Video

Video: Kajian Umum, Islam Kok Liberal

Iklan

SAUDARAKU, SETIAP KITA BISA BERSEDEKAH…

RENUNGAN INDAH ASY-SYAIKH ALI ATH-THANTHAWIY rahimahullah

Syaikh Ali Ath-Thanthawiy rahimahullah berkata,

“Semalam aku amati, kudapati ruangan terasa hangat dan api penghangat ruangan menyala. Sedangkan aku berada di dipan sambil santai. Aku sedang berfikir tentang tema yang akan kutulis. Lampu ada di sampingku, telepon di dekatku, anak-anakku sedang menulis, adapun ibu mereka sedang menenun kain wol.

Kami telah makan dan minum, dan radio mengeluarkan suara lirih, semuanya dalam ketenangan. Tidak ada yang aku keluhkan dan tidak ada pula yang aku meminta tambahannya. Maka lisanku berucap “Alhamdulillah…”, kulepaskan dari lubuk hatiku

Lalu akupun merenung … aku mendapati bahwasanya “Alhamdulillah” bukanlah sebuah kata yang sekedar diucapkan oleh lisan, meskipun diulan-ulang seribu kali…., akan tetapi “Alhamdulillah” atas kenikmatan-kenikmatan adalah sampainya aliran kenikmatan tersebut kepada orang yang membutuhkannya.

“Alhamdulillah” nya si kaya adalah memberi pemberian kepada faqir miskin, “alhamdulillah” nya si kuat dengan membantu kaum lemah, “alhamdulillah” nya si sehat dengan membantu orang-orang sakit, dan “alhamdulillah” nya si hakim dengan berbuat adil kepada orang-orang yang ia hukumi.

Lantas apakah aku sedang memuji Allah atas nikmat-nikmat ini, jika aku dan anak-anakku dalam keadaan kenyang dalam ruangan yang hangat, sementara tetanggaku dan anak-anaknya kelaparan dan kedinginan??

Jika tetanggaku tidak meminta-minta kepadaku, lantas apakah tidak wajib bagiku untuk bertanya kepadanya tentang kondisinya??

Istriku bertanya kepadaku, “Apa yang sedang kau renungkan?”, lalu akupun mengabarkannya. Iapun berkata, “Benar, akan tetapi tidak ada yang bisa memberi kecukupan bagi para hamba kecuali Dzat yang telah menciptakan mereka. Jika engkau hendak memberi kecukupan kepada tetangga-tetanggamu yang miskin maka engkau akan memiskinkan dirimu sebelum engkau berhasil menjadikan mereka berkecukupan”

Aku berkata, “Jika aku seorang kaya tentunya aku tidak akan mampu menjadikan mereka berkecukupan (kaya), maka bagaimana lagi jika aku hanyalah seorang yang pas-pasan (tidak ada penghasilan jelas), Allah memberi rezeki kepadaku sebagaimana memberi rezeki kepada burung yang terbang di pagi hari dengan perut kosong dan balik di sore hari dengan perut kenyang”?

Tidak…, tidak…!!, aku tidak ingin menjadikan para faqir miskin menjadi orang-orang yang kaya berkecukupan, akan tetapi aku ingin berkata, “Permasalahannya adalah relatif !!!”

Dibandingkan para pemilik jutaan uang, aku adalah seorang yang faqir miskin, akan tetapi jika dibandingkan dengan pekerja yang menanggung sepuluh anak dan ia tidak memiliki penghasilan lain kecuali upah kulinya maka aku adalah seorang yang kaya. Pekerja ini jika dibandingkan dengan seorang wanita janda yang hidup sendirian tanpa penghasilan sama sekali dan tidak memegang sepeser hartapun maka sang pekerja adalah seorang kaya. Sang jutawan terhitung miskin jika dibandingkan dengan sang milyarder. Tidak ada seorangpun di dunia yang miskin absolut mutlak atau kaya secara mutlak/absolute (semuanya relatif).

Kalian (mungkin) berkata, “Hari ini si At-Thonthoowi berfilsafat !!”

Tidak…, aku tidak sedang berfilsafat, akan tetapi aku ingin mengutarakan kepada kalian bahwasanya setiap kita –baik lelaki maupun wanita- bisa menemukan orang yang lebih miskin darinya lalu memberi bantuan kepadanya. Jika engkau wahai wanita yang mulia tidak memiliki kecuali lima potong roti, dan sepiring mujaddaroh (yaitu jenis makanan yang terbuat dari nasi dan ‘adas, yang ini merupakan sederhana yang ma’ruf di Suria-pen) maka engkau mampu untuk memberikan sepotong rotimu kepada seorang yang sama sekali tidak memiliki roti. Seseorang yang setelah makan malam masih tersisa tiga piring sayur fasuliya (sejenis kacang-kacangan), nasi, dan sedikit buah-buahan, serta sedikit kue, maka ia mampu untuk memberikan sebagiannya sedikit kepada sang pemilik roti.

Bagaimanapun miskinnya seseorang maka ia mampu untuk memberikan sesuatu kepada orang yang lebih miskin darinya.

Dan janganlah kalian menyangka bahwa apa yang kalian berikan akan pergi hilang begitu saja gratisan, tidak demi Allah…, sesungguhnya kalian akan menerima harga pembayarannya berlipat-lipat ganda, kalian akan menerimanya di dunia sebelum di akhirat. Sungguh aku telah mencobanya dan merasakannya sendiri.

Aku bekerja dan berusaha, dan aku berinfaq/membiyai keluargaku semenjak lebih dari tiga puluh tahun. Aku tidak memiliki pintu-pintu kebaikan dan ibadah yang aku buka kecuali aku menyumbang di jalan Allah jika aku memiliki harta. Seumur hidup aku tidak pernah menabung sedikitpun. Istriku selalu berkata kepada, “Wahai suamiku, paling tidak minimal kau bangunkan rumah buat putri-putri kita !!”. Aku hanya bisa berkata, “Biarlah itu diserahkan kepada Allah”.

Tahukah kalian apa yang terjadi??. Sungguh apa yang telah aku sumbangkan di jalan Allah telah Allah simpan untukku di “bank” kebaikan yang bank tersebut memberi keuntungan bagi para nasabahnya setiap tahun besarnya 7000 %.

Iya…, Allah berfirman,

كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

“Serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji,…” (QS. Al Baqarah : 261)

Dan ada juga tambahan-tambahan yang melipat gandakan keuntungan

وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ

“…,Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS. Al Baqarah : 261)

Allah mengirimkan kepadaku seorang teman yang baik dan mulia, yang termasuk orang-orang terkenal di Damaskus, lalu iapun memberi pinjaman kepadaku biaya untuk membangun rumah. Lalu Allah juga mengirimkan kepadaku sahabat-sahabat yang baik, lalu mereka membangunkan rumah hingga selesai dan sempurna bangunannya. Adapun saya –demi Allah- sama sekali tidak mengetahui perkembangan pembangunan rumah tersebut kecuali sebagaimana orang-orang yang berjalan lewat depan rumah tersebut. Kemudian Allah menolongku dengan menganugerahkan kepadaku rizki yang halal yang tidak aku sangka-sangka, maka akupun melunasi seluruh hutang-hutangku. Kalau ada yang mau tahu maka aku akan menyebutkannya secara rinci dan aku akan sebutkan nama-nama para sahabatku tersebut.

Dan tidaklah aku terjatuh dalam kondisi sempit apapun kecuali Allah akan melapangkannya bagiku. Tidaklah aku membutuhkan sesuatupun kecuali Allah memberikannya kepadaku. Dan setiap aku memiliki harta berlebih kecuali aku simpan di bank akhirat ini.

Apakah ada di dunia ini orang yang berakal yang lebih memilih untuk berhubungan dengan bank makhluk (bank dunia) yang hanya memberi keuntungan yang haram yang hanya 5% , dan bisa jadi bank tersebut bangkrut atau terbakar, lalu ia meninggalkan bank Allah yang memberikan keuntungan bunga 7000% ?, selain itu hartanya di bank akhirat tersebut aman di sisi Penguasa alam semesta?, yang bank tersebut tidak akan bangkrut, tidak akan terbakar, dan tidak memakan harta masyarakat?

