظ شركا من الأولين لأن الأولين يشركون في الرخاء ويخلصون في الشدة، ومشركو زماننا شركهم دائما في الرخاء والشدة، والدليل قوله تعالى}: فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ ) { العنكبوت آية 65

Kaidah yang keempat:

Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu, karena (kaum musyrikin) dahulu berbuat syirik (ketika) keadaan senang dan mereka ikhlas dalam keadaan susah. Sementara kaum musyrikin zaman kita, kesyirikan mereka terus-menerus dalam keadaan senang maupun susah, dan dalilnya adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh).” (Al Ankabut: 65)[1]


[1] SYARAH:

Kaidah keempat dan terakhir: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu yang Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- diuitus kepada mereka.

Adapun sebabnya telah jelas, Allah subhanah wa ta’ala mengabarkan bahwa kaum musyrikin terdahulu ikhlas kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- ketika mengalami kesusahan dan tidak berdoa kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala-, karena mereka tahu tidak ada yang dapat melepaskan seseorang dari kesusahan kecuali Allah -subhanahu wa ta’ala-, sebagaimana dinyatakan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala-,

وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإِنْسَانُ كَفُوراً

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya dilautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al Isra’: 67)

Dalam ayat yang lain,

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikanketaatan kepada-Nya”; yaitu mengikhlaskan doa pada-Nya.”(Al Ankabut: 76)

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ

“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” (Luqman: 32)

Dan dalam ayat yang lain,

فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut: 65)

Orang-orang musyrikin terdahulu berbuat syirik (ketika) mereka dalam keadaan senang. Mereka berdoa kepada berhala, batu-batu dan pohon-pohon. Adapun ketika terjatuh dalam kesusahan dan hampir mengalami kehancuran, mereka tidak berdoa kepada berhala, tidak pada pohon, tidak pula pada batu dan mahluk apapun –mereka- hanya berdoa kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- saja. Maka, jika tidak ada yang dapat melepaskan seseorang dari kesusahan kecuali Allah -subhanahu wa ta’ala-, bagaimana berdoa kepada selain-Nya dalam keadaan senang ???

Sementara kaum musyrikin pada zaman sekarang yakni orang-orang mutaakhirin yang melakukan kesyirikan dari umat Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- ini, sesungguhnya kesyirikan mereka terus –menerus baik dalam keadaan senang maupun susah. (Ketika senang) mereka tidak mengikhlaskannya untuk Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak pula dalam keadaan susah. Bahkan tatkala bertambah kesusahan mereka, bertambah pula kesyirikan dan panggilan mereka kepada Hasan, Husain, Abdul Qadir, Rifa’i serta selain itu, dan ini adalah perkara yang telah diketahui. Disebutkan pula oleh mereka terjadinya keajaiban dilautan, bahwa ketika mengalami perkara yang susah mereka memanggil nama-nama para wali dan orang-orang shalih serta beristighotsah kepada mereka, karena para da’i kebathilan dan kesesatan berkata kepada mereka: “Kami menyelamatkan kalian dari lautan, maka jika kalian tertimpa sesuatu panggillah nama-nama kami, kami akan menyelamatkan kalian.” Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari syaikh-syaikh Tariqat Sufiyyah. Jika kalian mau, bacalah “Thabaqat Sya’rani”, maka didalamnya akan terdapat (cerita-cerita) yang membuat gemetar kulit-kulit tentang apa yang dinamakan karamahnya para wali, bahwa mereka menyelamatkan dari lautan. Tangan mereka menjulur kelautan dan membawa kapal semuanya lalu mengeluarkannya ke darat sementara tidak basah lengan-lengannya, dan selain itu dari kebathilan dan khurafat mereka. Maka mereka terus-menerus melakukan kesyirikan baik dalam keadaan senang maupun susah, bahkan kesyirikan mereka lebih besar dibanding kaum musyrikin terdahulu.

Dan juga sebagaimana dikatakan oleh Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah-) dalam kitab “Kasyfu Syubhat”; “Sisi yang lain, bahwasanya kaum musyrikin dahulu menyembah orang-orang shalih dari kalangan malaikat, para nabi dan para wali –sedangkan (kaum musyrikin sekarang)- mereka menyembah manusia yang paling jahat, dalam keadaan mereka mengetahui hal itu. (Mereka menyembah) orang yang mereka namakan Al Aqthab dan Al Aghwaats, padahal mereka itu tidak shalat, tidak berpuasa, serta tidak menjaga diri dari zina, liwath (homo sex) dan perbuatan keji (lainnya). Karena –menurut persangkaan mereka- (Al Aqthab dan Al Aghwaats) tidaklah memiliki taklif (beban syariat), sehingga tidak ada (baca: tidak berlaku) halal dan haram bagi mereka, karena halal dan haram hanyalah untuk orang awam. Mereka mengetahui bahwa peminpin mereka tidak shalat, tidak berpuasa, dan tidak menjaga diri dari perbuatan keji, namun bersamaan dengan itu mereka menyembahnya. Bahkan mereka menyembah manusia yang paling keji: seperti Al Hallaj, Ibnu Arabi, Rifa’i, Badawi dan selain mereka.

Syaikh -rahimahullah- membawakan dalil bahwa musyrikin mutaakhirin (zaman ini) lebih besar dan lebih keras kesyirikannya dari pada (musyrikin) terdahulu, karena (musyrikin) dahulu mereka ikhlas (kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-) dalam keadaan susah dan berbuat syirik dalam keadaan senang, beliau berdalil dengan firman Allah -subhanahu wa ta’ala-:

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Al Ankabut: 65)

Mudah-mudahan shalawat dan salam Allah -subhanahu wa ta’ala- atas Nabi kita Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam-, keluarga serta seluruh sahabatnya.

و الحمد لله رب العالمين

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/05/penjelasan-kaidah-dalam-memahami-tauhid-dan-syirik-9-tamat/

Iklan

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (8)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [8]

Januari 5, 2011

ودليل الشمس والقمر قوله تعالى} وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ  {فصلت آية 37

ودليل الملائكة قوله تعالى: {  وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً } (آل عمران آية 80

ودليل الأنبياء قوله تعالى } :  وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ{   ) المائدة آية 116

ودليل الصالحين قوله تعالى } : أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ) { الإسراء آية 57

ودليل الأشجار والأحجار قوله تعالى: {  أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى } (النجم الآيتان: 19، 20

وحديث أبي واقد الليثي  قال: { خرجنا مع النبي  إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط فمررنا بسدرة فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط } (الحديث)

Adapun dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) matahari dan bulan adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan.” (Fushilat: 37)[1]

Dan dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) malaikat adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan.” (Ali Imran: 80)[2]

Dan dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) para Nabi adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

Dan ingatlah ketika Alloh berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Alloh?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (Al Maidah: 116)[3]

Dan dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) orang-orang shalih adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Alloh) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Al Isra’: 57)[4]

Dan dalil (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) batu-batu dan pohon-pohon adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى  وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Alloh)? (An Najm: 19-20)[5]

Dan haditsnya Abi Waqid Al Laitsi radhiyAllohu’anhu dia berkata:

“Kami keluar bersama Nabi -shallAllohu’alaihi wa sallam- ke Hunain dan saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam-pent). Orang-orang musyrik mempunyai pohon yang mereka beri’tikaf di sana serta menggantungkan senjata-senjata mereka padanya yang dinamakan Dzatu Anwaath, lalu kami melewati sebuah pohon, kemudian kami berkata: Wahai Rasulullah buatkan bagi kami Dzatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwaath …al hadits.[6]


[1] SYARAH:

(Ini) menunjukkan bahwa (di antara mereka) ada yang sujud kepada matahari dan bulan. Oleh karena itu Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- melarang shalat ketika matahari terbit dan terbenamnya dalam rangka menutup jalan (kesyirikan, ed) ke arah tersebut. Karena ada orang yang sujud kepada matahari ketika terbit dan terbenamnya, maka kita dilarang shalat pada dua waktu itu. Meskipun shalat tersebut untuk Allah -subhanahu wa ta’ala-, namun karena shalat pada waktu itu menyerupai perbuatan orang-orang musyrik, (maka kita) dilarang darinya dalam rangka menutup jalan yang dapat menghantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- datang dengan larangan terhadap kesyirikan serta menutup jalan yang menghantarkan kesana.

[2] SYARAH:

Menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi, dan sesungguhnya hal itu adalah termasuk syirik.

Para penyembah kubur pada hari ini menyatakan: Bahwa orang yang menyembah malaikat, para nabi serta orang-orang yang shalih tidaklah kafir.

[3] SYARAH:

Ini merupakan dalil bahwa ibadah kepada para nabi adalah syirik sebagaimana ibadah kepada berhala.

