MENGENAL FIQIH SESAT SYI’AH (2)…

MERATAP

Meratap atau niyaahah adalah perbuatan yang menggambarkan kesedihan seseorang atas musibah yang menimpanya dengan berteriak menangis, merobek-robek baju, menampar-nampar pipi, menyakiti diri, dan sejenisnya. Dalam perspektif Ahlus-Sunnah, sudah menjadi satu kesepakatan bahwa perbuatan ini adalah terlarang. Terlarang menurut nash dan akal sehat.

Allah ta’ala berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” [QS. Al-Baqarah : 155-157].

 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Ada empat perangai Jahiliyah yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya : (1) Membanggakan kedudukan, (2) mencela nasab (garis keturunan), (3) meminta hujan dengan bintang-bintang, (4) dan niyahah (meratapi mayit). Orang yang meratapi mayit, jika ia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba, maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan memakai baju panjang dari aspal panas dan baju besi yang sudah karatan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 934, ‘Abdurrazzaaq no. 6686, Ibnu Abi Syaibah 3/390, Ahmad 5/342-344, Ibnu Maajah no. 1581, Abu Ya’laa no. 1577, Ibnu Hibbaan no. 3143, Ath-Thabaraaniy 3/3426, Al-Baihaqiy 4/63, dan Al-Baghawiy no. 1533].

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju, dan menyeru dengan seruan Jahiliyyah (meratap)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1294 & 1297 & 1298 & 3519, Muslim no. 103, At-Tirmidziy no. 999, An-Nasaa’iy no. 1860, Ibnu Maajah no. 1584, Ibnul-Jaaruud no. 516, Ahmad 1/432 & 456 & 465, Ibnu Hibbaan no. 3149, Al-Baihaqiy 4/63, dan Al-Baghawiy no. 1534].

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْخَامِشَةَ وَجْهَهَا وَالشَّاقَّةَ جَيْبَهَا وَالدَّاعِيَةَ بِالْوَيْلِ وَالثُّبُورِ

Dari Abu Umaamah : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang merusak wajahnya, mengoyak-ngoyak bajunya, dan meraung-raung sambil mengutuk dan mencela diri” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 1585, Ibnu Hibbaan no. 3156, Ibnu Abi Syaibah 3/290, dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 759 & 775; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan Ibni Maajah 2/40].

Di sini saya tidak akan membahas larangan ini menurut perspektif Ahlus-Sunnah, namun akan memperkenalkan fiqh rekan-rekan Syi’ah yang diambil kitab-kitab mereka. Kita akan berkenalan dengan mereka. Tak kenal maka tak sayang, begitu kata pepatah.

Disebutkan oleh Penulis kitab Nahjul-Balaaghah, bahwasannya ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu pernah berkata setelah wafatnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah perkataan yang ditujukan kepada beliau :

لو لا أنك نهيت عن الجزع وأمرت بالصبر لأنفدنا عليك ماء الشؤون.

“Seandainya engkau tidak melarangku berkeluh-kesah dan memerintahkaku bersabar, niscaya akan aku tumpahkan air mata (kesedihan)” [Nahjul-Balaaghah hal. 576. Lihat juga : Mustadrak Al-Wasaail 2/445].

‘Aliy bin Abi Thaalib pernah berkata :

من ضرب يده عند مصيبة على فخذه فقد حبط عمله.

“Barangsiapa yang memukul pipinya dengan tangannya saat musibah, sungguh telah batal amal (kebaikan)-nya” [Lihat : Al-Khishaal oleh Ash-Shaduuq hal. 621 dan Wasaailusy-Syii’ah 3/270].

Al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thaalib pernah berkata kepada saudara perempuannya yang bernama Zainab di Karbalaa’, sebagaimana dinukil oleh Penulis kitab Muntahaa Al-Aamaal dalam bahasa Persia, dimana terjemahan bahasa Arabnya adalah sebagai berikut :

يا أختي، أحلفك بالله عليك أن تحافظي على هذا الحلف، إذا قتلت فلا تشقي عليَّ الجيب، ولا تخمشي وجهك بأظفارك، ولا تنادي بالويل والثبور على شهادتي.

