SAUDARAKU, JANGAN BINGUNG DENGAN QUNUT.!!!…

Apa Hukum Qunut dalam Sholat?

Iklan

SAUDARAKU, APAKAH MEMBACA ALQUR’AN DENGAN LANGGAM JAWA ITU TERMASUK BID’AH???

BID’AH-BID’AH SEPUTAR QIRA’AH (BACAAN AL-QUR’AN)

بسم الله الرحمن الرحيم

baca alquran langgam jawaOleh : Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid
BEBERAPA BID’AH PARA AHLI QIRA’AH YANG DISEBUTKAN OLEH PARA ULAMA;
1. Berlebih-lebihan melafazhkan huruf, bahkan menyalahi cara dan hukum penyebutan huruf karena adanya cara bertajwid yang dibuat-buat dan bahkan dipaksa-paksakan, sehingga meleset dari bacaan yang mudah dan lurus yang sesuai dengan firman Allah,

وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا

“Dan bacalah al-Qur’an dengan tartil” [al-Muzzamil : 4]
2. Membaca al-Qur’an bukan dengan logat Arab.
3. Membaca seperti cara orang fasik dan fajir (durhaka).

4. Membaca dengan nada dan gerakan tertentu. Seperti yang dilakukan oleh sebagian pengikut Tareqat yang membaca dengan iringan tarian/dansa/joget seperti yang dilakukan di halaman masjid al-Husein di Mesir dengan ditonton oleh orang banyak.

5. Membaca dengan cara melagu. Dan bid’ah yang lebih parah dari itu jika bacaan disertai dengan alat musik.

6. Melagu serta banyak mengulang-ulangi laguan.

7. Membaca cepat seperti halnya syair.

8. Membaca dengan cepat tanpa tadabbur (memperhatikan maknanya).

9. Mengangkat suara saat membaca dengan cara yang berlebih-lebihanan. Dan inilah yang menyebabkan timbulnya cara baru yang dibuat-buat saat membaca al-Qur’an, yaitu menempelkan kedua tangan pada kedua telinga ketika membaca al-Qur’an.

10. Duduk melingkar dan bergantian dalam membaca ayat atau surah sampai bacaan selesai. Tetapi cara ini diperbolehkan saat berkumpul untuk belajar al-Qur’an.

11. Membaca al-Qur’an di menara masjid. Ini merupakan tipu daya Iblis terhadap banyak ahli qira’ah, yaitu mereka membaca al-Qur’an di menara masjid pada waktu malam dengan paduan suara yang keras sampai berjuz-juz, sehingga mereka mengganggu dan menghalangi orang lain tidur, sekaligus dapat menjerumuskan diri mereka kepada perbuatan riya’[1] Bahkan di antara mereka ada yang sengaja membaca al-Qur’an di masjid di waktu setelah adzan, karena ini merupakan waktu berkumpulnya orang-orang di masjid.

12. Qaari’ (orang yang membaca Al-Qur’an) membaca sambil mengisap rokok, atau membaca al-qur’an di suatu majlis di mana orang-orang yang berkumpul mengisap rokok.

13. Menyibukkan diri dengan cara-cara bacaan yang syadz (nyleneh/aneh/rancu), padahal ini merupakan tipu daya Iblis terhadap mereka. Yaitu mereka menyibukkan diri dengan bacaan-bacaan seperti ini sehingga menghabiskan waktu dan umur mereka untuk mendalami, mengajarkan serta menyusun buku untuk hal itu, sehingga mereka sibuk dengan urusan qira’ah (bacaan) dan meninggalkan ilmu yang fardlu atau wajib. Sehingga anda terkadang mendapati seorang imam masjid yang sibuk dengan pengajaran cara bacaan yang syadz, padahal dia sendiri belum mengetahui hal-hal yang membatalkan sholat.

Bahkan terkadang sifat fanatik kejahilannya membuat dia berani dengan cepat tampil berfatwa, tetapi enggan ikut duduk menuntut ilmu di majlis ilmu yang dipimpin oleh ulama. Andaikan orang-orang seperti ini mau berfikir, niscaya mereka mengetahui bahwa yang seharusnya menjadi prioritas tujuan ialah menghafal al-Qur’an serta membenarkan cara bacaan (qira’ah), lalu memahami al-Qur’an dan mengamalkannya.
Kemudian mempelajari ilmu-ilmu yang dapat memperbaiki hati dan akhlaq, serta ilmu-ilmu syari’at yang lainnya. Dan merupakan kebodohan jika seseorang menghabiskan waktunya pada hal-hal yang tidak penting. Al-Hasan Al-Bashariy berkata: “Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, akan tetapi manusia menjadikan bacaan al-Qur’an sebagai pekerjaan.” Maksudnya: Mereka hanya mementingkan urusan bacaan tetapi tidak mengamalkan isi Al-Qur’an.
14. Membaca dengan dua qira’ah (cara baca) atau lebih pada satu ayat, di dalam sholat atau di luar sholat di tengah banyak orang. (Cara menbaca seperti ini diperbolehkan saat seorang guru menjelaskan cara-cara bacaan dalam pelajaran tafsir untuk mengetahui maksud setiap bacaan).

15. Termasuk bid’ah adalah mengkhususkan bacaan ayat atau surat tertentu dalam sholat wajib atau selain sholat wajib tanpa dalil, seperti:
a. Membiasakan membaca surah al-An’am pada rakaat terakhir malam ke tujuh bulan Ramadlan dengan meyakini bahwa hal itu disunnahkan.
b. Membaca surah al-Muddatstsir, al-Muzzammil atau al-Insyraah pada malam Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di sholat Isya’ atau sholat Fajar.
c. Membaca surat yang menyebutkan Nabi Musa Alaihissallam pada sholat fajar hari ‘Asyura.
d. Membaca surah al-Kafiruun dan al-Ikhlash di sholat maghrib pada malam Jum’at.
e. Membaca surah al-Falaq dan an-Naas pada sholat Maghrib pada malam Sabtu.
f. Menggabung ayat-ayat tertentu untuk dibaca secara khusus pada akhir-akhir shalat tarawih.
g. Membaca ayat-ayat yang berisi do’a di malam khatam pada rakaa’at terakhir sholat tarawih setelah membaca surah an-Naas.
h. Membaca dengan dua qira’ah (cara baca) dalam sholat adalah bid’ah, sama hukumnya dengan menggabung dua qira’ah saat membaca di luar sholat.
i. Membaca surah yang di dalamnya ada ayat sajadah selain (Alif Laam Miim –Tanzil- As-Sajdah) pada sholat fajar hari jum’at karena yang disunahkan ialah: membaca pada rakaat pertama (Alif Laam Miim –Tanziil- As-Sajdah) dan (surah al-Insan) pada rakaat kedua.
j. Menggabungkan ayat-ayat yang berisi tahlil (kalimat Laa ilaaha illa Allah) dan membacanya seperti halnya membaca surah.

16. Termasuk bid’ah adalah mengkhususkan membaca suatu ayat atau surah tanpa dalil pada waktu atau tempat tertentu untuk suatu hajat. Seperti:
a. Membaca al-Fatihah dengan niat untuk hajat tertentu atau menghilangkan kesusahan.
b. Membaca surah al-Kahfi pada hari Jum’at untuk orang-orang yang akan sholat Jum’at sebelum memulai khutbah Jum’at dengan suara yang keras.
c. Membaca surah Yaasiin 40 kali dengan niat terpenuhinya suatu hajat.
d. Mengkhususkan bacaan surah al-Kahfi sesudah Ashar pada hari Jum’at di masjid. (Kesalahannya karena mengkhususkan tempat dan waktu).
e. Membaca surah Yaasin saat memandikan mayit.
f. Membaca sepersepuluh dari al-Qur’an (oleh anak-anak dan selain anak-anak) pada malam Maulid.
g. Membaca al-Qur’an di hadapan jenazah atau di atas kubur.
h. Mengharuskan diri untuk senantiasa membaca al-Qur’an saat thawaf.

17. Termasuk bid’ah adalah kebiasaan para qaari’ (orang yang membaca Al-Qur’an) atau yang mendengarkan bacaannya mengucapkan do’a-do’a atau dzikir-dzikir yang tidak ada nash dalilnya saat membaca suatu ayat atau surah. Seperti:
a. Ucapan mereka setelah membaca al-Qur’an: “al-Fatihah.”
b. Ucapan mereka saat membaca al-Fatihah: “Shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa.”
c. Ucapan qaari’ (orang yang membaca Al-Qur’an): “al-Fatihah –Ziyaadatan Fii Syarafin Nabiyyi Shallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.”
d. Ucapan orang-orang yang mendengarkan bacaan qaari’ (orang yang membaca Al-Qur’an): “Allah, Allah,” atau ucapan-ucapan lainnya yang ditujukan kepada qaari saat ia membaca, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأِذَا قُرِىءَ القُرءَانُ فاَستمعُوا لَهُ وَأنصِتُوا لَعَلكُم تُرحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” [al-A’raaf: 204]
e. Membiasakan ucapan, “Shadaqa Allaah ul-‘Azhiim” setelah selesai membaca al-Qur’an.
18. Bid’ah-bid’ah khatam, seperti:
a. Membaca semua ayat-ayat sajadah setelah khatam.
b. Bertahlil empat belas kali.
c. Mengadakan perayaan malam khatam.
d. Khutbah sebelum atau sesudah acara.
e. Saling berjanji untuk khatam.
f. Berteriak saat khatam.
g. Menyalakan api malam khatam.
19. Termasuk bid’ah adalah membaca al-Qur’an untuk meminta-minta. Di antaranya dengan cara memutar bacaan kaset al-Qur’an sambil meminta-minta di gang-gang jalanan dan di toko-toko pasar.
20. Meletakkan kedua tangan di kedua telinga atau satu tangan di sebelah telinga saat membaca al-Qur’an.21. Tujuh hal yang menyangkut khatam:
a. Penyempurnaan khatam, artinya: makmum membaca semua ayat yang ditinggalkan oleh imam, setelah itu imam kembali membaca semua ayat yang telah ia tinggalkan.
b. Menganggap bahwa disukai mengkhatam al-Qur’an pada sore hari di musim dingin, dan di pagi hari pada musim kemarau.
c. Menyambung satu khatam dengan khatam lain dengan perantaraan/sambungan surah al-Fatihah atau dengan membaca lima ayat dari surah al-Baqarah.
d. Mengulang-ulangi surah al-Ikhlash tiga kali.
e. Bertakbir di akhir surat ad-Dluha sampai akhir surah An-Naas di dalam sholat atau di luar sholat.
f. Puasa pada hari khatam.
g. Membaca do’a khatam dalam sholat.

TAQLID (MENIRU) SUARA QAARI’
Fitnah (kesesatan; kesalahan) meniru suara para qaari’ (orang yang membaca Al-Qur’an) dan mempraktekkannya di masjid-masjid di hadapan Allah adalah perkara yang dianggap bid’ah (tambahan) dalam urusan ibadah membaca al-Qur’an. Padahal merupakan suatu hal yang dimaklumi bahwa hal meniru suara yang qaari’ yang baik bisa dilakukan pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pada zaman para sahabat radliyallahu ‘anhum, tetapi tidak diketahui adanya di kalangan mereka yang bertaqaarub (beribadah) kepada Allah dengan meniru-niru suara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dari sini diketahui bahwa perbuatan tersebut tidak masyru’ (disyari’atkan/diajarkan) sekaligus merupakan sikap mengada-ada dalam persoalan ibadah.

Padahal menurut qaidah syara’ bahwa setiap perkara ibadah yang diada-adakan adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah kesesatan.

Hal inilah -pada zaman kita ini- yang membuat banyak orang berdesak-desakan mengerumuni masjid-masjid yang imamnya mempunyai prinsip seperti di atas (meniru suara para qaari’ yang terkenal). Sehingga banyak orang pada bulan Ramadlan yang bepergian dari satu negeri ke negeri lain dengan tujuan sholat tarawih di suatu masjid yang imamnya mempunyai “suara yang bagus”.

Coba anda camkan baik-baik hal ini, betapa terinjak-injaknya Sunnah Nabi tentang larangan “sengaja bepergian (ke tempat yang dimuliakan-red) kecuali ke tiga masjid: Masjid Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid al-Aqsha”.[2]

Dan di antara hal yang muncul dari perbuatan tadi:
1. Adanya perasaan tidak senang sholat di belakang imam yang tidak begitu bagus suaranya.
2. Banyaknya orang yang kehilangan khusyu’ dalam sholatnya akibat ketergantungan kepada kebagusan suara.

Dan saya menasehati setiap muslim yang membaca Kitab Allah Ta’ala, khususnya para imam masjid-masjid, agar menghentikan sifat meniru-niru dan taqlid dalam membaca kalam Allah Rabbul-Alamiin. Kalam Allah lebih mulia dan lebih besar nilainya dibanding dengan perbuatan seorang qaari’ dalam melakukan apa-apa yang tidak diperintahkan secara syar’iy kepadanya.
Allah berfirman tentang perihal sifat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَمَاأَنَا مِنَ المُتَكَلفِينَ

“Dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan”. [Shaad: 86].
Hendaknya setiap hamba berusaha untuk menghadirkan hati dan memperbaiki niat, sehingga ia membaca al-Qur’an dengan memperbagus suaranya tanpa mengada-ada dan memaksakan diri di luar kemampuannya. Janganlah mengada-ada dengan melagu serta memaksa-maksakan bacaan serta cara baca yang dilarang. Dan sepantasnya orang-orang yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengangkat imam masjid supaya memilih imam yang lebih memadai keilmuaanya, bertaqwa, bersifat wara’, mempunyai aqidah yang bersih dari penyakit syubhat, mempunyai perangai bersih dari penyakit syahwat, serta lebih mendahulukan yang bersuara baik.
MENGGOYANG-GOYANGKAN KEPALA DAN BADAN SAAT MEMBACA AL-QUR’AN
Yaitu bid’ah kebiasaan orang-orang Yahudi yang biasa mereka lakukan saat mereka belajar, kemudian merembet kepada anak-anak kaum muslimin, pertama-tama di Mesir. Jika mereka membaca al-Qur’an di sekolah, mereka mengerak-gerakan kepala dan melenggak-lenggok. (Seperti yang dijelaskan oleh Abu Hayyan Al-Andalusiy dan Al-Raa’iy Al-Andalusiy).
MEMILIH BACAAN AYAT-AYAT PADA SHOLAT JUM’AT YANG SESUAI DENGAN PEMBAHASAN KHUTBAH
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusun bacaan sholat Jum’at dengan tiga sunnah bacaan:
1. Surah Al-Jumu’ah dan Surah Al-Munafiqun
2. Surah Al-Jumu’ah dan surah Al-Ghaasyiyah
3. Surah Al-‘A-laa (Sabbihisma) dan surah Al-Ghaasyiyah.Sungguh pada zaman kita ini telah terjadi adanya sikap berpaling sebagian orang dari bacaan yang disyari’atkan ini kepada pilihan pribadi imam, yaitu memilih ayat-ayat atau surah yang menurutnya sesuai dengan thema khutbah.

Cara ini tidak berasal dari sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak berasal dari pengaalan Salaful-Ummah, sehingga menjadikan cara tadi sebagai suatu kebiasaan pengamalan adalah bid’ah. Begitu pula (jika) dengan niat meninggalkan yang disyari’atkan dan mengamalkan selain yang disunnahkan untuk dijadikan sebagai cara pengamalan yang dianggap sunnah, maka sikap ini dianggap sebagai sikap ingin menyempurnakan syariat (yang seakan-akan belum sempurna), meninggalkan yang masyru’, menganggap cara tadi sunnah serta membuat orang-orang awam terkecoh dengan cara-cara seperti itu, Wallahu a’lam.

MELAFAZHKAN AYAT-AYAT TERTENTU SAAT BERKHUTBAH DENGAN NADA SUARA BERUBAH-UBAH
Di antara hal-hal yang diada-adakan oleh para penceramah dan sebagian khatib pada zaman ini ialah merubah-ubah suara saat membaca ayat-ayat al-Qur’an untuk mengatur suaranya saat berceramah atau berkhutbah.

Cara ini tidak dikenal dari ulama-ulama salaf terdahulu, dan juga para ulama yang mempunyai banyak pengikut. Dan anda tak menjumpainya di kalangan ulama-ulama yang mulia yang diakui pada zaman kita, bahkan mereka menghindari cara bacaan seperti ini, dan banyak hadirin yang mendengarkan bacaan itu yang merasa tidak suka. Cara membacanyapun berbeda-beda, dan semua cara yang salah tidak diperhitungkan, sebagaimana tidak diperhitungkannya orang yang menyalahi metode periode awal umat ini dan ulama salaf.

[Ringkasan kitab Bida’ul Qura’ Al-Qadimah wal Mu’ashirah karya Syeikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, diringkas oleh M. Dahri]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun V/1422/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]
________
Footnote
[1]. Sebagaimana banyak dilakukan di masjid-masjid kaum muslimin di negeri ini, yang mereka membaca Al-Qur’an lewat pengeras suara masjid sebagai ganti di menara, ini tentulah lebih mengganggu tidur orang lain daripada sekedar membaca di menara. Wallahu Musta’an-Red
[2]. Lihat majalah Sunnah edisi 11/Th.IV/1421-2000, hal:52-54-Red]

sumber : http://almanhaj.or.id/content/2825/slash/0/bidah-bidah-seputar-qiraah/

HATI-HATI, ADA BID’AH AWAL TAHUN BARU !!

Fatwa Ulama: Mengkhususkan Malam Awal Tahun Dengan Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم

Fatwa IslamWeb (asuhan Syaikh Abdullah Al Faqih)

Soal:

Apa hukum mengkhususkan awal tahun dengan ibadah sholat malam dan ibadah lainnya? Dan apa hukumnya mengajak orang untuk sholat malam di malam itu serta bangun di malam hari untuk melakukan berbagai ibadah dengan cara berjamaah?

Jawab:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:

Tidak terdapat riwayat dalam As Sunnah bahwa pada malam awal tahun dikhususkan dengan ibadah. Dan setiap Muslim wajib untuk menjauhkan diri dari perbuatan bid’ah dalam agama. Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

من أحدث في أمرنا هذا ماليس منه فهو رد

“Barangsiapa yang membuat-buat perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama), yang tidak ada tuntunan darinya, maka hal itu tertolak

Para ulama mendefinisikan bahwa bid’ah adalah setiap ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam padahal ketika itu terdapat dorongan (motivasi) terhadap ibadah tersebut serta tidak ada halangan untuk melakukannya.

Selain itu, terdapat riwayat yang melarang mengkhususkan malam Jum’at dengan ibadah. Diriwayatkan Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at dengan sholat malam dibanding malam-malam yang lain”

Dengan demikian, jika terlarang mengkhususkan ibadah di malam yang telah jelas diketahui keutamaannya, dibanding malam-malam yang lain, maka mengkhususkan ibadah di malam yang tidak memiliki keistimewaan dan keutaman lebih terlarang lagi.

Lebih lagi, mengkhususkan malam awal tahun dengan kegiatan tertentu merupakan kebiasaan kaum kuffar, dan kita telah dilarang untuk menyerupai mereka. Sehingga mengkhususkan ibadah di malam awal tahun pun terlarang dari sisi ini.

Adapun mengajak orang untuk bangun di malam hari serta sholat malam secara berjamaah, tidak mengapa in syaa Allah. Jika memang tujuannya adalah ibadah dan mengajarkan orang-orang untuk membiasakan sholat malam. Adapun jika kumpul-kumpul tersebut disertai keyakinan bahwa malam tersebut memiliki keutamaan dan keistimewaan tertentu dibanding malam yang lain, maka tidak diperbolehkan dengan alasan-alasan yang sudah disebutkan sebelumnya.

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=57818

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslim.Or.Id

BID’AHKAH TAHLILAN ???

TAHLILAN ADALAH BID’AH MENURUT MADZHAB SYAFI’IY

Sering kita dapati sebagian ustadz atau kiyai yang mengatakan, “Tahlilan kok dilarang?, tahlilan kan artinya Laa ilaah illallahh?”.

Tentunya tidak seorang muslimpun yang melarang tahlilan, bahkan yang melarang tahlilan adalah orang yang tidak diragukan kekafirannya. Akan tetapi yang dimaksud dengan istilah “Tahlilan” di sini adalah acara yang dikenal oleh masyarakat yaitu acara kumpul-kumpul di rumah kematian sambil makan-makan disertai mendoakan sang mayit agar dirahmati oleh Allah.

Lebih aneh lagi jika ada yang melarang tahlilan langsung dikatakan “Dasar wahabi”..!!!

Seakan-akan pelarangan melakukan acara tahlilan adalah bid’ah yang dicetuskan oleh kaum wahabi !!?