Di dalamnya terdapat bantahan atas orang yang membedakan hal itu, dari kalangan penyembah kuburan.

Juga bantahan bagi mereka yang menyatakan: Bahwa syirik itu adalah menyembah berhala (saja). Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah berhala dengan orang yang menyembah wali atau orang shalih. Mereka mengingkari persamaan diantara mereka, dan menyangka bahwa syirik itu terbatas pada penyembahan kepada berhala saja. Maka ini termasuk kesalahan yang nyata dari dua sisi:

  • Sisi pertama: Bahwa Allah -‘azza wa jalla- mengingkari semuanya dalam Al Qur’an, dan memerintahkan untuk memerangi mereka seluruhnya.
  • Sisi kedua: Bahwa Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- tidak membedakan antara penyembah berhala dengan penyembah malaikat atau orang shalih.

[4] SYARAH:

Merupakan dalil bahwa ada orang yang beribadah kepada orang shalih dari kalangan manusia. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).”

Dikatakan: ayat ini turun kepada orang yang menyembah Al Masih -‘alaihissalam- dan ibunya, serta Uzair. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- mengabarkan bahwa Al Masih -‘alaihissalam- dan ibunya yaitu Maryam, serta Uzair –mereka semua- adalah hamba-hamba Allah -‘azza wa jalla-. Mereka mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dan mengharap rahmat-Nya serta takut terhadap adzab-Nya. Mereka adalah hamba yang butuh kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dan memerlukan-Nya, berdo’a kepada-Nya serta mencari wasilah kepada-Nya dengan ketaatan.

يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ   “mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”, yaitu kedekatan terhadap Allah -‘azza wa jalla- dengan taat dan beribadah kepada-Nya. Kemudian (Allah -‘azza wa jalla-) menunjukkan bahwa –mereka itu- tidaklah pantas untuk diibadahi karena mereka adalah manusia yang sangat butuh dan kekurangan, mereka berdoa kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- mengharapkan rahmat-Nya, serta takut akan adzab-Nya. Barangsiapa demikian keadaannya, maka tidaklah pantas untuk diibadahi bersama Allah -‘azza wa jalla-.

Pendapat yang kedua: ayat ini turun terhadap orang-orang musyrik yang menyembah sekelompok jin. Lalu (sekelompok) jin tersebut masuk Islam sementara orang-orang yang menyembahnya tidak mengetahui keislaman mereka. Mereka (sekelompok jin tadi, ed) mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan ketaatan dan ketundukan, berharap akan rahmat-Nya serta takut akan adzab-Nya. Mereka adalah hamba yang membutuhkan dan fuqara’, sehingga tidak pantas untuk diibadahi.

Dan apapun yang dimaksukan dari ayat yang mulia ini, sesungguhnya ayat itu menunjukkan bahwa tidak boleh beribadah kepada orang-orang shalih, sama saja apakah mereka para Nabi dan shidiqin, atau para wali dan orang-orang shalih. Tidak boleh beribadah kepada mereka, karena semuanya adalah hamba Allah yang butuh kepada-Nya, maka bagaimana mereka itu diibadahi bersama Allah?

Wasilah artinya taat dan dekat. Menurut bahasa, wasilah adalah sesuatu yang menyampaikan kepada yang dimaksud (dituju). Maka sesuatu yang menyampaikan (kita) kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, adalah wasilah kepada Allah, dan ini adalah wasilah yang disyariatkan, sebagaimana dalam firman Allah -subhanahu wa ta’ala-:

وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ

“Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Maidah: 35)

Adapun muharrifun (orang-orang yang menyelewengkan makna) menyatakan: Wasilah adalah engkau menjadikan (sesuatu sebagai) perantara antara kamu dan Allah dari kalangan wali-wali, orang shalih dan orang-orang yang sudah meninggal. Engkau menjadikan mereka sebagai perantara antara kamu dengan Allah -subhanahu wa ta’ala- untuk mendekatkan dirimu kepada-Nya,

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidak meyembah mereka melaikan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)

Maka pengertian wasilah menurut muharrifun: Engkau menjadikan sesuatu sebagai perantara antara kamu dengan Allah (untuk) mengenalkanmu kepada Allah menyampaikan keperluanmu kepada-Nya, seakan-akan Allah itu tidak tahu, atau seakan-akan Allah itu bakhil, tidak akan memberi kecuali setelah didesak oleh seorang perantara. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Mereka menyamakan Allah dengan manusia. Kemudian mereka berkata, Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka. (Al Isra’: 57)

(Ini) menunjukkan bahwa, menjadikan makhluk sebagai perantara kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah perkara yang disyariatkan, karena Allah -subhanahu wa ta’ala- memuji pelakunya. Dalam ayat yang lain Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 35)

Mereka berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk mengambil wasilah kepada-Nya, dan pengertian wasilah adalah perantara.” Demikianlah, mereka menyelewengkan kalimat dari tempatnya.

Sedangkan wasilah yang disyariatkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah yaitu dengan ketaatan yang mnedekatkan kepada Allah, yakni bertawassul (mengambil Wasilah) kepadaNya dengan nama-nama-Nya dan Sfat-sifat-Nya. Inilah wasilah yang disyariatkan. Adapun tawassul dengan mahluk kepada Allah, maka hal ini adalah wasilah yang dilarang dan syirik, dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dahulu.

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain dari pada Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)

Dari sini, maka kesyirikan orang-orang terdahulu dan yang terakhir –sama saja- meskipun mereka menamakannya wasilah, tetap saja dia syirik yang sebenarnya, dan itu bukan wasilah yang disyariatkan oleh Allah, karena Allah tidak menjadikan kesyirikan sebagai wasilah kepada-Nya –selamanya-. Dan bahwa syirik itu justru akan menjauhkan (diri kita) dari Allah.

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka Allah pasti akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah: 72)

Maka bagaimana syirik itu dijadikan sebagai wasilah kepada Allah???, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan.

Syahid (Penguat) dari ayat ini adalah, ayat ini menunjukkan bahwa di sana ada orang musyrik yang beribadah kepada orang shalih, karena Allah menerangkan hal itu, dan menerangkan bahwa yang mereka sembah adalah hamba yang faqir.

يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ   yaitu mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan ketaatan.

أَيُّهُمْ أَقْرَبُ   yaitu berlomba-lomba dengan ibadah kepada Allah karena butuhnya mereka kepada Allah dan keperluan mereka.

وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ  “Dan menharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” Maka barangsiapa keadaannya demikian, tidak pantas untuk menjadi sesembahan yang diseru dan diibadahi bersama Allah -‘azza wa jalla-.

[5] SYARAH:

Ayat ini merupakan dalil bahwa ada orang-orang musyrik yang beribadah kepada batu-batu dan pohon-pohon.

Firman Allah: أَفَرَأَيْتُمُ “Maka apakah patut” ini adalah pertanyaan pengingkaran, yaitu: kabarkan kepada-Ku; merupakan pertanyaan pengingkaran dan celaan.

اللَّاتَ dengan mentahfif ta’: adalah nama berhala di daerah Thaif, yaitu sebuah batu besar yang diukir, di atasnya dibangun rumah dan padanya ada sitar menyerupai Ka’bah. Di sekelilingnya terdapat lapangan, dan di sisinya ada penjaga (juru kunci). Mereka beribadah kepadanya selain Allah. Berhala ini milik kaum Tsaqif dan qabilah-qabilah yang loyal kepada mereka, dan bangga dengannya.

Dan dibaca  dengan mentasydid ta’, adalah ismul fa’il dari [. . .] dia adalah seorang laki-laki shalih yag dulunya mengadoni tepung dan memberi makan orang-orang yang haji. Tatkala dia meninggal, mereka membangun rumah diatas kuburnya, kemudian menutupnya dengan sitar (kelambu). Lalu mereka beribadah kepadanya, dialah Laata.

وَالْعُزَّى Al Uzza adalah pohon dari As Salam di lembah Nahlah antara Makkah dan Thaif. Di sekitarnya terdapat bangunan dan kelambu, dan di sisinya ada juru kunci. Di situ ada setan yang berbicara dengan manusia, sehingga orang-orang yang bodoh menyangka bahwa yang mengajak bicara mereka adalah pohon tersebut atau rumah yang mereka bangun di sana. Padahal yang berbicara dengan mereka adalah setan-setan yang menyesatkan mereka dari jalan Allah -‘azza wa jalla-. Berhala ini milik kaum Quraisy dan penduduk Makkah serta orang-orang di sekitarnya.

وَمَنَاةَ Mannah adalah sebuah batu besar yang terletak di dekat gunung Qudid antara Makkah dan Madinah. Berhala ini milik suku Khuza’ah, Aus dan Khazraj. Mereka berihram di sisinya ketika haji, dan mengibadahinya.

Tiga berhala ini merupakan berhala terbesar bangsa Arab.