Karenanya janganlah kalian menyangka bahwa apa yang kalian sedekahkan akan hilang sia-sia, sesungguhnya Allah akan menggantinya (dengan lebih banyak) di dunia sebelum di akhirat.

Aku akan membawakan sebuah kisah bagi kalian, kisah tentang seorang ibu yang putranya sedang bersafar. Suatu hari ibu ini duduk sambil makan, dan tidak ada dihadapannya kecuali hanya sesuap sayur dan sepotong roti. Lalu datanglah seorang peminta-minta, lalu sang ibupun menahan mulutnya untuk tidak makan lalu ia memberikan makanan tersebut kepada sang peminta-minta sehingga iapun bermalam kelaparan.

Tatkala sang putra tiba dari safarnya maka sang putrapun menceritakan kepada sang ibu tentang apa yang ia temukan dalam perjalanan safarnya. Sang putra berkata, “Diantara perkara yang sangat menakjubkan dalam safarku yaitu di tengah jalan ada seekor singa yang mengikutiku, dan tatkala itu aku hanya sendirian. Maka akupun lari, akan tetapi sang singa berhasil meloncat menerkam aku, dan tanpa aku sadari tiba-tiba aku sudah di hadapan mulutnya. Akan tetapi tiba-tiba ada seorang lelaki yang memakai baju putih muncul di hadapanku lalu menyelamatkan aku dari singa tersebut. Lalu lelaki itu berkata, “Suapan dibalas dengan suapan”. Dan aku tidak paham maksudnya.”.

Lalu sang ibupun bertanya kepada putranya tersebut tentang kapan waktu kejadian tersebut, ternyata pada hari yang sama tatkala ia memberi sesuap makanan kepada pengemis. Sang ibu telah melepaskan tangannya yang berisi sesuap makanan yang hendak ia makan untuk  diberikan sesuap makanan tersebut kepada sang pengemis, maka Allahpun melepaskan dan menyelamatkan anaknya yang hampir menjadi suapan bagi mulut singa.

Sedekah menolak bala’ dan dengan sedekah Allah menyembuhkan orang yang sakit, dan Allah menolak gangguan-gangguan. Hal ini sudah terbukti. Dan ada hadits-hadits yang menunjukkan tentang hal ini.

Seseorang yang beriman bahwasanya alam semesta ini memiliki Tuhan yang mengatur alam, dan di tanganNya lah karunia, dan Dialah yang meyembuhkan dan menyelamatkan, maka dia akan tahu bahwasanya hal ini adalah benar.

Para wanita lebih dekat kepada keimanan dan kelembutan, dan saya sedang menujukan pembicaraanku kepada para wanita yang mulia. Barang apa saja yang sudah tidak dibutuhkan seorang wanita, seperti baju lamanya atau baju anak-anaknya, atau barang-barang yang sudah tidak dibutuhkan seperti kasur atau karpet, demikian juga makanan dan minuman yang berlebihan. Lalu hendaknya ia mengecek keluarga yang miskin dan memberikan kepada mereka, maka jadilah barang-barang ini menjadi kebahagiaan bagi mereka pada bulan ini. Dan janganlah ia memberikan dengan gaya seorang yang sombong dan merasa tinggi. Sesungguhnya pemberian yang sederhana jika disertai dengan senyuman dihadapan wajah sang miskin lebih baik dari pada uang banyak yang kau berikan kepadanya sementara engkau sambil mengangkat hidung karena sombong dan merasa tinggi.

Sungguh aku masih ingat –beberapa tahun yang silam-  putri kecilku si Banan membawa dua piring makanan –di bulan Ramadhan- hendak ia berikan kepada seorang penjaga. Maka aku berkata kepadanya, “Wahai putriku, kemarilah…, ambilah nampan, sendok, garpu, dan gelas yang bersih, lalu berikan dua piring makanan tersebut bersamanya begini…, engkau tidak rugi sedikitpun. Makanannya tidak berubah sama saja, akan tetapi jika engkau berikan kepadanya hanya piring dan roti maka engkau akan menyedihkan hatinya, engkau membuatnya merasa seakan-akan ia seorang peminta-minta atau pengemis. Adapun jika engkau berikan makanan tersebut di atas sebuah nampan disertai gelas, sendok, dan garpu, serta tempat bumbu maka akan mengobati perasaannya dan dia akan merasa seakan-akan ia adalah seorang tamu yang dimuliakan.

Banyak pintu-pintu cara bersedekah yang dilalaikan oleh banyak orang, padahal mudah untuk dilakukan. Diantaranya bersikap mudah dan ramah terhadap para pedagang yang datang ke pintu-pintu rumah-rumah, mereka menjual sayur-mayur, buah-buahan, dan bawang. Lalu ada seorang wanita yang menawarnya dan mendebatnya agar ia menurunkan harga barangnya meskipun sedikit, agar sang wanita menampakkan kemahiran dan kehebatannya dalam menawar. Padahal bisa jadi wanita ini adalah dari keluarga jutawan/ keluarga kaya raya. Adapun sang penjual yang miskin tersebut harga dagangannya yang seharian penuh ia memutari rumah-rumah untuk menjualnya hanya senilai taruhlah 100 ribu rupiah, sementara untungnya hanya 20 ribu rupiah !!!

Wahai para wanita…aku mohon kepada kalian atas nama Allah agar kalian bermudah-mudah untuk membeli dagangan para penjual tersebut, berikan kepada mereka apa yang mereka minta. Jika salah seorang dari kalian merasa rugi sejumlah uang (karena tidak menawar…), maka anggaplah itu sebagai sedekah, bahkan sedekah kepada para penjual tersebut lebih baik daripada sedekah kepada pengemis…

Intinya -wahai para pembaca yang budiman- barang siapa yang ingin Allah kirimkan baginya orang yang lebih kaya dan lebih kuat darinya (untuk membantunya) maka hendaknya ia memperhatikan orang yang lebih lemah dan lebih miskin darinya. Hendaknya setiap kita memposisikan dirinya seperti posisi saudaranya (yang miskin), hendaknya ia menghendaki kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia menghendaki kebaikan bagi dirinya. Sesungguhnya kenikmatan dan karunia hanyalah terjaga dan bertambah dengan bersyukur kepada Allah, dan bersyukur tidak hanya dengan sekedar diucapkan oleh lisan saja. Jika ada seseorang yang memegang tasbih lalu mengucapkan “Alhamdulillah” sebanyak 1000 kali, sementara ia tetap pelit dengan hartanya, pelit dengan kedudukannya (tidak mau membantu dengan memanfaatkan kedudukannya-pen), dan ia menzolimi dengan kekuasaannya jika ia memiliki kekuasaan, maka ia bukanlah orang yang memuji Allah, akan tetapi seorang yang pendusta dan riyaa’.

Hendaknya kalian memuji Allah dengan praktek nyata, dan berbuatlah baik kepada orang lain sebagaimana kalian suka Allah berbuat baik kepada kalian. Ketahuilah apa yang aku serukan kepada kalian pada hari ini adalah merupakan sebab kemenangan dan kejayaan Islam mengalahkan para musuh, dan merupakan bentuk persiapan untuk meraih kemenangan. Ini merupakan bentuk jihad dengan berkorban harta, dan jihad ini adalah saudaranya jihad dengan berkorban jiwa.

Semoga Allah merahmati seorang yang mendengar nasehat lalu ia mengamalkannya, dan tidak menjadikan nasehat tersebut masuk di telinga kanannya untuk dikeluarkan dari telinga kirinya.