“Wahai saudariku, aku memintamu bersumpah atas nama Allah yang (jika telah engkau ucapkan) engkau harus menjaga sumpahmu itu. Seandainya aku terbunuh, janganlah engkau merobek-robek saku bajumu, jangan mencakar-cakar wajahmu dengan kuku-kukumu, dan jangan pula meraung-raung dengan mengutuk dan mencela diri saat aku gugur sebagai seorang syahid” [1/248].

Al-Kulainiy menyebutkan riwayat bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah membaiat para wanita dan bersabda :

لَا تَلْطِمْنَ خَدّاً وَ لَا تَخْمِشْنَ وَجْهاً وَ لَا تَنْتِفْنَ شَعْراً وَ لَا تَشْقُقْنَ جَيْباً وَ لَا تُسَوِّدْنَ ثَوْباً وَ لَا تَدْعِينَ بِوَيْلٍ

“Janganlah kalian menampar-nampar pipi, mencakar-cakar wajah, mencabuti rambut, merobek saku baju, memakai baju warna hitam, dan meraung-raung dengan kata-kata celaka” [Al-Kaafiy, 5/527].

Al-Kulainiy juga menyebutkan riwayat bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepada anaknya Faathimah dengan sabdanya :

إذا أنا مت فلا تخمشي وجهًَا ولا ترخي عليّ شعرًَا ولا تنادي بالويل ولا تقيمي عليَّ نائحة.

“Apabila aku meninggal, janganlah engkau mencakar-cakar wajah, mengurai rambut, meraung-raung dengan kata-kata celaka, dan mengadakan ratapan atasku” [idem].

Muhammad bin Babawaih Al-Qummiy atau Ash-Shaduuq pernah berkata :

من ألفاظ رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم التي لم يسبق إليها : النياحة من عمل الجاهلية.

“Termasuk perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam yang belum pernah diucapkan sebelumnya : ‘An-Niyaahah (ratapan) termasuk perbuatan Jahiliyyah” [Man Laa Yahdluruhul-Faqiih 4/271-272. Diriwayatkan juga oleh Al-Hurr Al-‘Aamiliy dalam Wasaailusy-Syii’ah 2/915, Yuusuf Al-Bahraaniy dalam Al-Hadaaiqul-Naadlirah 4/149, dan Al-Haaj Husain Al-Buruujardiy dalam Jaami’ Ahaadiitsisy-Syii’ah 3/488. Diriwayatkan oleh Al-Majlisiy dengan lafadh : (النياحة عمل الجاهلية) “An-Niyaahah adalah amalan Jahiliyyah”Bihaarul-Anwaar 82/103].

Jika kita telah membaca dengan seksama beberapa teks di atas, mari kita lihat gambar sebagai berikut :

 

Ini adalah peringatan Asyuuraa yang diperingati setiap tahunnya oleh orang-orang Syi’ah. Mereka berteriak-teriak, merobek-robek baju, dan melukai diri sebagai wujud partisipasi kesedihan atas gugurnya Al-Husain bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhumaa di Karbalaa’ di tangan orang-orang dhalim. Orang yang tidak tahu pasti akan menyangka orang-orang tersebut terganggu kesehatan mentalnya saat melihatnya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aliy, dan Al-Husain radliyallaahu ‘anhumaa sebagaimana diriwayatkan dalam kitab mereka (Syi’ah) telah melarang perbuatan meratap. Dulu, saat sebagian anak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meninggal, beliau tidak pernah melakukannya. Tidak pernah ternukil riwayat bahwa beliau dan para shahabatnya melakukannya saat gugur syuhadaa’ Badr ataupun Uhud. Begitu pula ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu tidak melakukannya saat Fathimah radliyallaahu ‘anhumaa meninggal.

Pertanyaan yang sangat mendasar : “Dari mana asalnya perbuatan seperti nampak pada gambar di atas ?”.

Entahlah, saya tidak tahu.

Semoga sharing informasi ini ada manfaatnya bagi kita bersama. Yang ingin lihat videonya, silakan buka : sini.

[Abu Al-Jauzaa’ – 1431 H].