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An Najm: 19-20)

Apakah berhala tersebut mencukupi kalian? Apakah memberi manfaat kepada kalian? Apakah menolong kalian? Apakah berhala itu mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan? Apa yang kalian peroleh darinya? Ini termasuk bab pengingkaran dan peringatan bagi akal untuk kembali kepada petunjuk-Nya. Dia hanyalah batu besar dan pohon yang tidak dapat memberikan manfaat dan bahaya.

Maka tatkala Allah -subhanahu wa ta’ala- mendatangkan Islam dan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- berhasil menguasai Makkah yang dimuliakan, Beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- mengutus Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu dan Abu Sufyan bin Harb radhiyallahu’anhu menuju Al Laata di Thaif, kemudian mereka menghancurkannya atas perintah Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- juga mengutus Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu ke Al Uzza, lalu dia menghancurkannya, menebang pohon-pohon serta membunuh jin perempuan yang ada disitu yang berbicara dengan manusia dan menyesatkan mereka. Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu menghilangkannya hingga tak tersisa –Alhamdulillah-. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- mengutus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ke Manat, lalu dia menghancurkan dan menghilangkannya. Berhala itu tidak dapat menyelamatkan dirinya, maka bagaimana dia dapat menyelamatkan keluarga dan penyembahnya ???

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An Najm: 19-20)

Kemana dia pergi? Apakah dia memberi manfaat kepada kalian? Apakah dirinya bisa menghalangi tentara Allah -‘azza wa jalla- dan pasukan muwahhidin (ahli tauhid)?

Maka ayat ini menunjukkan bahwa di sana ada yang menyembah pohon-pohon dan batu-batu, bahkan ketiga berhala tersebut adalah berhala terbesar mereka. Bersamaan dengan ini Allah -subhanahu wa ta’ala- menghilangkan wujudnya, sementara dia tidak dapat menghindar darinya dan tidak pula memberi manfaat kepada keluarga (pengikutnya). Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- menyerang dan memerangi mereka, namun berhala-berhala itu tidak dapat menghalanginya.

Maka Syaikh -rahimahullah- berdalil dengan ayat ini bahwa di sana ada yang menyembah batu-batu dan pohon-pohon. Subhanallah! Manusia yang berakal menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang tidak bernyawa, tidak memiliki akal, gerakan serta kehidupan, lalu dimana akalnya manusia? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan –‘uluwwan kabira-.

[6] SYARAH:

Dari Abi Waqid Al Laitsi radhiyallahu’anhu dan yang masyhur beliau termasuk sahabat yang masuk Islam pada waktu fathul Makkah tahun ke delapan Hijrah.

Al Anwath adalah bentuk jamak dari nauth (gantungan), yakni tempat gantungan dimana mereka menggantungkan senjata-senjata mereka padanya untuk mencari berkah dengannya. Lalu berkata sebagian sahabat yang baru masuk Islam dan belum mengetahui tauhid secara sempurna “Buatkan bagi kami Dzatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu An Waath.” Ini adalah termasuk jeleknya taqlid dan tasyabbuh (meniru-niru), dan sebesar-besarnya kejelekan. Maka ketika itu Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- takjub (heran) dan mengucapkan:

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar”! Jika ada sesuatu yang menakjubkan atau mengingkari sesuatu, beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- bertakbir atau mengucapkan: “Subhanallah“ dan mengulang-ulangnya.

[السبل] yaitu jalan-jalan yang ditempuh oleh manusia dimana sebagian mengikuti sebagian lainnya. Maka sebab yang membawa kalian atas perbuatan ini adalah mengikuti jalannya orang-orang terdahulu dan meniru kaum musyrikin.

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya kalian telah menyatakan sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa “buatkan bagi kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan, Musa menjawab: “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti.”

Tatkala Musa -‘alaihissalam- melewati lautan bersama Bani Israil dan Allah menenggelamkan musuh mereka ke dalam lautan sementara mereka menyaksikannya, mereka melewati orang-orang musyrik yang sedang beri’tikaf pada berhalanya. Lalu mereka berkata kepada Musa -‘alaihissalam-, “Buatkan bagi kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan”, maka Musa -‘alaihissalam- menjawab: “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti.” Musa -‘alaihissalam- mengingkari mereka seraya berkata: إِنَّ هَـؤُلاء مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ  “Sesungguhnya mereka akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya”, yaitu bathil.

وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ “Dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan”, karena syirik.

قَالَ أَغَيْرَ اللّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَـهاً وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ  “Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” Musa -‘alaihissalam- mengingkari mereka sebagaimana nabi kita Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- mengingkari mereka (para shahabat beliau –pent). Tetapi mereka (Bani Israil) dan para sahabat belum mengerjakannya. Seandainya ketika itu (benar-benar) membuat Dzatu Anwaath, sungguh mereka telah berbuat syirik, namun Allah menjaga mereka, sehingga tatkala nabi mereka melarangnya mereka berhenti, dan mengatakan bahwa perkataan ini (bersumber) dari kebodohan dan bukanlah mereka mengucapkannya karena kesengajaan. Ketika mereka tahu bahwa hal itu adalah syirik, maka mereka berhenti dan tidak melakukannya. Seandainya mereka laksanakan, niscaya mereka telah berbuat syirik kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Maka syahid (penguat) dari ayat ini adalah, bahwa di sana ada yang beribadah kepada pohon-pohon, karena orang-orang musyrik mengambil Dzata Anwaath. Para sahabat yang ilmu belum mantap dihati-hati mereka mencoba untuk meniru kaum musyrikin andai saja Allah tidak menjaga mereka dengan Rasul-Nya.

As Syahid: Bahwa disana ada yang mencari berkah kepada pohon-pohon dan beri’tikaf pada-nya. Dan i’tikaf artinya tinggal di sisinya beberapa waktu dalam rangka mendekatkan diri kepadanya, maka i’tikaf adalah tinggal pada suatu tempat.

Ini menunjukkan beberapa permasalahan yang besar:

  1. Masalah pertama: Bahayanya jahil (tidak mengetahui) tauhid. Barangsiapa tidak mengetahui tauhid, pantas baginya jatuh pada kesyirikan, sementara dia tidak mengetahuinya. Maka wajib mempelajari tauhid dan apa yang bertentangan dengannya dari (perbuatan-perbuatan) syirik, sampai manusia itu berada di atas bashirah (ilmu) sehingga tidak datang dari kebodohannya. Apalagi jika dia tidak melihat seseorang mengerjakan kesyirikan tersebut kemudian dia menyangkanya benar dengan sebab kebodohannya. Maka terkandung di dalamnya; bahaya kebodohan, lebih-lebih dalam masalah aqidah.
  2. Masalah kedua: Hadits ini (menunjukkan) bahayanya meniru orang-orang musyrik, karena kadang hal itu dapat mengantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda:“Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”

    Maka tidak boleh meniru-niru kaum musyrikin.

  3. Masalah ketiga: Bahwa bertabarruk (meminta berkah) kepada batu-batu dan pohon-pohon serta bangunan adalah syirik, meskipun dinamakan dengan selain namanya. Karena hal itu berarti mencari berkah kepada selain Allah dari batu-batu, pohon-pohon, dan kuburan. Ini adalah syirik meskipun dinamakan dengan nama selain syirik.

Bersambung.. Insya Alloh..

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/05/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-8/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (7)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [7]

Januari 5, 2011

القاعدة الثالثة

أن النبي  ظهر على أناس متفرقين في عباداتهم، منهم من يعبد الملائكة، ومنهم من يعبد الأنبياء والصالحين، ومنهم من يعبد الأشجار والأحجار، ومنهم من يعبد الشمس والقمر وقاتلهم رسول الله  ولم يفرق بينهم، والدليل قوله تعالى: {  وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه} (الأنفال آية 39

Kaidah yang ketiga:

Bahwasanya Nabi -shallAllohu’alaihi wa sallam- muncul pada manusia yang ibadahnya berbeda-beda. Diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para Nabi dan orang-orang shalih, ada yang menyembah batu-batu dan pohon-pohon, dan ada yang menyembah matahari dan bulan; dan Rasulullah -shallAllohu’alaihi wa sallam- memerangi mereka tanpa membeda-bedakannya. [1] Dalilnya firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata hanya untuk Alloh.” (Al Anfal: 39) [2]

 


[1] SYARAH:

Kaidah yang ketiga: Bahwasanya Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- diutus kepada kaum musyrikin, diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah patung, batu-batu, pohon-pohon, dan ada yang menyembah para wali dan orang-orang shalih.

