WAHAI MUSLIMAH, JAGALAH NASABMU !!

HUKUM SEORANG WANITA MENAMBAHKAN NAMA SUAMINYA DIBELAKANG NAMANYA

بسم الله الرحمن الرحيم

B1Telah umum dibanyak negara dan daerah, apabila seorang wanita muslimah telah menikah dengan seorang pria maka ia segera menisbatkan namanya dengan nama suaminya atau laqobnya. Misalnya: Maryam menikah dengan Zaid, maka ia segera mencantumkan nama suaminya yaitu menjadi, Maryam Zaid. Maka menurut susunan kata, hal itu bermakna Maryam bintu Zaid yaitu Maryam anak perempuannya Zaid, bukan Maryam istrinya Zaid.

Atau seorang wanita yang bernama Suti Fadlilat (bintu) Ramlan menikah dengan Galang Ariwijaya, maka ia merubah namanya menjadi Suti Ariwijya atau Suti Fadlilat Ariwijaya, dengan menghilangkan nasab ayahnya dan menambah nama/ marga suaminya.

Hal ini merupakan budaya barat dan kebiasaan kaum kafirin, yang telah diikuti oleh banyak kaum muslimin karena lemahnya iman dan pemahaman agama mereka. Misalnya seperti istrinya Bill Clinton, Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham. Istrinya Barrack Obama, Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson, dan lain-lain.

Padahal ini adalah perilaku yang tercela dan dilarang, karena telah menyalahi syariat, meniru-niru dan menyerupai kebiasaan kaum kuffar dan yang jelas akan dapat menghilangkan silsilah nasab keluarga. Dan di dalam hal ini banyak terdapat keburukan dan kesulitan.

Berapa banyak kejadian seorang wanita yang menikah, lalu mencantumkan nama suaminya atau marga suaminya dengan meninggalkan atau membuang nama ayahnya atau marga ayahnya. Bahkan nama suaminya itu dicantumkan setelah namanya dalam surat-surat penting semisal KTP, SIM, STNK/ BPKB, Paspor atau Visa, Kartu Bank dan kartu-kartu penting lainnya. Lalu selang beberapa ia ditinggal mati oleh suaminya atau diceraikan oleh suaminya karena suatu hal atau ia meminta cerai (khulu’) dari suaminya dengan suatu sebab. Kemudian setelah iddah, ia menikah lagi dengan pria lainnya dan berusaha mencantumkan kembali nama suami terbarunya dibelakang namanya. Maka betapa sulit dan ribetnya ia mengurus kembali surat-surat penting tersebut dengan berusaha mengganti nama mantan suaminya terdahulu dengan nama suami terbarunya. Ingat, suami itu ada bekasnya tetapi ayah itu tidak akan pernah ada bekasnya.

Jadi sangat penting mengetahui dan menjaga nasab kepada ayahnya meskipun ia kurang mengenalnya, karena di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Penjagaan nasab itu diantaranya dengan cara mencantumkan nama ayahnya dibelakang namanya.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata,

            تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فىِ اْلأَهْلِ مَثْرَاةٌ فىِ اْلمـَالِ مَنْسَأَةٌ فىِ اْلأَثَرِ

           “Pelajarilah nasab kalian, sesuatu yang dapat menyambung silaturrahmi. Sesungguhnya silaturrahmi itu adalah (menimbulkan) kecintaan pada keluarga, kelimpahan dalam harta dan menambah usia”. [HR at-Turmudziy: 1979, Ahmad: II/ 374 dan al-Hakim: 7366. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [1]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma  berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

اعْرِفُوْا أَنْسَابَكُمْ تَصِلُوْا أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّهُ لاَ قُرْبَ بِالرَّحِمِ إِذَا قُطِعَتْ وَ إِنْ كَانَتْ قَرِيْبَةً وَ لاَ بُعْدَ بِهَا إِذَا وُصِلَتْ وَ إِنْ كَانَتْ بَعِيْدَةً

“Kenalilah nasab kalian yang kalian dapat menyambung silaturrahmi. Karena sesungguhnya tiada kedekatan terhadap kerabat apabila silaturrahmi itu telah diputus meskipun terhadap kerabat dekat. Dan juga tidak ada jarak yang jauh terhadap kerabat apabila silaturrahmi telah disambung kendatipun terhadap kerabat jauh. [HR Abu Dawud ath-Thoyalisiy di dalam kitab musnadnya dan al-Hakim: 308, 7365. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Dua dalil di atas menjelaskan akan perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada setiap muslim untuk mengetahui dan mempelajari nasabnya masing-masing. Di antara tujuannya adalah agar dapat bersilaturrahmi kepada para kerabatnya. Maka jika seorang wanita menyamarkan atau bahkan menghilangkan nasabnya lalu diganti dengan nama suaminya, maka kelak dirinya atau anak keturunannya tidak akan dapat saling bersilaturrahmi dengan para kerabatnya.

Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa ta’ala melarang seorang muslim meletakkan namanya setelah nama anak angkatnya, agar anak angkatnya itu tetap dapat mengenali nasabnya dan dapat saling bersilaturrahmi dengan kerabat dari orang tua kandungnya. Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ

“Panggillah mereka (anak-anak angkat kalian) dengan memakai nama-nama ayah mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah”. [QS al-Ahzab/ 33: 5].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Yakni panggillah anak-anak angkat itu (dengan nama) ayah-ayah mereka yaitu nasabkanlah mereka kepada ayah-ayah mereka, ‘Wahai Fulan bin Fulan’. Karena memanggil mereka dengan (nama) ayah-ayah mereka itu lebih adil dan bijaksana di dalam hukum Allah dan syariat-Nya”. [3]

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat ini merupakan perkara yang menghapus (nasikh) sesuatu yang terjadi di permulaan Islam akan bolehnya mengangkat (mengadopsi) anak ajnabiy (yang bukan keturunannya) yaitu berupa anak-anak angkat. Lalu Allah tabaroka wa ta’ala mengembalikan nasab mereka kepada ayah-ayah mereka secara hakiki. Dan hal ini adalah sesuatu yang adil, bijaksana dan berbakti (kepada orang tua)”. [4]

Meskipun ayat ini berkenaan dengan masalah anak angkat, yakni seorang anak yang diangkat/ diadopsi oleh seorang pria, lalu dicantumkan nama ayah angkatnya tersebut sesudah nama anak tersebut. Misalnya, seorang anak yang bernama Syakir dan diadopsi seseorang yang bernama Fariq, maka ia dipanggil dengan Syakir Fariq yaitu Syakir bin Fariq. Sebagaimana dahulu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki seorang anak angkat yang bernama Zaid, lalu Zaid dipanggil dengan nama Zaid bin Muhammad. Lalu turunlah ayat di atas agar memanggil nama anak-anak angkat itu dengan nama ayah mereka, maka kembalilah menjadi Zaid bin al-Haritsah.

Maka meletakkan nama dibelakang nama seseorang, baik laki-laki ataupun perempuan dengan nama selain ayahnya adalah dilarang. Apakah nama ayah angkat, nama suami dan selainnya, cukup baginya untuk meletakkan nama ayahnya sebagai bentuk ketundukkan kepada syariat dan bentuk penghormatan dan kecintaan kepada ayahnya.

Banyak dalil-dalil yang melarang seseorang untuk tidak mengakui dan enggan bernasab kepada ayahnya. Hal itu apakah karena kebodohannya terhadap syariat lalu meremehkannya atau karena faktor kebencian dan ketidak sukaannya kepada ayahnya atau juga ia lebih terpikat akan budaya dan kebiasaan kaum kafirin dan selainnya.

Dari Abu Dzarr, bahwasanya ia pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيْهِ وَ هُوَ يَعْلَمُهُ إِلاَّ كَفَرَ وَ مَنِ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ وَ مَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَ لَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ

“Tidaklah seseorang itu mengaku-ngaku kepada selain ayahnya padahal ia mengetahuinya melainkan ia telah kafir. Barangsiapa yang mengaku-ngaku sesuatu yang ia tidak miliki maka ia bukan termasuk golongan kami dan hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka. Dan barangsiapa yang menuduh seseorang dengan  kekafiran atau ia berkata, “Wahai musuh Allah padahal ia tidak begitu melainkan tuduhan itu akan kembali kepadanya”. [HR Muslim: 61 dan lafazh ini baginya dan Ahmad: V/ 166, Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkan menafikan diri dari nasab yang sudah diketahui dan mengaku-ngaku bernasab kepada selainnya”. [6]

Dari Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَ مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيْهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَ اْلمـَلَائِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ صَرْفًا وَ لاَ عَدْلًا

“Dan barangsiapa yang mengaku-ngaku kepada selain ayahnya atau bekerja kepada selain majikannya maka baginya laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan darinya pada hari kiamat”. [HR al-Bukhoriy: 1870, Muslim: 1370, Ahmad: I/ 126 dan Abu Dawud: 5115. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[7]

Dari Sa’d bin Abi Waqqosh radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيْهِ فَاْلجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barangsiapa yang mengaku-ngaku kepada selain ayahnya sedangkan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya maka diharamkan surga itu baginya”. [HR al-Bukhoriy: 6766, Muslim: 63, Abu Dawud: 5113, Ibnu Majah: 2610, Ahmad: I/ 169 dan ad-Darimiy: II/ 343. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنِ انْتَسَبَ إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ أَوْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيْهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَ اْلمـَلَائِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Barangsiapa yang bernasab kepada selain ayahnya atau mengabdi kepada selain majikannya maka ia akan dilaknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya”. [HR Ibnu Majah: 2609. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَرْغَبُوْا عَنْ آبَائِكُمْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيْهِ فَهُوَ كُفْرٌ

            “Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barangsiapa yang membenci ayahnya maka ia telah berbuat kufur”. [HR al-Bukhoriy: 6768 dan Muslim: 62. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkan bernasab kepada selain ayah yang disertai dengan mengetahui keadaan mereka. Barangsiapa yang berbuat seperti itu maka ia telah kufur dengan kekufuran yang memindahkan/ mengeluarkanya dari agama. Hal tersebut dipahami dari sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ‘maka diharamkan surga itu baginya’. Islam bertekad untuk senantiasa menjaga nasab. Wajibnya berbakti kepada kedua orang tua”. [11]

Dalil-dalil di atas menegaskan bahwa siapapun yang enggan bernasab kepada ayahnyanya lantara suatu hal maka ia telah kafir, dilaknat oleh Allah ta’ala, para Malaikat-Nya dan seluruh manusia, dijamin dengan neraka dan diharamkan masuk ke dalam surga. Al-Iyaadzu billah.

Maka tidak boleh dikatakan, ‘Fulanah bintu Fulan’ sedangkan ia bukan anaknya. Tetapi boleh dikatakan, ‘Fulanah zaujatu Fulan’ atau Fulanah imro’atu Fulan’ (Fulanah istrinya si Fulan) atau tanggungannya si Fulan atau wakilnya Fulan. Dan jika tidak disebutkan idlofah-idlofah ini -dan hal ini sudah diketahui & biasa- maka sesungguhnya apa-apa yang berlaku dalam adat, itulah yang dipertimbangkan dalam syari’at-.

Hal ini berdasarkan beberapa dalil di antaranya adalah penyebutan dari Allah ta’ala di dalam Alqur’an akan istrinya Nabi Nuh dan Luth (imro’ata Nuh wamro’ata Luth) untuk contoh bagi kaum kafirin dan istrinya Fir’aun (imro’ata Fir’auna) bagi kaum mukminin. [12] Begitupun dalam hadits, terdapat banyak riwayat penyebutan kalimat tersebut, yaitu Fulanah zaujatu Fulan atau Fulanah imro’atu Fulan. Di antaranya,

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar ke Musholla (tanah lapang) untuk menunaikan sholat ied al-Adl-ha atau ied al-Fithri. Kemudian Beliau berpaling, lalu menashihati manusia dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Beliau bersabda, “Wahai manusia, bersedekahlah kalian!”. Ketika melewati kaum wanita, Beliau bersabda, “Wahai para wanita, bersedekahlah kalian, karena aku telah melihat kalian yang terbanyak penghuni neraka”. Mereka bertanya, “Mengapakah demikian, wahai Rosulullah?”. Beliau bersabda, “Karena kalian suka banyak mengutuk, mengkufuri suami dan aku juga melihat berkurangnya akal dan agama seseorang di antara kalian dapat menghilangkan akal seorang lelaki yang bijak wahai kaum wanita”. Kemuadian Beliau berpaling (pulang menuju rumahnya). Ketika Beliau telah di rumahnya, datanglah Zainab istrinya Ibnu Mas’ud dan ia meminta idzin untuk bertemu dengannya. Dikatakan, “Wahai Rosulullah, aku Zainab (ingin bertemu)”. Beliau bertanya, “Zainab yang mana?”. Dikatakan,

امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُوْدٍ

Imro’atu (Istrinya) Ibnu Mas’ud”. Beliau bersabda, “Ya, idzinkanlah dia!”. Maka iapun diidzinkan (untuk bertemu Beliau). Ia bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya engkau pada hari ini telah memerintahkan untuk bersedekah dan aku memiliki perhiasan yang aku ingin sedekahkan. Namun Ibnu Mas’ud beranggapan bahwa dia dan anaknya adalah orang yang lebih berhak aku sedekahkan”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ibnu Mas’ud benar, suamimu dan anakmu itu adalah orang yang lebih berhak engkau sedekahkan”. [HR al-Bukhoriy:1462 dan Ahmad: II/ 87. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Ummu Habibah binti Jahsyi istrinya (imro’atu) Abdurrahman bin Auf [14] pernah istihadlah dan ia juga adalah saudara perempuannya Zainab binti Jahsyi”. Ia meminta fatwa kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka bersabdalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepadanya,

إِنَّ هَذِهِ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ وَ لَكِنْ هَذَا عِرْقٌ فَإِذَا أَدْبَرَتِ اْلحَيْضَةُ فَاغْتَسِلِيْ وَ صَلِّي وَ إِذَا أَقْبَلَتْ فَاتْرُكِيْ لَهَا الصَّلاَةَ

“Sesungguhnya ini bukanlah (darah) haidl tetapi cairan penyakit. Apabila haidl telah berlalu maka mandi dan sholatlah dan apabila (haidl) datang maka tinggalkan sholat”. Aisyah berkata, “Maka ia mandi setiap kali sholat dan menunaikan sholat. Kadang-kadang ia mandi di tempat cuci di kamar saudarinya yaitu Zainab sedangkan ia ada di sisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sehingga merah darahnya benar-benar mengalahkan (atau melebihi warna) air. Lalu ia keluar dan sholat bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan Beliau tidak mencegahnya dari sholat”. [HR an-Nasa’iy: I/ 118-119, al-Bukhoriy: 326, Muslim: 334 dan al-Hakim: 635. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Hadits pertama menerangkan tentang seorang wanita yang bernama Zainab, sedangkan yang bernama Zainab itu tidaklah sedikit. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Zainab yang mana?”. Maka ia menjawab, “Imro’atu (istrinya) Ibnu Mas’ud”, maksudnya Zainab istrinya Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu.

Hadits yang kedua, cerita dari Aisyah radliyallahu anha tentang kedatang seorang wanita kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang hendak bertanya tentang istihadlah. Wanita itu bernama Ummu Habibah bintu Jahsyi, saudaranya Zainab binti Jahsyi istrinya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dan Ummu Habibah ini imro’atu (istrinya) Abdurrahman bin Auf radliyallahu anhu. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Demikian kewajiban seorang muslim atau muslimah untuk senantiasa berbakti kepada orang tuanya, khususnya ayahnya. Dan hendaknya ia juga selalu memuliakan dan menghormatinya dengan tidak merasa ragu atau malu untuk meletakkan nama ayahnya dibelakang namanya.

Apalagi seorang wanita muslimah, jika ia seorang wanita yang shalihah hendaknya ia tetap menjaga nasabnya kepada ayahnya meskipun ia sudah memiliki suami yang terpandang. Hal ini dengan tetap mencantumkan nama ayahnya di belakang namanya bukan nama suaminya, sebagaimana banyak dilakukan oleh kaum kuffar dan orang-orang jahiliyah.

Wallahu a’lam bish showab.

 

[1]Shahih Sunan at-Turmudziy: 1612, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 276 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2965.

[2]Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 277 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1051.

[3] Aysar at-Tafasir: IV/ 242.

[4] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: III/ 564, Cetakan Dar al-Fikr tahun 1412 H/ 1992 M.

[5]al-Jami’ ash-Shahih: I/ 57, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawiy: II/ 49, Mukhtashor Shahih Muslim: 50, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5431 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 1742, 1814.

[6] Bahjah an-Nazhirin: III/ 271.

[7]Shahih Sunan Abu Dawud: 4268, Ghoyah al-Maram: 266 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5987.

[8]Mukhtashor Shahih Muslim: 49, Shahih Sunan Abu Dawud: 4265, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2114, Ghoyah al-Maram: 267 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5989.

[9]Shahih Sunan Ibnu Majah: 2113 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6104

[10]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7279

[11]Bahjah an-Nazhirin: III/269.

[12]Lihat Alqur’an Surat at-Tahrim/ 66: 10-11.

[13]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3755 dan Irwa’ al-Ghalil: 878.

[14] أُمُّ حَبِيْبَةَ بِنْتُ جَحْشٍ امْرَأَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ

[15] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 198.

Iklan

AKHI, MARILAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (5)…

DALIL-DALIL YANG MELARANG BERBUAT DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA

بسم الله الرحمن الرحيم

Birrul walidain12Wahai para anak, hendaknya kalian bertakwa kepada Allah dalam menghadapi ayah dan ibu. Berbaktilah kepada orang tua kalian, maka anak-anak kalian kelak akan berbakti kepada kalian. Ketahuilah bahwa ridlo Allah terletak di dalam ridlo ayah dan ibu dan murka Allah terletak di dalam murka ayah dan ibu.

Kalian pasti sangat menyesalkan dan menyayangkan maraknya fenomena anak yang enggan berbakti kepada orang tuannya. Tidak ada penghargaan, rasa hormat, kepatuhan, perbuatan baik dan perilaku berbakti, maupun sopan santun. Yang ada justru kekerasan, kekasaran, bentakan dan kedurhakaan. Bahkan ada orang yang sangat keji, bengis dan kejam. Sehingga apabila ayah atau ibunya menyuruhnya melakukan sesuatu, ia akan menggerakkan bahunya, membuang muka dan membalikkan punggungnya. Seolah-olah perintah itu tidak penting baginya. Bahkan ada yang memasang muka cemberut, mengerutkan dahi, berteriak, tidak sopan dan melawan ayah dan ibunya. Tidaklah orang seperti itu menyadari bahwa perbuatannya itu dapat membuatnya sengsara?. Sungguh celaka baginya pada saat dirinya di hadapkan kepada Rabbnya kelak.

Berapa banyak anak yang selalu menyusahkan kedua orang tuanya karena berbagai persoalan yang diperbuatnya. Misalnya, terlibat obat-obatan terlarang, bermabuk-mabukan dengan kawan-kawannya, terlibat pergaulan bebas yang mengakibatkan dirinya atau kekasihnya hamil sebelum pernikahan, terlibat tawuran dengan pelajar lainnya yang mengakibatkan orang lain celaka dan lain sebagainya. Sehingga dirinya terlibat dalam tindak kriminal, ditangkap petugas kepolisian, dipanggil oleh pihak sekolah yang berakibat dirinya diskorsing atau dikeluarkan dari sekolah. Semuanya itu jelas menyusahkan dan mempermalukan kedua orang tuanya.

