MENGENAL FIQIH SESAT SYI’AH (2)…

MERATAP

Meratap atau niyaahah adalah perbuatan yang menggambarkan kesedihan seseorang atas musibah yang menimpanya dengan berteriak menangis, merobek-robek baju, menampar-nampar pipi, menyakiti diri, dan sejenisnya. Dalam perspektif Ahlus-Sunnah, sudah menjadi satu kesepakatan bahwa perbuatan ini adalah terlarang. Terlarang menurut nash dan akal sehat.

Allah ta’ala berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” [QS. Al-Baqarah : 155-157].

 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Ada empat perangai Jahiliyah yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya : (1) Membanggakan kedudukan, (2) mencela nasab (garis keturunan), (3) meminta hujan dengan bintang-bintang, (4) dan niyahah (meratapi mayit). Orang yang meratapi mayit, jika ia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba, maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan memakai baju panjang dari aspal panas dan baju besi yang sudah karatan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 934, ‘Abdurrazzaaq no. 6686, Ibnu Abi Syaibah 3/390, Ahmad 5/342-344, Ibnu Maajah no. 1581, Abu Ya’laa no. 1577, Ibnu Hibbaan no. 3143, Ath-Thabaraaniy 3/3426, Al-Baihaqiy 4/63, dan Al-Baghawiy no. 1533].

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju, dan menyeru dengan seruan Jahiliyyah (meratap)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1294 & 1297 & 1298 & 3519, Muslim no. 103, At-Tirmidziy no. 999, An-Nasaa’iy no. 1860, Ibnu Maajah no. 1584, Ibnul-Jaaruud no. 516, Ahmad 1/432 & 456 & 465, Ibnu Hibbaan no. 3149, Al-Baihaqiy 4/63, dan Al-Baghawiy no. 1534].

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْخَامِشَةَ وَجْهَهَا وَالشَّاقَّةَ جَيْبَهَا وَالدَّاعِيَةَ بِالْوَيْلِ وَالثُّبُورِ

Dari Abu Umaamah : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang merusak wajahnya, mengoyak-ngoyak bajunya, dan meraung-raung sambil mengutuk dan mencela diri” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 1585, Ibnu Hibbaan no. 3156, Ibnu Abi Syaibah 3/290, dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 759 & 775; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan Ibni Maajah 2/40].

Di sini saya tidak akan membahas larangan ini menurut perspektif Ahlus-Sunnah, namun akan memperkenalkan fiqh rekan-rekan Syi’ah yang diambil kitab-kitab mereka. Kita akan berkenalan dengan mereka. Tak kenal maka tak sayang, begitu kata pepatah.

Disebutkan oleh Penulis kitab Nahjul-Balaaghah, bahwasannya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu pernah berkata setelah wafatnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah perkataan yang ditujukan kepada beliau :

لو لا أنك نهيت عن الجزع وأمرت بالصبر لأنفدنا عليك ماء الشؤون.

“Seandainya engkau tidak melarangku berkeluh-kesah dan memerintahkaku bersabar, niscaya akan aku tumpahkan air mata (kesedihan)” [Nahjul-Balaaghah hal. 576. Lihat juga : Mustadrak Al-Wasaail 2/445].

‘Aliy bin Abi Thaalib pernah berkata :

من ضرب يده عند مصيبة على فخذه فقد حبط عمله.

“Barangsiapa yang memukul pipinya dengan tangannya saat musibah, sungguh telah batal amal (kebaikan)-nya” [Lihat : Al-Khishaal oleh Ash-Shaduuq hal. 621 dan Wasaailusy-Syii’ah 3/270].

Al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thaalib pernah berkata kepada saudara perempuannya yang bernama Zainab di Karbalaa’, sebagaimana dinukil oleh Penulis kitab Muntahaa Al-Aamaal dalam bahasa Persia, dimana terjemahan bahasa Arabnya adalah sebagai berikut :

يا أختي، أحلفك بالله عليك أن تحافظي على هذا الحلف، إذا قتلت فلا تشقي عليَّ الجيب، ولا تخمشي وجهك بأظفارك، ولا تنادي بالويل والثبور على شهادتي.

“Wahai saudariku, aku memintamu bersumpah atas nama Allah yang (jika telah engkau ucapkan) engkau harus menjaga sumpahmu itu. Seandainya aku terbunuh, janganlah engkau merobek-robek saku bajumu, jangan mencakar-cakar wajahmu dengan kuku-kukumu, dan jangan pula meraung-raung dengan mengutuk dan mencela diri saat aku gugur sebagai seorang syahid” [1/248].

Al-Kulainiy menyebutkan riwayat bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah membaiat para wanita dan bersabda :

لَا تَلْطِمْنَ خَدّاً وَ لَا تَخْمِشْنَ وَجْهاً وَ لَا تَنْتِفْنَ شَعْراً وَ لَا تَشْقُقْنَ جَيْباً وَ لَا تُسَوِّدْنَ ثَوْباً وَ لَا تَدْعِينَ بِوَيْلٍ

“Janganlah kalian menampar-nampar pipi, mencakar-cakar wajah, mencabuti rambut, merobek saku baju, memakai baju warna hitam, dan meraung-raung dengan kata-kata celaka” [Al-Kaafiy, 5/527].

Al-Kulainiy juga menyebutkan riwayat bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepada anaknya Faathimah dengan sabdanya :

إذا أنا مت فلا تخمشي وجهًَا ولا ترخي عليّ شعرًَا ولا تنادي بالويل ولا تقيمي عليَّ نائحة.

“Apabila aku meninggal, janganlah engkau mencakar-cakar wajah, mengurai rambut, meraung-raung dengan kata-kata celaka, dan mengadakan ratapan atasku” [idem].

Muhammad bin Babawaih Al-Qummiy atau Ash-Shaduuq pernah berkata :

من ألفاظ رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم التي لم يسبق إليها : النياحة من عمل الجاهلية.

“Termasuk perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam yang belum pernah diucapkan sebelumnya : ‘An-Niyaahah (ratapan) termasuk perbuatan Jahiliyyah” [Man Laa Yahdluruhul-Faqiih 4/271-272. Diriwayatkan juga oleh Al-Hurr Al-‘Aamiliy dalam Wasaailusy-Syii’ah 2/915, Yuusuf Al-Bahraaniy dalam Al-Hadaaiqul-Naadlirah 4/149, dan Al-Haaj Husain Al-Buruujardiy dalam Jaami’ Ahaadiitsisy-Syii’ah 3/488. Diriwayatkan oleh Al-Majlisiy dengan lafadh : (النياحة عمل الجاهلية) “An-Niyaahah adalah amalan Jahiliyyah”Bihaarul-Anwaar 82/103].

Jika kita telah membaca dengan seksama beberapa teks di atas, mari kita lihat gambar sebagai berikut :

 

Ini adalah peringatan Asyuuraa yang diperingati setiap tahunnya oleh orang-orang Syi’ah. Mereka berteriak-teriak, merobek-robek baju, dan melukai diri sebagai wujud partisipasi kesedihan atas gugurnya Al-Husain bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa di Karbalaa’ di tangan orang-orang dhalim. Orang yang tidak tahu pasti akan menyangka orang-orang tersebut terganggu kesehatan mentalnya saat melihatnya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aliy, dan Al-Husain radliyallaahu ‘anhumaa sebagaimana diriwayatkan dalam kitab mereka (Syi’ah) telah melarang perbuatan meratap. Dulu, saat sebagian anak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meninggal, beliau tidak pernah melakukannya. Tidak pernah ternukil riwayat bahwa beliau dan para shahabatnya melakukannya saat gugur syuhadaa’ Badr ataupun Uhud. Begitu pula ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu tidak melakukannya saat Fathimah radliyallaahu ‘anhumaa meninggal.

Pertanyaan yang sangat mendasar : “Dari mana asalnya perbuatan seperti nampak pada gambar di atas ?”.

Entahlah, saya tidak tahu.

Semoga sharing informasi ini ada manfaatnya bagi kita bersama. Yang ingin lihat videonya, silakan buka : sini.

[Abu Al-Jauzaa’ – 1431 H].

MENGENAL FIQIH SESAT SYI’AH (1)…

HUKUM MENERIMA DONOR SPERMA LAKI-LAKI AJNABIY KE RAHIM ISTRI

Berikut ini akan dituliskan sebagian fiqh Syi’ah dari fatwa salah seorang ulama tertinggi Syi’ah kontemporer, yaitu Aayatullaah Al-‘Udhmaa As-Sayyid ‘Aliy Al-Husainiy Al-Khaamainiy. Diambil dari kitab karangannya yang berjudul Al-Ajwibah (Al-Masaailut-Thibbiyyah) juz 2, hal. 71, Ad-Daarul-Islaamiyyah.

Pertanyaan :

“Apakah diperbolehkan untuk membuahi (sel telur/ovum) istri seorang laki-laki yang mandul dengan sperma (nuthfah) laki-laki ajnabiy (bukan mahram) dengan jalan memasukkan sperma tersebut ke dalam rahim si istri ?”.

Jawab :

Tidak ada larangan dari syari’at dalam usaha membuahi (sel telur/ovum) seorang wanita dengan sperma laki-laki ajnabiy. Akan tetapi wajib bagi wanita dan laki-laki itu untuk menjauhi pembuka hal-hal yang diharamkan, seperti memandang, menyentuh, dan yang lainnya. Meskipun demikian, apabila dilahirkan dari pembuahan tersebut seorang anak, maka ia tidak dinasabkan pada si suami, namun dinasabkan pada laki-laki pemilik sperma dan wanita pemilik rahim dan ovum. Sudah selayaknya dalam kondisi seperti ini agar berhati-hati, terutama menyangkut permasalahan waris……” [selesai jawaban dari Al-Khaamainiy].

Kita katakan :

Fatwa di atas adalah fatwa baathil yang akan menyebabkan kekacauan nasab dan direndahkannya kehormatan muslim/muslimah melalui jalan perzinahan. Allaahul-Musta’aan. Ada yang ingin mempraktekkan ? Saya kira, fithrah Islam akan mencegah kita untuk melakukannya, sekaligus akan mengingkarinya…….. kecuali………

Berikut adalah sumber penukilannya :

[Abul-Jauzaa’ Al-Atsariy – 1 Dzulhijjah 1430 H, Perumahan Ciomas Permai, Ciapus, Ciomas, Bogor – http://abul-jauzaa.blogspot.com].