Inilah kejelekan syirik dimana pelakunya tidak berkumpul pada sesuatu yang satu. Berbeda dengan muwahhidin (orang yang bertauhid), sesungguhnya sesembahan mereka itu satu yaitu Allah -subhanahu wa ta’ala-:

أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ  مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِ إِلاَّ أَسْمَاء سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَآؤُكُم

“Tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah selein Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.” (Yusuf: 39-40)

Dan diantara kejelekan syirik serta kebathilannya adalah bahwa pelakunya berbeda-beda dalam ibadahnya. Mereka tidak bersepakat dalam satu ketentuan/patokan, karena tidak berjalan di atas suatu pokok, melaikan berjalan di atas hawa nafsu dan pengakuan-pengakuan yang sesat, sehingga bertambah banyaklah perpecahan mereka.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Az Zumar: 29)

Orang yang beribadah kepada Allah -‘azza wa jalla- saja seperti seorang budak yang menghamba kepada satu orang dan bersenang-senang dengannya. Dia mengetahui maksudnya dan mengetahui permintaannya sehingga dapat bersenang-senang dengannya. Akan tetapi orang musyrik seperti orang yang mempunyai beberapa tuan, dia tidak tau siapa yang ridha di antara mereka. Setiap tuan mempunyai kesukaan, permintaan, keinginan, dan masing-masing menginginkan dia datang disisinya. Oleh karena itu Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ, maknanya yaitu dimiliki oleh beberapa orang. Dia tidak tau mana yang ridho di antara mereka.

وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ  maknanya dikuasai (dimiliki) oleh satu orang saja, dan ia bersenang-senang bersamanya.

Demikianlah permisalan yang dibuat Allah -subhanahu wa ta’ala- untuk orang musyrik dan muwahhidin.

Orang-orang musyrik itu berbeda-beda dalam ibadahnya, dan Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- memerangi mereka tanpa membeda-bedakannya. Beliau memerangi penyembah berhala, orang-orang Yahudi, Nashara, Majusi serta seluruh kaum musyrikin. Beliau juga memerangi orang-orang yang menyembah malaikat, menyembah para wali dan orang-orang shalih, tanpa membedakan mereka.

Ini adalah bantahan bagi orang yang mengatakan: “Orang yang menyembah patung tidak sama dengan mereka yang menyembah orang shalih atau seorang malaikat dari para malaikat, karena mereka menyembah batu-batu, pohon dan benda mati. Maka mereka yang menyembah orang shalih dan wali dari kalangan wali-wali Allah -‘azza wa jalla- tidaklah sama dengan orang yang menyembah berhala.”

Dengan ucapan tersebut, mereka menginginkan bahwa orang yang menyembah kuburan saat ini, hukumnya adalah berbeda dengan orang yang menyembah berhala. Mereka tidak dikafirkan, dan perbuatan mereka tidak dianggap sebagai kesyirikan, sehingga tidak boleh diperangi.

Kami katakan: “Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- tidak membedakan mereka, bahkan menganggap mereka seluruhnya musyrik, sehingga halal darah serta harta mereka. Tidak berbeda antara mereka dan orang yang menyembah Al Masih (Isa ‘alaihis salam)-dan Al Masih adalah seorang Rasul Allah -‘azza wa jalla– Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- memerangi mereka. Demikian pula orang-orang Yahudi, mereka menyembah Uzair –salah seorang nabi atau orang shalih di kalangan mereka- Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- memerangi tanpa membeda-bedakan mereka. Maka, syirik itu tidak berbeda antara penyembah orang shalih, dan penyembah berhala, batu-batu atau pohon-pohom, karena syirik adalah ibadah kepada selain Allah -‘azza wa jalla- apapun bentuknya. Oleh karena itu Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (An Nisaa: 36)

Kata (شَيْئاً) “sesuatupun” dalam konteks larangan mencakup segala sesuatu, yakni seluruh yang disekutukan bersama Allah -‘azza wa jalla-, dari kalangan malaikat, rasul, orang-orang shalih, para wali, batu-batu maupun pepohonan.

[2] SYARAH:

Merupakan dalil atas diperanginya kaum musyrikin tanpa membedakan sembahan mereka. Firman Allah -subhanahu wa ta’ala-: وَقَاتِلُوهُمْ  “Dan perangilah mereka” ini adalah umum untuk setiap orang musyrik, tanpa kecuali!

Kemudian Allah menyatakan: حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ   “Supaya jangan ada fitnah”, fitnah disini adalah syirik, yaitu: (agar) tidak ada kesyirikan. Maka ini umum untuk seluruh kesyirikan apapun bentuknya, sama saja kesyirikan dengan wali-wali dan orang shalih, dengan batu-batu, pohon, matahari atau bulan.

وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه   “dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” yakni menjadilah agama itu seluruhnya untuk Allah -‘azza wa jalla-, tidak ada sekutu bagi-Nya seorangpun siapa saja dia. Maka tidak ada perbedaan antara syirik dengan para wali dan orang-orang shalih, atau syirik dengan batu-batu, pohon, setan-setan dan selain mereka.

Bersambung.. Insya Alloh..

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/05/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-7/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (6)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [6]

Januari 5, 2011

القاعدة الثانية

أنهم يقولون: ما دعوناهم وتوجهنا إليهم إلا لطلب القربة والشفاعة

فدليل القربة قوله تعالى: { وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى } (الزمر آية 3

Kaidah yang kedua :

Bahwasanya mereka menyatakan : “Tidaklah kami berdo’a kepada mereka serta menghadap mereka kecuali untuk mencari qurbah (kedekatan) dan syafa’at. Dalilnya qurbah adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata) : “kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Alloh akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (Az Zumar : 3)[1]

ودليل الشفاعة قوله تعالى: { وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ } (يونس آية 18

والشفاعة شفاعتان:

1 – شفاعة منفية.

2 – وشفاعة مثبته.

فالشفاعة المنفية: ما كانت تطلب من غير الله فيما لا يقدر عليه إلا الله. والدليل قوله تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ } (البقرة 254. )

والشفاعة المثبتة: هي التي تطلب من الله والشافع مكرم الشفاعة، والمشفوع له من قوله وعمله بعد الإذن كما قال تعالى: { مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ } (البقرة آية 255

Dan dalil syafa’at adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain dari Alloh apa yang tidak mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami disisi Alloh” (Yunus : 18)

Syafa’at itu ada dua, yakni syafaat manfiyyah dan syafaat mutsbitah.

  1. 1. Syafaat manfiyyah adalah syafaat yang diminta dari selain Alloh -subhanahu wa ta’ala- dalam perkara yang tidak mampu atasnya kecuali Alloh -subhanahu wa ta’ala-, dalilnya adalah firman Alloh -‘azza wa jalla-,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (dijalan Alloh) sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim.” (Al Baqarah : 254)

  1. 2. Sedangkan syafaat mutsbitah adalah syafaat yang diminta dari Alloh -subhanahu wa ta’ala-, dan yang memberi syafaat adalah orang yang dimuliakan dengan syafaat, sementara yang diberi syafaat adalah orang yang diridhai oleh Alloh -subhanahu wa ta’ala- baik ucapan maupun amalannya setelah (mendapat) izin, sebagaimana firman Alloh -subhanahu wa ta’ala- :

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafaat disisi Alloh tanpa seizin-Nya” (Al Baqarah : 255)[2]


[1] SYARAH :

Kaidah yang kedua : Sesungguhnya orang-orang musyrik, mereka dinamakan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- kaum musyrikin, dan Allah -subhanahu wa ta’ala- menghukumi mereka kekal di neraka –mereka tidak berbuat syirik dalam rububiyyah tetapi berbuat syirik dalam uluhiyyah. Mereka tidak menyatakan bahwa Tuhan-tuhan memberi rezeki bersama Allah -subhanahu wa ta’ala-, memberikan manfaat atau bahaya, dan mengatur (alam semesta ini-pent) bersama Allah -subhanahu wa ta’ala-, hanya saja mereka menjadikan tuhan-tuhan tersebut sebagai pembei syafa’at, sebagaimana Allah -subhanahu wa ta’ala- menyatakan tentang mereka,

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kami disisi Allah” (Yunus : 18)

“..apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan..”; Mereka mengetahui bahwa tuhan-tuhan mereka tidak dapat medatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) memberi kemanfaatan. Tetapi mereka menjadikan tuhan-tuhan itu sebagai pemberi syafa’at, yaitu perantara di sisi Allah -subhanahu wa ta’ala- dalam memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga mereka menyembelih dan bernadzar untuk tuhan-tuhan tersebut. Bukan karena meyakininya sebagai pencipta atau pemberi rezki, mendatangkan kemanfaatan atau kemudharatan, namun menjadikan (sesembahan) itu sebagai perantara bagi mereka disisi Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan memberi syafa’at disisi Allah -subhanahu wa ta’ala-, inilah aqidah orang-orang musyrik.