Bahkan ada sebagian orang yang tidak segan-segan menggugat orang tuanya di pengadilan, melaporkannya ke pihak kepolisian atau lembaga-lembaga hukum lainnya. Untuk apa ini semua?. Apakah untuk mengambil segenggam uang atau sejengkal tanah?. Sampai-sampai banyak terjadi pemutusan hubungan persaudaraan demi secuil harta atau karena perasaan tertentu yang terpendam di dalam hati. Bahkan ada orang yang tidak bertegur sapa dengan orang tuanya, tidak berkunjung dan tidak berkomunikasi dengannya selama berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan sampai keduanya telah tiada.

Sering pula dijumpai seorang anak yang meminta dibaginya warisan padahal ayah dan ibunya masih hidup. Namun begitu telah dibagi, si anak tetap merongrong harta kedua orangtuanya. Dan pada akhirnya kedua orang tua itu terusir dari rumahnya sendiri karena harta dan rumahnya telah dikuasai anaknya.

Ada juga orang yang meninggalkan orang tuanya yang sudah renta atau sakit menua di panti-panti jompo. Dan selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia tidak mengetahui keadaannya. Di mana iman?. Di mana keutamaan?. Di mana norma-norma kepatutan?. Di mana rasa kasih sayang dan rasa kemanusiaan?. Orang-orang semacam itu telah berbalik 180 derajat. Mereka telah membalas air susu dengan air tuba.

Aku ingin ia hidup ketika ia ditimpa sakit

Tapi dia ingin membunuhku ketika aku masih sehat

Aku senantiasa menjaganya dan bahkan anaknya ketika lahir

Sedangkan ia membuang dan mengabaikanku ketika aku sudah renta

Ada pula orang yang telah menikah melupakan kedua orang tuanya dan mengabaikan urusan mereka, karena terlalu asyik dengan kehidupan barunya. Betapa banyak penderitaan yang dialami para ibu akibat ulah anak-anaknya yang mengutamakan istrinya dan mengabaikan ibunya. Bahkan ada yang menunjukkan sikap angkuhnya kepada sang ibu di depan mata istri dan anak-anaknya. Sungguh keji perbuatan mereka ! Sungguh celaka apa yang mereka perbuat!.

Sebagai anak, kalian harus selalu menjaga hak-hak orang tua dengan cara berbakti dan berbuat baik kepada mereka. Dan sebagai ayah atau ibu, kalian harus bisa membantu anak-anak kalian dalam berbakti kepada kalian. Jangan membebani mereka dengan tugas-tugas yang terlalu berat bagi mereka. Dan jangan mencampuri urusan pribadi mereka, lebih-lebih setelah menikah. Karena hal itu dapat menyebabkan retaknya hubungan dan putusnya tali cinta kasih dan keharmonisan diantara kalian.

Hendaknya setiap istri untuk selalu mendukung dan memotivasi suaminya untuk berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya. Jika ia menyayangi dan mencintai suaminya karena Allah, niscaya ia akan senantiasa mendukung dan memotivasinya untuk meraih surga dan keridloan-Nya dengan cara berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Dan ia tidak akan menjadi penyebab suaminya durhaka kepada keduanya dan melalaikan kewajibannya kepada keduanya. Sebab berapa banyak dijumpai seorang lelaki ketika beristri, ia berpaling dari kedua orang tuanya, mengabaikan dan tidak peduli lagi dengan keduanya dan bahkan memutuskan silaturrahmi dari keduanya.

Begitupun setiap suami, hendaknya mendukung dan memotivasi istrinya atau para istrinya untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Jika ia menyayangi istri atau para istrinya, niscaya ia akan senantiasa mendukung dan memotivasi mereka untuk meraih surga dan keridloan-Nya dengan cara berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ia juga tidak akan menjadi penyebab mereka durhaka kepada kedua orang tua mereka dengan cara berpaling dari keduanya dan memutuskan silaturrahmi dari keduanya atau dari karib kerabat mereka.

Dan ada pula orang yang karena kurangnya ilmu agama justru lebih berbakti kepada teman-temannya dibanding orang tuanya. Mereka begitu patuh kepada rekan-rekannya dan bersikap baik kepada kawan-kawannya, namun durhaka kepada ibunya dan tidak bertegur sapa dengan ayahnya. Bahkan anda akan sangat prihatin ketika melihat orang yang menunjukkan penampilan yang shalih, bergelut di dunia ilmu atau dakwah, tetapi sama sekali tidak menaruh hormat, tidak menghargai, tidak peduli, tidak berbakti dan tidak pula perhatian kepada orang tuanya.

Padahal jelas-jelas perilaku durhaka dan bersikap buruk kepada kedua orang tua itu termasuk dosa-dosa besar dan akan memasukkan ke dalam kerasnya siksa neraka.

Jika ada seseorang mengakui dua kalimat syahadat dengan pengakuan yang benar, menunaikan sholat lima waktu, membayar zakat dan shaum pada bulan Ramadlan maka ia akan masuk ke dalam surga bersama para Nabi, shiddiqin dan syuhada selama ia tidak mendurhakai kedua orang tuanya. Jadi ketaatan dan perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya termasuk penentu baginya masuk ke dalam surga.

عن عمرو بن مرة الجهنى رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ شَهِدْتُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ وَ صَلَّيْتُ اْلخَمْسَ وَ أَدَّيْتُ زَكَاةَ مَالىِ وَ صُمْتُ رَمَضَانَ  فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا كَانَ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ هَكَذَا وَ نَصَبَ أُصْبُعَيْهِ مَا لَمْ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ

                Dari Amr bin Murrah al-Juhniy ra berkata, “Seorang lelaki pernah datang kepada Nabi Shallalahu alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rosulullah aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya engkau adalah utusan Allah, menunaikan sholat lima waktu, membayar zakat hartaku dan shaum pada bulan Ramadlan”. Nabi Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati di atas ini maka ia bersama para nabi, shiddiqin dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat, seperti ini (Beliau mengangkat kedua jarinya) selama ia tidak mendurhakai kedua orang tuanya”. [HR ab-Bukhoriy di dalam at-Tarikh al-Kabir dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy]. [1]

Begitupun, jika ada seorang muslim menggangu dan menyakiti tetangganya dengan ucapan yang buruk maka ia pasti akan masuk neraka kendatipun ia rajin sholat malam sesudah sholat fardlunya, gemar shaum sunnah setelah shaum wajibnya, suka bersedekah dan mengerjakan kebaikan-kebaikan lainnya. Jika bersikap buruk kepada tetangganya saja akan berakibat seperti itu maka bagaimana jika bersikap dan berperilaku buruk itu ditujukan kepada kedua orang tuanya??. Tentu akan lebih buruk lagi.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قِيْلَ ِلِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةً تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَ تَفْعَلُ وَ تَصَدَّقُ وَ تُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ قَالُوْا: وَ فُلاَنَةً تُصَلِّى اْلمـَكْتُوْبَةَ وَ تَصَدَّقُ بِأَثْوَارٍ وَ لاَ تُؤْذِي أَحَدًا؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: هِيَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah Shallalahu alaihi wa sallam berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya si Fulanah suka sholat malam, shoum di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, hanyasaja ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?. Bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Mereka bertanya lagi, “Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) sholat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorangpun?”. Bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Dia termasuk penghuni surga”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrod: 119, Ahmad: II/ 440, al-Hakim: 7384 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih lihat Shahih al-Adab al-Mufrad: 88 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 190].

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَألَ: ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ اْلعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَ اْلمـَرْأَةُ اْلمـُتَرَجِّلَةُ اْلمـُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ وَ الدَّيُّوْثُ و ثَلاَثَةٌ لاَ يَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ اْلعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَ مُدْمِنُ اْلخَمْرِ وَ اْلمـَنَّانُ بِمَا أَعْطَى

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga kelompok orang yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat, yaitu (1) orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, (2) perempuan yang menyerupai lelaki dan (3) dayyuts (lelaki yang membiarkan keluarganya berbuat keburukan). Ada tiga golongan orang yang tidak akan masuk surga, yaitu, (1) orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, (2) pecandu khomer dan (3) orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian”. [HR an-Nasa’iy: I/ 357, Ahmad: II/ 134, 69, 128, Ibnu Khuzaimah di dalam at-Tauhid dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [2]

عن أَبى أمامة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ الله مِنْهُمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ صَرْفًا وَ لاَ عَدْلاً عَاقٌّ وَ مَنَّانٌ و مُكَذِّبٌ بِاْلقَدَرِ

      Dari Abu Umamah radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam  bersabda, “Ada tiga golongan orang yang tidak diterima Allah taubat dan tebusannya pada hari kiamat, yaitu (1) Orang yang durhaka kepada kedua orang tua, (2) Orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan (3) Orang yang mendustakan takdir”. [HR Ibnu Abi Ashim, ath-Thabraniy, Abu al-Qasim ash-Shafar dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [3]

عن أبى الدرداء رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ عَاقٌّ وَ لاَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَ لاَ مُكَذِّبٌ بِاْلقَدَرِ

                Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam surga (1) Orang yang durhaka kepada orang tuanya (2) Pecandu khomer dan (3) tidak pula orang yang mendustakan takdir”. [HR Ahmad: VI/ 441 dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Demikian beberapa dalil hadits shahih yang menjelaskan bahwa dosa mendurhakai orang tua itu merupakan salah satu dosa yang menjadikan pelakunya tidak akan masuk ke dalam surga. Bukan hanya itu, Allah ta’ala melalui Rosul-Nya juga telah menjelaskan bahwa pelakunya akan mendapatkan balasan kebururukan lainnya, di antaranya adalah Allah ta’ala tidak akan melihat orang tersebut pada hari kiamat dan tidak akan pula menerima taubat dan tebusannya pada hari kiamat.

Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan perbuatan mendurhakai kedua orang tua.

عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ اللهَ عز و جل حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ اْلأُمَّهَاتِ وَ وَأْدَ اْلبَنَاتِ وَ مَنْعَ وَ هَاتِ

            Dari al-Mughirah bin Syu’bah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu (orang tua), mengubur (anak perempuan) hidup-hidup dan menolak pemberian dan meminta”. [HR al-Bukhoriy: 5975 dan Muslim: 539. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

عن أبي بكرة رضي الله عنه قال: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم أَلاَ أُنَبِّكُمْ بِأَكْبَرِ اْلكَبَائِرِ (ثلاثا) ؟ قَالُوْا بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ وَ عُقُوْقُ اْلوَالِدَيْنِ –وَ جَلَسَ وَ كَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ-: أَلاَ وَ قَوْلُ الزُّوْرِ قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

Dari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Nabi Shallalahu alaihi wa sallam, “Maukah kuberitakan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?”. (Beliau mengucapkannya tiga kali). Mereka menjawab, “Mau, wahai Rosulullah”. Beliau bersabda, “Mempersekutukan Allah (berbuat syirik) dan mendurhakai kedua orang tua, -dan Beliau Shallalahu alaihi wa sallam duduk padahal tadinya menyandar, lalu bersabda,- ingatlah dan juga perkataan dusta. Berkata (Abu Bakrah), “senantiasa beliau mengulang-ulanginya, sehingga kami berkata, “mudah-mudahan beliau berhenti (mengatakannya)”. [Hadits riwayat al-Bukhoriy: 2654, 5976, 6273, 6274, 6919, al-Adab al-Mufrad: 15, Muslim: 87, at-Turmudziy: 2301, 3019 dan Ahmad: V/ 36-37. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [6]

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah meletakkan dosa durhaka kepada kedua orang tua atau kepada salah satu dari keduanya itu setelah perbuatan syirik kepada Allah Azza wa Jalla. Hal ini menunjukkah bahwa durhaka kepada kedua orang tua itu termasuk dari dosa-dosa besar yang wajib dijauhi oleh setiap muslim.

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قَالَ أَوْصَانىِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِعَشْرِ كَلِمَاتٍ قَالَ: لاَ تُشْرِكْ بَاللهِ شَيْئًا وَ إِنْ قُتِلْتَ وَ حُرِّقْتَ وَ لاَ تَعُقَّنَّ وَالِدَيْكَ وَ إِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ أَهْلِكَ وَ مَالِكَ

          Dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam telah berwasiat kepadaku dengan sepuluh kalimat”. Beliau bersabda, “Janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah meskipun engkau dibunuh dan dibakar (hidup-hidup). Janganlah engkau mendurhakai kedua orangtuamu meskipun keduanya menyuruhmu untuk pergi keluar meninggalkan keluarga dan hartamu”. [HR Ahmad: V/ 238. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [7]

Dalil hadits di atas dengan jelas menegaskan bahwasanya seorang muslim itu dilarang untuk mendurhakai kedua orang tuanya meskipun keduanya menyuruhnya untuk pergi meninggalkan keluarga dan hartanya. Ia tidak boleh ragu dan bimbang dalam mengikuti perintah keduanya, selama keduanya tidak mengajak kepada kemusyrikan dan perbuatan maksiat kepada Allah ta’ala.

Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa durhaka dan memutuskan silaturrahmi kepada kedua orang tua itu menjadi salah satu penyebab disegerakan hukuman bagi pelakunya di dunia ini. Apakah balasannya berupa kedurhakaan anaknya kepadanya, dijauhkan dan dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya, ditimpa kesulitan hidup dalam masalah ekonomi, ditimpa penyakit yang menyengsarakannya dan lain sebagainya.

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            بَابَانِ مُعَجَّلَانِ عُقُوْبَتُهُمَا فِى الدُّنْيَا اْلبَغْيُ وَ اْلعُقُوْقُ

        “Ada dua dua perkara yang akan disegerakan hukumannya di dunia ini yaitu, perbuatan aniaya (zhalim) dan durhaka terhadap kedua orang tua”. [HR al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ اْلعُقُوْبَةَ فىِ الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فىِ اْلآخِرَةِ مِنَ اْلبَغْيِ وَ قَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan hukumannya oleh Allah bagi pelakunya di samping apa yang akan didapatnya pada hari kiamat nanti dari pada perbuatan aniaya dan memutuskan silaturahmi”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 67, Abu Dawud: 4902, at-Turmudziy: 2511, Ibnu Majah: 4211, Ahmad: V/ 36, 38, dan al-Hakim: 3410, 7371, 7372. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [9]

LARANGAN MENCELA ORANG TUA

Di antara bentuk durhaka kepada orang tua adalah mencela dan merendahkan keduanya. Baik dengan mencela dan merendahkan keduanya secara langsung ataupun tidak langsung lantaran orang lain yang mencela kedua orang tuanya. Tetapi ia telah menjadi penyebab orang tuanya dicela orang lain yang membalas celaannya terhadap orang tuanya.

Tak sedikit pula, dijumpai adanya anak yang suka mencela lagi merendahkan kedua orang tuanya secara langsung lantaran kemiskinan, status sosial, tingkat pendidikan dan selainnya yang lebih rendah dari anaknya.

Dari Abu ath-Thufail Amir bin Watsilah berkata, dari Ali bin Abu Thalib radliyallahu anhu, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَهُ وَ لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ وَ لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَ لَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ اْلأَرْضِ

            “Allah melaknat orang yang melaknat orangtuanya, Allah melaknat orang yang menyembelih (ternak) untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang melindungi pelaku bid’ah dan Allah melaknat orang yang merubah patok tanah”. [HR Muslim: 1978, an-Nasa’iy: VII/ 232 dan Ahmad: I/ 108. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

            مَلْعُوْنٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُوْنٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُوْنٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ مَلْعُوْنٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُوْمَ اْلأَرْضِ مَلْعُوْنٌ مَنْ كَمَّهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيْقٍ مَلْعُوْنٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيْمَةٍ مَلْعُوْنٌ مَنْ عَمِلَ بِعَمَلِ قَوْمِ لُوْطٍ

            “Dlaknat orang yang mencela ayahnya, dilaknat orang yang mencela ibunya, dilaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, dilaknat orang yang merubah patok tanah, dilaknat orang yang menyesatkan orang buta, dilaknat orang yang menjimak binatang (zoopilia) dan dilaknat orang yang beramal seperti umat nabi Luth (yaitu sodomi/ homoseksual)”. [HR Ahmad: I/ 217, 317. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ اْلكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ كَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ: يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَ يَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

            “Termasuk dosa bersar yang terbesar adalah seseorang yang melaknat orang tuanya sendiri”. Ditanyakan, “Wahai Rosulullah, bagaimana caranya ia melaknat orang tuanya sendiri?”. Beliau menjawab, “Ia mencela ayah orang lain lalu orang itu membalas dengan mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain, lalu orang itu membalas mencela ibunya”. [HR al-Bukhoriy: 5973, Muslim: 90, Abu Dawud: 5141 dan Ahmad: II/ 164. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Hadits di atas menjelaskan bahwa Allah  Subhanahu wa ta’ala akan melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Maka melaknat kedua orang tua atau salah satunya akan menjadikan pelakunya jauh dari rahmat Allah ta’ala dan ia berhak mendapatkan laknat-Nya dan siksa api neraka. Sebab mengatakan ‘ahh’ dan menghardik  keduanya saja termasuk dosa yang dilarang untuk dilakukan sebagaimana telah diketahui maka bagaimana dengan mencela dan melaknat?.

Begitu pula barangsiapa yang menjadi penyebab timbulnya sesuatu maka sesuatu itu boleh dinisbatkan kepadanya. Oleh sebab itu laknat akan dinisbatkan kepadanya karena orang itulah penyebabnya. Yakni apabila ada seseorang mencela ayah atau ibu orang lain lalu orang itu tidak menerima celaan tersebut kemuadian ia membalas dengan mencela orang yang telah mencela orang tuanya. Maka pada hakikatnya orang yang pertama mencela itu telah mencela orang tuanya sendiri, karena ia telah menjadi penyebab dicelanya orang tuanya tersebut.

Jika perbuatan yang menyebabkan dilaknatnya kedua orang tua itu merupakan dosa besar maka dosa melaknat  kedua orang tua secara langsung itu tentu lebih besar lagi.