Saudaraku, Inilah Orang-Orang Yang Tertipu Oleh Hizbut Tahrir,.. Dan Khilafah Khayalan Mereka,..

Mengapa Mereka Lebih Mendahulukan Khilafah Daripada Tauhid ???

بسم الله الرحمن الرحيم

felix siauwpun tertipu khilafah khayalanAbu Salma al-Atsary

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb pemelihara alam semesta, satu-satunya Ilah yang Haq untuk disembah, yang tiada sekutu bagi-Nya baik dalam nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum dan ibadah kepada-Nya, yang mengutus para nabi untuk menegakkan haq-Nya, yang menurunkan al-Kitab sebagai bayyinah atas keesaan-Nya, yang menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya, dan menjadikan segala maksud dan tujuan hanyalah untuk-Nya.
Amma Ba’du:

Sesungguhnya, sejak zaman dahulu hingga sekarang, sejak manusia pertama diciptakan hingga manusia terakhir akan binasa, Tauhid merupakan pondasi dasar ubudiyah seorang hamba, haq Rabb yang harus dipenuhi hamba-Nya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan suka maupun duka. Bahkan, tiadalah diutus para anbiya’ dimuka buni ini kecuali mengembalikan fitrah manusia pada kesuciannya, dalam mengabdi dan beribadah kepada penciptanya semata.

Namun, sungguh sayang, ketika kelompok-kelompok islam yang parsial/juz’iyyat dalam gerakannya bermunculan, mereka membangun bangunan yang dimulai dari atapnya, sedangkan pondasinya keropos dan kosong dari pilar-pilar aqidah, maka bagaimana mungkin bangunan tersebut akan berdiri, sedangkan pondasinya tidak ada, dan mereka mencurahkan segala daya dan upaya mencari cara untuk membangun atap bangunan yang tak berpondasi dan berpilar tersebut.

Mereka berfikir, jika mereka membangun pondasi terlebih dahulu, akan memerlukan waktu yang lama, biaya dan tenaga yang besar, sedangkan hujan, badai dan terik telah menyiksa, maka atap untuk berlindung lebih diperlukan, karena mereka tak kuat lagi tertimpa hujan dan panas terik…

Namun sungguh malang, karena upaya mereka itu adalah mustahil dan bodoh, karena biar bagaimanapun, pondasi adalah penting dalam membangun infra-struktur suatu bangunan, tanpa pondasi, maka kita seolah-olah hanya mengharap sesuatu yang tak mungkin tegak, bak hendak meraih bulan dan bintang di tengah malam, padahal tangan tak sampai.

Pun seandainya berdiri atap tersebut, dan mereka beranggapan telah aman dari hujan dan terik yang mendera, namun bangunan itu sangat lemah, hanya dengan tiupan angin sedikit saja, maka akan hancur berkeping-keping bangunan dan usaha mereka yang sia-sia tersebut.

Inilah perumpaan mereka, penyeru-penyeru islam yang senantiasa menggembar-gemborkan khilafah islamiyyah, namun mereka jahil dan acuh terhadap aqidah dan manhaj yang benar di dalam islam.

Inilah fenomena nyata saat ini, dimana banyak sekali kelompok yang mengklaim sebagai kelompok penegak syariat islamiyyah dan pelanggeng hukum-hukum islam, berkoar-koar ke sana kemari, meneriakkan dan memekikkan tathbiqus syarii’ah (penegakkan syariat), namun sekali lagi sungguh sayang, pekikan mereka tampak begitu parsial, seolah-olah syariat islam yang dimaksud hanyalah seputar hukum-hukum siyasiyyah saja, hanya penyelenggaraan hukum had, qishash, dan lain sebagainya.

Mereka melalaikan suatu hal yang lebih penting dari itu semua, yang merupakan dasar dan pijakan dari hukum-hukum lainnya, dan merupakan syariat terbesar di dalam islam, yang seharusnya kita tegakkan dan kita prioitaskan, sebagai pengejawantahan penegakkan syariat secara integral dan kaafah, yakni penegakkan haqqullah (hak Allah) yang wajib dipenuhi hamba-Nya, yaitu mentauhidkan-Nya di dalam uluhiyah/ubudiyyah.

Karena inilah metode rasululullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam dalam da’wahnya, manhajnya seluruh rasul dan nabi, karena Allah Ta’ala’ala telah menandaskannya secara gamblang di dalam firman-Nya surat An-Nahl ayat 36, “Dan sungguh telah kami utus pada tiap-tiap ummat seorang rasul, (yang menyeru) sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut.”

Mereka menyatakan bahwa menegakkan daulah merupakan ghoyah (tujuan) da’wah, dan daulah khilafah Islamiyyah adalah suatu hal yang niscaya dan wajib, mereka berdalil dengan qoidah ushul fiqh, Maa Laa Yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajibun, Suatu hal yang jika tanpanya tidak akan sempurna suatu kewajiban, maka hukumnya adalah wajib, karena tidaklah akan tegak syariat Islam kecuali jika ada perangkatnya, sedangkan daulah khilafah adalah perangkat syar’i untuk meng-implementasikannya. Maka daulah khilafah hukumnya wajib, dan tidak menegakannya termasuk dosa.

Mereka juga berdalil dengan hadits baiat, bersabda nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam, “Man maata walaysa fi unuqihi baa’iatan, fa maata miytaatan jaahilayatan” (barangsiapa yang mati sedangkan tidak ada baiat di pundaknya, maka matinya bagaikan bangkai jahiliah).

Anggapan mereka, bahwa baiat wajib atas kholifah/imamul a’dham, namun sekarang saat tak ada imamul a’dham, maka dengan kembali ke qoidah awal tadi, makai baiat adalah wajib, karena jika tak ada baiat maka mati kita adalah mati jahiliah, sehingga wajib atas kita untuk membaiat seorang imamul a’dham, padahal ba’iat takkan bisa ditegakkan jika tak ada daulah, maka menegakkan daulah hukumnya wajib, sehingga menurut anggapan mereka, orang-orang yang menegakkan daulah tidak terkena ancaman hadits tersebut, namun orang islam yang tak ada keinginan untuk menegakkan daulah terkena ancaman matinya dalam keadaan jahiliah.

Maka, kami katakan pada mereka, wahai para pengklaim penegak hukum islam dan perindu daulah khilafah islamiyyah, dengan cara apakah kalian memenuhi harapan antum tersebut?

Dengan metode bagaimanakah antum menegakkannya?

Na’am!!! Tidak dipungkiri bahwa syariat islam takkan bisa tegak secara sempurna jika tidak didukung oleh hukama’ atau daulah islamiyyah.

Sungguh merupakan suatu dambaan bagi kami dan kalian akan tegaknya daulah khilafah Islamiyyah ‘ala manhaj nubuwwah, namun ingatlah, bahwa islam ini adalah agama yang sempurna, yang tak butuh pengurangan terlebih lagi penambahan, telah terang metode da’wah al-haq di al-Qur’an dan as-Sunnah, bahwa tidaklah para nabi dan rasul (QS 16:36, 21:25), baik itu nabi Nuh kepada kaumnya (QS 7:59), Hud kepada kaum ‘Aad (QS. 7:65), Sholih kepada kaum Tsamud (QS. 7:73), Nabi Syuaib kepada Madyan (QS. 7:85), dan seluruh nabi hingga nabi terakhir kita Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam (39:65-66,dan masih banyak ayat pada tempat lain) melainkan adalah mereka semua diutus untuk menegakkan peribadatan hanyalah untuk Allah semata, baik dalam ibadah dan ahkam.

Lantas, mengapa gaung dan gema pekikan tathbiq syariiatil islaamiyyah yang kalian tabuh itu kosong dari syariat islamiyyah yang paling tinggi ini, yakni da’wah kepada tauhidul uluhiyyah/ibaadah?

Kenapa kalian konsentrasikan, fokuskan dan curahkan segala daya dan upaya kalian pada bagian yang parsial/juz’iyyah saja, yakni penegakkan daulah khilafah semata, penegakan syariat had, qishahsh dan yang semisalnya, sedangkan tidak pernah kami lihat kalian mengajak manusia kepada Aqidah yang benar secara tafshil (teperinci), kepada sunnah nabi yang mulia yang shohihah, kepada dien yang murni sebagaimana awalnya.

Maka kami katakan lagi kepada mereka mengenai dalil-dalil parsial mereka tentang ghoyah da’wah mereka yang mereka orientasikan kepada daulah, maka kami jawab :

1. Likulli maqaal maqaam wa likulli maqaam maqaal (tiap-tiap ucapan ada tempatnya dan tiap tempat juga ada ucapannya), kaidah yang kalian gembar-gemborkan, Laa yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajib, tentulah ada konteksnya, dan memang kami membenarkan bahwa daulah adalah suatu hal yang niscaya sebagai perangkat penegakkan syariat islamiyyah, dan ini adalah ideal keinginan tiap muslim, jika ada muslim yang tak menghendaki akan adanya daulah islamiyyah maka patutlah dipertanyakan keimanannya.

Namun satu hal yang harus diingat, metode apakah yang kita tempuh dalam menuju daulah Islamiyyah, inilah yang membedakan antara kami dengan kalian. Kalian lebih fokus kepada upaya parsial dengan pengopinian kepada masyarakat pentingnya daulah islamiyyah dan penegakkan syariat (walau banyak dari kalian jahil terhadap syariat itu sendiri) sedangkan kita mengajak ummat secara integral dari metode yang digariskan Allah dan Rasul-Nya, yang kita berpijak dan berangkat darinya.

Maka wahai kalian yang berjuang dengan orientasi daulah, kita katakan, maa laa yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajib, dengan kaidah ini kita sepakat bahwa menegakkan daulah adalah suatu hal yang niscaya, maka mari kita juga bersepakat, dengan kaidah itu pula, tidak akan bisa tegak daulah jika kita tidak meniti dengan metodenya para anbiya’ dan rusul yang telah ma’tsur di dalam kitabain, yakni memulai dakwah ini dari tauhid dan akidah shahihah.

2. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah” (Al-Hujurat : 1), dari ayat ini maka wajib bagi tiap mu’min untuk mendahulukan al-Qur’an dan as-Sunnah dari lainnya, dan wajib berhujjah dengan keduanya, maka apakah layak bagi kita mendahulukan kaidah ushul fiqh di atas al-Qur’an dan as-Sunnah. Padahal ushul fiqh merupakan istinbath para ulama’ yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah,.

3. Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as-Sunnah)” (An-Nisaa’ : 59), dari ayat ini wajib atas mu’min jika berselisih untuk mengembalikan kepada al-Qur’an dan al-Hadits.

Sekarang kita berselisih terhadap orientasi da’wah, antum mengatakan daulah prioritas pertama saat ini sedangkan kami menyatakan tauhid dan akidah islamiyyah yang terpenting, maka merupakan kewajiban atas kita untuk mengembalikan perselisihan kita ini kepada kitabain, maka wahai kalian yang berorientasi kepada daulah dan tathbiqusy syarii’at, tunjukkan dalil-dalil kalian dari al-Qur’an dan as-Sunnah, di ayat mana para anbiya’ dan rusul memulai da’wahnya dan memprioritaskan da’wahnya kepada kekuasaan, di hadits mana??

Apakah qath’i ad-Dilalah (pasti penunjukannya)??,

Maka ketahuilah!!!

Kami dapat menunjukkan berpuluh-puluh ayat dari al-Qur’an dan beratus-ratus hadits tentang manhaj kami yang qath’i ad-Dilalah, bahwa metode haq dari kitabain adalah tauhid, prioritas pertama dan utama!!!

4. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah takkan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka.” (ar-Ra’du : 11), kita beristifaadah dengan ayat ini bahwa keadaan ummat ini takkan berubah hingga ummat ini yang merubah keadaan mereka, tentunya dengan cara/ikhtiyar yang masyru’ (disyariatkan), maka kita sama-sama sepakat dan sering menggunakan ayat ini, namun kita berbeda dalam pemahamannya.

Kalian sering menggunakan ayat ini sebagai hujjah wajibnya menerapkan syariat islamiyyah dan dorongan untuk menegakkannya sebagai solusi dari semua krisis ummat saat ini, namun kalian lupa, bahwa ikhtiyar manusia itu juga tak lepas dari Iradah syar’iyyah Allah, yakni Allah takkan menolong hamba-Nya yang tak menolong agama-Nya, Intanshurullahu yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum, mafhum muwaafaqah (pemahaman tekstual) dari ayat ini adalah, jika kita menolong agama Allah niscaya Allah akan menolong kita.

Kemudian mafhum mukhalafah (pemahaman berkebalikan) dari ayat ini adalah, jika kita tidak menolong agama Allah dengan cara yang digariskan Allah dan rasul-Nya, maka bagaimana mungkin Allah akan menolong kita dan memperteguh kedudukan kita, walaupun kita sudah berusaha untuk merubah keadaan kita, namun jika Allah tak menghendaki, yang disebabkan oleh faktor penghalang turunnya nashrullah, maka keadaan kita akan tetap demikian.

Dan ingatlah bahwa cara perubahan yang paling masyru’ adalah inqilabiyyah yakni dengan tashfiyah (pensucian/pemurnian) dari syirik, bid’ah, maksiat, dan tarbiyah (pembinaan) dengan akidah yang benar, sunnah yang shahihah, dan amal yang shalih. Inilah metode yang haq itu, inilah perubahan yang akan membawa kepada kemenangan, yakni at-Tashfiyah wat-Tarbiyah!!!

5. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah telah bejanji dengan orang-orang yang beriman diantara kalian dan beramal sholeh, bahwa ia sungguh-sungguh akan menjadikanmu berkuasa di bumi (dengan kekhilafahan), sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelummu berkuasa, dan sungguh ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhai-Nya untuk mereka, dan Ia benar-benar merubah keadaan mereka setelah mereka dala keadaan ketakutan menjadi aman sentausa, mereka tetap menyembah-Ku dan tiada mempersekutukan-Ku dengan suatu apapun.” (an-Nur : 55),

Ayat ini bagi orang-orang yang berakal pasti akan menunjukkan banyak faidah, dari tekstual ayat telah nyata bahwa merupakan janji Allah untuk memberikan kekuasaan bagi ummatnya yang beriman dan beramal shalih, iman kepada Allah secara ijmal (global) dan tafshil (terperinci), yang mana keimanan ini hanya dimiliki oleh ahlus sunnah wal jama’ah, dan beramal sholih, yang ikhlash lillahi Ta’ala dan ittiba’ rosul ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam.

Inilah syarat kemenangan itu, bahkan pada akhir ayat Allah menjelaskan syarat yang lain, yakni mentauhidkan-Nya semata dan tak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Lantas, bagaimana mungkin Allah Ta’ala akan mmberikan kekuasaan jika ummat ini masih jahil terhadap aqidah yang benar, mereka tak bisa membedakan mana syirik mana tauhid, mana sunnah mana bid’ah.

Mereka masih menyembah kuburan-kuburan, bertawassul dengan wali-wali dan orang shalih yang telah meninggal, menyeru mayat-mayat, membangun kubah di kuburan, ghuluw terhadap nenek moyang mereka, lantas bagaimana mungkin Allah akan memenuhi janji-Nya.

Maka berfikirlah!!!

Inilah yang ditinggalkan oleh hampir kebanyakan kelompok islam, yakni metode dakwah integral/kulliyat yang ittiba’ terhadap metode da’wah anbiya’ dan rusul, yang ma’tsur di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, yang tidaklah jika ummat ini berpijak dan berangkat dainya kecuali hanyalah kemenangan yang akan didapatnya. Maka berfikirlah sekali lagi wahai kalian yang berjuang menatap ke langit namun kepalamu tak mampu mendongak ke atas apalagi meraihnya.

6. Al-Ghoyah laa tubirrul washilah, Tujuan tak membenarkan segala cara, karena, al-ashlu fil ‘ibaadah al-ittiba’, asal dari ibadah adalah ittiba’ rasul, dan islam itu tauqifiyyah, laa yutsbitu illa bid’dalil, tidak ditetapkan kecuali dengan dalil, dan da’wah termasuk bagian dari islam, dan ia adalah da’wah, sedangkan da’wah itu adalah tauqifiyyah.

Maka wajib untuk ittiba’ terhadap metode rasul, maka kami tanyakan kepada mereka, ittiba’ terhadap siapakah kalian dalam metode dakwah kalian?

Tidakkah kalian telah melakukan bid’ah fi manhajid da’wah, bid’ah dalam metode da’wah?

Maka dimanakah hujjahmu wahai orang yang berakal???

Sungguh, kami dapat menunjukkan kepada mereka berpuluh hujjah akan lemahnya pemahaman mereka terhadap manhaj dakwah bid’iyyah mereka, banyak kitab yang telah ditulis para ulama’ mengenainya, namun kami cukupkan hanya sampai di sini.

Semoga dapat mengambil pelajaran orang-orang yang berakal, dan semoga impian mereka yang hanya isapan jempol semata itu dapat sirna dan mereka akhirnya tersadarkan bahwa kita takkan dapat meraih kekuasaan dengan pemahaman parsial, dan bersumber dari pemahaman mu’tazilah, khawarij dan kelompok sempalan islam.

sumber : https://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2009/10/27/mengapa-mereka-lebih-mendahulukan-khilafah-daripada-tauhid/

https://aslibumiayu.wordpress.com

Saudaraku, Mau Tahu Hubungan Hizbut Tahrir Dengan Syiah??

Hubungan Gelap Hizbut Tahrir Dengan Agama Syi’ah

بسم الله الرحمن الرحيم

ngawurnya HIZBUT TAHRIR INDONESIASepenggal Kisah Hizbut Tahrir Dan Hubungan Gelap Mereka Dengan Agama Syi’ah

Pendiri Hizbut Tahrir adalah Syaikh Taqiyuddin bin Ibrahim an-Nabhaani. Lahir di desa Ijzam sebelah selatan kota Heefa pada tahun 1909 M.

Ia sangat terpengaruh dengan kakeknya dari pihak ibu bernama Syaikh Yusuf Ismail an-Nabhaani yang terkenal dengan kesufiannya serta kebenciannya terhadap Salafush Shalih.

Sebagai buktinya adalah beberapa karya yang ditinggalkannya, seperti buku “Syawaahidul Haq fil Istighaatsah bi Sayyidil Khalq.”

Ia sangat terpengaruh dengan keyakinan-keyakinan sufi yang dipelopori oleh Kesultanan Utsmaniyah. Syaikh Mahmud Syukri al-Aluusi telah membantahnya dalam beberapa buku, di antaranya “Ghaayatul Amaani fir Radd ‘ala an-Nabhaani.”

Kemudian Taqiyuddin masuk Universitas al-Azhar. Lalu bekerja di Peradilan Agama dan pada tahun 1950 M ia diangkat menjadi anggota Mahkamah Banding Syariat kemudian ia mengundurkan diri.

Ia mencalonkan diri menjadi anggota Parlemen Yordania sebagai calon dari daerah al-Quds, akan tetapi ia tidak terpilih. Kemudian ia bekerja sebagai tenaga pengajar di Kuliyah Ilmiah Islamiyah.

Dan pada tahun 1952 M ia mengajukan permohonan resmi ke Departemen Dalam Negeri Yordania agar memberi izin resmi bagi partainya yang bernama Hizbut Tahrir Islami, akan tetapi permohonannya itu ditolak. Setelah itu partai ini melakukan kegiatan partai secara diam-diam.

Syaikh Taqiyudin an-Nabhaani meninggal dunia pada tahun 1977 M di Libanon. Kemudian kepemimpinan partai ini dilanjutkan oleh Abdul Qadim Zalum.1

Pendapat Hizbut Tahrir Tentang Nikah Mut’ah

Mereka berpendapat bahwa nikah mut’ah tidak haram, seperti yang disebutkan dalam selebaran tanya jawab no. 26 bulan Jumadil Awal 1390 H bertepatan dengan bulan Agustus tahun 1970: “Mut’ah menurut madzhab Ja’fari termasuk nikah.

Madzhab Ja’far dalam pandangan Hizbut Tahrir seperti madzhab Abu Hanifah. Pengadopsian madzhab ini dapat menyeret kepada kontroversi. Dan Hizb memilih untuk tidak mengadopsinya, akan tetapi Hizb mengeluarkan jawaban atas pertanyaan. Syabab Hizbut Tahrir tidak menyelisihi pendapat yang dikeluarkan meski tidak diadopsi”. 2

Hizbut Tahrir dan Revolusi Syi’ah Yang Kelam

Hizbut Tahrir bertepuk tangan menyambut kemenangan Revolusi Syi’ah yang kelam. Mereka berangkat ke Teheran, memberikan dukungan bagi Khomeini untuk mengangkat dirinya sebagai imam kaum muslimin dan pemimpin negara orang-orang yang tertindas. Akan tetapi Khomeini tidak mengacuhkan mereka dan tidak memperhatikan mereka.