Dan ketika engkau membantah kuburiyyun (penyembah kubur) saat ini, niscaya mereka akan menyatakan ucapan yang sama. Dia akan berkata “Saya tahu bahwa wali atau orang shalih ini tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula mudharat, tetapi aku mengininkan darinya syafa’at bagiku di sisi Allah -subhanahu wa ta’ala-.”

Syafa’at itu ada yang haq dan ada yang bathil. Syafa’at yang haq dan benar, jika memenuhi dua syarat :

  • Syarat pertama : Dengan izin Allah -subhanahu wa ta’ala-
  • Syarat kedua : Yang diberi syafa’at adalah ahlu tauhid, yaitu orang yang bermaksiat dari kalangan muwahhidin (orang-orang yang bertauhid).

Jika salah satu dari dua persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka syafa’atnya adalah bathil, Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya” (Baqarah : 255)

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah” (Al Anbiyaa’ : 28)

Mereka adalah muwahhidin yang berbuat maksiat. Adapun orang-orang kafir dan musyrikin, maka tidak akan bermanfaat syafa’atnya orang yang memberi syafa’at.

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (Al Mu’min : 18)

Mereka itu mendengar syafa’at namun tidak mengetahui artinya dan meminta dari sesembahannya tanpa izin dari Allah -subhanahu wa ta’ala-, bahkan meminta syafa’at untuk orang yang melakukan syirik kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka tidak akan berguna syafa’at orang yang memberi syafa’at, karena mereka tidak mengetahui makna syafa’at yang haq dan yang bathil.

[2] SYARAH :

Syafa’at itu itu mempunyai syarat dan ketentuan yang tidak mutlak. Syafa’at ada dua:

  • (Pertama) Syafa’at yang dinafikan (ditiadakan) oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- yaitu syafa’at yang tidak mendapat izin dari Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka tidak seorangpun dapat memberi syafa’at disisi Allah -subhanahu wa ta’ala- kecuali dengan izinNya. Bahkan seutama-utama mahluk serta penutup para Nabi yaitu Muhammad shallahu’alaihi wa sallam ketika akan mmberi syafa’at kepada ahlu mauqif pada hari kiamat, beliau sujud didepan Rabbnya berdo’a dan memujiNya, dan terus sujud hingga dinyatakan kepada beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- “Angkat kepalamu, dan katakan (niscaya) akan didengar, berilah syafa’at niscaya akan disyafa’ati” maka tidak ada pemberi syafa’at kecuali dengan izinNya.
  • (Kedua) Syafa’at mutsbitah, yaitu syafa’at bagi ahlu tauhid. Maka tidak akan bermanfaat syafa’at bagi orang-orang musyrik seperti mereka yang mempersembahkan sesajian untuk kuburan dan berdadzar untuk kuburan.

Ringkas kata : Syafa’at munfiyyah adalah syafa’at yang diminta tanpa izin dari Allah -subhanahu wa ta’ala-, atau diminta untuk orang musyrik. Dan syafa’at mutsbitah adalah syafa’at setelah (mendapat) izin dari Allah -subhanahu wa ta’ala- dan untuk ahli tauhid.

Bersambung.. Insya Alloh..

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/05/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-6/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (5)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [5]

Januari 4, 2011

القاعدة الأولى

أن تعلم أن الكفار الذين قاتلهم رسول الله بأن الله تعالى هو الخالق الرازق المدبر وأن ذلك لم يدخلهم في الإسلام والدليل قوله تعالى: {  قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ } (يونس آية 31

Kaidah yang pertama :

Ketahuilah! Bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah -shallAllohu’alaihi wa sallam- –mereka itu- mengakui bahwa Alloh -subhanahu wa ta’ala- adalah pencipta dan pengatur, namun hal tersebut tidak memasukkan mereka kedalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

“Katakanlah : Siapakah yang memberimu rezeki dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengetur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab “Alloh” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?”(Yunus 31)[6]


[6] SYARAH :

Kaidah yang pertama : Ketahuilah bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- –mereka itu- mengakui tauhid rububiyyah, sementara pengakuan mereka terhadap tauhid rububiyyah tidak dapat memasukkan mereka ke dalam Islam, sehingga tidak haram harta-harta serta darah mereka.

Ini menunjukkan bahwa tauhid itu bukan Rubiyyah saja, dan syirik itu tidak hanya kesyirikan dalam Rububiyyah. Akan tetapi tidaklah seseorang berbuat syirik dalam Rububiyyah meleinkan –dia itu- adalah mahluk yang ganjil atau nyeleneh. Bagaimana tidak, karena setiap ummat mengakui tauhid Rububiyyah ini.

Tauhid Rububiyyah adalah pengakuan bahwa Allah -‘azza wa jalla- adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan, yang mematikan dan yang mengatur. Atau dengan pengertian yang lebih ringkas, yakni mengesakan Allah -subhanahu wa ta’ala- dalam perbuatan-Nya.

Maka tidak ada seorangpun dari mahluk ini yang mengakui bahwa ada seorang yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, atau mematikan bersama Allah -subhanahu wa ta’ala-. Bahwa orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, serta yang mengatur.

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentu mereka akan menjawab “Allah” (Luqman : 25)

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ  سَيَقُولُونَ لِلَّهِ

“Katakanlah “Siapakah yang mempunyai tujuh langit dan yang mempunyai ‘Arsy yang besar?” mereka akan menjawab “Kepunyaan Allah” (Al Mu’minun : 86-87)

Bacalah ayat-ayat di akhir akhir surat Al Mu’minun! Kalian akan menjumpai bahwa orang-orang musyrik itu mengakui tauhid rububiyyah, demikian pula dalam surat Yunus.

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ

“Katakanlah : Siapakah yang memberimu rezeki dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengetur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab “Allah” (Yunus : 31)

Mereka mengakui semua ini. Jadi, tauhid itu bukan hanya mengakui tauhid rububiyyah sebagaimana dinyatakan oleh ulama kalam dan nudhor (ahlul kalam dan filsafat-pent) dalam aqidah mereka. Mereka menetapkan bahwa tauhid adalah mengakui Allah -subhanahu wa ta’ala- sebagai pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan yang mematikan. Mereka menyatakan bahwa “Allah adalah satu dalam dzat-Nya tidak ada pembagian bagi-Nya, satu dalam perbuatan-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya” maka ini adalah tauhid rububiyah. Kembalilah (lihatlah) dalam kitab manapun dari kitab-kitabnya ulama kalam, maka engkau akan menjumpai bahwa mereka tidak pernah keluar dari tauhid rububiyyah, dan itu bukanlah tauhid yang Allah -subhanahu wa ta’ala- mengutus dengannya para rasul. Pengakuan dengan tauhid rububiyyah ini saja tidaklah bermanfaat bagi pelakunya, karena hal ini diakui (pula) oleh kaum musyrikin dan tokoh-tokoh kafir, sementara hal tersebut tidak memasukkan mereka kedalam islam. Maka ini adalah kesalahan yang besar, barangsiapa yang berkeyakinan demikian (saja), maka keyakinannya tidak lebih dari keyakinan Abu Jahal dan Abu Lahab. Sebagian para budayawan/ilmuan sekarang juga (meyakini) hal itu dengan menetapkan tauhid rububiyyah saja, tanpa menjalankan tauhid uluhiyyah, maka ini adalah kesalahan besar dalam perkara tauhid.

Adapun tentang syirik, mereka menyatakan “(Syirik yaitu) kamu meyakini bahwa seseorang mencipta bersama Allah atau memberi rezeki bersama Allah” kami katakan “ini (seperti) yang diucapkan Abu Jahal dan Abu Lahab. Mereka tidak mengatakan bahwa seseorang mencipta bersama Allah -subhanahu wa ta’ala- dan memberi rezeki bersama Allah -subhanahu wa ta’ala-, bahkan mereka mengakui bahwa Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan yang mematikan”.

Bersambung.. Insya Alloh..

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/04/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-5/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (4)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [4]

Januari 4, 2011

فإذا عرفت أن الشرك إذا خالط العبادة أفسدها وأحبط العمل وصار صاحبه من الخالدين في النار عرفت أن أهم ما عليك معرفة ذلك لعل الله أن يخلصك من هذه الشبكة وهى الشرك بالله الذي قال الله تعالى فيه: {  إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ  } (النساء آية 116، )

وذلك بمعرفة أربع قواعد ذكرها الله تعالى في كتابه

Jika kamu mengetahui bahwa syirik bila bercampur dengan ibadah akan merusaknya dan menghapus amalan, sehingga pelakunya termasuk orang yang kekal dalam neraka. Tahukah engkau bahwa yang paling penting bagimu adalah mengetahui hal tersebut. Mudah-mudahan Alloh -subhanahu wa ta’ala- membebaskanmu dari perangkap ini, yaitu syirik kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-, yang Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyatakan tentangnya.