 LARANGAN MENGAKU-NGAKU AYAH PADA ORANG LAIN

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَتَّهُ سَمِعَ رَسُـوْلَ اللَّهِ صلّى الله عليه و سلّم يَقُوْلُ : لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيْهِ وَ هُوَ يَعْلَمُهُ إِلاَّ كَفَرَ وَ مَنِ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ وَ مَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَ لَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ

Dari Abu Dzarr, bahwasanya ia pernah mendengar Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang itu mengaku-ngaku kepada selain ayahnya padahal ia mengetahuinya melainkan ia telah kafir. Barangsiapa yang mengaku-ngaku sesuatu yang ia tidak miliki maka ia bukan termasuk golongan kami dan hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka. Dan barangsiapa yang menuduh seseorang dengan  kekafiran atau ia berkata, “Wahai musuh Allah padahal ia tidak begitu melainkan tuduhan itu akan kembali kepadanya”. [HR Muslim: 61 dan lafazh ini baginya dan Ahmad: V/ 166, Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [13]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkan menafikan diri dari nasab yang sudah diketahui dan mengaku-ngaku bernasab kepada selainnya”. [14]

Dari Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَ مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيْهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَ اْلمـَلَائِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ صَرْفًا وَ لاَ عَدْلًا

 “Dan barangsiapa yang mengaku-ngaku kepada selain ayahnya atau bekerja kepada selain majikannya maka baginya laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan darinya pada hari kiamat”. [HR al-Bukhoriy: 1870, Muslim: 1370, Ahmad: I/ 126 dan Abu Dawud: 5115. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Dari Sa’d bin Abi Waqqosh radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيْهِ فَاْلجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barangsiapa yang mengaku-ngaku kepada selain ayahnya sedangkan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya maka diharamkan surga itu baginya”. [HR al-Bukhoriy: 6766, Muslim: 63, Abu Dawud: 5113, Ibnu Majah: 2610, Ahmad: I/ 169 dan ad-Darimiy: II/ 343. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنِ انْتَسَبَ إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ أَوْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيْهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَ اْلمـَلَائِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Barangsiapa yang bernasab kepada selain ayahnya atau mengabdi kepada selain majikannya maka ia akan dilaknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya”. [HR Ibnu Majah: 2609. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَرْغَبُوْا عَنْ آبَائِكُمْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيْهِ فَهُوَ كُفْرٌ

            “Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barangsiapa yang membenci ayahnya maka ia telah berbuat kufur”. [HR al-Bukhoriy: 6768 dan Muslim: 62. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkan bernasab kepada selain ayah yang disertai dengan mengetahui keadaan mereka. Barangsiapa yang berbuat seperti itu maka ia telah kufur dengan kekufuran yang memindahkan/ mengeluarkanya dari agama. Hal tersebut dipahami dari sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ‘maka diharamkan surga itu baginya’. Islam bertekad untuk senantiasa menjaga nasab. Wajibnya berbakti kepada kedua orang tua”. [19]

Boleh jadi anak membenci kedua atau salah satu dari orang tuanya karena keadaan ekonomi orang tuanya sangat miskin, pendidikan sangat rendah, status sosialnya amat hina, wajah keduanya sangat ndeso dan selainnya sehingga ia malu dan enggan mengakui kedua orang tuanya tersebut. Maka iapun tidak mau dan sungkan untuk bernasab kepada ayahnya dan enggan mengakui ibunya. Dan ia lebih suka dan menerima jika bernasab kepada orang lain apalagi jika memiliki ayah dan ibu angkat yang lebih berpangkat, berpendidikan tinggi, memiliki status sosial yang mulia dan selainnya.

Maka disaat itulah ia telah jatuh dan terjerumus di dalam kedurhakaan kepada kedua orang tuanya yang telah melahirkannya. Dan berarti ia telah terjatuh ke dalam ancaman Allah Azza wa Jalla yakni berupa kekufuran dan dosa yang sangat besar, tidak akan diterima taubat dan tebusan darinya pada hari kiamat, dilaknat oleh Allah ta’ala, para malaikat dan seluruh manusia dan diharamkan pula surga baginya. Ma’adzallah.

Semoga Allah ta’ala menjauhkanku, istri, anak dan keturunanku, para kerabat dan shahabatku dan seluruh kaum muslimin dari perbuatan durhaka kepada kedua orang tua yang telah dijadikan sebagai salah satu dari dosa terbesar yang wajib dihindari. Aamiin Yaa Mujiibas Saa’iliin.

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 748.

[2] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3071 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 674.

[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3065 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1785.

[4] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 675.

[5] Mukhtashor Shahih Muslim: 1757, Ghoyah al-Maram: 69 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1749.

[6] Fath al-Bariy: V/ 261, X/ 405, XI/ 66, XII/ 264, Mukhtashor Shahih al-Bukhoriy: II/ 208 hadits nomor: 1202, Shahih al-Adab al-Mufrad: 12, al-Jami’ ash-Shahih: I/ 64, Shahih Muslim bi Syarh al-Imam an-Nawawiy: II/ 81, Mukhtashor Shahih Muslim: 46, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1873, 2416, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2628 dan Ghoyah al-Maram: 277.

[7] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 567 dan Irwa’ al-Ghalil: 2026 (VII/ 89).

[8] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1120 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2810.

[9] Shahih al-Adab al-Mufrad: 48, Shahih Sunan Abi Dawud: 4098, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2039, Shahih Sunan Ibni Maajah: 3394, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5704, 5705 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 918, 97.

[10] Mukhtashor Shahih Muslim: 1261, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4119 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5112.

[11] Misykah al-Mashabih: 3583 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5891.

[12] Shahih Sunan Abu Dawud: 4287 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2214.

[13] al-Jami’ ash-Shahih: I/ 57, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawiy: II/ 49, Mukhtashor Shahih Muslim: 50, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5431 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 1742, 1814.

[14] Bahjah an-Nazhirin: III/ 271.

[15] Shahih Sunan Abu Dawud: 4268, Ghoyah al-Maram: 266 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5987.

[16] Mukhtashor Shahih Muslim: 49, Shahih Sunan Abu Dawud: 4265, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2114, Ghoyah al-Maram: 267 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5989.

[17] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2113 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6104.

[18] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7279.

[19] Bahjah an-Nazhirin: III/269.

AKHI, MARILAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (4)…

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (4)

بسم الله الرحمن الرحيم

Birrul walidain7PARA NABI ALAIHIM AS-SALAM BERBAKTI KEPADA ORANG TUA MEREKA

Berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang tidak bisa dielakkan dan keutamaan yang pasti. Kewajibannya pasti dan pelaksanaannya tidak bisa ditawar. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk melalaikan dan meremehkan kewajiban ini. Agama, syari’at, ayat dan hadits, akal sehat, kasih sayang, balas budi dan rasa kemanusiaan adalah dalil-dalil yang menunjukkan adanya keharusan melaksanakan kewajiban itu dengan sebaik-baiknya. Berbakti kepada orang tua adalah sifat yang sangat menonjol dan jalan hidup para Nabi dan Rosul alaihi as-Salam, dan juga merupakan perilaku orang-orang mulia dan orang-orang shalih yang memahami ajaran agama mereka yang shahih. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang mengabadikan perilaku mulia para Nabi alaihim as-Salam kepada kedua orang tua mereka meskipun kedua orang tua mereka adalah orang kafir,

Nabi Nuh Alaihi as-Salam

رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى اْلأَرْضِ مِنَ اْلكَافِرِينَ دَيَّارًا إِنَّكَ إِن تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَ لَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا رَبِّ اغْفِرْ لِى وَ لِوَالِدَيَّ وَ لِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَ اْلمـُؤْمِنَاتِ وَ لَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

Nuh berkata, “Wahai Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Wahai Rabbku! ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan”. [QS. Nuh/ 71: 26-28].

Nabi Nuh alaihi as-Salam menyertakan doa ampunan kepada Allah ta’ala untuk kedua orang tuanya setelah memohon ampun untuk dirinya. Tidaklah dikatakan anak berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya melainkan jika ia senantiasa memohonkan ampun dan mendoakan keduanya dengan berbagai kebaikan. Dan permohonan ampun tersebut dilakukan selama tidak termasuk yang dilarang oleh Allah ta’ala atau Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam dalil berikut,

عن أبى هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ (أَشْيَاءٍ) إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلِدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْا لَهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu  bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  bersabda, “Apabila seorang manusia meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya kecuali dari tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya”. [HR Muslim: 1631, at-Turmudziy: 1376, Abu Dawud: 2880, an-Nasa’iy: VI/ 251 dan Ahmad: II/ 372. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1001, Irwa’ al-Ghalil: 1580, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 793, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 75 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 223-224].

Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam

      يَا أَبَتِ إِنِّى قَدْ جَاءَنِى مِنَ اْلعِلْمِ مَا لَمْ يَأتِكَ فَاتَّبِعْنِى أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. [QS. Maryam/ 19: 43].

      يَا أَبَتِ إِنِّى أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Rabb yang Maha pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”. [QS. Maryam/ 19: 45].

Kata “Ya abati” adalah suatu kata yang paling tinggi dalam penghormatan kepada ayah. Dengan kata inilah Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam berbicara dengan ayahnya, padahal ayahnya adalah orang kafir.

Namun sikap baik Nabi Ibrahim alaihi as-Salam kepada ayahnya yang kafir dengan mengajaknya untuk mengibadahi Allah ta’ala dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya ditanggapi dengan sikap yang buruk olehnya yaitu dengan hendak melemparinya dan mengusirnya.

          قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنْ ءَالِهَتِى يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَ اهْجُرْنِى مَلِيًّا

          Berkata ayahnya, “Wahai Ibrahim, bencikah kamu kepada sembahan-sembahanku?”. Jika kamu tidak berhenti (dengan seruanmu), niscaya aku akan merajammu dan tinggalkanlah aku dalam waktu yang lama”. [QS Maryam/ 19: 46].

Menghadapi sikap buruk ayahnya, Nabi Ibrahim tetap berbuat baik kepadanya bahkan bermaksud untuk memohonkan ampun kepada Allah ta’ala untuknya. Beliau melakukan hal itu karena belum ada larangan dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّى إِنَّهُ كَانَ بِى حَفِيًّا

          Berkata Ibrahim, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun untukmu kepada Rabbku. Sesungguhnya Ia sangat baik kepadaku”. [QS Maryam/ 19: 47].

Namun pada akhirnya setelah diketahui bahwa ayahnya itu musuh bagi Allah ta’ala maka Beliaupun berlepas diri darinya [Lihat QS al-Bara’ah/ 9: 114]. Padahal beliau adalah orang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Bahkan beliaupun memasukkan doa untuk keduanya setelah memohon kebaikan untuk dirinya dan keturunannya.

      رَبِّ اجْعَلْنِى مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَ مِن ذُرِّيَّتِى رَبَّنَا وَ تَقَبَّلْ دُعَاءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِى وَ لِوَالِدَيَّ وَ لِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ اْلحِسَابُ

“Wahai rabbkuku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Wahai Rabb kami, perkenankanlah doaku. Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. [QS. Ibrahim/ 14: 40-41].

رَبِّ هَبْ لِى حُكْمًا وَ أَلْحِقْنِى بِالصَّالِحَينَ وَ اجْعَل لِّى لِسَانَ صِدْقٍ فِى اْلآخِرِينَ وَ اجْعَلْنِى مِن وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ وَ اغْفِرْ لِأَبِى إِنَّهُ مِنَ الضَّآلِّينَ وَ لَا تُخْزِنِى يَوْمَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَّ لَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

                (Nabi Ibrahim berdoa), “Wahai Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan  jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan. Dan ampunilah ayahku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan”. [QS. Asu-Syu’ara/ 26: 83-87].

Nabi Ibrahim alaihi as-Salam adalah termasuk orang yang wajib kita teladani, khususnya dalam masalah penegakkan tauhid dan keimanan. Kecuali dalam masalah permohonan kepada Allah ta’ala untuk mengampuni ayahnya [Lihat QS al-Mumtahanah/ 60: 4]. Namun tidak terlarang bagi kita untuk tetap berbuat baik kepada kedua orang tua kita selama mereka tidak mengajak kita kepada perbuatan syirik dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya. Sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut,

            وَ إِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. [QS Luqman/ 31 :15].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “(Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik) yakni pergauli keduanya di masa hidup keduanya dengan baik yaitu berbuat baik, menahan gangguan (kepada keduanya) dan mematuhi (keduanya) pada selain perbuatan maksiat kepada Allah”. [Aysar at-Tafasir: IV/ 204].

Katanya lagi, “Wajibnya berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua dan menyambung silaturrahmi kepada keduanya”. [Aysar at-Tafasir: IV/ 206].

Nabi Sulaiman Alaihi as-Salam

      حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَ جُنُودُهُ وَ هُمْ لَا يَشْعُرُونَ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَ قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلَى وَالِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَ أَدْخِلْنِى بِرَحْمَـتِكَ فِى عَبَادِكَ الصَّالِحَينَ

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa, “Wahai Rabbku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang  tuaku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridloi, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih”. [QS. An-Naml/ 27: 18-19].

Begitupun yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman alaihi as-Salam yang telah memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar selalu dapat bersyukur kepada-Nya atas karunia yang telah dilimpahkan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya. Jadi Beliau mengatas namakan kedua orang tuanya untuk bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla, sebagai bentuk berbaktinya beliau kepada keduanya.

Yahya bin Zakariya Alaihi as-Salam

يَا يَحْيَى خُذِ اْلكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَ ءَاتَيْنَاهُ اْلحُكْمَ صَبِيًّا وَّ حَنَانًا مِّن لَّدُنَّا وَ زَكَاةً وَّ كَانَ تَقِيًّا وَّ بَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

Wahai Yahya, ambillah Alkitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan hikmah kepadanya selagi ia masih anak-anak. Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari Kami dan suci dari (dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka. [QS Maryam/ 19 :14].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Wajibnya berbakti kepada kedua orang tua, menyayangi dan memiliki rasa belas kasih kepada keduanya serta rendah hati kepada keduanya”. [Aysar at-Tafasir: III/ 298].

Ayat di atas menerangkan tentang beberapa pujian Allah ta’ala terhadap Nabi Yahya alaihi as-Salam yang memiliki sifat-sifat terpuji. Di antara sifat terpuji beliau adalah orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Yakni beliau sangat mengasihi keduanya sehingga belaiu tidak pernah melakukan perbuatan atau mengucapkan suatu ucapan yang menyakiti keduanya. Beliau juga adalah orang menjaga sifat tawadlu (rendah hati) dihadapan kedua sehingga beliau tidak pernah menonjolkan dan membanggakan dirinya dengan kedudukan, kepandaian, banyaknya harta dan selainnya dihadapan keduanya.

Nabi Isa Alaihi as-Salam

قَالَ إِنِّى عَبْدُ اللهِ ءَاتَانِيَ اْلكِتَابَ وَ جَعَلَنِى نَبِيًّا وَّ جَعَلَنِى مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَ أَوْصَانِى بِالصَّلَاةِ وَ الزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا وَ بَرًّا بِوَالِدَتِى وَ لَمْ يَجْعَلْنِى جَبَّارًا شَقِيًّا وَالسَلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَ يَوْمَ أَمُوتُ وَ يَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ اْلحَقِّ الَّذِى فِيهِ يَمْتَرُونَ

Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku alkitab (Injil) dan Dia menjadikanku seorang nabi. Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan (hidup) kembali”. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. [QS. Maryam/ 19: 30-34].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “(Dan berbakti kepada ibuku) yaitu berbuat baik kepadanya lagi mematuhinya dan tidak menimpakan kepadanya gangguan sekecil apapun”. [Aysar at-Tafasir: III/ 304].

Katanya lagi, “Wajibnya berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua, mematuhi keduanya selama dalam perbuatan baik dan menahan gangguan dari keduanya”. [Aysar at-Tafasir: III/ 305].

Ayat diatas menggambarkan beberapa sifat dan perilaku terpuji Nabi Isa alaihi as-Salam. Di antaranya adalah beliau berbakti kepada Maryam, ibunya yang telah melahirkan dan merawatnya sejak kecil. Beliau berbakti kepada ibunya dengan cara mematuhinya terhadap apa yang diperintahkannya tanpa bantahan sedikitpun. Dan beliau juga tidak pernah menimpakan gangguan sekecil apapun kepada ibunya, baik dengan perilaku ataupun ucapan yang menyakitkan.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam

Adapun Rosulullah Shallahu alaihi wa sallam telah banyak menjelaskan kepada umatnya tentang kewajiban mereka untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua mereka dalam banyak hadits yang shahih. Begitu pula Beliau telah melarang mereka dari durhaka dan bersikap buruk kepada kedua mereka.

Sedangkan dalam kehidupannya, Beliau adalah seorang yatim yang ditinggalkan oleh ayahnya di waktu Beliau masih dalam kandungan ibunya dan bahkan pula ditinggalkan oleh ibunya ketika beliau masih kecil. Oleh sebab itu telah dikenal dalam sirah bahwa dimasa kecilnya, beliau diasuh oleh kakeknya Abdul Muththalib lalu oleh pamannya Abu Thalib. Sehingga dalam masa kenabiannya beliau tidak berinteraksi dengan kedua orang tuanya dalam bentuk berkata santun, bersikap lembut, menolong keduanya dan selainnya dalam rangka berbuat baik kepada keduanya. Oleh sebab itu Beliau pernah meminta idzin kepada Allah Azza wa Jalla dengan dua hal, yaitu; memohonkan ampun untuk ibunya atau menziarahi kuburnya. Sebab memohonkan ampun untuk ibu atau ayah kepada Allah ta’ala adalah satu dari perilaku berbakti dan berbuat baik kepadanya.

Namun Allah ta’ala menolak dan tidak mengidzinkannya sebab ibunda Beliau adalah seorang musyrikah yang dilarang bagi Beliau untuk memohonkan ampun untuknya. Dan Allah ta’ala hanyalah mengidzinkan Beliau untuk menziarahi kubur ibunya dan menganjurkan umatnya untuk berziarah kubur dalam rangka mengingat kematian dan kampung akhirat.

عن أبى هريرة قَالَ: زَارَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم قَبْرَ اُمِّهِ فَبَكَى وَ أَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ: اسْتَاْذَنْتُ رَبىِّ فىِ أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لىِ وَ اسْتَأْذَنْتُ فىِ أَنْ اَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لىِ فَزُوْرُوْا اْلقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ اْلأمَوْتَ

                Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengunjungi (menziarahi) kubur ibunya. Lalu Beliau menangis dan membuat orang-orang yang disekitarnya menangis. Beliau bersabda, “Aku minta idzin kepada Rabbku untuk memohonkan ampun untuknya namun aku tidak diidzinkan (darinya). Dan aku meminta idzin untuk menziarahi kuburnya dan diidzinkan untukku. Maka sebab itu ziarahilah kubur-kubur karena hal tersebut dapat mengingatkan kematian kepada kalian”. [HR Muslim: 976, Abu Dawud: 3234, an-Nasa’iy: I/ 286, Ibnu Majah: 1572, Ahmad: II/ 441, al-Baihaqiy, ath-Thahawiy dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 495, Shahih Sunan Abu dawud: 2771, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1923, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1277, Irwa’ al-Ghalil: 772 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 238].

Hadits ini adalah dalil tegas bahwa ibunda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mati dalam keadaan kafir dan kekal di neraka. [Syar-h Musnad Abi Hanifah halaman 334].

Demikianlah beberapa dalil yang menjelaskan tentang perilaku para Rosul alaihim as-Salam dalam berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan kisah-kisah mereka di dalam Alqur’an adalah merupakan ibroh atau pengajaran bagi manusia, khususnya umat Islam dalam berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua mereka.

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِى اْلأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُّفْتَرَى وَ لَكِن تَصْدِيقَ الَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَ تَفْصِيلَ كُــلِّ شَيْءٍ وَ هُدًى وَ رَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memiliki akal. Alqur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. [QS Yusuf/ 12: 111].