(Tulisan indah ini ditulis oleh Syaikh Ali Ath-Thonthoowi rahimhaullah di majalah al-Idzaa’ah pada tahun 1956. Tulisan ini banyak disebarkan di internet, diantaranya silahkan lihat http://www.paldf.net/forum/showthread.php?t=1075215, http://www.khawlan.com/vb/t23874.html, dan http://www.lyaleal6rb.net/vb/showthread.php?t=1405)

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 25-03-1434 H / 07 Februari 2013 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
http://www.firanda.com

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

SAUDARAKU, JANGAN BINGUNG DENGAN QUNUT.!!!…

Apa Hukum Qunut dalam Sholat?

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (9)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [9-Tamat]

Januari 5, 2011

القاعدة الرابعة

أن مشركي زماننا أغلظ شركا من الأولين لأن الأولين يشركون في الرخاء ويخلصون في الشدة، ومشركو زماننا شركهم دائما في الرخاء والشدة، والدليل قوله تعالى}: فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ ) { العنكبوت آية 65

Kaidah yang keempat:

Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu, karena (kaum musyrikin) dahulu berbuat syirik (ketika) keadaan senang dan mereka ikhlas dalam keadaan susah. Sementara kaum musyrikin zaman kita, kesyirikan mereka terus-menerus dalam keadaan senang maupun susah, dan dalilnya adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alloh).” (Al Ankabut: 65)[1]


[1] SYARAH:

Kaidah keempat dan terakhir: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu yang Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- diuitus kepada mereka.

Adapun sebabnya telah jelas, Allah subhanah wa ta’ala mengabarkan bahwa kaum musyrikin terdahulu ikhlas kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- ketika mengalami kesusahan dan tidak berdoa kepada selain Allah -subhanahu wa ta’ala-, karena mereka tahu tidak ada yang dapat melepaskan seseorang dari kesusahan kecuali Allah -subhanahu wa ta’ala-, sebagaimana dinyatakan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala-,

وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإِنْسَانُ كَفُوراً

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya dilautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al Isra’: 67)

Dalam ayat yang lain,

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikanketaatan kepada-Nya”; yaitu mengikhlaskan doa pada-Nya.”(Al Ankabut: 76)

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ

“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” (Luqman: 32)

Dan dalam ayat yang lain,

فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut: 65)

Orang-orang musyrikin terdahulu berbuat syirik (ketika) mereka dalam keadaan senang. Mereka berdoa kepada berhala, batu-batu dan pohon-pohon. Adapun ketika terjatuh dalam kesusahan dan hampir mengalami kehancuran, mereka tidak berdoa kepada berhala, tidak pada pohon, tidak pula pada batu dan mahluk apapun –mereka- hanya berdoa kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- saja. Maka, jika tidak ada yang dapat melepaskan seseorang dari kesusahan kecuali Allah -subhanahu wa ta’ala-, bagaimana berdoa kepada selain-Nya dalam keadaan senang ???

Sementara kaum musyrikin pada zaman sekarang yakni orang-orang mutaakhirin yang melakukan kesyirikan dari umat Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- ini, sesungguhnya kesyirikan mereka terus –menerus baik dalam keadaan senang maupun susah. (Ketika senang) mereka tidak mengikhlaskannya untuk Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak pula dalam keadaan susah. Bahkan tatkala bertambah kesusahan mereka, bertambah pula kesyirikan dan panggilan mereka kepada Hasan, Husain, Abdul Qadir, Rifa’i serta selain itu, dan ini adalah perkara yang telah diketahui. Disebutkan pula oleh mereka terjadinya keajaiban dilautan, bahwa ketika mengalami perkara yang susah mereka memanggil nama-nama para wali dan orang-orang shalih serta beristighotsah kepada mereka, karena para da’i kebathilan dan kesesatan berkata kepada mereka: “Kami menyelamatkan kalian dari lautan, maka jika kalian tertimpa sesuatu panggillah nama-nama kami, kami akan menyelamatkan kalian.” Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari syaikh-syaikh Tariqat Sufiyyah. Jika kalian mau, bacalah “Thabaqat Sya’rani”, maka didalamnya akan terdapat (cerita-cerita) yang membuat gemetar kulit-kulit tentang apa yang dinamakan karamahnya para wali, bahwa mereka menyelamatkan dari lautan. Tangan mereka menjulur kelautan dan membawa kapal semuanya lalu mengeluarkannya ke darat sementara tidak basah lengan-lengannya, dan selain itu dari kebathilan dan khurafat mereka. Maka mereka terus-menerus melakukan kesyirikan baik dalam keadaan senang maupun susah, bahkan kesyirikan mereka lebih besar dibanding kaum musyrikin terdahulu.

Dan juga sebagaimana dikatakan oleh Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah-) dalam kitab “Kasyfu Syubhat”; “Sisi yang lain, bahwasanya kaum musyrikin dahulu menyembah orang-orang shalih dari kalangan malaikat, para nabi dan para wali –sedangkan (kaum musyrikin sekarang)- mereka menyembah manusia yang paling jahat, dalam keadaan mereka mengetahui hal itu. (Mereka menyembah) orang yang mereka namakan Al Aqthab dan Al Aghwaats, padahal mereka itu tidak shalat, tidak berpuasa, serta tidak menjaga diri dari zina, liwath (homo sex) dan perbuatan keji (lainnya). Karena –menurut persangkaan mereka- (Al Aqthab dan Al Aghwaats) tidaklah memiliki taklif (beban syariat), sehingga tidak ada (baca: tidak berlaku) halal dan haram bagi mereka, karena halal dan haram hanyalah untuk orang awam. Mereka mengetahui bahwa peminpin mereka tidak shalat, tidak berpuasa, dan tidak menjaga diri dari perbuatan keji, namun bersamaan dengan itu mereka menyembahnya. Bahkan mereka menyembah manusia yang paling keji: seperti Al Hallaj, Ibnu Arabi, Rifa’i, Badawi dan selain mereka.

Syaikh -rahimahullah- membawakan dalil bahwa musyrikin mutaakhirin (zaman ini) lebih besar dan lebih keras kesyirikannya dari pada (musyrikin) terdahulu, karena (musyrikin) dahulu mereka ikhlas (kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-) dalam keadaan susah dan berbuat syirik dalam keadaan senang, beliau berdalil dengan firman Allah -subhanahu wa ta’ala-:

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Al Ankabut: 65)

Mudah-mudahan shalawat dan salam Allah -subhanahu wa ta’ala- atas Nabi kita Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam-, keluarga serta seluruh sahabatnya.

و الحمد لله رب العالمين

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/05/penjelasan-kaidah-dalam-memahami-tauhid-dan-syirik-9-tamat/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (8)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [8]

Januari 5, 2011

ودليل الشمس والقمر قوله تعالى} وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ  {فصلت آية 37

ودليل الملائكة قوله تعالى: {  وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً } (آل عمران آية 80

ودليل الأنبياء قوله تعالى } :  وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ{   ) المائدة آية 116

ودليل الصالحين قوله تعالى } : أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ) { الإسراء آية 57

ودليل الأشجار والأحجار قوله تعالى: {  أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى } (النجم الآيتان: 19، 20

وحديث أبي واقد الليثي  قال: { خرجنا مع النبي  إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط فمررنا بسدرة فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط } (الحديث)

Adapun dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) matahari dan bulan adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan.” (Fushilat: 37)[1]

Dan dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) malaikat adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُواْ الْمَلاَئِكَةَ وَالنِّبِيِّيْنَ أَرْبَاباً

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan.” (Ali Imran: 80)[2]

Dan dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) para Nabi adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

Dan ingatlah ketika Alloh berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Alloh?” ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (Al Maidah: 116)[3]

Dan dalilnya (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) orang-orang shalih adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Alloh) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Al Isra’: 57)[4]

Dan dalil (bahwa ada diantara kaum musyrikin yang beribadah kepada) batu-batu dan pohon-pohon adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى  وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Alloh)? (An Najm: 19-20)[5]

Dan haditsnya Abi Waqid Al Laitsi radhiyAllohu’anhu dia berkata:

“Kami keluar bersama Nabi -shallAllohu’alaihi wa sallam- ke Hunain dan saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam-pent). Orang-orang musyrik mempunyai pohon yang mereka beri’tikaf di sana serta menggantungkan senjata-senjata mereka padanya yang dinamakan Dzatu Anwaath, lalu kami melewati sebuah pohon, kemudian kami berkata: Wahai Rasulullah buatkan bagi kami Dzatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwaath …al hadits.[6]


[1] SYARAH:

(Ini) menunjukkan bahwa (di antara mereka) ada yang sujud kepada matahari dan bulan. Oleh karena itu Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- melarang shalat ketika matahari terbit dan terbenamnya dalam rangka menutup jalan (kesyirikan, ed) ke arah tersebut. Karena ada orang yang sujud kepada matahari ketika terbit dan terbenamnya, maka kita dilarang shalat pada dua waktu itu. Meskipun shalat tersebut untuk Allah -subhanahu wa ta’ala-, namun karena shalat pada waktu itu menyerupai perbuatan orang-orang musyrik, (maka kita) dilarang darinya dalam rangka menutup jalan yang dapat menghantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- datang dengan larangan terhadap kesyirikan serta menutup jalan yang menghantarkan kesana.

[2] SYARAH:

Menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi, dan sesungguhnya hal itu adalah termasuk syirik.

Para penyembah kubur pada hari ini menyatakan: Bahwa orang yang menyembah malaikat, para nabi serta orang-orang yang shalih tidaklah kafir.

[3] SYARAH:

Ini merupakan dalil bahwa ibadah kepada para nabi adalah syirik sebagaimana ibadah kepada berhala.

Di dalamnya terdapat bantahan atas orang yang membedakan hal itu, dari kalangan penyembah kuburan.

Juga bantahan bagi mereka yang menyatakan: Bahwa syirik itu adalah menyembah berhala (saja). Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah berhala dengan orang yang menyembah wali atau orang shalih. Mereka mengingkari persamaan diantara mereka, dan menyangka bahwa syirik itu terbatas pada penyembahan kepada berhala saja. Maka ini termasuk kesalahan yang nyata dari dua sisi:

  • Sisi pertama: Bahwa Allah -‘azza wa jalla- mengingkari semuanya dalam Al Qur’an, dan memerintahkan untuk memerangi mereka seluruhnya.
  • Sisi kedua: Bahwa Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- tidak membedakan antara penyembah berhala dengan penyembah malaikat atau orang shalih.

[4] SYARAH:

Merupakan dalil bahwa ada orang yang beribadah kepada orang shalih dari kalangan manusia. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).”

Dikatakan: ayat ini turun kepada orang yang menyembah Al Masih -‘alaihissalam- dan ibunya, serta Uzair. Lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- mengabarkan bahwa Al Masih -‘alaihissalam- dan ibunya yaitu Maryam, serta Uzair –mereka semua- adalah hamba-hamba Allah -‘azza wa jalla-. Mereka mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dan mengharap rahmat-Nya serta takut terhadap adzab-Nya. Mereka adalah hamba yang butuh kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dan memerlukan-Nya, berdo’a kepada-Nya serta mencari wasilah kepada-Nya dengan ketaatan.

يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ   “mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”, yaitu kedekatan terhadap Allah -‘azza wa jalla- dengan taat dan beribadah kepada-Nya. Kemudian (Allah -‘azza wa jalla-) menunjukkan bahwa –mereka itu- tidaklah pantas untuk diibadahi karena mereka adalah manusia yang sangat butuh dan kekurangan, mereka berdoa kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- mengharapkan rahmat-Nya, serta takut akan adzab-Nya. Barangsiapa demikian keadaannya, maka tidaklah pantas untuk diibadahi bersama Allah -‘azza wa jalla-.

Pendapat yang kedua: ayat ini turun terhadap orang-orang musyrik yang menyembah sekelompok jin. Lalu (sekelompok) jin tersebut masuk Islam sementara orang-orang yang menyembahnya tidak mengetahui keislaman mereka. Mereka (sekelompok jin tadi, ed) mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan ketaatan dan ketundukan, berharap akan rahmat-Nya serta takut akan adzab-Nya. Mereka adalah hamba yang membutuhkan dan fuqara’, sehingga tidak pantas untuk diibadahi.

Dan apapun yang dimaksukan dari ayat yang mulia ini, sesungguhnya ayat itu menunjukkan bahwa tidak boleh beribadah kepada orang-orang shalih, sama saja apakah mereka para Nabi dan shidiqin, atau para wali dan orang-orang shalih. Tidak boleh beribadah kepada mereka, karena semuanya adalah hamba Allah yang butuh kepada-Nya, maka bagaimana mereka itu diibadahi bersama Allah?

Wasilah artinya taat dan dekat. Menurut bahasa, wasilah adalah sesuatu yang menyampaikan kepada yang dimaksud (dituju). Maka sesuatu yang menyampaikan (kita) kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, adalah wasilah kepada Allah, dan ini adalah wasilah yang disyariatkan, sebagaimana dalam firman Allah -subhanahu wa ta’ala-:

وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ

“Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Maidah: 35)

Adapun muharrifun (orang-orang yang menyelewengkan makna) menyatakan: Wasilah adalah engkau menjadikan (sesuatu sebagai) perantara antara kamu dan Allah dari kalangan wali-wali, orang shalih dan orang-orang yang sudah meninggal. Engkau menjadikan mereka sebagai perantara antara kamu dengan Allah -subhanahu wa ta’ala- untuk mendekatkan dirimu kepada-Nya,

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Kami tidak meyembah mereka melaikan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)

Maka pengertian wasilah menurut muharrifun: Engkau menjadikan sesuatu sebagai perantara antara kamu dengan Allah (untuk) mengenalkanmu kepada Allah menyampaikan keperluanmu kepada-Nya, seakan-akan Allah itu tidak tahu, atau seakan-akan Allah itu bakhil, tidak akan memberi kecuali setelah didesak oleh seorang perantara. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Mereka menyamakan Allah dengan manusia. Kemudian mereka berkata, Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka. (Al Isra’: 57)

(Ini) menunjukkan bahwa, menjadikan makhluk sebagai perantara kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah perkara yang disyariatkan, karena Allah -subhanahu wa ta’ala- memuji pelakunya. Dalam ayat yang lain Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 35)

Mereka berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk mengambil wasilah kepada-Nya, dan pengertian wasilah adalah perantara.” Demikianlah, mereka menyelewengkan kalimat dari tempatnya.

Sedangkan wasilah yang disyariatkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah yaitu dengan ketaatan yang mnedekatkan kepada Allah, yakni bertawassul (mengambil Wasilah) kepadaNya dengan nama-nama-Nya dan Sfat-sifat-Nya. Inilah wasilah yang disyariatkan. Adapun tawassul dengan mahluk kepada Allah, maka hal ini adalah wasilah yang dilarang dan syirik, dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dahulu.

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain dari pada Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az Zumar: 3)

Dari sini, maka kesyirikan orang-orang terdahulu dan yang terakhir –sama saja- meskipun mereka menamakannya wasilah, tetap saja dia syirik yang sebenarnya, dan itu bukan wasilah yang disyariatkan oleh Allah, karena Allah tidak menjadikan kesyirikan sebagai wasilah kepada-Nya –selamanya-. Dan bahwa syirik itu justru akan menjauhkan (diri kita) dari Allah.

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka Allah pasti akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah: 72)

Maka bagaimana syirik itu dijadikan sebagai wasilah kepada Allah???, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan.

Syahid (Penguat) dari ayat ini adalah, ayat ini menunjukkan bahwa di sana ada orang musyrik yang beribadah kepada orang shalih, karena Allah menerangkan hal itu, dan menerangkan bahwa yang mereka sembah adalah hamba yang faqir.

يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ   yaitu mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dengan ketaatan.

أَيُّهُمْ أَقْرَبُ   yaitu berlomba-lomba dengan ibadah kepada Allah karena butuhnya mereka kepada Allah dan keperluan mereka.

وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ  “Dan menharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” Maka barangsiapa keadaannya demikian, tidak pantas untuk menjadi sesembahan yang diseru dan diibadahi bersama Allah -‘azza wa jalla-.

[5] SYARAH:

Ayat ini merupakan dalil bahwa ada orang-orang musyrik yang beribadah kepada batu-batu dan pohon-pohon.

Firman Allah: أَفَرَأَيْتُمُ “Maka apakah patut” ini adalah pertanyaan pengingkaran, yaitu: kabarkan kepada-Ku; merupakan pertanyaan pengingkaran dan celaan.

اللَّاتَ dengan mentahfif ta’: adalah nama berhala di daerah Thaif, yaitu sebuah batu besar yang diukir, di atasnya dibangun rumah dan padanya ada sitar menyerupai Ka’bah. Di sekelilingnya terdapat lapangan, dan di sisinya ada penjaga (juru kunci). Mereka beribadah kepadanya selain Allah. Berhala ini milik kaum Tsaqif dan qabilah-qabilah yang loyal kepada mereka, dan bangga dengannya.

Dan dibaca  dengan mentasydid ta’, adalah ismul fa’il dari [. . .] dia adalah seorang laki-laki shalih yag dulunya mengadoni tepung dan memberi makan orang-orang yang haji. Tatkala dia meninggal, mereka membangun rumah diatas kuburnya, kemudian menutupnya dengan sitar (kelambu). Lalu mereka beribadah kepadanya, dialah Laata.

وَالْعُزَّى Al Uzza adalah pohon dari As Salam di lembah Nahlah antara Makkah dan Thaif. Di sekitarnya terdapat bangunan dan kelambu, dan di sisinya ada juru kunci. Di situ ada setan yang berbicara dengan manusia, sehingga orang-orang yang bodoh menyangka bahwa yang mengajak bicara mereka adalah pohon tersebut atau rumah yang mereka bangun di sana. Padahal yang berbicara dengan mereka adalah setan-setan yang menyesatkan mereka dari jalan Allah -‘azza wa jalla-. Berhala ini milik kaum Quraisy dan penduduk Makkah serta orang-orang di sekitarnya.

وَمَنَاةَ Mannah adalah sebuah batu besar yang terletak di dekat gunung Qudid antara Makkah dan Madinah. Berhala ini milik suku Khuza’ah, Aus dan Khazraj. Mereka berihram di sisinya ketika haji, dan mengibadahinya.

Tiga berhala ini merupakan berhala terbesar bangsa Arab.

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An Najm: 19-20)

Apakah berhala tersebut mencukupi kalian? Apakah memberi manfaat kepada kalian? Apakah menolong kalian? Apakah berhala itu mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan? Apa yang kalian peroleh darinya? Ini termasuk bab pengingkaran dan peringatan bagi akal untuk kembali kepada petunjuk-Nya. Dia hanyalah batu besar dan pohon yang tidak dapat memberikan manfaat dan bahaya.

Maka tatkala Allah -subhanahu wa ta’ala- mendatangkan Islam dan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- berhasil menguasai Makkah yang dimuliakan, Beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- mengutus Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu dan Abu Sufyan bin Harb radhiyallahu’anhu menuju Al Laata di Thaif, kemudian mereka menghancurkannya atas perintah Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-. Beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- juga mengutus Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu ke Al Uzza, lalu dia menghancurkannya, menebang pohon-pohon serta membunuh jin perempuan yang ada disitu yang berbicara dengan manusia dan menyesatkan mereka. Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu menghilangkannya hingga tak tersisa –Alhamdulillah-. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- mengutus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ke Manat, lalu dia menghancurkan dan menghilangkannya. Berhala itu tidak dapat menyelamatkan dirinya, maka bagaimana dia dapat menyelamatkan keluarga dan penyembahnya ???

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An Najm: 19-20)

Kemana dia pergi? Apakah dia memberi manfaat kepada kalian? Apakah dirinya bisa menghalangi tentara Allah -‘azza wa jalla- dan pasukan muwahhidin (ahli tauhid)?

Maka ayat ini menunjukkan bahwa di sana ada yang menyembah pohon-pohon dan batu-batu, bahkan ketiga berhala tersebut adalah berhala terbesar mereka. Bersamaan dengan ini Allah -subhanahu wa ta’ala- menghilangkan wujudnya, sementara dia tidak dapat menghindar darinya dan tidak pula memberi manfaat kepada keluarga (pengikutnya). Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- menyerang dan memerangi mereka, namun berhala-berhala itu tidak dapat menghalanginya.

Maka Syaikh -rahimahullah- berdalil dengan ayat ini bahwa di sana ada yang menyembah batu-batu dan pohon-pohon. Subhanallah! Manusia yang berakal menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang tidak bernyawa, tidak memiliki akal, gerakan serta kehidupan, lalu dimana akalnya manusia? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan –‘uluwwan kabira-.

[6] SYARAH:

Dari Abi Waqid Al Laitsi radhiyallahu’anhu dan yang masyhur beliau termasuk sahabat yang masuk Islam pada waktu fathul Makkah tahun ke delapan Hijrah.

Al Anwath adalah bentuk jamak dari nauth (gantungan), yakni tempat gantungan dimana mereka menggantungkan senjata-senjata mereka padanya untuk mencari berkah dengannya. Lalu berkata sebagian sahabat yang baru masuk Islam dan belum mengetahui tauhid secara sempurna “Buatkan bagi kami Dzatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu An Waath.” Ini adalah termasuk jeleknya taqlid dan tasyabbuh (meniru-niru), dan sebesar-besarnya kejelekan. Maka ketika itu Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- takjub (heran) dan mengucapkan:

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar”! Jika ada sesuatu yang menakjubkan atau mengingkari sesuatu, beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- bertakbir atau mengucapkan: “Subhanallah“ dan mengulang-ulangnya.

[السبل] yaitu jalan-jalan yang ditempuh oleh manusia dimana sebagian mengikuti sebagian lainnya. Maka sebab yang membawa kalian atas perbuatan ini adalah mengikuti jalannya orang-orang terdahulu dan meniru kaum musyrikin.

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya kalian telah menyatakan sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa “buatkan bagi kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan, Musa menjawab: “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti.”

Tatkala Musa -‘alaihissalam- melewati lautan bersama Bani Israil dan Allah menenggelamkan musuh mereka ke dalam lautan sementara mereka menyaksikannya, mereka melewati orang-orang musyrik yang sedang beri’tikaf pada berhalanya. Lalu mereka berkata kepada Musa -‘alaihissalam-, “Buatkan bagi kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan”, maka Musa -‘alaihissalam- menjawab: “Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti.” Musa -‘alaihissalam- mengingkari mereka seraya berkata: إِنَّ هَـؤُلاء مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ  “Sesungguhnya mereka akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya”, yaitu bathil.

وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ “Dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan”, karena syirik.

قَالَ أَغَيْرَ اللّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَـهاً وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ  “Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” Musa -‘alaihissalam- mengingkari mereka sebagaimana nabi kita Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- mengingkari mereka (para shahabat beliau –pent). Tetapi mereka (Bani Israil) dan para sahabat belum mengerjakannya. Seandainya ketika itu (benar-benar) membuat Dzatu Anwaath, sungguh mereka telah berbuat syirik, namun Allah menjaga mereka, sehingga tatkala nabi mereka melarangnya mereka berhenti, dan mengatakan bahwa perkataan ini (bersumber) dari kebodohan dan bukanlah mereka mengucapkannya karena kesengajaan. Ketika mereka tahu bahwa hal itu adalah syirik, maka mereka berhenti dan tidak melakukannya. Seandainya mereka laksanakan, niscaya mereka telah berbuat syirik kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Maka syahid (penguat) dari ayat ini adalah, bahwa di sana ada yang beribadah kepada pohon-pohon, karena orang-orang musyrik mengambil Dzata Anwaath. Para sahabat yang ilmu belum mantap dihati-hati mereka mencoba untuk meniru kaum musyrikin andai saja Allah tidak menjaga mereka dengan Rasul-Nya.