MENGENAL FIQIH SESAT SYI’AH (1)…

HUKUM MENERIMA DONOR SPERMA LAKI-LAKI AJNABIY KE RAHIM ISTRI

Berikut ini akan dituliskan sebagian fiqh Syi’ah dari fatwa salah seorang ulama tertinggi Syi’ah kontemporer, yaitu Aayatullaah Al-‘Udhmaa As-Sayyid ‘Aliy Al-Husainiy Al-Khaamainiy. Diambil dari kitab karangannya yang berjudul Al-Ajwibah (Al-Masaailut-Thibbiyyah) juz 2, hal. 71, Ad-Daarul-Islaamiyyah.

Pertanyaan :

“Apakah diperbolehkan untuk membuahi (sel telur/ovum) istri seorang laki-laki yang mandul dengan sperma (nuthfah) laki-laki ajnabiy (bukan mahram) dengan jalan memasukkan sperma tersebut ke dalam rahim si istri ?”.

Jawab :

Tidak ada larangan dari syari’at dalam usaha membuahi (sel telur/ovum) seorang wanita dengan sperma laki-laki ajnabiy. Akan tetapi wajib bagi wanita dan laki-laki itu untuk menjauhi pembuka hal-hal yang diharamkan, seperti memandang, menyentuh, dan yang lainnya. Meskipun demikian, apabila dilahirkan dari pembuahan tersebut seorang anak, maka ia tidak dinasabkan pada si suami, namun dinasabkan pada laki-laki pemilik sperma dan wanita pemilik rahim dan ovum. Sudah selayaknya dalam kondisi seperti ini agar berhati-hati, terutama menyangkut permasalahan waris……” [selesai jawaban dari Al-Khaamainiy].

Kita katakan :

Fatwa di atas adalah fatwa baathil yang akan menyebabkan kekacauan nasab dan direndahkannya kehormatan muslim/muslimah melalui jalan perzinahan. Allaahul-Musta’aan. Ada yang ingin mempraktekkan ? Saya kira, fithrah Islam akan mencegah kita untuk melakukannya, sekaligus akan mengingkarinya…….. kecuali………

Berikut adalah sumber penukilannya :

[Abul-Jauzaa’ Al-Atsariy – 1 Dzulhijjah 1430 H, Perumahan Ciomas Permai, Ciapus, Ciomas, Bogor – http://abul-jauzaa.blogspot.com].

SAUDARAKU, INILAH BANYOLAN KAUM SYI’AH (14) …

NABI MENJULUKI AISYAH: KELEDAI & SI HITAM

بسم الله الرحمن الرحيم

Banyak tuduhan konyol dari kaum syi’ah kepada Aisyah, akan tetapi pada kesempatan kali ini penulis membahas tuduhan bahwasanya Nabi menggelari Aisyah Al-Humairo bukan karena putihnya Aisyah, akan tetapi Al-Humairo isim tashghiir dari Al-Himaaroh (yang artinya keledai betina) sebagaimana yang dikatakan oleh ulama syi’ah dari Mesir Hasan Syahaatah (lihat http://www.youtube.com/watch?v=CBf6_fhZ8gE), atau mereka menyatakan bahwa Al-Humairo artinya wanita yang hitam (sebagaimana yang dituduhkan oleh ulama syi’ah Yasir Al-Habib dari Kuwait, lihat http://www.youtube.com/watch?v=wQaHBqFke7k ). Jadi gambaran yang ada pada syi’ah bahwa Aisyah adalah soerang wanita yang hitam dan bodoh sebagaimana himar (keledai).