Semoga kisah para Rosul alaihim as-Salam menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita untuk selalu berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua kita dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan batas kemampuan kita masing-masing.

Wallahu a’lam bish showab.

AKHI, MARILAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (3)…

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (3)

بسم الله الرحمن الرحيم

SIKAP PARA SALAF TERHADAP ORANGTUA MEREKA

birrul walidain4Mari kita simak perilaku umat terdahulu dalam memuliakan kedua orang tuanya dalam bentuk berbakti dan berbuat baik kepada keduanya. Banyak kisah teladan yang kita dapat ambil dari mereka yang akan mendatangkan kebaikan untuk kita di dunia dan akhirat.

Dari Asir bin Jabir bahwasanya penduduk Kufah pernah mengirim utusan kepada Umar radliyallahu anhu. Diantara mereka ada seseorang yang dikenal dengan Uwais. Umar bertanya kepada mereka, “Adakah seseorang disini yang berasal dari al-Qoroniyyun?. Maka orang tersebut datang kepadanya. Lalu umar berkata kepadanya, sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رَجُلاً يَأْتِيْكُمْ مِنَ اْليَمَنِ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ لاَ يَدَعُ بِاْليَمَنِ غَيْرَ أُمٍّ لَهُ قَدْ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا اللهَ فَأَذْهَبَهُ عَنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ الدِّيْنَارِ أَوِ الدِّرْهَمِ فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

“Sesungguhnya ada seorang lelaki dari Yaman akan datang kepada kalian, yang biasa dikenal dengan nama Uwais. Ia tidak meninggalkan negeri Yaman melainkan disebabkan ibunya. Dahulu ia mempunyai penyakit kusta, lalu ia berdoa kepada Allah kemudian Allahpun melenyapkannya kecuali sebesar uang dinar atau dirham. Jika ada seseorang diantara kalian yang bertemu dengannya, maka mintakanlah ampunan kepada Allah untuk kalian. [HR Muslim: 2542 (223). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Di dalam lafazh yang lain, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ اْليَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرْنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ فَاسْتَغْفِرْ لِى فَاسْتَغْفَرَ لَهُ

“Akan datang kepada kalian, Uwais bin Amir bersama rombongan dari Yaman yang berasal dari Murad, kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali satu bagian sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu yang ia selalu berbakti kepadanya. Jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya. Maka jika engkau dapat meminta doanya untuk memohonkan ampunan bagimu maka lakukanlah. Oleh sebab itu, (wahai Uwais) mohonkanlah ampunan untukku. Maka Uwaispun memohonkan ampunan (kepada Allah) untuk Umar”. [HR Muslim: 2542 (225)].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat keutamaan Uwais bin Amir al-Qorniy bahwa ia termasuk sebaik-baik tabi’in. Yang menunjukkan hal tersebut adalah sifat tawadlunya, kesibukannya dalam masalah akhirat dan tidak tertipunya ia setelah mengetahui kedudukannya yang telah dikhabarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. [2]

Katanya lagi, “Terdapat keutamaan berbakti kepada kedua orang tua dan bahwa perbuatan tersebut termasuk dari seutama-utama qurabat (mendekatkan diri kepada Allah)”. [3]

Dari Abu Burdah bahwasanya ia pernah menyaksikan Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma. Dan ada seorang lelaki dari Yaman sedang melakukan thawaf di Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Ia berkata,

إِنِّى لَهَا بَعِيْرُهَا اْلمــُذَلَّلُ إِنْ أُذْعِرَتْ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرْ

“Sesungguhnya aku ini adalah untanya yang penurut. Jika unta itu suka terkejut sedangkan aku tidak akan terkejut”. Kemudian ia berkata, “Wahai Ibnu Umar, bagaimana pandanganmu (dengan perbuatan ini) apakah aku telah membalas kebaikan ibuku?”. Ibnu Umar menjawab, “Belum, sedikitpun (engkau belum membalas kebaikan ibumu)”. Kemudian Ibnu Umar melakukan thawaf dan sholat dua rakaat di maqom Ibrahim. Lalu berkata, “Wahai Ibnu Abu Musa, sesungguhnya tiap-tiap dua rakaat itu akan menghapus perbuatan dosa (yang engkau lakukan) di hadapan keduanya”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 11. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih sanadnya]. [4]

Maksudnya orang itu telah mengibaratkan dirinya bagi ibunya sebagai unta penurut yang menggendong dan menuruti kemauan ibunya apapun yang diinginkan dan kemanapun yang dikehendaki. Hanya saja kalau unta yang sebenarnya suka terkejut, melawan dan menolak ajakan, sedangkan ia tidak. Lalu ia bertanya kepada Ibnu Umar radliyallahu anhu, “Apakah dengan sikapnya kepada ibunya itu telah membalas perbuatan baik ibunya kepadanya selama ini?”. Namun Ibnu Umar menjawab, bahwa perbuatannya selama ini belum dapat membalas perbuatan baik ibunya kepadanya sedikitpun.

Ibnu al-Munkadir berkata, “Saudaraku Umar menghabiskan malamnya dengan sholat, namun aku menghabiskan malamku dengan mengurut kaki ibuku. Dan malamku dengan seperti ini lebih aku sukai daripada malam seperti saudaraku”. [5]

Ibnu al-Hasan at-Tamimiy ingin membunuh seekor kalajengking tetapi hewan itu masuk ke dalam sebuah lubang. Lalu ia memasukkan jarinya ke lubang tersebut untuk membunuhnya, akhirnya ia disengat oleh kalajengking tersebut. Ditanyakan kepadanya tentang hal itu, lalu ia menjawab, “Aku khawatir jika hewan itu keluar dan menyengat ibuku”. [6]

Abdullah bin Ja’far bin khaqun al-Marwadziy berkata, “Aku hendak keluar (setelah mengumpulkan hadits-hadits dari Bashrah), namun ibuku melarangku. Maka aku taat kepadanya sehingga aku diberkahi karenanya”. [7]

Ibnu al-Jauziy rahimahullah berkata, “Sampai kepada kami cerita tentang Umar bin Dzarr. Ketika anaknya wafat, ada yang bertanya kepadanya, “Bagaimana bakti anak itu padamu?”. Dia menjawab, “Kalau di siang hari, dia selalu jalan dibelakangku. Dan kalau malam hari dia selalu jalan di depanku. Dia tidak pernah tidur di tempat yang lebih tinggi dariku”.

Abu Hurairah radliyallahu jika keluar dari rumahnya, ia selalu berhenti di depan pintu rumah ibunya seraya berkata, “Assalamu alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh, wahai ibuku!”. Ibunya menjawab, “Wa alaikumussalam wa rohmatullahi wa barokatuh, wahai anakku!”. Abu Hurairah berkata, “Semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau telah mendidikku di waktu aku masih kecil”. Maka ibunya berkata, “Semoga Allah juga merahmatimu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepadaku di masa tuaku”. [Atsar riwayat al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 14. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan sanadnya]. [8]

Anas bin Nadl-r berkata, “Ibunya Ibnu Mas’ud pernah meminta air kepadanya di sebahagian malam, maka ketika ia datang membawa air, ia dapati ibunya telah tidur. Maka ia tetap memegang air di atas kepalanya sampai menjelang pagi”.

Al-Hasan bin Ali tidak mau makan bersama ibunya. Dan ia adalah orang yang paling baik kepada ibunya. Ketika ada yang menanyakan hal itu kepadanya, ia menjawab, “Aku khawatir kalau aku makan dengan ibuku, aku tidak tahu kalau aku nanti akan memakan makanan yang ia sukai”. [9]

Dari Urwah –atau selainnya- bahwasanya Abu Hurairah radliyallahu anhu pernah melihat ada dua orang pria. Lalu ia bertanya kepada salah seorang dari keduanya, “Apakah kedudukanmu dari orang ini?”. Ia menjawab, “Ia adalah ayahku”. Berkata Abu Hurairah, “Janganlah engkau memanggil dengan namanya, jangan berjalan di hadapannya dan janganlah engkau duduk sebelum ia duduk”. [Atsar riwayat al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 44. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih sanadnya]. [10]

Dengan beberapa atsar dan perilaku kaum salaf terdahulu, kita bisa tahu bagaimana mereka dahulu berbuat baik kepada orang-orang tua mereka. Mengikuti dan menteladani kearifan mereka dalam bersikap kepada orang tua amatlah sulit dan menjadi barang langka sekarang ini. Sebab mereka mengikuti petunjuk Allah ta’ala di dalam memahami ayat-ayat-Nya dan mengaplikasikan sabda-sabda Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan kita sekarang ini lebih berkiblat kepada hawa nafsu, logika dan teori-teori kaum kafirin. Jadi mereka menuju satu arah sedangkan kita menuju kearah lain yang berseberangan.

Jika demikian, sekarang ini tidak ada atau mungkin jarang terjadi didapati seorang manusia yang dapat membalas kebaikan dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Apalagi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menerangkan bahwa seorang anak itu tidak akan dapat membalas kebaikan orangtuanya sedikitpun kecuali jika ia mendapati ayah atau ibunya sebagai budak, kemudian ia menebus dan memerdekakannya.

عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوْكًا فَيَشْتَرِيْهِ فَيُعْتِقُهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seorang anak tidak akan dapat membalas kebaikan orangtuanya kecuali jika ia mendapatinya sebagai budak, kemudian memerdekakannya”. [HR Muslim: 1510, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 10, Abu Dawud: 5137, Ibnu Majah: 3659 dan at-Turmudziy: 1906. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Berdasarkan kepada dalil-dalil atsar di atas, sehebat apapun perbuatan baik dan berbaktinya seorang anak kepada kedua orang tuanya maka tidaklah dapat membalas kebaikan kedua orang tuanya sedikitpun.

1). Apakah ada seorang anak yang mampu melahirkan kedua orang tuanya??.

2). Adakah seorang anak yang mengasuh dan merawat kedua orang tuanya yang telah dimakan usia dengan kasih sayang, telaten dan tekun sebagaimana kedua orang tuanya telah merawatnya di waktu ia masih bayi?.

3). Adakah seorang anak yang merawat kedua orang tuanya dengan perasaan cinta, dari menyuapi makanan dan minuman, membersihkan kotoran yang keluar dari tubuh keduanya yang renta, begadang di malam hari karena menunggui mereka, menafkahi keduanya tanpa perhitungan sebagaimana keduanya telah menafkahinya hingga ia mandiri dan lain sebagainya?.

4). Adakah seorang anak yang rela menemani ayah atau ibunya ketika bepergian, menggendongnya ketika badannya lemah atau letih, memeluk atau menyelimutinya dengan kasih sayang dikala kedinginan, menenangkannya disaat sedang terkena mushibah sakit dan lain sebagainya?.

5). Adakah anak yang berbicara santun, lemah lembut dan penuh perhatian kepada kedua orang tuanya ketika berselisih dengan keduanya atau berbeda kehendak dengan keduanya?. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang perlu diajukan kepada para anak dalam sikapnya kepada kedua orang tuanya.

Mungkin ada, namun semuanya itu dapat dihitung dengan jemari tangan kita, dan tidak ada yang dapat berbuat baik dan berbakti kepada keduanya kecuali orang-orang yang telah mendapatkan rahmat dan berkah dari sisi Allah Azza wa Jalla.

Padahal berbakti dan berbuat baik kepada keduanya atau salah satu dari keduanya itu banyak terdapat keutamaan dan faidah, baik di dunia dan juga di akhirat kelak. Di antaranya sebagai sarana dan amalan untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari dosa-dosa besar, sarana bertawassul kepada-Nya dalam meminta bantuan dari-Nya, sarana untuk masuk ke dalam surga dan terhindar dari neraka dan lain sebagainya.

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, bahwasanya ada seseorang mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّى أَصَبْتُ ذَنْبًا عَظِيْمًا فَهَلْ لِى تَوْبَةٌ؟

“Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku telah berbuat dosa besar, maka adakah taubat bagiku?”. Beliau lalu bertanya, “Apakah engkau masih mempunyai ibu?”. Ia menjawab, “Tidak (maksudnya sudah wafat)”. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau mempunyai bibi (saudara perempuan ibu)?”. Ia menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Berbuat baiklah kepadanya”. [HR at-Turmudziy: 1904 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه قال:  سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتىَّ أَوَوُا اْلمـَبِيْتَ إِلىَ غَارٍ فَدَخَلُوْا فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ اْلجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ اْلغَارُ فَقَالُوْا: إِنَّهُ لاَ يُنْجِيْكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوْا اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اَللَّهُمَّ كَانَ لىِ أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَ كُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَ لاَ مَالاً فَنَأَى بىِ فىِ طَلَبِ شَيْءٍ قَوْمًا فَلَمْ أَرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا فَحَلِبْتُ لَهُمَا غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ  فَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً  فَلَبِثْتُ وَ اْلقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِقَاظَهُمَا حَتىَّ بَرَقَ اْلفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوْقَهُمَا اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيْعُوْنَ اْلخُرُوْجَ

Dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Telah bepergian tiga orang sebelum kalian sehingga mereka menempati tempat bermalam di sebuah goa lalu mereka memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar dari atas gunung runtuh dan menutupi goa yang mereka tempati. Mereka berkata, “Sesungguhnya tidak akan ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali kalian berdoa kepada Allah dengan (menyebutkan) amal-amal shalih kalian”. Berkata seseorang di antara mereka, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usianya dan aku tidak pernah memberi minum susu kepada keluarga  dan budak sahaya sebelum keduanya. Pada suatu hari diriku jauh dari kaum untuk mencari sesuatu, aku tidak kembali kepada keduanya sehingga keduanya tertidur. Lalu aku memerahkan susu untuk keduanya tetapi aku jumpai keduanya telah tertidur dan aku tidak suka memberi minum kepada keluarga dan hamba sahaya sebelum keduanya. Akupun diam menunggu sedangkan mangkuk ada pada tanganku mananti bangunnya keduanya dari tidur sampai matahari terbit. Lalu keduanya bangun dan meminum susunya. Ya Allah, jika aku melakukan hal ini dalam rangka mencari wajah-Mu, maka lapangkanlah dari kami apa yang kami ada di dalamnya dari batu ini, maka rengganglah batu itu sedikit hanya saja mereka tidak dapat keluar (darinya)”. [HR al-Bukhoriy: 2215, 2272, 2333, 3465, 5974, Muslim: 2743 dan Ahmad: II/ 116.Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bercerita, “Aku pernah bermimpi masuk ke dalam surga, tiba-tiba aku mendengar suara orang yang sedang membaca”. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?”. Mereka (Yakni para Malaikat) menjawab, “Haritsah bin an-Nu’man”. Lalu beliau bersabda,

كَذَلِكَ اْلبِرُّ كَذَلِكَ اْلبِرُّ وَ كَانَ أَبَرَّ النَّاسِ بِأُمِّهِ

 “Demikian itulah berbuat baik, demikian itulah berbuat baik. Ia (yaitu Haritsah) adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya”. [HR Ahmad: VI/ 151-152, 166-167, Abdurrazzaq dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ قَيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَاهُ عِنْدَهُ اْلكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ اْلجَنَّةَ

“Semoga terhina, semoga terhina, semoga terhina”. Dikatakan kepada Beliau, “Siapakah dia wahai Rosulullah?”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu orang yang menjumpai orang tuanya atau kedua-duanya dalam usia lanjut namun ia tidak masuk surga (karena keduanya). [HR Muslim: 2551 dan al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 21 dengan lafazh ‘lalu ia masuk neraka’. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah wajib dalam setiap keadaan di masa muda dan di masa tua mereka.

Keadaaan kedua orang tua itu membutuhkan kepada tambahan dari perbuatan baik karena sudah lemah dan rentanya tubuh mereka berdua.

Sudah semestinya bagi seorang muslim untuk menjaga orang-orang lemah dan orang-orang yang sepuh, mempergauli dan menyayangi mereka.

Durhaka kepada kedua orang tua dapat menetapkan (pelakunya masuk) ke dalam neraka dan ditolak dari rahmat Allah. Sedangkan berbakti kepada keduanya merupakan jalan yang terbentang menuju surga”. [16]

عن جابر بن عبد الله: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم رَقِىَ اْلمـِنْبَرَ فَلَمَّا فِى الدَّرَجَةِ اْلأُوْلَى قَالَ: آمِيْنٌ ثُمَّ رَقِىَ الثَّانِيَةَ فَقَالَ: آمِيْنٌ ثُمَّ رَقِىَ الثَّالِثَةُ فَقَالَ: آمِيْنٌ فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ سَمِعْنَاكَ تَقُوْلُ آمِيْنٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ: لَمَّا رَقِيْتُ الدَّرَجَةَ اْلأُوْلَى جَاءَنِى جَبْرِيْلُ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: شَقِي عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ آمِيْن ثُمَّ قَالَ: شَقِي عَبْدُ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ اْلجَنَّةَ فَقُلْتُ آمِيْن ثُمَّ قَالَ: شَقِي عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ: آمِيْن

            Dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar. Ketika sampai ke undakan pertama beliau mengatakan, “Aamiin” (Ya Allah, kabulkanlah). Lalu naik ke undakan kedua, beliau mengatakan, “Aamiin”. Kemudian naik lagi ke undakan ketiga, beliau juga mengatakan, “Aamiin”. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah, kami mendengarmu mengatakan ‘aamiin’ sebanyak tiga kali”. Maka Beliau bercerita, “Ketika aku naik ke undakan pertama, tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Celakalah seorang hamba yang berjumpa dengan bulan Ramadlan lalu bulan itu berlalu tetapi ia tidak diampuni”. Maka aku berkata, “Aamiin”. Lalu ia berkata lagi, “Celakalah seorang hamba yang masih bertemu dengan kedua orang tuanya atau salah satu keduanya, namun mereka berdua tidak dapat memasukkannya ke dalam surga”. (Karena hamba itu tidak berbakti kepada keduanya). Maka aku mengatakan, “Aamiin”. Kemudian ia berkata kembali, “Celakalah seorang hamba yang disebutkan namamu didekatnya tetapi ia tidak megucapkan sholawat kepadamu”. Maka aku berkata, “Aamiin”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 644. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih li ghairihi]. [17]

      عن أبى هريرة: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم رَقِيَ اْلمـِنْبَرَ فَقَالَ: آمِيْن آمِيْن آمِيْن قِيْلَ لَهُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا؟ فَقَالَ: قَالَ لِى جَبْرِيْلُ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ اْلجَنَّةَ قُلْتُ: آمِيْن ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ علَيْهِ رَمَضَانُ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ: آمِيْن ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ ذَكَرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ: آمِيْن

            Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar, lalu berkata, Aamiin, aamiin, aamiin”. Ditanyakan kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, apa yang telah terjadi padamu?”. Beliau menjawab, “Malaikat Jibril Alaihi as-Salam berkata kepadaku, “Sungguh celaka seorang hamba yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya namun tidak menjadi penyebab masuknya dirinya ke dalam surga. Maka aku mengucap, “Aamiin”. Ia berkata lagi, “Sungguh celaka seorang hamba yang memasuki bulan Ramadlan tetapi tidak menyebabkan diampuninya dosa-dosanya”. Maka aku berkata, “Aamiin”. Kemudian ia berkata kembali, “Celakalah seseorang yang namamu disebutkan di sisinya lalu ia tidak mengcapkan sholawat kepadamu”. Maka aku ucapkan, “Aamiin”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 646. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [18]

YANG PALING BERHAK DIPERLAKUKAN DENGAN BAIK

Jika telah dipahami agar seorang anak itu berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya maka dalam perlakuan kepada keduanya, manakah yang lebih diutamakan?. Apakah ayahnya yang selama ini membanting tulang untuk menafkahinya, ibu dan saudara-saudaranya?. Ataukah ibunya yang selama ini merawatnya dari melahirkan, menyusui dan membesarkannya?. Untuk itu, marilah kita lihat dalil-dalil hadits shahih yang menjelaskan hal tersebut.

عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسُ بِحُسْنِ صَحَابَتىِ؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, seorang lelaki pernah datang kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rosulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”. Beliau bersabda, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “kemudian siapa?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Ia bertanya kembali, “Lalu siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Kemudian ia bertanya lagi, “lalu siapa?”. Beliau bersabda, “Ayahmu”. [HR al-Bukhoriy: 5971, al-Adab al-Mufrad: 3, 5, Muslim: 2548, Ibnu Majah: 3658 dan at-Turmudziy: 1897. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[19]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat washiyat untuk berbuat baik kepada ibu lantaran kelemahan dan kebutuhannya. Memuliakan kerabat itu tidak harus di atas satu tingkatan. Membuat urutan dan meletakkan hak-hak pada tempatnya itu adalah hukum asal dan merupakan bentuk keadilan. Jika kewajiban seseorang memberi nafkah kepada ayah dan ibunya lalu ia tidak mendapatkan sesuatu kecuali hanya untuk satu orang saja maka hendaklah ia mendahulukan ibu (dalam pemberian itu)”. [20]

Dari Mu’awiyah bin Haydah radliyallahu anhu berkata, Aku pernah bertanya, “Wahai Rosulullah, kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab,

أُمَّكَ ثُمَّ أُمَّكَ ثُمَّ أُمَّكَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ اْلأَقْرَبَ ثُمَّ اْلأَقْرَبَ

“Ibumu, lalu ibumu, kemudian ibumu, setelah itu ayahmu kemudiankepada kerabat terdekat lalu yang terdekat”. [HR Abu Dawud: 5139 dan at-Turmudziy: 1897. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Dari al-Miqdam bin Ma’diykarib bahwasanya Rosulullah Sahallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يُوْصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ (ثلاثا) إِنَّ اللهَ يُوْصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ إِنَّ اللهَ يُوْصِيكُمْ بِاْلأَقْرَبِ فَاْلأَقْرَبِ

“Sesungguhnya Allah mewasiatkan (untuk berbuat baik kepada) ibu kalian (Beliau mengucapkannya 3 kali). Sesungguhnya Allah mewasiatkan kalian (berbuat baik kepada) ayah kalian. Sesungguhnya Allah mewasiatkan kalian (berbuat baik kepada) kerabat terdekat lalu kerabat terdekat”. [HR Ibnu Majah: 3661. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Hadit-hadits di atas menjelaskan bahwa orang yang paling berhak untuk dipergauli dengan baik oleh seorang muslim adalah ibunya terlebih dahulu, dan itu diucapkan sebanyak tiga kali, kemudian baru ayahnya. Sebab sang ibu telah mengalami masa kesulitan dan kepayahan dalam merawat dirinya ketika masih bayi yang tidak pernah dialami oleh selainnya. Sebagaimana di dalam ayat ((Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah kelemahannya. QS Luqman/ 31: 14)) dan ((Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya juga dalam keadaan susah payah. QS al-Ahqaf/ 46: 15)). Di waktu malam ibunya menggendong, meninabobokan dan menenangkannya sampai ia tertidur. Dan jika si anak merasakan sakit maka ibunya tidak dapat memejamkan matanya di malam itu sampai anaknya bisa tidur.

Kemudian sang ibu dengan penuh kerelaan mengorbankan dirinya untuk menghangatkan tubuh anaknya ketika cuaca dingin dan menyejukkannya ketika cuaca panas. Ibu itu lebih besar perhatian daripada sang ayah dalam merawat anak mereka. Oleh sebab itu, hak ibu berlipat tiga kali daripada hak ayah. [23]

Seorang ibu rela melahirkan anaknya yang didambakan olehnya selama ini walaupun terkadang harus dengan taruhan nyawanya. Iapun lebih memilih menyusui anaknya meskipun dalam keadaan perutnya perih lantaran lapar, menyerahkan makanan yang dimilikinya sambil menahan rasa lapar demi untuk mengenyangkan perut anaknya, menenangkan anaknya dengan dengan menggendong dan menghiburnya kendatipun ia dalam keadaan tidak sehat dan sebagainya.

Maka pantaslah, jika seorang anak itu memperlakukan dan mempergauli ibunya dengan sangat baik, lebih daripada perlakuannya kepada ayahnya apalagi istri dan anak-anaknya. Terlebih seorang mukmin, ia wajib melaksanakan hal tersebut dalam rangka mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

KAMU DAN HARTAMU ADALAH MILIK AYAHMU !!

Jika didapatkan kedua orang tua sudah tidak mampu mencari nafkah karena rentanya mereka sedangkan anak memiliki kelapangan dalam rizki, maka wajiblah bagi anak untuk menanggung nafkah mereka. Sebab pemberian nafkah kepada kedua orang tua yang mengalami kesulitan ekonomi termasuk dari berbakti dan berbuat baik kepada keduanya.

            يَسْأَلونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَا أَنفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, “Apa saja harta yang kamu nafkahkan berupa kebaikan hendaklah diberikan kepada kedua orangtuamu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. [QS al-Baqarah/2 :215].

Berkata asy-Syaikh As-Sa’diy, “((Apa saja harta yang kamu nafkahkan berupa kebaikan)) yaitu harta yang sedikit maupun banyak maka orang yang paling utama dan yang paling berhak untuk didahulukan yaitu orang yang paling besar haknya atas engkau, mereka itu adalah kedua orangtua yang wajib bagi engkau untuk berbakti kepada mereka dan haram atas engkau mendurhakai mereka. Dan diantara bentuk berbakti kepada mereka yang paling agung adalah engkau memberi nafkah kepada mereka, dan termasuk bentuk durhaka yang paling besar adalah engkau tidak memberi nafkah kepada mereka, oleh karena itu memberi nafkah kepada kedua orangtua hukumnya adalah wajib atas seorang anak yang lapang (tidak miskin)”. [24]

Ijma’ ulama bahwa wajib atas anak yang lapang (hartanya) untuk menanggung kehidupan kedua orangtua yang sulit kehidupannya (miskin). [25]

Berkata asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah, “…Wajib bagi sang anak untuk berbuat baik kepada orangtua dengan mengorbankan hartanya yaitu dengan memberi mereka nafkah untuk seluruh yang mereka butuhkan, seperti pakaian, makanan, minuman, tempat tinggal jika ia mampu untuk melakukannya”. [26]

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang tidak mampu untuk bekerja dan ia memiliki seorang istri dan anak-anak maka apakah boleh bagi anaknya yang lapang (hartanya) untuk menafkahinya, istrinya, dan saudara-saudara yang masih kecil?, maka beliau menjawab, “Segala puji bagi Allah, benar wajib bagi seorang anak yang lapang hartanya untuk menafkahi ayahnya, istri ayahnya, saudara-saudaranya yang masih kecil, dan jika ia tidak menafkahi mereka maka ia adalah anak yang durhaka kepada ayahnya, anak yang telah memutuskan silaturahmi, anak yang berhak mendapatkan adzab Allah di dunia dan di akhirat, Wallahu A’lam”. [27]

Namun jika sang anak kurang perhatian terhadap orang tuanya, padahal keduanya masih memiliki banyak kebutuhan. Lalu ia membiarkan keduanya dalam keadaan lapar, tinggal di dalam rumah yang sudah lapuk, kotor dan bocor, mengenakan pakaian yang sudah lusuh dan tidak layak pakai dan lain sebagainya. Akhirnya sang ayah mengambil sebahagian harta anaknya untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya yang masih ada di rumahnya. Maka sikap dan perilaku ayahnya yang seperti tidaklah keliru apalagi berdosa karena Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam membenarkannya di dalam dalil-dalil hadits berikut,

عن عائشة رضي الله عنها أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلْتُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ وَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik apa yang kalian makan itu adalah dari hasil usaha kalian dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah dari hasil usaha kalian”. [HR Ibnu Majah: 2137, 2290, Abu Dawud: 3528, at-Turmudziy: 1358, Ahmad: VI/ 31, 41, 127, 162, 193, 201, 202-203, ad-Darimiy: II/ 247, ath-Thoyalisiy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [28]

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: إِنَّ لىِ مَالاً وَ وَلَدًا وَ إِنَّ وَالِدِى يُرِيْدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالىِ قَالَ: أَنْتَ وَ مَالُكَ لِوَالِدِكَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ فَكُلُوْا مِنْ كَسْبِ أَوْلاَدِكُمْ

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu, bahwasanya ada seorang arab badui datang kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya aku memiliki harta dan anak sedangkan ayahku hendak mengambil hartaku”. Beliau bersabda, “Engkau dan hartamu itu adalah milik ayahmu. Sesungguhnya anak-anak kalian itu adalah sebaik-baik hasil usaha kalian maka makanlah sebahagian dari hasil usaha anak-anak kalian”. [HR Abu Dawud: 3530, Ibnu Majah: 2292, Ahmad: II/214 dan Ibnu al-Jarud. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [29]

Berkata Ibnu Ruslan, “Huruf Lam (dalam hadits أنت ومالك لأبيك) adalah menunjukan akan kebolehan (للإباحة) bukan untuk pemilikan (للتمليك) karena harta sang anak adalah milik sang anak dan kewajiban membayar zakat merupakan kewajiban sang anak (bukan kewajiban sang ayah) dan harta sang anak tersebut nantinya akan diwarisi oleh ahli waris sang anak”. [30]

Oleh karena itu sang anak tidaklah menjadi budak bagi ayahnya. Demikian juga sang ayah mewarisi seperenam dari harta anaknya tatkala sang anak meninggal jika sang anak memiliki putra. Jika memang huruf lam dalam hadits ini artinya untuk pemilikan (tamlik) maka tentunya sang ayah akan mewarisi seluruh harta anaknya”. [31]

Hadits ini menunjukan bahwa seseorang tidak boleh mengambil harta orang lain kecuali ayah mengambil harta anaknya karena hadits ini hanya menyebutkan ayah, dan tidak bisa ayah diqiyaskan dengan karib kerabat yang lain. Hak waris seorang ayah dari anaknya tidak bisa jatuh, ayah memiliki hak wali atas anaknya jika sang anak masih belum dewasa, dan kasih sayangnya sempurna kepada anaknya. Sifat-sifat ini tidak terkumpul pada kerabat keluarga yang lain. Ibu tidak bisa diqiyaskan dengan ayah dalam hal bolehnya mengambil harta sang anak karena ia tidak memiliki hak wali atas anaknya (bahkan sang anak bisa menjadi wali atas sang ibu), demikian juga kakek bisa terhalangi dalam warisan dan demikian juga terhalangi dalam kewalian tatkala pernikahan, kasih sayang kurang pada cucunya dibandingkan kasih sayang ayah kepada anaknya. Jika ibu dan kakek tidak bisa diqiyaskan dengan ayah maka kerabat keluarga yang lain lebih utama untuk tidak bisa diqiyaskan. [32]

JIKA KEDUA ORANG TUA TELAH TIADA

Di antara berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah seorang muslim harus tetap menyambung silaturrahmi dengan shahabat dan kerabat kedua orang tuanya. Jika mereka sudah tidak ada maka dianjurkan untuk menyambung silaturrahmi kepada keluarganya. Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang shahabat yaitu Ibnu Umar radliyallahu anhuma kepada seorang pria arab badui dengan menyerahkan keledai dan sorbannya kepada pria tersebut. Sebab pria itu adalah anak seseorang yang menjadi teman ayahnya yaitu Umar bin al-Khaththab radlyallahu anhu. Perbuatan tersebut merupakan bentuk aplikasi dalam memahami sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menyuruh berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya setelah wafatnya.

Di antaranya menyambung silaturrahmi dan berbuat baik kepada teman-teman ayah atau ibunya, baik teman sepermainan, teman sekolah, teman kerja dan selainnya selama tidak merusak agama dan keyakinannya. Apalagi kepada orang-orang dekat mereka, semisal istri-istri ayahnya jika ayah memiliki istri lebih dari satu selain dari ibunya, termasuk juga kepada anak-anak tiri ayahnya dan sebagainya. Begitu pula hendaknya menyambung silaturrahmi dan berbuat baik kepada suami dari ibunya ketika ayahnya sudah wafat atau kedua orang tuanya bercerai sebab sesuatu hal.

عن أبى بردة قَالَ: قَدِمْتُ اْلمـَدِيْنَةَ فَأَتَانىِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَقَالَ: أَتَدْرِى لِمَ أَتَيْتُكَ؟ قَالَ: قُلْتُ: لاَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصِلَ أَبَاهُ فىِ قَبْرِهِ فَلْيَصِلْ إِخْوَانَ أَبِيْهِ بَعْدَهُ وَإِنَّهُ كَانَ بَيْنَ أَبىِ عُمَرَ وَ بَيْنَ أَبِيْكَ إِخَاءٌ وَ وُدٌّ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أصِلَ ذَاكَ

          Dari Abu Burdah berkata, “Aku mendatangi kota Madinah, lalu Ibnu Umar mendatangiku dan berkata, “Apakah engkau tahu, karena apakah aku mendatangimu?”. Ia berkata, aku berkata, “Tidak”. Ibnu Umar berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin menyambung hubungannya dengan ayahnya yang berada di kuburnya (yaitu telah meninggal dunia), maka sambunglah hubungan dengan saudara-saudara ayahnya sepeninggalnya”. Sesungguhnya antara ayahku Umar dan ayahmu ada hubungan persaudaraan dan persahabatan, maka aku ingin menyambung hubungan tersebut”. [Lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5960 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1432].

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أَنَّهُ كَانَ إِذَا خَرَجَ إِلىَ مَكَّةَ كَانَ لَهُ حِمَارٌ يَتَرَوَّحُ عَلَيْهِ  إِذَا مَلَّ رُكُوْبَ الرَّاحِلَةِ وَ عَمَامَةٌ يَشُدُّ بِهَا رَأْسَهُ فَبَيْنَمَا هُوَ يَوْمًا عَلَى ذَلِكَ اْلحِمَارِ إِذْ مَرَّ بِهَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ أَلَسْتَ ابْنَ فُلاَنٍ ابْنِ فُلاَنٍ؟ قَالَ: بَلَى فَأَعْطَاهُ اْلحِمَارَ وَ قَالَ: ارْكَبْ هَذَا وَ اْلعَمَامَةَ قَالَ: اشْدُدْ بِهَا رَأْسَكَ فَقَالَ لَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ: غَفَرَ اللهُ لَكَ أَعْطَيْتَ هَذَا اْلأَعْرَابِيَّ حِمَارًا كُنْتَ تَرَوَّحُ عَلَيْهِ وَ عَمَامَةً كُنْتَ تَشُدُّ بِهَا رَأْسَكَ؟ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ مِنْ أَبَرِّ اْلبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ وَ إِنَّ أَبَاهُ كَانَ صَدِيْقًا لِعُمَرَ رضي الله عنه

                Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya bila ia keluar ke kota Mekkah, ia menunggangi keledainya  jika ia bosan menaiki untanya. Dan ia mengenakan sorban yang mengikat kepalanya. Suatu hari ketika ia berada di atas keledainya , tiba-tiba lewatlah seorang arab badui. Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Bukankah engkau Ibnu Fulan bin Fulan?”. Ia menjawab, “benar”. Lalu iapun menyerahkan keledainya kepadanya dan berkata, “Tunggangilah keledai ini”. Dan ia juga menyerahkan sorbannya dan berkata, “Ikatlah kepalamu dengannya!”. Kemudian sebahagian kawan-kawannya bertanya kepada Ibnu Umar,” Semoga Allah mengampunimu, engkau berikan kepada orang Arab badui itu keledaimu yang biasa engkau tunggangi dan juga sorbanmu yang biasa engkau ikat kepalamu dengannya?”. Lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik perbuatan baik adalah seseorang menyambung  hubungan dengan orang yang dicintai ayahnya setelah ayahnya meninggal dunia”. Sesungguhnya ayahnya orang Arab badui itu adalah kawannya Umar radliyallahu anhu. [HR Muslim, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 41 dan at-Turmudziy: 1903. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [33]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Termasuk dari berbakti kepada kedua orang tua adalah menyambung silaturrahmi kepada para teman dan shahabat mereka setelah wafatnya mereka, meskipun tinggal sedikit. Jika tidak ada, maka cukuplah dengan mengunjungi mereka atau mengucapkan kalimat yang baik”. [34]

Katanya lagi, “Di antara kesempurnaan berbakti dan menyambung (silaturrahmi kepada kedua orang tuanya) adalah berinfak kepada para teman kedua orang tuanya yang mencintai keduanya, khususnya dengan hartanya dan sesuatu yang membuat ridlo bagi dirinya”. [35]

Demikian beberapa hal yang diperintahkan bagi seorang anak agar berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Jika seseorang ingin dan berharap memiliki anak-anak shalih yang berbakti kepadanya dan istrinya selaku kedua orangtuanya maka hendaklah ia mendidik anak-anaknya secara kontinyu dengan pengajaran agama yang shahih dari alqur’an dan hadits-hadits shahih sesuai pemahaman para salafush shalih. Dan juga menafkahi mereka dengan rizki yang halal yang diperoleh dengan cara-cara yang halal pula dan disertai meminta dan memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar anak-anaknya dijadikan anak-anak shalih lagi menyejukkan matanya dan bermanfaat baginya di dunia dan akhirat.

Begitupun sang anak, jika ia ingin menjadi anak yang shalih maka hendaklah ia berusaha semampu dan sekuat tenaganya untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya yang telah membesarkan dirinya, merawat dan mendidiknya dari sejak lahir dan berada dalam buaian mereka sampai ia telah menjadi manusia yang mandiri dan memiliki keluarga sendiri.

Wallahu a’alam bish showab. In syaa Allah masih bersambung.


[1] Mukhtashor Shahih Muslim: 1747, 1748, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2083 dan Misykah al-Mashobih: 6257.

[2] Bahjah an-Nazhirin: I/ 439.

[3] Bahjah an-Nazhirin: I/ 439.

[4] Shahih al-Adab al-Mufrad: 9.

[5] Siyar al-A’lam an-Nubala: V/ 405.

[6] Siyar al-A’lam an-Nubala: V/ 541.

[7]  Siyar al-A’la an-Nubala: XII/ 145.

[8] Shahih al-Adab al-Mufrad: 11.

[9] Disalin dari kitab Birr al-Walidain Ibnul Jauzi halaman 53-55 dan Wa bi al-Walidaini Ihsana halaman 40-43.

[10] Shahih al-Adab al-Mufrad: 32.