As Syahid: Bahwa disana ada yang mencari berkah kepada pohon-pohon dan beri’tikaf pada-nya. Dan i’tikaf artinya tinggal di sisinya beberapa waktu dalam rangka mendekatkan diri kepadanya, maka i’tikaf adalah tinggal pada suatu tempat.

Ini menunjukkan beberapa permasalahan yang besar:

  1. Masalah pertama: Bahayanya jahil (tidak mengetahui) tauhid. Barangsiapa tidak mengetahui tauhid, pantas baginya jatuh pada kesyirikan, sementara dia tidak mengetahuinya. Maka wajib mempelajari tauhid dan apa yang bertentangan dengannya dari (perbuatan-perbuatan) syirik, sampai manusia itu berada di atas bashirah (ilmu) sehingga tidak datang dari kebodohannya. Apalagi jika dia tidak melihat seseorang mengerjakan kesyirikan tersebut kemudian dia menyangkanya benar dengan sebab kebodohannya. Maka terkandung di dalamnya; bahaya kebodohan, lebih-lebih dalam masalah aqidah.
  2. Masalah kedua: Hadits ini (menunjukkan) bahayanya meniru orang-orang musyrik, karena kadang hal itu dapat mengantarkan kepada kesyirikan. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda:“Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”

    Maka tidak boleh meniru-niru kaum musyrikin.

  3. Masalah ketiga: Bahwa bertabarruk (meminta berkah) kepada batu-batu dan pohon-pohon serta bangunan adalah syirik, meskipun dinamakan dengan selain namanya. Karena hal itu berarti mencari berkah kepada selain Allah dari batu-batu, pohon-pohon, dan kuburan. Ini adalah syirik meskipun dinamakan dengan nama selain syirik.

Bersambung.. Insya Alloh..

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/05/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-8/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (7)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [7]

Januari 5, 2011

القاعدة الثالثة

أن النبي  ظهر على أناس متفرقين في عباداتهم، منهم من يعبد الملائكة، ومنهم من يعبد الأنبياء والصالحين، ومنهم من يعبد الأشجار والأحجار، ومنهم من يعبد الشمس والقمر وقاتلهم رسول الله  ولم يفرق بينهم، والدليل قوله تعالى: {  وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه} (الأنفال آية 39

Kaidah yang ketiga:

Bahwasanya Nabi -shallAllohu’alaihi wa sallam- muncul pada manusia yang ibadahnya berbeda-beda. Diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para Nabi dan orang-orang shalih, ada yang menyembah batu-batu dan pohon-pohon, dan ada yang menyembah matahari dan bulan; dan Rasulullah -shallAllohu’alaihi wa sallam- memerangi mereka tanpa membeda-bedakannya. [1] Dalilnya firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata hanya untuk Alloh.” (Al Anfal: 39) [2]

 


[1] SYARAH:

Kaidah yang ketiga: Bahwasanya Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- diutus kepada kaum musyrikin, diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah matahari dan bulan, ada yang menyembah patung, batu-batu, pohon-pohon, dan ada yang menyembah para wali dan orang-orang shalih.

Inilah kejelekan syirik dimana pelakunya tidak berkumpul pada sesuatu yang satu. Berbeda dengan muwahhidin (orang yang bertauhid), sesungguhnya sesembahan mereka itu satu yaitu Allah -subhanahu wa ta’ala-:

أَأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ  مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِ إِلاَّ أَسْمَاء سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَآؤُكُم

“Tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah selein Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.” (Yusuf: 39-40)

Dan diantara kejelekan syirik serta kebathilannya adalah bahwa pelakunya berbeda-beda dalam ibadahnya. Mereka tidak bersepakat dalam satu ketentuan/patokan, karena tidak berjalan di atas suatu pokok, melaikan berjalan di atas hawa nafsu dan pengakuan-pengakuan yang sesat, sehingga bertambah banyaklah perpecahan mereka.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلاً الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Az Zumar: 29)

Orang yang beribadah kepada Allah -‘azza wa jalla- saja seperti seorang budak yang menghamba kepada satu orang dan bersenang-senang dengannya. Dia mengetahui maksudnya dan mengetahui permintaannya sehingga dapat bersenang-senang dengannya. Akan tetapi orang musyrik seperti orang yang mempunyai beberapa tuan, dia tidak tau siapa yang ridha di antara mereka. Setiap tuan mempunyai kesukaan, permintaan, keinginan, dan masing-masing menginginkan dia datang disisinya. Oleh karena itu Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً رَّجُلاً فِيهِ شُرَكَاء مُتَشَاكِسُونَ, maknanya yaitu dimiliki oleh beberapa orang. Dia tidak tau mana yang ridho di antara mereka.

وَرَجُلاً سَلَماً لِّرَجُلٍ  maknanya dikuasai (dimiliki) oleh satu orang saja, dan ia bersenang-senang bersamanya.

Demikianlah permisalan yang dibuat Allah -subhanahu wa ta’ala- untuk orang musyrik dan muwahhidin.

Orang-orang musyrik itu berbeda-beda dalam ibadahnya, dan Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- memerangi mereka tanpa membeda-bedakannya. Beliau memerangi penyembah berhala, orang-orang Yahudi, Nashara, Majusi serta seluruh kaum musyrikin. Beliau juga memerangi orang-orang yang menyembah malaikat, menyembah para wali dan orang-orang shalih, tanpa membedakan mereka.

Ini adalah bantahan bagi orang yang mengatakan: “Orang yang menyembah patung tidak sama dengan mereka yang menyembah orang shalih atau seorang malaikat dari para malaikat, karena mereka menyembah batu-batu, pohon dan benda mati. Maka mereka yang menyembah orang shalih dan wali dari kalangan wali-wali Allah -‘azza wa jalla- tidaklah sama dengan orang yang menyembah berhala.”

Dengan ucapan tersebut, mereka menginginkan bahwa orang yang menyembah kuburan saat ini, hukumnya adalah berbeda dengan orang yang menyembah berhala. Mereka tidak dikafirkan, dan perbuatan mereka tidak dianggap sebagai kesyirikan, sehingga tidak boleh diperangi.

Kami katakan: “Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- tidak membedakan mereka, bahkan menganggap mereka seluruhnya musyrik, sehingga halal darah serta harta mereka. Tidak berbeda antara mereka dan orang yang menyembah Al Masih (Isa ‘alaihis salam)-dan Al Masih adalah seorang Rasul Allah -‘azza wa jalla– Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- memerangi mereka. Demikian pula orang-orang Yahudi, mereka menyembah Uzair –salah seorang nabi atau orang shalih di kalangan mereka- Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- memerangi tanpa membeda-bedakan mereka. Maka, syirik itu tidak berbeda antara penyembah orang shalih, dan penyembah berhala, batu-batu atau pohon-pohom, karena syirik adalah ibadah kepada selain Allah -‘azza wa jalla- apapun bentuknya. Oleh karena itu Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (An Nisaa: 36)

Kata (شَيْئاً) “sesuatupun” dalam konteks larangan mencakup segala sesuatu, yakni seluruh yang disekutukan bersama Allah -‘azza wa jalla-, dari kalangan malaikat, rasul, orang-orang shalih, para wali, batu-batu maupun pepohonan.

[2] SYARAH:

Merupakan dalil atas diperanginya kaum musyrikin tanpa membedakan sembahan mereka. Firman Allah -subhanahu wa ta’ala-: وَقَاتِلُوهُمْ  “Dan perangilah mereka” ini adalah umum untuk setiap orang musyrik, tanpa kecuali!

Kemudian Allah menyatakan: حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ   “Supaya jangan ada fitnah”, fitnah disini adalah syirik, yaitu: (agar) tidak ada kesyirikan. Maka ini umum untuk seluruh kesyirikan apapun bentuknya, sama saja kesyirikan dengan wali-wali dan orang shalih, dengan batu-batu, pohon, matahari atau bulan.

وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه   “dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” yakni menjadilah agama itu seluruhnya untuk Allah -‘azza wa jalla-, tidak ada sekutu bagi-Nya seorangpun siapa saja dia. Maka tidak ada perbedaan antara syirik dengan para wali dan orang-orang shalih, atau syirik dengan batu-batu, pohon, setan-setan dan selain mereka.

Bersambung.. Insya Alloh..

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/05/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-7/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (6)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [6]

Januari 5, 2011

القاعدة الثانية

أنهم يقولون: ما دعوناهم وتوجهنا إليهم إلا لطلب القربة والشفاعة

فدليل القربة قوله تعالى: { وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى } (الزمر آية 3

Kaidah yang kedua :

Bahwasanya mereka menyatakan : “Tidaklah kami berdo’a kepada mereka serta menghadap mereka kecuali untuk mencari qurbah (kedekatan) dan syafa’at. Dalilnya qurbah adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata) : “kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Alloh akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (Az Zumar : 3)[1]

ودليل الشفاعة قوله تعالى: { وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ } (يونس آية 18

والشفاعة شفاعتان:

1 – شفاعة منفية.

2 – وشفاعة مثبته.

فالشفاعة المنفية: ما كانت تطلب من غير الله فيما لا يقدر عليه إلا الله. والدليل قوله تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ } (البقرة 254. )

والشفاعة المثبتة: هي التي تطلب من الله والشافع مكرم الشفاعة، والمشفوع له من قوله وعمله بعد الإذن كما قال تعالى: { مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ } (البقرة آية 255

Dan dalil syafa’at adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain dari Alloh apa yang tidak mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami disisi Alloh” (Yunus : 18)

Syafa’at itu ada dua, yakni syafaat manfiyyah dan syafaat mutsbitah.

  1. 1. Syafaat manfiyyah adalah syafaat yang diminta dari selain Alloh -subhanahu wa ta’ala- dalam perkara yang tidak mampu atasnya kecuali Alloh -subhanahu wa ta’ala-, dalilnya adalah firman Alloh -‘azza wa jalla-,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (dijalan Alloh) sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim.” (Al Baqarah : 254)

  1. 2. Sedangkan syafaat mutsbitah adalah syafaat yang diminta dari Alloh -subhanahu wa ta’ala-, dan yang memberi syafaat adalah orang yang dimuliakan dengan syafaat, sementara yang diberi syafaat adalah orang yang diridhai oleh Alloh -subhanahu wa ta’ala- baik ucapan maupun amalannya setelah (mendapat) izin, sebagaimana firman Alloh -subhanahu wa ta’ala- :

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafaat disisi Alloh tanpa seizin-Nya” (Al Baqarah : 255)[2]


[1] SYARAH :

Kaidah yang kedua : Sesungguhnya orang-orang musyrik, mereka dinamakan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- kaum musyrikin, dan Allah -subhanahu wa ta’ala- menghukumi mereka kekal di neraka –mereka tidak berbuat syirik dalam rububiyyah tetapi berbuat syirik dalam uluhiyyah. Mereka tidak menyatakan bahwa Tuhan-tuhan memberi rezeki bersama Allah -subhanahu wa ta’ala-, memberikan manfaat atau bahaya, dan mengatur (alam semesta ini-pent) bersama Allah -subhanahu wa ta’ala-, hanya saja mereka menjadikan tuhan-tuhan tersebut sebagai pembei syafa’at, sebagaimana Allah -subhanahu wa ta’ala- menyatakan tentang mereka,

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata : “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kami disisi Allah” (Yunus : 18)

“..apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan..”; Mereka mengetahui bahwa tuhan-tuhan mereka tidak dapat medatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) memberi kemanfaatan. Tetapi mereka menjadikan tuhan-tuhan itu sebagai pemberi syafa’at, yaitu perantara di sisi Allah -subhanahu wa ta’ala- dalam memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga mereka menyembelih dan bernadzar untuk tuhan-tuhan tersebut. Bukan karena meyakininya sebagai pencipta atau pemberi rezki, mendatangkan kemanfaatan atau kemudharatan, namun menjadikan (sesembahan) itu sebagai perantara bagi mereka disisi Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan memberi syafa’at disisi Allah -subhanahu wa ta’ala-, inilah aqidah orang-orang musyrik.

Dan ketika engkau membantah kuburiyyun (penyembah kubur) saat ini, niscaya mereka akan menyatakan ucapan yang sama. Dia akan berkata “Saya tahu bahwa wali atau orang shalih ini tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula mudharat, tetapi aku mengininkan darinya syafa’at bagiku di sisi Allah -subhanahu wa ta’ala-.”

Syafa’at itu ada yang haq dan ada yang bathil. Syafa’at yang haq dan benar, jika memenuhi dua syarat :

  • Syarat pertama : Dengan izin Allah -subhanahu wa ta’ala-
  • Syarat kedua : Yang diberi syafa’at adalah ahlu tauhid, yaitu orang yang bermaksiat dari kalangan muwahhidin (orang-orang yang bertauhid).

Jika salah satu dari dua persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka syafa’atnya adalah bathil, Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya” (Baqarah : 255)

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah” (Al Anbiyaa’ : 28)

Mereka adalah muwahhidin yang berbuat maksiat. Adapun orang-orang kafir dan musyrikin, maka tidak akan bermanfaat syafa’atnya orang yang memberi syafa’at.

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,

مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (Al Mu’min : 18)

Mereka itu mendengar syafa’at namun tidak mengetahui artinya dan meminta dari sesembahannya tanpa izin dari Allah -subhanahu wa ta’ala-, bahkan meminta syafa’at untuk orang yang melakukan syirik kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka tidak akan berguna syafa’at orang yang memberi syafa’at, karena mereka tidak mengetahui makna syafa’at yang haq dan yang bathil.

[2] SYARAH :

Syafa’at itu itu mempunyai syarat dan ketentuan yang tidak mutlak. Syafa’at ada dua:

  • (Pertama) Syafa’at yang dinafikan (ditiadakan) oleh Allah -subhanahu wa ta’ala- yaitu syafa’at yang tidak mendapat izin dari Allah -subhanahu wa ta’ala-. Maka tidak seorangpun dapat memberi syafa’at disisi Allah -subhanahu wa ta’ala- kecuali dengan izinNya. Bahkan seutama-utama mahluk serta penutup para Nabi yaitu Muhammad shallahu’alaihi wa sallam ketika akan mmberi syafa’at kepada ahlu mauqif pada hari kiamat, beliau sujud didepan Rabbnya berdo’a dan memujiNya, dan terus sujud hingga dinyatakan kepada beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- “Angkat kepalamu, dan katakan (niscaya) akan didengar, berilah syafa’at niscaya akan disyafa’ati” maka tidak ada pemberi syafa’at kecuali dengan izinNya.
  • (Kedua) Syafa’at mutsbitah, yaitu syafa’at bagi ahlu tauhid. Maka tidak akan bermanfaat syafa’at bagi orang-orang musyrik seperti mereka yang mempersembahkan sesajian untuk kuburan dan berdadzar untuk kuburan.

Ringkas kata : Syafa’at munfiyyah adalah syafa’at yang diminta tanpa izin dari Allah -subhanahu wa ta’ala-, atau diminta untuk orang musyrik. Dan syafa’at mutsbitah adalah syafa’at setelah (mendapat) izin dari Allah -subhanahu wa ta’ala- dan untuk ahli tauhid.

Bersambung.. Insya Alloh..