Dalam pernyataan Hizbut Tahrir, mereka menyebut Khomeini dengan sebutan “Samaahatul Imam Ayatullah Khomeini al-Muhtaram.”

Mereka memanggil Khomeini dengan sebutan imam dan menunggu seberkas kebaikan darinya dan dari pengikutnya. Mereka menginginkan Khomeini menjadi imam bagi mereka.

Akan tetapi Khomeini bersikeras menyatakan keyakinan (Syi’ah) Rafidlahnya dan tetap mempertahankan aqidah syi’ahnya serta mengumumkannya terang-terangan dalam undang-undang.

Dengan terang-terangan Khomeini mengatakan kepada orang-orang yang tertipu itu, “Sesungguhnya Iran adalah negara syi’ah dan tidak akan berubah menjadi bentuk negara lainnya.”3

Selesai ditulis tanggal 16 Jumadal Akhir 1436 H / 6 April 2015.

Abu Aslam Benny Mahaputra A

Rujukan:

  1. Buku “Jama’ah-Jama’ah Islam (2) Ditimbang Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah” karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Pustaka Imam Bukhari.
  2. Buku “Mulia Dengan Manhaj Salaf” karya al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Taqwa.

Footnote:

  1. Lihat buku Jama’ah-Jama’ah Islam (2) halaman 162. Lihat juga buku Mulia Dengan Manhaj Salaf halaman 545.
  2. Lihat buku Jama’ah-Jama’ah Islam (2) halaman 167.
  3. Lihat buku Jama’ah-Jama’ah Islam (2) halaman 271-272.

sumber : https://muslimminang.wordpress.com/2015/04/14/hubungan-gelap-hizbut-tahrir-dengan-agama-syiah/

https://aslibumiayu.wordpress.com

Untukmu Hizbut Tahrir Indonesia, Kenapa Saudi Yang Dibenci?

Untuk HTI (Hizbut Tahrir Indonesia)

بسم الله الرحمن الرحيم

Beda HTI dan tentara saudiMemangnya ada yang lebih baik dari Saudi Arabia? Apakah lebih baik Pakistan? Mesir? Maroko? Iran? Kenapa membenci Saudi?

1. Apa karena satu-satunya negara yang menerapkan hukum hadd dan ta’ziir di zaman ini?

2. Apa karena mewajibkan toko-toko tutup di waktu sholat?

3. Apa karena melarang Musik di Mall dan kawasan-kawasan umum?

4. Apa karena menyebarkan dakwah tauhid dan sunnah?

5. Apa karena melarang praktek perdukunan serta ajaran kesyirikan dan bid’ah di seluruh negerinya? 6. Apa karena negara yg tidak ada tempat kemusyrikannya?

7. Apa karena seluruh wanitanya memakai hijab dan cadar?

8. Apa karena melarang industri per-film-an dan sinetron bagi warganya?

9. Apa karena negeri yang tidak ada premanisme dan kekerasan di jalanannya?

10. Apa karena telah meratakan kuburan dan tidak mengizinkan untuk membangun kubah-kubah di atasnya?

11. Apa karena telah sukses memberikan pendidikan gratis dari SD-Kuliah untuk seluruh penduduknya?

12. Apa karena merupakan negara yang telah memberikan donasi besar-besaran untuk kaum muslimin Palestina,Suriah,Bosnia dan korban tsunami Aceh?

13. Apa karena satu-satunya negara yg telah memberikan izin tinggal untuk para aktifis IM yg menjadi buronan presiden Jamal Abdun Nashir?

14. Apa karena telah memberikan bea siswa kepada kaum muslimin seluruh dunia untuk bisa mencicipi kuliah di LIPIA, Ummul Qura mekkah, Jamia’ah Islamiyah Madinah dan King Saud Riyadh?

15. Apa karena negara yg telah membangun jutaan Masjid dan Madrasah di seluruh dunia?

16. Apa karena negara yang telah mencetak dan menerjemahkan Al-qur’an ke lebih dari 25 bahasa untuk dibagikan secara GRATIS ke seluruh dunia?

17. Apa karena negara yang telah melarang paham liberal?

18. Apa karena negara yg tidak menjalankan sistem demokrasi?

19. Apa karena telah mengirimkan mujahidin untuk mengusir pasukan Uni soviet dari Afghanistan?

20. Apa karena telah menyewa tentara amerika untuk menghadang pasukan Irak yg berpaham komunis ba’tsiyyah demi keamanan dua tanah suci Makkah dan Madinah?

21. Apa karena telah membebaskan ka’bah dan masjidil Harom dari pembajakan kelompok takfiir Juhaymaan yang membantai jama’ah umroh dan haji?

22. Apa karena telah mengucurkan keringat demi melayani jama’ah haji dan umroh dari seluruh dunia setiap harinya?

23. Apa karena telah mengajak para Milyardernya untuk bershodaqoh pada musim Haji?

24. Apa karena telah menganjurkan lembaga-lembaga islam untuk membagikan kitab-kitab Ibnu taimiyyah dan Ibnul Qayyim secara gratis?

25. Apa karena telah melarang praktek perjudian,bar,diskotik,dan perzinaan di seluruh negerinya?

tablig akbar full musik

musik itu haram HTI

https://aslibumiayu.wordpress.com

SAUDARAKU, INILAH NASHIHAT UNTUK SEMUA KELOMPOK DAKWAH

SURAT BUAT KELOMPOK-KELOMPOK DAKWAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh : Syaikh Muhammad Jamil Zainu

Agama adalah nasehat
Rosulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

الدِّينُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا : لِمَنْ يَارَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : لِلهِ، وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَ ئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasehat, kami (para sahabat) bertanya, “Untuk siapa wahai Rosulullah?”. Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, ‘Untuk Allah, kitabnya, Rosulnya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan orang awamnya”. (HR. Muslim).

Dan sebagai aplikasi sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam di atas, maka saya ingin menyampaikan nasehat kepada seluruh kelompok dakwah Islam, agar senantiasa berpegang teguh dengan al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih berdasarkan pemahaman para ulama salaf, seperti : para sahabat, tabi’in, para imam mujtahidin dan orang-orang senantiasa meniti jejak mereka.

Kepada Kelompok Sufi

1. Nasehat saya kepada mereka agar menunggalkan Allah dalam do’a dan isti’anah (meminta pertolongan) sebagai bentuk perwujudan dari firman Allah,

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. (QS. Al-Fatihah : 5).
Dan sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

الدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”. (HR. Tirmidzi dan beliau berkata : hadits hasan shahih).

Dan wajib bagi mereka untuk meyakini bahwa Allah ada di atas langit, sebagaimana firman-Nya,

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,”(QS. Al-Mulk : 16).

Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, berkata Dia adalah Allah (sebagaimana disebutkan Ibnul Jauzi dalam tafsirnya).

Dan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنٌ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Tidaklah kalian percaya kepadaku, padahal saya adalah kepercayaan dzat yang di langit”(HR. Bukhari dan Muslim). Dan arti di langit adalah di atas langit.

2. Hendaklah mereka senantiasa mendasari dzikir-dzikir mereka dengan apa yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah (yang shahih –ed.) serta amalan para sahabat.

3. Jangan sekali-kali mendahulukan ucapan syaikh-syaikh melebihi firman Allah dan sabda Rosulullah shallahu alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Hujurat : 1).
Yakni : Jangan sekali-kali kalian mendahulukan ucapan atau perbuatan siapapun melebihi firman Allah dan sabda Rosulullah shallahu alaihi wa sallam. (tafsir Ibnu Katsir).

4. Hendaknya mereka beribadah dan berdo’a kepada Allah dengan rasa takut dari siksa neraka-Nya dan berharap surga-Nya. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan)”.(QS. Al-A’raf : 56)

Dan sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

أَسْأَلُ اللهَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِهِ مِنَ النَّارِ

“Saya meminta kepada Allah surga dan berlindung dengan-Nya dari neraka”.(HR. Abu Dawud dengan sanad shahih).

5. Mereka harus meyakini bahwa makhluk pertama dari kalangan manusia adalah nabi Adam alaihis salam, dan bahwasanya nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam adalah termasuk anak keturunannya dan semua manusia adalah anak keturunannya yang Allah ciptakan dari tanah.

Allah ta’ala berfirman,

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani”. (QS. Ghafir : 67)

Dan tidak ada satu dalilpun yang menunjukkan bahwa Allah menciptakan nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam dari nur (cahaya-Nya), bahkan yang masyhur bagi semua bahwa Allah menciptakannya dari kedua orang tuanya.

Kepada Jama’ah Tabligh

1. Nasehat saya kepada mereka agar berpegang teguh dalam dakwahnya dengan al-Qur’an dan sunnahnya yang shahih dan agar belajar al-Qur’an, tafsir, dan hadits sehingga dakwah mereka benar-benar di atas ilmu, sebagaimana firman Allah ta’ala,

“Katakanlah, “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata,”(QS. Yusuf : 108).

Dan sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

“Sesungguhnya ilmu (bisa diperoleh) hanya dengan belajar”. (Hadits hasan, lihat shahihul jami’).

2. Mereka harus berpegang teguh dengan hadits-hadits yang shahih dan menjauhi hadits-hadits yang dla’if (lemah) dan maudlu’ (palsu) sehingga tidak masuk pada apa yang disinyalir Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakan berdusta jika menceritakan semua apa yang didengarnya.”(HR. Muslim).

3. Kepada al-Ahbab (orang-orang yang saya cintai) agar tidak memisahkan antara amar ma’ruf dan nahi munkar, karena Allah banyak menyebut-Nya secara bersamaan dalam ayat-ayat al-Qur’an, seperti firman Allah ta’ala,

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali Imran : 104)

Dan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam juga punya perhatian serius dan memerintahkan kaum muslimin untuk merubah kemungkaran, sebagaimana sabdanya shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran hendaklah merubah dengan tangannya, dan apabila tidak mampu, maka hendaklah merubah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman”. (HR. Muslim).