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (an nisaa’ : 48)

Dan hal itu dengan mengetahui empat kaidah yang disebutkan Alloh -subhanahu wa ta’ala- dalam kitab-Nya”[5]


[5] SYARAH :

Selama engkau mengenal tauhid yaitu mengesakan Allah -subhanahu wa ta’ala- dalam ibadah, maka wajib bagimu untuk mengetahui apa itu syirik. Karena seseorang yang tidak mengetahui suatu perkara, dia akan terjatuh padanya. Maka sudah seharusnya engkau mengetahui macam-macam kesyirikan dengan tujuan untuk menjauhinya, karena Allah -subhanahu wa ta’ala- memperingatkan hal itu dalam firman-Nya

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akanmengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain (dari syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (An Nisaa’ : 48)

Adapun bahaya kesyirikan tersebut adalah diharamkan bagi pelakunya untuk memasuki surga.

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga.” (Al Maidah : 72)

Diharamkan pula dia dari ampunan,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ

“sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syrik.” (An Nisaa’ : 48)

Jika demikian halnya, maka hal ini adalah bahaya yang besar, yang wajib engkau ketahui sebelum bahaya lainnya. Karena syirik itu pula, telah sesat berbagai pemahaman dan akal-akal, sehingga kita perlu mengetahui apa itu syirik dari Al qur’an dan As Sunnah. Tidaklah Allah -subhanahu wa ta’ala- memperingatkan kita dari sesuatu kecuali Dia menerangkannya, dan tidaklah Allah -subhanahu wa ta’ala- memerintahkan sesuatu kecuali menjelaskannya kepada manusia. Maka Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak akan mengharamkan syirik dan meninggalkannya secara global, akan tetapi Allah -subhanahu wa ta’ala- telah menjelaskannya dalam Al Qur’an yang mulia dan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- juga menerangkannya dalam As Sunnah dengan keterangan yang lengkap. Apabila ingin mengetahui apa itu syirik, hendaknya kita kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah sampai kita tahu syirik tersebut dan bukan kembali pada ucapannya si fulan (seseorang), akan datang (penjelasan) tentang ini.

Bersambung.. Insya Alloh

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/04/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-4/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (3)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [3]

Januari 4, 2011

فإذا عرفت أن الله خلقك لعبادته فاعلم أن العبادة لا تسمى عبادة إلا مع التوحيد، كما أن الصلاة لا تسمى صلاة إلا مع الطهارة فإذا دخل الشرك في العبادة فسدت، كالحدث إذا دخل في الطهارة.

Maka, jika kamu sudah mengetahui bahwa Alloh -subhanahu wa ta’ala- menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya[3], ketahuilah! Sesungguhnya ibadah itu tidak dinamakan ibadah, kecuali dengan tauhid, sebagaimana shalat itu tidak dinamakan shalat kecuali bersama thaharah (bersuci).[4]


[3] SYARAH :

“Maka jika kamu sudah mengetahui bahwa allah -subhanahu wa ta’ala- menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya”

Yaitu jika kamu mengetahui dari ayat ini,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” (Adz Dzariyat : 56)

Maka kamu termasuk manusia yang ada dalam ayat ini. Kamu mengetahui pula bahwa Allah -subhanahu wa ta’ala- tidaklah menciptakanmu dengan sia-sia atau untuk menciptakanmu untuk makan dan minum saja, serta hidup didunia bebas dan gembira, tidaklah demikian. Akan tetapi Allah -subhanahu wa ta’ala- menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya, hanya saja ditundukkan bagimu yang ada ini untuk membantumu dalam beribadah kepadaNya, karena engkau tidak akan mampu hidup kecuali dengannya. Kamu tidak akan sampai untuk beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- kecuali dengan hal-hal tersebut. Allah -subhanahu wa ta’ala- menundukkannya bagimu agar engkau dapat beribadah kepadaNya, bukan agar kamu bergembira, bersukaria, bebas berbuat fasik dan cabul, serta makan dan minum sesukamu, karena ini adalah keadaan binatang. Adapun manusia, Allah -subhanahu wa ta’ala- menciptakan mereka dengan tujuan yang besar dan hikmah yang agung, yaitu ibadah. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ  مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rezaki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (Adz Dzariyat : 56-57)

Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak menciptakanmu agar kamu mencari rezeki untuk-Nya, bekerja dan mengumpulkan harta untuk-Nya sebagaimana dikerjakan oleh sebagian manusia dengan sebagian lainnya, yang menjadikan pekerja untuk mengumpulkan kekayaan bagi mereka. Sungguh, Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak butuh dengan itu, dan tidak membutuhkan alam semesta ini. Oleh karena itu Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan” (Adz Dzariyat : 57)

Allah -subhanahu wa ta’ala- memberi makan dan tidak diberi makan, serta tidak butuh pada makanan. Ketidak butuhan Allah -subhanahu wa ta’ala- itu (sesuai) sesuai dengan Dzat-Nya. Tidaklah dia membutuhkan ibadahmu. Seandainya kamu kufur, tidak akan berkurang kerajaan Allah -subhanahu wa ta’ala-. Akan tetapi kamulah yang butuh kepadaNya, yaitu butuh untuk beribadah kepada-Nya. Dan termasuk Rahmat-Nya adalah Allah -subhanahu wa ta’ala- memerintahkanmu untuk beribadah kepadaNya demi kebaikanmu. Karena jika kamu mengibadahi-Nya, sesungguhnya Allah -subhanahu wa ta’ala- akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Dengan sebab itulah engkau dimuliakan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- di dunia dan akherat. Maka siapakah yang mendapat faedah dari ibadah? Yang mendapat faedah dari ibadah adalah hamba sendiri. Adapun Allah -subhanahu wa ta’ala-, sesungguhnya Dia tidak butuh kepada mahluk-Nya.

[4] SYARAH :

Jika kamu telah mengetahui bahwa Allah -subhanahu wa ta’ala- menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka sesungguhnya ibadah itu tidak menjadi benar dan diridhai oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- kecuali jika terpenuhi dua syarat di dalamnya. Apabila salah satu dari dua syarat tersebut tidak ada, maka batallah ibadahnya.

  1. Syarat pertama : Menjadikan amalan tersebut ikhlas untuk wajah Allah -subhanahu wa ta’ala-, sehingga tidak ada kesyirikan didalamnya. Jika dicampur dengan kesyirikan, maka batallah (amalan tersebut), sebagaimana halnya bersuci jika dicampur dengan hadats, maka akan batal. Demikian pula jika kamu beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- kemudian menyekutukanNya, maka batallah ibadahmu.
  2. Syarat kedua : Mengikuti Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Ibadah apapun yang tidak datang dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- maka ibadah tersebut batal dan tertolak, karena termasuk bid’ah dan khurafat. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallah bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami maka perbuatan itu tertolak”

Dalam riwayat yang lain disebutkan,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ

“Barangsiapa yang membuat hal yang baru dalam urusan (agama) kami, maka perbuatan itu tertolak”

Maka ibadah itu harus sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- dan bukan dengan istihsanat (anggapan baik) manusia, niat, serta tujuan mereka. Selama ibadah tersebut tidak ada dalilnya dari syariat, maka hal itu adalah bid’ah dan tidak bermanfaat bagi pelakunya bahkan membahayakannya, karena merupakan kemaksiatan meskipun dia beranggapan dengan hal itu akan mendekatkan dirinya kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Dalam ibadah harus ada dua syarat ini, yakni ikhlas dan mengikuti Rasul -shallallahu’alaihi wa sallam-. Sehingga jadilah ibadah tersebut benar dan bermanfaat bagi pelakunya. Jika kesyirikan masuk kedalamnya, maka batallah ibadah tersebut, dan jika ibadah itu telah menjadi bid’ah dimana tidak ada dalil atasnya, maka menjadi batal pula. Tanpa dua syarat ini, tidak ada faedahnya suatu ibadah, karena ibadah itu tidak di atas apa yang disyariatkan Allah -subhanahu wa ta’ala-. Dan Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak menerima, kecuali apa yang disyariatkan dalam kitab-Nya atau atas lisan Rasul-Nya -shallallahu’alaihi wa sallam-.

Tidak ada seorangpun dari mahluk Allah -subhanahu wa ta’ala- yang wajib kita ikuti kecuali rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Adapun selain Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- maka dia diikuti dan ditaati jika mengikuti beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-. Jika menyelisihi Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-, maka tidak ada ketaatan kepadanya. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Ta’atilah Allah dan taatilah rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (An Nisaa’ : 59)

Ulil amri adalah para pemimpin dan para ulama. Jika mereka mentaati Allah -subhanahu wa ta’ala- maka wajib bagi kita mentaati dan mengikuti mereka. Adapun jika mereka menyelisihi perintah Allah -subhanahu wa ta’ala-, maka tidak boleh mentaati dan mengikuti penyimpangan mereka. Karena tidak ada seorangpun yang boleh ditaati secara mutlak dari mahluk yang ada ini kecuali Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Dan yang selain Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-, maka dia diikuti dan ditaati jika mentaati beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-. Inilah ibadah yang benar.