Sementara para pelaku acara tahlilan mengaku-ngaku bahwa mereka bermadzhab syafi’iy !!!. Ternyata para ulama besar dari madzhab Syafi’iyah telah mengingkari acara tahlilan, dan menganggap acara tersebut sebagai bid’ah yang mungkar, atau minimal bid’ah yang makruh. Kalau begitu para ulama syafi’yah seperti Al-Imam Asy-Syafi’iy dan Al-Imam An-Nawawi dan yang lainnya adalah wahabi??!!

A. Ijmak Ulama bahwa Nabi, para shahabat, dan para imam madzhab tidak pernah tahlilan

Tentu sangat tidak diragukan bahwa acara tahlilan –sebagaimana acara maulid Nabi dan bid’ah-bid’ah yang lainnya- tidaklah pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga para sahabatnya, tidak juga para tabi’in, dan bahkan tidak juga pernah dilakukan oleh 4 imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, dan Ahmad rahimahumullah).

Akan tetapi anehnya sekarang acara tahlilan pada kenyataannya seperti merupakan suatu kewajiban di pandangan sebagian masyarakat. Bahkan merupakan celaan yang besar jika seseorang meninggal lalu tidak ditahlilkan. Sampai-sampai ada yang berkata, “Kamu kok tidak mentahlilkan saudaramu yang meninggal??, seperti nguburi kucing aja !!!”.

Tidaklah diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kehilangan banyak saudara, karib kerabat, dan juga para sahabat beliau yang meninggal di masa kehidupan beliau. Anak-anak beliau (Ruqooyah, Ummu Kaltsum, Zainab, dan Ibrahim radliyallahu ‘anhum) meninggal semasa hidup beliau, akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah semuanya dikuburkan oleh Nabi seperti menguburkan kucing??.

Istri beliau yang sangat beliau cintai Khodijah radhiallahu ‘anhaa juga meninggal di masa hidup beliau, akan tetapi sama sekali tidak beliau tahlilkan. Jangankan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 bahkan sehari saja tidak beliau tahlilkan. Demikian juga kerabat-kerabat beliau yang beliau cintai meninggal di masa hidup beliau, seperti paman beliau Hamzah bin Abdil Muthholib, sepupu beliau Ja’far bin Abi Thoolib, dan juga sekian banyak sahabat-sahabat beliau yang meninggal di medan pertempuran, tidak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula jika kita beranjak kepada zaman al-Khulafaa’ ar-Roosyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) tidak seorangpun yang melakukan tahlilan terhadap saudara mereka atau sahabat-sahabat mereka yang meninggal dunia.

Nah lantas apakah acara tahlilan yang tidak dikenal oleh Nabi dan para shahabatnya, bahkan bukan merupakan syari’at tatkala itu, lantas sekarang berubah statusnya menjadi syari’at yang sunnah untuk dilakukan??!!, bahkan wajib??!! Sehingga jika ditinggalkan maka timbulah celaan??!!

Sungguh indah perkataan Al-Imam Malik (gurunya Al-Imam Asy-Syaafi’iy rahimahumallahu)

فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا لاَ يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنً

“Maka perkara apa saja yang pada hari itu (pada hari disempurnakan Agama kepada Nabi, yaitu masa Nabi dan para sahabat-pen) bukan merupakan perkara agama maka pada hari ini juga bukan merupakan perkara agama.”(Al-Ihkam, karya Ibnu Hazm 6/255)

Bagaimana bisa suatu perkara yang jangankan merupakan perkara agama, bahkan tidak dikenal sama sekali di zaman para shahabat, kemudian lantas sekarang menjadi bagian dari agama !!!

B. Yang Sunnah adalah meringankan beban keluarga mayat bukan malah memberatkan

Yang lebih tragis lagi acara tahlilan ini ternyata terasa berat bagi sebagian kaum muslimin yang rendah tingkat ekonominya. Yang seharusnya keluarga yang ditinggal mati dibantu, ternyata kenyataannya malah dibebani dengan acara yang berkepanjangan…biaya terus dikeluarkan untuk tahlilan…hari ke-3, hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, hari ke-1000…

Tatkala datang kabar tentang meninggalnya Ja’far radliyallahu ‘anhu maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

اِصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ

“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukan mereka” (HR Abu Dawud no 3132).

Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah berkata,

وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

“Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat. Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja’far maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’afar, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka” (Kitab Al-Umm 1/278)

C. Argumen Madzhab Syafi’iy Yang Menunjukkan makruhnya/bid’ahnya acara Tahlilan

Banyak hukum-hukum madzhab Syafi’iy yang menunjukkan akan makruhnya/bid’ahnya acara tahlilan. Daintaranya;

PERTAMA : Pendapat madzhab Syafi’iy yang mu’tamad (yang menjadi patokan) adalah dimakruhkan berta’ziah ke keluarga mayit setelah tiga hari kematian mayit. Tentunya hal ini jelas bertentangan dengan acara tahlilan yang dilakukan berulang-ulang pada hari ke-7, ke-40, ke-100, dan bahkan ke-1000

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

“Para sahabat kami (para fuqohaa madzhab syafi’i) mengatakan : “Dan makruh ta’ziyah (melayat) setelah tiga hari. Karena tujuan dari ta’ziah adalah untuk menenangkan hati orang yang terkena musibah, dan yang dominan hati sudah tenang setelah tiga hari, maka jangan diperbarui lagi kesedihannya. Dan inilah pendapat yang benar yang ma’ruf….” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/277)

Setalah itu al-Imam An-Nawawi menyebutkan pendapat lain dalam madzhab syafi’iy yaitu pendapat Imam Al-Haromain yang membolehkan ta’ziah setelah lewat tiga hari dengan tujuan mendoakan mayat. Akan tetapi pendapat ini diingkari oleh para fuqohaa madzhab syafi’iy.

Al-Imam An-Nawawi berkata,

“Dan Imam al-Haromain menghikayatkan –satu pendapat dalam madzhab syafi’iy- bahwasanya tidak ada batasan hari dalam berta’ziah, bahkan boleh berta’ziah setelah tiga hari dan meskipun telah lama waktu, karena tujuannya adalah untuk berdoa, untuk kuat dalam bersabar, dan larangan untuk berkeluh kesah. Dan hal-hal ini bisa terjadi setelah waktu yang lama. Pendapat ini dipilih (dipastikan) oleh Abul ‘Abbaas bin Al-Qoosh dalam kitab “At-Talkhiis”.

Al-Qoffaal  (dalam syarahnya) dan para ahli fikih madzhab syafi’iy yang lainnya mengingkarinya. Dan pendapat madzhab syafi’i adalah adanya ta’ziah akan tetapi tidak ada ta’ziah setelah tiga hari. Dan ini adalah pendapat yang dipastikan oleh mayoritas ulama.

Al-Mutawalli dan yang lainnya berkata, “Kecuali jika salah seorang tidak hadir, dan hadir setelah tiga hari maka ia boleh berta’ziah”. (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/277-278)

Lihatlah dalam perkataan al-Imam An-Nawawi di atas menunjukkan bahwasanya dalih untuk mendoakan sang mayat tidak bisa dijadikan sebagai argument untuk membolehkan acara tahlilan !!!

KEDUA : Madzhab syafi’iy memakruhkan sengajanya keluarga mayat berkumpul lama-lama dalam rangka menerima tamu-tamu yang berta’ziyah, akan tetapi hendaknya mereka segera pergi dan mengurusi kebutuhan mereka.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

“Adapun duduk-duduk untuk ta’ziyah maka Al-Imam Asy-Syafi’iy menashkan (menyatakan) dan juga sang penulis al-Muhadzdzab serta seluruh ahli fikih madzhab syafi’iy akan makruhnya hal tersebut…

Mereka (para ulama madzhab syafi’iy) berkata : Yang dimaksud dengan “duduk-duduk untuk ta’ziyah” adalah para keluarga mayat berkumpul di rumah lalu orang-orang yang hendak ta’ziyah pun mendatangi mereka.

Mereka (para ulama madzhab syafi’iy) berkata : Akan tetapi hendaknya mereka (keluarga mayat) pergi untuk memenuhi kebutuhan mereka, maka barang siapa yang bertemu mereka memberi ta’ziyah kepada mereka. Dan hukumnya tidak berbeda antara lelaki dan wanita dalam hal dimakruhkannya duduk-duduk untuk ta’ziyah…”

Al-Imam Asy-Syafi’iy berkata dalam kitab “Al-Umm” :

“Dan aku benci al-maatsim yaitu berkumpulnya orang-orang (di rumah keluarga mayat –pen) meskipun mereka tidak menangis. Karena hal ini hanya memperbarui kesedihan, dan membebani pembiayayan….”. ini adalah lafal nash (pernyataan) Al-Imam Asy-syafi’iy dalam kitab al-Umm. Dan beliau diikuti oleh para ahli fikih madzhab syafi’iy.

Dan penulis (kitab al-Muhadzdzab) dan yang lainnya juga berdalil untuk pendapat ini dengan dalil yang lain, yaitu bahwasanya model seperti ini adalah muhdats (bid’ah)” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/278-279)

Sangat jelas dari pernyataan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ini bahwasanya para ulama madzhab syafi’iy memandang makruhnya berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayat karena ada 3 alasan :

(1) Hal ini hanya memperbarui kesedihan, karenanya dimakruhkan berkumpul-kumpul meskipun mereka tidak menangis

(2) Hal ini hanya menambah biaya

(3) Hal ini adalah bid’ah (muhdats)

KETIGA : Madzhab syafi’iy memandang bahwa perbuatan keluarga mayat yang membuat makanan agar orang-orang berkumpul di rumah keluarga mayat adalah perkara bid’ah

Telah lalu penukilan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah,

وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

“Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat. Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja’far maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’afar, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka” (Kitab Al-Umm 1/278)

Akan tetapi jika ternyata para wanita dari keluarga mayat berniahah (meratapi) sang mayat maka para ulama madzhab syafi’iy memandang tidak boleh membuat makanan untuk mereka (keluarga mayat).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

Para sahabat kami (para ahli fikih madzhab syafi’iy) rahimahullah berkata, “Jika seandainya para wanita melakukan niyahah (meratapi sang mayat di rumah keluarga mayat-pen) maka tidak boleh membuatkan makanan bagi mereka. Karena hal ini merupakan bentuk membantu mereka dalam bermaksiat.

Penulis kitab as-Syaamil dan yang lainnya berkata : “Adapun keluarga mayat membuat makanan dan mengumpulkan orang-orang untuk makan makanan tersebut maka tidak dinukilkan sama sekali dalilnya, dan hal ini merupakan bid’ah, tidak mustahab (tidak disunnahkan/tidak dianjurkan)”.

Ini adalah perkataan penulis asy-Syaamil. Dan argumen untuk pendapat ini adalah hadits Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Kami memandang berkumpul di rumah keluarga mayat dan membuat makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah”. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Maajah dengan sanad yang shahih”. (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/290)

D. Fatwa para ulama 4 madzhab di kota Mekah akan bid’ahnya tahlilan

Diantara para ulama madzhab syafi’iy lainnya yang menyatakan dengan tegas akan bid’ahnya tahlilan adalah :

Dalam kitab Hasyiah I’aanat at-Thoolibin, Ad-Dimyaathi berkata,

“Aku telah melihat pertanyaan yang ditujukan kepada para mufti kota Mekah tentang makanan yang dibuat oleh keluarga mayat dan jawaban mereka tentang hal ini.

(Pertanyaan) : Apakah pendapat para mufti yang mulia di tanah haram –semoga Allah senantiasa menjadikan mereka bermanfaat bagi manusia sepanjang hari- tentang tradisi khusus orang-orang yang tinggal di suatu negeri, yaitu bahwasanya jika seseorang telah berpindah ke daarul jazaa’ (akhirat) dan orang-orang kenalannya serta tetangga-tetangganya menghadiri ta’ziyah (melayat) maka telah berlaku tradisi bahwasanya mereka menunggu (dihidangkannya) makanan. Dan karena rasa malu yang meliputi keluarga mayat maka merekapun bersusah payah untuk menyiapkan berbagai makanan untuk para tamu ta’ziyah tersebut. Mereka menghadirkan makanan tersebut untuk para tamu dengan susah payah. Maka apakah jika kepala pemerintah yang lembut dan kasih sayang kepada rakyat melarang sama sekali tradisi ini agar mereka kembali kepada sunnah yang mulia yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana  beliau berkata, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far”, maka sang kepala pemerintahan ini akan mendapatkan pahala karena pelarangan tersebut?. Berikanlah jawaban dengan tulisan dan dalil !!”

Jawaban,

“Segala puji hanya milik Allah, dan semoga shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya setelahnya. Ya Allah aku meminta kepadMu petunjuk kepada kebenaran.

Benar bahwasanya apa yang dilakukan oleh masyarakat berupa berkumpul di keluarga mayat dan pembuatan makanan merupakan bid’ah yang munkar yang pemerintah diberi pahala atas pelarangannya ….

Dan tidaklah diragukan bahwasanya melarang masyarakat dari bid’ah yang mungkar ini, padanya ada bentuk menghidupkan sunnaah dan mematikan bid’ah, membuka banyak pintu kebaikan dan menutup banyak pintu keburukan. Karena masyarakat benar-benar bersusah payah, yang hal ini mengantarkan pada pembuatan makanan tersebut hukumnya haram. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh : Yang mengharapkan ampunan dari Robnya : Ahmad Zainy Dahlan, mufti madzhab Syafi’iyah di Mekah”

Adapun jawaban Mufti madzhab Hanafiyah di Mekah sbb,

“Benar, pemerintah (waliyyul ‘amr) mendapatkan pahala atas pelarangan masyarakat dari perbuatan-perbuatan tersebut yang merupakah bid’ah yang buruk menurut mayoritas ulama….

Penulis Raddul Mukhtaar berkata, “Dan dibenci keluarga mayat menjamu dengan makanan karena hal itu merupakan bentuk permulaan dalam kegembiraan, dan hal ini merupakan bid’ah“…

Dan dalam al-Bazzaaz : “Dan dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, hari ketiga, dan setelah seminggu, serta memindahkan makanan ke kuburan pada waktu musim-musim dst”…

Ditulis oleh pelayan syari’at dan minhaaj : Abdurrahman bin Abdillah Sirooj, Mufti madzhab Hanafiyah di Kota Mekah Al-Mukarromah…

Ad-Dimyathi berkata : Dan telah menjawab semisal dua jawaban di atas Mufti madzhab Malikiah dan Mufti madzhab Hanabilah” (Hasyiah I’aanat at-Thoolibin 2/165-166)

Penutup

Pertama : Mereka yang masih bersikeras melaksanakan acara tahlilan mengaku bermadzhab syafi’iyah, akan tetapi ternyata para ulama syafi’iyah membid’ahkan acara tahlilan !!. Lantas madzhab syafi’iyah yang manakah yang mereka ikuti ??

(silahkan baca juga : http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/tahlilan-dalam-pandangan-nu.html)

Kedua :  Para ulama telah ijmak bahwasanya mendoakan mayat yang telah meninggal bermanfaat bagi sang mayat. Demikian pula para ulama telah berijmak bahwa sedekah atas nama sang mayat akan sampai pahalanya bagi sang mayat. Akan tetapi kesepakatan para ulama ini tidak bisa dijadikan dalil untuk melegalisasi acara tahlilan, karena meskipun mendoakan mayat disyari’atkan dan bersedakah (dengan memberi makanan) atas nama mayat disyari’atkan, akan tetapi kaifiyat (tata cara) tahlilan inilah yang bid’ah yang diada-adakan yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabatnya. Kreasi tata cara inilah yang diingkari oleh para ulama syafi’iyah, selain merupakan perkara yang muhdats juga bertentangan dengan nas (dalil) yang tegas :

–         Dari Jarir bin Abdillah radliyallahu ‘anhu : “Kami memandang berkumpul di rumah keluarga mayat dan membuat makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah”. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Maajah dengan sanad yang shahih”

–         Berlawanan dengan sunnah yang jelas untuk membuatkan makanan bagi keluarga mayat dalam rangka meringankan beban mereka

Bid’ah sering terjadi dari sisi kayfiyah (tata cara). Karenanya kita sepakat bahwa adzan merupakan hal yang baik, akan tetapi jika dikumandangkan tatkala sholat istisqoo, sholat gerhana, sholat ‘ied maka ini merupakan hal yang bid’ah. Kenapa?, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah melakukannya.

Demikian juga bahwasanya membaca ayat al-kursiy bisa mengusir syaitan, akan tetapi jika ada seseorang lantas setiap kali keluar dari masjid selalu membaca ayat al-kursiy dengan dalih untuk mengusir syaitan karena di luar masjid banyak syaitan, maka kita katakan hal ini adalah bid’ah. Kenapa?, karena kaifiyyah dan tata cara seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.

Ketiga : Kalau kita boleh menganalogikan lebih jauh maka bisa kita katakan bahwasanya orang yang nekat untuk mengadakan tahlilan dengan alasan untuk mendoakan mayat dan menyedekahkan makanan, kondisinya sama seperti orang yang nekat sholat sunnah di waktu-waktu terlarang. Meskipun ibadah sholat sangat dicintai oleh Allah, akan tetapi Allah telah melarang melaksanakan sholat pada waktu-waktu terlarang.

Demikian pula berkumpul-kumpul di rumah keluarga kematian dan bersusah-susah membuat makanan untuk para tamu bertentangan dan bertabrakan dengan dua perkara di atas:

–         Sunnahnya membuatkan makanan untuk keluarga mayat

–         Dan hadits Jarir bin Abdillah tentang berkumpul-kumpul di keluarga mayat termasuk niyaahah yang dilarang.

Keempat : Untuk berbuat baik kepada sang mayat maka kita bisa menempuh cara-cara yang disyari’atkan, sebagaimana telah lalu. Diantaranya adalah mendoakannya kapan saja –tanpa harus acara khusus tahlilan-, dan juga bersedakah kapan saja, berkurban atas nama mayat, menghajikan dan mengumrohkan sang mayat, dll.

Adapun mengirimkan pahala bacaan Al-Qur’an maka hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahwasanya mengirimkan pahala bacaan al-Qur’an tidak akan sampai bagi sang mayat.

Kelima : Kalaupun kita memilih pendapat ulama yang menyatakan bahwa mengirim bacaan al-qur’an akan sampai kepada mayat, maka kita berusaha agar kita atau keluarga yang mengirimkannya, ataupun orang lain adalah orang-orang yang amanah.

Adapun menyewa para pembaca al-Qur’an yang sudah siap siaga di pekuburan menanti kedatangan para peziarah kuburan untuk membacakan al-quran dan mengirim pahalanya maka hendaknya dihindari karena :

–         Tidak disyari’atkan membaca al-Qur’an di kuburan, karena kuburan bukanlah tempat ibadah sholat dan membaca al-Qur’an

–         Jika ternyata terjadi tawar menawar harga dengan para tukang baca tersebut, maka hal ini merupakan indikasi akan ketidak ikhlasan para pembaca tersebut. Dan jika keikhlasan mereka dalam membaca al-qur’an sangat-sangat diragukan, maka kelazimannya pahala mereka juga sangatlah diragukan. Jika pahalanya diragukan lantas apa yang mau dikirimkan kepada sang mayat??!!

–         Para pembaca sewaan tersebut biasanya membaca al-Qur’an dengan sangat cepat karena mengejar dan memburu korban penziarah berikutnya. Jika bacaan mereka terlalu cepat tanpa memperhatikan tajwid, apalagi merenungkan maknanya, maka tentu pahala yang diharapkan sangatlah minim. Terus apa yang mau dikirimkan kepada sang mayat ??!!

 

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 10-05-1434 H / 22 Maret 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.com

 

ADA APA DENGAN SYA’BAN (3) ???

BID’AH-BID’AH SEPUTAR SYA’BAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Sya'ban3Sebagaimana telah diketahui, bahwa di dalam agama ini terdapat perintah dan larangan. Jika Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam perintahkan sesuatu maka keduanyapun melarang sesuatu lainnya yang bertentangan dengannya. Ketika keduanya memerintahkan umat manusia untuk beriman maka keduanya juga melarang kekufurun, dikala menyuruh mereka bertauhid maka terdapat juga larangan dari berbuat syirik dan begitupun tatkala menyuruh untuk menegakkan dan menghidupkan sunnah maka terdapat juga larangan dari mengerjakan perbuatan bid’ah dan seterusnya.

Jadi bid’ah itu adalah salah satu dari sekian banyak larangan dalam agama yang telah dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam Alqur’an dan hadits-hadits shahih. Dan bid’ah adalah suatu perkara yang telah dilarang dan dicegah oleh syariat sebagaimana sunnah telah diperintahkan dan disyariatkan untuk diamalkan.