4. Hendaklah mereka memperhatikan dakwah kepada tauhid dengan serius. Dan mendahulukannya atas yang lainya, demi mengamalkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

فَلْيَكًُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةَ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ الله

“Jadikanlah pertama kali yang kalian dakwahkan kepada mereka adalah syahadat (kalimat tauhid) la ilaha illallah”. (HR. al-Bukhariy dan Muslim). Dan dalam riwayat lain, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهََ

“Sampai mereka (benar-benar) mentauhidkan Allah”.(HR. al-Bukhariy).
“Mentauhidkan Allah”, maksudnya adalah: menunggalkan Allah dalam semua jenis ibadah, lebih-lebih dalam hal do’a, karena sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

الدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah.”(HR. at-Tirmidziy dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih).

Kepada kelompok Ikhwanul Muslimin

1. Hendaklah mereka mengajarkan kepada anggota kelompoknya tauhid dan macam-macamnya, yakni ; tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma dan sifat, karena itu adalah masalah yang sangat urgen yang berpengaruh pada terwujudnya kebahagiaan induvidu maupun masyarakat, daripada sibuk dalam politik praktis dan yang mereka sangka sebagai fiqih waqi’ (realita –ed.). Ini bukan berarti buta dengan keadaan dunia dan manusia, tapi tidak berlebih-lebihan dengannya dan tidak pula menyepelekannya.

2. Hendaklah mereka menjauhi pemikiran-pemikiran sufi yang menyelisihi akidah Islam. Karena banyak kita jumpai dalam kitab-kitab mereka berisi akidah-akidah sufi yang batil:

a. Lihatlah pimpinan mereka di Mesir yaitu Umar Tilmisani yang banyak menyebutkan dalam bukunya “Syahidul Mihrab” akidah-akidah Sufi yang sangat membahayakan. Di samping membolehkan belajar musik.

b. Inilah Sayyid Quthub, menyebutkan dalam kitabnya “Dzilalul Qur’an” akidah sufi wihdatul wujud pada awal surat al-Hadid dan lain sebagainya dari takwil-takwil yang batil.

Dan sungguh saya telah menyampaikannya kepada saudaranya sendiri yaitu Muhammad Qutub agar mengomentari kesalahan-kesalahan akidah, karena ia adalah penanggung jawab penerbitan ”as-Syuruq”, akan tetapi dia menolaknya dan mengatakan: Saudara saya sendiri yang akan menanggungnya. Dan syaikh Abul Lathif Badr penanggung jawab majalah at-Tau’iyah di Mekah menyarankan kepadaku agar saya mendatanginya lagi.

c. Lihatlah “Said Hawa” beliau menyebutkan dalam kitabnya “Tarbiyatuna ar-Ruhiyah” akidah-akidah sufi sebagaimana sudah disebutkan di awal kitab .

d. Dan lihatlah pula “syaikh Muhammad al-Hamid” dari Suria, dia menghadiahkan kepadaku buku yang berjudul “Rudud Ala Abatil”.

Dalam buku ini ada pembahasan-pembahasan yang baik, seperti pengharaman rokok dan lainnya, akan tetapi dia juga menyebutkan bahwa di sana ada Abdal, Aqthab dan Aghwats , tapi tidaklah dinamakan al-Ghauts kecuali apabila bisa dimintai pertolongan !!!.

Padahal meminta kepada al-Ghauts dan al-Aqthab adalah termasuk syirik yang menghapus amalan. Dan ini adalah pemikiran sufi yang batil yang diingkari oleh syariat Islam.

Dan sungguh saya telah meminta kepada anaknya yang bernama Abdurrahman untuk mengoreksi perkataan bapaknya, tapi sayang diapun menolaknya.

3. Jangan sampai mereka dengki kepada saudara-saudara mereka dari salafiyyah yang senantiasa berdakwah kepada tauhid dan memerangi bid’ah serta berhukum kepada al-Qur’an dan sunnah karena mereka adalah saudara. Allah ta’ala berfirman,

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”. (al-Hujurat : 10).
Dan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتىَّ يُحِبَّ لأَِخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidak beriman sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.(HR. al-Bukhariy dan Muslim).

Kepada Salafiyun dan Ansharussunah al-Muhammadiyah

1. Wasiat saya kepada mereka agar senantiasa konsisten dalam berdakwah kepada tauhid dan berhukum dengan apa yang Allah turunkan serta perkara-perkara penting lainnya.

2. Dan agar lemah lembut dalam dakwah mereka bagaimanapun lawan yang dihadapinya. Sebagai aplikasi terhadap firman Allah,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl : 125)

Dan firman Allah kepada nabi Musa dan Harun,

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Toha : 43-44).

Dan sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقُ يُحْرَمُ الْخَيْرُ كُلُّهُ

“Barangsiapa yang diharamkan baginya lemah lembut, berarti diharamkan baginya seluruh kebaikan”.(HR. Muslim).

3. Hendaklah mereka sabar terhadap gangguan yang menimpa mereka, karena Allah selalu menyertai mereka dengan pertolongan dengan memberikan kekuatan kepada mereka.
Allah ta’ala berfirman :

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka, dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. An-Nahl : 127-128).

Dan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اَلْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَيُخَالطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka lebih utama daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka”. (Hadits shahih riwayat Imam Ahmad dll).

4. Orang-orang salafi jangan sampai beranggapan bahwa jumlah orang-orang yang menyelisihi mereka itu sedikit. Karena Allah ta’ala berfirman,

“ Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”(QS. Saba’ : 13).

Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

طُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : أُنَاسٌ صَالِحُوْنَ قَلِيْلٌ فِي أُنَاسٍ سُوْءٍ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعُهُمْ

“Beruntunglah bagi orang-orang yang asing. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya siapa mereka?”. Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Mereka adalah orang-orang shaleh yang sedikit di tengah-tengah manusia yang rusak lagi banyak, yang bermaksiat kepada mereka lebih banyak daripada yang taat kepada mereka”. (HR. Imam Ahmad dan Ibnul Mubarak).

Kepada Hizbut Tahrir

1. Wasiat saya kepada mereka agar menegakkan hukum Islam dan ajarannya pada diri-diri mereka sebelum menuntut orang lain untuk menegakkannya.

Sekitar 20 tahun yang lalu, pernah ada 2 orang pemuda dari mereka yang mengunjungiku di Syiria, dalam keadaan gundul jenggotnya, dari keduanya tercium bau rokok dan meminta kepadaku diskusi dan bergabung dengan mereka. Maka saya katakan kepada mereka, kalian mencukur jenggot dan menghisap rokok padahal keduanya adalah haram menurut syariat dan kalian juga membolehkan jabat tangan dengan lawan jenis (yang bukan mahramnya –ed), padahal Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ِلأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمَخِيْطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمُسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

“Ditusukkannya jarum dari besi pada kepala seorang di antara kalian itu lebih baik daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya”. (HR. ath-Thabrani).

Kedua pemuda tersebut berkata: Diriwayatkan dalam shahih al-Bukhariy, bahwa Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah berjabat tangan dengan wanita ketika baiat?
Maka saya katakan: Tolong besok datangkan kepadaku haditsnya. Maka setelah itu keduanya pergi dan tidak kembali lagi, karena keduanya berbohong. Karena Imam Bukhari sama sekali tidak menyebutkan yang demikian, tapi hanya menyebutkan baiat kepada para wanita dengan tanpa jabat tangan.

Tapi sungguh aneh sebagian Ikhwanul Muslimin –juga- membolehkan jabat tangan dengan lawan jenis (yang bukan mahramnya –ed). Seperti syaikh Muhammad al-Ghazali dan Yusuf al-Qardhawi, sebagaimana yang saya katakan ketika saya berdialog dengannya. Dia berdalih dengan hadits seorang budak yang menarik tangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar memenuhi kebutuhannya”.(HR. al-Bukhariy).

Saya katakan: Cara pengambilan dalilnya tidak benar, karena Jariyah (budak perempuan) ketika menarik Rosulullah shallahu alaihi wa sallam tidak menyentuh tangannya tapi hanya menyentuh lengan baju yang ada di tangannya, karena ‘Aisyah radliyallahu anha berkata,

لاَ، وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطٌ فِي الْمُبَايَعَةِ، مَا بَايَعَهُنَّ إلاَّ بِقَوْلِهِ : قَدْ بَايَعْتُكِ عَلَى ذَلِكَ

“Sekali-kali tidak, demi Allah ”Tangan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan perempuan sedikitpun dalam baiat. Beliau shallallahu alaihi wa sallam tidaklah membaiat mereka (para wanita) kecuali hanya mengatakan: Sungguh saya telah membaiat kamu atas yang demikian itu”.(HR. al-Bukhariy).

Dan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

“Saya tidak pernah berjabatan tangan dengan perempuan”(HR. at-Tirmidziy dan beliau berkata : hadits ini hasan shahih).

2. Saya pernah mendengar ceramah seorang syaikh dari Hizbut Tahrir di Yordania yang membicarakan para pemimpin yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan. Tapi tatkala saya mendatangi rumahnya, mertuanya mengadu tentang dia kepadaku sambil mengatakan: Sesungguhnya syaikh tadi telah memukul istrinya sampai mengenai matanya dan membekas. Maka saya katakan kepadanya (syaikh) : Sesungguhnya kamu menuntut para pemimpin untuk menegakkan syariat Allah tapi kamu tidak menegakkan syariat dalam rumahmu, apakah benar bahwa engkau telah memukul istrimu sampai mengenai matanya ? maka ia menjawab ; Iya, betul tapi hanya pukulan ringan dengan gelas teh.!!. Maka saya katakan kepadanya: Praktekkanlah Islam pada dirimu dulu, kemudian setelah itu tuntutlah yang lain untuk mempraktekkannya. Karena Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya, apa hak istri atas suami?”. Beliau menjawab,

أَنْ تَطْعَمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَ هَا إِذَا اكْتَسَوْتَ وَلاَ تَضْرِبِ اْلوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي اْلَبيْتِ

“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberikan baju apabila engkau memakai baju, jangan memukul wajah, jangan menjelek-jelekanya dan jangan engkau menghajr (pisah ranjang) kecuali di dalam rumah”.(Hadits shahih riwayat arba’ah : Abu Dawud, at-Tirmidziy, an-Nasa’iy dan Ibnu Majah).

Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ خَادِمَهُ فَلْيَتَّقِ اْلوَجْهَ

“Apabila seseorang diantara kalian memukul budaknya hendaklah menjauhi wajah”.(Hadits hasan riwayat Abu Dawud).

Kepada Jamaah Jihad dll.

1. Nasehat saya kepada mereka agar lembut dalam dakwah dan jihad mereka, lebih-lebih kepada para pemimpin. Sebagaimana firman Allah kepada nabi Musaqketika mengutusnya kepada Fir’aun yang kafir ,
“Dan katakanlah (kepada Fir’aun):”Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”.(QS. an-Nazi’at : 18).