Ini adalah kebodohan terhadap bahasa Arab. Sangat nampak pada poin-pon berikut :

Pertama : Bahasa Arabnya keledai jantan adalah “himaar” (حِمَار), adapun keledai betina maka bahasa Arabnya adalah Ataan (أتان), bukan dengan menambahkan taa marbuutoh (ة) pada kalimat himaar sehingga menjadi حمارة. Dan yang seperti ini banyak dalam bahasa Arab. Sebagai contoh :

–         Lelaki bahasa Arabnya (رَجُلٌ) adapun wanita bahasa Arabnya adalah (اِمْرَأَةٌ) dan bukan (رَجُلَةٌ)

–         Kuda jantan bahasa Arabnya (حِصَانٌ), adapun kuda betinah bahasa Arabnya (فَرَسٌ) bukan (حِصَانَةٌ)

–         Onta jantan bahasa Arabnya (جَمَلٌ), adapun onta betina bahasa Arabnya (نَاقَةٌ) dan bukan (جَمَلَةٌ)

Kedua : Seandainya dalam bahasa arab ada lafal (حِماَرَةٌ) maka ism tashgirnya adalah (حُمَيِّرَةٌ) bukan (حُمَيْرَاء)

Ketiga : Seluruh ahli lughoh sepakat bahwa (حُمَيْرَاء) adalah ism tashghir dari (حَمْرَاءُ). Dan seluruh Ahli bahasa sepakat bahwa pada kalimat (حُمَيْرَاءُ) atau (حَمْرَاءُ) maknanya kembali kepada warna merah, bukan warna hitam.

Ibnu Faaris berkata,

الحاء والميم والراء أصلٌ واحدٌ عندي، وهو من الذي يعرف بالحُمْرة. وقد يجوز أن يُجعَل أصلين: أحدهما هذا، والآخر جنسٌ من الدوابّ

(Mu’jam Maqooyiis Al-Lughoh 2/101)

Oleh karenanya kalau lafal (ح م ر) dimaksud untuk mengungkapkan warna maka kembali kepada warna merah dan tidak mungkin digunakan untuk mengungkapkan warta hitam !!

Keempat : Adapun apa yang terdapat dalam kamus-kamus bahasa Arab,

وشر النساء السُّوَيْدَاءُ الْمِمْرَاضُ، وشر منها الحُمَيْرَاءُ الْمِحْيَاضُ

“Dan seburuk-buruk wanita adalah As-Suwaidaa’ Al-Miroodh (yang hitam dan penyakitan) dan lebih buruk lagi adalah Al-Humairoo’ Al-Mihyaad (yang merah karena sering haid)” (Tahdziibul Lughoh li Al-Azhari 3/104)

Maka makna Al-Humairo di atas tidaklah keluar dari dua sebab :

–         Karena berkaitan dengan darah yang berwarna merah. Karena wanita yang sering istihadhoh (keluar darah merah) juga disifati dengan Al-Humairo.

–         Karena penyakit keluar darahnya parah. Dan Orang-orang Arab mensifati sesuatu yang parah dengan merah. Sebagaimana dalam hadits, Ali bin Abi Tholib berkata,

كُنّا إذا احمرّ البأسُ اتقّينا بِرسولِ الله صلى الله عليه وسلم، فلم يكن أَحَدٌ منا أقربَ إلى العَدُوّ منه

“Kami jika sudah memerah pertempuran maka kami berlindung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak ada seorangpun dari kami yang lebih dekat dengan musuh daripada Nabi”

Demikian dikatakan (سنة حَمْرَاءُ شَدِيْدَةٌ) yang artinya tahun yang memerah yang parah/keras (Lihat Mu’jam Maqooyis Al-Lughoh 2/10)

Adapun mengartikan (حُمَيْرَاءُ) dengan wanita yang berkulit hitam (sebagaimana yang dikatakan oleh Yasir Al-Habib), maka ini menunjukkan kebodohan dalam bahasa Arab. Tidak ada orang arab yang menggunakan warna merah untuk mengungkapkan warna hitam

Kelima : Orang Arab sering mengungkapkan warna merah untuk warna putih. Berikut ini saya nukilkan dari kamus-kamus bahasa Arab,

والعرب تقول امرأة حمراء ، أي بيضاء

“Orang-orang Arab mengatakan : (Wanita merah) maksudnya (putih)” (Taajul ‘Aruus li Az-Zabiidi 11/73)

قال الأَزهري والقول في الأَسود والأَحمر إِنهما الأَسود والأَبيض لأَن هذين النعتين يعمان الآدميين أَجمعين