Adapun definisi bid’ah, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam asy-Syathibiy rahimahullah, “Bid’ahberasal dari kata ikhtira’ yaitu yang baru diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya”. [1]

Secara syar’iy, bid’ah bermakna cara baru dalam agama yang dibuat menyerupai syariat, bertujuan dengan berjalan di atasnya untuk berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. [2]

“Cara baru dalam agama itu” maksudnya adalah bahwa cara yang dibuat itu disandarkan oleh pembuatnya kepada agama, meskipun tidak akan dijumpai dasar dan dalilnya sedikitpun di dalam syariat. Maka bid’ah itu adalah sesuatu perkara agama yang tidak ada dan keluar dari apa yang telah ditetapkan oleh syariat.

Dan makna “yang dibuat menyerupai syariat” [3] maksudnya bahwa (sesuatu perkara agama yang dibuat itu) menyerupai cara syar’iy yang pada hakikatnya tidak ada dalam syariat, bahkan mungkin bertentangan dengan syariat dari beberapa segi, misalnya:

1). membuat-buat hukum sendiri, seperti: shaum untuk berdiri tidak mau duduk, berjemur di panas terik matahari tidak berteduh, dan lain sebagainya.

2). Atau menentukan cara dan bentuk tertentu di dalam ibadah yang tidak akan ditemui di dalam syariat, seperti: dzikir berjamaah dengan satu suara di tempat tertentu, menjadikan maulid Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan isra’ dan mi’rajnya sebagai hari raya dengan melakukan kegiatan tertentu semisal membaca kitab barzanziy, membaca sholawat-sholawat bid’ah dan lain sebagainya.

3). Atau menentukan ibadah-ibadah tertentu pada waktu-waktu tertentu yang tidak dijumpai di dalam syariat. Seperti: Shaum nisfu sya’aban dan menghidupkan malamnya, menghidupkan malam nuzul Alqur’an, merayakan dan meramaikan tahun baru Islam 1 muharram (tahun baru Hijriyah) dengan berbagai kegiatan yang meniru kaum jahiliyah dan lain sebagainya.

Adapun pembagian bid’ah, al-Imam asy-Syathibiy rahimahullah telah membagi menjadi dua macam yaitu, [4]

1). Bid’ah haqiqiyyah yakni yang tidak ada dasarnya sama sekali dari dalil syar’iy, baik dari Alqur’an, sunnah, ijmak dan juga dari istidlal yang mu’tabar menurut ahli ilmu, tidak secara global dan tidak pula secara rinci.

Misalnya: (1). Mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara melakukan rahbaniyah (kerahiban) yakni tidak ingin menikah sebagaimana dilakukan oleh para rahib dari kaum nashrani. (2). Menyerupakan riba dengan jual beli sebagaimana dilakukan oleh golongan yahudi. (3). Menyiksa diri dengan memukul-mukulkan punggung dengan cambuk atau menguruskan keringkan badan atau semisalnya sebagaimana yang dilakukan orang-orang syi’ah rafidlah atau Hindu dengan tujuan meningkatkan derajat. (4). Mengukuhkan akal dan menolak nash-nash di dalam agama Allah sebagaimana dilakukan oleh para ahli filsafat, dan lain sebagainya.

2). Bid’ah idlafiyyah yakni bid’ah yang mempunyai dua campuran, yaitu salah satunya mempunyai dalil-dalil yang terkait dan dari segi ini ia bukanlah bid’ah, dan yang lainya tidak memiliki dalil yang terkait kecuali seperti yang ada pada bid’ah haqiqiyyah. Maka tatkala ada suatu amal (ibadah) yang mempunyai dua campuran yang tidak bersih pada salah satu dari dua sudutnya, maka ia ditempatkan pada julukan ini yaitu bid’ah idlafiyyah. Maksudnya bahwa bid’ah ini berhubungan dengan salah satu dari dua sisinya adalah sunnah sebab berdasarkan kepada dalil, dan berhubungan dengan yang lainnya adalah bid’ah karena bersandarkan kepada syubhat, tidak kepada dalil atau tidak bersandar kepada sesuatu. Dan perbedaan diantara keduanya adalah dari sisi makna. Bahwa dari sisi asalnya, dalilnya tegak berdiri tetapi dari sisi cara, kondisi dan rinciannya tidak ada, padahal ia membutuhkannya, sebab lazimnya terjadi bid’ah itu di dalam peribadatan bukan di dalam masalah adat yang murni.

Misalnya: (1). mengerjakan sholat ragha’ib, yaitu sholat sunnah 12 rakaat pada malam jum’at pertama bulan Rajab dengan cara-cara tertentu. Amalan ini dinyatakan bid’ah oleh para ulama dan termasuk bid’ah idlafiyyah, sebab sholat malam itu ada syariatnya tetapi tanpa rincian pengajaran yang ditentukan pada sholat ragha’ib. Begitu pula yang terjadi pada sholat nisfu Sya’ban. (2) Adzan untuk dua sholat ied dan sholat gerhana. (3) Ucapan istighfar di penghujung sholat secara berjamah dan dengan suara keras. Dan lain sebagainya.

Maka berikut ini beberapa keterangan para ulama berkaitan dengan sejumlah bid’ah yang berkembang di tengah kaum muslimin seputar bulan Sya’ban, yang diambil dari buku Mu’jam al-Bida’ susunan Ra’id bin Shabriy bin Abu Alafah halaman 299-301, al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ashla lahu susunan Hammud bin Abdullah al-Mathar halaman 595- 604 dan al-Bida’ al-Hauliyah halaman 300-304:

1). Merayakan malam nishfu Sya’ban. [as-Sunan wa al-Mubtadi’at oleh asy-Syuqairiy halaman 17, Bida’ al-Qurra’ oleh Muhammad Musa Nashr halaman 30, al-Ba’its ala inkar al-Bida’ wa al-Hawadits oleh Abu Syamah halaman 124, al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibdtida’ oleh Ali Mahfuzh halaman 286, al-Madkhal oleh Ibnu al-Hajj halaman: IV/ 181, al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ashla lahu oleh Hammud bin Abdullah al-Mathar halaman 595-604 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 299-300].

2). Berkumpul di masjid untuk mengerjakan sholat yang ditentukan, seperti berkumpul untuk sholat seratus raka’at pada malam itu dengan membaca surah al-Ikhlash sebanyak seribu kali. [Majmu’ Fatawa oleh Syaikh al-Islam: XXIII/ 131, 132, 414 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300].

3). Sholat malam nishfu Sya’ban (sholat Alfiyah). [al-Ba’its halaman 124-137, 174, al-Manar al-Munif oleh Ibnu Qoyyim halaman 98-99, Tafsir al-Qurthubiy: XVI/ 128, at-Tankit wa al-Ifadah fi Takhrij Ahadits Khatimah Safar as-Sa’adah halaman 96, al-Asrar al-Marfu’ah halaman 396, al-Majmu’: IV/ 56, Tanzih asy-Syari’ah: II/ 92, al-La’aliy al-Mashnu’ah: II/ 57, al-Mughniy an al-Hifzhi wa al-Kitab halaman 297, al-Amr bi al-Ittiba’ wa an-Nahyu an al-Ibtida’ oleh al-Imam as-Suyuthiy halaman 176, as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 144, 179, al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 54, 58, 288, al-Madkhal halaman: IV/ 281, al-I’tisham: II/ 4, al-Hawadits wa al-Bida’ halaman 48-49 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300].

4). Mengkhususkan sholat pada malam nishfu Sya’ban dan berpuasa pada siang harinya. [al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 27, al-Bida’ wa al-Muhdatsat halaman 614 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

5). Mengkhususkan doa dan dzikir pada malam nishfu Sya’ban. [Bida’ al-Qurra’ halaman 29, al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 153, al-Bida’ wa al-Muhdatsat halaman 612 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300].

6). Sholat enam raka’at dengan maksud menolak bala, dipanjangkan umur dan hidup berkecukupan pada bulan Sya’ban.

7). Sholat al-Bara’ pada bulan Sya’ban. [as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 144 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

8). Seluruh doa yang dibaca ketika memasuki bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadlan. Karena semuanya itu dibuat-buat lagi bid’ah dan bersumber dari hadits yang lemah.[as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 143 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300].

9). Menghidupkan api dan lilin pada malam nishfu Sya’ban.[al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 273 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300].

10). Berziarah ke kuburan pada malam nishfu Sya’ban dan menghidupkan api di sekitarnya. Dan kadang para perempuan juga ikut keluar.[Talbis Iblis halaman 429, al-Madkhal: I/ 310, Ahkam al-Jana’iz oleh asy-Syaikh al-Albaniy halaman 258, al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 289, al-Amr bi al-Ittiba’ wa an-Nahyu an al-Ibtida’ halaman 177 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 300-301].

11). Mengkhususkan membaca surah Yasin pada malam nishfu Sya’ban. [Bida’ al-Qurra’ halaman 29, as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 144 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

12). Mengkhususkan berziarah kubur pada bulan Rajab, Sya’ban, Ramadlan dan pada hari Ied. [Ahkam al-Jana’iz halaman 258, as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 160 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

13). Mengkhususkan bersedekah bagi ruh yang telah meninggal pada tiga bulan tersebut yaitu Rajab, Sya’ban dan Ramadlan.[Ahkam al-Jana’iz halaman 257, al-Bida’ wa al-Muhdatsat halaman 610 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

14). Meyakini bahwa malam nishfu Sya’ban adalah malam Lailatul Qadar.

15). Membuat makanan pada hari nishfu Sya’ban kemudian membagikannya kepada fakir miskin dengan anggapan makanan untuk kedua orang tua yang meninggal.

16). Para wanita fakir pergi dengan membawa anak-anak lelaki mereka di bulan Sya’ban setiap tahun untuk mengunjungi al-Imam al-Laits rahimahullah, dengan tujuan mengkhitankan anak-anak lelaki mereka dengan gratis kepada dokter. [al-Ibda’ fi Madlarr al-Ibtida’ halaman 391 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 301].

Hal-hal tersebut di atas dapat dikategorikan bid’ah karena memenuhi syarat untuk dinyatakan bid’ah. Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah di dalam kitabnya [5] berkata, “Sesungguhnya bid’ah yang dinyatakan sesat oleh pembuat syariat adalah sebagai berikut;

  1. Semua yang bertentangan dengan sunnah, baik berupa ucapan, perbuatan ataupun keyakinan, meskipun ia merupakan ijtihad.
  2. Semua perkara yang dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri (bertaqorrub) kepada Allah, sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarangnya.
  3. Semua perkara yang tidak mungkin disyariatkan, kecuali dengan nash atau tauqif, dan tidak ada nashnya, maka ia adalah bid’ah kecuali amalan yang dikerjakan oleh shahabat, dimana amalan tersebut dilakukan berulang kali dan tidak ada penentangan sama sekali.
  4. Berbagai adat istiadat orang-orang kafir yang dimasukkan ke dalam ibadah.
  5. Apa yang ditetapkan sunnah (atau anjuran) oleh beberapa ulama, apalagi ulama mutaakhirin, tetapi tidak ada dalilnya.
  6. Setiap ibadah yang tata caranya tidak dijelaskan melainkan di dalam hadits dlo’if (lemah) dan maudlu’ (palsu).
  7. Berlebih-lebihan di dalam ibadah.
  8. Setiap ibadah yang ditetapkan oleh pembuat syariat tanpa batas, tetapi kemudian dibatasi oleh manusia dengan beberapa batasan seperti: tempat, waktu, sifat atau jumlah.

Syarat-syarat sesuatu dinyatakan bid’ah dalam agama di atas, jika diterapkan dengan beberapa amalan seputar bulan Sya’ban maka amalan-amalan tersebut sudah layak dikategorikan sebagai perkara bid’ah yang telah dilarang agama untuk diamalkan dan disebarluaskan ajarannya. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjauhkan dan menghindarkan diri kita, keluarga, kerabat kita dan seluruh kaum muslimin dari perkara-perkara bid’ah. Sebab di dalamnya banyak terdapat keburukan, kerusakan dan bahaya di dalam kehidupan dunia dan akhirat kelak.

 

[1] Al-I’tisham: I/ 36 oleh al-Imam asy-Syathibiy dan Ushul fi al-Bida’ wa as-Sunan oleh Muhammad Ahmad al-Adawiy halaman 21.

[2] Al-I’tisham: I/ 37 dan Ushul fi al-Bida’ wa as-Sunan halaman 21.

[3] Ushul fi al-Bida’ wa as-Sunan halaman 22.

[4] Al-I’tisham: I/ 286 dan Ushul fi al-Bida’ wa as-Sunan halaman 25-31 dan lain-lain kitab yang berkaitan dengan pembahasan bid’ah.

[5] Ahkam al-Jana’iz wa bida’uha halaman 306.

WAHAI SAUDARAKU, JAUHI BID’AH DALAM THAHARAH…

BID’AH-BID’AH DI DALAM THAHARAH

 بسم الله الرحمن الرحيم

AIR11Banyak di antara kaum muslimin awam yang menambah, mengurangi atau merubah ketentuan cara bersuci dari wudlu, mandi atau tayammum tersebut dengan tidak menunjuk atau merujuk kepada dalil-dalil yang shahih. Hal itu tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, yang semuanya itu bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa Ala dan juga lantaran kesungguhan mereka di dalam mengibadahi-Nya. Namun sayang usaha dan upaya mereka itu tidak berdiri di atas tonggak keimanan dan keilmuan yang benar, tetapi hanya semata-mata didasarkan atas dugaan, hawa nafsu dan pikiran sebahagian mereka yang batil. Tak jarang, perilaku itu juga ditimbulkan dari adanya hadits-hadits dla’if (lemah), maudlu’ (palsu) ataupun yang tiada asalnya. Atau boleh jadi juga dari kesalahpahaman mereka di dalam merealisasikan hadits-hadits shahih lantaran tidak mau merujuk kepada penjelasan para ulama salafus shalih yang lebih paham dan mengerti tentang penafsiran dan maksud dari suatu hadits. Tetapi mereka mencoba berusaha sendiri untuk menerka-nerka di dalam memahaminya padahal mereka masih jahil lagi awam akan ilmunya. Sehingga tersebarlah banyak kekeliruan dan kesalahan di dalamnya. Kekeliruan dan kesalahan ini banyak bentuk dan ragamnya, namun biasanya dalam bentuk keyakinan (itikad), perbuatan ataupun ucapan, yang dapat dijumpai telah berurat akar atau mendarah daging dan bertebaran di dalam kehidupan mereka.

Sebab itu bagi orang yang ingin mencari dan berpegang kepada kebenaran wajib baginya untuk menjauhinya sebab hal ini adalah merupakan bid’ah yang dibuat-buat. Bid’ah dalam perkara agama ini wajib dijauhi dan ditinggalkan oleh setiap muslim sebab hanya akan membawa dan mendatangkan kesesatan di dunia dan juga akan menyeret dan mencampakkan mereka ke dalam kebinasaan dan kesengsaraan di dalam neraka pada hari kiamat kelak.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa semua bid’ah di dalam agama ini, baik yang kecil ataupun yang besar adalah diharamkan. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang datang tentang celaan terhadap bid’ah dengan shighath (bentuk) secara umum, [1] di antaranya adalah,

عن العرباض بن سارية رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةِ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dari al-Irbadl bin Sariyah radliyallahu anhu berkata, “telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara yang baru diada-adakan, karena setiap perkara yang baru diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. [HR Abu Dawud: 4607, Ibnu Majah: 42, at-Turmudziy: 2676, Ahmad: IV/ 126, 127, al-Hakim: 333, 338 dan ad-Darimiy: I/ 44-45. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

 Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, ”Perintah waspada dari mengada-adakan bid’ah di dalam agama karena bid’ah itu semuanya adalah kesesatan, keburukan, menarik berbagai kerusakan dan bahaya bagi umat. Keselamatan di waktu terasing dan di saat perselisihan itu adalah dengan melazimkan kitab Allah (alqur’an) dan sunnah Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam dengan pemahaman para shahabat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. [3]

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ فىِ خُطْبَتِهِ يَحْمَدُهُ وَ يُثْنىِ عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُوْلُ: مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ اْلحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ أَحْسَنَ اْلهَدْيِ هَدْيُ  مُحَمَّدٍ وَ شَرَّ اْلأُمُوْرِ  مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلَّ  مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فىِ النَّارِ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, “Adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda di dalam khutbahnya, memuji-Nya dan menyanjung-Nya yang Dia memang adalah Pemiliknya. Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tiada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap perkara yang baru diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan itu (tempatnya) di dalam neraka”. [HR an-Nasa’iy: III/ 188-189, Muslim: 867, Ibnu Majah: 45, Ahmad: III/ 319, 371 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[4]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, ”Sebaik-baik yang menyibukkan seseorang adalah kitabullah dan sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Wajib melarang dari bid’ah dan waspada darinya. Karena bid’ah itu semuanya adalah keburukan dan kesesatan”. [5]

Dua dalil hadits di atas beserta penjelasannya dengan gamblang menerangkan akan larangan bid’ah dalam agama, perintah menjauhkan diri darinya dan upaya mencegah tersebarluasnya bid’ah. Sebab bid’ah itu semuanya adalah kesesatan dan keburukan. Dan kerapkali mengundang keburukan dan kesesatan yang lainnya. Apalagi bid’ah itu dipastikan tidak memiliki tempat berpijak yang tepat dan tidak pula berpihak kepada yang hak. Pijakan bid’ah itu adalah akal yang lemah, perasaan yang gundah, dugaan yang salah dan hawa nafsu yang serakah. Dan jikapun berpijak, niscaya berpijak kepada dalil-dalil hadits yang lemah lagi palsu serta tiada asalnya. Atau biasanya juga beranjak dari pendapat dan pandangan para kyai dan masyayikh yang tumbuh dari diri mereka yang bertujuan hanya untuk mempertahankan keyakinan dan perilaku mereka yang keliru lagi tiada ilmu. Atau bid’ah itu lahir juga dari adat tradisi masyarakat suatu daerah yang kemudian dibungkus dengan kemasan Islam, sehingga menipu dan mengelabui banyak umat Islam yang memang mayoritas mereka sudah terbiasa taklid dan fanatik kepada sesuatu golongan atau seseorang figur panutan.

Dari sebab itu para ulama sunnah telah menerangkan beberapa sebab mengenai muncul dan tersebarnya bid’ah di berbagai penjuru bumi. Yang jika dihimpun dan dikumpulkan dari berbagai macam perkara agama, dari masalah akidah, ibadah, muamalah dan selainnya dengan berbagai cabangnya mungkin akan mencapai puluhan ribu atau mungkin juga lebih.

Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah di dalam kitabnya [6] berkata, ”Sesungguhnya bid’ah yang dinyatakan sesat oleh pembuat syariat adalah sebagai berikut;

a.  Semua yang bertentangan dengan as-Sunnah, baik berupa ucapan, perbuatan ataupun keyakinan, meskipun ia merupakan ijtihad.

b.   Semua perkara yang dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri (bertaqorrub) kepada Allah, sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarangnya.

c.       Semua perkara yang tidak mungkin disyariatkan, kecuali dengan nash atau tauqif, dan tidak ada nashnya, maka ia adalah bid’ah kecuali amalan yang dikerjakan oleh shahabat, dimana amalan tersebut dilakukan berulang kali dan tidak ada penentangan sama sekali.

d.      Berbagai adat istiadat orang-orang kafir yang dimasukkan ke dalam ibadah.

e.   Apa yang ditetapkan sunnah (atau anjuran) oleh beberapa ulama, apalagi ulama mutaakhirin, tetapi tidak ada dalilnya.

f.        Setiap ibadah yang tata caranya tidak dijelaskan melainkan di dalam hadits dlo’if (lemah) dan maudlu’ (palsu).

g.      Berlebih-lebihan di dalam ibadah.

h.    Setiap ibadah yang ditetapkan oleh pembuat syariat tanpa batas, tetapi kemudian dibatasi oleh manusia dengan beberapa batasan seperti: tempat, waktu, sifat atau jumlah”.