Dan firman Allah,

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.(QS. Toha : 43-44).
Dan sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقُ يُحْرَمُ الْخَيْرُ كُلُّهُ

“Barangsiapa yang diharamkan baginya lemah lembut berarti diharamkan baginya seluruh kebaikan”. (HR. Muslim).

2. (Hendaklah –ed) memberikan nasehat kepada para kaum muslimin dan pemimpin mereka, dengan cara membantu mereka dalam kebaikan, mentaati mereka dalam kebaikan, memerintahkan mereka dengan kebaikan, melarang mereka dan mengingatkan mereka dengan lemah lembut dan tidak keluar menghadap mereka dengan pedang (memberontak) apabila berbuat zhalim atau jahat. (silahkan telaah ucaan al-Khatabi dalam Syarah Arba’in Haditsan).

Imam abu Ja’far at-Thahawi –penulis kitab Aqidah Thahawiyah- berkata: Kami memandang tidak boleh keluar dari imam dan para pemimpin kita walaupun mereka berbuat dhalim, tidak mendoakan jelek kepada mereka, tidak mencabut tangan dari ketaatan pada mereka dan kami memandang bahwa taat kepada mereka adalah bagian dari ketaatan kepada Allahkdan wajib selama tidak memerintahkan maksiat.

Bahkan kami senantiasa mendoakan kepada mereka dengan kebaikan dan keselamatan.

1. Allah ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul(Nya), dan ulil amri di antara kamu”. (QS. An-Nisa’ : 59).

2. Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ وَمَنْ يُطِعِ اْلأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِيْ وَمَنْ يَعْصِ اْلأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِي

“Barangsiapa yang taat kepadaku maka sungguh ia telah taat kepada Allah. Dan Barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh telah bermaksiat kepada Allah, dan barangsiapa taat kepada amir berarti ia taat kepadaku dan barangsiapa bermaksiat kepada amir berarti ia bermaksiat kepadaku”. (HR. al-Bukhariy dan Muslim).

3. Dan dari Abu Dzar radliyallahu anhu beliau berkata,

إِنَّ خَلِيْلِيْ أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيْعَ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا مُجَدِّعَ الأطرافِ

“Kekasihku Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam berwasiat kepadaku agar saya mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang budak Ethiopia lagi cacat anggota tubuhnya”. (HR. Muslim).

4. Dan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Bagi tiap orang wajib mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada saat senang dan benci, kecuali apabila diperintah untuk bermaksiat, maka apabila diperintahkan untuk maksiat maka tidak boleh mendengar dan taat”.(HR. al-Bukhariy dan Muslim).

5. Dan dari Hudzaifah bin Yaman radliyallahu anhu beliau berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ الله  عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَ نَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ : نَعَمْ، فَقُلْتُ : فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرٍّ مِنْ خَيْرٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ، قَالَ : قُلْتُ : وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ : قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِخَيْرِ سُنَّتِيْ وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِ تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ، فَقُلْتُ : هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ : نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَوْفُوْهُ فِيْهَا. فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا ؟ قَالَ : نَعَمْ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَ تِنَا يَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا، قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ فَمَا تَرَى إِذَا أَدْرَكَنِيْ ذَلِكَ ؟ قَالَ : تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ. فَقُلْتُ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ ؟ قَالَ : فَاعْتَزِلْ تِلْكَ اْلفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Manusia bertanya kepada Rosulullah tentang kebaikan dan saya bertanya kepadanya tentang kejelekan karena khawatir akan menimpaku, saya bertanya, “Wahai Rosulullah, kita dahulu berada dalam jahiliyah dan kejelekan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kita. Apakah setelah kebaikan ini akan ada kejelekan?”. Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Iya ada”. Saya bertanya : apakah setelah kejelekan akan datang kebaikan lagi ? Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Iya ada, tapi didalamnya terdapat dakhan”. Saya bertanya, “Apa dakhannya?”. Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu, ada suatu kaum yang mengambil dengan selain sunnahku dan mengambil petunjuk dengan selain petunjukku”. Engkau mengetahui mereka dan engkau mengingkarinya. Saya bertanya, “Apakah setelah kebaikan seperti ini akan ada kejelekan?” Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Iya, yaitu para da’i yang mengajak ke pintu-pintu neraka jahannam. Siapa yang menyambutnya niscaya akan dilemparkan kedalamnya”. Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepada kita sifat-sifat mereka?”. Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “mereka adalah, kaum dari bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita”. Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana nasehatmu jika kita mendapati yang demikian itu?”. Beliau menjawab, “Engkau konsisten bersama jamaah kaum mulimin dan imam mereka”. Saya bertanya, “Bagaimana jika tidak ada jamaah dan tidak pula imam?”. Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Tinggalkan seluruh firqah-firqah yang ada, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai ajal menjemputmu dan engkau dalam keadaan demikian”. (HR. al-Bukhariy dan Muslim).

6. Dan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًايَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَأِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمَيْتَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ

“Barangsiapa melihat pada amirnya suatu yang ia benci, hendaklah ia sabar, karena barangsiapa yang memisahkan diri satu jengkal dari jamaah dan ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.(HR. al-Bukhariy dan Muslim).

7. Dan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحُِّبوْنَكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتكُمُ الَّّذِيْنَ تَبْغَضُوْنَهُمْ وَيَبْغَضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ، فَقُلْنَا : يَارَسُولَ اللهِ، أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ : لاَ، مَاأقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ إِلاَ مَنْ وُلِّيَ عَلَيْهِ وَالٍ

“Sebaik-baik pimpinan bagi kalian adalah: Pemimpin yang kalian cintai dan merekapun mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka dan merekapun mendoakan kalian. Dan sejelek-jelek pemimpin bagi kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan merekapun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan merekapun melaknat kalian”. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah apakah kita tidak mengangkat pedang (memberontak) saja pada saat demikian ? Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jangan memberontak, selama mereka mendirikan sholat bersama kalian. Ketahuilah, barangsiapa yang dipimpin wali (pemimpin) dan ia melihatnya bermaksiat kepada Allah, maka hendaklah aa membenci maksiat yang dijalankannya, dan jangan sekali-kali mencabut tangan dari mentaatinya”. (HR. Muslim).

8. Dalil-dalil al-Qur’an dan sunnah menunjukkan atas wajib taat kepada ulil amri selama tidak memerintahkan maksiat.
Renungilah firman Allah berikut ini,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul(Nya), dan ulil amri di antara kamu”. (QS. An-Nisa: 59).

Kenapa Allah berfirman “dan taatilah Rosul” dan tidak mengatakan “dan taatilah ulil amri diantara kamu” dengan pengulangan kata kerja taatilah. Ini menunjukkan bahwa ulil amri tidak ditaati dengan sendirinya. Akan tetapi mereka ditaati hanya pada perkara-perkara ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya. Dan ini juga menunjukkan bahwa barangsiapa yang taat kepada Rosul shallallahu alaihi wa sallam maka sungguh ia taat kepada Allah, karena Rosul shallallahu alaihi wa sallam tidak akan memerintahkan yang bukan termasuk ketaatan kepada Allah, karena beliau nadalah maksum (terjaga) dari yang demikian itu. Berbeda halnya dengan penguasa, maka kadang-kadang memerintahkan pada yang bukan ketaatan kepada Allah (maksiat), maka tidak boleh ditaati kecuali pada perkara-perkara yang merupakan ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya.

Adapun perintah untuk taat kepada penguasa walaupun mereka berbuat zhalim, karena keluar dari ketaatan kepada mereka akan mengakibatkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding kedhaliman mereka –bahkan sabar dalam menghadapi kedhaliman mereka akan menghapus kesalahan dan dosa dan menyebabkan pahala dilipatgandakan. Karena Allah tidak akan menjadikan mereka sebagai pimpinan kita, kecuali dengan sebab perbuatan kita sendiri, karena balasan adalah sesuai dengan perbuatan. Maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali beristighfar, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan kita.

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.(QS. Asy-Syura : 30).

Dan Allah juga berfirman,

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”.(QS. Al-An’am : 129).

Maka apabila rakyat menginginkan selamat dari keburukan pemimpin yang zhalim, hendaklah mereka meninggalkan kedhaliman .(silahkan lihat Syarah Aqidah ath-Thahawiyah 380-381).

9. Jihad terhadap para pemimpin kaum muslimin. Yang demikian itu dengan cara menyampaikan nasehat kepada mereka dan kepada seluruh jajarannya. Karena sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

الدِّينُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا : لِمَنْ يَارَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : لِلهِ، وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَ ئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasehat”. Kami (para sahabat) bertanya, “Untuk siapa wahai Rosulullah?”. Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rosul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan mereka pada umumnya”. (HR. Muslimin).

Dan sabda Rosululllah shallallahu alaihi wa sallam,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kalimat kebenaran di sisi pemimpin yang dhalim”.(Hadits hasan riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi).

Rosulullah menjelaskan juru selamat dari kezhaliman para hakim yang mereka dari bangsa kita, dan berbicara dengan bahasa kita yaitu dengan cara,

Kaum muslimin bertaubat kepada Rab mereka, memperbaiki akidah mereka dan membina diri serta keluarga mereka di atas Islam yang murni. Sebagai bentuk perwujudan firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Ar-Ra’d : 11).

Dan inilah yang pernah disinyalir oleh seorang da’i kontemporer dengan ungkapannya, “Tegakkanlah Negara Islam di dada-dada kalian, niscaya akan tegak di bumi kalian”.

Demikian pula, harus dengan cara memperbaiki akidah dalam menegakkan bangunan di atasnya, yaitu masyarakatnya.
Allah ta’ala berfirman,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridloi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS. An-Nur : 55).

Nasehat umum kepada seluruh kelompok-kelompok dakwah.

Saya sekarang sudah tua renta, umur saya sekarang telah mencapai 70 tahun, dan saya mengharapkan kebaikan bagi semua kelompok, oleh karena itu untuk mengamalkan hadits Nabi n “agama itu nasehat”, saya ingin menyampaikan beberapa nasehat berikut ini :

1. Agar semua kelompok berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai bentuk ketaatan terhadap firman Allah,

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..”(QS. Ali Imran : 103).