Al-Azhari berkata : Dan pendapat tentang (hadits “Aku diutus kepada) yang hitam dan yang merah” yaitu keduanya adalah yang hitam dan yang putih, karena dua sifat ini mencakup seluruh manusia” (Lisaanul ‘Arob li Ibnil Manzhuur 4/208, lihat juga Al-Faaiq Fi Ghoriibil Hadiits wal Atsar li Az-Zamakhsyari 1/317)

Keenam : Adapun pernyataan Yasir Al-Habib bahwasanya Aisyah hitam karena ayahnya Abu Bakar juga hitam, maka ini merupakan kedustaan. Justru para ahli sejarah menukilkan bahwa Abu Bakar adalah seorang lelaki yang berkulit putih.

Dalam At-Tobaqoot karya Ibnu Sa’ad tentang sifat Abu Bakar,

رَجُلٌ أَبْيَضُ نَحِيْفٌ

“Lelaki putih dan kurus” (At-Thobaqoot Al-Kubro 3/188)

Dalam kitab At-Taariikh karya At-Thobari (wafat 310 H),

إِنَّهُ كَانَ أَبْيَضَ يُخَالِطُهُ صُفْرَةٌ، حَسَنَ القامة، نحيفا

“Abu Bakar (berkulit) putih bercampur kuning, bagus perawakannya, kurus” (Tariikh At-Thobari 3/424, cetakan Ihyaa At-Turoots al-‘Arobi)

Dalam kitab Ansaab Al-Asyroof, Al-Balaadzuri (wafat 279 H) berkata tentang Abu Bakar,

وَقَالَ الْوَاقِدِيُّ فِي إسناده: كَانَ أَبُو بَكْر أبيض نحيفا…

وَقَالَ غير الْوَاقِدِيّ: كَانَ أَبُو بَكْر حسن الجسم معصوب اللحم مشربا صفرة…

ويقال: كَانَ أبيض تعلوه صفره

“Al-Waqidi berkata pada isnadnya : “Abu Bakar putih dan kurus”…

Selain Al-Waqidi berkata ; “Abu Bakar tubuhnya bagus, dagingnya padat, kulitnya kekuning-kuningan…”

Dan dikatakan : Abu Bakar putih yang dilapisi warna kuning…” (Ansaab Al-Asyroof 10/57)

Demikian juga kitab-kitab taroojum (biografi) dan taariikh semua menyebutkan bahwa Abu Bakar berkulit putih (lihat Usud Al-Ghoobah 3/223, Al-Ishoobah 2/432).

Dari sinilah nampak sekali kedustaan Yasir Al-Habib sang syi’ah tukang dusta !!!

Kalaupun Abu Bakar berkulit hitam, maka tidak menutup kemungkinan anaknya ada yang putih, karena bisa jadi ibunya berkulit putih, atau leluhurnya ada yang berkulit putih sehingga gen-nya menurun kepada salah seorang anaknya.

Ketujuh : Adapun perkataan Yasir Al-Habib bahwasanya Banu Taim (kabilahnya Aisyah dan Abu Bakar) terkenal dengan warna kulit yang hitam sehingga Banu Taim diejek hampir sama dengan kulit budak-budak mereka, maka ini semua adalah kedustaan juga. Yasir Al-Habib mengatakan, jika Bani Taim berkulit hitam dan Abu Bakar berkulit hitam maka bagaimana bisa Aisyah berkulit putih??

Adapun bait sya’ir yang dijadikan hujjah oleh Yasir Al-Habib yaitu,

وكنتُ إذا لقيتُ عبيدَ تيمٍ ** وتيماً قلتُ أيهُما العبيدُ

“Dan aku jika bertemu dengan para budak bani Taim dan bani Taim, maka aku berkata, “Manakah diantara keduanya yang merupakan budak?”

Menurut Yasir Al-Habib, sang penyair tidak bisa membedakan antara Bani Taim dan budak-budak mereka, karena Bani Taim juga berkulit hitam seperti budak-budak mereka.