Demikian penjelasan asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah di dalam menerangkan tentang beberapa kategori yang menjadi tolok ukur di dalam sesatnya bid’ah. Bahkan secara umum Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengabadikan di dalam ucapannya mengenai tertolak atau tidaknya suatu amalan, seseorang itu selain mesti mengikhlaskan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam amalnya namun juga wajib mencocokkan setiap amalannya itu dengan apa yang telah dibawa dan diutarakan oleh Beliau Shallallahu alaihi wa sallam. Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut,

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal, yang tidak ada syariat kami di atasnya maka ia (yaitu amal tersebut) tertolak”. [HR al-Bukhoriy secara ta’liq,[7] Muslim: 1718 lafazh ini baginya, Ahmad: VI/ 146, 180, 256 dan ad-Daruquthniy: 4491. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Shahih]. [8]

Berkata Ibnu Baththol rahimahullah, “Maksudnya adalah barangsiapa yang berhukum dengan selain sunnah lantaran kejahilan (tidak tahu) atau karena suatu kesalahan, maka wajiblah baginya merujuk kepada hukum sunnah dan meninggalkan apa yang menyelisihinya, lantaran mengikut perintah Allah ta’ala yang menetapkan taat kepada rosul-Nya, dan inilah maksudnya berpegang teguh dengan sunnah”.[9]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Yakni sudah semestinya kita berilmu tentang seluruh amal yang kita amalkan itu wajib berada di atas urusan Allah dan Rosul-Nya. Jika tidak maka amalan tersebut niscaya tertolak. Hal ini meliputi masalah ibadah maupun muamalah”. [10]

      عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحْدَثَ فىِ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang tidak ada syariatnya maka hal tersebut tertolak”. [HR Muslim: 1718, al-Bukhoriy: 2697, Abu Dawud: 4606, Ibnu Majah: 14 dan Ahmad: VI/ 240, 270. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bahwasanya ibadah itu apabila kita tidak mengetahui dia termasuk dari agama Allah maka amal ibadah tersebut niscaya tertolak”. [12]

Berkata asy-Syaikh Hammud bin Abdullah al-Mathor hafizhohullah, “Di dalam hadits ini, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkhabarkan dengan “jumlah syarthiyyah” bahwa barangsiapa yang mengada-adakan di dalam agama Allah sesuatu yang tidak ada darinya, maka hal tersebut tertolak lagi ditolak atas pelakunya. Hatta jika ia mengada-adakannya dari niat yang baik, maka sesungguhnya tidak akan diterima darinya, karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari perkara agama ini melainkan dengan apa yang Ia telah syariatkan”. [13]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Hadits ini adalah termasuk beberapa hadits yang peranan Islam berada di atasnya. Maka sepatutnya untuk menghafal dan memasyhurkannya. Karena hal ini adalah kaidah yang agung di dalam menggugurkan perkara-perkara yang baru diada-adakan dan bid’ah-bid’ah”. [14]

Katanya lagi,

“Perkara-perkara yang baru diada-adakan adalah tertolak. Allah tidak akan menegakkan timbangan pada hari kiamat bagi orang yang mengada-adakan (perkara-perkara baru dalam agama).

Hadits tersebut menerangkan bahwasanya perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu adalah sesat. Maka ini adalah asal di dalam menggugurkan pembahagian bid’ah kepada yang buruk (sayyi’ah) dan baik (hasanah)”. [15]

      عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ صَنَعَ أَمْرًا مِنْ غَيْرِ أَمْرِنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang membuat suatu perkara yang bukan dari urusan (agama) kami, maka ia tertolak”. [HR Ahmad: VI/ 73 dan Abu Dawud: 4606. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Memperhatikan beberapa dalil di atas dan keterangannya, maka sudah semestinya setiap muslim itu senantiasa melazimkan dan mengkontinyukan segala amalnya dengan apa yang telah didatangkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai bentuk ketaatan, kecintaan dan pengagungan kepada Beliau. Sebab sedikit di dalam mengerjakan dan mengabadikan suatu amal yang sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam itu lebih baik dan lebih bernilai daripada mengamalkan berbagai macam amal namun tidak berdasarkan dan bersandarkan kepada alqur’an dan hadits-hadits yang shahih lagi mengandung perbuatan bid’ah.

و عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: اْلاِقْتِصَادُ فىِ السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ اْلاِجْتِهَادِ فىِ اْلبِدْعَةِ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Sederhana di dalam sunnah adalah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Hakim: 358 secara mauquf. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [17]

Dan Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu dan al-Fudloil bin ‘Iyadl rahimahullah berkata, [18]

عَمَلٌ قَلِيْلٌ فىِ سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمَلٍ كَثِيْرٍ فىِ بِدْعَةٍ

“Amal sedikit di dalam sunnah adalah lebih baik daripada banyak amal namun di dalam bid’ah”.

Renungkanlah apa yang dikatakan kaum shalih terdahulu dari umat ini, sebab mereka adalah orang yang paling mengerti kemauan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam serta paling mengikuti dan menteladani sunnah Nabi mereka. Di antara mereka ada yang dengan elok mengungkapkan bahwa sederhana dalam beramal namun sesuai dengan sunnah itu lebih baik dan lebih berharga daripada beramal dengan banyak amalan kendatipun dikerjakan dengan penuh kesungguhan, banyak pengorbanan dan dikerjakan oleh mayoritas umat ini tetapi di dalamnya mengandung bid’ah yang sesat lagi menyesatkan. Sebab sedikit amalan yang mencocoki sunnah itu akan mendapatkan balasan kebaikan kelak di hari kiamat dan akan ditimbang dengan timbangan kebaikan meskipun hanya seberat biji sawi atau setipis kulit ari. Sedangkan mengamalkan bid’ah lagi tidak berdasarkan syariat yang shahih itu meskipun dikerjakan dengan penuh keikhlasan, penuh pengorbanan lagi pula banyak dikerjakan oleh manusia niscaya tidak akan mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun pada hari kiamat dan tidak akan ditegakkan timbangan kebaikan untuknya meskipun amalannya itu setinggi dan seberat gunung bahkan dosa dan keburukanlah yang akan ditimpakan kepada pelakunya.

Maka ittiba’-lah (ikutlah) kepada dalil-dalil yang benar lagi shahih dan jangan berbuat bid’ah apapun dalihnya. Sebab Islam telah mencukupi dan sempurna tiada kekurangan dan cela. Tiada orang yang menganggap perlunya ada tambahan dan perbaikan terhadap ajaran Islam ini kecuali orang-orang yang bodoh lagi dungu.

و عن ابن مسعود رضي الله عنه قَالَ: اتَّبِعُوْا وَ لاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Hendaklan kalian mengikuti (ittiba’) dan janganlah berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi (oleh islam ini) dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. [Telah mengeluarkan atsar ini Ahmad dan ad-Darimiy: I/ 69 ].[19]

R2عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَدْعُوْنَ إِلىَ كِتَابِ اللهِ وَ قَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِاْلعِلْمِ وَ إِيَّاكُمْ وَ التَّبَدُّعَ وَ التَّنَطُّعَ وَ عَلَيْكُمْ بِاْلعَتِيْقِ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Kalian akan jumpai beberapa kaum yang mengajak (kalian) kepada kitab Allah padahal mereka (sendiri) meninggalkannya) di belakang mereka. Maka sebab itu, wajib atas kalian (berpegang) kepada ilmu dan waspadalah kalian terhadap (perbuatan) bid’ah dan sikap berlebih-lebihan. Wajib atas kalian (berpegang) dengan perkara yang kuno”. [Telah mengeluarkan atsar ini ad-Darimiy: I/ 54].[20]

Hendaknya setiap muslim, terlebih para dainya agar senantiasa berhati-hati di dalam menyikapi, meyakini dan mengamalkan suatu amalan, sebab bisa jadi hal itu merupakan bid’ah, jika tidak memiliki dasar yang akurat dari alqur’an dan hadits yang shahih. Lalu jika bid’ah itu telah ia anggap suatu kebaikan, bahkan salah satu dari ajaran Islam maka boleh jadi ia telah menuduh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengkhianati risalah Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana telah dikatakan oleh al-Imam Malik bin Anas rahimahullah,[21]

مَنِ ابْتَدَعَ فىِ اْلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ  مُحَمَّدًا صلى الله عليه و سلم خَانَ الرِّسَالَةَ ِلأَنَّ اللهَ يَقُوْلُ: ((اْليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ))  فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَ يَكُوْنُ اْليَوْمَ دِيْنًا

“Barangsiapa yang melakukan bid’ah di dalam Islam yang ia menganggapnya sebagai suatu kebaikan, maka sesungguhnya ia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam telah berkhianat di dalam (menyampaikan) risalah. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman ((Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagimu agamamu)). [22] Maka, apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi agama pada hari ini”.

Betapa jahat dan kejinya, orang yang berani menuduh bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengkhianati Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam menyampaikan risalah dan syariat-Nya. Ia mendakwa bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak menyampaikan perkara-perkara yang biasa mereka kerjakan atau minimal ia telah menyangka Beliau lupa dari menyampaikannya. Namun anehnya tatkala datang kepadanya satu sunnah dari beberapa sunnah yang telah tsabit (tetap) dari Beliau, ia enggan menerima dan mengamalkannya dan bahkan menolaknya. Lalu tanpa rasa sungkan, ia menuduh orang-orang yang memahami dan mempraktekkan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tersebut sebagai suatu golongan yang begini atau aliran yang begitu agar setiap orang yang mendengarnya menjauh atau menyingkir dari orang-orang tersebut. Dan kemudian memuji orang-orang yang sepemahaman dengannya dengan pujian yang tidak pada tempatnya.

Padahal telah tetap di dalam kaidah, bahwa hukum asal dari ibadah adalah dilarang atau diharamkan, kecuali yang telah disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an dan hadits-hadits yang shahih. Berbeda dalam masalah adat atau kebiasaan manusia dari perkara-perkara dunia, bahwa hukum asalnya adalah diperbolehkan kecuali yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

اْلأَصْلُ فىِ اْلعِبَادَةِ اْلحَظْرُ فَلاَ يُشْرَعُ مِنْهَا إِلاَّ مَا شَرَعَهُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ

وَاْلأَصْلُ فىِ اَلعَادَاتِ اْلإِبَاحَةُ فَلاَ َيحْرُمُ مِنْهَا إِلاَّ مَا حَرَّمَهُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ

Hukum asal di dalam peribadatan adalah dilarang, maka tidak disyariatkan kecuali yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

Hukum asal di dalam perkara adat (kebiasaan manusia) adalah diperbolehkan, maka tidaklah haram kecuali yang diharamkan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

Kaidah di atas sesuai dan sejalan dengan apa yang telah dikatakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini,

عن أنس رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فِإِذَا كَانَ مِنْ أَمْرِ دِيْنِكُمْ فَإِلَيَّ  

Dari Anas radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Jika sesuatu itu dari urusan dunia kalian, maka kalian lebih mengerti tentangnya. Tetapi jika sesuatu itu dari urusan agama kalian maka kembalikanlah kepadaku”. [HR Ahmad: III/152, V/ 298 dari Abu Qotadah, VI/ 123 dari Aisyah, Muslim: 2363 dari Aisyah dan Ibnu Majah: 2471 dari Aisyah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [23]

Maka jelaslah bahwa dalam urusan agama, tiada hak bagi seseorangpun untuk membuat-buat dan menetapkan suatu perkara. Bahkan mengklaim bahwa apa yang diyakini dan diamalkannya itu adalah benar. Sebab benar atau batilnya suatu keyakinan, ucapan dan amalan, lurus atau sesatnya suatu pemahaman dan ajaran dan juga baik atau buruknya suatu pemikiran dan penalaran adalah mesti sesuai dengan penilaian syar’iy yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an yang agung dan hadits-hadits yang shahih.

Maka bid’ah meskipun baik dalam pandangan mayoritas kaum muslimin namun jika dilihat atau ditinjau dari kacamata syar’iy sebagaimana telah diungkapkan sebahagian dalil-dalilnya adalah suatu keburukan dan kesesatan. Dan bid’ah ini sangat disukai oleh setan dan amat diandalkan olehnya untuk menggelincirkan manusia ke dalam kesesatan. Bid’ah adalah suatu keburukan dan kesesatan yang dikemas oleh setan dengan bungkus yang indah dan menarik. Sehingga setiap muslim yang masih awam terhadap pemahaman alqur’an dan hadits jika memandang dan memperhatikannya niscaya ia akan terpesona dan terpikat. Lalu ia menyangka bahwa bid’ah tersebut merupakan salah satu dari berbagai ibadah di dalam ajaran Islam.

Tatkala ia telah memandang dan menilai bid’ah tersebut seperti itu, maka akan sulitlah baginya untuk memahami dirinya di dalam kesalahan dan kekeliruan dan mustahil pulalah ia keluar dan bertaubat darinya.

Hal tersebut telah diungkapkan oleh al-Imam Sufyan ats-Tsauriy rahimahullah, [24]

اْلبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلىَ إِبْلِيْسَ مِنَ اْلمـَعْصِيَةِ لِأَنَّ اْلمـَعْصِيَةَ يُتَابُ مِنْهَا وَ اْلبِدْعَةَ لاَ يُتَابُ مِنْهَا

“Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis dari pada perbuatan maksiat, sebab perbuatan maksiat masih diharapkan taubat darinya, sedangkan bid’ah tidak diharapkan taubat darinya”.

Itulah pengungkapan yang jelas lagi lugas, bahwa Iblis itu sangat suka kepada berbagai perbuatan maksiat. Tidaklah ada suatu kemaksiatan melainkan ia duduk di tempat tersebut untuk menyeru manusia kepadanya dan menghalangi-halangi mereka dari jalan yang lurus. Namun dari sekian banyak kemaksiatan, Iblis paling suka kepada bid’ah dan sangat mengandalkannya untuk menyesatkan dan menggelincirkan manusia.

Hal tersebut tidak lain lantaran berbagai kemaksiatan itu masih dimungkinkan pelakunya mengetahui bahwa ia keliru dan berbuat dosa, lalu berkeinginan untuk taubat darinya maka terkadang ia bertaubat dan terkadang pula tidak. Namun pelaku bid’ah sulit untuk bertaubat darinya, karena Iblis telah menghiasi dan membaguskan perbuatan bid’ahnya sehingga ia merasa dirinya benar di atas petunjuk. Dan ia mengira bahwa setiap orang yang menyelisihinya itu ada dalam kesesatan, orang yang berada di selain jalannya adalah batil dan kebenaran itu hanya ada di sisinya saja. Maka bagaimana mungkin ia menyadari lagi mengakui bahwa dirinya adalah sesat dan diharapkan bertaubat darinya?. [25]

Maka sudah sepatutnya setiap muslim itu berhati-hati terhadapnya, berusaha menjauh darinya dan menjauhkan orang lain darinya. Termasuk dalam masalah thaharah ini, banyak kaum muslimin yang terperangkap dalam bid’ah ini dalam keadaan tidak mengetahui dan menyadarinya bahkan menganggap bahwa selama ini perbuatannya benar sesuai dengan ajaran Islam, tepat sebagaimana diperintahkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan akan mendapatkan balasan kebaikan pada hari kiamat. Padahal keyakinannya itu jelas keliru tiada menentu, salah tak tentu arah dan batil tiada hasil, laksana api jauh dari panggang. Di antara beberapa bid’ah dalam thaharah yang beredar pada masyarakat di negeri ini dan sudah menjadi konsumsi harian bagi mereka adalah,

1). Menjaharkan niat di dalam thaharah dan bersuci dari hadats. [26] Biasanya mengucapkan;    نَوَيْتُ رَفْعَ اْلحَدَثِ اْلأَصْغَرِ.

2). Mengucapkan;  نَوَيْتُ سُنَنَ اْلوُضُوْءِ  dan  نَوَيْتُ فَرَائِضَ اْلوُضُوْءِ. (Artinya aku berniat untuk melakukan sunnah-sunnah wudlu) dan (aku berniat melakukan kewajiban-kewajiban wudlu). [27]

3). Ucapan orang yang wudlu ketika membasuh kedua tangan; [28]

بِسْمِ اللهِ وَ اْلحَمْدُ لِلَّهِ وَ لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

4). (Ketika membasuh) anggota-anggota wudlu, mengucapkan; [29]

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهىِ وَ أَعْطِنىِ كِتَابىِ بِيَمِيْنىِ وَ لاَ تُعْطِنىِ كَتَابىِ  بِشِمَالىِ وَ حَرِّمْ شَعْرِى وَ جَسَدِى  عَلىَ النَّارِ وَ أَسْمِعْنىِ أَذَانَ بِلاَلٍ وَ ثَبِّتْ قَدَمىِ اْليَمِيْنِ … الخ

5). Begitu pula ucapan;  اْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَعَلَ اْلمـَاءَ طَهُوْرًا وَ اْلإِسْلاَمَ نُوْرًا وَ اْلحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى هَذَا اْلمـَاءِ الطَّهُوْرِ . [30]

6). Adanya perasaan waswas di dalam wudlu. [31]

7). Membaca dzikir atau doa khusus dikala membasuh atau mengusap anggota-anggota wudlu. [32]

8). Memperbaharui air wudlu untuk kedua telinga lantaran menyelisihi hadits yang shahih. [33]

9). Memisahkan antara mengusap kepala dan dua telinga.

10). Membasuh kepala sebanyak tiga kali. [34]

11). Membasuh leher di dalam wudlu. [35]

12). Membasuh tengkuk secara khusus di dalam wudlu. [36]

13). Mengusap kening atau sedikit bahagian rambut yang depan saja.

14). Mewudlukan bahagian rambut yang rontok.

15). Berlebihan di dalam menggunakan air pada saat bersuci (mandi atau wudlu). [37] Biasanya lantaran saling mengobrol atau bersenda gurau. 

16). Beranggapan bahwa bersentuhan antara lelaki dan perempuan itu membatalkan wudlu, meskipun suami istri.

17). Beranggapan bahwa keluarnya darah dari selain dua lubang (qubul dan dubur) itu membatalkan wudlu, misalnya dari hidung (mimisan), mulut, pecahnya bisul dan selainnya.

18). Menetapkan doa setelah wudlu dengan mengangkat kedua tangan dan menengadahkan kepala ke langit.

19). Wudlu untuk menyembelih hewan kurban. [38]

20). Tidak mau berwudlu dengan air zamzam lantaran keutamaan air zamzam tersebut.

21). Bid’ahnya meninggalkan pengucapan salam sebab datang dari safar sehingga berwudlu dan sholat. [39]

22). Membaca surat ((إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ)) di penghujung wudlu. [40]

Adapun di dalam mandi, terdapat beberapa bid’ah dalam keyakinan, perbuatan ataupun ucapan, di antaranya adalah sebagai berikut,

23). Bahwa orang yang junub itu dilarang dari mencukur rambut, memotong kuku dan juga dari berbekam. [41]

24). Ada anggapan bahwa orang yang junub itu apabila bekerja di pertanian, pabrik atau perniagaannya akan menghasilkan untuknya dan orang selainnya suatu bahaya atau kerugian. [42]

25). Mengucapkan;  نَوَيْتُ رَفْعَ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ. [43]

26). Adanya anggapan bagi yang hendak mandi janabat dan haidl untuk mengumpulkan rambutnya yang rontok lalu memandikannya.

Adapun di dalam tayammum terdapat beberapa bid’ah, di antaranya adalah sebagai berikut;

27). Menepukkan kedua telapak tangan ke tanah lebih dari sekali tepukan.

28). Penepukkan kedua telapak tangan itu sampai debunya banyak yang menempel pada kedua telapak tangan.

29). Mengusapkan kedua telapak tangan dari telapak tangan sampai siku.

30). Dan lain sebagainya.

Ini merupakan akhir pembahasan dari beberapa bid’ah dalam thaharah dan juga tulisanku yang berjudul “Thaharah berdasarkan atas bimbingan cahaya alqur’an dan as-Sunnah” yang alhamdulillah, Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberi kemudahan dan kesempatan kepadaku, selaku penyusun untuk dapat menyelesaikannya. Aku mengharap kepada Allah Jalla Jalaluh untuk memberikan manfaat kepada kita kaum muslimin semuanya, khususnya kepadaku sekeluarga melalui risalah ini menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat, dan mudah-mudahan menjadikannya ikhlash mengharapkan keridloan-Nya yang mulia.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ

Selesai disusun dan dikoreksi ulang pada hari Rabu tanggal 14 Sya’ban 1430 H bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 2009 M di Jakarta. Dan terakhir diposkan ke dalam blog Cintakajiansunnah.wordpress.com pada tanggal 14 Sya’ban 1434 H bertepatan dengan tanggal 2 Juli 2013 M.

والحمد لله رب العالمين


[1] As-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 17.

[2] Shahih Sunan Abi Dawud: 3851, Shahih Sunan Ibni Majah: 40, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2157, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2549, Irwa’ al-Ghalil: 2455 dan Misykah al-Mashobih: 165.

[3] Bahjah an-Nazhirin: I/ 239.

[4] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1487, Shahih Sunan Ibni Majah: 43, Irwa’ al-Ghalil: 607, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1353.

[5]Bahjah an-Nazhirin: I/ 256.

[6] Ahkam al-Jana’iz wa bida’uha halaman 306 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 12.

[7] Fat-h al-Bariy: XIII/ 317.

[8] Mukhtashor Shahih Muslim: 1237, Irwa’ al-Ghalil: 88, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6398 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47.