Bersambung.. Insya Alloh

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/04/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-3/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (2)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [2]

Desember 23, 2010

اعلم أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم أن تعبد الله وحده مخلصا له الدين كما قال تعالى: {وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ } (الذاريات آية 56. )

Ketahuilah! Semoga Alloh -subhanahu wa ta’ala- membimbingmu untuk taat kepadaNya. Sesungguhnya al hanifiyyah millah (agama) Ibrahim itu adalah kamu beribadah kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-, mengikhlaskan agama untukNya, sebagaimana Alloh -subhanahu wa ta’ala- berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz Dzariyat : 56)[2]


[2] SYARAH :

“Ketahuilah! Semoga Allah -subhanahu wa ta’ala- membimbingmu”.

Ini adalah do’a dari syaikh -rahimahullah-, demikianlah hendaknya seorang pengajar itu mendo’akan murid-muridnya.

Dan taat kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- itu artinya mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

“Sesungguhnya al hanifiyyah millah Ibrohim” .

Allah -subhanahu wa ta’ala- memerintahkan Nabi kita untuk mengikuti millah Ibrahim ‘alaihis salam. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (An Nahl : 23)

Al Hanifiyyah adalah agamanya al hanif yaitu Ibrahim ‘Alaihis salam. Sedangkan al hanif adalah menghadap kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan hatinya, amalan-amalannya, niat, serta tujuannya, semuanya untuk Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan berpaling dari yang selainNya. Allah -subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kita untuk mengikuti millah Ibrahim ‘alahis salam.

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.” (Al Hajj : 78)

Dan millahnya Ibahim adalah kamu beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- mengikhlaskan agama untukNya.

Ini adalah al Hanifiyyah. Syaikh -rahimahullah- tidak hanya berkata “Kamu beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-” saja, bahkan menyatakan, “Mengikhlaskan agama untukNya” yaitu jauhilah syirik, karena ibadah itu jika dicapuri kesyirikan, maka akan batal. Tidak akan menjadi ibadah, kecuali jika selamat dari syirik baik besar maupun kecil. Sebagaimana firman Allah -subhanahu wa ta’ala-

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (Al Bayyinah : 5)

Hunafaa’ adalah bentuk jamak dari hanif yaitu ikhlas untuk Allah -subhanahu wa ta’ala-. Allah -subhanahu wa ta’ala- memerintahkan seluruh mahluk dengan ibadah ini, sebagaimana Allah -subhanahu wa ta’ala- menyatakan,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku” (Adz Dzariyat : 56)

Makna “menyembahKu” adalah “mengesakanKu dalam ibadah”. Dan hikmah dari penciptaan mahluk adalah, bahwasanya mereka beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dan mengikhlaskan agama untukNya. Diantara mereka ada yang mengerjakannya, dan adapula yang tidak mengerjakannya, akan tetapi hikmah dari penciptaan mereka adalah ini. Sehingga orang yang beribadah kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah menyelisihi hikmah penciptaan makhluk, menyelisihi perintah dan syariat.

Ibrahim -‘alaihissalam- adalah bapaknya para Nabi yang datang setelahnya, maka seluruh (para nabi) berasal dari keturunannya. Oleh sebab itu Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ

“Dan Kami jadikan kenabian dan alKitab pada keturunannya.” (al ankabut : 27)

Mereka seluruhnya berasal dari bani Israil, anak cucu Ibrahim -‘alaihissalam-, kecuali Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam-, beliau berasal dari keturunan Ismail -‘alaihissalam-. Maka seluruh para Nabi berasal dari anak-anaknya Ibrahim –‘alaihissalam-, sebagai penghormatan baginya dan Allah -subhanahu wa ta’ala- menjadikannya sebagai “Imam” bagi manusia yaitu “contoh” (bagi mereka). Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً

“sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia” (Al baqarah : 124), maknanya yaitu panutan.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan” (An Nahl : 120)

Yaitu imam yang diteladani, dengan hal itu pula Allah -subhanahu wa ta’ala- perintahkan seluruh mahluk, sebagaimana firman Allah -subhanahu wa ta’ala-,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Adz Dzariyat : 56)

Maka Ibrahim -‘alaihissalam- mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- sebagaimana Nabi-Nabi selainnya. Seluruh Nabi mengejak manusia untuk beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah -subhanahu wa ta’ala-

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu” (An Nahl : 36)

Adapun syariat-syariat yang berupa perintah-perintah, larangan-larangan, halam dan haram, maka hal itu berbeda pada masing-masing ummat sesuai dengan berbedanya kebutuhan. Allah -subhanahu wa ta’ala- mensyariatkan suatu syariat lalu menghapuskannya dengan syariat yang lain sampai datangnya syariat Islam. Kemudian syariat Islam itu menghapus seluruh syariat (sebelumnya), dan tetaplah syariat Islam itu sampai hari kiamat.

Sedangkan inti agamanya para nabi yakni tauhid, maka ini belum dihapus dan tidak akan dihapus. Agama mereka satu yaitu agama Islam dengan makna “Ikhlas untuk Allah dengan Tauhid”. Adapun Syariat-syariat (lain) yang berbeda-beda dihapus, akan tetapi tauhid dan aqidah dari Adam -‘alaihissalam- sampai Nabi yang terakhir, semuanya mengajak kepada tauhid dan beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Ibadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah mentaatiNya pada setiap waktu dengan perkara yang diperintahkan dari syariat-syariat. Maka beramal dengan syariat yang menghapus adalah ibadah dan beramal dengan syariat yang telah dihapus bukanlah termasuk ibadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Bersambung.. Insya Alloh

https://abangdani.wordpress.com/2010/12/23/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-2/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (1)

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [1]

Desember 23, 2010

Berkata Syaikh Sholih Al-Fauzan -hafizhahulloh-

Segala puji hanya bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala- shalawat dan salam semoga tetap tercurah atas nabi kita Muhammad -shallAllohu’alaihi wa sallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Amma ba’du;

Ini adalah Syarah Qawaidul Arba’ yang dikarang oleh syaikul Islam Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah-. Karena aku melihat tidak ada orang yang mensyarahnya, maka aku ingin mensyarahnya sesuai dengan kekuatan dan kemampuanku. Mudah-mudahan Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengampuni kekuranganku didalamnya.

Berkata mu’allif (pengarang) -rahimahullah- :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة وأن يجعلك مباركا أينما كنت وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة.

Aku meminta kepada Alloh yang Maha Mulia, Rabbnya ‘Arsy yang agung untuk melindungimu di dunia dan akherat serta menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, juga menjadikanmu termasuk orang yang jika diberi bersyukur, jika mendapat ujian bersabar, serta jika berdosa beristighfar, maka sesungguhnya tiga hal itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.[1]


[1] SYARAH (PENJELASAN) :

Qawaidul arba’ yang dikarang oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul wahhab -rahimahullah- ini adalah risalah yang tersendiri, akan tetapi dicetak bersama “Tsalasatul Ushul” karena kebutuhan risalah tersebut agar berada di tangan-tangan penuntut ilmu.

Qawaid adalah bentuk jamak dari Qaidah. Sedangkan qaidah adalah pokok yang mempunyai cabang atau masalah yang banyak.

Kandungan empat kaidah yang disebutkan oleh Asy syaikh -rahimahullah- ini adalah mengenal tauhid dan syirik.

Apa kaidah di dalam tauhid? Dan apa kaidah di dalam syirik? Karena mayoritas manusia rusak dalam dua perkara ini, rusak dalam makna tauhid, apa itu (tauhid)? Dan mereka rusak dalam makna syirik, semua (orang) menafsirkan keduanya sesuai dengan hawa nafsunya masing-masing.

Akan tetapi, yang wajib bagi kita adalah mengembalikan kaidah tersebut kepada al qur’an dan sunnah, agar kaidah ini menjadi kaidah yang benar dan selamat yang diambil dari kitab Allah -subhanahu wa ta’ala- dan sunnah Rasul-Nya -shallallahu’alaihi wa sallam-, terutama dalam dua perkara besar ini, yakni tauhid dan syirik.

Syaikh -rahimahullah- tidak menyebutkan kaidah ini dari diri atau pikirannya sendiri, sebagaimana hal tersebut dilakukan oleh mayoritas orang-orang yang rusak, tetapi kaidah ini diambil dari Kitabullah, sunnah Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- serta sejarah beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-.