Ini adalah kedustaan, karena maksud dari sya’ir ejekan tersebut adalah menjelekan Bani Taim bukan dari sisi warna kulit, akan tetapi mereka dijelek-jelekan karena dianggap buruk akhlaknya, sampai-sampai tidak diketahui mereka yang memimpin budak mereka ataukah mereka diperbudak oleh budak mereka. Syair ini adalah milik Jarir yang ia lontarkan untuk mengejek Farozdaq dan bani Taim. Syai’rnya sebagai berikut,

لئام العالمين كرام تيم ** وسيدهم وأن زعموا مسود ) ( وإنك لو لقيت عبيد تيم ** وتيماً قلت أيهما العبيد

“Orang-orang tercela di alam semesta ini itulah mereka orang-orang mulia dari bani Taim…

Pemimpin mereka meskipun disangka memimpin namun pada hakekatnya ia yang sedang dipimpin…

Dan sesungguhnya aku jika ketemu bani Taim dan para budak mereka, aku berkata : Manakah diantara keduanya yang merupakan para budak?? (Lihat Khizaanatul Adab 3/27-28)

Kedelapan : Selain itu ternyata bani Taim yang dimaksud dalam bait sya’ir di atas bukanlah bani kabilahnya Abu Bakar. Karena nasab Abu Bakar adalah Abu Bakar bin Utsman bin ‘Aamir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’d bin Taim bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ay, dst. Jadi nasab Nabi dan nasab Abu Bakar ketemu di Murroh.

Adapun Taim yang dimaksud dalam bait sya’ir di atas bukanlah Taim bin Murroh tetapi Taim Ar-Ribaab.

Ibnu Al-Kalbiy dalam kitab Jamharotul Ansaab berkata : Abdu Manaat bin Udd melahirkan Taim –dan mereka adalah Ar-Ribaab-, ‘Adi, ‘Auf, al-‘Asyyab, dan Tsaur, Mereka dinamakan Ar-Ribab karena Taim, Adi, Tsaur, ‘Auf, Asyyab dan (paman mereka) Dobbah bin Udd mereka memasukan tangan mereka di Ar-Rub (semacam juz atau minyak) untuk bersekutu melawan bani Taimim. Maka mereka semua dinamakan Ar-Ribab, dan mereka seluruhnya adalah Ar-Ribaab, dan Taim juga dikhususkan dengan sebutan Ar-Ribaab” (Khizaanatul Adab 3/27-28)

Kesembilan : Berdasarkan keyakinan dan tuduhan kaum syi’ah maka berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermulut kotor, dimana  memanggil istrinya dengan “Keledai kecil” (yang ini merupakan gelaran bagi orang yang dungu) atau memanggilnya dengan “Si kecil hitam”, yang ini berarti mengejek keburukan yang ada pada tubuh istrinya yaitu berkulit hitam !!!.

Sangat jelas ini hanyalah dongeng dan khayalan kaum syi’ah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin mengucapkan kata-kata kotor seperti ini. Jika kata-kata kotor seperti ini tidak pernah diucapkan beliau kepada orang kafir lantas bagaimana mungkin ia ucapkan kepada istri yang paling ia cintai, yang ia meninggal di pangkuannya ??!!

Dalam hadits yang shahih Aisyah berkata,

دعاني رسول الله صلى الله عليه وسلم والحبشة يلعبون بحرابهم في المسجد في يوم عيد فقال لي: “يا حميراء! أتحبين أن تنظري إليهم؟ ” فقلت: نعم

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilku dan kaum Habasyah sedang bermain-main dengan tombak mereka pada hari raya, maka Nabi berkata kepadaku : “Wahai Humairo’, apakah kau suka untuk menonton mereka?”. Maka aku berkata : Iya” (lihat kitab Adabuz Zifaaf karya Syaikh Al-Abani hal 272)

Yang seharusnya hadits ini menunjukkan betapa akhlak yang mulia dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga memanggil istrinya dengan panggilan yang mengandung pujian terhadap istrinya yang berkulit putih, akan tetapi maknanya oleh kaum syi’ah dibalik sehingga seakan-akan Nabi mengejek dan mencela kekurangan yang ada ditubuh Aisyah ??!!

Sumber; http://www.firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/597-banyolan-kaum-syi-ah-bag-10-nabi-menjuluki-aisyah-keledai-si-hitam