[9] Fat-h al-Bariy: XIII/ 317.

[10] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 550.

[11] Shahih Sunan Abi Dawud: 3850, Shahih Sunan Ibni Majah: 14, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5970 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47.

[12]Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 549.

[13] Al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa Ma la ash-la lahu halaman 64.

[14] Bahjah an-Nazhirin: I/ 254.

[15]Bahjah an-Nazhirin: I/ 254.

[16] Shahih Sunan Abi Dawud: 3850, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6369 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47.

[17] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 37, al-Ibanah: 201, 246, 247, Talbis Iblis halaman 19 dan Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadli-lihi: 1306,

[18] Al-Ibanah: 245, 249.

[19] Al-Ibanah: 175.

[20] Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadli-lihi: 1325 dan al-Ibanah: 189, 192.

[21] Al-I’tishom: I/ 49.

[22] QS. al-Ma’idah/ 5: 3.

[23] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2003 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 767, 1488.

[24] Talbis Iblis halaman 26, Syu’ab al-Iman: VII/ 59 ( 9455) dan Alam al-Jin wa asy-Syayathin halaman 68.

[25] al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ash-la lahu halaman 49.

[26] Mu’jam al-Bida’ halaman 382, al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ash-la lahu halaman 635, as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 31 dan Talbis Iblis halaman 176.

[27] Mu’jam al-Bida’ halaman 382, 671 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 28.

[28] Mu’jam al-Bida’ halaman 383 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 29.

[29] Mu’jam al-Bida’ halaman 383, 671 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 29.

[30] Mu’jam al-Bida’ halaman 382 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 31.

[31] Mu’jam al-Bida’ halaman 382.

[32]al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ash-la lahu halaman 635.

[33] Mu’jam al-Bida’ halaman 382, 672 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 29.

[34] Mu’jam al-Bida’ halaman 383, 672 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 29.

[35] Mu’jam al-Bida’ halaman 383, 672 dan al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ash-la lahu halaman 637.

[36] Majmuu’ Fatawa: XXI/ 127-128.

[37] Mu’jam al-Bida’ halaman 383.

[38]al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ash-la lahu halaman 208. 

[39]Mu’jam al-Bida’ halaman 383.

[40] Mu’jam al-Bida’ halaman 672.

[41]Mu’jam al-Bida’ halaman 386 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 31.

[42]Mu’jam al-Bida’ halaman 386 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 31.

[43] Mu’jam al-Bida’ halaman 386 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 31.

SUDAH BENARKAH BACAAN ALQUR’AN ANDA ???…

HUKUM MEMBACA SHODAQOLLOHUL ‘AZHIM SETELAH SELESAI MEMBACA ALQUR’AN

بسم الله الرحمن الرحيم

Alqur’an adalah kitab suci bagi umalqur'an6at Islam yang sangat diagungkan oleh mereka dengan penuh pengagungan. Didampingi oleh hadits-hadits shahih, alqur’an juga menjadi pedoman utama dan tuntunan hidup mereka sehari-hari dalam berakidah dan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, bermuamalah ataupun berakhlak mulia kepada sesama mereka. Sehingga Allah ta’ala dan Rosul-Nya Shallalahu alaihi wa sallam telah menjadikan membaca alqur’an, mempelajari dan memahami isinya adalah sebagai bentuk ibadah kepada-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan pahala bagi yang membacanya dengan sepuluh kali lipat kebaikan perhuruf, memperoleh ketenangan (sakinah), mendapatkan rahmat, dikitari oleh para Malaikat, dipuji-puji Allah ta’ala dihadapan para Malaikat yang didekat-Nya, diberikan kedudukan di dalam surga sesuai dengan akhir ayat dari alqur’an yang dibacanya dan lain sebagainya dari berbagai keutamaan.

عن ابن مسعود رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَ اْلحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ : الم حَرْفٌ وَلَكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ وَ لاَمٌ حَرْفٌ وَ مِيْمٌ حَرْفٌ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari alqur’an maka ia akan mendapat pahala satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kalinya. Aku tidak mengatakan; alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif itu satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. [HR at-Turmudziy: 2910, ad-Darimiy: II/ 429 dan al-Baihaqiy: 1983. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : الَّذِي يَقْرَأُ اْلقُرْآنَ وَ هُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ اْلبَرَرَةِ وَ الَّذِي يَقْرَأُ اْلقُرْآنَ وَ يَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَ هُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

       Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Orang yang membaca alqur’an dalam keadaan mahir maka ia bersama para malaikat utusan Allah lagi taat. Sedangkan orang yang membaca alqur’an dalam keadaan terbata-bata karena ia merasa sulit maka ia akan mendapatkan dua ganjaran”. [HR al-Bukhoriy: 4937, Muslim: 898, at-Turmudziy: 2904, Abu Dawud: 1454, Ahmad: VI/ 48, 192 dan ad-Darimiy: II/ 444. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [2]

Berkata asy-Syaikh Salim Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Orang yang melanggengkan membaca alqur’an dan bersungguh-sungguh atasnya, kedudukannya lebih agung daripada orang yang tidak melanggengkannya. Orang yang membaca alqur’an dalam keadaan susah payah akan mendapatkan dua balasan, yaitu satu balasan karena membacanya dan yang lain lantaran kesulitan dan keterbataannya”. [3]

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: يُقَالُ لِصَاحِبِ اْلقُرْآنِ: اقْرَأْ وَ ارْتَقِ وَ رَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فىِ الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa salam bersabda, “Dikatakan kepada para penghafal alqur’an (pada hari kiamat), “bacalah dan naiklah (ke surga). Dan bacalah (alqur’an) dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil  di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu (di surga) adalah berdasarkan ayat yang terakhir yang engkau baca”. [HR Abu Dawud: 1464, at-Turmudziy: 2914, Ibnu Majah: 3780, Ahmad: II/ 192 dan al-Baihaqiy: 1999. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih ].[4]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah di dalam fiqh al-hadits, “Dorongan untuk menghafal dan mempelajari alqur’an. Kedudukan kaum mukminin di dalam surga sesuai dengan amalan dan kesungguhan mereka di dunia”. [5]

عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فىِ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَ يَتَدَارَسُوْنَهُ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَ غَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَ حَفَّتْهُمُ اْلمـَلاَئِكَةُ وَ ذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sekelompok orang berkumpul di satu rumah dari rumah-rumah Allah dalam rangka tadarus (membaca dan mempelajari) kitab Allah (atau alqur’an) melainkan mereka akan memperoleh ketenangan, diliputi oleh rahmat, dikitari oleh para malaikat dan nama mereka akan disebut-sebut oleh Allah pada orang-orang yang disekitarnya (yakni para malaikat dan para nabi”). [HR Muslim: 2699, at-Turmudziy: 2945, Ibnu Majah: 225 dan Ahmad: II/ 252. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Demikian sebahagian dalil dari banyak dalil yang berisi anjuran dalam Islam bagi para pemeluknya untuk senantiasa membaca dan mempelajari kitab suci mereka, yaitu alqur’an yang mulia karena di dalamnya banyak terdapat keutamaan.

Karena membaca alqur’an sangat dianjurkan dan sebagai suatu ibadah, maka hal-hal yang berkaitan dengannyapun telah dibuat aturannya. Diantaranya adalah membaca ta’awwudz ketika hendak membaca alqur’an.

فَإِذَا قَرَأْتَ اْلقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca alqur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. [QS. An-Nahl/ 16: 98].

Yaitu membaca;

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Disukai memohon perlindungan (kepada Allah ta’ala) ketika hendak membaca alqur’an dengan lafazh, “A’udzu billahi minasy syaithonir rojim”. [7]

Atau membaca,   [8]

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَ نَفْخِهِ وَ نَفَثِهِ

Atau membaca,

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَ نَفْخِهِ وَ نَفَثِهِ

Artinya, Aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui dari setan yang terkutuk dari godaan, tiupan dan bisikannya.

Dan masih banyak lagi aturan-aturan di dalam membacanya, misalnya dianjurkan membacanya dalam keadaan bersuci, melagukan dengan suara indah di dalam membacanya, membacanya dengan tartil dan penuh penghayatan, menangis dan meneteskan air mata di dalam membacanya, membatasi waktu di dalam mengkhatamkannya yakni tiga hari, memohon rahmat dan kebaikan ketika melewati ayat yang mengandung kebaikan, memohon perlindungan ketika melewati ayat yang mengandung siksaan dan lain sebagainya.

Adapun bacaan “shodaqollohul ‘azhim” yang diucapkan seorang muslim setelah membaca alqur’an merupakan perkara yang sudah menjadi budaya dan tidak asing bagi kita. Namun sebenarnya ucapan tersebut tidak ada tuntunan dan dalilnya dalam agama dan termasuk amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallamdan para sahabatnya. Bahkan menyelisihi amalan Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam ketika memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk berhenti dari membaca alqur’an dengan kata “hasbuk”(cukup), dan Ibnu Mas’ud tidak membaca shodaqollohul ’adzim.

Dalam shahih al-Bukhoriy disebutkan,

عن عبد الله ابن مسعود قال: قَالَ لِى النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: اقْرَأْ عَلَيَّ ! قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَ عَلَيْكَ أُنْزِلَ ؟ قَالَ: نَعَمْ فَقَرَأْتُ سُوْرَةَ النِّسَاءِ حَتَّى أَتَيْتُ عَلَى هَذِهِ اْلآيَةِ ((فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد و جئنا بك على هؤلاء شهيدا)) قَالَ: حَسْبُكَ اْلآنَ فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam telah berkata kepadaku, “Bacakan kepadaku (alqur’an)!” Aku menjawab, “Aku bacakan (alqur’an) kepadamu? Padahal alqur’an sendiri diturunkan kepadamu.” Maka Beliau menjawab, “Ya”. Lalu aku membacakan surat an-Nisa’ sampai pada ayat 41. Lalu beliau berkata, “Cukup, sampai sini.” Lalu aku melihat beliau, ternyata kedua matanya meneteskan air mata. [HR al-Bukhoriy: 5049, 5050, 5055, 5056, Muslim: 800, Abu Dawud: 3668 dan at-Turmudziy: 3027. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah hukumnya ucapan “shodaqollohul ‘azhim” (yang diucapkan) setelah membaca alqur’an?”.

Beliau menjawab, “Alhamdulillah wahdah, wa ash-Sholatu wa as-Salamu ala Rosulihi wa alihi wa shohbihi, wa ba’du; Ucapan “shodaqollohul ‘azhim” setelah selesai dari membaca alqur’an adalah bid’ah. Karena perbuatan itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, para al-Khulafa’ ar-Rasyidin, semua para shahabat radliyallahu anhum dan tidak pula seluruh para imam salaf rahimahumullah, padahal mereka sangat banyak membaca alqur’an, memelihara dan memahami tentang keadaannya. Maka membaca ucapan tersebut dan melazimkannya setelah membaca alqur’an adalah bid’ah yang diada-adakan.

Telah tetap dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فىِ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

 “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang tidak ada syariatnya maka hal tersebut tertolak”. [HR Muslim: 1718, al-Bukhoriy: 2697, Abu Dawud: 4606, Ibnu Majah: 14 dan Ahmad: VI/ 240, 270 dari Aisyah radliyallahu anha. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[10]

Dan di dalam lafazh imam Muslim,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal, yang tidak ada syariat kami di atasnya maka ia (yaitu amal tersebut) tertolak”. [HR al-Bukhoriy secara ta’liq lihat Fat-h al-Bariy: XIII/ 317, Muslim: 1718, Ahmad: VI/ 146, 180, 256 dan ad-Daruquthniy: 4491 juga dari Aisyah radliyallahu anha. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Shahih]. [11]

Wa billahi at-Taufiq. Semoga sholawat dan salam Allah dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad , keluarga dan para shahabatnya”. [12]

Ketika ditanya tentang masalah tersebut, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata dengan keras, bahwasanya perbuatan tersebut adalah bid’ah. [13]

Begitu pula Ra’id bin Shabriy bin Abi ‘Alafah telah memasukkan perbuatan ini kedalam perkara bid’ah. Ia berkata, “(Termasuk bid’ah) adalah kebiasaan mereka mengucapkan ‘shodaqollohul azhim’ ketika selesai dari membaca (alqur’an)”. [14]

Syaikh Muhammad Musa Nashr menyatakan, “Termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya (baca; bid’ah) yaitu mayoritas qori’ (orang yang membaca alqur’an) berhenti dan memutuskan bacaannya dengan mengatakan shodaqollohul ‘azhim, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan bacaan Ibnu Mas’ud dengan mengatakan hasbuk (cukup). Inilah yg dikenal para salaf dan tidak ada keterangan bahwa mereka memberhentikan atau mereka berhenti dengan mengucapkan shodaqollohul ‘azhim sebagaimana dianggap baik oleh orang-orang sekarang ini”. [15]

Kemudian beliau menukil pernyataan Syaikh Mustafa bin al-‘Adawi dalam kitabnya Shahih ‘Amal al-Yaumi wa al-Lailhalaman 64 yang berbunyi, “Keterangan tentang ucapan Shodaqollohul ’azhim ketika selesai membaca alqur’an; memang kata shodaqolloh disampaikan Allah dalam alqur’an dalam firman-Nya,

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, ’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah’. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” [QS Ali Imran/3 : 95].

Memang benar, Allah Maha Benar dalam setiap waktu. Namun masalahnya kita tidak pernah mendapatkan satu hadits pun yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri bacaannya dengan kata “Shadaqallahul’azhim.”

Di sana ada juga orang yang menganggap baik hal-hal yang lain namun kita memiliki Rasulullah Shallallanhu’alaihi wa sallam sebagai contoh teladan yang baik. Demikian juga kita tidak menemukan satu atsar, meski dari satu orang sahabat walaupun kita mencukupkan pada hadits-hadits Nabi Shallallanhu’alaihi wa sallam setelah kitab Allah dalam berdalil terhadap masalah apa pun. Kami telah merujuk kepada kitab Tafsir Ibnu KatsirAdlwa’ al-Bayan, Mukhtashar Ibnu katsir dan Fath al-Qadir, ternyata tak satu pun yang menyampaikan pada ayat ini, bahwa Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam pernah mengakhiri bacaannya dengan shodaqollohul ‘azhim. [16]

Kita yakin, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengetahui keberadaan ayat Ali Imran ini. Namun Beliau tidak pernah mengucapkannya setelah membaca alqur’an dan demikian pula para shahabat serta salaf ash-Shalih. Padahal mereka adalah orang yang paling giat membaca alqur’an dan mengkhatamkannya, paling fasih dan benar dalam membacanya dan paling mengerti akan makna dan tujuannya. Maka sesuatu yang tidak datang dari Beliau Shallallahu alaihi wa sallam maka tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dalam amal ibadah sedikitpun.

 Bila dikatakan “Ahh inikan cuma perkataan saja, apa dapat dikatakan bid’ah?” Perlu kita pahami, bahwa perbuatan bid’ah itu meliputi perkataan dan perbuatan sebagaimana sabda Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةِ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara yang baru diada-adakan, karena setiap perkara yang baru diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. [HR Abu Dawud: 4607, Ibnu Majah: 42, at-Turmudziy: 2676, Ahmad: IV/ 126, 127, al-Hakim: 333, 338 dan ad-Darimiy: I/ 44-45 dari al-Irbadl bin Sariyah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Sehingga apapun bentuknya, perkataan atau perbuatan yang dimaksudkan untuk ibadah yang tidak ada contohnya dalam agama, maka ia dikategorikan bid’ah. Bid’ah ialah tata cara baru dalam agama yang tidak ada contohnya, yang menyelisihi syariat dan dalam mengamalkannya dimaksudkan sebagai ibadah kepada Allah.

Oleh sebab itu hendaknya setiap muslim, terlebih para dainya agar senantiasa berhati-hati di dalam menyikapi, meyakini dan mengamalkan suatu amalan, sebab bisa jadi hal itu merupakan bid’ah, jika tidak memiliki dasar yang akurat dari alqur’an dan hadits yang shahih. Lalu jika bid’ah itu mereka anggap suatu kebaikan, maka mereka boleh jadi telah menuduh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengkhianati risalah Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Malik bin Anas,

مَنِ ابْتَدَعَ فىِ اْلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ  ُمحَمَّدًا صلى الله عليه و سلم خَانَ الرِّسَالَةَ ِلأَنَّ اللهَ يَقُوْلُ((اْليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ)) فَمَا َلمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَ يَكُوْنُ اْليَوْمَ دِيْنًا

Barangsiapa yang melakukan bid’ah di dalam Islam yang ia menganggapnya sebagai suatu kebaikan, maka sesungguhnya ia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam telah berkhianat di dalam (menyampaikan) risalah. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman ((Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagimu agamamu. QS al-Ma’idah/ 5: 3)). Maka, apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi agama pada hari ini. [18]

Perlu diingat dan dipahami bahwasanya sederhana di dalam mengamalkan sunnah adalah lebih baik dan bernilai daripada mengerjakan bid’ah dengan bersungguh-sungguh. Dan penuh dengan pengorbanan. Begitu pula sedikit amal yang sesuai sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam itu lebih baik dan berbobot daripada banyak beramal yang mengandung perkara bid’ah.

Dan mayoritas orang yang mengamalkan suatu amalan tidak dapat menjadi tolok ukur dan barometer dalam mengukur kebenaran. Karena ukuran kebenaran adalah sesuai alqur’an dan hadits-hadits shahih sesuai pemahaman para ulama salaf. Semisal bid’ah pengucapan shodaqollohul ‘azhim ini, kendatipun banyak kaum muslimin yang mengamalkan dan melazimkannya namun karena ketiadaan satupun dalil tentangnya maka amalan tersebut adalah bid’ah dan batil yang tidak boleh diamalkan.

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: اْلاِقْتِصَادُ فىِ السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ اْلاِجْتِهَادِ فىِ اْلبِدْعَةِ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Sederhana di dalam sunnah adalah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Hakim: 358 secara mauquf. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [19]

Dan Abdullah bin Mas’ud  dan al-Fudloil bin ‘Iyadl berkata,

عَمَلٌ قَلِيْلٌ فىِ سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمَلٍ كَثِيْرٍ فىِ بِدْعَةٍ

Amal sedikit di dalam sunnah adalah lebih baik daripada banyak amal namun di dalam bid’ah. [20]

عن ابن مسعود رضي الله عنه قَالَ: ِاتَّبِعُوْا وَ لاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Hendaklan kalian mengikuti (ittiba’) dan janganlah berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi (oleh Islam ini) dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. [Telah mengeluarkan atsar ini Ahmad dan ad-Darimiy: I/ 69].[21]

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَدْعُوْنَ إِلىَ كِتَابِ اللهِ وَ قَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِاْلعِلْمِ وَ إِيَّاكُمْ وَ التَّبَدُّعَ وَ التَّنَطُّعَ وَ عَلَيْكُمْ بِاْلعَتِيْقِ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, Kalian akan jumpai beberapa kaum yang mengajak (kalian) kepada kitab Allah padahal mereka (sendiri) meninggalkannya) di belakang mereka. Maka sebab itu, wajib atas kalian (berpegang) kepada ilmu dan waspadalah kalian terhadap (perbuatan) bid’ah dan sikap berlebih-lebihan. Wajib atas kalian (berpegang) dengan perkara yang kuno [Telah mengeluarkan atsar ini ad-Darimiy: I/ 54]. [22]

 Bid’ah sudah pasti kesesatannya meskipun dipandang oleh mayoritas manusia sebagai kebaikan, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak membutuhkan kepada penilaian, pandangan dan pendapat manusia di dalam menetapkan suatu bentuk dan tata cara ibadah maupun akidah. Dan setiap kesesatan itu akan bermuara dan bertempat di dalam neraka sebagaimana telah dituangkan di dalam hadits-hadits terdahulu, dan juga sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Umar,  [23]

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ إِنْ رَآهاَ النَّاسُ حَسَنَةً

“Semua bid’ah itu sesat, meskipun dipandang manusia sebagai suatu kebaikan”.

Begitulah bid’ah, orang awam akan melihatnya sebagai suatu ibadah yang sedap dipandang mata, nikmat didengar telinga dan lezat diamalkan oleh raga. Namun bagi orang yang berilmu, maka ia akan memandang bid’ah suatu racun yang sangat berbisa, virus yang amat mematikan dan khomer yang sangat memabukkan, yang akan membuat kepayang peminum dan penikmatnyanya sehingga ia tidak sadar dan mati rasa dalam menikmati bid’ah sehingga begitu ia tersadar, ia telah berada di liang lahad dengan penuh penyesalan.