Jika kamu telah mengetahui kaidah ini dan memahaminya, maka akan mudah bagimu setelah itu mengenal tauhid yang Allah -subhanahu wa ta’ala- mengutus dengannya para Rasul-Nya dan menurunkan dengannya kitab-kitab-Nya, serta mengenal syirik yang Allah -subhanahu wa ta’ala- memperingatkan darinya, juga menjelaskan bahaya dan kerugiannya didunia dan akherat. Ini adalah perkara yang sangat penting dan itu lebih wajib atasmu daripada mengetahui hukum-hukum shalat, zakat, dan ibadah-ibadah serta seluruh perkara duniawiyah, karena hal ini adalah perkara yang paling utama dan mendasar. Sedangkan shalat, zakat, haji dan selainnya –dari perkara ibadah- tidaklah sah jika tidak dibangun diatas pondasi aqidah yang benar yaitu tauhid yang murni kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Sungguh Syaikh -rahimahullah- telah memberikan muqaddimah untuk Qawaidul ‘arba’ah ini dengan mukaddimah yang agung yang didalamnya terdapat do’a bagi pencari ilmu dan peringatan atas apa-apa yang akan mereka ucapkan. Ketika beliau -rahimahullah- berkata :

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة وأن يجعلك مباركا أينما كنت وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة

“Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabbnya ‘arsy yang agung untuk melindungimu di dunia dan akherat serta menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, juga menjadikanmu termasuk orang yang jika diberi bersyukur, jika mendapat ujian bersabar, serta jika berdosa beristighfar, maka sesungguhnya tiga hal itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.”.

Ini adalah mukaddimah yang agung. Padanya ada do’a dari Syaikh -rahimahullah- bagi setiap pencari ilmu yang mempelajari aqidahnya dan menginginkan –dari hal tersebut- kebenaran, serta menjauhi kesesatan dan kesyirikan. Sesungguhnya dia pantas untuk mendapat pelindungan Allah -subhanahu wa ta’ala- di dunia dan akherat.

Jika Allah -subhanahu wa ta’ala- melindunginya di dunia dan akherat maka tidak ada jalan bagi kejelekan untuk sampai kepadanya, tidak pada agamanya dan tidak pula pada dunianya. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir pelindungnya adalah syaitan.” (Al Baqarah : 257)

Apabila allah -subhanahu wa ta’ala- melindungimu, (maka Dia) akan mengeluarkanmu dari kegelapan, yakni kegelapan syirik dan kekufuran, keragu-raguan, serta penyimpangan menuju cahaya iman dan ilmu yang bermanfaat, serta amalan shalih.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung.” (Muhammad : 11)

Jika Allah -subhanahu wa ta’ala- melindungimu dengan pemeliharaan, taufiq, serta petunjukNya di dunia dan di akherat, maka kamu akan berbahagia dengan kebahagiaan yang tiada celaka selamanya. Di dunia Dia akan menolongmu dengan hidayah taufiq, serta berjalan diatas manhaj yang selamat. Diakherat Dia akan menolongmu dengan memasukkanmu kedalam surga-Nya dan kekal di dalamnya, dimana tiada rasa takut, sakit, celaka dan tua serta ketidakenakan. Ini merupakan pertolongn Allah -subhanahu wa ta’ala- kepada hambaNya yang beriman di dunia dan di akherat.

Berkata Syaikh -rahimahullah- :

“dan menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada.”

Bila Allah -subhanahu wa ta’ala- menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, maka ini adalah puncak yang dicari. Allah -subhanahu wa ta’ala- menjadikan barokah pada usia, rezeki, ilmu, amal, serta keturunanmu. Dimanapun kamu berada dan menghadap, barokah senantiasa menyertaimu, maka ini adalah kebaikan yang besar dan keutamaan dari Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Berkata Syaikh -rahimahullah- :

“Dan menjadikanmu termasuk orang-orang yang jika diberi bersyukur”

Ini berbeda dengan orang yang jika diberi mengingkari nikmat dan menolaknya. Sesungguhnya, mayoritas manusia jika diberi nikmat mereka mengkufuri, mengingkari dan memalingkan pada selain ketaatan kepada Allah -‘azza wa jalla-, sehingga hal itu menjadi sebab kesengsaraannya. Adapun orang yang bersyukur, maka Allah -subhanahu wa ta’ala- akan menambahnya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu menyatakan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.” (Ibrohim : 7)

Allah -subhanahu wa ta’ala- akan menambah keutamaan serta kebaikanNya kepada orang yang bersyukur, jika ingin bertambah kenikmatan [maka syukurilah], dan jika ingin hilang kenikmatanmu maka kufurilah.

Berkata Syaikh -rahimahullah- :

“Dan jika mendapat ujian bersabar”

Allah -subhanahu wa ta’ala- menguji hambaNya, menguji mereka dengan musibah, tipu daya, serta dengan musuh-musuh dari golongan orang-orang kafir dan munafiqin. Mereka membutuhkan kesabaran, tidak putus asa serta tidak putus harapan dari rahmat Allah -subhanahu wa ta’ala-. Mereka tetap diatas agamanya dan tidak menjauh bersama fitnah, atau menerima fitnah. Bahkan mereka tetap diatas agamanya dan bersabar atas apa yang dijalani dari kesusahan-kesusahan didalamnya. Berbeda dengan mereka yang diuji mengeluh dan marah-marah serta putus asa dari Rahmat Allah -‘azza wa jalla-, maka orang yang demikian akan ditambah dengan cobaan demi cobaan, musibah demi musibah. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

“sesungguhnya jika Allah -subhanahu wa ta’ala- mencintai suatu kaum, (maka Dia akan) menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan, dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan”. “Dan manusia yang paling besar ujiannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisalnya, setelah itu orang yang semisalnya.”

Para Rasul, shiddiqin, dan syuhada’ serta hamba-hamba Allah -subhanahu wa ta’ala- yang mu’min diuji, akan tetapi mereka bersabar. Adapun orang-orang munafiq, sungguh Allah -subhanahu wa ta’ala- menyatakan tentang mereka,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ

“Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada ditepi” (Al Hajj : 11)

Yang dimaksud tepi artinya ujung.

فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia kebelakang. Rugilah ia didunia dan diakherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Al Hajj : 11)

Dunia itu tidak selamanya nikmat, mewah, lezat, bahagia dan mendapat pertolongan. Allah -subhanahu wa ta’ala- menggilirkannya diantara para hambaNya. Para sahabat –yang merupakan ummat yang paling mulia- apa yang terjadi pada mereka dari ujian dan cobaan?  Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (Ali Imran : 140)

Maka, hendaknya seorang hamba menenangkan jiwanya. Jika dia diuji, sesungguhnya hal ini tidak khusus baginya. Wali-wali Allah -subhanahu wa ta’ala- telah mendahului dengan hal tersebut. Hendaknya ia tenangkan jiwanya dan bersabar, serta menunggu jalan keluar dari Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan akhir yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.

Berkata Syaikh -rahimahullah-,

“Dan jika berdosa meminta ampun”

Adapun orang yang jika berdosa tidak meminta ampun dan bertambah dosanya, maka celakalah dia –wal iyya’udzu billah-, akan tetapi seorang hamba yang beriman, setiap kali dia berbuat dosa maka dia akan segera bertaubat.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?” (Ali Imran : 135)

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ

“Sesungguhnya taubat disisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera” (An Nisaa’ : 17)

Arti jahalah itu bukanlah orang yang tidak berilmu, karena orang yang jahil (bodoh) tidak disiksa. Akan tetapi jahalah disini adalah lawan dari hilm (santun). Maka setiap orang yang bermaksiat kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dia adalah jahil, artinya kurang santunnya, kurang akalnya, dan kurang kemanusiaannya. Kadang-kadang ada orang yang alim (berilmu) akan tetapi jahil (bodoh) disisi yang lain, yaitu tidak memiliki kesantunan dan tidak benar dalam perkara tersebut.

“Kemudian mereka bertaubat dengan segera” artinya, setiap kali berbuat dosa mereka minta ampun. Tidak ada seorangpun yang maksum (terjaga) dari dosa, akan tetapi –alhamdulillah– Allah -subhanahu wa ta’ala- membuka pintu taubat. Maka jika seorang hamba berdosa wajib baginya untuk segera bertaubat. Jika dia tidak bertaubat meminta ampun, maka ini adalah tanda-tanda kesengsaraan, bahkan kadang-kadang ada yang putus asa dari Rahmat Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu setan mendatanginya dan berkata kepadanya “Tidak ada taubat bagimu”

Tiga perkara tersebut diatas yakni, jika diberi bersyukur, jika diuji bersabar dan jika berdosa meminta ampun merupakan tanda-tanda kebahagiaan. Barangsiapa yang mencocokinya dia akan mendapatkan kebahagiaan, dan barangsiapa yang terhalang darinya atau sebagiannya, maka dia akan sengsara (celaka).

Sumber: https://abangdani.wordpress.com/2010/12/23/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-1/