[11] Shahih al-Adab al-Mufrad: 8, Shahih Sunan Abu Dawud: 4283, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2952, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1556, Irwa’ al-Ghalil: 1747 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7498.

[12] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1554.

[13] Mukhtashor Shahih al-Bukhoriy: II/ 86-88 hadits nomor: 1065, Fat-h al-Bariy: IV/ 408-409, 449-450, V/ 16, VI/ 505-506, X/ 404, Mukhtasor Shahih Muslim: 1875, al-Jami’ ash-Shahih: VIII/ 89-90, at-Tawassul anwa’uhu wa ahkamuhu halaman 36-38, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1504, 2870 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 13.

[14] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 913 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3371.

[15] Shahih al-Adab al-Mufrad: 16.

[16] Bahjah an-Nazhirin: I/ 394.

[17] Shahih al-Adab al-Mufrad: 500.

[18] Shahih al-Adab al-Mufrad: 502.

[19] Shahih al-Adab al-Mufrad: 3, 5, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2951, Ghoyah al-Maram: 276 dan Irwa’ al-Ghalil: 829, 2232.

[20] Bahjah an-Nazhirin: I/ 394.

[21] Shahih Sunan Abu Dawud: 4285, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1546 dan Misykah al-Mashobih: 4929..

[22] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2953 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1666.

[23] Lihat juga Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 240.

[24] Tafsir As-Sa’diy: I/ 96.

[25] Sebagaimana dihikayatkan oleh penulis Al-Bahr. [Tuhfah al-Ahwadziy: IV/ 494].

[26] Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin jilid 7, Al-Washoya Al-‘Asyr, wasiat yang kedua.

[27] Majmu’ Fatawa: XXX!V/ 101 dan IV/ 189.

[28] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1738, 1854, Shahih Sunan Abu Dawud: 3013, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1095, Irwa’ al-Ghalil: 1626, shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1562 dan Misykah al-Mashobih: 2770.

[29] Shahih Sunan Abu Dawud: 3015, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1856, Irwa’ al-Ghalil: 838, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1487 dan Misykah al-Mashobih: 3354.

[30] Tuhfah al-Ahwadziy: IV/ 493 oleh al-Imam Abu al-Ula Muhammad Abdurrahman al-Mubarakfuriy, Dar al-Fikr tahun 1415 H/ 1995 M.

[31] Tuhfah al-Ahwadziy: IV/ 494.

[32] Al-Mugniy: V/397.

[33] Shahih al-Adab al-Mufrad: 31, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1552.

[34] Bahjah an-Nazhirin: I/ 413.

[35] Bahjah an-Nazhirin: I/ 413.

AKHI, MARILAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (2)…

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (2)

بسم الله الرحمن الرحيم

b). Berdasarkan hadits-hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam

Di dalam bab terdahulu telbirrul walidain1ah dibawakan beberapa ayat beserta penjelasannya mengenai kewajiban seorang anak untuk selalu berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya, baik kepada ibunya ataupun kepada ayahnya. [1]

Selanjutnya akan disertakan di dalam pembahasan ini beberapa hadits yang menerangkan tentang perintah untuk berbakti dan berbuat baik kepada keduanya.

Berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua atau salah satunya adalah perkara wajib yang banyak diabaikan oleh manusia. Dengan berbagai dalih dan alasan, banyak manusia yang belum bahkan tidak berusaha untuk melakukan kewajiban mereka dengan sebaik-baiknya dalam menunaikan hak kedua orang tua.

Padahal  berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua itu termasuk dari akhlak mulia yang mesti dimiliki oleh setiap muslim dan juga merupakan salah satu dari tanda keimanan seseorang.

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Diantara akhlak yang mulia adalah berbakti kepada kedua orang tua, yang demikian itu lantaran keagungan hak keduanya. Allah tidak pernah menjadikan hak untuk seseorang setelah hak-Nya dan hak Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam kecuali bagi kedua orang tua. Allah ta’ala berfirman ((Dan beribadahlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Berbuat baiklah kepada dua orang tua dan seterusnya ayat. QS an-Nisa’/ 4: 36)). [2]

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA ADALAH FARDLU AIN

Begitu pula Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjadikan salah satu amalan yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla, sebagaimana telah dituangkan di dalam hadits shahih berikut ini,

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَيُّ اْلعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ قَالَ: الصًّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّ اْلوَالِدَيْنِ قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: اْلجِهَادُ فىِ سَبِيْلِ اللهِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling Allah sukai?”. Beliau menjawab, “Sholat tepat pada waktunya”. Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?”. Beliau menjawab, “Birrul walidain (berbakti kepada kedua orangtua)”. Aku kembali bertanya, “Lalu apalagi?”. Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah”. [HR al-Bukhoriy: 527, 2782, 5970, 7534, Muslim: 85 dan at-Turmudziy: 173, an-Nasa’iy: I/ 292-293 dan Ahmad: I/ 409-410, 439, 451, V/ 368. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Berbakti kepada kedua orang tua itu hukumnya fardlu ain sesuai dengan ijmak (kesepakatan) setiap manusia. Oleh sebab itu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah mendahulukan hal tersebut daripada berjihad di jalan Allah, sebagaimana hadits dari Ibnu Mas’ud (di atas)”. [4]

Di dalam kitabnya yang lain asy-Syaikh rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menjadikan tingkatan berbakti kepada kedua orang tua itu lebih didahulukan daripada tingkatan berjihad di jalan Allah. Berkata (Yaitu Ibnu Mas’ud), ‘Seandainya ku memintah tambah kepada Beliau niscaya Beliau akan menambahnya”. [5]

Katanya lagi, “Di dalam hadits ini, terdapat dalil akan keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Jika ada yang bertanya, ‘Apakah yang dimaksud dengan berbakti (al-Birr) itu?’. Maka kami akan jawab, ‘Yaitu berbuat baik kepada keduanya dengan ucapan dan perbuatan dan juga harta dengan seukuran kesanggupannya. Bertakwalah engkau kepada Allah dengan sebatas kesanggupanmu. Lawan dari hal tersebut adalah perbuatan durhaka”. [6]

Katanya lagi, “Berbakti (kepada kedua orang tua) adalah menyambung kebaikan dengan harta, pelayanan dan dengan memasukkan kebahagian pada keduanya, semisal wajah yang ceria, baik dalam berucap dan berbuat serta semua hal yang dapat menyenangkan keduanya”. [7]

Dalil diatas beserta penjelasan dapat dipahami bahwa berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah perkara penting dalam agama yang tidak boleh disepelekan oleh setiap muslim. Sebab Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah meletakkan kewajiban berbakti itu setelah menunaikan sholat pada waktunya dan sebelum berjihad di jalan Allah. Dan semua amalan tersebut termasuk dari amalan yang paling utama dan yang paling disukai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Jihad di jalan Allah adalah fardlu kifayah maka berbakti dan berbuat baik kepada orang tua harus didahulukan darinya, sebab berbakti kepada keduanya itu merupakan fardlu ain. Jika demikian bagaimana mungkin amalan-amalan sunnah dapat mengalahkan amalan fardlu ain. Misalnya perintah ibu untuk mengerjakan suatu pekerjaan harus didahulukan daripada melakukan sholat dluha. Pergi ke rumah paman di suatu tempat yang jauh lantaran perintah ayah harus dikedepankan daripada mengerjakan shaum senin atau kamis, dan lain sebagainya. [8]

JIHADNYA SEORANG ANAK HARUS DENGAN SEIDZIN KEDUA ORANG TUANYA

Dan bahkan jika ada seorang pemuda yang sangat ingin berjihad di jalan Allah untuk memerangi kaum kafirin, yang dengannya bisa jadi ia akan terbunuh namun ia masih memiliki kedua orang tua atau salah satunya. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam niscaya akan menolaknya dan akan menyuruh pemuda itu untuk kembali menemui keduanya lalu berjihad pada keduanya yaitu berbakti dan berbuat baik kepada keduanya dengan penuh kesungguhan. Padahal jihad di jalan Allah itu mempunyai kedudukan yang sangat besar dalam Islam dan memiliki banyak sekali keutamaan dan faidahnya.

Kecuali jika keduanya telah memperkenankan dan mengidzinkan pemuda itu untuk berjihad di jalan Allah dalam rangka membela dan meninggikan agama Allah. Atau musuh sudah berada di tengah-tengah kaum muslimin dan siap menghancurkan mereka, maka hal tersebut tidak dibutuhkan lagi idzin keduanya. Hal ini telah diungkapkan di dalam beberapa hadits shahih berikut ini,

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه ق ال: جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ نَبِيِّ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَاسْتَأْذَنَهُ فىِ اْلجِهَادِ فَقَالَ: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: فَفِيْهِمَا فَجَاهِدْ

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, pernah datang seseorang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kemudian meminta idzin kepada Beliau untuk pergi berjihad. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”. Orang itu menjawab, “Ya”. Maka Beliau bersabda, “Maka kepada keduanyalah, engkau berjihad”. [HR al-Bukhoriy: 5972, al-Adab al-Mufrad: 20, Muslim: 2549 (5), Abu Dawud: 2529, an-Nasa’iy: VI/ 10, Ahmad: II/ 165, 188, 193, 197, 221, al-Baihaqiy dan ath-Thayalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[9]

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, bahwasanya ada seseorang berhijrah kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari Yaman. Lalu Beliau bertanya, “Apakah kamu mempunyai seseorang (yang kamu tinggalkan) di Yaman?”. Ia menjawab, “Kedua orang tuaku”. Beliau bertanya lagi, “Apakah keduanya telah mengidzinkanmu (untuk berjihad)?”. Ia menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda,

ارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَاسْتَأْذِنْهُمَا فَإِنْ أَذِنَا لَكَ فَجَاهِدْ وَ إِلَّا فَبِرَّهُمَا

“Kembalilah kamu kepada keduanya, lalu mintalah idzin kepada keduanya. Jika keduanya mengidzinkanmu maka berjihadlah. Namun jika tidak, maka berbuat baiklah kamu kepada keduanya”. [HR Abu Dawud: 2530, al-Hakim, Ahmad: III/ 75-76 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قَالَ: أَقْبَلَ رَجُلٌ إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: أُبَايِعُكَ عَلىَ اْلهِجْرَةِ وَ اْلجِهَادِ أَبْتَغِى اْلأَجْرَ مِنَ اللهِ عز و جل قَالَ: فَهَلْ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ حَيٌّ؟ قَالَ: نَعَمْ بَلْ كِلاَهُمَا قَالَ: فَتَبْتَغىِ اْلأَجْرَ مِنَ اللهِ عز و جل؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, seorang lelaki pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku datang untuk berbaiat kepadamu untuk hijrah dan jihad dalam rangka mencari pahala dari sisi Allah Azza wa Jalla”. Beliau bertanya, “Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu itu ada yang masih hidup”. Ia menjawab, “Ya, bahkan kedua-duanya (masih hidup)”. Beliau bertanya, “Apakah benar engkau ingin mencari pahala dari sisi Allah Azza wa Jalla?”. Ia menjawab, “Ya”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah engkau kepada keduanya, lalu berbuat baiklah kepada keduanya!”. [HR Muslim: 2549 (6)].

عن عبد الله بن عمرو بن العاص قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: جِئْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى اْلهِجْرَةِ وَ تَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, pernah datang seorang lelaki kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Aku datang untuk berbaiat kepadamu untuk berhijrah. Dan aku tinggalkan kedua orangtuaku itu dalam keadaan menangis”. Maka Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah engkau kepada kedua orangtuamu, lalu buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis”. [HR Abu Dawud: 2528, Ibnu Majah: 2782, an-Nasa’iy: VII/ 143, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 13, al-Baihaqiy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

SURGA ITU BERADA DI BAWAH KEDUA TELAPAK KAKI IBU

Maka berbakti dan membaguskan pergaulan kepada keduanya itu kedudukannya lebih utama daripada berjihad di jalan Allah. Bagi setiap muslim yang dapat melakukannya dengan benar dan dalam keadaan ikhlas maka ia akan mendapatkan pahala yang besar. Karena surga itu berada di telapak kaki ibu, yakni hendaknya seorang muslim itu berusaha mencari keridloan ibunya dalam melakukan sesuatu. Jika ibunya ridlo kepadanya maka jalan menuju surga telah terbentang untuknya, namun jika ia tidak meridloinya maka terhalanglah jalan itu baginya. Apalagi keridloan Allah Jalla Dzikruhu itu tergantung dari keridloan kedua orang tuanya. Jika kedua orang tua ridlo kepada anaknya maka Allah ta’alapun akan meridloinya selama keridloan keduanya itu tidak dalam perkara maksiat.

Dari Thalhah bin Mu’awiyah as-Salamiy berkata, bahwa Jahimah pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rosulullah, aku ingin berperang dan aku datang untuk meminta petunjuk kepadamu”. Beliau bersabda, “Apakah engkau mempunyai ibu?”. Ia menjawab, “Ya”. Beliau bersabda,

فَالْزَمْهَا فَإِنَّ اْلجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

“Tetapilah ia (Jangan engkau meninggalkannya), karena surga itu ada dibawah kedua kakinya”. [HR an-Nasa’iy: VI/ 11, al-Hakim, Ahmad: III/ 429 dan Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Berkata al-Imam as-Sindiy rahimahullah, “Surga berada di bawah kedua telapak kakinya, maksudnya adalah sesungguhnya bagianmu dari surga tidak akan engkau dapat kecuali dengan keridloannya. Seolah-olah surga itu berada di bawah telapak kakinya. Hal ini merupakan kaidah, yaitu kamu tidak akan masuk ke dalam surga kecuali dari arah tersebut (yaitu berbuat baik dan berbakti kepada ibu)”. [13]

Dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Salamiy berkata, Aku pernah mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari keridloan Allah dan negeri akhirat”. Beliau bersabda, “Celakalah engkau, apakah ibumu masih hidup?”. Aku menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Maka berbuat baiklah kepadanya!”. Lalu aku mendatang Beliau dari arah yang lain. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari keridloan Allah dan negeri akhirat”. Beliau bersabda, “Celakalah engkau, apakah ibumu masih hidup?”. Aku menjawab, “Ya, wahai Rosulullah”. Beliau bersabda, “Maka berbuat baiklah kepadanya!”. Lalu aku mendatangi beliau dari arah depan. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari keridloan Allah dan negeri akhirat”. Beliau bersabda, “Celakalah engkau, apakah ibumu masih hidup?”. Aku menjawab, “Ya, wahai Rosulullah”. Beliau bersabda,

وَيْحَكَ الْزَمْ رِجْلَهَا فَثَمَّ اْلجَنَّةُ

“Celakalah engkau, tetapilah kakinya (yaitu janganlah engkau meninggalkannya), karena disanalah surga itu”. [HR Ibnu Majah: 2781. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قال: رِضَا الرَّبِّ فىِ رِضَا اْلوَالِدَيْنِ وَ سُخْطُهُ فىِ سُخْطِهِمَا

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ridlo Allah tergantung pada ridlo kedua orang tua. Dan murka-Nya tergantung pada kemurkaan keduanya”. [HR at-Turmudziy: 1899, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 2, al-Hakim dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:Shahih].[15]

ANTARA ORANG TUA DAN ISTRI

Jika seorang muslim mendapatkan perselisihan di antara istri dan ibunya dan perselisihan itu tidak dapat lagi dipersatukan setelah diupayakan untuk berdamai. Bahkan sang ibu meminta anaknya untuk menceraikan istrinya maka hendaknya anak tersebut memperhatikan permintaan ibunya tersebut dengan baik dan cermat. Jika permintaan itu sesuai syar’iy maka hendaklah ia segera memenuhi permintaan ibunya. Namun jika tidak sesuai syar’iy maka tidak mengapa ia menolak permintaan ibunya dengan memberi penjelasan kepadanya dengan baik dan santun.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قَالَ: كَانَ تَحْتىِ امْرَأَةٌ أُحَبُّهَا وَ كَانَ عُمَرُ يَكْرَهُهَا فَقَالَ لىِ طَلِّقْهَا فَأَبَيْتُ فَأَتىَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لىِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: طَلِّقْهَا

                        Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, “Aku mempunyai seorang istri yang aku cintai namun Umar (ayahku) tidak menyukainya”. Ia berkata kepadaku, “Ceraikalah ia”, tetapi aku menolak. Lalu ia mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Ceraikanlah ia!”. [HR Ahmad: II/ 20, 42, 53, 157, Abu Dawud: 5138, Ibnu Majah: 2088, at-Turmudziy: 1189, Ibnu Hibban, al-Hakim dan ath-Thayalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Wajibnya mentaati ayah di dalam perkara-perkara yang diwajibkan oleh Islam. Bolehnya seorang muslim atau muslimah benci kepada perkara buruk dengan syarat kebenciannya itu tidak melampaui batas akan sifatnya. Bolehnya memisahkan istri (dari suaminya) yang tidak dapat membantu suaminya dalam perkara-perkara agamanya”.  [17]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Hadits ini merupakan dalil yang jelas yang menetapkan bahwa wajib bagi seseorang apabila ia diperintah ayahnya untuk menceraikan istrinya untuk segera menceraikannya kendatipun ia mencintainya. Hal tersebut bukan merupakan udzur/ alasan di dalam menahannya (yakni tidak menceraikannya).  Dan dalam hal ini bukan hanya hak ayah saja tapi juga ibunya. Karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan bahwa ibu itu mempunyai hak atas anaknya yang melebihi atas hak ayah”. [18]

Dalil hadits di atas menjelaskan tentang perintah mematuhi kedua orang tua dalam memenuhi permintaan  keduanya. Meskipun berupa amalan yang tidak disukai oleh seorang anak, yaitu menceraikan istrinya yang dicintainya. Pada masa lalupun nabi Ibrahim Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan putranya yaitu nabi Ismail alaihi as-Salam untuk mengganti palang pintunya yaitu menceraikan istrinya dan nabi Ismailpun segera mematuhi perintah ayahnya. [19]

ورواه ابن حبان فى صحيحه: أَنَّ رَجُلاً أَتَى أَبَا الدَّرْدَاءِ فَقَالَ: إِنَّ أَبىِ لَمْ يَزَلْ بىِ حَتىَّ زَوَّجَنىِ وَ إِنَّهُ اْلآنَ يَأْمُرُنىِ بِطَلاَقِهَا قَالَ: مَا أَنَا بِالَّذِي آمُرُكَ أَنْ تَعُقَّ وَالِدَيْكَ وَ لاَ بِالَّذِي آمُرُكَ أَنْ تُطَلِّقَ امْرَأَتَكَ غَيْرَ أَنَّكَ إِنْ شِئْتَ حَدَّثْتُكَ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: اْلوَالِدُ أَوْسَطِ أَبْوَابِ اْلجَنَّةِ فَحَافِظْ عَلَى ذَلِكَ اْلبَابِ إِنْ شِئْتَ أَوْ دَعْ