Berkata asy-Syaikh Hammud bin Abdullah al-Mathor rahimahullah, “Oleh sebab itu, bid’ah itu lebih disukai oleh setan dari perbuatan maksiat dan dosa-dosa besar. Sebab perbuatan maksiat itu memungkinkan bertaubat darinya, maka hal itu akan memungkinkan bagi pelakunya untuk mengetahui bahwasanya ia telah berbuat dosa, merenungi taubat dan memulainya. Kadang-kadang ia menyepakatinya dan kadang-kadang tidak. Adapun orang yang berbuat bid’ah, maka sesungguhnya setan membaguskan perbuatan bid’ah itu kepadanya dan menjelaskan kepadanya bahwasanya siapapun yang menyelisihinya maka dia adalah orang sesat, bahwa barangsiapa yang berada di atas selain jalannya maka dia adalah batil dan bahwasanya kebenaran itu ada disisinya. [24]

Berkata Sufyan ats-Tsauriy, [25]

اْلبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلىَ إِبْلِيْسَ مِنَ اْلمـَعْصِيَةِ لِأَنَّ اْلمـَعْصِيَةَ يُتَابُ مِنْهَا وَ اْلبِدْعَةَ لاَ يُتَابُ مِنْهَا

Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis dari pada perbuatan maksiat,sebab perbuatan maksiat masih diharapkan taubat darinya, sedangkan bid’ah tidak diharapkan taubat darinya.

 Sesungguhnya perbuatan bid’ah ini telah mematikan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yakni berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengannya.

عن عمران بن حصين أَنَّهُ مَرَّ عَلَى قَارِئٍ يَقْرَأُ ثُمَّ سَأَلَ فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ قَرَأَ اْلقُرْآنَ فَلْيَسْأَلِ اللهَ بِهِ فَإِنَّهُ سَيَجِيءُ أَقْوَامٌ يَقْرَؤُوْنَ اْلقُرْآنَ يَسْأَلُوْنَ بِهِ النَّاسَ

Dari Imran bin Hushoin, bahwasanya ia pernah melewati seorang qori’ yang sedang membaca (alqur’an). Kemudian ia meminta-minta (dengannya), lalu Imron  beristirja’ [26] dan berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alahi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang telah selesai membaca alqur’an maka hendaklah ia meminta kepada Allah dengannya. Karena (suatu waktu) akan datang beberapa kaum yang membaca alqur’an lalu meminta-minta kepada manusia dengannya”. [HR at-Turmudziy: 2917 dan Ahmad: IV/ 432-433, 439, 445. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [27]

Ringkasnya, membaca dan memahami alqur’an adalah wajib bagi setiap muslim yang telah sampai usianya. Siapapun dia, apakah orang kaya ataupun miskinnya, laki-laki ataupun perempuannya, remaja ataupun kaum tuanya, orang sibuk ataupun penganggurannya, pejabat ataupun rakyat jelatanya dan sebagainya. Di dalam membacanya terdapat banyak sekali kebaikan-kebaikan. Oleh sebab itu, siapapun yang ingin meraih banyak kebaikan, maka hendaklah ia banyak membaca alqur’an.

Karena membaca alqur’an itu diperintahkan dan dijanjikan banyak pahala kebaikan di dalam membacanya, maka hal tersebut merupakan ibadah yang disyariatkan. Lalu jika membaca alqur’an itu termasuk ibadah yang disyariatkan maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan beberapa aturan tentangnya semisal membaca ta’awwudz ketika hendak membacanya, melagukan dengan suara indah di dalam membacanya, membatasi waktu di dalam mengkhatamkannya, memohon rahmat dan kebaikan ketika melewati ayat yang mengandung kebaikan, memohon perlindungan ketika melewati ayat yang mengandung siksaan dan sebagainya.

Kemudian bagaimana dengan posisi dan kedudukan ucapan shodaqolluhul ‘azhim yang dibaca setelah membaca alqur’an?. Maka, amalan tersebut jelas adalah bid’ah yang diada-adakan yang tidak pernah diamalkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, para shahabat radliyallahu anhum dan para ulama salaf rahimahumullah. Tidak ada satupun dalil hadits shahih, atsar para shahabat dan para tabi’in dan isyarat para ulama di dalamnya. Bahkan telah datang penjelasan tentang hal tersebut, bahwa perbuatan tersebut adalah bid’ah.

Lalu jika ucapan tersebut adalah bid’ah yang dilarang untuk mengamalkannya. Kalau begitu apa yang harus dilakukan setelah membaca alqur’an?. Jawabannya jelas, kita tidak boleh membuat-buat aturan sendiri, yakni kita tidak membaca apapun setelahnya. Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa salam memerintahkan kita untuk berdoa memohon kepada Allah ta’ala dengan permohonan yang sesuai dengan keinginan kita yang telah diajarkan oleh Rosul Shallallahu alaihi wa sallam di dalam beberapa doa yang telah diajarkan kepada kita.

Ya Allah dekatkanlah aku, keluargaku dan semua kaum muslimin kepada tauhid dan sunnah Nabi-Mu Shallallahu alaihi wa sallam dan jadikanlah kami sebagai para pencinta dan ahlinya. Dan ya Allah jauhkanlah aku, keluargaku dan seluruh kaum muslimin dari syirik dan bid’ah, dan jadikanlah kami sebagai para pembencinya.

 Wallahu a’lam bi ash-Showab.


[1] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6469, Misykah al-Mashobih: 2137 dan Syu’ab al-Iman: II/ 342.

[2] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2325, Shahih Sunan Abi Dawud: 1290, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5497 dan Misykah al-Mashobih: 2112.

[3] Bahjah an-Nazhirin: II/ 226-227.

[4] Shahih Sunan Abi Dawud: 1300, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2240, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8122, Misykah al-Mashobih: 2134 dan Syu’ab al-Iman: II/ 347.

[5] Bahjah an-Nazhirin: II/ 230-231.

[6] Mukhtashor Shahih Muslim: 1888, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2348, Shahih Sunan Ibnu Majah: 184, Shahih al-Jami ash-Shaghir: 5509, 6577 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 67.

[7] Aysar at-Tafasir: III/ 157.

[8] Untuk lebih jelasnya, lihat pembahasan ini di dalam kitab Shifat Sholah an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam oleh asy-Syaikh al-Albaniy, cetakan Maktabah al-Ma’arif Riyadl halaman 95-96, Ash-l Shifat Sholah an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam oleh asy-Syaikh al-Albaniy, cetakan Maktabah al-Ma’arif: I/272-276 dan Irwa al-Ghalil oleh asy-Syaikh al-Albaniy, cetakan al-Maktab al-Islamiy hadits nomor 342.

[9] Shahih Sunan Abu Dawud: 3115 dan Shahih Sunan at-Turmudziy: 2421.

[10] Shahih Sunan Abi Dawud: 3850, Shahih Sunan Ibni Majah: 14, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5970 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47.

[11] Mukhtashor Shahih Muslim: 1237, Irwa’ al-Ghalil: 88, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6398 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47.

[12] Al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma la ash-la lahu halaman 571-572, Hammud bin Abdullah al-Mathor, Cetakan pertama, Dar Ibnu Khuzaimah. Lihat juga pembahasan tentang Shodaqollohul ‘azhim di dalam kitab Majmu’ah Rosa’il at-Taujihat al-Islamiyyah, asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, cetakan Maktabah Ibnu Taimiyah dan Maktabah al-Ilmi bi Jeddah halaman 43-44.

[13] Majmu’ah Rosa’il at-Taujihat al-Islamiyyah, halaman 44.

[14] Mu’jam al-Bida’ halaman 528, cetakan pertama, Dar al-Ashomah.

[15] Al-Bahtsu wa al-Istiqra’ fi Bida’ al-Qurra’, Dr Muhammad Musa Nashr, cet 2, th 1423H.

[16] Haqiqah Al-Amru bi al-Ma’ruf wa an-Nahyi ‘An al-Munkar, Dr Hamd bin Nashir Al ‘Amar, cetakan 2.

[17] Shahih Sunan Abi Dawud: 3851, Shahih Sunan Ibni Majah: 40, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2157, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2549, Irwa’ al-Ghalil: 2455 dan Misykah al-Mashobih: 165.

[18] Al-I’tishom: I/ 49.

[19] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 37, al-Ibanah: 201, 246, 247, Talbis Iblis halaman 19 dan Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadli-lihi: 1306

[20] Al-Ibanah: 245, 249.

[21] Al-Ibanah: 175.

[22] Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadli-lihi: 1325 dan al-Ibanah: 189, 192.

[23] Al-Ibanah: 205 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 258.

[24] Al-Bida’u wa al-Muhdatsat wa ma la ashla lahu halaman 49.

[25] Talbis Iblis halaman 26, Syu’ab al-Iman: VII/ 59 (9455) dan Alam al-Jin wa asy-Syayathin halaman 68.

[26] Mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, sebagai bentuk ungkapan mendapatkan suatu mushibah.

[27] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2330, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6467 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 257.

WASPADAI BID’AH DI BULAN RAMADLAN !!

MACAM-MACAM BID’AH DAN KEMUNGKARAN DI BULAN RAMADLAN

بسم الله الرحمن الرحيم

 By Abu Ubaidullah Alfaruq

ramadlan3Bulan Ramadlan adalah bulan yang penuh dengan berkah dan penuh dengan banyak keutamaan. Allah subhanahu wa ta’ala telah mensyariatkan dalam bulan tersebut berbagai macam amalan ibadah yang banyak agar manusia semakin bertakwa dan mendekatkan diri kepada-Nya. Akan tetapi sebagian dari kaum muslimin berpaling dari keutamaan ini dan membuat cara-cara baru dalam beribadah. Seakan mereka lupa atau memang melupakan firman Allah ta’ala,

اْليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian”. (QS. Al-Maidah/ 5: 3).

Mereka lalai dan ingin melalaikan manusia dari ibadah yang disyariatkan. Mereka tidak merasa cukup dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau ridlwanullahi ‘alaihim ajma’in. Sehingga banyak dijumpai sebahagian besar mereka berlomba-lomba mengerjakan berbagai hal yang tidak pernah diteladankan Nabi mereka Shallallahu alaihi wa sallam. Jika ditanya, tujuan mereka sebenarnya hanya ingin beribadah dan menghidupkan bulan suci tersebut dengan berbagai ibadah yang mulia menurut sangkaan mereka, padahal semuanya itu adalah bid’ah yang tercela. Sungguh mereka telah menodai kesucian bulan Ramadlan ini tanpa mereka sadari.

Satu hal yang menodai bulan Ramadlan adalah bermunculannya amalan-amalan bid’ah yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Karena hal itu sudah sudah dilakukan secara turun temurun dan menjadi tradisi di masyarakat. Merekapun menganggap baik bid’ah tersebut. Itulah sebabnya setan lebih menyukai bid’ah daripada maksiat. Khususnya di bulan Ramadlan ini, salah satu cara setan untuk menghalangi kebaikan di bulan ini adalah menebar amalan-amalan bid’ah. Para pelaku bid’ah itu merasa mereka lebih dekat kepada Allah ta’ala dari yang lainnya, padahal mereka semakin jauh dari-Nya. Yang sangat menyedihkan adalah amalan-amalan bid’ah ini justru menjamur di bulan Ramadlan dan menjadi hal yang lumrah dan biasa.

Padahal bid’ah itu telah dilarang oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam banyak dalil, di antaranya,

Dari al-Irbadl bin Sariyah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

وَإِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةِ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara yang baru diada-adakan, karena setiap perkara yang baru diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. [HR Abu Dawud: 4607, Ibnu Majah: 42, at-Turmudziy: 2676, Ahmad: IV/ 126, 127, al-Hakim: 333, 338 dan ad-Darimiy: I/ 44-45. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 3851, Shahih Sunan Ibni Majah: 40, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2157, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2549, Irwa’ al-Ghalil: 2455 dan Misykah al-Mashobih: 165].

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, Adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda di dalam khutbahnya, memuji-Nya dan menyanjung-Nya yang Dia memang adalah Pemiliknya. Kemudian beliau bersabda,

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ اْلحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ أَحْسَنَ اْلهَدْيِ هَدْيُ  مُحَمَّدٍ وَ شَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلَّ  مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فىِ النَّارِ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tiada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap perkara yang baru diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan itu (tempatnya) di dalam neraka”. [HR an-Nasa’iy: III: 188-189, Muslim: 867, Ibnu Majah: 45, Ahmad: III: 319, 371 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1487, Shahih Sunan Ibni Majah: 43, Irwa’ al-Ghalil: 607, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1353].

Perhatikan bagaimana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umatnya agar senantiasa waspada terhadap segala sesuatu, baik keyakinan, perbuatan ataupun ucapan yang diada-adakan, tidak diperintahkan, tidak dicontohkan ataupun tidak diisyaratkan oleh Beliau Shallallahu alaihi wa sallam di dalam perkara-perkara syariat agama ini. Karena semua itu adalah merupakan bid’ah, yang kejahatannya lebih tersamar lagi bias dari kemungkaran yang lainnya, sesat bahkan menyesatkan, yang akan menyeret setiap pelakunya ke dalam neraka. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dan seluruh kaum muslimin darinya.

Secara syar’iy, bid’ah bermakna cara baru dalam agama yang dibuat menyerupai syariat, bertujuan dengan berjalan di atasnya untuk berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. [Al-I’tishom: I/ 37 dan Ushul fii al-Bida’ wa as-Sunan halaman 21].

“Cara baru dalam agama itu” maksudnya adalah bahwa cara yang dibuat itu disandarkan oleh pembuatnya kepada agama, meskipun tidak akan dijumpai dasar dan dalilnya sedikitpun di dalam syariat. Maka bid’ah itu adalah sesuatu perkara agama yang tidak ada dan keluar dari apa yang telah ditetapkan oleh syariat.

Dan makna “yang dibuat menyerupai syariat” [Ushul fi al-Bida’ wa as-Sunan halaman 22] maksudnya bahwa (sesuatu perkara agama yang dibuat itu) menyerupai cara syar’iy yang pada hakikatnya tidak ada dalam syariat, bahkan mungkin bertentangan dengan syariat dari beberapa segi, misalnya,

1). membuat-buat hukum sendiri, seperti; puasa untuk berdiri tidak mau duduk, berjemur di panas terik matahari tidak mau berteduh, puasa mutih dan lain sebagainya.

2). Atau menentukan cara dan bentuk tertentu di dalam ibadah yang tidak akan ditemui di dalam syariat, seperti; dzikir berjamaah dengan satu suara di tempat tertentu, menjadikan maulid Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan isra’ dan mi’rajnya sebagai hari raya dengan melakukan kegiatan tertentu semisal membaca kitab barzanziy, membaca sholawat-sholawat bid’ah dan lain sebagainya.

3). Atau menentukan ibadah-ibadah tertentu pada waktu-waktu tertentu yang tidak dijumpai di dalam syariat. Seperti; Shoum nisfu sya’aban dan menghidupkan malamnya, menghidupkan malam nuzulul qur’an, nyekar ke kuburan keluarga atau orang-orang shalih di awal bulan ramadlan atau syawal, meramaikan tahun baru Islam 1 muharram dengan berbagai kegiatan yang meniru kaum jahiliyah dan lain sebagainya.

Dan masih banyak lagi berbagai jenis dan contoh bid’ah yang dapat kita jumpai, mungkin ratusan, ribuan atau bahkan tak berbilang lagi. [Baca buku-buku: Mu’jam al-Bida’ susunan Ro’id bin Shobriy bin Abi ‘Alafah cetakan dar al-‘Ashimah, al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa maa la ashla lahu oleh Hammud bin Abdullah al-Mathor cetakan Dar Ibnu Khuzaimah, as-Sunan wa al-Mubtadi’at susunan asy-Syaikh Muhammad Abdussalam cetakan Dar al-Fikr dan lain sebagainya].

Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah di dalam kitabnya [Ahkam al-Jana’iz wa bida’uha halaman 306] berkata, “Sesungguhnya bid’ah yang dinyatakan sesat oleh pembuat syariat adalah sebagai berikut;

a). Semua yang bertentangan dengan as-sunnah, baik berupa ucapan, perbuatan ataupun keyakinan, meskipun ia merupakan ijtihad.

b). Semua perkara yang dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri (bertaqorrub) kepada Allah, sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarangnya.

c). Semua perkara yang tidak mungkin disyariatkan, kecuali dengan nash atau tauqif, dan tidak ada nashnya, maka ia adalah bid’ah kecuali amalan yang dikerjakan oleh shahabat, dimana amalan tersebut dilakukan berulang kali dan tidak ada penentangan sama sekali.

d). Berbagai adat istiadat orang-orang kafir yang dimasukkan ke dalam ibadah.

e). Apa yang ditetapkan sunnah (atau anjuran) oleh beberapa ulama, apalagi ulama muta’akhirin, tetapi tidak ada dalilnya.

f). Setiap ibadah yang tata caranya tidak dijelaskan melainkan di dalam hadits dlo’if (lemah) dan maudlu’ (palsu).

g). Berlebih-lebihan di dalam ibadah.

h). Setiap ibadah yang ditetapkan oleh pembuat syariat tanpa batas, tetapi kemudian dibatasi oleh manusia dengan beberapa batasan seperti; tempat, waktu, sifat atau jumlah.

Adapun pembagian bid’ah, al-Imam asy-Syathibiy [Al-I’tishom: I/ 286 dan Ushul fi al-Bida’ wa as-Sunan halaman 25-31 dan kitab-kitab lain yang berkaitan dengan pembahasan bid’ah] membagi dua macam yaitu,

1). Bid’ah haqiqiyyah yakni yang tidak ada dasarnya sama sekali dari dalil syar’iy, baik dari alqur’an, sunnah, ijma’ dan juga dari istidlal yang mu’tabar menurut ahli ilmu, tidak secara global dan tidak pula secara rinci.

Misalnya; (1). Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan cara melakukan rahbaniyah (kerahiban) yakni tidak ingin menikah sebagaimana dilakukan oleh para rahib dari kaum nashrani. (2). Menyerupakan riba dengan jual beli sebagaimana dilakukan oleh golongan yahudi. (3). Menyiksa diri dengan memukul-mukulkan punggung dengan cambuk atau menguruskan keringkan badan atau semisalnya sebagaimana yang dilakukan orang-orang syi’ah atau Hindu dengan tujuan meningkatkan derajat. (4). Mengukuhkan akal dan menolak nash-nash di dalam agama Allah sebagaimana dilakukan oleh para ahli filsafat, dan lain sebagainya.

2). Bid’ah idlofiyyah yakni bid’ah yang mempunyai dua campuran, yaitu salah satunya mempunyai dalil-dalil yang terkait dan dari segi ini ia bukanlah bid’ah, dan yang lainya tidak memiliki dalil yang terkait kecuali seperti yang ada pada bid’ah haqiqiyyah. Maka tatkala ada suatu amal (ibadah) yang mempunyai dua campuran yang tidak bersih pada salah satu dari dua sudutnya, maka ia ditempatkan pada julukan ini yaitu bid’ah idlofiyyah. Maksudnya bahwa bid’ah ini berhubungan dengan salah satu dari dua sisinya adalah sunnah sebab berdasarkan kepada dalil, dan berhubungan dengan yang lainnya adalah bid’ah karena bersandarkan kepada syubhat, tidak kepada dalil atau tidak bersandar kepada sesuatu. Dan perbedaan diantara keduanya adalah dari sisi makna. Bahwa dari sisi asalnya, dalilnya tegak berdiri tetapi dari sisi cara, kondisi dan rinciannya tidak ada, padahal ia membutuhkannya, sebab lazimnya terjadi bid’ah itu di dalam peribadatan bukan di dalam masalah adat yang murni.

Misalnya; (1). mengerjakan sholat ragha’ib, yaitu sholat sunnah 12 rakaat pada malam jum’at pertama bulan Rajab dengan cara-cara tertentu. Amalan ini dinyatakan bid’ah oleh para ulama dan termasuk bid’ah idlofiyyah, sebab sholat malam itu ada syariatnya tetapi tanpa rincian pengajaran yang ditentukan pada sholat ragha’ib. Begitu pula yang terjadi pada sholat nisfu Sya’ban. (2) Adzan untuk dua sholat ied dan sholat gerhana. (3) Ucapan istighfar di penghujung sholat secara berjamah dan dengan suara keras. Dan lain sebagainya.

Banyak dari kaum muslimin karena keawaman dan kejahilan mereka terhadap bimbingan dan petunjuk Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang jatuh kedalam berbagai jenis bid’ah, baik bid’ah dalam masalah wudlu, sholat, shoum, haji, kepengurusan jenazah, pernikahan dan lain sebagainya. Banyak diantara mereka menduga bahwa perkara tersebut merupakan sunnah dan dianjurkan oleh agama, dan bahkan menganggap orang-orang yang mengamalkan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebagai para pelaku bid’ah, alangkah buruk dugaan mereka itu. Namun di hari akhir nanti, akan tampak jelaslah keadaan mereka yang selalu mengada-adakan perkara agama atau mengganti-gantinya sesuai dengan hawa nafsu mereka, bahwa mereka nanti akan diusir dari telaga alkautsar, suatu tempat dimana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  akan menunggu umatnya disana sebagaimana diusirnya unta yang nyasar.