Dan sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهَا كِتَابَ الله وَسنَّةَ رَسُوْلِ اللهِ

“Telah saya tinggalkan kepada kalian 2 perkara, selama kalian berpegang teguh dengan keduanya. Maka tidak akan tersesat, yaitu (kitabullah al-Qur’an dan sunnah Rosul-Nya shallallahu alaihi wa sallam).”(HR. Malik dan dishahihkan oleh al-Albani dalam shahihul jami’).

2. Apabila jama’ah-jamaah yang ada berselisih, hendaknya mereka kembali kepada al-Qur’an dan hadits serta amalan para sahabat.
Sebagaimana firman Allah,

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(QS. An-Nisa : 59).

Dan sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا

“Wasiat atas kalian dengan sunnahku dan sunnahnya para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengannya”. (Hadits sahih riwayat Imam Ahmad).

3. Hendaklah mereka memperhatikan dakwah tauhid yang menjadi prioritas dan pusat perhatian al-Qur’an. Dan Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam memulai dakwahnya kepada tauhid dan memerintahkan para sahabatnya agar memulai dengannya.

4. Sungguh saya telah masuk dan bergaul dengan kelompok-kelompok dakwah Islam, dan saya lihat bahwa dakwah salafiyahlah yang konsisten dengan al-Qur’an dan sunnah menurut pemahaman salafus shaleh yaitu Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam para sahabatnya dan para tabiin.

Dan sungguh Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan isyarat tentang kelompok yang satu ini dalam sabdanya,

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ اْلكِتَابِ افْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذه الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ : ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Ketahuilah bahwasanya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan, 72 di dalam neraka dan yang 1 di surga yaitu al-Jama’ah”.(HR. Ahmad dan dinyatakan hasan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dan dalam riwayat yang lain).

كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةٌ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Semua di dalam neraka kecuali satu yaitu apa yang saya dan para sahabatku ada di atasnya”.(HR. at-Tirmidziy dan di hasankan oleh al-Albani).

Dalam hadits di atas Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita, bahwasanya orang yahudi dan nasrani berpecah belah menjadi banyak kelompok dan umat Islam berpecah belah menjadi lebih banyak dari mereka dan kelompok-kelompok yang banyak ini terancam masuk neraka, karena penyimpangannya dan jauhnya dari kitab Allah dan sunnah nabi-Nya dan bahwasanya hanya satu kelompok yang selamat dari neraka dan masuk surga yaitu al-Jamaah (kelompok yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah serta amalan para sahabat).

Keistimewaan dakwah salafiyah adalah dakwah kepada tauhid, memerangi syirik, mengetahui hadits-hadits yang shahih dan memperingatkan umat dari hadits yang dlaif (lemah) dan maudlu’ (palsu) serta memahami hukum-hukum syariat dengan dalil-dalilnya. Dan ini sungguh sangat penting bagi setiap muslim.
Oleh karena itu saya menasehati seluruh saudara-saudaraku kaum muslimin agar senantiasa konsisten dengan dakwah salafiyah, karena dakwah yang selamat dan kelompok yang mendapat pertolongan, sebagaimana sabda Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلىَ الْحَقِّ لاَيَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتىَّ يَأْتِيَ أَمَرُ اللهِ

“Akan senantiasa ada dari umatku satu kelompok yang tampak di atas kebenaran, tidak memudharatkan mereka orang yang menghinakan mereka sampai datang urusan Allah”. (HR. Muslim).

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk kelompok yang selamat dan mendapat pertolongan.

Sumber: Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 38, hal. 4-18

https://ibnuabbaskendari.wordpress.com

SAUDARAKU, JANGANLAH KALIAN TERTIPU OLEH KHILAFAH KHAYALAN HIZBUT TAHRIR…

MENGAPA MEREKA LEBIH MENDAHULUKAN KHILAFAH DARIPADA TAUHID ???

felix siauwpun tertipu khilafah khayalanAbu Salma al-Atsary

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb pemelihara alam semesta, satu-satunya Ilah yang Haq untuk disembah, yang tiada sekutu bagi-Nya baik dalam nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum dan ibadah kepada-Nya, yang mengutus para nabi untuk menegakkan haq-Nya, yang menurunkan al-Kitab sebagai bayyinah atas keesaan-Nya, yang menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya, dan menjadikan segala maksud dan tujuan hanyalah untuk-Nya.
Amma Ba’du:

Sesungguhnya, sejak zaman dahulu hingga sekarang, sejak manusia pertama diciptakan hingga manusia terakhir akan binasa, Tauhid merupakan pondasi dasar ubudiyah seorang hamba, haq Rabb yang harus dipenuhi hamba-Nya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan suka maupun duka. Bahkan, tiadalah diutus para anbiya’ dimuka buni ini kecuali mengembalikan fitrah manusia pada kesuciannya, dalam mengabdi dan beribadah kepada penciptanya semata.

Namun, sungguh sayang, ketika kelompok-kelompok islam yang parsial/juz’iyyat dalam gerakannya bermunculan, mereka membangun bangunan yang dimulai dari atapnya, sedangkan pondasinya keropos dan kosong dari pilar-pilar aqidah, maka bagaimana mungkin bangunan tersebut akan berdiri, sedangkan pondasinya tidak ada, dan mereka mencurahkan segala daya dan upaya mencari cara untuk membangun atap bangunan yang tak berpondasi dan berpilar tersebut.

Mereka berfikir, jika mereka membangun pondasi terlebih dahulu, akan memerlukan waktu yang lama, biaya dan tenaga yang besar, sedangkan hujan, badai dan terik telah menyiksa, maka atap untuk berlindung lebih diperlukan, karena mereka tak kuat lagi tertimpa hujan dan panas terik…

Namun sungguh malang, karena upaya mereka itu adalah mustahil dan bodoh, karena biar bagaimanapun, pondasi adalah penting dalam membangun infra-struktur suatu bangunan, tanpa pondasi, maka kita seolah-olah hanya mengharap sesuatu yang tak mungkin tegak, bak hendak meraih bulan dan bintang di tengah malam, padahal tangan tak sampai.

Pun seandainya berdiri atap tersebut, dan mereka beranggapan telah aman dari hujan dan terik yang mendera, namun bangunan itu sangat lemah, hanya dengan tiupan angin sedikit saja, maka akan hancur berkeping-keping bangunan dan usaha mereka yang sia-sia tersebut.

Inilah perumpaan mereka, penyeru-penyeru islam yang senantiasa menggembar-gemborkan khilafah islamiyyah, namun mereka jahil dan acuh terhadap aqidah dan manhaj yang benar di dalam islam.

Inilah fenomena nyata saat ini, dimana banyak sekali kelompok yang mengklaim sebagai kelompok penegak syariat islamiyyah dan pelanggeng hukum-hukum islam, berkoar-koar ke sana kemari, meneriakkan dan memekikkan tathbiqus syarii’ah (penegakkan syariat), namun sekali lagi sungguh sayang, pekikan mereka tampak begitu parsial, seolah-olah syariat islam yang dimaksud hanyalah seputar hukum-hukum siyasiyyah saja, hanya penyelenggaraan hukum had, qishash, dan lain sebagainya.

Mereka melalaikan suatu hal yang lebih penting dari itu semua, yang merupakan dasar dan pijakan dari hukum-hukum lainnya, dan merupakan syariat terbesar di dalam islam, yang seharusnya kita tegakkan dan kita prioitaskan, sebagai pengejawantahan penegakkan syariat secara integral dan kaafah, yakni penegakkan haqqullah (hak Allah) yang wajib dipenuhi hamba-Nya, yaitu mentauhidkan-Nya di dalam uluhiyah/ubudiyyah.

Karena inilah metode rasululullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam dalam da’wahnya, manhajnya seluruh rasul dan nabi, karena Allah Ta’ala’ala telah menandaskannya secara gamblang di dalam firman-Nya surat An-Nahl ayat 36, “Dan sungguh telah kami utus pada tiap-tiap ummat seorang rasul, (yang menyeru) sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut.”

Mereka menyatakan bahwa menegakkan daulah merupakan ghoyah (tujuan) da’wah, dan daulah khilafah Islamiyyah adalah suatu hal yang niscaya dan wajib, mereka berdalil dengan qoidah ushul fiqh, Maa Laa Yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajibun, Suatu hal yang jika tanpanya tidak akan sempurna suatu kewajiban, maka hukumnya adalah wajib, karena tidaklah akan tegak syariat Islam kecuali jika ada perangkatnya, sedangkan daulah khilafah adalah perangkat syar’i untuk meng-implementasikannya. Maka daulah khilafah hukumnya wajib, dan tidak menegakannya termasuk dosa.

Mereka juga berdalil dengan hadits baiat, bersabda nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam, “Man maata walaysa fi unuqihi baa’iatan, fa maata miytaatan jaahilayatan” (barangsiapa yang mati sedangkan tidak ada baiat di pundaknya, maka matinya bagaikan bangkai jahiliah).

Anggapan mereka, bahwa baiat wajib atas kholifah/imamul a’dham, namun sekarang saat tak ada imamul a’dham, maka dengan kembali ke qoidah awal tadi, makai baiat adalah wajib, karena jika tak ada baiat maka mati kita adalah mati jahiliah, sehingga wajib atas kita untuk membaiat seorang imamul a’dham, padahal ba’iat takkan bisa ditegakkan jika tak ada daulah, maka menegakkan daulah hukumnya wajib, sehingga menurut anggapan mereka, orang-orang yang menegakkan daulah tidak terkena ancaman hadits tersebut, namun orang islam yang tak ada keinginan untuk menegakkan daulah terkena ancaman matinya dalam keadaan jahiliah.

Maka, kami katakan pada mereka, wahai para pengklaim penegak hukum islam dan perindu daulah khilafah islamiyyah, dengan cara apakah kalian memenuhi harapan antum tersebut?

Dengan metode bagaimanakah antum menegakkannya?

Na’am!!! Tidak dipungkiri bahwa syariat islam takkan bisa tegak secara sempurna jika tidak didukung oleh hukama’ atau daulah islamiyyah.

Sungguh merupakan suatu dambaan bagi kami dan kalian akan tegaknya daulah khilafah Islamiyyah ‘ala manhaj nubuwwah, namun ingatlah, bahwa islam ini adalah agama yang sempurna, yang tak butuh pengurangan terlebih lagi penambahan, telah terang metode da’wah al-haq di al-Qur’an dan as-Sunnah, bahwa tidaklah para nabi dan rasul (QS 16:36, 21:25), baik itu nabi Nuh kepada kaumnya (QS 7:59), Hud kepada kaum ‘Aad (QS. 7:65), Sholih kepada kaum Tsamud (QS. 7:73), Nabi Syuaib kepada Madyan (QS. 7:85), dan seluruh nabi hingga nabi terakhir kita Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam (39:65-66,dan masih banyak ayat pada tempat lain) melainkan adalah mereka semua diutus untuk menegakkan peribadatan hanyalah untuk Allah semata, baik dalam ibadah dan ahkam.