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab shahihnya, bahwasanya ada seseorang datang kepada Abu ad-Darda’ dan berkata, “Sesungguhnya ayahku senantiasa bersamaku sehingga ia menikahkanku. Dan sekarang ia menyuruhku untuk menceraikannya”. Abu ad-Darda’ berkata, “ Aku tidak akan menyuruhmu untuk durhaka kepada kedua orangtuamu dan aku juga tidak akan menyuruhmu untuk menceraikan istrimu. Hanyasaja jika engkau mau, aku akan ceritakan kepadamu apa yang pernah aku dengar dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Aku mendengar Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ayah itu adalah sebaik-baik pintu surga, maka jagalah pintu itu jika engkau mau atau tinggalkanlah!”. [HR Ibnu Hibban dan Ibnu Majah: 2089. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [20]

Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu bahwasanya ada seseorang pernah datang kepadanya. Lalu berkata, “Sesungguhnya aku memiliki seorang istri namun ibuku menyuruhku untuk menceraikannya”. Abu ad-Darda’ berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اْلوَالِدُ أَوْسَطِ أَبْوَابِ اْلجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ اْلبَابِ أَوِ احْفَظْهُ

“Ayah itu adalah sebaik-baik pintu surga, maka biarkanlah pintu itu jika engkau mau atau jagalah!”. [HR at-Turmudziy: 1900, Ibnu Majah: 3663 dan Ahmad: V/ 198. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Demikian pula hadits yang lain tentang seorang wanita yang menyuruh putranya untuk menceraikan istrinya. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa menyambung silaturrahmi atau berbakti kepada kedua orang tua itu menjadi penyebab masuk ke dalam surga. Hal ini merupakan isyarat bahwa jika ia berbakti kepada ibunya dengan menceraikan istrinya maka hal itu akan menjadi penyebab masuknya ia ke dalam surga”. [22]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berbakti kepada kedua orang tua  menjadi penyebab masuknya ke dalam surga dan terbukanya pintu-pintu surga. Membuat ridlo kedua orang tua itu wajib didahulukan daripada membuat ridlo istri”. [23]

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قَالَ: أَوْصَانىِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِعَشْرِ كَلِمَاتٍ قَالَ: لاَ تُشْرِكْ بَاللهِ شَيْئًا وَ إِنْ قُتِلْتَ وَ حُرِّقْتَ وَ لاَ تَعُقَّنَّ وَالِدَيْكَ وَ إِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ أَهْلِكَ وَ مَالِكَ

          Dari Mu’adz bin Jabal ra berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah berwasiat kepadaku dengan sepuluh kalimat”. Beliau bersabda, “Janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah meskipun engkau dibunuh dan dibakar (hidup-hidup). Janganlah engkau mendurhakai kedua orangtuamu (dalam satu riwayat, “Patuhilah kedua orang tuamu) meskipun keduanya menyuruhmu untuk pergi keluar meninggalkan keluarga dan hartamu”. Di dalam riwayat yang lain “keluar dari duniamu”. [HR Ahmad: V/ 238, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 18 dan ath-Thabraniy di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh ai dalam al-Albaniy: Hasan].[24]

Patuh dan tidak mendurhakai orang tua itu diletakkan setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang umatnya melakukan kemusyrikan. Meskipun perintah mematuhi keduanya tersebut dalam bentuk meninggalkan keluarga yaitu istri dan anaknya serta dunianya, tidakkah mereka memahaminya???

Maka untuk meraih surga yang menjadi tujuan ibadahnya selama ini, hendaknya seseorang berusaha mematuhi ayah atau ibunya meskipun ia harus menceraikan istrinya. Namun hendaknya ia juga memperhatikan faktor yang menjadikannya mengikuti perintah keduanya untuk menceraikannya yaitu harus karena faktor syar’iy. Jika keduanya menyuruh karena faktor syar’iy semisal istrinya gemar melakukan kemusyrikan, tidak seakidah dan semanhaj, tidak berhijab (mengenakan pakaian muslimah), tidak menunaikan sholat dengan baik, memiliki akhlak yang buruk lantaran gemar mengghibah ataupun memfitnah, suka berselingkuh, suka melawan dan menelantarkan pelayanan kepada dirinya, tidak mau mengurus anak-anaknya, ingin menguasai harta dan dirinya untuk menjauhkannya dari kedua orang tua dan saudara-saudaranya dan selainnya maka wajib baginya untuk mematuhi kedua orang tuanya.

Namun jika bukan karena sebab syar’iy, maka tidak mengapa dan sepantasnya baginya untuk tidak mematuhi keduanya. Semisal, tidak sesuku, kurang cantik, tidak sederajat dalam pendidikan, status sosial dan sebagainya. Sebagaimana pernah terjadi, seseorang pernah mendatangi al-Imam Ahmad rahimahullah dan berkata, ‘Sesungguhnya ayahku berkata, “Ceraikan istrimu, sedangkan aku mencintainya”. Al-Imam Ahmad berkata, “Janganlah engkau menceraikannya”. Ia bertanya, “Bukankan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menyuruh Ibnu Umar untuk menceraikan istrinya lantaran perintah Umar. Imam Ahmad berkata, “Apakah ayahmu itu Umar?”. Sebab Umar radliyallahu anhu itu kami ketahui dengan yakin bahwa ia tidak akan menyuruh Ibnu Umar untuk menceraikan istrinya kecuali dengan sebab syar’iy. [25]

Berdasarkan hadits dan penjelasannya di atas dapat dipahami bahwa istri itu bukan tempat akhir kecintaan dan pemuliaan. Sehingga ia menganggap remeh dan hina ibunya yang telah melahirkan, merawat dan mendidiknya sejak ia masih kecil dengan penuh kecintaan dan kasih sayang. Maka janganlah ia lebih mementingkan istrinya dan mengabaikan kedua orangtuanya. Karena ikatan kepada orang tua itu adalah ikatan darah, nyawa, cinta, pengorbanan dan keturunan. Dan tidak akan pernah disebut “Ia bekas ayahku atau ibuku”.

Sedangkan ikatan kepada istri hanyalah ikatan pernikahan, nafsu, cinta, kasih dan sayang dan terkadang ada sebutan “Ia adalah bekas istriku”. Janganlah ia memandang istrinya dengan pandangan kasih sayang tetapi memandang ibu atau ayahnya dengan pandangan permusuhan dan kebencian. Dan jangan pula ia memperhatikan segala kebutuhan istri dan anaknya sebab khawatir mereka sengsara dan tidak berbahagia sedangkan ia mengabaikan dan menelantarkan kedua orang tuanya dalam kemiskinan, penderitaan dan mulai diserang berbagai penyakit tua.

Alangkah indahnya jika istri mengerti akan kedudukannya di sisi suami dan mertuanya, sehingga ia selalu memberi dorongan dan motivasi kepada suaminya untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya. Sehingga mertuanya itupun akan menyayanginya dan tidak menyuruh anaknya untuk menceraikannya.

In syaa Allah bersambung. Semoga bermanfaat.


[2] Makarim al-Akhlaq halaman 38 oleh Fadlilah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin cetakan pertama tahun 1417 H.

[3] Shahih Sunan at-Turmudziy: 145, 1547, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 594, 595, Silsilah a-Ahadits ash-Shahihah: 1489 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1094, 1095.

[4] Makarim al-Akhlaq halaman 39.

[5] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 237.

[6] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 237.

[7] Makarim al-Akhlaq halaman 40.

[8] Lihat hadits tentang Juraij dan ibunya di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhoriy: 3436 dan Muslim: 2550 (7) dari Abu Hurairah radliyallahu anhu.

[9] Shahih al-Adab al-Mufrad: 15, Shahih Sunan Abu Dawud: 2206, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2907 dan Irwa’ al-Ghalil: 1199.

[10] Shahih Sunan Abu Dawud: 2207, Irwa’ al-Ghalil: V/ 21 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 892.

[11] Shahih Sunan Abi Dawud: 2205, Shahih al-Adab al-Mufrad: 10, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3881, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2242 dan Irwa’ al-Ghalil: 1199.

[12] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2908 dan Irwa’ al-Ghalil: V/ 21.

[13] Hasyiyah Sunan an-Nasa’iy: VI/ 11.

[14] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2241 dan Irwa’ al-Ghalil: V/ 21.

[15] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1549, Shahih al-Adab al-Mufrad: 2, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3506, 3507 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah:  516.

[16] Shahih Sunan Abu Dawud: 4284, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1698, ShahihSunan at-Turmudziy: 950, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 919 dan Irwa’ al-Ghalil: VII/ 135.

[17] Bahjah an-Nazhirin: I/ 405.

[18] Nail al-Awthar: VI/ 262-263, susunan al-Imam asy-Syaukaniy dengan ta’liq Ishomuddin ash-Shobabbithiy, cetakan Dar al-Hadits, cetakan pertama tahun 1413 H/ 1993 M.

[19] Lihat hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhoriy: 3364 dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma.

[20] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1699.

[21] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2955, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1548, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 914, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7145 dan Misykah al-Mashobih: 4928.

[22] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 250.

[23] Bahjah an-Nazhirin: I/ 405.

[24] Shahih al-Adab al-Mufrad: 14, Irwa’ al-Ghalil: 2026 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 568, 569, 570

[25] Lihat penjelasannya di Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 250

AKHI, MARILAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (1)…

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Berbakti kepada orang tua1a). Berdasarkan ayat-ayat alqur’an

            Berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua itu adalah perkara yang penting lagi agung dan diwajibkan bagi setiap manusia, khususnya kaum muslimin. Telah banyak disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam alqur’an yang mulia beberapa ayat yang berkaitan dengannya.

            Mayoritas ayat-ayat alqur’an telah menyebutkan perintah untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua itu setelah perintah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun (yakni tidak berbuat syirik). Maka kedudukan berbuat baik dan berbakti kepada keduanya itu mempunyai kedudukan yang besar karena diletakkan setelah beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya.

Namun berapa banyak di antara manusia yang menyepelekan masalah ini dan enggan berbuat baik kepada kedua orang tuanya kecuali hanya sekedar pencitraan belaka untuknya. Banyak dijumpai anak yang mengabaikan perintah Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam perkara ini, misalnya;

1)). Banyak di antara anak-anak yang hanya bisa meminta segala sesuatu kepada kedua orang tuanya tanpa melihat kemampuan dan kesanggupan mereka.

2)). Banyak di antara mereka yang menunjukkan wajah kecewa dan kesal kepada keduanya ketika keinginannya tidak dapat dipenuhi oleh mereka.

3)). Membiarkan salah satu atau keduanya mengerjakan sesuatu tanpa keinginan membantu mereka berdua padahal ia mampu untuk membantu mereka.

4)). Bertengkar dengan sesama saudara dengan suara yang keras, saling membentak apalagi sampai berkelahi di hadapan keduanya.

5)). Enggan mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh keduanya atau meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh mereka apalagi jika sampai menunjukkan pembangkangan kepada keduanya dengan suara penolakan yang keras atau wajah yang ketus dan masam.

6)). Mempergunakan atau memakai barang milik kedua orang tuanya tanpa seidzin keduanya.

7)). Duduk atau berbaring di tempat yang lebih tinggi dari keduanya tanpa suatu sebab atau idzin dari keduanya.

8)). Tanpa suatu sebab, bersuara lebih keras daripada suara keduanya apalagi sampai membentak keduanya. Sebab mengucapkan kepada keduanya dengan ucapan “ahh” saja dilarang apalagi lebih dari itu.

9)). Bersikap sombong dan angkuh kepada kedua orang tuanya lantaran ia merasa lebih tinggi status pendidikannya dari kedua orang tuanya, merasa lebih mulia jabatannya daripada kedua orang tuanya, merasa lebih terhormat status sosialnya dari keduanya, lebih banyak harta bendanya dari pada kedua orang tuanya dan selainnya.

10)). Suka memanfaatkan orang tua untuk kepentingan diri sendiri semisal, mengasuh anaknya, membantu urusan rumah tangganya, merongrong sisa harta kedua orang tuanya untuk keperluan dirinya dan sebagainya. Padahal keduanya sudah berletih lelah merawatnya dari sejak lahir dan dalam buaian sampai ia dewasa dan mandiri. Maka tegakah ia memforsir habis tenaga keduanya tanpa henti?. Bahkan tidak sedikit dijumpai kejadian anak yang mengusir kedua orang tuanya, memperkarakan salah seorang dari orang tuanya ke meja hijau dengan sebab perkara yang sepele dan bahkan ada yang membunuh salah satu dari keduanya lantaran kesal bahwa keinginannya tidak dipenuhi oleh keduanya.

11)). Membiarkan kedua orang tuanya dalam kesulitan dan kemiskinan padahal ia mampu untuk menolong keduanya. Kedua orang tuanya mengenakan pakaian lusuh lagi bertambal sedang ia dan keluarganya berpakaian dengan berbalut kemewahan. Keduanya menyantap makanan yang kurang layak sedangkan ia dan keluarganya kerap berwisata kuliner di berbagai tempat. Keduanya tinggal dirumah yang beratap bocor jika hujan dan bertiangkan keropos sedangkan ia dan keluarganya tinggal di rumah megah nan mewah laksana istana. Keduanya berjalan kaki sambil tertatih untuk sampai ke suatu temat yang dituju sedangkan ia dan keluarganya tinggal memilih kendaraan mewah mana yang ingin di kendarai hari ini, dan selainnya.

12)). Menelantarkan kedua orang tuanya yang tergeletak di kamar usang karena sakit tanpa biaya untuk berobat ke dokter atau rumah sakit. Hatinya yang telah mati tidak dapat lagi menggerakkan dirinya untuk menengok keduanya di kala sakit apalagi sampai membawa keduanya ke rumah sakit untuk diobati dengan biaya darinya. Jikapun ia membesuk, terkadang hanya untuk pencitraan dirinya di hadapan manusia lainnya.

13)). Enggan dan berat hati untuk bersilaturrahmi kepada kedua orang tuanya, saudara atau kerabatnya. Namun untuk berwisata dengan keluarganya ke luar negeri dengan biaya besar, waktu yang cukup lama dan tempat tujuan yang sangat jauh dan sulit, ia dan keluarganya menyempatkan waktu dan biaya untuk itu.

14)). Enggan mendoakan kebaikan untuk kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat kepada Allah ta’ala. Malas beribadah dengan ibadah-ibadah yang disyariatkan seperti sholat, puasa, zakat dan sedekah, menunaikan ibadah haji atau umrah, membangun masjid dan semisalnya. Karena semua amal ibadah yang dikerjakan oleh seorang anak yang shalih jika sesuai dengan syariat dan dikerjakan dengan ikhlas semata-mata karena Allah, maka kedua orang tuanya akan dapat mengambil pahala dari seluruh amal yang dikerjakan oleh anaknya tersebut.

15)). Enggan menyambung silaturrahmi kepada kerabat atau shahabat kedua orang tuanya setelah wafatnya mereka. Hal ini biasanya disebabkan karena masih lemahnya pemahaman agamanya dan keengganan untuk meluangkan waktu bersilaturrami dengan mereka.

16)). Dan masih banyak lagi di antara amalan-amalan yang dapat menjatuhkan pelakunya kepada perbuatan durhaka dan tidak berbakti kepada kedua orang tua. Ma’adzallah.

Di antara ayat-ayat alqur’an dan penjelasannya yang memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya adalah sebagai berikut,

وَ اعْبُدُوا اللهَ وَ لَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَ بِاْلوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَ بِذِى اْلقُرْبَى وَ اْليَتَامَى وَ اْلمـَسَاكِينِ وَ اْلجَارِ ذِى اْلقُرْبَى وَ اْلجَارِ اْلجُنُبِ وَ الصَّاحِبِ بِاْلجَنْبِ وَ ابْنِ السَّبِيلِ وَ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Dan beribadahlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Berbuat baiklah kepada dua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan suka membangga-banggakan diri. [QS an-Nisa’/ 4: 36].

      Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Kemudian (setelah menyuruh bertauhid), Allah Subhanahu wa ta’ala memberi wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena Allah telah menjadikan mereka berdua sebagai sebab keluarnya engkau dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’. Dan banyak sekali Allah menggandengkan perintah beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua”. [Tafsir alqur’an al-Azhim: I/ 611].

          Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Di dalam ayat ini Allah ta’ala telah memerintahkan kaum mukminin untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya. Di dalamnya juga terdapat perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, dengan cara mematuhi mereka dalam perbuatan ma’ruf, berbuat baik kepada mereka dan mencegah berbagai bahaya dari mereka”. [1]

          Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Ayat ini menjadi dalil dengan menyebutkan berbuat baik kepada kedua orang tua setelah perintah beribadah kepada Allah dan larangan dari berbuat syirik kepada-Nya lantaran kebesaran hak keduanya”. [2]

          Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Tabaroka wa ta’ala telah memerintahkan untuk mengibadahi-Nya saja tiada sekutu bagi-Nya. Karena Dia-lah Pencipta, Pemberi rizki, Pemberi kenikmatan lagi Pemberi karunia kepada makhluk-Nya pada seluruh keadaan. Maka Dia-lah yang berhak untuk ditauhidkan/ diesakan oleh mereka dan tidak mempersekutukan sesuatupun dari makhluk-Nya dengan-Nya.

Lalu Allah ta’ala telah mewasiatkan agar berbuat baik kepada kedua orangtua. Karena Allah telah menjadikan mereka berdua sebagai sebab keluarnya engkau dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’. Dan banyak sekali Allah Subhanahu menggandengkan perintah beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Kemudian Allah Menggandeng perbuatan baik kepada keduanya itu dengan perbuatan baik kepada para kerabat dari laki-laki dan perempuan”. [3]

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَ لَّا تُشْرَكُوا بِهِ شَيْئًا وَ بِاْلوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَ لَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُم مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَ إِيَّاهُمْ وَ لَا تَقْرَبُوا اْلفَوَاحِشَ مَا ظَهِرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ وَ لَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِى حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكَمْ وَصَّاكَمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلَونَ

Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atasmu oleh Rabb mu yaitu, janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan kepada kamu supaya kalian memahami(nya).[QS al-An’am/6: 151].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Di dalam ayat pertama ini telah datang pengharaman akan 5 perkara yaitu, perbuatan syirik, mendurhakai kedua orang tua, membunuh anak-anak, melakukan perbuatan keji dan membunuh jiwa”. [4]

Katanya lagi, “((Berbuat baiklah terhadap kedua orang tua)) maka ini adalah merupakan perintah karena takdir (kalimat)nya adalah berbuat baiklah kalian kepada kedua orang tua. Perintah untuk melakukan sesuatu itu merupakan larangan dari kebalikannya. Maka perintah berbuat baik (kepada kedua orang tua) itu menetapkan pengharaman berbuat buruk dan berbuat buruk kepada kedua orang itu merupakan perbuatan durhaka kepada keduanya. Sedangkan durhaka kepada kedua orang tua itu diharamkan dan masuk dalam kandungan pengharaman yang telah disebutkan di dalam 3 ayat  ini”. [5]

وَ قَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ اْلكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَ لاَ تَنْهَرْهُمَا وَ قُل لَّهُمَا قَوْلًا كَـرِيمًا وَ اخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَ قُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَـمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ahh” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuhrasa sayang dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu aku masih kecil”. [QS. Al-Isra’/ 17: 23-24].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat kewajiban beribadah kepada Allah ta’ala saja dan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua yaitu bersikap baik kepada keduanya, mencegah bahaya dari keduanya dan mentaati keduanya dalam perbuatan ma’ruf. Terdapat kewajiban untuk mendoakan kebaikan untuk kedua orang tua dengan ampunan dan rahmat”. [6]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah ta’ala berfirman dalam keadaan menyuruh (manusia) agar beribadah kepada-Nya saja tiada sekutu bagi-Nya. Lalu Allah ta’ala juga menyuruh agar berbuat baik kepada kedua orang tua dengan ucapan dan perbuatan. Maka tidak boleh engkau memperdengarkan kepada keduanya dengan tingkatan ucapan buruk yang paling hina yaitu ucapah ‘ahh’. Tidak boleh pula engkau mengibaskan tanganmu kepada keduanya karena itu adalah tingkatan perbuatan jelek yang paling rendah. Sebagaimana Allah ta’ala telah melarang dari perkataan yang buruk dan perbuatan yang jelek maka Allah ta’ala juga telah menyuruh kepada perkataan yang elok dan perbuatan yang baik. Yaitu ucapan santun, lemah lembut lagi penuh persahabatan dengan penuh sopan, penghormatan, pemuliaan dan rendah hati. Dan ingatlah, engkau berbuat seperti itu sedangkan keduanya telah mendahuluimu dalam perbuatan tersebut. Keduanya bersikap lemah lembut kepadamu ketika engkau masih kecil, keduanya begadang di waktu malam karenamu, keduanya menahan rasa lapar hingga engkau merasa kenyang dan keduanya-pun menahan dahaga sehingga engkau telah hilang rasa haus”. [7]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Semua ayat-ayat ini dan selainnya menunjukkan akan besarnya hak kedua orang tua. Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan tentang keadaan ibu. Bahwasanya ia telah mengandung anaknya dalam keadaan lemah lagi bertambah lemah. Yaitu dari sejak mengandungnya sampai ia melahirkannya sedangkan ia dalam keadaan lemah, sulit dan payah. Demikian pula ketika melahirkan, sebagaimana Allah ta’ala telah berfirman ((Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). QS al-Ahqaf/ 46: 15)). Semua penjelasan ini merupakan sebab akan hak ibu yang sangat besar.