Di dalam dalil yang lain, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengancam siapapun dari umatnya yang mengamalkan atau membuat-buat sesuatu perkara agama yang tidak berdasarkan kepada syariat, meskipun dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan pengorbanan serta banyak dikerjakan oleh kaum muslimin, maka amal tersebut tidak akan diterima dan tidak mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun.

Dari ‘Aisyah bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal, yang tidak ada syariat kami di atasnya maka ia (yaitu amal tersebut) tertolak”. [HR al-Bukhoriy secara ta’liq lihat Fat-h al-Bariy: XIII/ 317, Muslim: 1718 lafazh ini baginya, Ahmad: VI/ 146, 180, 256 dan ad-Daruquthniy: 4491. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1237, Irwa’ al-Ghalil: 88, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6398 dan Shahiih at-Targhib wa at-Tarhib: 47].

Berkata Ibnu Baththol rahimahullah, “Maksudnya adalah barangsiapa yang berhukum dengan selain sunnah lantaran kejahilan (tidak tahu) atau karena suatu kesalahan, maka wajiblah baginya merujuk kepada hukum sunnah dan meninggalkan apa yang menyelisihinya, lantaran mengikut perintah Allah ta’ala yang menetapkan taat kepada rosul-Nya, dan inilah maksudnya berpegang teguh dengan sunnah”. [Fat-h al-Bariy: XIII/ 317].

  Dari Aisyah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ أَحْدَثَ فىِ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang tidak ada syariatnya maka hal tersebut tertolak”. [HR Muslim: 1718, al-Bukhoriy: 2697, Abu Dawud: 4606, Ibnu Majah: 14 dan Ahmad: VI/ 240, 270. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 3850, Shahih Sunan Ibni Majah: 14, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5970 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47].

Berkata asy-Syaikh Hammud bin Abdullah al-Mathor rahimahullah, “Di dalam hadits ini, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkhabarkan dengan “jumlah syarthiyyah” bahwa barangsiapa yang mengada-adakan di dalam agama Allah sesuatu yang tidak ada darinya, maka hal tersebut tertolak lagi ditolak atas pelakunya. Hatta jika ia mengada-adakannya dari niat yang baik, maka sesungguhnya tidak akan diterima darinya, karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari perkara agama ini melainkan dengan apa yang Ia syariatkan. [Al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa Ma la ashla lahu halaman 64].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy rahimahullah, “Hadits ini adalah termasuk beberapa hadits yang peranan Islam berada di atasnya. Maka sepatutnya untuk menghafal dan memasyhurkannya. Karena hal ini adalah kaidah yang agung di dalam menggugurkan perkara-perkara yang baru diada-adakan dan bid’ah-bid’ah”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 254].

  Dari Aisyah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ صَنَعَ أَمْرًا مِنْ غَيْرِ أَمْرِنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang membuat suatu perkara yang bukan dari urusan (agama) kami, maka ia tertolak”. [HR Ahmad: VI/ 73 dan Abu Dawud: 4606. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 3850, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6369 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47].

Dengan beberapa dalil di atas, sudah sepatutnya bagi setiap muslim untuk melazimkan ibadah dengan apa yang telah didatangkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai bentuk ketaatan, kecintaan dan pengagungan kepada Beliau. Sebab sedikit amal di dalam mengikuti sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah lebih baik dan lebih bernilai daripada mengerjakan banyak amal namun mengandung perkara bid’ah.

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata,

اْلاِقْتِصَادُ فىِ السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ اْلاِجْتِهَادِ فىِ اْلبِدْعَةِ

“Sederhana di dalam sunnah adalah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Hakim: 358 secara mauquf. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 37, al-Ibanah: 201, 246, 247, Talbis Iblis halaman 19 dan Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadli-lihi: 1306].

Dan Abdullah bin Mas’ud  dan al-Fudloil bin ‘Iyadl berkata,

عَمَلٌ قَلِيْلٌ فىِ سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمَلٍ كَثِيْرٍ فىِ بِدْعَةٍ

Amal sedikit di dalam sunnah adalah lebih baik daripada banyak amal namun di dalam bid’ah. [Al-Ibanah: 245, 249].

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata,

ِاتَّبِعُوْا وَ لاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hendaklan kalian mengikuti (ittiba’) dan janganlah berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi (oleh Islam ini) dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. [Telah mengeluarkan atsar ini Ahmad dan ad-Darimiy: I/ 69 lihat Al-Ibanah: 175].

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata,

سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَدْعُوْنَ إِلىَ كِتَابِ اللهِ وَ قَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِاْلعِلْمِ وَ إِيَّاكُمْ وَ التَّبَدُّعَ وَ التَّنَطُّعَ وَ عَلَيْكُمْ بِاْلعَتِيْقِ

“Kalian akan jumpai beberapa kaum yang mengajak (kalian) kepada kitab Allah padahal mereka (sendiri) meninggalkannya) di belakang mereka. Maka sebab itu, wajib atas kalian (berpegang) kepada ilmu dan waspadalah kalian terhadap (perbuatan) bid’ah dan sikap berlebih-lebihan. Wajib atas kalian (berpegang) dengan perkara yang kuno [Telah mengeluarkan atsar ini ad-Darimiy: I/ 54, lihat Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadli-lihi: 1325 dan al-Ibanah: 189, 192].

Camkan bagaimana seorang shahabat yang bernama Ibnu Mas’ud Radliyallahu anhu, karena pahamnya beliau terhadap bahayanya bid’ah dan keutamaan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau beritikad bahwasanya sederhana di dalam mengamalkan sunnah lebih utama dan lebih baik disisi Allah Subhanahu wa ta’ala daripada melakukan bid’ah kendatipun dikerjakan dengan sungguh-sungguh, ada pengorbanan dan banyak dilakukan oleh mayoritas kaum muslimin. Sebab mengerjakan sunnah itu akan mendatangkan pahala dan balasan kebaikan di akhirat kelak meskipun sedikit. Sedangkan mengamalkan bid’ah kendatipun mengorbankan banyak harta dan tenaga serta penuh keikhlasan adalah perkara yang sia-sia, tiada mendatangkan balasan kebaikan di akhirat nanti, bahkan akan menjerumuskannya ke dalam dosa dan api neraka.  Ma’adzallah.

Beliau Shallallahu alaihi wa sallam juga mengajak umat Islam untuk senantiasa ittiba’ yakni mengikuti Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di segenap ibadahnya dengan bimbingan alqura’n dan hadits-hadits yang telah tsabit darinya. Dan mengajak pula untuk meninggalkan perkara-perkara bid’ah, sebab Allah Azza wa Jalla telah mencukupi umat ini dengan islam yang lengkap dan sempurna, tidak butuh kepada penambahan, pengurangan, pengubahan ataupun penggantian. Semua perkara bid’ah yang telah dinyatakan sesat oleh Rosul Shallallahu alaihi wa sallam di dalam sabda-sabdanya, tidak ada penamaan bid’ah hasanah sebagaimana yang diyakini oleh mayoritas kaum muslimin. Sebab jika disebut bid’ah di dalam syar’iy maka yang dimaksud adalah bid’ah dalam agama atau ibadah yang telah nyata-nyata kesesatan dan kerusakannya. Dan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Semua bid’ah adalah sesat”, menunjukkan lafazh ‘amm yakni menyeluruh tidak bermakna ‘sebahagian atau diantaranya’. Namun jika yang dimaksud mereka adalah perkara keduniaan yang senantiasa berkembang sesuai kebutuhan dan pemikiran manusia semisal adanya pesawat terbang, komputer, internet, mobil, telepon dan lain sebagainya, hal itu tidak dinamakan bid’ah. Kalau sekiranya dinamakan bid’ah juga, itu hanya sebatas ungkapan bahasa saja.

Hendaknya setiap muslim, terlebih para dainya agar senantiasa berhati-hati di dalam menyikapi, meyakini dan mengamalkan suatu amalan, sebab bisa jadi hal itu merupakan bid’ah, jika tidak memiliki dasar yang akurat dari alqur’an dan hadits yang shahih. Lalu jika bid’ah itu mereka anggap suatu kebaikan, maka mereka boleh jadi telah menuduh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengkhianati risalah Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana telah dikatakan oleh  Imam Malik bin Anas,

مَنِ ابْتَدَعَ فىِ اْلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ  ُمحَمَّدًا صلى الله عليه و سلم خَانَ الرِّسَالَةَ ِلأَنَّ اللهَ يَقُوْلُ((اْليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ)) فَمَا َلمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَ يَكُوْنُ اْليَوْمَ دِيْنًا

Barangsiapa yang melakukan bid’ah di dalam Islam yang ia menganggapnya sebagai suatu kebaikan, maka sesungguhnya ia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam telah berkhianat di dalam (menyampaikan) risalah. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman ((Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagimu agamamu)). Maka, apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi agama pada hari ini. [Al-I’tishom: I/ 49].

Pernyataan di atas dengan jelas menerangkan bahwasanya siapapun yang melakukan bid’ah di dalam Islam lalu ia menganggap perbuatan bid’ah itu adalah suatu kebaikan, berarti ia telah menuduh dan menyangka bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam telah berkhianat di dalam menyampaikan risalah Allah ta’ala. Ia telah menuduh bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah lupa atau sengaja tidak menyampaikan suatu perkara bid’ah yang dianggap olehnya sebagai risalah Allah. Lalu dengan kejahilan atau kejumudannya yang beratas namakan logika, hawa nafsu ataupun juga persangkaan-persangkaan, ia membuat-buat atau mengamalkan bid’ah demi bid’ah sehingga tersebar luas di tengah-tengah masyarakat muslim sebagai suatu ajaran dari Islam. Yakni kaum muslimin karena keawamannya lebih mengenal perkara-perkara bid’ah ini sebagai ajaran Islam yang dianjurkan untuk diamalkan, sedangkan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam karena bertentangan dengan kebiasaan mereka, diperkenalkan sebagai bid’ah yang dianjurkan untuk ditinggalkan dan dijauhi. Perilaku mereka yang telah menistai lagi menodai perilaku Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang amanah di dalam risalah ini, telah dibantah oleh Allah Azza wa Jalla di dalam ayat berikut ini,

ياَأَيُّهَا الرَّسُـوْلُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَـا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

Wahai Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. [QS. al-Maa’idah/5: 67].

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Berfirman Allah ta’ala dalam keadaan berbicara kepada hamba dan rosul-Nya Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dengan nama risalah dan memerintahkannya untuk menyampaikan seluruh apa yang diutus oleh Allah. Dan sungguh-sungguh Rosul Shallallahu alaihi wa sallam telah mengikuti yang demikian tersebut, dan tegak dengan penegakan yang paling sempurna”. [Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: II/ 96].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy rahimahullah, “Di dalam ayat ini terdapat bantahan bagi golongan rafidloh yang mengatakan bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menyembunyikan sesuatu dari apa yang telah diperintahkan untuk menyampaikannya sebagai bentuk taqiyyah. Mereka telah berdusta, demi Rabb ka’bah, Aisyah ummul mukminin radliyallahu anha telah berkata, “Seandainya ada kemungkinan Rosul Shallallahu alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu, tentulah ia akan menyembunyikan ((عبس و تولى))  karena ayat ini berisi celaan terhadapnya Shallallahu alaihi wa sallam”. [Aysar at-Tafasir: I: 654, dari catatan kaki ].

Dari Masruq dari ‘Aisyah radliyallahu anha berkata, “Barangsiapa menceritakan kepadamu bahwasanya Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu dari yang telah diturunkan kepadanya, maka sungguh-sungguh ia telah berdusta, karena Allah ta’ala berfirman, ((Wahai Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. QS. al-Ma’idah/5: 67)). [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy: 4612, 7531, lihat Fat-h al-Bariy: VIII/ 275, XIII/ 503].

Maka bid’ah sudah pasti kesesatannya meskipun dipandang oleh mayoritas manusia sebagai kebaikan, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak membutuhkan kepada penilaian, pandangan dan pendapat manusia di dalam menetapkan suatu bentuk dan tata cara ibadah maupun akidah. Dan setiap kesesatan itu akan bermuara dan bertempat di dalam neraka sebagaimana telah dituangkan di dalam hadits-hadits terdahulu, dan juga sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Umar [Al-Ibanah: 205 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 258],

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ إِنْ رَآهاَ النَّاسُ حَسَنَةً

“Semua bid’ah itu sesat, meskipun dipandang manusia sebagai suatu kebaikan”.

وَ إِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فىِ اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَ إِنْ هُمْ إِلاَّ  َيخْرُصُوْنَ

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti melainkan persangkaan belaka dan mereka hanyalah mengadakan-adakan kebohongan. [al-An’am/ 6: 116].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy rahimahullah, “((Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah)) yaitu seandainya engkau mendengar (ucapan) mereka, mengambil ro’yu-ro’yu (pendapat/ akal) mereka dan mengabulkan usulan-usulan mereka pastilah mereka menyesatkanmu dari jalan Allah. Penyebabnya adalah bahwasanya kebanyakan mereka tidak ada hujjah dan juga tidak ada padanya ilmu yang sebenarnya dan semua yang mereka katakan adalah hawa nafsu dan bisikan-bisikan setan. Sesungguhnya tidaklah mereka mengikuti melainkan ucapan-ucapan persangkaan dan tidaklah mereka itu pada apa yang mereka ucapkan melainkan para pendusta lagi pembohong. Dan memadai bagimu ilmu Rabbmu tentang mereka, karena sesunggguhnya Allah ta’ala lebih mengetahui orang yang sesat dari jalan-Nya dan Ia pula lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk. [Aysar at-Tafasir: II/109].

Beberapa keterangan tafsir di atas memberi penjelasan bahwasanya ‘illat (penyebab) dilarangnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk mengikuti mayoritas (orang kebanyakan) adalah lantaran mereka senantiasa mengikuti persangkaan mereka bukan ilmu yakin yang diambil dan disalin dari firman Allah ta’ala dan sabda Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, dan juga karena bisikan dan tipu daya setan sebagai musuh yang paling utama bagi mereka, sehingga yang keluar dari lisan mereka hanyalah kebohongan belaka. Setan mengemas dan membungkus segala keburukan dengan berbagai kemasan yang indah dan menarik sehingga dipandang oleh sebahagian manusia sebagai kebaikan. Dan mengemas berbagai kebaikan dengan kemasan yang buruk dan menakutkan sehingga dilihat oleh sebahagian mereka sebagai suatu keburukan dan kejahatan. Tertipulah mereka di dunia dan celakalah mereka di akhirat.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنىِ لَأُزَيِّنَنَّ  لَهُمْ فىِ اْلأَرْضِ وَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ اْلمـُخْلَصِيْنَ

Iblis berkata, “Wahai Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, niscaya aku akan hiasi (amal buruk) untuk mereka di bumi dan aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka”. [QS. Al-Hijr/ 15: 39-40].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy rahimahullah, “Senjata yang paling tajam yang dipergunakan Iblis untuk menyesatkan anak Adam adalah menghiasi segala sesuatu. Jika sesuatu itu tercela lagi buruk maka dengan bisikannya, ia akan menjadikannya indah lagi elok sehingga manusia mengerjakannya”. [Aysar at-Tafasir: II/ 83].

Bid’ah adalah salah satu dari sekian banyak senjata ampuh dan tajam setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan dan kesesatan. Jika ada di antara mereka yang tersayat atau tertusuk dengannya maka sulit baginya untuk menyembuhkan dirinya, sebab ia tidak merasa sakit, menderita dan dalam bahaya, bahkan ia merasa sehat, bahagia dan dalam keamanan. Sampai suatu saat yaitu pada hari kiamat ketika segala tirai terbuka lebar, rahasia terungkap tuntas, dan semua orang sudah mendapatkan akibat, maka tampak jelaslah bahwa bid’ah yang mereka yakini dan amalkan itu adalah suatu keburukan dan kejahatan yang mendatangkan kebinasaan kelak sebab tertuduh sebagai kesesatan. Dan sunnah yang diitikadkan dan dijauhi mereka itu adalah suatu kebaikan yang akan mendatangkan keselamatan kelak sebab ditetapkan oleh syariat sebagai kebenaran.

Berkata asy-Syaikh Hammud bin Abdullah al-Mathor rahimahullah, “Oleh sebab itu, bid’ah itu lebih disukai oleh setan dari perbuatan maksiat dan dosa-dosa besar. Sebab perbuatan maksiat itu memungkinkan bertaubat darinya, maka hal itu akan memungkinkan bagi pelakunya untuk mengetahui bahwasanya ia telah berbuat dosa, merenungi taubat dan memulainya. Kadang-kadang ia menyepakatinya dan kadang-kadang tidak. Adapun orang yang berbuat bid’ah, maka sesungguhnya setan membaguskan perbuatan bid’ah itu kepadanya dan menjelaskan kepadanya bahwasanya siapapun yang menyelisihinya maka dia adalah orang sesat, bahwa barangsiapa yang berada di atas selain jalannya maka dia adalah batil dan bahwasanya kebenaran itu ada disisinya. [Al-Bida’u wa al-Muhdatsat wa ma la ashla lahu halaman 49].

Berkata Sufyan ats-Tsauriy [Talbis Iblis halaman 26, Syu’ab al-Iman: VII/ 59 (9455) dan Alam al-Jin wa asy-Syayathin halaman 68],

اْلبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلىَ إِبْلِيْسَ مِنَ اْلمـَعْصِيَةِ لِأَنَّ اْلمـَعْصِيَةَ يُتَابُ مِنْهَا وَ اْلبِدْعَةَ لاَ يُتَابُ مِنْهَا

Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis dari pada perbuatan maksiat,sebab perbuatan maksiat masih diharapkan taubat darinya, sedangkan bid’ah tidak diharapkan taubat darinya.

Maka siapapun yang mengerjakan bid’ah, sulit diharapkan taubat darinya sebab ia tidak merasa bersalah dan tidak akan mengakui kesesatannya. Lalu ia akan terus, terus dan terus mengamalkan dan menyebar-luaskannya keberbagai penjuru dunia dan kepada tiap manusia yang ada, sampai akhirnya ajal menjemputnya, kecuali jika Allah Jalla Jalaluhu menghendaki kebaikan dan rahmat kepadanya dengan memberikan hidayah kepadanya. Sebab bagaimana mungkin seseorang bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Tabaroka wa ta’ala jika ia tidak menyadari kesalahan dan kekeliruannya, orang yang mengakui bersalah saja kadang-kadang berat baginya untuk bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya apalagi yang tidak mengakuinya. Begitu pula reaksi dari masyarakat karena keawaman mereka, jika diberitakan akan adanya kejadian kriminal berupa pencurian, pesta minuman keras atau bahkan narkoba, perjudian, prostitusi dan lain-lain kemungkaran maka mereka bergegas datang untuk mencegah dan menolaknya, tetapi jika terjadi keramaian berupa acara-acara yang bernuansa bid’ah maka mereka tidak akan peduli dan bahkan mereka akan ikut bergabung  untuk meramaikannya. Maka bagaimana mungkin mereka diharapkan dapat bertaubat dari bid’ah jika demikian.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan bahwa bid’ah ini adalah kemungkaran yang amat tersamar lagi bias dengan ibadah sehingga banyak manusia yang tidak menyadari kesalahannya ketika mengerjakannya. Sebab bid’ah adalah kemungkaran yang dikemas indah dan menarik oleh iblis la’anahullah dan kawan-kawannya dari golongan manusia lalu dibuat menyerupai syariat, sehingga orang yang tidak tahu menganggap dan meyakininya sebagai bentuk ibadah yang dianjurkan dan akan diberi balasan kebaikan. Maka jika mereka sudah meyakininya sebagai ibadah yang diajarkan dan dianjurkan bukan bid’ah dilarang dan ditentang maka bagaimana mereka dapat berpaling darinya dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Oleh sebab itu melalui tulisan ini kami mencoba mengangkat beberapa amalan bid’ah yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin pada bulan Ramadlan, yaitu amalan-amalan yang dilakukan akan tetapi tidak diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat beliau. Semoga dengan mengetahui hal ini, kaum muslimin bisa meninggalkan dan menanggalkan perbuatan tersebut, minimal jadi bahan pertimbangan bagi mereka.

1].  Menyambut Ramadlan

1). Bid’ah hisab.

Yakni menentukan awal Ramadhan dengan perhitungan hisab. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa telah menegaskan bahwa cara seperti itu adalah bid’ah dalam agama. Silakan lihat Majmu’ Fatawa (XXV/179-183).