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/05/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-6/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (5)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [5]

Januari 4, 2011

القاعدة الأولى

أن تعلم أن الكفار الذين قاتلهم رسول الله بأن الله تعالى هو الخالق الرازق المدبر وأن ذلك لم يدخلهم في الإسلام والدليل قوله تعالى: {  قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ } (يونس آية 31

Kaidah yang pertama :

Ketahuilah! Bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah -shallAllohu’alaihi wa sallam- –mereka itu- mengakui bahwa Alloh -subhanahu wa ta’ala- adalah pencipta dan pengatur, namun hal tersebut tidak memasukkan mereka kedalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Alloh -subhanahu wa ta’ala-,

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

“Katakanlah : Siapakah yang memberimu rezeki dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengetur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab “Alloh” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?”(Yunus 31)[6]


[6] SYARAH :

Kaidah yang pertama : Ketahuilah bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- –mereka itu- mengakui tauhid rububiyyah, sementara pengakuan mereka terhadap tauhid rububiyyah tidak dapat memasukkan mereka ke dalam Islam, sehingga tidak haram harta-harta serta darah mereka.

Ini menunjukkan bahwa tauhid itu bukan Rubiyyah saja, dan syirik itu tidak hanya kesyirikan dalam Rububiyyah. Akan tetapi tidaklah seseorang berbuat syirik dalam Rububiyyah meleinkan –dia itu- adalah mahluk yang ganjil atau nyeleneh. Bagaimana tidak, karena setiap ummat mengakui tauhid Rububiyyah ini.

Tauhid Rububiyyah adalah pengakuan bahwa Allah -‘azza wa jalla- adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan, yang mematikan dan yang mengatur. Atau dengan pengertian yang lebih ringkas, yakni mengesakan Allah -subhanahu wa ta’ala- dalam perbuatan-Nya.

Maka tidak ada seorangpun dari mahluk ini yang mengakui bahwa ada seorang yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, atau mematikan bersama Allah -subhanahu wa ta’ala-. Bahwa orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, serta yang mengatur.

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentu mereka akan menjawab “Allah” (Luqman : 25)

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ  سَيَقُولُونَ لِلَّهِ

“Katakanlah “Siapakah yang mempunyai tujuh langit dan yang mempunyai ‘Arsy yang besar?” mereka akan menjawab “Kepunyaan Allah” (Al Mu’minun : 86-87)

Bacalah ayat-ayat di akhir akhir surat Al Mu’minun! Kalian akan menjumpai bahwa orang-orang musyrik itu mengakui tauhid rububiyyah, demikian pula dalam surat Yunus.

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ

“Katakanlah : Siapakah yang memberimu rezeki dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengetur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab “Allah” (Yunus : 31)

Mereka mengakui semua ini. Jadi, tauhid itu bukan hanya mengakui tauhid rububiyyah sebagaimana dinyatakan oleh ulama kalam dan nudhor (ahlul kalam dan filsafat-pent) dalam aqidah mereka. Mereka menetapkan bahwa tauhid adalah mengakui Allah -subhanahu wa ta’ala- sebagai pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan yang mematikan. Mereka menyatakan bahwa “Allah adalah satu dalam dzat-Nya tidak ada pembagian bagi-Nya, satu dalam perbuatan-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya” maka ini adalah tauhid rububiyah. Kembalilah (lihatlah) dalam kitab manapun dari kitab-kitabnya ulama kalam, maka engkau akan menjumpai bahwa mereka tidak pernah keluar dari tauhid rububiyyah, dan itu bukanlah tauhid yang Allah -subhanahu wa ta’ala- mengutus dengannya para rasul. Pengakuan dengan tauhid rububiyyah ini saja tidaklah bermanfaat bagi pelakunya, karena hal ini diakui (pula) oleh kaum musyrikin dan tokoh-tokoh kafir, sementara hal tersebut tidak memasukkan mereka kedalam islam. Maka ini adalah kesalahan yang besar, barangsiapa yang berkeyakinan demikian (saja), maka keyakinannya tidak lebih dari keyakinan Abu Jahal dan Abu Lahab. Sebagian para budayawan/ilmuan sekarang juga (meyakini) hal itu dengan menetapkan tauhid rububiyyah saja, tanpa menjalankan tauhid uluhiyyah, maka ini adalah kesalahan besar dalam perkara tauhid.

Adapun tentang syirik, mereka menyatakan “(Syirik yaitu) kamu meyakini bahwa seseorang mencipta bersama Allah atau memberi rezeki bersama Allah” kami katakan “ini (seperti) yang diucapkan Abu Jahal dan Abu Lahab. Mereka tidak mengatakan bahwa seseorang mencipta bersama Allah -subhanahu wa ta’ala- dan memberi rezeki bersama Allah -subhanahu wa ta’ala-, bahkan mereka mengakui bahwa Allah -subhanahu wa ta’ala- adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan yang mematikan”.

Bersambung.. Insya Alloh..

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/04/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-5/

SAUDARAKU, INILAH PENJELASAN KAIDAH DALAM MEMAHAMI TAUHID DAN SYIRIK (4)…

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [4]

Januari 4, 2011

فإذا عرفت أن الشرك إذا خالط العبادة أفسدها وأحبط العمل وصار صاحبه من الخالدين في النار عرفت أن أهم ما عليك معرفة ذلك لعل الله أن يخلصك من هذه الشبكة وهى الشرك بالله الذي قال الله تعالى فيه: {  إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ  } (النساء آية 116، )

وذلك بمعرفة أربع قواعد ذكرها الله تعالى في كتابه

Jika kamu mengetahui bahwa syirik bila bercampur dengan ibadah akan merusaknya dan menghapus amalan, sehingga pelakunya termasuk orang yang kekal dalam neraka. Tahukah engkau bahwa yang paling penting bagimu adalah mengetahui hal tersebut. Mudah-mudahan Alloh -subhanahu wa ta’ala- membebaskanmu dari perangkap ini, yaitu syirik kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-, yang Alloh -subhanahu wa ta’ala- menyatakan tentangnya.

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (an nisaa’ : 48)

Dan hal itu dengan mengetahui empat kaidah yang disebutkan Alloh -subhanahu wa ta’ala- dalam kitab-Nya”[5]


[5] SYARAH :

Selama engkau mengenal tauhid yaitu mengesakan Allah -subhanahu wa ta’ala- dalam ibadah, maka wajib bagimu untuk mengetahui apa itu syirik. Karena seseorang yang tidak mengetahui suatu perkara, dia akan terjatuh padanya. Maka sudah seharusnya engkau mengetahui macam-macam kesyirikan dengan tujuan untuk menjauhinya, karena Allah -subhanahu wa ta’ala- memperingatkan hal itu dalam firman-Nya

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akanmengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain (dari syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (An Nisaa’ : 48)

Adapun bahaya kesyirikan tersebut adalah diharamkan bagi pelakunya untuk memasuki surga.

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga.” (Al Maidah : 72)

Diharamkan pula dia dari ampunan,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ

“sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syrik.” (An Nisaa’ : 48)

Jika demikian halnya, maka hal ini adalah bahaya yang besar, yang wajib engkau ketahui sebelum bahaya lainnya. Karena syirik itu pula, telah sesat berbagai pemahaman dan akal-akal, sehingga kita perlu mengetahui apa itu syirik dari Al qur’an dan As Sunnah. Tidaklah Allah -subhanahu wa ta’ala- memperingatkan kita dari sesuatu kecuali Dia menerangkannya, dan tidaklah Allah -subhanahu wa ta’ala- memerintahkan sesuatu kecuali menjelaskannya kepada manusia. Maka Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak akan mengharamkan syirik dan meninggalkannya secara global, akan tetapi Allah -subhanahu wa ta’ala- telah menjelaskannya dalam Al Qur’an yang mulia dan Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- juga menerangkannya dalam As Sunnah dengan keterangan yang lengkap. Apabila ingin mengetahui apa itu syirik, hendaknya kita kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah sampai kita tahu syirik tersebut dan bukan kembali pada ucapannya si fulan (seseorang), akan datang (penjelasan) tentang ini.

Bersambung.. Insya Alloh

https://abangdani.wordpress.com/2011/01/04/penjelasan-kaidah-kaidah-dalam-memahami-tauhid-uluhiyyah-4/