Lantas, mengapa gaung dan gema pekikan tathbiq syariiatil islaamiyyah yang kalian tabuh itu kosong dari syariat islamiyyah yang paling tinggi ini, yakni da’wah kepada tauhidul uluhiyyah/ibaadah?

Kenapa kalian konsentrasikan, fokuskan dan curahkan segala daya dan upaya kalian pada bagian yang parsial/juz’iyyah saja, yakni penegakkan daulah khilafah semata, penegakan syariat had, qishahsh dan yang semisalnya, sedangkan tidak pernah kami lihat kalian mengajak manusia kepada Aqidah yang benar secara tafshil (teperinci), kepada sunnah nabi yang mulia yang shohihah, kepada dien yang murni sebagaimana awalnya.

Maka kami katakan lagi kepada mereka mengenai dalil-dalil parsial mereka tentang ghoyah da’wah mereka yang mereka orientasikan kepada daulah, maka kami jawab :

1. Likulli maqaal maqaam wa likulli maqaam maqaal (tiap-tiap ucapan ada tempatnya dan tiap tempat juga ada ucapannya), kaidah yang kalian gembar-gemborkan, Laa yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajib, tentulah ada konteksnya, dan memang kami membenarkan bahwa daulah adalah suatu hal yang niscaya sebagai perangkat penegakkan syariat islamiyyah, dan ini adalah ideal keinginan tiap muslim, jika ada muslim yang tak menghendaki akan adanya daulah islamiyyah maka patutlah dipertanyakan keimanannya.

Namun satu hal yang harus diingat, metode apakah yang kita tempuh dalam menuju daulah Islamiyyah, inilah yang membedakan antara kami dengan kalian. Kalian lebih fokus kepada upaya parsial dengan pengopinian kepada masyarakat pentingnya daulah islamiyyah dan penegakkan syariat (walau banyak dari kalian jahil terhadap syariat itu sendiri) sedangkan kita mengajak ummat secara integral dari metode yang digariskan Allah dan Rasul-Nya, yang kita berpijak dan berangkat darinya.

Maka wahai kalian yang berjuang dengan orientasi daulah, kita katakan, maa laa yutimmu waajibun illa bihi fahuwa waajib, dengan kaidah ini kita sepakat bahwa menegakkan daulah adalah suatu hal yang niscaya, maka mari kita juga bersepakat, dengan kaidah itu pula, tidak akan bisa tegak daulah jika kita tidak meniti dengan metodenya para anbiya’ dan rusul yang telah ma’tsur di dalam kitabain, yakni memulai dakwah ini dari tauhid dan akidah shahihah.

2. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah” (Al-Hujurat : 1), dari ayat ini maka wajib bagi tiap mu’min untuk mendahulukan al-Qur’an dan as-Sunnah dari lainnya, dan wajib berhujjah dengan keduanya, maka apakah layak bagi kita mendahulukan kaidah ushul fiqh di atas al-Qur’an dan as-Sunnah. Padahal ushul fiqh merupakan istinbath para ulama’ yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah,.

3. Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as-Sunnah)” (An-Nisaa’ : 59), dari ayat ini wajib atas mu’min jika berselisih untuk mengembalikan kepada al-Qur’an dan al-Hadits.

Sekarang kita berselisih terhadap orientasi da’wah, antum mengatakan daulah prioritas pertama saat ini sedangkan kami menyatakan tauhid dan akidah islamiyyah yang terpenting, maka merupakan kewajiban atas kita untuk mengembalikan perselisihan kita ini kepada kitabain, maka wahai kalian yang berorientasi kepada daulah dan tathbiqusy syarii’at, tunjukkan dalil-dalil kalian dari al-Qur’an dan as-Sunnah, di ayat mana para anbiya’ dan rusul memulai da’wahnya dan memprioritaskan da’wahnya kepada kekuasaan, di hadits mana??

Apakah qath’i ad-Dilalah (pasti penunjukannya)??,

Maka ketahuilah!!!

Kami dapat menunjukkan berpuluh-puluh ayat dari al-Qur’an dan beratus-ratus hadits tentang manhaj kami yang qath’i ad-Dilalah, bahwa metode haq dari kitabain adalah tauhid, prioritas pertama dan utama!!!

4. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah takkan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka.” (ar-Ra’du : 11), kita beristifaadah dengan ayat ini bahwa keadaan ummat ini takkan berubah hingga ummat ini yang merubah keadaan mereka, tentunya dengan cara/ikhtiyar yang masyru’ (disyariatkan), maka kita sama-sama sepakat dan sering menggunakan ayat ini, namun kita berbeda dalam pemahamannya.

Kalian sering menggunakan ayat ini sebagai hujjah wajibnya menerapkan syariat islamiyyah dan dorongan untuk menegakkannya sebagai solusi dari semua krisis ummat saat ini, namun kalian lupa, bahwa ikhtiyar manusia itu juga tak lepas dari Iradah syar’iyyah Allah, yakni Allah takkan menolong hamba-Nya yang tak menolong agama-Nya, Intanshurullahu yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum, mafhum muwaafaqah (pemahaman tekstual) dari ayat ini adalah, jika kita menolong agama Allah niscaya Allah akan menolong kita.

Kemudian mafhum mukhalafah (pemahaman berkebalikan) dari ayat ini adalah, jika kita tidak menolong agama Allah dengan cara yang digariskan Allah dan rasul-Nya, maka bagaimana mungkin Allah akan menolong kita dan memperteguh kedudukan kita, walaupun kita sudah berusaha untuk merubah keadaan kita, namun jika Allah tak menghendaki, yang disebabkan oleh faktor penghalang turunnya nashrullah, maka keadaan kita akan tetap demikian.

Dan ingatlah bahwa cara perubahan yang paling masyru’ adalah inqilabiyyah yakni dengan tashfiyah (pensucian/pemurnian) dari syirik, bid’ah, maksiat, dan tarbiyah (pembinaan) dengan akidah yang benar, sunnah yang shahihah, dan amal yang shalih. Inilah metode yang haq itu, inilah perubahan yang akan membawa  kepada kemenangan, yakni at-Tashfiyah wat-Tarbiyah!!!

5. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah telah bejanji dengan orang-orang yang beriman diantara kalian dan beramal sholeh, bahwa ia sungguh-sungguh akan menjadikanmu berkuasa di bumi (dengan kekhilafahan), sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelummu berkuasa, dan sungguh ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhai-Nya untuk mereka, dan Ia benar-benar merubah keadaan mereka setelah mereka dala keadaan ketakutan menjadi aman sentausa, mereka tetap menyembah-Ku dan tiada mempersekutukan-Ku dengan suatu apapun.” (an-Nur : 55),

Ayat ini bagi orang-orang yang berakal pasti akan menunjukkan banyak faidah, dari tekstual ayat telah nyata bahwa merupakan janji Allah untuk memberikan kekuasaan bagi ummatnya yang beriman dan beramal shalih, iman kepada Allah secara ijmal (global) dan tafshil (terperinci), yang mana keimanan ini hanya dimiliki oleh ahlus sunnah wal jama’ah, dan beramal sholih, yang ikhlash lillahi Ta’ala dan ittiba’ rosul ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam.

Inilah syarat kemenangan itu, bahkan pada akhir ayat Allah menjelaskan syarat yang lain, yakni mentauhidkan-Nya semata dan tak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Lantas, bagaimana mungkin Allah Ta’ala akan mmberikan kekuasaan jika ummat ini masih jahil terhadap aqidah yang benar, mereka tak bisa membedakan mana syirik mana tauhid, mana sunnah mana bid’ah.

Mereka masih menyembah kuburan-kuburan, bertawassul dengan wali-wali dan orang shalih yang telah meninggal, menyeru mayat-mayat, membangun kubah di kuburan, ghuluw terhadap nenek moyang mereka, lantas bagaimana mungkin Allah akan memenuhi janji-Nya.

Maka berfikirlah!!!

Inilah yang ditinggalkan oleh hampir kebanyakan kelompok islam, yakni metode dakwah integral/kulliyat yang ittiba’ terhadap metode da’wah anbiya’ dan rusul, yang ma’tsur di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, yang tidaklah jika ummat ini berpijak dan berangkat dainya kecuali hanyalah kemenangan yang akan didapatnya. Maka berfikirlah sekali lagi wahai kalian yang berjuang menatap ke langit namun kepalamu tak mampu mendongak ke atas apalagi meraihnya.

6. Al-Ghoyah laa tubirrul washilah, Tujuan tak membenarkan segala cara, karena, al-ashlu fil ‘ibaadah al-ittiba’, asal dari ibadah adalah ittiba’ rasul, dan islam itu tauqifiyyah, laa yutsbitu illa bid’dalil, tidak ditetapkan kecuali dengan dalil, dan da’wah termasuk bagian dari islam, dan ia adalah da’wah, sedangkan da’wah itu adalah tauqifiyyah.

Maka wajib untuk ittiba’ terhadap metode rasul, maka kami tanyakan kepada mereka, ittiba’ terhadap siapakah kalian dalam metode dakwah kalian?

Tidakkah kalian telah melakukan bid’ah fi manhajid da’wah, bid’ah dalam metode da’wah?

Maka dimanakah hujjahmu wahai orang yang berakal???

Sungguh, kami dapat menunjukkan kepada mereka berpuluh hujjah akan lemahnya pemahaman mereka terhadap manhaj dakwah bid’iyyah mereka, banyak kitab yang telah ditulis para ulama’ mengenainya, namun kami cukupkan hanya sampai di sini.

Semoga dapat mengambil pelajaran orang-orang yang berakal, dan semoga impian mereka yang hanya isapan jempol semata itu dapat sirna dan mereka akhirnya tersadarkan bahwa kita takkan dapat meraih kekuasaan dengan pemahaman parsial, dan bersumber dari pemahaman mu’tazilah, khawarij dan kelompok sempalan islam.

sumber : https://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2009/10/27/mengapa-mereka-lebih-mendahulukan-khilafah-daripada-tauhid/

https://aslibumiayu.wordpress.com