2). Mendahului puasa satu hari atau dua hari sebelumnya

Rosulullah telah melarang mendahului puasa ramadlan dengan melakukan puasa pada dua hari terakhir di bulan Sya’ban, kecuali bagi yang memang sudah terbiasa puasa pada jadwal tersebut, misalnya puasa senin kamis atau puasa Dawud. Rosulullah bersabda, “Janganlah kalian mendahului puasa ramadlan dengan melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi yang terbiasa melakukan puasa pada hari tersebut maka tidak apa-apa baginya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perbuatan seperti itu merupakan kedurhakaan terhadap Rosulullah Shallallahu álaihi wa Sallam. Rosulullah melarang mendahului Ramadlan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi yang bertepatan dengan hari puasanya. [Lihat kitab Al-Ibdaa’ fi Madlar Al-Ibtida’ karangan asy-Syaikh Ali Mahfuzh].

3). Nyekar atau ziarah kubur ketika memasuki bulan Ramadlan

Tradisi nyekar atau ziarah kubur menjelang atau sesudah ramadlan ini banyak dilakukan oleh kaum muslimin, bahkan di antara mereka ada yang sampai berlebihan dengan melakukan perbuatan-perbuatan syirik di sana. Perbuatan ini tidak disyariatkan. Ziarah kubur dianjurkan agar kita teringat dengan kematian dan akhirat, akan tetapi mengkhususkannya karena acara tertentu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah maupun para sahabat radliyallahu anhum.

4). Mandi besar/ janabat.

Yaitu mandi yang dikhusukan menyambut bulan Ramadlan, biasa juga disebut padusan. Biasanya pada satu hari menjelang satu ramadlan dimulai, dan dikerjakan pada sore hari sebelum maghrib ketika memasuki bulan Ramadlan. Terkadang mandinya juga asal mandi, yaitu mandi dengan mengguyurkan air ke seluruh tubuh dan yang penting pakai shampo dengan niat mandi besar. Perbuatan ini tidak disyariatkan dalam agama ini, yang menjadi syarat untuk melakukan puasa ramadlan adalah niat untuk berpuasa esok pada malam sebelum puasa, adapun mandi janabat untuk puasa Ramadhan tidak pernah ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

5). Bid’ah makan-makan sebelum puasa Ramadlan.

Yakni makan-makan atau kenduri di masjid atau surau satu hari menjelang Ramadlan, biasa juga disebut dengan punggahan. Di beberapa tempat, masyarakat berbondong-bondong membawa makanan beraneka ragam untuk kenduri di masjid menyambut datangnya bulan Ramadlan. Hal ini tidak ada contohnya dari Rasulullah, para Shahabat maupun Salafus Shalih.

6). Bid’ah pesta ru’yah.

Yaitu berkeliling kota atau desa menyambut malam pertama bulan Ramadlan sebagaimana biasa dilakukan oleh pengikut-pengikut tarekat dan orang awam. [Lihat kitab Al-Ibda’ fi Madlarr Al-Ibtida’ karangan asy-Syaikh Ali Mahfuzh].

2].  Bid’ah Sahur dan Adzan.

1).Bid’ah Tashir (membangunkan orang-orang untuk sahur).

Yakni membangunkan orang untuk sahur dengan berteriak, “Sahuuur….sahuuur. Perbuatan seperti ini tidak ada contohnya di zaman Rasulullah dan tidak pula diperintahkan oleh beliau. Dan tidak pula dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in.

Di negeri Mesir, para muadzdzin menyerukan lewat menara masjid, “Sahuuur… sahuuur… makan…. minum…., kemudian membaca firman Allah,

        يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُم لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)

Di negeri Syam lebih parah lagi, mereka membangunkan sahur dengan membunyikan alat musik, bernyanyi, menari dan bermain.

Tidak ketinggalan di Indonesia, berbagai macam cara dilakukan oleh orang-orang awam. Ada yang keliling kampung sambil teriak-teriak, “Sahuuuur….sahuuuur. Di sebagian daerah dengan membunyikan musik lewat mikrofon masjid atau dengan membunyikan tape dan membawanya keliling kampung, ada yang membunyikan mercon, atau meriam bambu, memukul kentongan, kaleng, dan lain sebagainya.

Perbuatan ini merupakan salah satu bid’ah yang tidak pernah dilakukan pada masa Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau tidak pernah memerintahkan hal ini. Perbedaan tata-cara membangunkan sahur dari tiap-tiap daerah juga menunjukkan tidak disyariatkannya hal ini, padahal jika seandainya perkara ini disyariatkan maka tentunya mereka tidak akan berselisih.

2). Menyegerakan makan sahur.

Yaitu banyak di antara kaum muslimin yang makan sahurnya satu atau dua jam sebelum adzan shubuh bahkan lebih. Terkadang tujuannya adalah supaya dapat melakukan jalan-jalan pagi lebih awal setelah makan sahur atau sholat shubuh.

Padahal sunnahnya makan sahur adalah diakhirkan, yaitu sekitar 50 ayat dari alqur’an yang dibaca tartil.

3). Imsak (menahan diri) dari makan dan minum ketika adzan pertama, yang mereka namakan “adzan Imsak”. [Mu’jam al-Bida’ halaman 268].

Tradisi imsak, sudah menjadi tren dan budaya yang dilakukan kaum muslimin ketika ramadhan. Ketika waktu sudah hampir fajar, maka sebagian orang meneriakkan “imsak, imsak…” supaya orang-orang tidak lagi makan dan minum padahal saat itu adalah waktu yang bahkan Rasulullah menganjurkan kita untuk makan dan minum. Begitu pula, imsak ini juga diumumkan di stasiun bebagai televisi dan radio.

Bagaimana mungkin manusia mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah Subhanahu wa ta’ala, dimana Allah ta’ala melalui Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam telah menghalalkan manusia untuk makan dan minum sampai terdengar adzan shubuh, namun ada sebagian orang yang mengharamkannya 10-15 menit sebelum adzan shubuh.

Dari Anas dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau sholat. Maka Anas bertanya, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?”. Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca ayat al-Qur’an.” (HR. Bukhari: 1921 dan Muslim: 1097).

4). Memuntahkan makanan dan minuman dari mulut ketika suara adzan shubuh terdengar.

Banyak di antara kaum muslimin, karena keawamannya terhadap agama yang bersikap berlebihan dalam agama dan menyelisihinya. Misalnya, ketika mereka sedang sahur, tiba-tiba terdengar adzan shubuh berkumandang maka seketika itu juga memerka memuntahkan makanan dan minuman mereka yang berada di mulut mereka. Hal ini bertentangan dengan hadits berikut,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَ اْلإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Apabila seseorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan bejana (makanan dan minuman mereka) berada pada tangan mereka, maka janganlah ia meletakkannya sehingga ia menyelesaikan hajatnya”. [HR Ahmad: II/ 423, 510, Abu Dawud: 2350 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih, lihat Shahih Sunan Abu Dawud: 2060, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 607, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1394 dan Misykah al-Mashobih: 1988].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya orang yang mendapatkan munculnya fajar sedangkan bejana makanan dan minumannya itu ada pada tangannya, maka boleh baginya untuk tidak meletakkannya sehingga ia menunaikan hajatnya itu (yaitu makan dan minum). [Tamam al-Minnah halaman 417].

Katanya lagi, “Di antara faidah hadits ini adalah adanya batilnya bid’ah imsak sebelum fajar seukuran seperempat jam. Karena mereka mengerjakannya itu lantaran khawatir datangnya adzan subuh sedangkan mereka dalam keadaan sahur. Seandainya mereka mengetahui rukhsoh tersebut niscaya mereka tidak akan terjatuh ke dalam bid’ah tersebut. Maka perhatikanlah. [Tamam al-Minnah halaman 418].

5). Mandahulukan adzan dari waktu fajar shodiq, dengan alasan untuk hati-hati.

6). Melafazhkan niat ketika sahur atau dibaca ketika selesai sholat tarawih dan witir yang dibaca bersama-sama.

Yaitu lafazh,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Aku niat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadlan tahun ini karena Allah ta’ala”.

Melafazhkan niat ketika hendak melaksanakan puasa Ramadlan adalah tradisi yang dilakukan oleh banyak kaum muslimin, tidak terkecuali di negeri kita. Di antara yang kita jumpai adalah imam masjid shalat tarawih ketika selesai melaksanakan shalat witir mereka mengomandoi untuk bersama-sama membaca niat itu dengan suara keras untuk melakukan puasa besok harinya.

Perbuatan ini adalah perbuatan yang tidak di contohkan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga orang-orang shalih setelah beliau. Lafazh tersebut tidak akan dijumpai dalam hadits lemah atau palsu apalagi dalam hadits yang shahih atau hasan. Yang sesuai tuntunan adalah berniat untuk melaksanakan puasa pada malam hari sebelumnya cukup dengan meniatkannya dalam hati saja, tanpa dilafazhkan.

3]. Bid’ah-bid’ah ketika Berbuka dan selainnya.

1). Mengakhirkan berbuka dengan alasan untuk menepatkan waktu.

2). Menunda adzan maghrib dengan alasan kehati-hatian

Hal ini bertentangan dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan kita untuk menyegerakan berbuka.

Dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari: 1957, Muslim: 1098, at-Turmudziy: 699, Ibnu Majah dan Ahmad: V/ 331, 334, 336, 337, 339. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 593, Shahih Sunan at-Turmudziy: 563, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7694, Irwa’ al-Ghalil: 917 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1065).

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ اْلفِطْرَ  لِأَنَّ اْليَهُوْدَ وَ النَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَ

“Agama ini akan senantiasa unggul selama kaum muslimin menyegerakan berbuka. Karena orang-orang Yahudi dan Nashrani suka mengakhirkannya”. [HR. Abu Dawud: 2353, Ahmad: II/ 450, Ibnu Hibban, al-Hakim dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan, lihat Shahih Sunan Abu Dawud: 2063, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7689, Misykah al-Mashobih: 1995 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1067].

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, “Aku tidak pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedikitpun sholat maghrib  sehingga berbuka, walaupun hanya seteguk minuman dari air”. [Telah mengeluarkan atsar ini Abu Ya’ala dan Ibnu Khuzaimah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1068].

Dari Amr bin Maimun al-Audiy berkata, “Para shahabat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur”. [HR Abdurrazzaq di dalam al-Mushannaf dengan sanad yang sahih].

3). Puasanya para wanita sedangkan mereka dalam keadaan haidl sepanjang siang hari di bulan Ramadlan, dan (ketika) mendekati terbenamnya matahari mereka membatalkan puasa mereka dengan sesuap atau seteguk air.

4). Menahan diri untuk tidak bersiwak/ gosok gigi sampai tergelincirnya matahari.

Padahal bersiwak atau gogok gigi ini sangat dianjurkan bagi setiap muslim, terutama ketika hendak berwudlu, meskipun dalam keadaan berpuasa.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, “telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتىِ لَأَمَرْتُهُمْ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ بِوُضُوْءٍ أَوْ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ سِوَاكٌ وَ لَأَخَّرْتُ عِشَاءَ اْلآخِرَةِ إِلىَ ثُلُثِ اللَّيْلِ

“Andaikan aku tidak menyusahkan umatku niscaya aku perintahkan mereka berwudlu setiap kali sholat, bersiwak setiap kali wudlu dan menangguhkan sholat isya terakhir hingga mencapai sepertiga malam”. [Ahmad: II/ 259. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5318 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 200 ].

Dari Aisyah radliyallahu anha dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak itu pembersih bagi mulut dan diridloi oleh Rabb”. [HR an-Nasa’iy: I/ 10, Ahmad: VI/ 47, 62, 124, 238, ad-Darimiy: I/ 174 dan Ibnu Khuzaimah: 135. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5, Irwa’ al-Ghalil: 66, Misykah al-Mashobih: 381 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3695].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Bersiwak adalah penyebab mendapatkan ridlo Rabb Azza wa Jalla. Siwak adalah alat untuk membersihkan mulut. Allah Subhanahu wa ta’ala menyukai kebersihan dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri, oleh karena itulah Allah telah mensyariatkan sesuatu untuk mereka yang dapat membantu mereka untuk mendapatkan ridlo-Nya”. [Bahjah an-Nazhirin: II/ 342].

5). Bepergian pada bulan Ramadlan dengan maksud agar tidak berpuasa.

4]. Bid’ah-bid’ah sholat tarawih pada bulan ramadlan.

1). Cepatnya gerakan tarawih sebagaimana cepatnya gerakan burung gagak (mematuk makanan). Bahkan sebagian imam melakukan sholat tarawih 23 rakaat, dalam waktu kurang dari 20 menit.

2). Ucapan muadzdzin sebelum memulai sholat tarawih atau disela-sela sholat tarawih, “Sholaatut taraawih rahimakumullah” atau “Sholaatut taraawih aajarokumullah”. Lalu para berjamaah menyahut dengan teriakan2 tidak jelas, biasanya dengan kalimat, “Yaa Tawwaab Ya Waasi’al maghfiraoh Yaa Arhamar Raahimiin irhamnaa”.

Perbuatan ini juga tidak disyariatkan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula oleh para shahabat maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Oleh karena itu hendaklah kita merasa cukup dengan sesuatu yang telah mereka contohkan. Seluruh kebaikan adalah dengan mengikuti jejak mereka dan segala keburukan adalah dengan membuat-buat perkara baru yang tidak ada tuntunannya dari mereka.

3). Menyewa qori (pembaca alqur’an) untuk menjadi imam sholat tarawih di bulan Ramadlan.

Perbuatan ini termasuk bid’ah makruh, silakan lihat kitab As-Sunan wal Mubtida’at  halaman 161, Mu’jam al-Bida’ halaman 268 dan kitab Bida’ Al-Qurra’ karangan Muhammad Musa halaman 42.

4). Membatasi membaca surat tertentu dalam sholat tarawih. Sebagian imam membaca surat al-Fajr atau surat al-A’la atau seperempat surat ar-Rahman. Diantara keanehan-keanehan lainnya, ada sebagian thariqat shufiyah mengajarkan pada pengikut-pengikut mereka untuk membaca dalam shalat tarawih surat al-Buruj, dimana imam membaca pada setiap rakaat hanya satu ayat dari surat tersebut.

5). Memisahkan antara dua rakaat dengan membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas, kemudian mengucapkan shalawat dan salam atas Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

6). Bersalaman dan berjabat tangan dengan cara memutar bergiliran setelah sholat tarawih.

7). Bid’ah memilih-milih masjid untuk sholat tarawih di bulan Ramadlan, hingga terkadang harus bersafar karenanya. Rosulullah Shallallahu álaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk sholat di masjid yang terdekat dengan kita dan melarang memilih-milih masjid.

5]. Bid’ah perayaan tertentu pada bulan Ramadlan.

1). Perayaan Nuzulul Qur’an

Yaitu melaksanakan perayaan pada tanggal 17 Ramadhan, untuk mengenang saat-saat diturunkannya alqur’an. Perbuatan ini tidak ada tuntunannya dari praktek Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula para shahabat sepeninggal beliau.

2). Bid’ah perayaan mengenang perang Badar.

Salah satu perayaan bid’ah yang diada-adakan oleh manusia adalah peringatan perang Badar pada malam ke tujuh belas Ramadlan. Orang-orang awam dan yang mengaku pintar berkumpul di masjid pada malam itu. Perayaan dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Alqurán kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kisah perang Badar.

3). Bid’ah perayaan malam khatam Alqurán dalam sholat tarawih.

Yakni berdoa dengan suara keras secara berjama’ah atau sendiri-sendiri setelah mengkhatamkan alqurán.

Sebagian imam ada yang berlebihan dalam masalah ini. Mereka sengaja menyusun doa-doa dengan irama tertentu, mengikuti sajak, berusaha menangis atau memaksakan diri menangis dan khusyuk serta merubah-rubah suara dengan cara yang tidak pantas menjadi contoh dalam membaca Alqurán.

4). Takbiran

Yaitu menyambut datangnya ied dengan mengeraskan membaca takbir dan memukul bedug pada malam ied. Terkadang banyak di antara mereka yang meng-arak bedug sambil bertakbir keliling kampung/ kota dengan kendaraan sampai menjelang malam dan bahkan shubuh. Perbuatan ini tidak disyariatkan, yang sesuai dengan sunah adalah melakukan takbir ketika keluar rumah hendak melaksanakan sholat ied sampai tiba di lapangan tempat melaksanakan sholat ied.

5). Bid’ah Wada’ Ramadhan.

Salah satu bid’ah yang diada-adakan di bulan Ramadlan adalah bid’ah wada’ (perpisahan) Ramadlan. Yakni lima malam atau tiga malam terakhir di bulan Ramadlan para muadzdzin dan wakil-wakilnya berkumpul, setelah imam mengucapkan salam pada shalat witir, mereka melantunkan syair-syair berisi kesedihan mereka dengan kepergian bulan Ramadlan. Syair ini dilantunkan secara bergantian tanpa putus dengan suara keras. Tujuannya untuk mengumumkan kepada masyarakat bahwa malam ini adalah malam perpisahan bulan Ramadlan.

6). Banyak di antara mereka yang mempunyai kebiasaan membakar petasan/ mercon, kembang api dan sejenisnya, bahkan bermain bleguran yang terbuat dari bambu atau tanah. Semuanya itu hanya untuk kesenangan semata yang tidak ada faidahnya sedikitpun. Bahkan di dalamnya terdapat menyia-nyiakan harta dan membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain.

6]. Sholat-sholat bid’ah yang dilakukan pada bulan Ramadlan.

1). Sholat pada malam al-qadar yang dinamakan “Sholat Lailatul qadar”.

Yakni mengerjakan sholat dua rakaat berjama’ah setelah sholat tarawih, kemudian di penghujung malam mereka mengerjakan sholat seratus rakaat di malam yang mereka yakini sebagai malam Lailatul Qadar, karena itulah mereka menamakannya sholat Al-Qadar.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah menyatakannya sebagai amalan bid’ah berdasarkan kesepatakan para ulama. [Lihat dalam kitab Majmu’ Fatawa: XXIII/122].

2). Sholat “Jum’at Yatimah”, yaitu sholat jum’at pada jum’at terakhir dari bulan Ramadlan, dan seluruh penduduk negeri melaksanakan sholat jum’at itu pada masjid yang khusus. (Misalnya) penduduk Mesir sholat di Masjid Amr bin Ash dan penduduk Palestina sholat di Masjid Ibrahimi atau Masjid al-Aqsa. [Atau penduduk Jawa sholat di Masjid Ampel].

3). (Melaksanakan) Sholat wajib 5 waktu sehabis shalat jum’at yatimah, dengan sangkaan bahwasanya sholat-sholat itu menghapus dosa-dosa, atau menghapus sholat yang ditinggalkan.

4).Sholat tasbih dalam bulan Ramadlan.

Sebahagian kaum muslimin suka mengkhususkan sholat tasbih hanya pada bulan Ramadlan, karena anggapan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bahkan ada juga di antara mereka yang lebih mengkhususkan lagi yaitu pada malam lailatul qodar.

Mereka mengerjakan sholat tersebut dengan berjamaah, yang dikerjakan setelah menunaikan sholat tarawih dan witir. Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh sebahagian mereka tanpa ada dasarnya sedikitpun.

Demikianlah beberapa bid’ah yang dapat kami rangkum dalam kesempatan kali ini. Sebenarnya masih banyak lagi bentuk-bentuk bid’ah lainnya yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu di sini. Hendaknya kaum muslimin dapat menghindari amalan-amalan bid’ah tersebut agar bulan Ramadlan yang suci ini tidak ternodai dengannya.

Semua bid’ah-bid’ah ini terdapat pada sebagian besar negeri muslim, dan sebagiannya didapati pada suatu negeri dan tidak terdapat pada negeri yang lainnya. Sekiranya kita menyebutkan bid’ah-bid’ah secara keseluruhan pada seluruh negeri, tentulah akan menyita waktu dan tempat yang tidak sedikit. Dan juga akan keluar dari tujuan dan maksudnya, karena tujuan dan maksud tulisan ini hanya untuk mewaspadai dan mengingatkan kaum muslimin dari berbagai bid’ah, tradisi dan kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada saat menjelang Ramadlan , ketika memasukinya dan setelah melewatinya.

Semoga menjadi bahan renungan dan pertimbangan bagi orang yang memiliki hati yang bersih, akal yang jernih dan sikap yang memilih. Marilah mengamalkan berbagai amalan di bulan Ramadlan ini yang telah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dan jauhi, hindari, tinggalkan dan tanggalkan segala macam amalan yang tidak pernah ada syariatnya di dalam Islam agar kita selamat di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam bish showab.