Kemudian Allah ta’ala telah menyebutkan keadaan yang paling berat bagi kedua orang tua. Allah ta’ala berfirman ((Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ahh”. QS Luqman/ 31: 23)) karena kedua orang tua apabila telah mencapai usia lanjut maka jiwanyapun akan merasa lemah. Sehingga kedua-duanya akan menjadi beban bagi anaknya. Namun disamping itu Allah telah berfirman ‘janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ahh” yaitu janganlah kamu mengatakan ‘Sesungguhnya aku bosan kepada kalian berdua’. Tetapi pergaulilah keduanya dengan lemah lembut, perbuatan baik dan santun. Jangan membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia. Yaitu sambutlah (ucapan) keduanya dengan sambutan yang baik lantaran kebesaran hak mereka berdua”. [8]

Berkata Nizham Sakkajaha, “Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Islam itu telah menjadikan untuk kedua orang tua, yaitu hak (dari anak-anak keduanya) untuk berbuat baik, bersikap lemah lembut, memperhatikan dan menyayangi keduanya. Dan menguatkan hak ini dengan menggandengnya dengan hak Allah (dari para hamba-Nya) untuk memuliakan-Nya dan menyempurnakan hak-Nya”. [9]

وَ وَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَ إِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُـنتُمْ تَعْمَلُونَ

            Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku akan kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [QS. Al-Ankabut/ 29: 8].

            Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Allah ta’ala berfirman dalam rangka memerintahkan para hamba-Nya agar berbuat baik kepada kedua orang tua setelah memotivasi mereka untuk berpegang teguh dengan mentauhidkan-Nya. Karena kedua orang tua itu adalah penyebab keberadaan manusia dan kepada keduanyalah ada tujuan berbuat baik. Maka ayahnya yang memberi nafkah sedangkan ibunya yang menuangkan rasa kasih sayang”. [10]

          Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua dalam perbuatan ma’ruf dan tidak boleh mentaati keduanya dalam perbuatan munkar semisal perbuatan syirik dan berbagai kemaksiatan. Terdapat kabar gembira bagi orang-orang mukmin yang mengerjakan amal-amal shalih dengan dimasukkannya mereka ke dalam surga beserta para nabi dan golongan siddiqin”. [11]

وَ وَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَ وَضَعَتْهُ كُرْهًا وَ حَمْلُهُ وَ فِصَالُهُ ثَلَاتُوْنَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَ بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رِبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلَى وَالِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَ أَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَ إِنِّى مِنَ اْلمـُسْلِمِينَ أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَّبَلَ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَ نَتَجَاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِى أَصْحَابِ اْلجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِى كَانُوا يُوْعَدُونَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, “Wahai Rabbku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridloi. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. Mereka Itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami akan ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. [QS. Al-Ahqof/ 46: 15-16].

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Yaitu Kami telah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada keduanya dan menaruh rasa kasih sayang kepada keduanya”. [12]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Yaitu Kami perintahkan dengan perintah yang lebih tegas yakni wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya yaitu ibu dan ayahnya. Hal itu dengan cara mencegah bahaya dari keduanya, memberikan kebaikan untuk keduanya, mentaati keduanya dalam perkara ma’ruf dan juga berbuat baik kepada keduanya setelah keduanya wafat”. [13]

وَ إِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَ هُوَ يَغِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ وَ وَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أَمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَ فِصَالُهُ فِى عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْلِى وَ لِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ اْلمـَصِيْرُ وَ إِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَ صَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَ اتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُـنتُمْ تَعْمَلُونَ

 Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan-Ku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu. Maka janganlah kamu mematuhi keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [QS. Luqman/ 31: 13-15].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Yaitu Kami telah memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya yaitu ibu dan ayahnya. Berbuat baik kepada keduanya itu dalam bentuk mendermakan perbuatan ma’ruf untuk keduanya, mencegah bahaya dari keduanya dan mentaati keduanya dalam perbuatan ma’ruf”. [14]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu mengkhabarkan bahwasanya Ia telah mewasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Karena ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah tatkala melahirkan den lemah ketika mendidik dan menyusui setelah dua tahun melahirkannya. Tujuan Allah Azza wa Jalla mengingatkan akan pengajaran sang ibu, keletihan dan kesulitannya lantaran begadang di waktu malam dan siang hari hanyalah agar sang anak menjadi ingat untuk berbuat baik kepada keduanya. Maka balasan untuk kedua orang tua adalah berbuat baik (kepada keduanya) karena balasan berbuat baik itu adalah kebaikan pula (yakni surga)”. [15]

                Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Maka ibu merasa letih pada saat mengandung, melahirkan, setelah melahirkan dan menyayangi anaknya melebihi rasa sayang ayahnya kepadanya. Oleh karena itu, ibu adalah orang yang paling berhak untuk dipersahabati dan diperlakukan dengan baik, sehingga lebih dari pada sang ayah. Sebagaimana di dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Seseorang pernah datang menemui Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rosulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk dipersahabati/ dipergauli dengan baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu ia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ayahmu”. [HR al-Bukhoriy: 5971 dan Muslim: 2548]. [16]

            Ayah juga merasakan keletihan dalam (merawat) anak-anaknya, merasakan kecemasan seperti kecemasan mereka, berbahagia sebagaimana kebahagiaan mereka dan berusaha dengan berbagai sebab yang dapat membuat kelapangan, ketentraman dan kebaikan hidup mereka. Ia melintasi padang pasir dan tanah tandus dalam rangka memperoleh penghidupan untuknya dan anak-anaknya”. [17]

            Demikian beberapa ayat dan penjelasannya dari para ulama salafush shalih yang menerangkan tentang kewajiban berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Kewajiban berbuat baik dan berbakti kepada keduanya itu diletakkan dan ditempatkan setelah kewajiban beribadah kepada Allah ta’ala, mentauhidkan-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya (yakni tidak berbuat syirik) karena besar dan pentingnya kewajiban tersebut.

PERHATIAN

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Orang yang merenungi kitab Allah Subhanahu wa ta’ala (alqur’an) hendaklah memperhatikan bahwa Allah Subhanahu banyak menggandeng antara beribadah dan mengesakan-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Titik permasalah ini ada beberapa perkara,

1)). Allah Subhanahu Dia adalah Pencipta dan Pemberi rizki, maka Dia-lah satu-satunya saja yang berhak untuk diibadahi. Kedua orang tua adalah penyebab adanya dirimu maka keduanya itulah yang berhak untuk diperbuat kebaikan bagi mereka.

2)). Allah Subhanahu Dia-lah Pemberi kenikmatan dan karunia kepada para hamba-Nya dengan banyak kenikmatan dan kebaikan yang melimpah, maka Allah ta’ala berhak untuk disyukuri. Demikian pula kedua orang tua, kedua-duanya yang menyiapkan segala yang engkau butuhkan dari makanan, minuman dan pakaian. Maka keduanyapun berhak untuk disyukuri.

3)). Allah Subhanahu Dia adalah Rabbnya manusia yang telah memelihara mereka di atas cara-Nya. Maka Allah berhak untuk diagungkan dan dicintai. Begitu juga kedua orang tua yang telah merawatmu sejak masih kecil maka keduanya berhak bagimu untuk bersikap rendah hati, memuliakan, sopan santun dan berlemah lembut dengan perkataan dan perbuatan. Wallahu a’lam”. [18]

            Mudah-mudahan pembahasan dan penjelasan ini dapat memberi manfaat bagiku, keluargaku, para kerabat dan shahabatku dan seluruh kaum muslimin untuk selalu berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua mereka masing-masing. Karena rugilah seseorang yang masih mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satunya namun ia tidak dapat meraih surga.

Wallahu a’lam bish showab.   


[1] Aysar at-Tafasir: I/ 477 oleh asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy, penerbit Dar Maktabah al-Ulum wa al-Hikam Madinah al-Munawwaroh cetakan pertama tahun 1415 H.

[2] Fat-h al-Qodir: I/ 521 oleh al-Imam asy-Syaukaniy, penerbit Dar al-Khoir cetakan pertama 1413 H.

[3] Bahjah an-Nazhirin: I/ 385 oleh asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy, penerbit Dar Ibnu al-Jauziy cetakan keenam tahun 1422 H.

[4] Aysar at-Tafasir: II/ 139.

[5] Aysar at-Tafasir: II/ 139.

 [6] Aysar at-Tafasir: III/ 188-189.

[7] Bahjah an-Nazhirin: I/ 390.

[8] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 237 oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin penerbit Dar al-Aqidah li at-Turots cetakan pertama tahun 1423 H.

[9] Birr al-Walidain halaman 11 oleh Nizham Sakkajaha penerbit Mu’assasah ar-Royyan dan Dar Ibnu Hazm cetakan kelima tahun 1412 H.

[10] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: III/ 491 penerbit Dar al-Fikr tahun 1412 H, asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah juga mengatakannya di dalam Bahjah an-Nazhirin: I/ 390 dan Birr al-Walidain halaman 13.

[11] Aysar at-Tafasir: IV/ 114.

[12] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: IV/ 191.

[13] Aysar at-Tafasir: V/ 54.

[14] Aysar at-Tafasir: IV/ 205.

[15] Bahjah an-Nazhirin: I/ 391.

[16] Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1399, Misykah al-Mashobih: 48 dan Irwa’ al-Ghalil: 837, 2163.

[17] Makarim al-Akhlaq halaman 39 oleh Fadlilah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1417 H.

[18] Bahjah an-Nazhirin: I/ 391.

BEBERAPA NASHIHAT TENTANG BERBUAT BAIK KEPADA KEDUA ORANG TUA.

WAJIBNYA BIRRUL WALIDAIN

بسم الله الرحمن الرحيم

birrul walidain2Diambil dari kitab Majmu’ah Rosa’il at-Taujihat al-Islamiyah li Ishlah al-Fard wa almujtama’ karya Muhammad bin Jamil Zainu halaman 38-39 penerbit Maktabah Ibnu Taimiyah Kairo dan Maktabah al-Ilmi Jeddah,
“Apabila engkau ingin sukses di dunia dan akhirat maka amalkanlah beberapa wasiat berikut ini,

1. Berbicaralah kepada kedua orang tuamu dengan penuh adab, jangan mengatakan ‘ahh’ kepada keduanya, jangan membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia.
2. Patuhilah selalu kedua orang tuamu selain dalam perbuatan maksiat, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perbuatan maksiat kepada al-Khaliq (Allah Subhanahu wa ta’ala).
3. Bersikap lemah lembutlah kepada kedua orang tuamu, jangan bermuka masam di hadapan keduanya dan jangan engkau memandang keduanya dengan rasa marah.
4. Jagalah nama baik, kehormatan dan harta kedua orang tuamu dan janganlah engkau mengambil sesuatupun tanpa seidzin keduanya.
5. Perbuatlah sesuatu yang dapat menyenangkan keduanya meskipun tanpa perintah keduanya seperti pelayanan (membantu pekerjaan), belanja keperluan dan bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu.
6. Bermusyawarahlah dengan keduanya di dalam pekerjaanmu dan minta maaflah kepada keduanya jika engkau berselisih dengan keduanya (dalam pekerjaan).
7. Penuhi panggilan keduanya dengan segera, disertai wajah yang penuh senyum dan katakanlah, “Ya wahai ummi, ya wahai abi”. Jangan mengatakan “Wahai papa dan mama” karena itu adalah ucapan ajnabi (bahasa asing).
8. Muliakanlah shahabat dan kerabat keduanya di masa hidup dan sesudah wafatnya mereka berdua.
9. Janganlah engkau mendebat keduanya, jangan pula menyalah-nyalahkan keduanya dan usahakan untuk menjelaskan yang benar kepada keduanya dengan penuh adab.
10. Janganlah engkau melawan keduanya, jangan engkau tinggikan suara di atas suara keduanya, diamlah ketika keduanya berbicara, jaga adabmu bersama keduanya dan jangan engkau membentak salah seorang dari saudara-saudaramu dalam rangka memuliakan kedua orang tuamu.
11. Sambutlah kedua orang tuamu apabila mereka datang dan kecuplah kening keduanya dengan rasa kasih sayang.
12. Bantulah ibumu di rumah dan jangan terlambat membantu ayahmu dalam pekerjaannya.
13. Janganlah engkau bepergian apabila keduanya tidak mengidzinkanmu walaupun untuk urusan yang penting. Jika engkau terpaksa (harus pergi) minta maaflah dan janganlah engkau putus di dalam mengirim surat kepada keduanya.
14. Jangan engkau masuk ke dalam kamar keduanya tanpa idzin, apalagi di waktu keduanya sedang tidur dan beristirahat.
15. Apabila engkau masih terfitnah dengan rokok (karena rokok itu haram), maka janganlah engkau merokok de hadapan keduanya.
16. Janganlah engkau mengambil makanan sebelum keduanya dan muliakanlah keduanya di dalam makan dan minum.
17. Janganlah engkau berdusta kepada keduanya dan jangan pula engkau mencela keduanya apabila keduanya mengerjakan sesuatu yang tidak menyenangkanmu.
18. Janganlah engkau muliakan istrimu atau anakmu melebihi keduanya. Mintalah keridloan keduanya sebelum segala sesuatu, karena ridlo Allah tergantung pada ridlo kedua orang tua dan kemurkaan-Nya tergantung pada kemurkaan keduanya.
19. Janganlah engkau duduk di tempat yang lebih tinggi dari keduanya dan janganlah engkau menyelonjorkan kedua kakimu dengan rasa sombong di saat kehadiran keduanya.
20. Janganlah engkau membangga-banggakan jabatanmu kepada ayahmu meskipun engkau memiliki jabatan yang tinggi. Berhati-hatilah jika engkau sampai mengingkari kebaikan keduanya atau menyakiti (perasaan) keduanya walaupun hanya dengan sepatah kata.
21. Janganlah engkau kikir kepada kedua orang tuamu dan memberi nafkah sehingga keduanya mengeluhkannya kepadamu. Hal ini adalah suatu perbuatan yang tercela bagimu. Kelak kamu akan lihat hal tersebut pada anak-anakmu, karena sebagaimana engkau bersikap (kepada keduanya) maka seperti itu pula engkau akan disikapi (oleh anak-anakmu).
22. Sering-seringlah mengunjungi kedua orang tuamu, memberi hadiah kepada keduanya, berterima kasihlah kepada keduanya karena mereka telah mendidikmu dan berpayah-payah di dalam merawatmu. Contohkanlah hal tersebut kepada anak-anakmu.
23. Orang yang paling berhak untuk engkau utamakan adalah ibumu kemudian ayahmu. Ketahuilah bahwasanya surga itu di bawah telapak kaki ibu.
24. Berhati-hatilah mendurhakai kedua orang tuamu dan menyebabkan keduanya marah, yang menyebabkan engkau celaka di dunia dan akhirat. Kelak anak-anakmu akan mempergaulimu seperti engkau mempergauli kedua orang tuamu.
25. Apabila engkau meminta sesuatu dari kedua orang tuamu maka mintalah dengan lemah lembut dan berterima kasihlah jika diberi. Minta maaflah kepada keduanya jika keduanya tidak memberi dan jangan banyak meminta supaya keduanya tidak merasa susah.
26. Jika engkau mampu mencari rizki di waktu pagi maka bekerjalah dan bantulah kedua orang tuamu.
27. Sesungguhnya bagi kedua orang tuamu itu ada hak atasmu dan pada istrimu juga ada hak atasmu, maka berikanlah hak itu kepada yang memiliki haknya. Berusahalah untuk merukunkan di antara keduanya apabila mereka berselisih dan memberikan hadiah kepada orang-orang dekat itu dengan rahasia.
28. Jika kedua orang tuamu berselisih dengan istrimu, maka jadilah orang yang bijak dan berikan pengertian kepada istrimu bahwasanya engkau bersamanya jika ia benar dan engkau terpaksa melakukannya untuk mencari keriadloan keduanya.
29. Jika istrimu berselisih dengan kedua orang tuamu di dalam nikah dan talak, maka berhukumlah kepada syariat karena hal itu adalah sebaik-baik penolong bagimu.
30. Doa kedua orang tua itu niscaya terkabul dalam perkara yang baik dan buruk. Maka berhati-hatilah dirimu terhadap doa buruk keduanya.
31. Jaga adabmu dengan manusia, karena barangsiapa yang mencela orang maka orang itu akan mencelanya pula. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Termasuk dari dosa-dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya, yaitu ia mencela ayah seseorang lalu orang itu mencela ayahnya atau ia mencela ibu seseorang lalu orang itu mencela ibunya”. [HR. al-Bukhoriy dan Muslim].
32. Kunjungilah kedua orang tuamu di masa hidupnya, bersedekahlah atas nama keduanya dan perbanyaklah berdoa,

رَبِّ اغْفِرْ لىِ وِ لِوَالِدَيَّ

“Wahai Rabbku! ampunilah aku dan kedua orang tuaku”. [QS. Nuh/71: 28].

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانىِ صَغِيْرًا

“Wahai Rabbku, rahmatilah keduanya, sebagaimana keduanya telah mendidikku di waktu kecil”. [QS. Al-Isra’/ 17: 24]
Wallahu a’lam bish showab.